Putri Elsa, Menpora dan PSSI

Dalam film animasi walt Disney yang sempat booming di sini beberapa waktu lalu, yakni Frozen yang menceritakan dua putri kerajaan Arendelle yang bernama Anna dan Elsa. Putri Elsa adalah putri yang memiliki kekuatan sihir yang mampu mengeluarkan es. Elsa menyembunyikan kemampuannya ini dari saudarinya sendiri, Anna. Elsa menyembunyikan kemampuan sihirnya dengan menyepi di ruangannya, meninggalkan Elsa dalam kesendirian. Apalagi kemudian peristiwa naas menimpa keluarga kerajaan Arendelle, Raja dan Ratu, orang tua dari Anna dan Elsa meninggal karena kecelakaan dalam sebuah perjalanan.

Tahun berjalan setelah peristiwa meninggalnya Raja dan Ratu Arendelle, tibalah waktu Elsa untuk menggantikan orang tuanya untuk memimpin kerajaan Arendelle. Elsa yang selalu merasa kesepian, merasa gembira karena istana kerajaan Arendelle dibuka untuk masyarakat umum untuk pemberian mahkota kepada putri Elsa. Putri Anna langsung pergi berjalan-jalan ke luar istana dan kebetulan bertemu dengan seorang pangeran yang mempesona hatinya pada tatapan pertama. Putri Anna langsung jatuh cinta dan meminta restu kepada Putri Elsa pada menikahi pangeran tampan nan menawan itu.

Putri Elsa menolak permintaan putri Anna dan terjadi perdebatan. Putri Anna terus mengejar dan tanpa sengaja merebut sarung tangan putri Elsa. Elsa mengeluarkan sihir esnya dari tangannya yang tidak mengenakan sarung tangan, sehingga membuat orang-orang takut. Putri Anna pun akhirnya tahu apa yang selama ini disembunyikan oleh Putri Elsa. Kebingungan, dan juga merasa takut, Putri Elsa akhirnya melarikan diri. Dalam persembunyiannya disebuah tempat antah berantah, Elsa membangun sebuah istana es yang sangat indah.

Menpora Imam Nahrawi akhirnya dengan tegas membekukan PSSI, dengan memberikan sanksi administratif kepada PSSI sebagai akibat dari kegagahan PSSI yang dengan vulgar dan brutal mengabaikan rekomendasi BOPI yang tidak meloloskan dua klub legendaries dari Arema dan Surabaya untuk dapat berpartisipasi di kompetisi tertinggi sepakbola (katanya) profesional di Indonesia. Ibarat anak yang mbalelo, PSSI dengan jumawa tidak mengindahkan teguran dari orang tuanya sendiri, Menpora. Mereka lebih memilih menurut kepada bule-bule dari FIFA. Tidak hanya sekali, tapi tiga kali surat teguran menpora itu dijadikan bungkus kacang goreng.

Dan benang kusut persepakbolaan Indonesia semakin menjadi carut dan marut. Kisruh bagaimana persepakbolaan ini dikelola Indonesia, rasanya tidak perlu di jelaskan panjang lebar. Jika tolok ukurnya adalah prestasi tim nasional sepakbola di Indonesia, maka persepakbolaan Indonesia ini benar-benar di kelola dengan amburadul. Sejumlah kemajuan yang memberikan harapan memang sempat terbuncah, tapi hal itu lahir lebih karena independensi seorang putra bangsa bernama Indra Sjafri semata. Bukan karena pembinaan usia muda yang dilakukan secara sistematis, terstruktur dan terarah yang dilakukan oleh PSSI.

Dengan dibekukannya PSSI, sangat besar kemungkinan pasukan Garuda tidak dapat berlaga sementara dalam ajang-ajang resmi yang diselenggarakan oleh FIFA. Hal ini dipandang sebagai pelanggaran dari statuta FIFA yang menyebutkan tidak boleh ada intervensi pemerintah terhadap federasi sepakbola sebuah negara. Pasal pasak bumi inilah yang selalu dijadikan sebagai senjata PSSI untuk mengenyahkan setiap kali pemerintah melalui menpora ingin melakukan intervensi terhadap PSSI. PSSI yang tinggal dan hidup di Indonesia berlindung dibawah ketiak FIFA yang jelas-jelas juga penuh dengan penyamun-penyamun disana.

Intervensi ini sebenarnya punya tujuan yang baik, untuk membuat klub sepakbola di Indonesia menjadi lebih profesional dalam pengelolaannya. Rekomendasi BOPI menyiratkan hal tersebut. Klub yang tidak dikelola dengan baik tidak boleh ikut serta dalam QNB League. Anehnya, klub-klub yang tidak diperbolehkan ikut serta, malah berkoar-koar dan menentang rekomendasi BOPI. Mungkin arogansi nama besarlah yang menyebabkan para pengurus klub itu merasa punya hak untuk menantang Menpora dan BOPI. Betul bahwa klub-klub itu punya dukungan fans dalam jumlah masal. Tapi para pendukung juga punya hak bahwa klub mereka di kelola dengan baik, bukan hanya sekedar menang dan kalah diatas lapangan. Para penggemar kedua klub itu pun hendaknya tidak menjadi buta karena cinta.

Lebih geblegnya lagi PSSI mendukung kedua klub itu dan terus menjalankan QNB League dengan kedua klub itu turut bertanding didalamnya. Menpora pun sepertinya menjadi murka dan akhirnya melepaskan sarung tangan putri Elsa dan membekukan PSSI. PSSI is frozen.

Tapi haruskah kita takut ketika PSSI dibekukan? Haruskah kita takut sama sanksi FIFA? Bukankah harusnya FIFA YANG TAKUT sama INDONESIA? Kalau kita di boikot FIFA, ya sudah kita boikot balik saja FIFA dan produk-produknya seperti Piala Dunia. Dengan ratusan juta penduduk Indonesia yang setia menonton piala dunia saban 4 tahun sekali, FIFA lah yang akan (sedikit) merugi. Jumlah penonton piala dunia akan berkurang. Saya suka sepakbola, saya selalu menonton piala dunia. Tapi jika saya diminta memboikot (sementara) dengan tidak menonton (sementara) piala dunia, maka saya akan (mencoba) siap! Selama piala dunia nanti berlangsung, saya akan menonton Frozen saja berulang-ulang.

Lagipula banyak negara yang sudah membuktikan ketika mereka diasingkan dari keanggotaan FIFA, mereka berbenah. Brunei dan Bosnia adalah contoh yang bisa dikedepankan. Keduanya pernah diberikan sanksi namun setelah sanksi kembali bangkit dan mencatatkan prestasi. Indonesia pun sebenarnya bisa melakukan itu. Pembinaan usia muda menjadi kuncinya. Kita perlu banyak memproduksi Evan Dimas – Evan Dimas yang lain. Sekalian kita juga perlu banyak memproduksi Indra Sjafri yang lain, yang peduli sama sepakbola Indonesia.

Dalam masa pengasingan itu, PSSI harus berbenah, begitu juga dengan klub sepakbola. Tidak melulu soal urusan di lapangan, tetapi klub harus memperbaiki sisi bisnisnya. Banyak sekali potensi bisnis yang bisa dikembangkan untuk mendulang sponsor-sponsor. Klub punya basis pendukung dalam jumlah yang masal. Ini waktunya membangun istana es yang indah. Seperti yang dilakukan oleh putri Elsa.

Advertisements

12 thoughts on “Putri Elsa, Menpora dan PSSI

  1. Saya sarankan kepada Imam Nahrowi agar segera usul ke PSSI supaya merekrut jebolan2 HTI, ISIS dan FPI masuk kedalam timnas, masak iya sebanyak gt jemaah gak ada yg bisa main bola? latih yg bisa main bola satu dua bulan fisik dan teknik, lalu perintahkan mereka untuk menyebarkan ideologi jihad ke dalam sepakbola. Tanamkan bahwa menghadapi Malaysia sama saja dengan jihad melawan hantek aseng yang ingin merebut hegemoni resep rendang padang kita..Indonesia pasti juara

    Like

  2. Wah… saya setuju banget nih… Saya rasa masalahnya bukan pada “Liga di-Stop”, tapi masalahnya ada pada sikap “Professional” para aktor2 pesepakbola itu. PSSI kena sihir es Menpora khas Putri Elsa. Hehehe

    Like

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s