Dunia yang Terlanjur Begini, Bag. V (Apakah Manusia Semakin Pintar?)

Phones are getting smart, but people are getting stupid.

Dunia di genggaman kita, dengan smartphone, tapi jangan-jangan otak manusia tidak mampu mengolah informasi yang datang bertubi-tubi menjadi sebuah pengetahuan. We are full of information, but lack of knowledge.

Abad dan adab tidak ada hubungan rupanya. Sekarang Abad 21, ada kelompok barbar macam ISIS, Boko Haram, kelompok garis keras di Rohingya. Sebaliknya di abad pertengahan sudah ada ilmuwan hebat macam Newton, bahkan di awal-awal sejarah manusia sudah ada Socrates, Aristoteles, Plato, Pythagoras (my favorite), dll. Peradaban manusia tidak ada hubungan dengan abad berapa suatu hal terjadi.

Teringat beberapa bulan lalu, saya kalau boleh dikatakan sengaja memancing amarah sebuah akun yang cukup dikenal di jagad twitter, dengan follower militant. Beliau adalah @kurawa. Singkat cerita kami terlibat dalam saling caci, dan di akhir-akhir sudah meleset dari esensi perdebatan awal. Sudah mulai menyerang kelamin saya yang kecil – padahal belum saya pernah umbar di khalayak umum apalagi di twitter. Tak apa, itu resiko perdebatan di Internet. Saya menolak menggunakan istilah dunia ‘maya’. Kata maya berarti tidak nyata, tidak terjadi. Bagi saya Internet adalah sesuatu yang nyata. Internet, facebook, twitter, blog, dll, adalah dunia nyata dalam media online. Kalau di dalamnya ada banyak akun palsu, anonim, dsb. bukankah dalam kehidupan sehari-hari di luar Internet hal demikian juga ada, terjadi, dan sudah sejak lama?

Saya mengkritisi kebijakan Ahok soal reklamasi teluk Jakarta. Kemudian saya bandingkan dengan reklamasi di Bali yang ramai-ramai ditolak, menjadi sebuah gerakan yang luar biasa heboh dan ngehits di dunia maya – eh maaf, Internet. Reklamasi teluk Jakarta seolah sepi peminat, hanya WALHI Jakarta yang saya pantau cukup vokal menyuarakan ini. Tapi gaungnya sungguh jauh dengan penolakan reklamasi di Bali. Apa yang beda? Saya kemukakan pendapat saya sambil sedikit memancing amarah kubu pro Ahok. “Mungkin karena reklamasi Bali dan Jakarta beda, beda yang nerima proyeknya.”

Kontan pendapat saya ini semakin diserang, dianggap menuduh Ahok korupsi. Padahal itu majas biasa saja, majas Inuendo. Majas menjuruskan opini, membentuk opini, bukan menyimpulkan. Dalam permainan media ini sangat sahih untuk dilakukan. Orang seperti saya tidak punya backing kuat, jadi harus pandai-pandai bermain majas, cuman itu senjata saya. Reaksinya sampai ke pihak-pihak yang dekat dengan Ahok, seperti penasehat, sekretaris pribadi, think tank atau apapun itu.

Tak apa, blog ini sudah saya rencanakan, tapi baru sekarang saya pikir cocok untuk dipost.

Cara pikir saya sederhana. Saya tinggal di Jakarta – Jabodetabek tepatnya – sejak 1997. Saya tidak tahu Ahok apa selama itu tinggal di kawasan ini. Yang jelas yang menjadi saksi beberapa fly over dan under pass dibangun dengan alasan mengatasi kemacetan. Mulai dari Fly  over Kuningan, Pancoran, Senen, Cempaka Putih, dst. Saya ada di Jakarta sebelum semua fly over atau under pass ini jadi. Berbulan-bulan pengguna jalan harus menikmati macet – kalau memang macet itu bisa dinikmati – saat fly over atau under pass ini dibangun. Setelah infrastruktur itu jadi, kemudian apa yang kita lihat? Macetnya tetap, tidak solve.

Karena apa? Karena Jakarta seperti lampu neon. Manusia dan kendaraan seperti laron. Laron berkumpul kalau neonnya terang. Menambah ruas jalan artinya, menambah terang neon. Laron akan makin banyak datang. Kenapa neon tidak dipecah? Saya sudah ke Aceh sampai ke Maluku, banyak sekali lahan kosong. Itu kan NKRI? Kita mengagung-agungkan NKRI, tapi sama sekali hanya jargon. Kesatuan, harus bersatu, tapi yang dibangun hanya di titik tertentu. Neon hanya ada di seputaran Jakarta, Jawa, Bali.

Diluar masalah banjir Jakarta dan semua tetek bengeknya, tidak perlu saya baca jurnal-jurnal planologi soal reklamasi teluk Jakarta. Itu adalah bentuk memperbesar neon, artinya selamat datang laron-laron baru. Sederhana saja kalau kita mau berpikir sederhana. Apakah dunia ini diset untuk semakin membuat manusia bodoh? Kita membaca banyak jurnal yang bertebaran di Internet, tapi lupa esensi yang lebih mendasar.

Ini adalah artikel opini, tidak seratus persen benar, tapi tidak juga seratus persen salah, dan yang jelas argumentatif lah.

Satu lagi, kita mundur ke Ilmuwan jaman dulu saja. Lavoiser, yang mengemukakan hukum kekekalan massa. Artinya apa? Reklamasi teluk Jakarta, penambahan areal di teluk Jakarta, semuanya menggunakan material pasir. Jadi harus ada pasir dari tempat lain di Indonesia (atau luar negeri, tapi saya rasa tidak), harus diambil dan dipindahkan ke Jakarta. Karena apa? Karena menurut Lavoiser, massa itu kekal. Manusia tidak bisa membuat pasir, yang ada hanya memindahkan pasir dari tempat lain ke teluk Jakarta. Artinya, sebuah kesia-siaan. Kenapa tidak manusia – eh salah laron – disuruh migrasi ke tempat di mana pasir-pasir itu diambil, artinya tempat itu dibangun, supaya  neonnya makin terang dan laronnya pindah ke sana.

Ini sebuah opini, boleh dijadikan masukan, sangat boleh diabaikan.

Menentang keputusan Pak Ahok bukan berarti kita pro FPI dan mendukung pemakzulan, lagipula sudah mau pilkada juga kok Jakarta. Saya tidak membenci Ahok, tapi sebagai Gubernur, menurut saya banyak keputusan dia yang salah dan karena Indonesia butuh figur seperti dia, jadinya semua seperti benar. Kalau Pak Ahok datang ke rumah saya, tentu akan saya jamu dengan makanan khas Indonesia. 14045.

– Notaslimboy, pengusaha IT dan pedagang pulsa, bukan pengusaha lampu neon.

Advertisements

6 thoughts on “Dunia yang Terlanjur Begini, Bag. V (Apakah Manusia Semakin Pintar?)

  1. Di bagian 1-4 sering tiba-tiba berhenti baca gara-gara ngakak ama satir omsam. Di bagIan 5 bener-bener serius saya baca, blown mind pisan omsam

    Like

  2. Artinya…. kita harus berfikir lebih kritis untuk mencari solusi, bukannya berpihak dan selalu bergantung dengan pemimpin pujaan.

    Like

  3. Mungkin lebih tepatnya : Biksu garis keras di Myanmar, bukan kelompok garis keras di Rohingya. Rohingya itu kan sebuah etnis dan bukan sebuah wilayah.

    Like

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s