Bangunlah Jiwanya (Baru) Bangunlah Badannya

Sepenggal kalimat yang begitu syahdu dan begitu dalam maknanya terdapat dalam untaian lagu Indonesia Raya yang diciptakan oleh WR Supratman menjadi sebuah petunjuk bagi kita semua. Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. Jika kita melihat konteks jiwa menjadi lebih dahulu daripada badannya. Ini menandakan sebelum kita membangun “badan” atau “raga” yang perlu dibangun terlebih dahulu adalah membangun “jiwa”.

Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah apakah “jiwa” yang dimaksud oleh WR Supratman sebagai pencipta lagu. Kemudian, yang juga patut dipertanyakan, adalah konteks kekinian dari lagu tersebut. Lagu tersebut diciptakan pada tahun 1928 dan ditahbiskan menjadi lagu nasional pada tahun 1945. Jika kita melihat konteks lagu tersebut diciptakan, kita akan melihat relevansinya bahwa pada saat itu, adalah masa-masa untuk mengisi kemerdekaan dengan pembangunan. Kini disaat pembangunan sudah kita lihat hasilnya, menjadi relevankah untuk membangun “jiwa” dari bangsa Indonesia?

Ucapan Soekarno sebagai Presiden pertama negeri ini “Aku tinggalkan Kekayaan alam Indonesia, biar semua negara besar dunia iri dengan Indonesia, dan aku tinggalkan hingga bangsa Indonesia sendiri yang mengolahnya” menjadi menemukan relevansinya disini. Aku tinggalkan hingga bangsa Indonesia sendiri yang mengolahnya. Hal ini menekankan kepada pentingnya kemampuan sumber daya manusia Indonesia sebelum mengolahnya. Orang lebih penting. Jiwa di dahulukan dari badannya.

Tapi ketika kita dihajar oleh realita yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, kita menjadi tertegun kemudian hendaknya berpikir, apakah ada yang salah dengan “jiwa” Indonesia. Korupsi terjadi dimana-mana, kesewenang-wenangan begitu gamblang di depan mata. Salah satu contoh terkini adalah insiden konvoi moge di Yogyakarta yang mendapatkan pengecualian untuk bebas menerobos lampu merah dalam rangka dan atas nama merayakan HUT RI ke 70.

Jika konteks “jiwa” yang dimaksud oleh WR. Supratman sebagai orang-orang Indonesia, barangkali kita akan tergeleng-geleng kepala terhadap 12 karakteristik manusia Indonesia yang diusung oleh Mochtar Lubis pada tahun 1978 atau 1979. Orang Indonesia –oleh Mochtar Lubis- dianggap munafik, tidak mau bertanggung jawab, berjiwa feodal, percaya takhayul, memiliki watak yang lemah, pemboros, tidak suka bekerja keras, cemburu dan dengki, dan berbagai sifat lainnya. Kita menjadi bertanya, apakah memang “jiwa” Indonesia memang sudah sedemikian rupa adanya dan karenanya WR Supratman melalui lagu Indonesia Raya memberikan sebuah “peringatan” untuk masa depan Indonesia, agar siapapun yang memimpin Indonesia terlebih dahulu membenahi “jiwa” Indonesia?

Advertisements

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s