Seperti Para Kopites

Rasanya tak ada beban berarti jika menjadi pendukung Chelsea. Apalagi jika mendukung saat era pertama Mourinho yaitu musim 2004-2005. Jika ukurannya gelar, para pendukung Chelsea tak akan malu-malu amat jika ditanya kapan terakhir juara. Ya, dari musim 2004-2005, berbagai trofi datang silih berganti ke Stamford Bridge. Trofi premier league langsung didapat saat musim pertama Mou melatih dan mempertahankannya pada musim berikutnya. Musim 2006-2007 gelar liga memang gagal dipertahankan. Tapi kali ini giliran FA Cup yang berkunjung ke Stamford Bridge. Lepas di musim 2007-2008, trofi piala FA berhasil kembali didapat musim 2008-2009 dan mempertahankannya pada musim 2009-2010 ditambah dengan kesuksesan meraih trofi liga primer. Deretan trofi bertambah dengan kembali meraih piala FA musim 2011-2012 dan liga primer pada musim lalu.

Di kancah Eropa, prestasi The Blues juga tidak buruk-buruk amat. Setelah mimpi buruk di Luzhniki, Chelsea membayar kegagalan dengan menekuk “tuan rumah” Bayern Munchen pada 2011-2012 untuk meraih trofi Liga Champions perdana. Musim berikutnya nasib sial menimpa Chelsea. Chelsea gagal lolos dari penyisihan grup setelah berada di bawah Juventus dan Shaktar di klasemen akhir. Alhasil Chelsea harus melanjutkan petulangannya di ajang kelas dua, Europa League. Di ajang ini pun Chelsea kembali meraih gelar juara. Di partai final, tim yang diasuh Rafael Benitez ini memukul Benfica 2-1. Untuk ukuran gelar, pendukung Chelsea bisa dibilang aman.

Sekarang bayangkan jika anda menjadi pendukung sebuah klub yang tidak begitu beruntung dalam meraih gelar juara. Tentu saja saya tidak menyuruh membayangkan menjadi pendukung Bournemouth atau Sunderland, misalnya. Mereka tahu diri, dengan kondisi yang sedemikian rupa, menjadi penghuni papan tengah adalah target realistis. Atau, terhindar dari jurang degradasi pun sudah menjadi prestasi besar. Tim yang saya maksud adalah Liverpool.

Jika ukurannya gelar, di era sekarang, hanya sedikit saja trofi yang masuk lemari mereka. Salah satu dari yang sedikit tersebut memang terdapat trofi Liga Champions yang diraih dengan heroik dan tetap menjadi senjata utama saat twitwar. Jika masih kalah dengan senjata miracle Istanbul itu, senjata kedua akan segera dikeluarkan, yakni We won it five times. Di liga lokal, belum ada satupun trofi liga primer yang berhasil didapat. Posisi di klasemen akhir pun nyaris selalu terlempar dari empat besar, yang berakibat pada absennya mereka di Eropa. Belum lagi jika melihat meme sang kapten terpeleset dan kartu merah cepat saat melawan MU yang tumbuh subur di linimasa twitter.

Tapi, dibalik itu semua, saya pribadi sebetulnya ingin sesekali merasakan apa yang pendukung Liverpool rasakan. Bersikap tabah karena sering kalah, membumi karena sering terkena bully, dan hati yang ikut lecet akibat sang kapten terpeleset. Juga ejekan macam Loserpool, LOLerpool, dan You’ll Never Win Anything yang senantiasa menghiasi hari-hari. Ingin sekali rasanya merasakan mendukung Chelsea dengan cita rasa Liverpool.

Dan kesempatan berharga tersebut datang musim ini. Chelsea tidak menunjukkan penampilan layaknya musim lalu saat mengangkat trofi. Di liga domestik, dari 7 laga yang sudah dimainkan, Chelsea baru memenangi dua laga, dua kali seri dan tiga kali kalah. TIGA KALI. Alhasil posisi mereka di klasemen sulit diakses dari gawai dengan dimensi layar yang kecil. Di Eropa pun tak jauh berbeda. Kekalahan seakan tak ingin jauh-jauh dari Chelsea. Setelah menang besar lawan tim antah berantah, pada pekan kedua Chelsea ditekuk tuan rumah Porto. Reuni yang menyakitkan bagi Mourinho.

Dan imbas dari rentetan penampilan buruk tersebut akhir-akhir ini saya sering sekali membuat status…. Chelsea butut! (Chelsea jelek!).

Senang sekali bisa ada pada posisi seperti kalian. Seperti para Kopites.

Advertisements

Terima Kasih, Thailand

Sabtu siang, Myanmar berhasil mengunci satu tiket final Sea Games 2015 cabang sepak bola setelah mengubur impian Vietnam dengan skor ketat, 2-1. Sontak hasil ini membuat kubu Indonesia, para suporter tepatnya, lebih tepatnya lagi saya, dengan rasa percaya diri berlebih, menjurus sombong berucap, “saatnya balas dendam.” Seperti diketahui, pada partai pembuka grup A, timnas Indonesia dihancurkan 2-4 oleh negara asal muslim Rohingya ini. Memang dasarnya dendam itu tidak baik, saya dan mungkin mereka lupa bahwa musuh yang harus dilewati timnas jika indgin kembali bertemu Myanmar ini adalah Thailand, peraih medali emas Sea Games edisi sebelumnya.

Dan benar saja, partai semifinal yang lazimnya berlangsung seru, justru seperti jadi ajang latihan timnas Thailand untuk menghadapi Myanmar. Alih-alih menikmati pertandingan, dalam laga itu ritual saya adalah tutup mata kepala nunduk, tutup mata kepala nunduk. Tutup mata kepala nunduk untuk setiap operan yang salah, untuk setiap bola yang gampang sekali hilang dan pastinya tutup mata nunduk untuk setiap gol yang bersarang di gawang Teguh Amiruddin.

Setelah pertandingan, saya tak terlalu bersedih karena walaupun sebelum laga ini dimulai sudah berpikir jauh untuk balas dendam kepada Myanmar, realistis berbalut pesimis adalah bekal terbaik menyaksikan timnas Indonesia berlaga. Belum lagi rekor Thailand di grup yang membuat bekal realistis berbalut pesimis tadi harus dicelup pada sebuah cairan bernama pasrah.

Alih-alih bersedih, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Thailand. Yang pertama, terima kasih karena tidak bermain sungguh-sungguh dalam pertandingan kemarin. Tak terbayang berapa gol yang bersarang jika Thailand bermain sungguh-sungguh, melihat timnas yang bermain seperti itu, seolah tanpa perlawanan. Laga melawan Thailand yang paling saya ingat adalah saat final Piala AFF (dulu Piala Tiger) 2002. Meskipun kalah, tapi timnas senior mampu memberikan perlawanan hingga memaksakan adu penalti.

Lalu, terima kasih karena sudah menghindarkan Indonesia dari pertemuan dengan Myanmar untuk kedua kalinya. Dengan hasil 2-4 pada pertemuan pertama, rasanya jalannya partai final akan mudah sekali ditebak walaupun bola yang digunakan masih bundar. Kekuatan sepak bola Myanmar berada jauh di atas Indonesia. Ranking FIFA menjadi bukti yang paling gampang dilihat. Myanmar ada di posisi 143, sedangkan Indonesia ada di peringkat 155. Melihat tabel ini pun saya kembali tutup mata kepala nunduk. Kenapa? Timor Leste saja yang sudah jadi langganan lawan uji coba kita ada di posisi 146. Sedih.

 

 

Cacing Besar Alaska Dan Hancurnya PSSI

Sebagai pembuka, saya ingin membuat sebuah pengakuan. Di umur saya yang sekarang, 25 tahun, saya masih menonton serial Spongebob Squarepants, dengan alibi nemenin anak nonton. Ada beberapa episode yang masuk ke dalam list episode favorit. Salah satunya adalah episode yang berjudul Sandy, Spongebob and The Worm. Episode ini mengisahkan Bikini Bottom di malam hari yang tenang karena penduduknya sudah terlelap, terusik dengan kedatangan seekor cacing raksasa. Cacing tersebut mengelilingi kota dan memakan apa-apa yang ia lewati, mulai dari rumah nanas milik Spongebob, ekor Sandy si tupai hingga tugas sekolah anak-anak warga Bikini Bottom. Keesokan harinya, para penduduk Bikini Bottom berkumpul di Krusty Krab dengan maksud mendengar kesaksian dari Spongebob sekaligus mencari jalan keluar dari serangan cacing raksasa tersebut. Ditengah perdebatan, Patrick yang dikenal sosok yang bodoh muncul dengan sebuah ide konyol, yaitu memindahkan Bikini Bottom ke tempat yang lebih aman dengan cara………..mendorong kota tersebut.

Lalu, muncullah Sandy, yang dikenal sebagai seekor tupai pemberani, yang berniat melawan cacing raksasa dan mengambil ekornya kembali. Rencana si tupai Texas tersebut ditentang Spongebob yang khawatir akan keselamatan temannya tersebut. Tapi, Sandy tetap dengan pendiriannya dan mendatangi cacing raksasa tersebut. Lewat sebuah pertarungan ia berhasil mematikan musuhnya tersebut. Tapi pertarungan yang dimenangi Sandy tidak menyelasaikan masalah, karena lawan yang dilumpuhkan Sandy tadi bukanlah cacing raksasa, melainkan lidah dari si cacing raksasa tersebut.

Cacing yang marah lalu mengejar mereka berdua, Sandy dan Spongebob. Dengan sekuat tenaga, mereka berlari menghindar dari amukan cacing tersebut. Lewat aksi kejar-kejaran yang melelahkan, mereka berdua akhirnya selamat dan mengantar cacing raksasa tersebut masuk ke dalam jurang.

Kisah Spongebob di atas kalau diperhatikan mirip dengan yang terjadi dalam dunia sepak bola Indonesia. Di sini, sepakbola Indonesia diibaratkan sebagai Bikini Bottom. Bedanya, Bikini Bottom adalah sebuah tempat yang basah, karena memang laut tentunya, sementara sepak bola Indonesia jika diibaratkan sebuah tempat, adalah sebuah gurun yang sedang dijadikan tempat shooting sinetron. Kering prestasi dan banyak drama didalamnya.
PSSI yang sedang disorot karena tetap meloloskan Arema dan Persebaya walaupun kedua tim tersebut todak lolos verifikasi mendapat serangan dari Menpora yang berwujud lidah cacing yang terus melahap siapaun yang melawan. Menpora dengan segala kuasanya membekukan PSSI dan membuat orang-orang didalamnya gerah. Tak terima dengan keputusan Menpora, petinggi PSSI yang kali ini diwakili oleh sesosok tupai bernama Sandy ditemani Spongebob menyerang balik dan sukses melumpuhkan lidah cacing dengan jalan membubarkan kompetisi.

Dengan pembubaran kompetisi tersebut, PSSI merasa di atas angin dan mengadu pada wakil presiden agar Menpora mencabut pembekuan mereka. Ditengah konflik yang makin panas, cacing raksasa yang mewakili FIFA marah besar karena PSSI dianggap melanggar statuta dengan membiarkan pemerintah mengintervensi PSSI. PSSI berbalik arah dan dengan  segala cara menghindar dari ancaman sanksi yang  ditebar FIFA.

Di akhir episode tersebut Bikini Bottom hancur tertimpa badan si cacing raksasa. Serupa dengan persepakbolaan Indonesia yang pada dasarnya sedang berada dalam jurang yang sangat dalam, semakin hancur lebur oleh sanksi FIFA yang diterima.

Pertanyaannya, siapa sosok Patrick yang bodoh, memiliki sebuah ide konyol yang anehnya dituruti semua orang, yang membuat Bikini Bottom hancur?

Mereka Yang Menyebut Mereka Ustadz

Mendekati bulan puasa, akan banyak ustadz yang menghiasi layar kaca. Baik itu yang muncul dengan berceramah ataupun yang hanya wara-wiri dengan kegiatan di luar ceramah. Dari kelompok yang berceramah sendiri, ada yang berceramah secara wajar, dalam arti hanya ceramah, tapi tidak sedikit yang menyampaikan ceramahnya dengan gaya khasnya masing-masing, yang membuat masyarakat lebih ingat dengan kekhasannya dari pada isi ceramahnya.

Beberapa waktu lalu, nama Guntur Bumi sempat mencuri perhatian dengan seringnya dia muncul di televisi. Tapi sepanjang yang saya perhatikan, kemunculannya tidak dalam kapasitas dia sebagai ustadz, tetapi sibuk dengan urusan keluarganya. Mulai dari keharmonisan dia dengan istrinya atau pun tentang kehamilan istrinya. Terbaru, sosok yang dulu hobi nangkepin hantu ini harus berurusan dengan pihak berwajib karena tuduhan kasus penipuan dari para pasien yang merasa dirugikan dengan praktek pengobatan yang dijalankan Guntur Bumi.

Berikutnya ada Solmed. Tidak ada keanehan yang saya lihat saat pertama kali kemunculannya. Saya pertama kali tahu orang ini lewat acara Assalamualikum Ustadz yang tayang di RCTI. Tapi akhir-akhir ini, lebih banyak porsi untuk kehidupannya bersama April Jasmine istrinya dan Lamborghini, simbol kesuksesannya. Hehehe.

Beralih pada ustadz yang memiliki gaya khas, mundur jauh ke belakang, saya sempat menyaksikan seorang ustadz yang menyampaikan ceramahnya dengan cara berpantun. Mungkin buat sebagian orang hal itu masih wajar, tapi dengan reaksi tertawa dari jamaah yang mendengar ceramahnya, apa bedanya dengan acara lenong dan kicauan-kicauan Tifatul Sembiring. Atau siapa yang tidak ingat dengan ustadz Maulana. Saya yakin kebanyakan orang lebih ingat jargon ‘jamaaaah…..ooh………jamaaah’-nya daripada keseluruhan isi ceramahnya.

Mungkin ustadz-ustadz tersebut bertujuan untuk menjaga eksistensi dengan kekhasan mereka dan berdalih masyarakat sekarang butuh sesuatu yang lebih segar dan unik, termasuk ceramah agama. Tapi ya nggak segitunya juga. Di sini, saya tidak bermaksud untuk menjelek-jelekkan ustadz-ustadz tersebut, saya sendiri muslim. Cuma ya tolonglah jaga wibawa dan kembali ke ‘jalur’. Saya punya banyak pelawak favorit yang bisa membuat saya tertawa, saya bisa melihat Addie MS dan Memes sebagai pasangan harmonis, saya bisa menonton film Fast and Furious untuk melihat deretan mobil mewah dan hingga detik ini saya tak punya niatan untuk menambah istri. Jadi, cukup ceramah aja ya.

Kejutan-Kejutan Hary Tanoe

Gaung copras-capres yang melelahkan dan sedikit memuakkan itu memang sudah berakhir lebih dari setahun yang lalu jika dihitung dari masa sebelum kampanye. Salah satu indikator berakhirnya masa itu adalah pelantikan pasangan Jokowi-JK Oktober silam. Walaupun memang sampai detik ini masih banyak para barisan sakit hati yang lantang berteriak (di media sosial) dengan jargon andalan, “coba Prabowo yang kepilih”, “tuh liat presiden pilihan lo”.

Dengan dilantiknya pasangan Jokowi-JK tersebut, mereka yang berstatus sebagai mantan calon, mantan bakal calon presiden maupun yang kepedean memproklamirkan dirinya sebagai calon presiden (baca: Farhat Abbas) melakukan gerakan balik kanan kembali ke pos-pos terdahulu. Prabowo tetap menjadi Prabowo mantan suami Titiek Soeharto, Rhoma Irama tetap menjadi satria bergitar yang berkelana mencari Ani dan Aburizal Bakrie dengan koleksi teddy bear dan………….lumpur pastinya.

Yang berubah mungkin Farhat Abbas. Pengacara nyentrik yang kerap menggunakan dengkul ketimbang otak untuk berpikir itu meng-upgrade status juru bicaranya menjadi teman seranjangnya, mendepak Nia Daniaty, yang sepertinya lebih bahagia setelah lepas dari Farhat. Juga ada Hary Tanoesoedibjo yang kini sedang asyik dengan taman bermain barunya yang ia beri nama Perindo.

Berbicara tentang Hary Tanoe (selanjutnya disebut HT), pengusaha yang satu ini kerap menghadirkan kejutan dalam setiap gerak-geriknya. Sebelum di Perindo, karir politiknya diawali dengan bergabung bersama partai pesakitan Golkar, yaitu NasDem. Karena (mungkin) di Nasdem ia tidak mendapat posisi yang diharapkan atau karena tak tahan dengan brewok Surya Paloh, secara mengejutkan HT pergi dari NasDem.

Lepas dari NasDem beserta brewok Surya Paloh, HT lagi-lagi membuat publik terkejut setelah merapat ke partai pesakitan Golkar lainnya, Hanura. Di Hanura, HT kembali menghadirkan kejutan-kejutan lain. Diantaranya saat ia berhasil meyakinkan Wiranto, ketua umum sekaligus pasangan capresnya untuk tampil dalam sinetron Tukang Bubur (yang tukang buburnya udah gak ada, yang episodenya panjang banget, yang gak ada yang tau kapan tamatnya) Naik Haji. Tak cukup sampai disitu, HT juga sukses meluluhkan hati Wiranto untuk turun ke jalan mendekati rakyat dengan menyamar menjadi…….tukang becak.

Lalu, melalui saluran televisi miliknya, ia sempat berkampanye dengan kedok kuis kebangsa[t]an. Ada satu kejadian menarik yang terjadi dalam salah satu episode kuis kebangsa[t]an tersebut. Peserta kuis yang berpartisipasi dengan cara menelpon itu dengan cerdas menjawab soal sebelum soalnya dibacakan. Sontak kejadian tersebut mendapat reaksi negatif dari publik. Namun jodoh dan takdir tetap ada di tangan Gusti Allah, segala cara yang dilakukan HT untuk mengambil suara rakyat dengan membentuk Wiranto menjadi sedemikian rupa, berkampanye sedemikian gila akhirnya berujung perpisahan, dengan satu kata terakhir dari Wiranto, ASEM!!.

Terakhir, kejutan HT terlihat dalam ajang Indonesian Movie Awards (IMA) 2015 yang dihelat senin (18/5) lalu. Nominasi untuk kategori soundtrack terfavorit yang sedianya berjumlah lima, mendadak menjadi enam, beberapa hari sebelum penyelenggaraan. Melengkapi kejutan, nominator tambahan tersebut akhirnya berhasil menggondol penghargaan soundtrack terfavorit berbekal lagu Indonesia Milik Kita Bersama, ciptaan Liliana Tanoesoedibjo.

Familiar dengan namanya.

90 menit* Untuk Steven Gerrard

Musim depan, akan menjadi musim yang benar-benar baru bagi Liverpool. Bukan, bukan karena ada trofi tambahan yang masuk ke lemari piala mereka. Menjadi baru, karena mulai musim depan Liverpool akan ditinggal sang ikon, Steven George Gerrard. Gerrard yang sejak 2003 menjadi kapten tersebut penasaran dengan gemerlapnya hollywood memutuskan hijrah ke MLS bergabung dengan LA Galaxy.

Tapi, sebelum terbang ke Amerika dan dijadikan komoditi bisnis oleh LA Galaxy, Gerrard masih punya 90 menit terakhir sebagai kapten The Reds. 90 menit yang sebenarnya tidak berarti apa-apa. Gelar liga sudah terbang ke London. Tiket final Piala FA pun sudah mereka sedekahkan pada Aston Villa. Bahkan tiket UCL telah dibagi rata pada masing-masing dua tim dari London dan Manchester.

90 menit yang akan dijalani Gerrard ini pun bukan 90 menit yang dihelat di bawah langit Istanbul saat gol pertama dari sang kapten menjadi pemantik semangat rekan-rekan lain untuk menyamakan angka yang berujung trofi Liga Champions kelima mereka. Bukan pula Wembley yang megah tahun 2006 dimana Gerrard menjadi penyelamat tim dengan tendangan keras dari jarak 32 m yang juga berujung trofi setelah melewati adu penalti. “Hanya” Britannia Stadium yang menjadi panggung terakhir Gerrard di EPL, karena Anfield telah menjadi tempat “pemanasan” kemarin malam. Anfield yang larut dalam dua kesedihan sekaligus. Melepas sang kapten dan kenyataan hasil pertandingan di papan skor.

Apa yang akan dilakukan Gerrard dalam 90 menit terakhirnya berseragam The Reds? Tanpa memasukkan Tuhan, hanya Gerrard yang tahu jawabannya. Bisa saja ia menghampiri kameramen dan mencium…….kameranya, dengan membobol gawang Asmir Begovic terlebih dahulu tentunya. Atau mungkin ia akan kembali mempertontonkan keahliannya selain bermain bola. Apalagi kalau bukan terpeleset.

Sedikit tentang terpeleset, saya heran kenapa kisah heroik terpelesetnya Gerrard ini bisa begitu melekat di ingatan para penonton. Rekan Gerrrard di timnas Inggris yang juga kapten Chelsea, John Terry juga pernah mengalami nasib naas tersebut. Bahkan dalam momen yang sama atau bahkan lebih besar dari Gerrard. Final Liga Champions. Andai saat itu Terry tidak terpeleset dan bola masuk, Chelsea lah yang berhak mengangkat trofi. Terry bahkan terpeleset lagi saat Chelsea menyerah 3-5 dari Arsenal. Tapi tetap saja, meminjam sebutan Pangeran Siahaan, The Great Slip milik Gerrard lebih ikonik. Sampai-sampai julukan Stevie G pun ikut terpeleset menjadi Slippy G. Nasibmu, Kak.

Melanjutkan paragraf sebelumnya, apa yang bisa dilakukan Gerrard dalam 90 menit terakhirnya? Mungkin judul ini akan saya ganti andai Gerrard berniat mempertajam capaian 38 detik menerima kartu merah. Dan, lagi-lagi judul artikel ini harus diganti andai pada pertandingan terakhir nanti Mr. Brendan memilih untuk membiarkan Gerrard bernostalgia mengenang masa-masa indahnya, dari bangku cadangan. Juga berdoa semoga dengan kepergiannya ke Amerika, orang-orang lebih mengingatnya sebagai seorang legenda tanpa embel-embel terpeleset.

 

 

*Ditulis oleh seorang fans Chelsea, dipublish di blog milik seorang liverpudlian. Anggap saja tribute. Untuk para liverpudlian yang kebetulan baca tulisan ini, jangan marah karena yang kepeleset dia, yang kena kartu merah dia. Kalau masih marah juga, berarti (maaf) goblok.

Mas, Bau Mas!

Akhir Maret lalu, komedian Olga Syahputra meninggal dunia. Tak lama setelah kabar tersebut beredar, ucapan belasungkawa datang dari berbagai kalangan mengalir di linimasa Twitter. Dari fans Olga garis keras sampai haters macam Farhat Abbas. Mereka serempak mendoakan Olga agar diterima di sisi-Nya dan menenangkan agar keluarga yang ditinggalkan ikhlas. Tapi kalau dipikir-pikir, bagaimana mau ikhlas kalau setelah kepergian Olga, banyak stasiun tv yang terus-terusan menayangkan acara yang melibatkan Olga di dalamnya. Paling jelas dilakukan Trans TV yang “memanfaatkan” Olga untuk membangkitkan kembali YKS yang telah lama punah, dengan embel-embel “mengenang Olga”.

Para netizen banyak yang mendoakan karena melihat sosok Olga sebagai seorang pekerja keras, dermawan dan cinta keluarga walaupun kadang-kadang ucapannya membuat sakit hati lawan aktingnya.

Sabtu, 11 April 2015, linimasa juga mengiringi kepergian Deudeuh Alfisahrin alias Tata Chubby dengan ungkapan belasungkawa. Deudeuh yang bekerja sebagai penjaja birahi tewas dibunuh pelanggannya yang berinisial MRS. Namun, berbeda dengan Olga, reaksi netizen terbagi dua dalam menanggapi berita duka ini. Yang pro beralasan, sudahlah orang yang sudah meninggal tak usah diungkit-ungkit kesalahannya, masa lalunya. Tapi tak sedikit yang mencibir karena profesi yang dijalani Deudeuh dianggap tabu….tapi layak untuk diperbincangkan. Ada juga yang sedih karena kehilangan salah satu aset dunia prostitusi. Hayo siapa yang kehilangan. Hehehe.

Deudeuh tewas dengan kondisi leher dijerat kabel dan mulut tersumpal kaos kaki. Oh iya satu lagi, tanpa busana.  Pelaku, M. Rio Santoso, maaf maksud saya pria berinisial MRS tega menghabisi nyawa “pasangannya” karena tidak terima dengan kejujuran Deudeuh yang menyebut dirinya memiliki aroma tubuh berbeda dengan kebanyakan orang (baca=BAU).

Yang membuat saya kaget adalah saat membaca berita tentang latar belakang pelaku. Sempat berkuliah di IPB(walaupun tidak tamat), berprofesi sebagai guru privat dan di usia muda sudah memutuskan menikah dengan alasan takut zina. Tapi ternyata kecerdasan dan keimanan tak bisa berkutik kalau nafsu sudah berkehendak. Kalau kata peribahasa, diam-diam menghanyutkan. Versi Sundanya, cicing-cicing ngeleyed.

Buat saya pribadi, diluar profesinya sebagai penjaja birahi, saya iba saat melihat berita kematian Tata Chubby. Dari sisi kemanusiaan, iba karena dia tewas akibat disumpal kaos kaki pelaku yang dimana badannya aja bau, berarti kaki dan otomatis kaos kakinya ya bau juga. Lalu dari sisi kepuasan berhubungan itu sendiri, iba karena dia kehilangan nyawa sebelum orgasme datang. Yang terakhir, jika dilihat dari kacamata agama, iba karena alih-alih berucap laailahailallah, Deudeuh mungkin meregang nyawa dengan racauan uuh..aah..uuh..aah.