Media, Penguasa dan Perjudian Politik

Sebenarnya mana yang benar, penguasa mengontrol media, atau media mengontrol penguasa. Ini membingungkan dan bisa jadi memang mejadi sebuah circular reference. Dalam spreadsheet (MS Excel atau Lotus 123 dulu, angkatan lama), circular reference akan menimbulkan pesan #ERR. Mungkin saat ini Indonesia sedang dalam kondisi #ERR.

Sebelum pemilu dan pilpres 2014, kita saksikan rivalitas dua kubu pasangan, dengan kekuatan media masing-masing. Media mencoba mengantarkan calon penguasa masing-masing. Sekarang salah satu menang, dan seolah-olah media tersebut menjadi corong penguasa. Ini lebih parah dari zaman Orde Baru, karena setidaknya dulu dilakukan terang-terangan. Sekarang sembunyi-sembunyi, bahkan saya pun yakin tulisan saya ini bisa dengan mudah dimentahkan, karena kurangnya bukti autentik.

Saya seorang bisnisman, walau kecil-kecilan, saya terbiasa membaca peluang. Justru pengusaha kecil macam saya harus pandai membaca peluang, apalagi kalau modal kita tidak besar. Salah-salah investasi kita bisa bersisa celana dalam saja. Itupun sudah rombeng. Yang jelas, kasat mata terbaca bahwa di tahun 2014 kemarin, ada dua kelompok besar media dan keberpihakannya pada pasangan capres-cawapres.

Bila saya seorang bisnisman, saya tidak akan menaruh uang saya terlalu banyak dalam sebuah pertarungan, kecuali dengan dua alasan: 1. Saya yakin menang (peluangnya besar), 2. Saya sebenarnya sedang tidak bertaruh, artinya seolah-olah saya bertaruh, padahal saya tidak mempertaruhkan apa-apa, karena sebenarnya saya sedang bangkrut, atau setidaknya bisnis yang saya pertaruhkan sedang bangkrut. Jadi saya nothing to lose. Sebagai #YNWA bahkan saya tidak akan bertaruh untuk Liverpool bila peluangnya terlalu tipis.

Saya tidak mungkin mempertaruhkan sesuatu yang sedang untung besar untuk sebuah pertarungan yang tidak jelas. Pilpres itu pertarungan yang tidak jelas, sebuah perjudian politik. Melelahkan dan impact-nya masih kita rasakan sampai hari ini. Kenapa saya harus mempertaruhkan kredibilitas media atau bisnis saya untuk sesuatu yang belum jelas. Alasannya cuman dua di atas, atau sekarang mengrucut ke alasan nomor dua. Mungkin terasa tendensius. Tapi argumen saya valid.

Analogi akan dengan sangat mudah dicerna. Andai saya punya warung di sebuah lingkungan. Saya tidak akan repot-repot ikutan sibuk pemilihan RT kalau warung saya masih profitable.

Sekian dari saya.

Sammy Notaslimboy – pengamat ekonomi warung.

Advertisements

2 thoughts on “Media, Penguasa dan Perjudian Politik

  1. kaya kaya bener, tpi memang bener sih semua permainan politik dan medianya yang di tampilkan juga tidak semua apa yang benar benar di tampilkan, ini seperti di game nya godfhater tertata rapi seperti bermain sebuah boneka dengan menganggap tuhan sebagai “uang”

    Like

  2. Menurutku sejak awal di indonesia politik is bisnis. Elite politik selalu selangkah lebih maju tentang informasi sebuah peluang, entah apapun itu. Pebisnis kelas kakap di indonesia tidak pernah terlepas dari urusan politik, entah mereka dekat/mendekat dengan elite politik ataupun justru elite politik sendiri sebagai pelaku bisnis. Tidak ada bisnis besar di Indonesia tanpa campur tangan politik. Termasuk bisnis frekwensi public.

    Like

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s