Dunia yang Terlanjur Begini, Bag. IV (Apakah Masih Ada Ilmuwan?)

Apakah masih ada ilmuwan? Jawabnya mungkin masih ada. Tapi apakah ilmu dihargai? Seperti sudah dibahas dalam bagian-bagian sebelumnya, manusia sekarang lebih menghargai kontribusi ekonomi. Ya, memang ekonomi adalah salah satu bidang ilmu, namun yang dimaksud adalah kontribusi ekonomi dalam hal ini bukan dalam hal penelaahan, namun ekonomi dalam artian keuntungan. Azas yang digunakan adalah azas manfaat.

Hasil penelitian yang tidak – atau belum – mendatangkan keuntungan secara ekonomi, akan dicap sebagai wacana kosong, tidak ada manfaat. Manfaat yang dinilai hanya manfaat ekonomi. Padahal sebuah subyek bisa saja mendatangkan manfaat lain selain manfaat ekonomi bukan? Bahkan sudah jelas bahwa ekonomi ini bohong-bohongan, hanya angka-angka semu yang dikelola dan dikuasai sekelompok orang. Pertumbuhan ekonomi jelas semu, karena diikuti oleh laju inflasi, kenaikan harga barang. Kalau kita pikir-pikir buat apa pendapatan naik, kalau harga-harga naik.

Katakanlah pertumbuhan ekonomi 6%, lalu laju inflasi 5%. Yang bahaya adalah statistik ini tidak mencerminkan apa-apa, karena pertumbuhan ekonomi 6%, angka ini bicara rata-rata, padahal penyebarannya tidak merata. Bisa saja sekelompok orang meraup keuntungan begitu rupa sehingga peningkatan pendapatannya mencapai 11%, lalu kelompok lain 1%. Andai jumlah mereka sama maka (11% + 1%) / 2 = 6%. Bicara rata-rata, pertumbuhan ekonomi 6%. Inflasi 5%, mengakibatkan kenaikan harga. Lalu apa yang terjadi, pertumbuhan tidak merata, tapi beban inflasi dirasakan merata. Kenapa? Karena harga-harga tentu naik secara merata. Tidak ada aturan harga hanya naik untuk yang pendapatannya naik lebih dari 6%. Jadi jelas ini akal-akalan bukan?

Apakah masih ada ilmuwan? Saya jawab ulang, masih. Tapi coba sebutkan pemenang terakhir nobel bidang fisika – tanpa googling – sedikit yang sadar. Dengan mudah kita bisa sebutkan tiga orang terkaya di dunia – tanpa googling. Ini menggambarkan concern kita bukan? Berarti memang tidak lagi ada ketertarikan manusia pada ilmu pengetahuan.

Dalam pertemuan keluarga besar, ada orang kaya, dan katakanlah ada ilmuwan. Tentu yang dianggap lebih adalah anggota keluarga yang kaya. Menyedihkan? Tidak juga, tapi inilah penyebab korupsi makin subur mungkin, karena kekayaan lebih dihargai dibanding ilmu. Apalagi peribahasa pakailah ilmu padi, makin berilmu, makin merunduk. Orang berilmu disuruh diam melulu, sialan kan?

Tidak ada ilmuwan baru  yang masuk buku pelajaran sekolah, seingat saya. Bahkan kalau sastrawan dikategorikan ilmuwan, khusus di Indonesia, sastrawan terakhir yang masuk ke buku sekolah adalah Rendra. Coba kalau ada yang baru, kasih tau saya ya, biar artikel ini saya edit.

Tidak lagi kita membaca orang sekarang yang seperti Archimedes dengan ceritanya masuk ke dalam bak mandi lalu bersorak ‘eureka’ dan terciptalah hukum Archimedes. Tidak lagi kita membaca orang sekarang yang seperti Newton yang duduk di bawah pohon dan menemukan apel yang terjatuh dan Newton menuliskan tentang gravitasi setelah itu.

Tentu banyak manusia cerdas saat ini, ya banyak sekali. Hacker yang bisa deface website sebuah instansi, mengaku cerdas dengan modal SQL inject, itupun copas dari  banyak postingan yang dijumpai di forum-forum. Ada orang-orang cerdas lain? Ada yang istimewa, tapi sungguh menyedihkan, bahwa sedikit sekali yang mau jadi penemu. Kenapa sih? Bahkan di AS, mereka memilih bekerja di bidang ekonomi, banyak juga yang menjadi pialang saham. Di Indonesia banyak lulusan ITB, IPB, UI yang masuk dalam management program dari sebuah bank lalu terjun sebagai bankir. Sama sekali tidak nyambung dengan apa yang dia pelajari. Ilmu S1 mereka dibuang, diganti dengan kursus perbankan beberapa bulan saja. Ya, karena hanya pencapaian ekonomi yang dihargai oleh masyarakat sekarang.

Ah sudahlah, nanti jadi terlalu melodramatis. Yang jelas, mungkin cuman si Doel, sarjana mesin yang tidak mau bekerja untuk bank.

Yang jelas saya merasa beruntung bisa punya ingatan yang kuat bahkan terhadap pelajaran-pelajaran SD dan SMP. Saya bersyukur saya bisa tahu rumus Pythagoras sejak SMP dan masih mengingatnya sampai hari ini. Dia menemukan rumus menghitung sisi miring (hypotenuse) sebuah segitiga siku-siku, hanya dengan mengukur dua sisi lainnya. Kita melihat rumus itu begitu sederhana sekarang. Tapi coba kita pikirkan, begitu penuh intuisinya Pythagoras, dia mencari tahu bagaimana menghitung panjang sisi miring tanpa mengukurnya. Ini luar biasa lho kalau dipikir-pikir.

Mungkin dia bicara dengan sesama ilmuwan saat itu, “Bro, bro! Nih, ya. Gua bisa hitung nih sisi miring, tanpa gua ukur. Rumah si Susi ke rumah elo lalu ke rumah gua kan jalurnya bentuk segitiga, Bro! Elo cukup ukur jarak rumah si Susi ke rumah elo. Lalu ukur jarak rumah elo ke rumah gua. Nanti gua bisa hitung, tanpa ngukur, jarak rumah gua ke rumah si Susi.”

“Ah, yang bener, Bro..”

Advertisements

4 thoughts on “Dunia yang Terlanjur Begini, Bag. IV (Apakah Masih Ada Ilmuwan?)

  1. Memang miris dunia ini / indonesia pd khususnya, mereka kuliah susah2 bikin skripsi/tesis/disertasi, eh pas gawe dia pake rumusan ciptaan org laen. Mubazir tuh kuliah cm jd syarat bwt gawe

    Like

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s