Jumlah Kecelakaan : Ketika Nyawa Manusia Menjadi Angka

Mudik Pakai Pesawat

Mudik Pakai Pesawat

Saya selalu miris ketika membaca pernyataan pada setiap tahunnya jumlah kecelakaan dan korban meninggal terus menurun. Dalam mudik tahun 2015, jumlah kecelakaan dengan korban yang meninggal pada periode H-7 hingga H+7 menurun menjadi 657 orang jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 714 orang*.

Pencapaian tersebut tentu harus diapresiasi dengan sebaik-baiknya, terutama kepada aparat kepolisian yang telah bekerja dengan sebaik mungkin. Bahkan banyak diantara para petugas kepolisian yang mengorbankan hari raya idul fitri bertemu dengan keluarga untuk bertugas. Penurunan angka kecelakaan ini bisa jadi menandakan kesadaran yang semakin meningkat dari para pemudik sebagai pengguna jalan raya.

Memang, jika kita membicarakan soal nyawa manusia, elemen peran Tuhan sangatlah signifikan dalam hal ini, dan menjadi sebuah hal yang menentukan. Ibaratnya, sebagus apapun manusia merencanakan, Tuhanlah yang menentukan. Ini bukanlah sebuah hal yang perlu dikritisi.

Dari sisi perencanaan aktivitas mudik, tentu begitu banyak yang terlibat, bukan cuma kepolisian dan masyarakat saja yang berpartisipasi dalam aktivitas mudik ini. Pemerintah lokal, perusahaan penyedia jasa transportasi, bahkan korporasi-korporasi yang relatif tidak terkait juga memanfaatkan momen mudik sebagai sarana promosi atau sebagai momentum corporate social responsibility.

Ada banyak tahapan dan aktivitas yang dilakukan terkait mudik. Sosialisasi dan komunikasi yang dilakukan sebagai bentuk persiapan untuk mudik yang lancar. Iklan layanan masyarakat untuk memberikan himbauan mengenai apa yang harus dipersiapkan oleh para pemudik dari berbagai segmen kalangan rutin lalu lalang saban menjelang hari raya. Para pemudik khususnya yang menggunakan kendaraan pribadi dianjurkan untuk melakukan pengecekan dan servis sebelum mudik. Bagi pemudik yang menggunakan transportasi umum, dianjurkan untuk melakukan pemesanan lebih awal untuk memastikan mendapat tiket.

Perusahaan-perusahaan penyedia jasa transportasi baik udara, laut dan darat melakukan persiapan-persiapan untuk memastikan layanan yang sebaik-baiknya kepada para pemudik. Menambah kapasitas dengan melakukan penambahan jumlah armada, loket, jumlah tenaga yang memberikan pelayanan kepada para pemudik. Perusahaan yang tidak terkait pun tidak mau ketinggalan dalam momen mudik ini. Ada yang mendirikan posko layanan gratis lengkap dengan promosi produk dan layanan yang disediakan. Ada yang membuat acara mudik bareng. Momen mudik, karenanya selain dianggap sebagai momen perpindahan jutaan orang dari satu tempat ke tempat lain secara massal, juga menjadi momen perputaran uang ke berbagai daerah lainnya.

Momen mudik, dari berbagai perspektif tersebut, menawarkan banyak keuntungan dan juga memiliki banyak risiko. Seiring dengan begitu banyaknya jumlah orang yang terlibat, jumlah perputaran uang yang beredar, dalam satu kurun waktu, dalam satu tempat pada berbagai lokasi yang terjadi secara bersamaan, adalah sebuah potensi risiko yang sangat besar. Risiko keselamatan manusia pada khususnya.

Memang jika dilihat dari perspektif statistikal semata, kita bisa melihat adanya perbaikan jika dibandingkan dengan tahun lalu. Namun saya masih melihatnya sebagai suatu hal yang miris. 657 orang yang meninggal dalam kurun waktu 14 hari menandakan ada 46-47 orang meninggal dalam 1 hari di seluruh Indonesia selama mudik tersebut. Kecelakan lalu lintas adalah hal yang mengerikan. Bahkan kecelakaan lalu lintas menjadi pembunuh terbesar ketiga di Indonesia setelah penyakit jantung koroner dan TBC.*

Namun jika kita melihat dari perspektif manusia, kita tentu menyayangkan ada 47 orang meninggal setiap harinya karena kecelakaan manusia. Demi Tuhan, mereka yang meninggal bukan hanya sekedar angka. Mereka adalah makhluk bernyawa, yang bisa jadi adalah orang tua anda, anak anda, suami anda, istri anda, orang-orang yang anda sayangi dan dekat di hati anda.

Jelas, masih ada yang salah dalam penanganan mudik ini. Target zero accident memang sepertinya masih dianggap mustahil, tapi apakah rasio 47 orang meninggal adalah tingkat yang masih bisa ditolerir? Menurut saya tidak. Motif ekonomi bisa menjadi alasan yang menyebabkan terjadinya miss management. Karena momen mudik, terjadi peningkatan permintaan jumlah tiket, jadi mengabaikan faktor keselamatan misalnya. Semoga ini menjadi kecurigaan saya semata. Semoga tahun depan, mudik tidak sampai menimbulkan korban jiwa.

Advertisements

3 thoughts on “Jumlah Kecelakaan : Ketika Nyawa Manusia Menjadi Angka

  1. Penurunan angka kematian dianggap sebagai berita baik oleh khalayak ramai. Tetap saja yang meninggal ada lah makhluk bernyawa. Apakah masih bisa dianggap berita baik oleh keluarga yang ditinggalkan

    Liked by 1 person

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s