Seperti Para Kopites

Rasanya tak ada beban berarti jika menjadi pendukung Chelsea. Apalagi jika mendukung saat era pertama Mourinho yaitu musim 2004-2005. Jika ukurannya gelar, para pendukung Chelsea tak akan malu-malu amat jika ditanya kapan terakhir juara. Ya, dari musim 2004-2005, berbagai trofi datang silih berganti ke Stamford Bridge. Trofi premier league langsung didapat saat musim pertama Mou melatih dan mempertahankannya pada musim berikutnya. Musim 2006-2007 gelar liga memang gagal dipertahankan. Tapi kali ini giliran FA Cup yang berkunjung ke Stamford Bridge. Lepas di musim 2007-2008, trofi piala FA berhasil kembali didapat musim 2008-2009 dan mempertahankannya pada musim 2009-2010 ditambah dengan kesuksesan meraih trofi liga primer. Deretan trofi bertambah dengan kembali meraih piala FA musim 2011-2012 dan liga primer pada musim lalu.

Di kancah Eropa, prestasi The Blues juga tidak buruk-buruk amat. Setelah mimpi buruk di Luzhniki, Chelsea membayar kegagalan dengan menekuk “tuan rumah” Bayern Munchen pada 2011-2012 untuk meraih trofi Liga Champions perdana. Musim berikutnya nasib sial menimpa Chelsea. Chelsea gagal lolos dari penyisihan grup setelah berada di bawah Juventus dan Shaktar di klasemen akhir. Alhasil Chelsea harus melanjutkan petulangannya di ajang kelas dua, Europa League. Di ajang ini pun Chelsea kembali meraih gelar juara. Di partai final, tim yang diasuh Rafael Benitez ini memukul Benfica 2-1. Untuk ukuran gelar, pendukung Chelsea bisa dibilang aman.

Sekarang bayangkan jika anda menjadi pendukung sebuah klub yang tidak begitu beruntung dalam meraih gelar juara. Tentu saja saya tidak menyuruh membayangkan menjadi pendukung Bournemouth atau Sunderland, misalnya. Mereka tahu diri, dengan kondisi yang sedemikian rupa, menjadi penghuni papan tengah adalah target realistis. Atau, terhindar dari jurang degradasi pun sudah menjadi prestasi besar. Tim yang saya maksud adalah Liverpool.

Jika ukurannya gelar, di era sekarang, hanya sedikit saja trofi yang masuk lemari mereka. Salah satu dari yang sedikit tersebut memang terdapat trofi Liga Champions yang diraih dengan heroik dan tetap menjadi senjata utama saat twitwar. Jika masih kalah dengan senjata miracle Istanbul itu, senjata kedua akan segera dikeluarkan, yakni We won it five times. Di liga lokal, belum ada satupun trofi liga primer yang berhasil didapat. Posisi di klasemen akhir pun nyaris selalu terlempar dari empat besar, yang berakibat pada absennya mereka di Eropa. Belum lagi jika melihat meme sang kapten terpeleset dan kartu merah cepat saat melawan MU yang tumbuh subur di linimasa twitter.

Tapi, dibalik itu semua, saya pribadi sebetulnya ingin sesekali merasakan apa yang pendukung Liverpool rasakan. Bersikap tabah karena sering kalah, membumi karena sering terkena bully, dan hati yang ikut lecet akibat sang kapten terpeleset. Juga ejekan macam Loserpool, LOLerpool, dan You’ll Never Win Anything yang senantiasa menghiasi hari-hari. Ingin sekali rasanya merasakan mendukung Chelsea dengan cita rasa Liverpool.

Dan kesempatan berharga tersebut datang musim ini. Chelsea tidak menunjukkan penampilan layaknya musim lalu saat mengangkat trofi. Di liga domestik, dari 7 laga yang sudah dimainkan, Chelsea baru memenangi dua laga, dua kali seri dan tiga kali kalah. TIGA KALI. Alhasil posisi mereka di klasemen sulit diakses dari gawai dengan dimensi layar yang kecil. Di Eropa pun tak jauh berbeda. Kekalahan seakan tak ingin jauh-jauh dari Chelsea. Setelah menang besar lawan tim antah berantah, pada pekan kedua Chelsea ditekuk tuan rumah Porto. Reuni yang menyakitkan bagi Mourinho.

Dan imbas dari rentetan penampilan buruk tersebut akhir-akhir ini saya sering sekali membuat status…. Chelsea butut! (Chelsea jelek!).

Senang sekali bisa ada pada posisi seperti kalian. Seperti para Kopites.

Advertisements