Lokalisasi Prostitusi

Bicara mengenai prostitusi akan selalu seru-seru sedap. Isu yang sensitif karena mendobrak norma sosial dan agama sekaligus. Coba anda para pengguna jasa prostitusi jika ditanyakan mengenai prostitusi, apa iya anda akan mendukung? Pasti anda akan menentang habis-habisan, sekurang-kurangnya mencoba menanamkan pencitraan kepada orang disekeliling anda, bahwa anda anti prostitusi, atau minimal belum pernah menggunakan jasa prostitusi. Apa anda mau di bilang orang bejat?

Prostitusi seperti yang kita tahu sudah ada dari jaman dulu, dan menjadi ramai gara-gara terbunuhnya seorang wanita PSK oleh seorang guru bimbel cuma gara-gara bau. Mas, Bau Mas ! Terus dibunuh begitu saja. Menjadi semakin ramai ketika Pak Ahok mewacanakan lokalisasi PSK. Isu itu ditentang habis-habisan oleh mereka yang mengatasnamakan agama. Kata mereka, itu sama saja dengan membenarkan bahwa prostitusi itu ada. Melegalkan dan membolehkan prostitusi ada.

Jika bicara legalisasi prostitusi, cukup heran bahwa diskotik-diskotik ataupun klub-klub malam itu bisa berdiri megah, kokoh dan berwibawa di samping kantor aparat penegak hukum ya?

Memang, bila kita melihat dari perspektif agama, jelas prostitusi sangat dilarang dan praktek prostitusi tidak boleh ada di muka bumi ini. Tapi sudah kadung ada. Yang mendukungnya, mungkin bisa melihat dari perspektif sosial dan budaya yang memandang prostitusi, baik para pelakunya ataupun para pengguna jasa prostitusi adalah sumber penyakit. Dan seperti virus, sumber penyakit itu harus di karantina atau dalam hal ini dil okalisasi agar tidak menyebar kemana-mana. Para pengguna jasa prostitusi pun protes, semakin sulit mencari tempat prostitusi sekarang. Bukannya lebih mudah, tinggal datang saja ke lokalisasi. Perspektif sosial dan budaya juga mengedepankan wanita menjadi korban sehingga terpaksa berkecimpung di industri prostitusi.

Yang juga jadi permasalahan adalah lokalisasi ini mau ditaruh dimana? Di pulau seribu? Memangnya pulau seribu itu sampah? Mungkin begitu kata warga pulau seribu kalau mendengar lokalisasi prostitusi mau di taruh di pulau seribu. Rencana lokalisasi ini pun sebenarnya sudah ada sejak jaman dulu, maka ide Pak Ahok ini bukanlah barang baru sebenarnya. Pak Ahok adalah Gubernur kedua yang mencetuskan ide tersebut.

Ada juga yang menggali permasalahan ini lebih dalam lagi dengan menggunakan perspektif ekonomi. Kata mereka-mereka yang mempergunakan perspektif ekonomi mengatakan bahwa akar dari prostitusi adalah kesulitan ekonomi yang menimpa kebanyakan masyarakat sehingga terpaksa harus menjual diri dan menceburkan diri di prostitusi. Dari sisi lain dengan tetap mengedepankan perspektif ekonomi, ada yang mengatakan bahwa lokalisasi akan memberikan pendapatan kepada Pemerintah dan juga mungkin para pebisnis yang tertarik berpartisipasi dalam industri prostitusi ini nantinya jika sudah dilokalisasi. Misalnya developer yang membangun hotel, ataupun usaha-usaha lainnya. Entahlah. Saya percaya akan selalu ada motif ekonomi dalam setiap apapun keputusan manusia, termasuk pejabat. Kok saya jadi mencium skema busuk didorongnya lokalisasi ini ya?

Advertisements

8 thoughts on “Lokalisasi Prostitusi

  1. prostitusi itu bisnis paling tua di muka bumi ,sudah seharusnya di legalkan asal di kontrol…
    gak bakal bisa diilangin kok,minimal di kontrol…paling gak 50% cowok itu pelanggan tetap ,bayangin aja tiap bangun doang udah pada ngaceng hihihi…

    supply and demand, ada demand ya di supply,gpp legalkan asal di kontrol dong, minta pertolongan expert misalnya pakar kejantanan yg gk ada jantannya (materinya om sam wkwkkw )

    kenakan pajak utk servis,ttd kontrak,cek kesehatan dan servis kondisi kesehatan mereka gratis,wajibkan kondom,kasih perlindungan(ini paling penting) supaya gk ada kasus pelacur dibunuh lagi…munafik abis2an kalo anda menentang prostitusi dengan alasan “moral agama” dll

    Like

  2. selalu ada kepentingan bisnis -__-” bisnis melegalkan “perdagangan” manusia ini tentu selalu yg untung yg punya power, mana mungkinlah pelacur (atau mau halus PSK) menjadi miliyader karena bisnis ini, sekalipun (katanya ada) yang dibayar ratusan juta ….

    Like

  3. Sepertinya memang cenderung ke motif ekonomi. Bagi pemda DKI, ini bisa jadi salah satu alternatif pemasukan besar, apalagi terkait wacana penghapusan PBB. Padahal kan NJOP di DKI belum lama ini dinaikkan agar penerimaan dari PBB meningkat drastis. Belum lagi nanti bagi beberapa pihak di lingkup pejabat DKI bisa punya saham atau bahkan pemilik tunggal wisma2 di lokalisasi tsb. Dengan anggapan bahwa prostitusi akan selalu ramai, ga bisa diberantas, tentunya prospek bisnis ini bagi mereka luar biasa.

    Kalau alasannya biar ga banyak bertebaran dimana-mana, mending dilokalisasi saja, sepertinya sulit diwujudkan. Bagaimana cara mereka memastikan bahwa semua penghuni tempat prostitusi yang ada sekarang mau dan bisa bergabung di satu tempat? Paling yang mau dan bisa dijangkau petugas hanya yang bertebaran di pinggir jalan. Itupun ga bisa dipastikan bahwa setelah ada lokalisasi, jalan2 di ibukota benar2 steril dari prostitusi.

    Alasan mencegah penyebaran penyakit kalau dilokalisasi juga ga jelas. Pengamanannya kan tetap dengan kondom, apa bedanya dengan prostitusi di luar itu yang juga pakai kondom? Kan sama saja. Ada yang bilang petugas kesehatan lebih mudah mengontrol kesehatan para PSK kalau dilokalisasi. Mudahnya sih iya, tapi pemeriksaannya kan ga tiap saat, paling dua minggu sekali. Dalam rentang dua minggu tsb, bisa saja ada PSK yang tertular. Belum lagi menyangkut HIV AIDS yang baru bisa dideteksi setelah beberapa bulan bahkan tahun. Jadi pemeriksaan per dua minggu tersebut ga menjamin seorang PSK steril dari penyakit kelamin.

    Komentar saya sudah ada setengah panjang artikelnya ni. Cukup dah. đŸ˜€

    Like

    • Pada intinya prostitusi atas dasar alasan apapun emang gak bisa dibenarkan. Keliatan banget ini kepentingan bisnis yang lebih kuat. Cuma dengan kedok pencitraan, seolah2 yang mengusulkan lokalisasi adalah makhluk suci yang “seolah-olah” terpaksa melakukan itu untuk kepentingan yang lebih baik.

      Like

  4. Saya ngebayangin kalo jadi di lokalisasi, tiap ada yang turun dari mobil datang ke lokalisasi tersebut, banyak pedagang asongan “pak sutra-nya, pak…rasanya macem-macem, pak” đŸ˜€

    Like

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s