Bisa Tumbuh Lagi?

Pernyataan bahwa yang namanya pembakaran hutan bukan merupakan pencemaran atau merusakkan hutan karena pohon yang dibakar bisa tumbuh lagi adalah sebuah pernyataan yang luar biasa jenius, cerdas dan intelek (awal kalimat ini memang sengaja disampaikan dengan gaya bahasa yang satir dengan menggunakan majas ironi dimana makna yang dimaksud bertolak belakang dengan apa yang ditulis.

Atau mungkin memang rakyat Indonesia yang terlalu sibuk membahas martabaknya Gibran, sehingga tidak mengetahui bahwa mungkin saja dalam undang-undang sudah diupdate bahwa yang namanya pembakaran hutan bukan sebuah pelanggaran hukum? Tolong saya.diberitahu jika perubahan itu memang ada. Tapi ah tidak mungkin rasanya.

Atau mungkin kita yang waras perlu mengalah dan bersepakat bahwa pembakaran hutan bukan sebuah pelanggaran.

Hukum itu katanya memang buta. Matanya ditutup selembar kain sembari memikul kedua timbangan sama tingginya. Sekali lagi tolong saya dikoreksi kalau saya salah. Yang dimaksud dengan hukum itu buta adalah hukum tidak memihak kepada siapapun karena semua dianggap setara dalam hukum. Bukan buta karena tidak bisa melihat aturan mana yang jelas-jelas dilanggar. Bukan buta karena silau (ah, jadi berburuk sangka).

Keputusan tersebut bisa menimbulkan preseden atau menjadi yurisprudensi bahwa hal tersebut bila dilakukan oleh pihak lain, maka tidak akan dihukum.

Tapi kalaupun itu tidak melanggar hukum, tidakkah hakim itu melihat bahwa pembakaran hutan menimbulkan dampak yang bisa merugikan negara. Coba dihitung berapa banyak anak sekolah dan mahasiswa yang terpaksa harus diliburkan? Masa depan generasi penerus bangsa itu yang sedang anda pertaruhkan dengan keputusan anda yang absurd.  Coba dihitung pasar, minimarket, mall dan pusat perbelanjaan yang ditutup? Berapa banyak pedagang tidak bisa berdagang? Berapa perputaran keuangan yang seharusnya bisa menggerakkan perekonomian diwilayah yang terkena asap yang seharusnya bisa berputar? Berapa banyak orang-orang yang dibawa kerumah sakit gara-gara asap? Berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan pemerintah untuk bisa menghilangkan asap?

Jangan bilang itu semua tidak bisa dihitung. Itu semua adalah kerugian negara. Kerugian masyarakat. Kerugian masa depan yang mungkin saja akan terjadi.

Pohon bisa tumbuh lagi? Anak SD juga tahu karena diajari oleh guru biologinya.

Advertisements

Duit

Duit. Uang. Kata orang dengan duit kita bisa melakukan apa saja dan membeli apa saja. Ya setidaknya hampir semuanya. Semakin banyak duit yang kita miliki maka semakin banyak hal-hal yang bisa kita lakukan. Termasuk diantaranya membeli Lamborghini dan mengendarainya sesuka hati. Tetapi seperti kata pamannya Peter Parker (Spiderman), with great power comes great responsibility. Artinya dengan semakin banyaknya duit yang kita miliki, semakin besar juga tanggung jawab yang kita miliki.

Duit juga bisa dipergunakan untuk membeli space iklan di sebuah koran. Seperti apa yang dilakukan oleh seorang pengacara yang membela kliennya Wiyang Lautner si pengendara Lamborghini yang telah menewaskan satu warga. Perhitungan saya, iklan tersebut kemungkinan besar menghabiskan dana diatas Rp10 juta rupiah. Jika UMR Jakarta tahun 2015 sebesar 2,7 juta rupiah, maka bisa menghidupi seorang warga Jakarta selama lebih dari 3 bulan.

Namun sayangnya iklan yang dimuat di salah satu surat kabar harian ternama di Indonesia tersebut dianggap bernada ancaman kepada jurnalis dan masyarakat. Sontak, asosiasi profesi Jurnalis dan asosiasi profesi pengacara banyak yang mengecam penayangan iklan tersebut. Meskipun memang, ada juga media yang memberitakan bahwa pengacara dari Wiyang Lautner membantah telah menerbitkan iklan tersebut. Tapi ada 2 pertanyaan awal yang mengemuka dalam benak saya, pertama kenapa sebuah surat kabar harian ternama tersebut mau menayangkan iklan semacam itu, dan yang kedua adalah siapa yang melindungi warga masyarakat biasa jika ingin mengkritisi kejadian tersebut? Apalagi ditengah-tengah adanya Surat Edaran Ujaran Kebencian yang memang membuat masyarakat khawatir dan takut untuk menyampaikan kebebasan berpendapat.

Tapi barangkali dari kejadian iklan tersebut, kita juga bisa menyimpulkan bahwa memang duit tidak akan selalu bisa membeli segalanya, termasuk diantaranya kepintaran dan kecerdasan. Buktinya itu pengacara tidak paham dengan adanya Undang-Undang Pers. Kalau paham, mungkin para pengacara tersebut tidak akan memuat iklan yang sangat berpotensi melanggar Undang-Undang Pers bukan? Hal inilah yang membuat saya sebagai sesama pemilik Lamborghini (walaupun beda skala, saya skala miniatur mainan) kecewa.

Air Wolf dan Mental Inlander

Tiba-tiba saja saya jadi teringat dengan cerita film jaman dahulu yang mengisahkan mengenai sebuah helikopter tercanggih didunia yang bertugas untuk membasmi kejahatan. Warnanya hitam dan keluar dari atas gunung. Itu sungguh pemandangan yang epik ketika saya masih menjadi anak kecil. Sudah begitu helikopter tersebut dikendarai dengan sangat luar biasa oleh Stringfellow Hawke. Ia seorang legenda. Saya bahkan punya mainannya hingga dua buah.

Tapi sayangnya Airwolf hanya ada didunia film. Entahlah kalau ada didunia nyata, apakah helikopter secanggih Airwolf akan diprotes kehadirannya seperti AW101. Sekedar informasi, tentu saja yang dimaksud dengan AW 101 bukanlah Air Wolf, tetapi Agusta Westland 101. Yang menjadi polemik adalah Agusta Westland adalah produk buatan luar negeri, bukan buatan dalam negeri. Padahal undang-undang yang mengatur mengenai hal ini jelas-jelas mengatakan bahwa alutsista harus memprioritaskan produk dalam negeri. Kalau pun dari luar negeri, harus melibatkan industri sejenis dari dalam negeri.

Yang menjadi polemik lainnya adalah bahwa produk dalam negeri buatan Dirgantara Indonesia ternyata diminati oleh negara-negara lain, yang menandakan bahwa dunia internasional telah mengakui produk kita. Negara kita terlihat seperti orang tua yang memuji anak tetangga jauh, dan malah mencibir anak sendiri. Sungguh, itulah yang terjadi ketika Dirgantara Indonesia dibilang bahkan tidak bisa memproduksi sayap sekalipun.

Kejadian seperti ini mirip-mirip dengan cerita Proton yang hendak dijadikan sebagai mobil nasional. Okelah, memang belum ada perusahaan di Indonesia yang mampu membuat mobil nasional, tapi ini kan perusahaan kita, anak kandung sendiri sudah mampu membuat pesawat sendiri, malah tidak dianggap. Kenapa negara ini tidak cinta sama produk dalam negeri.

Jika pemerintahnya saja tidak bisa memberi contoh bagaimana menghargai produk ciptaan anak bangsa, bagaimana mungkin kita bisa mencintai produk dalam negeri. Betapa mudahnya kita memuji produk luar negeri, betapa mudahnya kita dijejali oleh produk luar negeri dan betapa entengnya mulut kita mencibir produk dalam negeri. Ucapan ini juga berlaku buat saya sendiri. Inilah yang disebut sebagai bangsa inlander, tidak memiliki rasa percaya diri sebagai bangsa dan selalu menganggap bangsa lain lebih hebat dan lebih maju.

Bukan cuma helikopter Agusta Westland dan Air Wolf, bukan cuma mobil Proton semata, tetapi juga pakaian, makanan, gadget, dan berbagai aspek dalam kehidupan kita, dimulai dari kita bangun tidur sampai kita tertidur lagi selalu dipenuhi dengan produk-produk luar negeri. Ditengah-tengah menghadapi realisasi Masyarakat Ekonomi ASEAN, kita masih terlihat sebagai anak kecil yang begitu sumringah dijejali permen dan cokelat, alih-alih pedagang permen dan cokelatnya.

Bangunlah Jiwanya (Baru) Bangunlah Badannya

Sepenggal kalimat yang begitu syahdu dan begitu dalam maknanya terdapat dalam untaian lagu Indonesia Raya yang diciptakan oleh WR Supratman menjadi sebuah petunjuk bagi kita semua. Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. Jika kita melihat konteks jiwa menjadi lebih dahulu daripada badannya. Ini menandakan sebelum kita membangun “badan” atau “raga” yang perlu dibangun terlebih dahulu adalah membangun “jiwa”.

Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah apakah “jiwa” yang dimaksud oleh WR Supratman sebagai pencipta lagu. Kemudian, yang juga patut dipertanyakan, adalah konteks kekinian dari lagu tersebut. Lagu tersebut diciptakan pada tahun 1928 dan ditahbiskan menjadi lagu nasional pada tahun 1945. Jika kita melihat konteks lagu tersebut diciptakan, kita akan melihat relevansinya bahwa pada saat itu, adalah masa-masa untuk mengisi kemerdekaan dengan pembangunan. Kini disaat pembangunan sudah kita lihat hasilnya, menjadi relevankah untuk membangun “jiwa” dari bangsa Indonesia?

Ucapan Soekarno sebagai Presiden pertama negeri ini “Aku tinggalkan Kekayaan alam Indonesia, biar semua negara besar dunia iri dengan Indonesia, dan aku tinggalkan hingga bangsa Indonesia sendiri yang mengolahnya” menjadi menemukan relevansinya disini. Aku tinggalkan hingga bangsa Indonesia sendiri yang mengolahnya. Hal ini menekankan kepada pentingnya kemampuan sumber daya manusia Indonesia sebelum mengolahnya. Orang lebih penting. Jiwa di dahulukan dari badannya.

Tapi ketika kita dihajar oleh realita yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, kita menjadi tertegun kemudian hendaknya berpikir, apakah ada yang salah dengan “jiwa” Indonesia. Korupsi terjadi dimana-mana, kesewenang-wenangan begitu gamblang di depan mata. Salah satu contoh terkini adalah insiden konvoi moge di Yogyakarta yang mendapatkan pengecualian untuk bebas menerobos lampu merah dalam rangka dan atas nama merayakan HUT RI ke 70.

Jika konteks “jiwa” yang dimaksud oleh WR. Supratman sebagai orang-orang Indonesia, barangkali kita akan tergeleng-geleng kepala terhadap 12 karakteristik manusia Indonesia yang diusung oleh Mochtar Lubis pada tahun 1978 atau 1979. Orang Indonesia –oleh Mochtar Lubis- dianggap munafik, tidak mau bertanggung jawab, berjiwa feodal, percaya takhayul, memiliki watak yang lemah, pemboros, tidak suka bekerja keras, cemburu dan dengki, dan berbagai sifat lainnya. Kita menjadi bertanya, apakah memang “jiwa” Indonesia memang sudah sedemikian rupa adanya dan karenanya WR Supratman melalui lagu Indonesia Raya memberikan sebuah “peringatan” untuk masa depan Indonesia, agar siapapun yang memimpin Indonesia terlebih dahulu membenahi “jiwa” Indonesia?

Terhina !

Jika ada seseorang secara tiba-tiba mengatakan bahwa anda goblok dan tolol tidak ketulungan, apakah anda akan marah? Bisa jadi anda akan marah lalu kemudian menempeleng orang tersebut sebagai respon balasan atas hinaan yang ditujukan kepada anda. Bisa jadi anda cuma akan diam lalu menangis. Apapun yang anda lakukan, atau katakan sebagai balasan dari hinaan yang ditujukan kepada anda, adalah sebuah respon yang sepenuhnya menjadi hak anda. Namun kemudian ketika anda dikatakan tidak dewasa karena respon yang anda berikan, itu menjadi hak orang lain, bukan hak anda.

Atau jika anda mau sedikit lebay, barangkali anda bisa mengajukan perkara pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan kepada orang yang mengatakan bahwa anda adalah orang yang goblok dan ketololan anda sudah tidak bisa disembuhkan lagi. Atau jika anda mau bersikap bijak dan dewasa, anda mungkin bisa melakukan introspeksi diri dan mencerna makna dari hinaan orang. Apakah tersirat atau tersurat. Apakah ucapan itu sebagai sebuah sindiran, atau sebagai sebuah hinaan. Barangkali yang dimaksudkan anda adalah orang goblok adalah bahwa anda hanyalah tidak pintar. Tidak pintar sama goblok itu mau diartikan berbeda, ya terserah anda.

Kemudian, anda pun bisa menyelami diri anda, dan mempertanyakan kepada diri anda sendiri, apakah benar bahwa anda memang goblok dan tolol tidak ketulungan. Jika anda bebal, dan punya penyangkalan diri yang cukup kuat, anda mungkin akan mengatakan bahwa anda tidak goblok, meskipun dijejali data dan fakta yang menyimpulkan hal yang berbeda. Jika anda adalah orang yang minder, mungkin anda akan menyatakan bahwa anda adalah orang yang goblok meskipun titel akademis anda berjejer. Namun untuk itu pastikan dulu titel yang melekat pada nama anda adalah titel-titel yang umum seperti SE, SH, MM, MBA (Magister Business Adminstration, bukan Married By Accident) dan bukannya titel ALM.

Anda boleh marah, boleh merasa tersinggung jika dihina, namun tentu perlu ada perbedaan yang jelas antara menghina dengan mengkritik. Menghina lebih kepada unsur menyerang emosi, sedangkan mengkritik lebih memiliki tujuan yang membangun. Untuk diskusi, untuk saling melontarkan pendapat. Dalam prakteknya kadang menghina dan mengkritik beda-beda tipis. Contoh, label orang goblok memang sangat menyakitkan, namun jika anda punya perspektif yang positif, label orang goblok bisa menjadi sebuah kritik atas ketidakmampuan otak anda dalam menyerap, menganalisa, memaknai hal-hal yang biasanya lazim mampu dilakukan oleh orang lain. Label orang goblok sebagai kritik yang dapat mendorong anda untuk melakukan upaya-upaya yang dapat meningkatkan kemampuan anda.

Memang butuh kemampuan mental yang mumpuni untuk dapat membedakan hinaan dan kritik secara jelas dan tegas.

Jumlah Kecelakaan : Ketika Nyawa Manusia Menjadi Angka

Mudik Pakai Pesawat

Mudik Pakai Pesawat

Saya selalu miris ketika membaca pernyataan pada setiap tahunnya jumlah kecelakaan dan korban meninggal terus menurun. Dalam mudik tahun 2015, jumlah kecelakaan dengan korban yang meninggal pada periode H-7 hingga H+7 menurun menjadi 657 orang jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 714 orang*.

Pencapaian tersebut tentu harus diapresiasi dengan sebaik-baiknya, terutama kepada aparat kepolisian yang telah bekerja dengan sebaik mungkin. Bahkan banyak diantara para petugas kepolisian yang mengorbankan hari raya idul fitri bertemu dengan keluarga untuk bertugas. Penurunan angka kecelakaan ini bisa jadi menandakan kesadaran yang semakin meningkat dari para pemudik sebagai pengguna jalan raya.

Memang, jika kita membicarakan soal nyawa manusia, elemen peran Tuhan sangatlah signifikan dalam hal ini, dan menjadi sebuah hal yang menentukan. Ibaratnya, sebagus apapun manusia merencanakan, Tuhanlah yang menentukan. Ini bukanlah sebuah hal yang perlu dikritisi.

Dari sisi perencanaan aktivitas mudik, tentu begitu banyak yang terlibat, bukan cuma kepolisian dan masyarakat saja yang berpartisipasi dalam aktivitas mudik ini. Pemerintah lokal, perusahaan penyedia jasa transportasi, bahkan korporasi-korporasi yang relatif tidak terkait juga memanfaatkan momen mudik sebagai sarana promosi atau sebagai momentum corporate social responsibility.

Ada banyak tahapan dan aktivitas yang dilakukan terkait mudik. Sosialisasi dan komunikasi yang dilakukan sebagai bentuk persiapan untuk mudik yang lancar. Iklan layanan masyarakat untuk memberikan himbauan mengenai apa yang harus dipersiapkan oleh para pemudik dari berbagai segmen kalangan rutin lalu lalang saban menjelang hari raya. Para pemudik khususnya yang menggunakan kendaraan pribadi dianjurkan untuk melakukan pengecekan dan servis sebelum mudik. Bagi pemudik yang menggunakan transportasi umum, dianjurkan untuk melakukan pemesanan lebih awal untuk memastikan mendapat tiket.

Perusahaan-perusahaan penyedia jasa transportasi baik udara, laut dan darat melakukan persiapan-persiapan untuk memastikan layanan yang sebaik-baiknya kepada para pemudik. Menambah kapasitas dengan melakukan penambahan jumlah armada, loket, jumlah tenaga yang memberikan pelayanan kepada para pemudik. Perusahaan yang tidak terkait pun tidak mau ketinggalan dalam momen mudik ini. Ada yang mendirikan posko layanan gratis lengkap dengan promosi produk dan layanan yang disediakan. Ada yang membuat acara mudik bareng. Momen mudik, karenanya selain dianggap sebagai momen perpindahan jutaan orang dari satu tempat ke tempat lain secara massal, juga menjadi momen perputaran uang ke berbagai daerah lainnya.

Momen mudik, dari berbagai perspektif tersebut, menawarkan banyak keuntungan dan juga memiliki banyak risiko. Seiring dengan begitu banyaknya jumlah orang yang terlibat, jumlah perputaran uang yang beredar, dalam satu kurun waktu, dalam satu tempat pada berbagai lokasi yang terjadi secara bersamaan, adalah sebuah potensi risiko yang sangat besar. Risiko keselamatan manusia pada khususnya.

Memang jika dilihat dari perspektif statistikal semata, kita bisa melihat adanya perbaikan jika dibandingkan dengan tahun lalu. Namun saya masih melihatnya sebagai suatu hal yang miris. 657 orang yang meninggal dalam kurun waktu 14 hari menandakan ada 46-47 orang meninggal dalam 1 hari di seluruh Indonesia selama mudik tersebut. Kecelakan lalu lintas adalah hal yang mengerikan. Bahkan kecelakaan lalu lintas menjadi pembunuh terbesar ketiga di Indonesia setelah penyakit jantung koroner dan TBC.*

Namun jika kita melihat dari perspektif manusia, kita tentu menyayangkan ada 47 orang meninggal setiap harinya karena kecelakaan manusia. Demi Tuhan, mereka yang meninggal bukan hanya sekedar angka. Mereka adalah makhluk bernyawa, yang bisa jadi adalah orang tua anda, anak anda, suami anda, istri anda, orang-orang yang anda sayangi dan dekat di hati anda.

Jelas, masih ada yang salah dalam penanganan mudik ini. Target zero accident memang sepertinya masih dianggap mustahil, tapi apakah rasio 47 orang meninggal adalah tingkat yang masih bisa ditolerir? Menurut saya tidak. Motif ekonomi bisa menjadi alasan yang menyebabkan terjadinya miss management. Karena momen mudik, terjadi peningkatan permintaan jumlah tiket, jadi mengabaikan faktor keselamatan misalnya. Semoga ini menjadi kecurigaan saya semata. Semoga tahun depan, mudik tidak sampai menimbulkan korban jiwa.

Mur dan Baut

Sejenis adalah satu jenis. Mur dan baut adalah berbeda jenis. Karenanya mur dan baut bersifat saling melengkapi. Mur adalah pelat logam yang biasanya berbentuk segi enam atau segi empat yang mempunyai lubang berulir sekrup untuk menguatkan baut. Sedangkan baut adalah besi batangan yang berulir (untuk menyambung atau mengikat dua benda), biasanya dipasangkan dengan mur. Definisi dari baut dan mur tersebut sungguh menunjukkan keterkaitan yang sangat erat antara mur dan baut. Baut di colokkan kedalam mur.

Bagaimana bila mur di colokkan dengan sesama mur. Ya tidak akan bisa terkait, cuma bisa saling bergesek-gesakan saja. Begitu pula dengan baut bila dikaitkan dengan sesama baut. Ya tidak akan bisa terkait, cuma terlihat seperti adu tusuk-tusukan. Yang memang pas adalah mur dengan baut, bukan mur dengan mur dan bukan baut dengan baut. Sejenis membuat sebuah barang tidak bisa berfungsi dengan layak. Mur tak bisa di colok tanpa baut. Baut tak bisa mencolok tanpa mur.

Lalu kemudian bagaimana bila beredar baut kw, yang terbuat dari plastik, bukannya dari besi batangan. Ya tetap saja tidak akan membuat mur dicolok sebaik oleh baut ori. Hanya unsur rasanya saja yang terpenuhi, namun unsur fungsinya menjadi terabaikan begitu saja. Dipilin-pilin di pulir lalu di pelintir, tetap saja tidak akan membuat baut kw itu sebaik baut ori. Akhirnya penggunaan baut kw dilarang, dan mur tidak boleh di gesek-gesekkan oleh sesama mur. Mur harus di pasangkan dengan baut.

Sepanjang sejarah, kendati sudah dilarang oleh pencipta mur dan baut, mur yang senang di gesek-gesekkan dengan sesama mur, dan para baut yang senang saling beradu di hancurkan oleh penciptanya dalam berbagai kesempatan. Tapi hal ini tetap saja membuat sesama mur sejenis dan sesama baut sejenis tidak kapok-kapok, bahkan kemudian mendeklarasikan sejenis. Rasa lebih penting daripada fungsi. Padahal sang pencipta sudah jelas-jelas menciptakan mur dan baut untuk saling terkait.

Disebuah negara, sejenis mur dan sejenis baut di perbolehkan untuk saling terkait dan saling menggesek-gesekkan. Mungkin sang pencipta sudah kadung muak dengan apa yang terjadi di negara itu sehingga masa bodoh dengan apa yang akan terjadi dengan mur dan bautnya. Sementara itu di sebuah negeri yang katanya menekankan pada indahnya peraturan yang hakiki, bahwa mur hanya boleh terkait oleh baut, ada seorang artis yang luar biasa jeniusnya menyampaikan dukungannya terhadap sejenis mur dan sejenis baut dan mengatakan bahwa mur dengan mur dan baut dengan baut adalah sebuah hal yang harus dibanggakan.

Mungkin artis itu belum pernah merasakan baut yang ori. Mungkin ia senang dengan mur dan karenanya baru pernah mencoba baut yang kw yang mungkin terbuat dari plastik. Barangkali ada yang mau sukarela memberikan artis itu baut ori?