Mas, Bau Mas!

Akhir Maret lalu, komedian Olga Syahputra meninggal dunia. Tak lama setelah kabar tersebut beredar, ucapan belasungkawa datang dari berbagai kalangan mengalir di linimasa Twitter. Dari fans Olga garis keras sampai haters macam Farhat Abbas. Mereka serempak mendoakan Olga agar diterima di sisi-Nya dan menenangkan agar keluarga yang ditinggalkan ikhlas. Tapi kalau dipikir-pikir, bagaimana mau ikhlas kalau setelah kepergian Olga, banyak stasiun tv yang terus-terusan menayangkan acara yang melibatkan Olga di dalamnya. Paling jelas dilakukan Trans TV yang “memanfaatkan” Olga untuk membangkitkan kembali YKS yang telah lama punah, dengan embel-embel “mengenang Olga”.

Para netizen banyak yang mendoakan karena melihat sosok Olga sebagai seorang pekerja keras, dermawan dan cinta keluarga walaupun kadang-kadang ucapannya membuat sakit hati lawan aktingnya.

Sabtu, 11 April 2015, linimasa juga mengiringi kepergian Deudeuh Alfisahrin alias Tata Chubby dengan ungkapan belasungkawa. Deudeuh yang bekerja sebagai penjaja birahi tewas dibunuh pelanggannya yang berinisial MRS. Namun, berbeda dengan Olga, reaksi netizen terbagi dua dalam menanggapi berita duka ini. Yang pro beralasan, sudahlah orang yang sudah meninggal tak usah diungkit-ungkit kesalahannya, masa lalunya. Tapi tak sedikit yang mencibir karena profesi yang dijalani Deudeuh dianggap tabu….tapi layak untuk diperbincangkan. Ada juga yang sedih karena kehilangan salah satu aset dunia prostitusi. Hayo siapa yang kehilangan. Hehehe.

Deudeuh tewas dengan kondisi leher dijerat kabel dan mulut tersumpal kaos kaki. Oh iya satu lagi, tanpa busana.  Pelaku, M. Rio Santoso, maaf maksud saya pria berinisial MRS tega menghabisi nyawa “pasangannya” karena tidak terima dengan kejujuran Deudeuh yang menyebut dirinya memiliki aroma tubuh berbeda dengan kebanyakan orang (baca=BAU).

Yang membuat saya kaget adalah saat membaca berita tentang latar belakang pelaku. Sempat berkuliah di IPB(walaupun tidak tamat), berprofesi sebagai guru privat dan di usia muda sudah memutuskan menikah dengan alasan takut zina. Tapi ternyata kecerdasan dan keimanan tak bisa berkutik kalau nafsu sudah berkehendak. Kalau kata peribahasa, diam-diam menghanyutkan. Versi Sundanya, cicing-cicing ngeleyed.

Buat saya pribadi, diluar profesinya sebagai penjaja birahi, saya iba saat melihat berita kematian Tata Chubby. Dari sisi kemanusiaan, iba karena dia tewas akibat disumpal kaos kaki pelaku yang dimana badannya aja bau, berarti kaki dan otomatis kaos kakinya ya bau juga. Lalu dari sisi kepuasan berhubungan itu sendiri, iba karena dia kehilangan nyawa sebelum orgasme datang. Yang terakhir, jika dilihat dari kacamata agama, iba karena alih-alih berucap laailahailallah, Deudeuh mungkin meregang nyawa dengan racauan uuh..aah..uuh..aah.

Advertisements