BlogCast Episode 2: Reklamasi Teluk Jakarta

Nelayan adalah profesi, sama seperti saya, seorang profesional IT, seorang pelawak juga. Laut dan pantai adalah tempat kerja mereka, seperti saya di depan komputer atau di panggung. Lalu mereka sedang mencari nafkah, tahu-tahu dibilang bahwa di teluk Jakarta tidak ada ikan, jadi tolong pergi, karena ada kepentingan yang lebih besar maka mereka harus pergi. Kepentingan pembangunan, rencana Indonesia bersaing secara global dan lain-lain. Mereka harus pergi, harus nurut, nanti dikasih tempat baru.

Seolah dengan kasih tempat baru semua beres, kalau tidak nurut berarti pembangkang. Kalau tidak nurut berarti tidak nurut sama pemerintah yang saat ini sedang bekerja untuk rakyat. Pemerintah yang mau “mengorbankan” sedikit orang kalau tujuannya untuk banyak orang. Tapi belum jelas, banyak orang ini siapa?

Kenapa pemerintah sepertinya tutup mata? Ada masalah lingkungan, ada masalah sentralistik pembangunan yang ternyata masih terus di Jakarta sehingga urbanisasi tidak henti-hentinya. Lalu sebagian kita membela, seolah aktivis-aktivis dan rakyat itu diperalat. Nelayan pendatang jadi alasan? Katanya yang protes itu hanya nelayan pendatang. Sudah tempat mereka bekerja diinvasi, lalu dituduh pula begitu. Kan masih wilayah NKRI, kok disebut pendatang. KTP kita masih laku dari Sabang sampai Merauke, kita boleh mencari nafkah di situ, boleh mengambil ikan di situ.

Di teluk Jakarta katanya sudah tidak ada ikan? Nelayan pun tertawa getir. Lalu yang mereka tangkap selama ini dan dijual di Muara Angke, di Muara Karang apa?

Mereka itu profesional, karena saya beberapa kali memancing di kolam pemancingan, tapi tidak pernah kail saya disambut oleh ikan, seumur hidup saya. Tapi, mereka, walau kondisi kapal-kapal sudah mulai melakukan pekerjaan reklamasi yang membuat ikan-ikan itu takut, masih saja dapat, walaupun jauh berkurang. Seperti pelawak saja, walau sedikit yang nonton, tetap saja bisa bikin ketawa. Itulah seorang profesional.

Kalau banyak penolakan, dari aktivis, dari warga, kenapa selalu tuduh ini-itu dulu. Ini kan masalah antara warga, bukan hanya nelayan, dengan pengembang. Kenapa pemerintah sepertinya pasang badan, jadi seolah warga lawan pemerintah. Kalau memang warga yang salah, ya biarkan mereka membela hak mereka dan pemerintah menjadi penengah, bukankah itu fungsi pemerintah? Bukankah secara politik suara kita sama. One man one vote dalam pemilu. Negara kita bukan perusahaan, dimana ada kepemilikan saham sehingga yang sahamnya lebih besar akan menentukan arah kebijakan perusahaan. Atau jangan-jangan negara kita perusahaan?

Media sedikit sekali mengangkat isu ini ke atas, terutama suara-suara yang menolak reklamasi. Suara yang menolak reklamasi perlu diberi panggung. Panggung media itu kan milik bersama, bahkan kalaupun para pendukung gerakan anti reklamasi ini salah, suaranya wajib didengar. Apalagi sekarang, belum tentu mana yang salah. Biarkan semua didengar oleh khalayak banyak dan biar khalayak yang menentukan.

Yang jelas, teluk Jakarta adalah daerah sipil, tapi ada militer di sana. Entah lagi apa. Yang jelas sebagai seorang yang beragama Kristen, saya juga teringat dengan murid-murid Yesus yang pertama, mereka adalah nelayan – atau jangan-jangan di versi yang mereka baca murid-murid Yesus adalah para pengembang.

Silakan bilang saya hanya bikin repot dan ribet. Ngurusin yang nggak jelas. Itu adalah hak, tapi melarang hak orang bukanlah hak.

Saya akan mewawancara seorang yang terlibat dalam aksi-aksi di lapangan dan juga mengerti tentang hal ini…

Tapi izinkan saya tutup dengan sebuah kalimat.

“Kenapa kita diam? karena, Semua baik-baik saja, sampai kita yang jadi korbannya..”

Notaslimboy

Advertisements

Komentar, pertanyaan, sanggahan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s