Benang Kusut

Jika bicara mengenai sepakbola khususnya PSSI sebagai wadah yang menaungi hajat hidup persepakbolaan di Indonesia cuma ada dua kata yang barangkali dapat dengan pas menggambarkannya. Carut dan Marut. Begitu banyak permasalahan yang melanda sepakbola Indonesia. Mulai dari penyelenggaraan kompetisi sepakbola, tim nasional yang tak kunjung berprestasi sampai kepada bagaimana PSSI sendiri dikelola, adalah benang kusut yang seolah kita semua bingung mau mulai mengurainya darimana.

Kita menjadi seperti bertanya, bagaimana PSSI itu bekerja. Sahabat saya gangan januar punya jawaban cerdas yang ia tuliskan dalam artikel Melihat PSSI Bekerja. Artikel itu cuma berisi dua kata. Emangnya Kerja? Singkat, padat dan sangat menyiratkan kekecewaan sahabat saya tersebut terhadap bagaimana sepakbola di negeri ini dikelola. Kekecewaan yang mungkin juga anda rasakan.

Kompetisi yang selalu berubah-ubah format setiap musim, ditambah pengaturan jadwal yang kacau adalah salah satu yang mendasar. Cukup ajaib ditengah inkonsistensi yang terjadi, liga sepakbola di Indonesia masih mampu menjaring sponsor dan stasiun televisi yang mau menyiarkan pertandingannya. Pertimbangan klub-klub peserta memiliki basis pendukung yang masif dan solid barangkali lebih menjadi alasan kompetisi sepakbola di Indonesia masih ada yang mau mensponsori dan menyiarkan pertandingannya.

Lebih ajaib lagi bahwa ditengah carut marut itu masih ada fenomena sejumlah harapan yang dikumandangkan oleh tim nasional kita. Walaupun masih sebatas nyaris, tapi garuda kita baik yang senior ataupun yang muda menyiratkan bahwa sepakbola di Indonesia tidaklah gelap-gelap amat.

Sebuah fenomena yang barangkali tidak perlu seperti itu jika saja PSSI mau lebih peduli pada pembinaan sepakbola di usia muda secara berkelanjutan. Resep kesuksesan sepakbola dimana-mana adalah ini. Jerman mampu melakukannya. Jepang pun juga setali tiga uang. Tapi kita lebih suka memakan mie instant. Dikirimkanlah punggawa muda berbakat kita ke Italia melalui program Primavera dan Baretti. Kemudian kita juga pernah mengirimkan pemain muda kita ke Uruguay. Dalam kurun waktu yang berbeda, bisa kita lihat betapa plin-plannya sepakbola Indonesia dalam menentukan “kiblat” yang tepat, mau ke Eropa atau Amerika Latin?

Sepakbola Indonesia seperti menjadi miniatur kebobrokan yang tak kasat mata negeri ini. Kita melihat bahwa PSSI pernah terbelah dua dengan kelahiran KPSI. Sejalan dengan hal tersebut, kompetisi tertinggi sepakbola di Indonesia juga pernah ikut terbelah menjadi dua. Dampak dari dualisme ini masih ada, yakni klub-klub baru yang lahir sebagai “pemberontakan” dari klub lama. Kita jadi seperti melihat partai sepakbola ketimbang klub sepakbola. Kita jadi melihat para pengurus yang lebih asik berebut kekuasaan ketimbang menyumbangkan kontribusi untuk kemajuan sepakbola.

Karena alasan dualisme itulah sejumlah klub sepakbola tidak bisa mendapatkan rekomendasi untuk berlaga di liga tahun ini. Faktor tersebut ditambah kesulitannya pengurus klub untuk membiayai timnya adalah contoh nyata betapa klub sepakbola persis seperti ibunya, yakni PSSI juga tidak dikelola dengan profesional. Padahal klub-klub sepakbola di Indonesia memiliki banyak potensi untuk mendulang sponsor ataupun mitra bisnis lainnya. Mereka (klub) punya potensi dalam bentuk jumlah pendukung yang banyak, bisnis apparel atau jersey, pemasukan melalui tiket pertandingan yang dapat dikerjasamakan dengan bank melalui e-ticketing misalnya.

Pemerintah pun bukan tak sadar dengan carut marut ini. Sudah beberapa kali terjadi persinggungan antara PSSI dengan Kementerian Olahraga. Namun selalu saja PSSI berlindung dibawah ketiak statuta FIFA. Ini seperti seorang anak bandel yang setiapkali ditegur oleh orang tuanya, terus mengadu kepada gurunya. Lebih buruk lagi, FIFA pun bukanlah malaikat yang tanpa dosa. FIFA pun sarat dengan tudingan kebobrokan Sepp Blatter dan kroni-kroninya. Lengkap sudah, institusi bobrok yang berlindung kepada institusi yang bobrok juga.

Advertisements

9 thoughts on “Benang Kusut

  1. Pengurus PSSI banyak yg dari PAR -TAI.. Sampe tahun kodok pun bobrok sepakbola kita.. Harus revolusi tuh Pengurus” PSSInya..

    Like

    • Kalo ditanya siapa agak berat. Tapi syaratnya harus jujur dan punya integritas. Harus dihormati oleh semua pengurus klub dan diakui kapabilitasnya oleh pemerintah. Punya visi yang jelas dan peduli pembinaan usia muda. Kalo itu yang jadi syaratnya, saya rekomendasikan Indra Sjafri !

      Liked by 1 person

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s