Sales Marketing vs Arts

Apa beda dunia sales and marketing dengan arts? Walau pada akhirnya karya seni (artworks) itu dipasarkan dan dijual untuk mendapatkan keuntungan, tapi tetap ada perbedaan antara keduanya. Perbedaan yang sangat mendasar.

Kita pergi dulu ke Inggris, tempat liga sepak bola yang paling diminati di dunia berlangsung. Liga yang paling menjual, belum tentu liga terbaik tentunya. BPL adalah liga paling populer di Indonesia, bahkan mungkin lebih populer dari liga domestik, setidaknya di kalangan tertentu (Red. kelas menengah ngehek). Tulisan ini bukan membela Liverpool, sebagai tim favorit saya di BPL , tapi sebuah tulisan dengan berbagai contoh kasus untuk memperkuat argumen-argumen saya dalam artikel ini. Liverpool hanya satu kasus saja.

Michael Owen, seorang pemain berbakat yang sempat besar bersama Liverpool, tidak pernah mendapat trophy BPL satu kali pun dalam karir sepakbolanya bersama Liverpool. Saat akhirnya Owen berpindah-pindah klub dan berlabuh di rival besar Liverpool, MU, akhirnya dia mendapatkan trophy itu. Foto Owen yang (terlihat) bahagia mengangkat trophy tersebut kemudian berseliweran di timeline saya, dan beberapa mention twitpic tersebut ke akun twitter saya. Mungkin untuk mempermalukan saya sebagai Kopites. Tapi yang jelas saya tidak malu dengan foto tersebut (silakan baca artikel Ada Apa dengan Kita).

Selain saya tidak merasa dipermalukan, hal ini yang mau saya jelaskan. Inilah yang membedakan dunia sales-marketing dengan arts. Menurut saya sports, termasuk dalam arts. Itulah kenapa seni bela diri disebut martial arts. Jadi sepak bola adalah arts. Dalam dunia seni, tidak ada yang mutlak, semua tergantung selera. Bagi penggemar Liverpool, walau Gerrard belum pernah mengangkat trophy BPL seumur hidupnya (nanti), dia tetap seorang legend di Liverpool yang tidak bisa dibandingkan dengan Michael Owen. Subyektif memang, tapi saya rasa bukan hanya penggemar Liverpool yang setuju dengan saya.

Dalam seni, penghargaan bukan segalanya. Misal dalam Oscar, film-film yang menang Oscar belum tentu yang terbaik saat itu. Contoh saja, Martin Scorsese adalah sutradara yang tidak diragukan kehebatannya. Tapi banyak kritikus film yang setuju bahwa karya dia The Departed bukanlah karya terbaik. Bahkan film ini adalah film adaptasi dari film The Infernal Affair produksi Hongkong, yang dibintangi salah satunya oleh Andy Lau. Banyak kritikus setuju bahwa karya yang lebih layak mendapat Oscar adalah The Goodfellas. Scorsese mungkin tidak akan menghasilkan karya sebaik ini lagi, dan Departed lumayan lah. Oscar tidak mau kehilangan kredibilitas, ya dari pada nanti keburu Scorsese tidak berkarya lagi – karena sudah tua – jadi banyak pengamat bilang dari pada tidak pernah dapat Oscar sama sekali, ya mari kita berikan Oscar pada Scorsese di film The Departed. The Academy tidak mau kehilangan kredibilitas sepertinya.

Contoh di atas adalah ketika seni digabung dengan industri. Terjadi bias, apa makna sebuah penghargaan/pencapaian. Ternyata bukan karya terbaik yang dihargai, walau memang soal baik atau tidak itu sendiri adalah hal yang subyektif. Bagi movie freaks seperti saya, tetap The Goodfellas adalah karya terbaik Scorsese, walau bagi The Academy, The Departed yang layak dapat Oscar. Dalam seni hal ini sah. Pencapaian dalam arts bukan hanya masalah trophy, tapi emosi, determinasi dan idealisme.

Lain dengan dunia sales and marketing. Pencapaian memang selalu terkait dengan trophy, penghargaan, medali. Itu kenapa dalam olahraga ada medali perak dan medali perunggu. Ada tempat untuk juara ke-2 dan ke-3. Karena olahraga adalah arts. Determinasi dan emosi diperhitungkan. Pelari yang lolos di tempat ke-2 juga berlatih dengan keras, artinya determinasi mereka juga dihargai.

Sales and marketing tidak mengenal istilah tempat ke-2 dan ke-3. There is no silver medalist in sales and marketing. Yang ada, anda bisa menjual atau tidak, menang tender atau kalah tender. Hasilnya, dapat uang atau tidak dapat sama sekali. Tidak ada istilah medali perak, ketika kita hanya “hampir berhasil menjual”. “Hampir berhasil” dalam dunia sales and marketing berarti ya tidak berhasil, dan tidak dapat uang. Itulah sales and marketing, yang ada hanya tempat pertama. It always related to the number one trophy.

Saya menganggap olahraga adalah bagian dari arts. Jadi, it’s not always about trophy. Seni juga bicara soal emosi, faith, idealisme, sejarah, determinasi. Di NBA ada seorang pemain basket, yang saya kategorikan mediocre, Robert Horry. Dia pernah bermain untuk Houston, Lakers dan San Antonio. Setiap dia pindah klub, dia mendapatkan cincin juara NBA. Permainan dia biasa-biasa saja, namun memang kerap mencetak poin penting. Tapi bukan dia legend di Houston, Lakers maupun San Antonio. Saya yakin banyak orang tahu Michael Jordan, walau mereka bukan penggemar NBA, karena Jordan adalah legend di Chicago. Jumlah cincin juara Jordan adalah 6, dan Robert Horry 7. Wow, kalau kita hanya melihat dari jumlah trophy NBA, maka Horry di atas Jordan. Tapi kalau anda bukan penggemar NBA, pasti anda akan bertanya, Robert Who?

Maka di NBA adalah istilah “The Robert Horry thing”, he is just a lucky mediocre player. Saya kira di BPL bisa ada istilah serupa, “The Michael Owen thing”.

Olah raga adalah seni bagi saya, bila anda penggemar sepak bola yang hanya terus menghitung jumlah trophy, maka anda tidak sepaham dengan saya. Mungkin, bagi anda, olah raga hanya kegiatan perdagangan, sales and marketing. For me, sports = arts.

Sammy Notaslimboy – seniman komedi, penggermar Liverpool dan pemerhati NBA.

Advertisements

4 thoughts on “Sales Marketing vs Arts

  1. Setuju, bang…. mirip kaya Floyd Myrunner vs Pacman. Floyd boleh aja juara di pertandingan itu, tapi publik nganggap dia gak lebih dari “pelari marathon” dalam sangkar yang disebut ring. hehehe

    Like

  2. salute gw bang sm lo, bny bgt membaca dan memprhatikan dr mulai politik, sosial, olahraga, teknologi (IT khususnya), gw tau robert hory (inget pas cetak 3 point dimenit akhir wkt di lakers dan bikin menang) tp gak prn tau doi pny sampai 7 gelar,, makasih bang atas pengetahuannya 🙂

    Like

  3. salute gw bang sm lo, bny bgt membaca dan memprhatikan dr mulai politik, sosial, olahraga, teknologi (IT khususnya), gw tau robert hory (inget pas cetak 3 point wkt di lakers dan bikin menang) tp gak prn tau doi pny sampai 7 gelar,, makasih bang atas pengetahuannya 🙂

    Like

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s