Manusia Indonesia

Jika anda pernah membaca 12 karakter orang Indonesia yang diterbitkan oleh Mochtar Lubis tahun 1978 atau 1979 oleh Mochtar Lubis, bisa jadi anda akan geleng-geleng kepala. Kalau anda termasuk orang yang tidak bisa menerima kritik, besar kemungkinan anda akan marah dengan 12 karakter tersebut. Bukan apa-apa, orang Indonesia –oleh Mochtar Lubis- dianggap munafik, tidak mau bertanggung jawab, berjiwa feodal, percaya takhayul, memiliki watak yang lemah, pemboros, tidak suka bekerja keras, cemburu dan dengki, dan berbagai sifat lainnya.

Sepintas mungkin karakter-karakter yang sudah disematkan oleh Mochtar Lubis kepada saya dan juga anda, masih bisa anda temui dalam berbagai orang, baik itu orang yang ada di dalam rumah anda, di dalam kantor tempat anda bekerja, atau juga bahkan pada orang-orang yang sering kita lihat berseliweran wajahnya di televisi atau bermunculan namanya di media massa. Baik itu pejabat, politisi, artis dan selebriti, ataupun juga para koruptor dan penjahat.

Namun juga ketika kita melihat sejumlah orang-orang di dunia nyata, para tukang sapu di jalanan yang tetap menyapu meskipun sempat terlambat di bayar gajinya, para pemain sepakbola yang tetap berlatih di klubnya kendati belum ada kejelasan mengenai bagaimana sepakbola Indonesia di masa-masa mendatang, mungkin anda ingin protes kepada Mochtar Lubis. Saya yakin anda pasti pernah mengenal atau sekurang-kurangnya bertemu atau melihat orang-orang yang saya maksud. Orang-orang yang sudah bekerja keras banting tulang sedemikian rupa, namun tetap tidak pernah beranjak dari tabel statistik jumlah orang dibawah garis kemiskinan. Omong-omong, garis kemiskinan itu seperti apa ya wujudnya?

Jika Mochtar Lubis bilang bahwa orang kita adalah orang yang berwatak lemah, rasa-rasanya saya malah menyebut orang Indonesia adalah orang yang mandiri, sekurang-kurangnya dari Pemerintah Indonesia. Bukan berarti peran Pemerintah Indonesia tidak ada. Sebaliknya peran Pemerintah sangatlah jelas dan terlihat nyata dalam menaikkan harga BBM, tarif dasar listrik, LPG, dan lain sebagainya. Saya sempat menepok jidat ketika membaca ada sebuah tulisan yang menyatakan bahwa kenaikan harga BBM adalah untuk membuat rakyat Indonesia menjadi mandiri, karena sudah lama terlena oleh subsidi dari Pemerintah. Lebih absurd lagi orang yang menulis tulisan itu kemudian mengibaratkannya dengan berkebun?

Bukankah peran Pemerintah Indonesia adalah untuk mensejahterakan rakyat Indonesia?

Rakyat Indonesia adalah rakyat yang mandiri, rakyat yang tangguh, yang akan tetap melanjutkan hidupnya meskipun semua harga-harga akan terus naik. Bukan apa-apa, mau demonstrasi jungkir balik sembari salto kemudian koprol, suara rakyat tidak akan pernah terdengar. Suara rakyat bukanlah suara tuhan. Ketika kebanyakan dari mereka yang mengatur hajat hidup rakyat sudah tidak menuhankan Tuhan, tetapi lebih menuhankan kepada materi, jabatan, kekuasaan, dan bagaimana caranya agar periode berikut tetap dapat menjabat lagi.

Jadi, seperti apa manusia Indonesia anda?

Advertisements

3 thoughts on “Manusia Indonesia

  1. Saya kira tulisan Mochtar Lubis akhir tahun 70an tersebut masih relevan sampai sekarang (malah kecenderungannya bertambah jeleknya hehehe). Saya masih ingat periode 80an disekolahan selalu diajarkan norma2x (tepatnya di brainwashing oleh guru agama, PMP dan saat penataran) untuk selalu bertenggang rasa, saling hormat-menghormati, tepo seliro, musyawarah-mufakat, gotong royong, antri, saling membantu, hidup hemat, etc. Saya selalu mencoba untuk menerapkan hasil pengajaran tersebut dalam lingkup kecil didalam keluarga inti (istri+anak), keluarga sekunder (orang tua (+mertua) + kakak adik, dan tetangga sekitar rumah.

    Ada pepatah yang mengatakan bahwa hal besar dimulai dengan hal kecil. Jika masing2x orang tua (ayah+ibu) sebagai “inti atom” yang mengikat anak2xnya membentuk keluarga “molekul +” dengan norma-norma tersebut diatas. Kemudian molekul tersebut bereaksi dengan keluarga “molekul+” lain dengan katalis enzim (+) membentuk suatu masyarakat+ dan bangsa+ (super sekali @MarioTeguh), mungkin Mochtar Lubis akan merevisi tulisannya menjadi 12 karakter unggul orang Indonesia hehehe.

    Like

  2. Bicara soal stereotyping, tidak 100 persen benar, tapi tidak 100 persen salah. Glass of water, tergantung sudut pandang. Memandang sesuatu bisa dari berbagai perspektif, seperti nama akun penulis.

    Saat kita terpojok, biasa kita menemukan solusi. Mungkin saja ketika kita dibilang buruk, sisi baik kita muncul, dan sebaliknya. Saya terbiasa hidup sebagai minoritas, tidak disadari saya tumbuh menjadi pribadi yg mandiri dan bernyali (kadang berlebihan).

    Semakin ke sini saya semakin menghargai posisi pengkritik. Orang-orang yang sepertinya hanya benar sendiri, tapi mungkin saja banyak benarnya. Yang jelas orang-orang yang tidak terlalu populis, kurang disukai khalayak. Bukankah menjadi tidak disukai itu adalah pengorbanan?

    Tidak ada yang 100 persen ternyata.

    Liked by 1 person

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s