Air Wolf dan Mental Inlander

Tiba-tiba saja saya jadi teringat dengan cerita film jaman dahulu yang mengisahkan mengenai sebuah helikopter tercanggih didunia yang bertugas untuk membasmi kejahatan. Warnanya hitam dan keluar dari atas gunung. Itu sungguh pemandangan yang epik ketika saya masih menjadi anak kecil. Sudah begitu helikopter tersebut dikendarai dengan sangat luar biasa oleh Stringfellow Hawke. Ia seorang legenda. Saya bahkan punya mainannya hingga dua buah.

Tapi sayangnya Airwolf hanya ada didunia film. Entahlah kalau ada didunia nyata, apakah helikopter secanggih Airwolf akan diprotes kehadirannya seperti AW101. Sekedar informasi, tentu saja yang dimaksud dengan AW 101 bukanlah Air Wolf, tetapi Agusta Westland 101. Yang menjadi polemik adalah Agusta Westland adalah produk buatan luar negeri, bukan buatan dalam negeri. Padahal undang-undang yang mengatur mengenai hal ini jelas-jelas mengatakan bahwa alutsista harus memprioritaskan produk dalam negeri. Kalau pun dari luar negeri, harus melibatkan industri sejenis dari dalam negeri.

Yang menjadi polemik lainnya adalah bahwa produk dalam negeri buatan Dirgantara Indonesia ternyata diminati oleh negara-negara lain, yang menandakan bahwa dunia internasional telah mengakui produk kita. Negara kita terlihat seperti orang tua yang memuji anak tetangga jauh, dan malah mencibir anak sendiri. Sungguh, itulah yang terjadi ketika Dirgantara Indonesia dibilang bahkan tidak bisa memproduksi sayap sekalipun.

Kejadian seperti ini mirip-mirip dengan cerita Proton yang hendak dijadikan sebagai mobil nasional. Okelah, memang belum ada perusahaan di Indonesia yang mampu membuat mobil nasional, tapi ini kan perusahaan kita, anak kandung sendiri sudah mampu membuat pesawat sendiri, malah tidak dianggap. Kenapa negara ini tidak cinta sama produk dalam negeri.

Jika pemerintahnya saja tidak bisa memberi contoh bagaimana menghargai produk ciptaan anak bangsa, bagaimana mungkin kita bisa mencintai produk dalam negeri. Betapa mudahnya kita memuji produk luar negeri, betapa mudahnya kita dijejali oleh produk luar negeri dan betapa entengnya mulut kita mencibir produk dalam negeri. Ucapan ini juga berlaku buat saya sendiri. Inilah yang disebut sebagai bangsa inlander, tidak memiliki rasa percaya diri sebagai bangsa dan selalu menganggap bangsa lain lebih hebat dan lebih maju.

Bukan cuma helikopter Agusta Westland dan Air Wolf, bukan cuma mobil Proton semata, tetapi juga pakaian, makanan, gadget, dan berbagai aspek dalam kehidupan kita, dimulai dari kita bangun tidur sampai kita tertidur lagi selalu dipenuhi dengan produk-produk luar negeri. Ditengah-tengah menghadapi realisasi Masyarakat Ekonomi ASEAN, kita masih terlihat sebagai anak kecil yang begitu sumringah dijejali permen dan cokelat, alih-alih pedagang permen dan cokelatnya.

Advertisements

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s