Mana Yang Lebih Rendah?

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan Lokalisasi Prostitusi yang dimuat beberapa hari yang lalu di blog ini. Sebelumnya marilah kita beranggap bahwa yang menulis tulisan ini, pemilik blog ini dan yang membaca blog ini adalah makhluk-makhluk suci yang menolak keras terhadap prostitusi. Ini tentu saja karena kita mengacu pada perspektif agama. Agama manapun pasti akan melarang prostitusi dan melabeli prostitusi sebagai dosa. Kalau sudah bicara dosa, biasanya kita diam. Tak berkata apa-apa tapi tetap melakukannya.

Tapi bicara prostitusi katanya juga tidak bisa lepas dari perspektif ekonomi. Dimana para pelaku prostitusi biasanya terjerumus dalam dunia ini karena faktor ekonomi, atau ketidakmampuan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kalau begitu, dengan memandang bahwa Pemerintah memiliki peran yang kuat dalam mendukung perekonomian masyarakat, maka jika sampai ada rakyat yang tidak mampu secara ekonomi, maka Pemerintah yang salah. Dan karena rakyat yang tidak mampu secara ekonomi itu ada yang melarikan diri ke lubang hitam prostitusi, maka adanya prostitusi adalah salahnya pemerintah?

Atau mau kita bicarakan prostitusi dari perspektif sosial budaya? Dengan sosial budaya kita yang cenderung menampilkan hedonitas dan materialitas melalui berbagai liputan pemberitaan yang selalu menampilkan glamoritas dari selebriti, para pejabat publik yang tentu menggoda siapapun untuk mau hidup enak, hidup mewah tanpa bersusah payah. Akhirnya mereka yang mau hidup enak, hidup mewah seringkali terjerumus dalam prostitusi. Mungkin inilah yang melatarbelakangi bermunculannya ayam kampus atau asli artis yang berharga puluhan juta. Belum lagi bermunculannya pornografi yang semakin tak terbendung juga memunculkan permasalahan lagi. Pornografi memancing otak-otak yang kotor untuk melakukan yang tidak-tidak tapi enak.

Dan karena yang tidak-tidak tapi enak (kalau belum sah dan belum boleh melakukan itu) merupakan nafsu paling primordial dalam aspek biologis manusia, maka bisa jadi prostitusi semakin menjadi karena adanya pornografi. Atau mungkinkah ini karena adanya godaan setan?

Sejumlah perspektif ini lalu membuat kita menjadi bertanya, mungkinkah prostitusi ini bisa hilang. Kalau melihat dari perspektif agama, ya maka kita harus menjadi makhluk yang suci yang tidak boleh tergoda oleh godaan setan dan nafsu paling primordial sekalipun. Kalau melihat dari perspektif ekonomi, ya maka negara ini harus membuat semuanya menjadi orang kaya sehingga tidak berpikir untuk menceburkan diri ke lubang prostitusi. Kalau melihat dari perspektif sosial budaya, maka semua rakyat di negara kita harus hidup sederhana, tidak memamerkan harta pribadi apalagi harta hasil korupsi sehingga tidak ada orang yang tergoda untuk menjajakan tubuhnya. Langkah ini ditambah lagi dengan memastikan tidak ada konten pornografi dalam bentuk apapun.

Kalau dilihat dari perspektif biologis nafsu primordialisme paling mendasar dari manusia, maka untuk memastikan tidak timbulnya prostitusi adalah melakukan genocide besar-besaran di dunia. Pemusnahan masal manusia.

Mungkinkah? Ya jelas tidak mungkin. Masa anda sebagai makhluk suci (dengan asumsi awal tulisan ini bahwa yang menulis tulisan ini, pemilik blog ini dan yang membaca blog ini adalah makhluk-makhluk suci) mau dimusnahkan begitu saja oleh orang-orang pengguna jasa prostitusi?

Lalu kalau begitu buat apa kita meributkan prostitusi? Toh yang mereka jual adalah badan mereka sendiri. Bagaimana dengan para politisi yang korup, yang memprostitusikan kepercayaan masyarakat demi keuntungan mereka sendiri. Yang menjadi pertanyaan, mana yang lebih rendah?

Advertisements

5 thoughts on “Mana Yang Lebih Rendah?

      • Btw, saya artis standup. Tapi ada contributor lain yang juga punya pemikiran di blog ini. Bung Perspektif ini bukan artis standup, dia pegawai kantoran. Blog ini adalah blog opini, sementara ada tiga kontributor lain selain saya. Tidak semua sepaham dengan saya. Ada kontributor lain Bung Gangan, dia bahkan penggemar Chelsea, saya Liverpool, sah saja di blog ini. Karena ini adalah blog opini, tepatnya blog untuk Highly Opinionated person. Orang-orang yang selalu bertanya, tidak terima jadi, tidak membenci atau mencintai sesuatu berlebihan, apalagi memutuskan cinta atau benci tanpa tahu dulu apa yang dicintai atau dibenci.

        Gua rasa salah satu teknik dalam menulis adalah menggunakan majas, komparasi adalah pilihan majas. Bung Perpektif memakai majas ini. Menikmati sebuah tulisan salah satunya memang dengan mendebatnya. Tapi apakah Bung sudah baca keseluruhan dari artike ini? Kalau sudah dan tetap punya opini di atas, tetap sah, tapi kalau belum, mohon dibaca lengkap.

        Dalam dunia ini tidak ada ancaman ideologis. Tidak ada yang membahayakan dalam level gagasan atau opini. Kalau dianggap gagasan itu gila, ya tinggal diabaikan.

        Lain kalau sudah ancaman fisik, itu sudah violence. Jadi .. there’s no such thing named: ancaman ideologis.

        Salam

        Like

    • Kalau bacanya secara keseluruhan, mungkin anda bisa memaknai secara lebih utuh dan tidak memfokuskan pada satu kalimat tertentu saja. Maksudnya setelah menimbang berbagai perspektif yang ada, pilihan para pelaku prostitusi adalah pilihan mereka sendiri. Dan tidak usah bawa seorang ibu disini. Kecuali itu ibu anda sendiri.

      Liked by 1 person

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s