Bila Pak Raden dan Si Unyil itu Sebuah Utopia, Apakah Drs. Suyadi adalah Thomas Moore?

Kepergian seorang seniman, apalagi seniman yang mempengaruhi masa kecil saya, selalu menyisakan kesedihan. Termasuk dalam hal ini Drs. Suyadi, atau kerap disapa dengan nama Pak Raden. Hanya selang beberapa jam dari kepergian beliau, saya tulis artikel ini – namun butuh beberapa hari untuk menyelesaikannya. Sebagai wujud perhatian saya pada banyak hal, bukan hanya beliau yang mengisi setiap hari Minggu siang masa kecil saya, tapi juga pada pengaruhnya pada dunia kesenian dan pertelevisian Indonesia.

Kepergian seorang seniman yang mengisi masa kecil saya selalu menyisakan kesedihan, artinya saya sudah tua. Saya sekarang pun seniman, mungkin mengisi masa kecil atau remaja seseorang. Bila saya pergi, anda akan rasakan perasaan saya hari ini.

Si Unyil, film besutan PPFN – rumah produksi milik negara di bawah Departemen Penerangan – sangat fenomenal. Diputar setiap Minggu pagi menjelang siang, membuat semua anak-anak zaman itu sejenak kembali ke rumah untuk menonton film serial boneka ini. Membuat saya tergesa-gesa untuk segera pulang kebaktian sekolah minggu di gereja, dan merengek-rengek bila Bapak atau Mamak ada keperluan dulu setelah jam kebaktian, sehingga kami tidak segera pulang. Televisi hanya satu, dan si Unyil hanya seminggu satu kali, dan itu hari Minggu. Shit! Saya sempat menyesal jadi orang Kristen saat anak-anak dulu. Saya ingat ketika saya SMA, film ini kemudian diputar ulang setiap Rabu Sore. Tapi saat itu sudah ada TV swasta, dan saya pun sudah tidak terlalu menantikan serial ini.

Desa Sukamaju, bisa dibilang lokasi sebuah Utopia. Drs. Suyadi bisa dibilang adalah Thomas Moore nya Indonesia. Si Unyil adalah karya fenomenal Utopia – pesanan atau bukan. Indonesia yang damai, tanpa konflik, hanya riak-riak kecil kriminal dan segelintir pengangguran yang tidak terlalu mengganggu – Pak Ogah dan Ableh – yang belasan tahun serial ini ada selalu minta Cepek, tidak pernah naik, tidak ada inflasi, tak ada keserakahan dalam diri seorang preman pengangguran.

Ada orang gila yang sering mondar-mandir di desa tersebut, sambil berteriak-teriak, “Di mana anakku, di mana anakku…” Orang gila ini tidak pernah mengganggu warga, hanya sibuk mencari anaknya, yang kita tidak pernah tau sebab kepergiannya. Dia menjadi gila bukan karena himpitan ekonomi, tapi benar-benar karena begitu besar kasihnya pada anaknya, sehingga tak sanggup dia kehilangan.

Pak Raden – yang diperankan oleh Drs. Suyadi sendiri – adalah tokoh bapak – lebih tepat dibilang kakek – yang berjiwa seni. Galak pada anak-anak, tapi juga penuh kasih. Sering berinteraksi dengan anak-anak di desa tersebut, maka sering juga terjadi gesekan. Tapi tidak pernah melakukan kekerasan fisik. Percaya primbon, dan memiliki istri yang sangat sabar. Istrinya tidak pernah mengutip primbon, tapi setiap Pak Raden mengutip primbon, Bu Raden juga tidak pernah mendebat. Mungkin ini pesanan, dari penguasa yang percaya primbon tapi tidak terlalu enak terang-terangan bilang itu pada golongan Islam mayoritas. Mungkin, atau saya yang terlalu berpikir jauh.

Pak Raden, Pak dan Raden, dua kata sandang dalam satu nama. Seperti menyebut Bang Raja atau Mas Gus mungkin. Belum saya temukan apa arti kejanggalan ini.

Saya adalah seorang Kristen yang tinggal di sebuah komplek yang dekat dengan perkampungan di Bandung. Hanya beberapa tetangga yang datang ke rumah untuk memberikan selamat Natal. Sebagian besar umat muslim di komplek menganut ajaran tidak memberikan selamat Natal pada umat Kristen. Saya sudah terbiasa dengan itu, tidak menjadi masalah. Tapi di film Unyil kejadiannya lain. Ada Keluarga Melani – Cina Kristen cukup kaya – yang tinggal di desa itu, dan selalu kebanjiran tamu saat hari Natal. Melani – anak perempuan yang cantik dari keluarga Cina Kaya – naksir Unyil anak kampung, pribumi, Muslim. Kejadian yang amat sangat langka. Tidak ada orang Indonesia yang protes, semuanya memberi restu pada pasangan antar ras dan antar agama ini. Sebuah prototipe hubungan cinta antar agama dan atar ras yang mendapat restu NKRI. Mantap kan?

Cuplis, seorang pribumi Muslim, juga naksir Melani, Melani lebih memilih Unyil. Tapi hebat sekali, Cuplis yang miskin, setidaknya punya nyali, pede abesss.. untuk sekadar naksir Melani. Sangat jarang ditemui pada diri remaja kita saat itu, bahkan sampai hari ini.

Kejahatan-kejahatan kecil terjadi, sepengingat saya hanya sebatas maling mangga. Penjahatnya pun itu-itu saja, tidak ada yang baru. Orang jahat tidak bertambah. Pak Lurah tidak dibikin repot olehnya. Sepertinya ini Lurah idaman, tidak pernah minta jatah untuk pembuatan KTP atau sejenisnya.

Salut pada film ini, entah dari mana idenya, sebuah khayalan tingkat tinggi yang sangat menghibur. Mengajak kita keluar dari realitas yang sangat pahit, terutama soal gesekan Suku Agama Ras dan Antargolongan.

Untuk Drs. Suyadi hari ini, saya persembahkan – Mendefinisikan Ulang arti Pribumi dan Non-Pribumi.

Terima kasih sudah follow twitter saya, saya tidak tahu itu, saya follow back hari ini, Pak!

Notaslimboy, seorang anak yang twitternya difollow oleh Drs. Suyadi

 

 

Advertisements

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s