Like Father Like Son

Sepp Blatter kembali lagi menjadi Presiden FIFA untuk kali kelima setelah pesaing utamanya mengundurkan diri. Yang menarik adalah, beberapa saat sebelum pemilihan presiden FIFA, dunia sepakbola dihebohkan dengan adanya skandal dugaan suap menyuap dalam pemilihan tuan rumah 2 piala dunia mendatang.

Menjadi menarik bagi saya, karena ternyata bukan cuma para oknum politisi di Indonesia saja yang bisa disuap, tetapi juga para oknum petinggi FIFA juga bisa di”beli”. Padahal seperti apa yang kita lihat, penyelenggaran turnamen internasional dan melihat bagaimana FIFA mengelola sepakbola internasional, kecil kemungkinan kita menilai bahwa FIFA dikelola secara tidak profesional. Tidak adil kalau membandingkan bagaimana FIFA mengelola Piala Dunia dengan bagaimana PSSI mengelola kompetisi sepakbola di Indonesia.

Kisruh yang masih berlanjut karena Menteri Olahraga yang membekukan PSSI seperti Putri Elsa membekukan seluruh kerajaan Arendelle merupakan lanjutan episode dari drama sinetron sepakbola di Indonesia yang tak kunjung memberikan kabar gembira ditengah berbagai kabar tidak menggembirakan seperti harga bahan bakar minyak yang terus menaik, adanya beras plastik dan berbagai kabar-kabar lain yang bisa anda saksikan di layar kaca di rumah anda.

Memang begitulah yang terjadi begitulah bila politik sudah merasuki dunia olahraga seperti sepakbola. PSSI, lembaga yang seharusnya mengembangkan olahraga paling populer di Indonesia, malah dijadikan ajang perebutan kekuasaan. FIFA juga dengar-dengar setali tiga uang. Tapi sebenci apapun kita terhadap perilaku oknum pengurus PSSI, pernahkah kita tidak tergerak untuk mendukung timnas garuda kita? Sebenci apapun orang-orang yang ingin menjungkalkan Sepp Blatter dari tahtanya, adakah yang memboikot Piala Dunia?

Sepp Blatter, yang kali kelima terpilih menjadi Presiden FIFA, sepertinya memang ingin jadi Presiden FIFA seumur hidup. Barangkali mungkin tidak ada lembaga lain yang ingin menampung dirinya, seandainya ia sudah tidak bekerja lagi di FIFA. Mau keluar dari FIFA, tidak mungkin, barangkali cicilan kredit di bank di Swiss masih belum lunas. Kalau keluar ia bingung, darimana uang untuk melunasi kreditnya?

Jadi sekalipun ia dituding korupsi, selama masih belum terbukti, ia akan terus melaju. Kalau bisa seumur hidupnya. Saran saya, hati-hati untuk Sepp Blatter, kekuasaan yang terlalu lama akan menjerumuskan anda sendiri. Ibarat Bruce Wayne yang pernah berkata, you live long enough to see yourself become the villain. Anda hidup terlalu lama untuk menyaksikan diri anda sendiri berubah menjadi penjahatnya.

Contohnya ada di negeri kita sendiri, dimana penguasa yang terlalu lama harus tersungkur dari kursi kekuasaannya di demo oleh mahasiswa dan masyarakat yang turun kejalan melakukan demonstrasi massal yang mengorbankan putra-putra yang mungkin saja jika masih ada, bisa menjadi pemimpin masa kini yang membawa perubahan nyata untuk  negeri ini. Tidak seperti yang sekarang, yang cuma bisa menaikkan tarif-tarif dan mengatakan dengan lantang bahwa bangsa ini, rakyat ini harus mandiri. Tapi bukankah tugasnya negara ini adalah untuk mensejahterakan bangsa ini.

Sepp Blatter jelas punya lebih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, diantaranya adalah integritas FIFA itu sendiri. FIFA yang ternyata sama bobroknya dengan lembaga yang berlindung dibawah ketiaknya FIFA, yang mendewakan FIFA diatas sebuah negara. Like father like son.

Advertisements

12 thoughts on “Like Father Like Son

  1. Semoga kita bisa “menonton” happy ending di sepak bola dalam negeri…. kalaupun tidak dikasih happy ending ya biarin ajah lah :mrgreen: mungkin para pemain kita sedang di lindungi sama yang diatas supaya gak ngaco. Wong gaji 100jt sebulan aja banyak yang ngaco … apa lagi nanti kalau sepak bola kita (ternyata bisa) maju :mrgreen:

    Like

  2. Tulisan ini dibuat sebelum Opa Blatter mengundurkan diri. Terus saya kirim email ke dia. Belom ada tanggepan, eh dia malah ngundurin diri. Mungkin dapet hidayah setelah baca tulisan ini.

    Like

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s