Terima Kasih, Thailand

Sabtu siang, Myanmar berhasil mengunci satu tiket final Sea Games 2015 cabang sepak bola setelah mengubur impian Vietnam dengan skor ketat, 2-1. Sontak hasil ini membuat kubu Indonesia, para suporter tepatnya, lebih tepatnya lagi saya, dengan rasa percaya diri berlebih, menjurus sombong berucap, “saatnya balas dendam.” Seperti diketahui, pada partai pembuka grup A, timnas Indonesia dihancurkan 2-4 oleh negara asal muslim Rohingya ini. Memang dasarnya dendam itu tidak baik, saya dan mungkin mereka lupa bahwa musuh yang harus dilewati timnas jika indgin kembali bertemu Myanmar ini adalah Thailand, peraih medali emas Sea Games edisi sebelumnya.

Dan benar saja, partai semifinal yang lazimnya berlangsung seru, justru seperti jadi ajang latihan timnas Thailand untuk menghadapi Myanmar. Alih-alih menikmati pertandingan, dalam laga itu ritual saya adalah tutup mata kepala nunduk, tutup mata kepala nunduk. Tutup mata kepala nunduk untuk setiap operan yang salah, untuk setiap bola yang gampang sekali hilang dan pastinya tutup mata nunduk untuk setiap gol yang bersarang di gawang Teguh Amiruddin.

Setelah pertandingan, saya tak terlalu bersedih karena walaupun sebelum laga ini dimulai sudah berpikir jauh untuk balas dendam kepada Myanmar, realistis berbalut pesimis adalah bekal terbaik menyaksikan timnas Indonesia berlaga. Belum lagi rekor Thailand di grup yang membuat bekal realistis berbalut pesimis tadi harus dicelup pada sebuah cairan bernama pasrah.

Alih-alih bersedih, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Thailand. Yang pertama, terima kasih karena tidak bermain sungguh-sungguh dalam pertandingan kemarin. Tak terbayang berapa gol yang bersarang jika Thailand bermain sungguh-sungguh, melihat timnas yang bermain seperti itu, seolah tanpa perlawanan. Laga melawan Thailand yang paling saya ingat adalah saat final Piala AFF (dulu Piala Tiger) 2002. Meskipun kalah, tapi timnas senior mampu memberikan perlawanan hingga memaksakan adu penalti.

Lalu, terima kasih karena sudah menghindarkan Indonesia dari pertemuan dengan Myanmar untuk kedua kalinya. Dengan hasil 2-4 pada pertemuan pertama, rasanya jalannya partai final akan mudah sekali ditebak walaupun bola yang digunakan masih bundar. Kekuatan sepak bola Myanmar berada jauh di atas Indonesia. Ranking FIFA menjadi bukti yang paling gampang dilihat. Myanmar ada di posisi 143, sedangkan Indonesia ada di peringkat 155. Melihat tabel ini pun saya kembali tutup mata kepala nunduk. Kenapa? Timor Leste saja yang sudah jadi langganan lawan uji coba kita ada di posisi 146. Sedih.

 

 

Advertisements

6 thoughts on “Terima Kasih, Thailand

  1. Kalau menurut saya sih, sama Myanmar dan Vietnam, kekuatan gak jauh beda, cuman taktik Aji Santoso tuh itu-itu aja, mau lawan gurem atau kuat sama aja, gak ada variasi sama sekali. Cuman Thailand yang memang level-nya sudah sangat jauh.

    Masih yakin kalau pelatih-nya kayak Rahmad Darmawan, Indra Sjafrie, atau yang udah biasa nanganin timnas gak akan separah ini. Masih bisa 50-50 peluangnya kalau lawan Myanmar atau Vietnam, kalau lawan Thailand mah harus banyak berdoa aja.

    Like

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s