Suara Yang Tak Terdengar

Bagi anda yang kemarin sore hingga malam merasakan kemacetan yang cukup parah karena adanya demonstrasi barang kali cuma bisa mengeluh dalam hati. Sudah lelah bekerja sepanjang hari dengan segala kondisinya, ditambah harus menghadapi kemacetan. Bagi anda yang belum tahu, atau mungkin sudah lupa, kemarin adalah demonstrasi menuntut keadilan yang belum ditegakkan untuk 4 orang mahasiswa Trisakti para korban tragedi semanggi yang terjadi 17 tahun silam.

Segala rasa hormat dan simpati saya kepada para korban pejuang reformasi ketika itu, keluarga dan sahabat dari para korban, serta para alumnus dan mahasiswa Trisakti, demo yang kemarin berlangsung adalah hak untuk memperjuangkan keadilan. Doa saya untuk mereka.

Tragedi Semanggi beserta sejumlah kasus misterius lainnya seperti kasus pembunuhan terhadap Munir adalah kasus yang hingga saat ini belum menemukan titik jawabannya. Yang di demo sudah lengser, bahkan sudah tidak ada lagi bersama kita.

Tapi apakah demo adalah jawabannya? Entah kenapa ketika membicarakan mengenai demonstrasi yang dilakukan oleh rakyat kepada pemerintah, rasa skeptis dan pesimis saya tiba-tiba membumbung tinggi, seperti nilai US Dollar yang selalu menguat terhadap Rupiah. Entah kenapa saya merasa mereka-mereka yang berkuasa ini seperti tuli telinganya ketika menghadapi demonstrasi. Atau barangkali bukan cuma telinga mereka yang sudah tuli, mungkin juga hati nurani mereka sudah tidak bisa mendengar jeritan dan rintihan dari rakyat kecil yang tertindas dan mereka-mereka yang mendambakan keadilan.

Dulu ketika saya masih kuliah, saya pernah beberapa kali ikut demonstrasi, hanya sekedar untuk menunjukkan solidaritas saya kepada sesama mahasiswa. Tapi dari dulu, saya merasa demonstrasi adalah sia-sia. Panas-panasan di tengah terikya siang hari, berkoar-koar dengan suara yang lantang sampai serak-serak memang sepertinya terlihat sangat heroik. Tapi apakah ada hasilnya?

Atau apakah lebih baik berada di panggung sebenarnya, dan berhadapan langsung dengan kekuasaan itu sendiri. Dari aktivis berubah menjadi seorang pemain yang mencoba untuk merubah keadaan. Pertanyaan selanjutnya adalah seberapa kuatnya seseorang dalam menghadapi godaan kekuasaan, godaan politik dan para politisi yang membuat kesan bahwa politik itu berat. Akankah suara yang dulu lantang menggema oleh para aktivitis menggelegar disetiap ruang sidang para wakil rakyat? Ataukah tetiba menjadi sunyi dan senyap dalam keheningan gemerincing harta?

Atau mencoba menuangkan segala bentuk ungkapan rasa kita dalam sebuah tulisan dan menyebarluaskan tulisan itu, katakanlah lewat media blog ini misalnya? Akankah suara itu tetap terdengar? Akankah semua suara itu bisa terkirimkan kepada mereka yang wajib mendengarnya, hanya melalui sebuah tulisan?

Akankah setiap tuntutan, setiap kritik untuk menjadikan kehidupan rakyat yang lebih baik terdengar? Harga bahan bakar minyak tetap naik. Harga listrik diam-diam juga ikut naik. Bahkan harga tiket kereta juga menjadi naik. Sayangnya naiknya harga itu tidak diikuti dengan naiknya kesejahteraan rakyat.

Mungkin suara rakyat memang tidak pernah terdengar?

Advertisements

6 thoughts on “Suara Yang Tak Terdengar

  1. wah sama.
    Dulu pas mahasiswa saya juga ikut demo sebagai solidaritas sama teman-teman.

    Salah satu hal yang buruk ku kenang adalah ikut demo. Kurasa itu buang waktuku yang berharga.
    Saya termasuk golongan yang pasif yang mengedepankan keluarga ketimbang organisasi.

    Like

  2. Budaya sepertinya ngga. Tapi beberapa oknum yang mebudayakannya.
    Setuju juga dengan tulisan diatas. Ketika seseorang bersemangat untuk menjadi penguasa untuk bisa merubah kebijakan tapi banyak yang hancur karena kekuasaan dan lupa dengan tujuan awalnya.

    Berat nih pembahasan gue pagi – pagi. Lebih berat dari Bang Sammy.

    Like

  3. Iya sih. Kadang memang seperti sia – sia melihat segerombolan mahasiswa berdemo.
    Seperti misalnya demo di gedung MPR/DPR udah pasti lah gak kedengaran dr pagar sampai ke gedungnya aja letih untuk Aliando berjalan *udah pernah ke gedung dpr soalnya walau cuma perpusnya* belum lagi lobby nya yang nyaman bisa buat tidur.
    Belum lagi mereka yang melakukan teatrikal di jalanan bukan mendapat apresiasi malah dimaki orang “bikin macet aja”
    Sepertinya demo bukan jawaban untuk mengeluarkan sebuah pendapat. Tapi langsung turun ke “panggung” adalah jawabannya.
    Mengutip perkataan ahok kalo gak salah seperti ini “Dulu orang miskin sakit datang kerumah saya, lama – lama kan saya bisa ikutan miskin. Kalo saya bisa jadi wakil rakyat saya bisa membantu mereka semua dengan uang rakyat”

    Like

    • Ya dengan menjadi penguasa kita bisa merubah kebijakan dan melakukan hal-hal yang nyata. Cuma banyak sekali contoh-contoh yang bertolak belakang. Apa ini sudah jadi budaya kita?

      Like

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s