Belajar dari Michael Jackson dan Whitney Houston

Tulisan ini bukan semacam jawaban dari sebuah episode Mata Najwa, “Belajar dari Habibie”. Kebetulan saja memang menurut saya, kita harus menarik pelajaran dari banyak hal, termasuk kehidupan tokoh. Michael Jackson dan Whitney Houston kebetulan adalah dua tokoh penting dalam perkembangan musik dunia era 80-90an dan tentu banyak pelajaran yang perlu diambil dari diri mereka. Soal Habibie, tentu ada pelajaran yang bisa ditarik. Yang perlu kita pelajari dari Habibie adalah bagaimana menjadi tokoh yang diterima oleh Orde Baru dan menjadi anak emas Soeharto dengan budget besar negara dihabiskan untuk sebuah proyek mercusuar yang tidak terlihat hasilnya. Tapi beliau tetap dianggap menjadi guru bangsa sampai hari ini. Bahkan Soeharto pun kalah dalam hal ini. Itu yang perlu kita pelajari dari Habibie. Tapi mari kita kembali ke topik kita.

Michael dan Whitney, satu king of pop, satu lagi diva musik pop era 80-90an. Keduanya mati tidak wajar dan di usia bisa dibilang relatif muda. Banyak berita miring tentang mereka, dan saya bukan menempatkan diri sebagai pembela mereka. Saya mempelajari juga beberapa artikel tentang mereka, dan ini sudut pandang lain tentang mereka berdua. Bagaimanapun banyak manusia berhutang budi pada mereka, pada lagu-lagu mereka. Mungkin ada di antara kita yang hampir putus, lalu tidak jadi putus gara-gara mendengar karya mereka. Atau mungkin ada yang nembak gebetan dengan memberikan hadiah sebuah CD/kaset lagu mereka. Ada sebagian kita yang sedang sedih, lalu kita pergi ke kamar dan menangis ditemani oleh suara mereka. Mereka banyak berjasa, tapi sungguh malang nasibnya.

Michael dari kecil sudah hidup dalam didikan ayahnya yang keras. Tapi menurut saya inilah kasih seorang ayah, dia ingin anak-anaknya sukses, dan terbukti. Walau mungkin terlampau keras, tapi buktinya karir The Jackson 5 dan Michael luar biasa. Inilah pentingnya keluarga, Michael akhirnya seperti hidup sendiri dan dikelilingi oleh teman-teman – yang ternyata bukan teman sejati. Saya mendadak jadi pakar psikologi, tapi tak apa, toh saya juga manusia, bisa lah ngerti dikit perasaan Michael.

Banyak media yang menyudutkan, termasuk sebagian kita, tentang operasi plastik Michael. Seolah mengingkari jati diri. Dari sebuah artikel yang saya baca, Michael sebenarnya sudah ingin berhenti operasi wajahnya, tapi dokter melobby Michael lewat salah satu temannya, dan temannya ini membujuk Michael untuk melakukan lagi. Berulang-ulang, dokter butuh duit, temannya dapat persenan. Tega banget ya. Dari nada bicara Michael saya tahu dia orang yang lembut dan nggak enak nolak, dimanfaatkan gitu. Ya, itulah, karena dia jauh dari Bapaknya yang galak itu – walau sebenarnya tujuannya baik. Orang tua kulit hitam di Amerika tahun 60an tentu sempat mengalami zaman perbudakan. Masa kecil dan remaja ayah Michael bekerja keras, ya itulah yang membuatnya berwatak keras pula, dia tidak ingin anak-anaknya menderita. Dari sini, harusnya sedikit kita berubah pandangan terhadap operasi plastik Michael.

Media sering meliput persahabatan Michael dengan Liz Taylor. Tapi ada sebuah cerita mengagetkan, suatu hari Michael berulang tahun, dia mengundang beberapa sahabatnya. Salah satunya Liz Taylor. Doi nggak bisa, ada acara katanya. Lalu Michael menghadiahkan sebuah perhiasan mewah, eh doi akhirnya mau datang, kok jadi bisa? Kampret emang. Ternyata Michael benar-benar sendirian. Soal pelecehan pada anak, ini pun masih simpang siur. Orang tua korban pelecehan anak yang dituduhkan pada Michael, adalah orang tua yang bermasalah, dia bermasalah dan hanya ingin mendapatkan keuntungan dari hal ini. Silakan baca artikel ini Was-Michael-Jackson-a-child-molester.

Sedih *ambil tissue sebelum ke cerita Whitney*

Whitney, lagu-lagunya nggak ada yang nggak enak di telinga saya. Tapi hidupnya tidak seindah suaranya. Meninggal overdosis karena stress berkepanjangan. Memang kita tidak menyalahkan siapa-siapa terhadap depresi seseorang, pada akhirnya orang itu sendiri yang bisa mengatasi masalahnya. Whitney menikah dengan Bobby Brown, seorang mediocre rapper lah di zamannya. Publik kecewa, tapi ya namanya pilihan orang, siapa yang bisa ngatur. Tapi ternyata si Bobby yang kalah jauh tenar dibanding Whitney ini belagu banget, sangat intimidatif dan posesif. Ini bukan artikel gossip, jadi silakan googling saja. Yang jelas akhirnya mereka bercerai, Whitney depresi, terjebak narkoba dan meninggal overdosis. Bobby Brown menjadi pendeta dan insyaf. Mirip cerita sinetron hidayah, hanya mungkin versi Kristen lah.

Penampilan doi live menyanyikan Didn’t We Almost Have it All, kayaknya dari hati banget deh.

Saya berhutang budi banyak pada Michael dan Whitney untuk masa remaja saya yang tumbuh mendengarkan lagu-lagu mereka. Belum bisa cover lagu Whitney karena belum dapat penyanyi yang pas, tapi yang ini cover lagu Michael Jackson, Man In The Mirror dari band saya

Pelajarannya apa? Ya hati-hati sekitarmu, belum tentu orang baik. Yang deket dengan kita, bukan berarti yang paling peduli sama kita.

Advertisements

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s