Melawan Persepsi (tidak) Awam

Pendapat awam seringkali diabaikan, karena bukan pakar, maka dianggap tidak kompeten dalam bidang tertentu maka pendapatnya selalu salah. Roy Suryo, tidak kompeten dalam bidang IT, pendapat dia tidak selalu salah kok, walau jarang juga benar, atau yang benar jarang dikutip oleh media. Sebenarnya media dan kami pelawak tidak ada bedanya, sama-sama cari celah untuk menertawakan orang. Ayo ngaku!

Izinkan saya mengutip – walau sudah berulang-ulang – seorang filsuf asal Prancis, Voltaire yang bilang, “Common sense is not so common.” Dari sini pun kalau mau dicari celahnya bisa. Kenapa saya mengutip Voltaire dalam bahasa Inggris? Jawabannya, teks yang saya baca dalam bahasa Inggris dan saya tidak paham bahasa Prancis. Tapi saya yakin Voltaire mengatakan ini bila diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Tuh kan jadi panjang.

Intinya, dari Voltaire saya belajar dua hal, bahwa common sense (pendapata awam/umum) tidak selalu sama, semua tergantung persepsi bahkan konsensus, kesepakatan yang dapat diubah oleh tatanan yang ada sewaktu-waktu, baik oleh penguasa, masyarakat atau keduanya. Hal lainnya, pendapat awam tidaklah awam, artinya bisa saja dia lebih tajam dari pakar. Apalagi bila orang yang dilabeli ‘awam’ tadi seorang praktisi, dia akan menemukan anti-teori dari hal-hal yang pernah dia pelajari sebelumnya secara akademik, dia bisa lebih tajam dari seorang pakar karena pengalamannya. Apakah kemudian seorang pedagang grosir di pasar disebut awam dibanding seorang profesor ekonomi? Bahkan pedagang grosir pun memperhitungkan pergerakan valuta asing, artinya secara tidak langsung dia melakukan analisis makro ekonomi? Itu hanya contoh.

Kritikus, itu label yang diberikan kepada saya belakangan ini. Lebih tepatnya kritik tanpa solusi. Nah, lagi-lagi, ini pendapat memojokkan – walau kita tidak sedang main tinju – yang ‘menurut saya’ (dalam tanda petik), tidak 100% benar. Tanpa solusi apa? Yang saya kritik adalah kebijakan pemerintah yang mungkin sudah dibiarkan sejak lama, bukan hanya di pemerintahan saat ini. Kalau ditanya bagaimana yang benar? Contoh dalam ekonomi saja, saya pernah mengkritik soal Bank yang seharusnya fokus di usaha pendanaan, kenapa ikut dalam pasar retail dengan berjualan pulsa di ATM/Internet Banking/m-Banking. Solusinya apa? Ya Pemerintah tinggal larang saja, lalu bank fokus di usaha pendanaan dan pembayaran (payment gateway), dan biarkan toko-toko online yang sekarang banyak COD itu berjualan pulsa. Ini contoh, karena saya mengerti sekali jalur distribusi pulsa, makanya saya angkat isu ini. Bela periuk sendiri? Why not, para pencipta lagu pun punya asosiasi untuk mengurus hak cipta mereka yang dibajak. Nah kenapa saya bisa berpikir seperti ini? Karena saya seorang yang bukan hanya belajar di bangku, tapi juga menjadi praktisi, dari profesional IT sampai jualan pulsanya juga.

Kritik tanpa solusi itu selalu jadi jurus andalan kaum tertentu, saya tidak mau melabelinya apa, tapi sangat gatal untuk tidak melabeli, ‘kelas menengah ngehek dan bodoh’ #lega. Lalu sering sekali mengutip credo JFK “Jangan tanyakan apa yang negara beri padamu, tanyakan apa yang kau beri pada negara.” Jelas-jelas dalam pasal 34 UUD 45 “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara negara”. Jadi walau elo nggak buat apa-apa, ternyata ada hak untuk dipelihara oleh negara. Kok malah lebih percaya JFK, presiden AS yang katanya sempat punya affair dengan Marilyn Monroe dibanding UUD negara sendiri? Tuh kan jadi gossip.

Dalam negara, saya menempatkan diri sebagai rakyat yang punya hak dan kewajiban. Kritikus itu tidak disengaja, hanya karena gatal aja melihat sesuatu yang menurut kita nggak benar. Secara tidak sadar, kualitas politikus kita makin turun, kita turut andil dalam hal ini. Kita menciptakan lingkaran setan orang-orang yang masuk dalam lingkaran kekuasaan semakin low-quality. Kita membuat politik menjadi entertainment, hiburan, akhirnya seperti dunia hiburan, yang laku yang low-quality. Ada beberapa pengecualian, selalu ada.

Selain money politics, ada juga cost of politics, yang ke-2 ini tidak dapat dihindari, mahal juga lho saya sudah tanya beberapa politisi. Tanpa harus bagi-bagi amplop, biaya kampanye, pengumpulan massa, spanduk, baligo, poster, dll. memang sudah mahal. Apalagi kalau sewa penyewa dangdut, lebih mahal lagi. Apalagi kalau disewanya bukan hanya untuk menyanyi di panggung, tapi setelah itu… tuh kan jadi gossip.

Maka tidak heran banyak pejabat terpilih yang korup. Maka tidak heran kejadian di Tomohon, Bupati terpilih harus dilantik sebagai tahanan dan sesudah dilantik dia balik ke Cipinang.

Bisakah ada tempat untuk orang-orang seperti saya dalam Politik? Saya ingin sekali, tidak usah dalam struktur. Cukup jadi orang-orang yang tulisan atau pendapatnya dipertimbangkan. Banyak orang berpendapat menentang politisi, bukan untuk menjatuhkan orangnya, tapi memang menjatuhkan pendapatnya. Bila pejabat/politisi itu mau terus silakan, kalau mau mempertimbangkan kritik juga silakan. Kritikus – kalau saya termasuk di dalamnya – tidak menjatuhkan orang dari kursinya, walaupun jatuh silakan orang lain menggantikan dan saya tetap akan bawel. Kebijakan itu berpengaruh pada saya dan anak-anak saya, maka saya sebagai rakyat yang adalah customer dari pemerintah, harus menjadi customer yang bawel menuntut ini dan itu, yang sesuai janji.

Kalau anda customer Telkomsel, dan jaringan mereka lemot, anda tentu akan bawel ke Telkomsel dan sesama customer Telkomsel tidak perlu bilang, “Apa yang sudah kamu lakukan untuk Telkomsel?” Karena jawabannya mudah. Anda cukup jawab, “Saya sudah beli pulsa, walau 5000 karena saya fakir miskin, Telkomsel tetap wajib memelihara jaringan yang saya gunakan.”

Ini hanya contoh πŸ™‚

 

– Notaslimboy, pedagang, pengusaha kecil dan pelawak.

Advertisements

One thought on “Melawan Persepsi (tidak) Awam

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s