Anak-Anak Orde Baru

Ini adalah kisah nyata ketika saya bersekolah di sebuah SD di Bandung. Saya menulis dengan metoda ingatan. Tidak mewawancara kembali orang-orang ada pada cerita ini, sehingga ada kemunkinan detail percakapan tidak seperti ini.

Saya kemas dalam bentuk cerpen dengan beberapa informasi sejarah saat kejadian ini terjadi. Walau ini ditulis dengan metoda ingatan, ini adalah gambaran umum yang terjadi pada anak-anak sekolah saat itu.

 

 

Anak-anak, minggu depan kita tidak belajar di sekolah.”

“Ayikkk!! Libur ya, Bu?” Kata Diman, salah satu temanku.

“Bukan! Siapa yang bilang libur, kita tetap belajar tapi tidak di sekolah.”

Anak-anak dalam kelas termasuk aku saling berpandangan. Kami tidak mengerti apa yang dimaksud belajar tapi tidak di sekolah. Kami semua saling bertanya satu sama lain sehingga kondisi kelas cukup berisik.

“Diam anak-anak!!”

Semua terdiam.

“Begini, kita akan nonton film sama-sama di bioskop. Judulnya: Pengkhianatan G30S/PKI. Kita semua tetap kumpul di sekolah jam 07.00 dan bersama-sama jalan ke bioskop tempat kita akan menonton.”

Anak-anak riuh, senang rasanya bisa nonton ke bioskop bersama-sama.

“Coba dengar lagi, nanti akan ada surat untuk orang tua kalian. Kalian semua harus membayar Rp 300,00 saja, jangan lupa sampaikan ke orang tua kalian masing-masing.”

Demikian akhirnya kami semua menerima sebuah surat pengantar dari sekolah untuk disampaikan ke orang tua masing-masing.

*

Aku lahir di Bandung, 1976.

Tahun 1984 ada sebuah film yang menghebohkan di Indonesia, judulnya: Pengkhianatan G30S/PKI. Saat film itu diluncurkan aku masih duduk di kelas 3 SD di sebuah sekolah milik yayasan TNI-AD di Bandung.

Di sekolah, kami sudah mempelajari tentang sejarah perjuangan bangsa, jadi peluncuran film ini begitu menarik bagiku, ingin sekali aku menontonnya.

Sampai suatu saat wali kelasku mengumumkan bahwa ada acara nonton bareng film ini, tentunya aku dan teman-teman sekelasku menyambut  dengan antusias.

Dua hal yang menyenangkan, tidak perlu pergi ke sekolah, habis itu pergi bersama teman-teman ke bioskop.

Pagi itu kami semua sudah berkumpul di sekolah, pukul 07.00 sesuai dengan jadwal kami mulai berjalan menyusuri Jl. Jend. Gatot menuju Bioskop Citra di Jl. Karapitan, Bandung. Bioskop ini sudah tidak ada sekarang.

Jarak dari sekolahku ke bioskop itu cukup jauh, tapi karena kami berjalan bersama-sama dengan riang, membentuk barisan dua banjar, perjalanan sama sekali tidak terasa melelahkan. Mungkin rombongan kami jumlahnya sekitar tiga ratus orang. Kami dikawal oleh tentara bersenjata. Maklum kebanyakan kami anak-anak kolong dari anak pangkat rendah sampai anak jendral.

Sesampainya di bioskop kami langsung digiring menuju bangku kami masing-masing. Semua wali kelas terlihat sibuk mengatur murid-muridnya masing-masing. Termasuk Ibu Nunik wali kelas kami.

Sesuai dengan tempat yang ditunjukkan oleh Bu Nunik akhirnya aku duduk sebuah bangku. Di kiri kananku masing-masing ada teman-temanku, mereka adalah Diman dan Bowo.

Film belum juga dimulai, aku, Diman dan Bowo masih mengrobrol. Diman rupanya sudah tahu dari kakaknya yang sudah menonton terlebih dahulu. Dia bilang film ini lama dan menyeramkan. Dia bahkan sengaja menakut-nakuti anak-anak perempuan yang duduk di belakang bangku kami.

“Diman, duduk jangan begitu,” hardik Bu Nunik, “Itu filmnya sudah mau mulai kamu nonton yang benar jangan mengganggu yang lain.” Diman tidak tahu Bu Nunik ada di barisan belakang bersama murid-murid perempuan.

Diman segera duduk, karena memang film pun akan segera dimulai.

***

Film pun diputar, dimulai dengan pembakaran piringan hitam Michael Jackson. Aku tahu Michael Jackson, tapi aku sungguh tidak mengerti adegan ini, ingin bertanya pada Bu Nunik tapi posisi dia ada di bangku belakang bersama dengan teman-teman perempuan.

Di awal-awal film banyak cerita tentang sejarah yang terus terang membosankan bagiku, dan aku yakin teman-temanku juga pasti bosan dengannya. Film mulai menarik ketika ada latihan baris-berbaris tentara pemuda rakyat.

Saat layar menayangkan seorang tokoh jendral yang diperankan oleh aktor Amoroso Katamsi, dan ada subtitel yang bertuliskan “Mayjend Soeharto”, sontak seisi bioskop bertepuk tangan, termasuk aku, Diman dan Bowo.

“Wo itu Pak Harto, Wo lihat,” kataku pada Bowo.

“Iya memang aku nggak bisa baca. Tapi kok nggak mirip ya?” Kata Bowo sedikit kritis.

“Itu kan Pak Harto masih muda, ya begitu mungkin mukanya Wo,” kata Diman.

“Ssttt, jangan ngobrol.” Suara Bu Nunik dari bangku belakang.

Kami pun kembali menonton. Wajah D.N. Aidit ditampilkan di layar. Kami semua berteriak mencemooh tokoh ini.

“Ini dia penjahatnya,” kata Diman.

Aku dan Bowo tidak ikut berkomentar karena takut kena semprot lagi sama Bu Nunik yang ada tepat di belakang kami.

Demikian cerita dalam film terus mengalir. Setiap ada tokoh baik dalam film seperti Soeharto, Sarwo Edhie pasukan RPKAD kami selalu bersorak sambil bertepuk tangan. Sebaliknya, kami mencemooh, saat tokoh-tokoh antagonis seperti D.N. Aidit dan Letkol. Untung tampil di layar.

Saat adegan masuk ke peristiwa penculikan dan penyiksaan banyak teman-teman perempuan di belakang yang berteriak-teriak kecil.

“Tutup saja matanya, nanti kalau sudah lewat Ibu kasih tahu ya.” Terdengar suara Bu Nunik menenangkan mereka yang duduk di bangku belakang.

Yang mengharukan bagiku adalah adegan ketika Ade Irma Suryani tertembak dan ayahnya Jendral Nasution berhasil melepaskan diri karena ajudannya Tendean mengaku “Saya Nasution” kepada pasukan penculik, luar biasa, begitu heroik.

Jendral favoritku tetap Achmad Yani, yang begitu berani mengusir pasukan penculik. Walau akhirnya dia harus mati di rumahnya dan digotong dengan cara yang tidak sopan oleh pasukan penculik itu. Melihatnya kebencianku terhadap PKI memuncak.

Adegan yang menegangkan adalah saat pasukan tersebut menuju ke rumah M.T. Harjono. Dikisahkan pasukan penculik berhasil masuk secara paksa ke dalam rumah. Sang Jendral bersembunyi di kamarnya dan karena suasana gelap salah satu prajurit membakar kertas untuk menerangi kamar. Sang Jendral gugup mencoba meloloskan diri tapi segera diberondong oleh serentetan tembakan.

Yang paling horor adalah kisah Soeprapto. Dia sedang membuat desain sebuah musium di Jogja. Istrinya berkomentar desain yang dibuat oleh suaminya itu mirip dengan gambar kuburan. Ternyata itu sebuah firasat tentang ajalnya. Film sejarah yang kami tonton berubah menjadi film horor.

Puncak kebencianku terhadap PKI ada pada penangkapan D.I. Pandjaitan. Dia sudah berpakaian lengkap karena memang pasukan penculik mengatakan bahwa dia harus menghadap presiden segera. Di teras rumah Pandjaitan masih sempat berdoa di depan para pasukan penculik ini. Pasukan tidak sabar dan segera melepaskan serentetan tembakan ke arah Brigjend D.I. Pandjaitan.

Sang Jendral kemudian diseret oleh pasukan itu, dan seorang putrinya berlari ke arah genangan darah ayahnya, mengambilnya dengan tangan dan sambil menangis meraung-raung membasuhkan darah itu ke mukanya. Aku begitu larut dalam adegan itu, sehingga tanpa aku sadari aku meneteskan air mata ketika menyaksikannya.

“Kamu nangis?” Kata Diman mengagetkanku.

Kaget campur malu aku buru-buru menghapus air mataku. Sialan Si Diman orang lagi asyik nonton malah diganggu. Kami kembali fokus menonton film itu hingga selesai.

*

Hari-hari kemudian di sekolah berminggu-minggu kami dilingkupi sebuah euforia film ini. Seperti kebanyakan anak SD, saat istirahat sekolah kami selalu saja bermain di pekarangan sekolah. Mulai dari bermain kelereng, karet atau sekedar main kejar-kejaran.

Semua permainan kami lupakan, yang kami lakukan hanya mendiskusikan aksi kejam PKI dan hebatnya Soeharto dalam menumpas gerakan ini.

Paling banter kami main kejar-kejaran, biasanya kami memakai tokoh kucing dan tikus, atau penjahat dan polisi. Sejak menonton film ini, kami mengubah tokoh menjadi para Jendral dan pasukan PKI. Pihak yang dikejar memakai nama ketujuh pahlawan revolusi sedangkan pihak yang mengejar menggunakan nama Untung atau Aidit. Konyol, tapi itu lah yang kami lakukan saat itu.

*

Di rumah sudah seminggu lebih aku susah untuk tidur di malam hari. Rumah kami tidak besar tapi bapak membuat sekat-sekat dari tripleks untuk memisah kamarku dengan abang dan kakakku, kebetulan aku anak paling kecil. Setiap aku memejamkan mata aku selalu terbayang kekejaman yang terjadi dalam film itu. Saat aku dewasa aku baru sadar bahwa film ini sebenarnya bukan konsumsi anak seumuranku.

Suatu hari aku memutuskan untuk tidur dengan orang tuaku karena sudah hampir tengah malam tapi aku belum juga bisa tidur.

Bapakku anggota TNI, dia tidak suka anaknya jadi cengeng, harus mandiri katanya. Tapi malam itu aku nekat saja karena ketakutanku ini sudah sebegitu mengganggu.

“Pak.” Aku memanggil

“Iya, kenapa? Kok belum tidur? Sini masuk.”

“Pak, aku tidur sama Bapak ya?”

“Kenapa?”

“Takut Pak.”

“Takut apa? Kalau takut ya berdoa.”

“Sudah berdoa tapi tetap aja takut.”

“Ya sudah sini naik.”

Aku tidur diapit Bapak dan Ibuku.

“Takut apa sih?” Bapak ternyata penasaran.

“Takut PKI.”

“Hah! PKI sudah tidak ada.”

“Iya Pak, sejak acara nonton dari sekolah itu aku takut kalau Bapak diculik sama PKI.”

“Hahahaha,” bapak tertawa.

Aku heran mengapa bapak malah tertawa.

“Kenapa Bapak kok malah ketawa?”

“Tenang saja, Bapak ini cuman Peltu[1], tidak akan ada yang mau culik Bapak. Sudah sana tidur.”

Aku tidak mengerti apa yang bapak katakan saat itu, tapi beberapa hari kemudian aku masih tetap tidur satu ranjang dengan orang tuaku. Sampai akhirnya aku benar-benar berani tidur sendiri.


[1] Peltu. Pembantu Letnan Satu. Salah satu pangkat dalam militer di Indonesia yang masuk dalam golongan Bintara Tinggi. Satu tingkat di bawah Letnan  Dua.
Advertisements

Calon Legislatif

Di sebuah lobby hotel.

“Hey, David ya?”

“Iya, Aduh pangling, Henry ya?”

“Hahahaha, lama kita tidak jumpa ya? Sejak lulus kuliah dul, udah berapa tahun ya?”

“Sudah lama sekali yang jelas aku lulus duluan, kau kelamaan kuliah, kebanyakan demo kan?”

“Hahahaha, iya, bisa aja kau Vid.”

“Duduk dulu lah di sini, tidak buru-buru kan? Mari kupesankan minuman buat kau.”

Okay, masih ada waktu satu jam untuk ngobrol-ngobrol.”

David segera memberi kode kepada pelayan tanda akan memesan sesuatu.

Pelayan segera datang.

“Mbak, coba tanya Bapak ini mau pesan minum apa?” Kata David pada pelayan itu.

“Maaf Pak mau pesan apa?” Seraya menyodorkan buku menu.

Orang yang menyapa David tadi – bernama Henry – mulai membuka-buka buku menu yang disodorkan oleh pelayan tadi.

Okay saya pesan satu hot tea saja.”

“Mau yang apa pak hot tea nya?”

English breakfast saja.”

“Baik Pak,” kata pelayan itu, lalu pergi untuk menyiapkan pesanan Henry tadi.

“Gimana nih kabarnya Vid?” Kata Henry lagi.

“Baik saja Hen, kau bagaimana?”

“Kabarku baik. Aku menginap di hotel ini, kau juga?”

“Aku? Nggak. Aku sedang menunggu tamu dari luar negeri. Sebenarnya janjinya sekitar satu jam lagi. Berhubung tinggal di pinggiran Jakarta, terpaksa berangkat cepat-cepat supaya tidak kena macet di jalan.”

“Ohh..”

“Kau tinggal di kota apa?”

“Aku tinggal di Pekanbaru.”

“Lalu ada urusan apa di sini?”

“Sebenarnya aku sudah jadi anggota DPR-RI.”

“Oh, selamat Hen.”

David menjulurkan tangan menjabat tangan Henry. Mereka berjabat tangan. David mengayun jabatan tangan itu begitu kencang sampai tubuh Henry terguncang-guncang.

“Aduh, cukup deh,” Kata Henry.

“Iya, maaf, aku senang sekali kau bisa jadi anggota DPR, tingkat pusat lagi.”

“Haha, padahal nilaiku dulu waktu kuliah jauh sekali dengan kau ya Vid?”

“Kan ada tesisnya Hen?”

“Apa tuh?”

“Banyak A akan jadi peneliti kerja di lab.”

“Lalu?”

“Banyak B akan mudah cari pekerjaan, sehingga akan jadi karyawan atau dosen, paling banter jadi profesional.”

“Haha, bisa saja kau Vid, lalu yang banyak C?”

“Susah dapat kerjaan lalu buat usaha sendiri, akhirnya jadi pengusaha.”

“Kalau aku?”

“Kau kan dulu terlalu sering demo. Jelas lah banyak D, kau ulang lagi baru jadi C. Kalau banyak C jadi pengusaha, kalau sering dapat D malah jadi penguasa seperti kau ini.”

“Hahahaha,  bisa saja kau Vid.”

“Ini tesis main-main tapi valid, setidaknya untuk kondisi kita berdua.”

“Kau sendiri apa sekarang Vid?”

“Aku bekerja di perusahaan multi-nasional Hen. Ini tamu yang mau kujemput teknisi-teknisi dari India. Mereka menginap di sini. Kau sendiri ngapain nginap di sini? Bukannya dapat jatah rumah di Jakarta.”

“Ya, dapat, tapi tadi malam ada acara di hotel ini, sekalian menginap di sini saja, lagian sudah ngantuk banget. Dari sini ke gedung DPR/MPR tidak jauh. Kalau terlambat, sekarang gawat, bisa-bisa dibocorkan ke wartawan lagi.”

“Hahaha, bener juga.”

“Kau masuk partaiku lah, pemilu berikutnya bisa deh aku usahakan jadi caleg.”

“Yang bener aja Hen?”

“Bener, kau kan dulu pintar juga. Sering nulis juga di majalah kampus. Demo juga kau ikut, hanya kau tetap fokus di studimu tidak seperti aku yang benar-benar berantakan.”

“Boleh saja sih, aku mau-mau aja jadi caleg, hanya banyak ganjelan.”

“Apa salah satunya?”

“Aku nggak mau buat poster, terus lalu dipajang di pinggir jalan?”

“Kenapa?”

“Nggak pede.”

“Hahaha, bisa aja kau ini.”

“Apalagi kalau ada anak-anak kecil yang iseng, nanti posterku itu dicoret-coret, ditambah-tambahin kumis lagi. Malu ah.”

“Hahaha, serius kau. Masak itu jadi alasan?”

“Itu alasan yang serius menurutku Hen.”

“Aku menawarkan ini bukan basa-basi Vid.”

Pelayan datang dengan membawa satu poci teh dan satu cangkir kosong. Henry dan David menghentikan percakapan mereka sebentar, sementara pelayan meletakkan poci, cangkir dan sendok ke meja mereka.

“Silakan Pak, ini gulanya, bisa dicampur sendiri,” kata pelayan itu.

Henry menuang isi poci ke dalam cangkir, mengambil satu bungkus gula, membuka sachet-nya dan menumpahkan isinya ke dalam cangkir. Sambil mengaduk teh, Henry mengulang kalimat terakhirnya.

“Tawaranku itu bukan basa-basi Vid, benar kami dari partai butuh figur profesional seperti kau. Aku memantau juga perkembanganmu, jangan kaukira tidak. Beberapa kali kau menulis soal telekomunikasi dan IT di majalah ekonomi dan harian nasional, aku tahu itu.”

“Hahaha, itu iseng. Aku sering buat proposal, aku copy paste dari proposalku itu lalu kukirim ke redaksi mereka, eh ternyata malah dimuat.”

“Ah, kau suka merendah, tak mungkin mereka memuat begitu saja kalau tulisanmu itu asal-asalan. Bagaimana, tertarik?”

“Boleh saja, tapi banyak syaratnya, hehe.”

“Apa saja? Kita punya cukup waktu untuk membicarakannya.”

“Satu, aku tidak mau jadi caleg dari partai gurem, hanya menghabis-habiskan waktu dan tenaga saja. Pasti tidak terpilih.”

Okay, dalam hal ini partaiku bukan partai gurem kan?”

“Ya benar, masih ada syarat berikutnya.”

“Apa itu?”

“Aku tidak mau keluar uang sepeserpun, untuk biaya kampanye atau beli nomor urut.”

“Hmmm, kau mau enaknya saja kalau gitu.”

“Kok? Kau kan tanya syarat dari aku, ini aku sebutkan sejujur-jujurnya. Kalau tadi tidak kau tanya pun aku tidak akan sebutkan syarat-syarat ini.”

“Hahaha, baiklah, jangan tersinggung dong. Soal dana kampanye bisa kucarikan sposor nanti. Silakan lanjut.” Henry meminum sedikit tehnya.

“Syarat ketiga, aku maunya jadi anggota DPR-RI, tingkat I atau tingkat II, nggak main.”

“Aku memulai dari tingkat I, baru kali ini aku masuk ke pusat Vid.”

“Itu kan kau, kalau kau tanya apa syaratku mau kau rekrut, ya ini syaratku.”

“Hahaha, pede kali kau ini Vid, tak berubah.”

“Mau tahu syarat berikutnya?”

“Oke boleh.”

“Syarat keempat, aku tidak mau jadi caleg dari dapil daerah diluar DKI seperti kau. Malas aku kampanya ke daerah, lagi pula aku tidak tahu kondisi masyarakat di sana, mana mungkin aku bisa mewakili aspirasi mereka.”

“Hmmm, berat, banyak politisi senior yang mengincar dapil yang kau sebut itu Vid.”

“Ya aku tak peduli, toh aku kan berhak mengajukan syarat. Lagi pula resiko jadi anggota legislatif, mendapat cap buruk sebagai oportunis dari anggota masyarakat, sekalian saja aku minta yang muluk-muluk.”

“Syarat yang kau ajukan itu hampir mustahil Vid.”

“Memang kok, bukan hampir lagi, tapi memang mustahil.”

“Lalu kenapa kau ajukan syarat itu padaku?”

“Karena kau memintanya? Lupa ya? Ah kau ini, sudah sama dengan politisi yang lain Hen, hehehe, memang pantas kau jadi anggota legislatif, cepat lupa?”

“Hahaha, jangan begitu kawan.”

“Iya, kan kau yang minta aku masuk partaimu untuk nanti jadi caleg, lalu aku mangajukan syarat, kau ingin dengar katanya. Sudah kusampaikan, lalu kau yang malah keberatan, hehe.”

“Baiklah, sepertinya kau tidak cocok jadi anggota legislatif.”

“Terimakasih untuk pujiannya Hen.”

“Loh?”

“Iya, aku senang kau bilang aku tidak cocok jadi anggota legislatif, hehehe.”

“Sial kau Vid.”

Henry mengeluarkan kartu namanya.

“Ini kartu namaku.”

David menerimanya.

“Mana punya kau?”

“Tak perlu, nanti aku sms kau ke nomor yang di kartu nama ini ya?”

Okay, jangan lupa ya?”

Henry memberi kode tanda memanggil pelayan.

“Buat apa kau panggil pelayan Hen?”

“Mau bayar bill.

“Ah tak usah, segera kau ke kantormu, jangan terlambat, aku bisa marah, kau kan wakilku, jangan sering-sering terlambat ya, hahaha.”

“Hahaha, bisa saja kau Vid. Ya sudah, aku pergi dulu ya? Jangan kau lupa kontak aku.”

“Sip.”

 

***

 

Surat Kaleng

“Dian, jadi kamu nerima aku nih?”

“Iya, Yan.”

“Makasih ya?”

Dian hanya terdiam, aku pegang tangannya dia tidak menolak. Coba kukecup tangannya, dia menarik dengan halus.

“Jangan dulu ya?”

Aku hanya mengangguk tanda setuju.

*

Saat itu aku masih duduk di bangku SMA. Aku begitu tertarik dengan salah satu murid dari kelas lain yang namanya Dian. Orangnya bukan yang paling cantik di sekolahku, tapi gayanya yang begitu kalem, keibuan, membuat aku ingin tahu lebih dalam tentang dia.

Aku termasuk yang pandai bergaul baik itu dengan temanku laki-laki maupun perempuan. Tapi entah kenapa dengan Dian, aku begitu hilang akal, sama sekali tidak berani untuk memulai pembicaraan atau sekedar berbasa-basi mengajak kenalan.

Kami belum pernah berkenalan secara formal, tapi karena kelas kami bersebelahan tentu aku tahu namanya, dan aku juga yakin bahwa dia pasti tahu namaku.

Sampai suatu hari aku memberanikan diri untuk menulis surat. Memang terlihat kurang jantan, tapi yang penting dia bisa tahu bahwa aku begitu ingin untuk dekat dengan dia dan menjalin hubungan yang lebih serius dengan dia.

Masalah kedua datang lagi, akut tidak berani memberikan surat itu kepada Dian, sehingga aku harus meminta bantuan sahabatku satu kelas Widhie.

“Waduh Yan, kamu kok cemen ya?” Demikian komentar Widhie saat pertama kali aku menjelaskan padanya soal bantuan yang aku minta darinya.

“Iya please Wid, kali ini aku bener-bener minta tolong.”

“Satu, kamu sudah tidak berani ngomong langsung sama dia. Kamu pakai surat untuk berkenalan, itu saja sudah satu masalah besar buat aku. Yang kedua, eh untuk nyampaikannya saja kamu nggak berani?”

Aku terdiam.

“Gimana mau diterima?” Kata Widhie lagi setengah mencibir.

Aku tidak sakit hati dengan kata-kata Widhie, kami sudah satu sekolah sejak SMP, dan sudah biasa saling ejek. Walau dengan kata-kata yang sedikit tidak enak didengar, aku sadar bahwa apa yang diucapkannya seratus persen benar.

“Aku tahu Wid, tapi bantu aku sekali ini saja.”

Okay kali ini aku bisa maklumi, mana sini suratnya?”

“Ini,” kataku sambil menyerahkan surat itu pada Widhie.

“Payah lo!” Masih saja dia mencoba untuk menghinaku. Aku tidak peduli dan sama sekali tidak tersinggung. Yang penting dia sudah bersedia membantuku.

Widhie segera masuk ke kelas Dian. Ini jam istirahat dan kami memang sudah lihat tadi, Dian sudah masuk ke dalam kelas.

Sekitar dua menit aku menunggu di depan pintu kelasku sampai akhirnya Widhie keluar dari kelas Dian.

“Gimana sudah kan?” Tanyaku tak sabar.

“Sudah, Dian nggak ada di kelas, jadi aku titip aja sama temannya.”

“Yah gimana sih kamu Wid?” Aku begitu emosi.

“Gimana apanya?”

“Kan aku minta tolong kamu, kenapa kamu malah minta tolong lagi sama orang lain?”

“Lho, kan kamu nggak kasih perintah yang spesifik harus Dian langsung yang nerima? Aku lihat Dian tidak ada di dalam kelas, ya jadi aku titip aja sama orang yang ada di dalam kelas? Masak aku celingukan di kelas orang lain? Yang bener aja Yan?”

Pembelaan Widhie masuk akal. Aku mengurungkan niatku untuk marah-marah padanya.

“Terus kamu titip siapa?”

“Hendra.”

“Aduh kamu ini Wid, nanti seluruh kelas Dian tahu aku sedang pendekatan sama dia, sialan kau Wid.”

“Yan, kamu itu udah aku bantuin bukannya malah terima kasih malahan begini. Aku nggak mau bantuin kamu lagi deh kalau gini caranya.”

“Jangan gitu dong. Ya udah sorry, sorry, aku minta maaf deh.”

“Tenang aja pasti surat itu sampai ke tangan Dian.”

*

Sudah tiga hari sejak surat itu kutitipkan pada Widhie untuk diserahkan kepada Dian, setiap berpapasan dengan Dian, aku dan dia selalu bertukar senyum. Hanya saja, tidak sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami berdua ketika kami berpapasan.

Aku jadi ragu apakah benar di Widhie menyampakan surat itu. Aku sangat percaya pada Widhie, dia sahabatku. Mungkin suratku itu disabotase di tengah jalan oleh Hendra. Mendamprat Hendra sungguh aku tidak berani, bukannya karena taku bekelahi, tapi aku akan hanya mempermalukan diriku sendiri.

Sampai suatu hari usai pelajaran olah raga, aku kembali ke kelas. Aku menemukan sepucuk surat dalam amplop tergerletak di mejaku. Surat itu berbunyi:

Dear Yan,

Saya tahu kamu suka sama Dian, tapi jangan  coba-coba dekati dia. Dia milikku.

Dia juga tidak suka kamu kirim-kirim surat. Ini suratnya aku kembalikan.

Dalam amplop itu, disertakannya surat yang kutulis untuk Dian dalam keadaan sudah kusut.

Aku kemudian coba menduga-duga, siapa yang menulis surat ini? Yang tahu urusan ini hanya Widhie dan Hendra. Widhie sudah pasti tidak mungkin menghkianati aku, dia orang yang sangat terbuka dalam bergaul dengan siapa pun. Kalau suka dia akan bilang suka, sebaliknya kalau tidak suka dia juga tidak pernah mencoba-coba menutupinya.

Hendra, aku tidak banyak mengenal pribadinya. Ada kemungkinan dia yang melakukan sabotase ini. Tapi buat apa? Apa dia juga naksir Si Dian?

Kelas masih kosong, sedang asyik aku menduga-duga, tiba-tiba ada suara yang mengagetkan aku.

“Hey, Yan! Jangan ngelamun gitu ah!” Widhie baru saja sampai di kelas.

Aku tidak banyak bicara kusodorkan dua lembar surat itu pada Widhie. Satu suratku pada Dian dan satu lagi surat kaleng yang tidak jelas siapa pengirimnya.

Widhie mengambilnya dan mulai membacanya dengan serius. Dia juga jadi tahu isi surat yang kutulis buat Dian. Ketika dia membaca bagian itu Widhie sedikit tersenyum sambil memandangku.

“Tuh kan malah ngeledek,” keluhku.

“Rumit juga nih. Aku sih bukannya takut sama Si Hendra, tapi kalau kamu labrak dia, masalahnya bisa panjang dan kamu jadi malu sendiri. Berkelahi urusan pacar? Nggak deh,” katanya.

“Jadi lebih baik kamu temuin aja Si Dian nanti pulang sekolah, supaya semuanya jadi jelas,” saran Widhie.

*

Pulang sekolah aku menunggu Dian di depan kelasku karena mau tidak mau dia harus melintasi kelasku untuk menuju gerbang keluar.

Aku sudah dapat melihat Dian datang ke arah kelasku. Dia sudah semakin dekat dengan aku. Tapi entah kenapa aku belum juga berani untuk menyapa dia duluan. Sampai akhirnya dia tersenyum, aku juga membalas seyumannya. Tapi kubiarkan dia berlalu melewatiku.

Sampai tiba-tiba ada yang mendorong aku begitu keras kearahnya. Aku benar-benar tidak dapat mengendalikan diri dan tubuhku menabraknya dari belakang. Aku dan Dian sama-sama tersungkur di lantai. Sedikit kutengok ke belakang ternyata itu kerjaan si Widhie, yang langsung senyum-senyum dan pura-pura tidak tahu. Belum sempat aku bereaksi dia sudah lari duluan.

“Aduh maaf ya, nggak apa-apa kan? Soalnya ada yang dorong aku dari belakang.”

“Eghh, nggak apa-apa sih.”

Aku ulurkan tanganku untuk membantu dia bangun. Dian segera merapikan pakaiannya.

Ini pertama kali aku akhirnya bicara dengannya. Tadinya aku mau marah saja pada si Widhie, tapi ternyata maksudnya baik. Mungkin kalau tidak didorong Widhie, sampai sekarang aku belum juga bicara dengan Dian.

“Sudah baca surat saya?”

“Sudah. Tapi kemarin aku simpan di meja, suratnya hilang, nggak tau siapa yang ambil.”

“Ohh.”

Aku pura-pura tidak tahu saja. Aku juga tidak menceritakan bahwa ada yang mengirimiku surat kaleng berisi ancaman untuk tidak mendekati dirinya. Aku juga tidak cerita bahwa surat itu sudah kembali ada di tanganku.

“Jadi gimana?”

“Hmmm…”

“Kamu sudah punya pacar ya?”

“Belum kok.”

“Atau belum mau pacaran?”

“Mau aja kalau ada yang cocok.”

“Atau aku bukan tipe kamu?”

“Belum tahu, orang kita kan belum kenalan.”

Okay kalau gitu kita sekarang kenalan, nama aku Yan.”

“Aku Dian.”

Kami berjabat tangan, canggung, tapi tanpa sengaja saling melempar senyum.

“Jadi setelah ini gimana?” Tanyaku.

“Gimana apanya?”

“Ya boleh nggak aku jadi pacar kamu?”

“Soal boleh ya pasti boleh, itu hak semua laki-laki, tapi masalahnya aku mau atu tidak?” Dian tersenyum sambil menggodaku.

“Aduh, jangan bikin bingung dong.”

“Kamu juga, baru nulis surat sekali aja sudah langsung nembak kayak gini.”

“Iya, maaf ya.”

“Jalanin aja dulu, tapi aku nggak tertutup kok orangnya.”

*

Mulai saat itu setiap pulang sekolah aku selalu bersama dengan Dian. Kadang dia dijemput orang tuanya, tapi saat giliran orang tuanya tidak menjemput, kami pulang bersama naik angkot. Kebetulan arah rumah kami sama.

Anehnya surat kaleng itu masih datang juga sesekali. Sekali surat itu datang ke kelas, sekembalinya aku ke kelas sehabis jam istirahat, kulihat ada amplop di atas mejaku. Isi surat itu adalah:

Oh masih berani ya? Saya sudah bilang jangan dekati.

Aku tetap tidak gubris surat itu. Bahkan aku makin lengket saja dengan Dian. Sampai suatu hari Surat itu datang ke rumahku.

Kamu nggak percaya sama saya? Saya tidak main-main. Bahkan saya tahu alamat rumat kamu.

Orang ini tidak pernah berpanjang-panjang dalam menulis surat, tapi surat-suratnya cukup membuatku kecut. Aku masih tetap merahasiakan hal ini kepada Dian dan orang-orang lain tentang keberadaan surat-surat ini. Aku hanya terbuka pada temanku Widhie dalam hal ini, tapi isi surat pun tidak pernah aku beritahu padanya.

Widhie menyarankan untuk aku terbuka pada Dian. Usulnya ini kutolak mentah-mentah karena sebagai laki-laki aku tidak ingin terlihat penakut di mata Dian.

*

Demikian sebulan pendekatanku dengan Dian, aku sering menunjukkan perhatianku pada dia. Misalnya sekedar membelikan roti atau makanan lain pada jam istirahat. Bila ada kesempatan kami pulang bersama naik angkot, sering kami bercanda tertawa-tawa di dalam angkot sampai sering penumpang yang lain merasa terganggu.

Sampai akhirnya aku berani menyatakan sekali lagi perasaanku padanya bahwa aku suka padanya. Dian tidak menolak, status kami sekarang pacaran, istilah anak mudanya: jadian.

Sampai suatu hari aku begitu kaget, sesampainya aku di rumah, ada sepucuk surat. Isinya:

Jadian ya? Selamat.

Singkat saja, tapi bagi aku itu mendatangkan teror yang membuat hidupku tidak tenang. Ingin aku menelusuri siapa orang ini, tapi usaha yang aku keluarkan akan terlalu memakan waktu dan tenaga, sedangkan sekarang aku sedang dalam persiapan untuk masuk ke perguruan tinggi.

Aku pun masih tetap tertutup pada Dian soal ini. Bahkan pada Widhie, hal ini pun sudah tidak lagi kuceritakan.

Aku tetap tidak setuju dengan pendapat Widhie, bisa-bisa Dian mengganggap aku cengeng dan penakut, simpati Dian padaku bisa hilang, dan akhirnya hubungan kami bisa kandas di tengah jalan.

Kecurigaanku tetap pada Hendra. Karena surat pertama yang kutitipkan pada Widhie, dia titipkan lagi pada Hendra. Mungkin sebelum sampai ke tangan Dian dia sudah terlebih dahulu membaca surat itu. Kemudian dia juga yang mengambilnya dan mengembalikannya padaku disertai dengan sebuah ancaman untuk tidak mendekati Dian.

Pernah aku sengaja memancing Hendra. Aku sengaja menjatuhkan amplop-amplop surat kaleng yang pernah aku terima tersebut di depan Hendra. Aku ingin tahu reaksinya. Dia hanya pura-pura tidak lihat saja.

Tapi aku perhatikan sejak aku dekat dengan Dian, Hendra sering sekali memandangi aku dari pintu kelasnya, saat aku juga sedang bersama teman-temanku di depan pintu kelasku. Biasanya kutatap balik dia, dan dia akan segera memalingkan pandangannya ke arah lain atau pergi masuk ke dalam kelas.

*

Hubunganku dengan Dian malah kian mesra. Sekarang Dian sengaja meminta orang tuanya untuk tidak menjemputnya sepulang sekolah. Alasannya dia mau belajar mandiri.

Karena tahun ini kami mempersiapkan diri unruk masuk ke perguruan tinggi, kami pun mendaftar ke bimbingan belajar yang sama, supaya bisa tetap belajar tapi juga makin lengket.

Surat-surat kaleng itu masih terus datang. Si pengirim tahu tentang acara-acara kami, mulai dari mendaftar ke bimbingan belajar yang sama, atau kalau kami pergi makan siang bersama, dan lain-lain. Terus terang aku sedikit terganggu awalnya, tapi lama-lama aku mulai terbiasa dan kuanggap angin lalu saja. Kalau memang itu orangnya Hendra, senekat apapun nanti dia aku tidak akan takut sama sekali padanya.

Sulit juga bagiku untuk mencurigai orang di sekolah atau di bimbingan belajar, karena rata-rata yang ikut di bimbingan belajar kami ya murid-murid dari sekolahku juga.

*

Waktu terus berlalu sampai akhirnya kami lulus dari bangku SMA dan mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN). Aku dan Dian sama-sama lulus dalam ujian kami, kami sama-sama masuk ke Perguruan Tinggi Negeri. Sayangnya aku di terima di Yogyakarta dan Dian tetap di Bandung.

Kami tidak mau permasalah jarak ini membuat hubungan kami makin renggang. Kala itu ponsel masih barang yang sangat mewah dan Internet adalah barang yang langka. Jadi terpaksa kami hanya melakukan hubungan lewat surat menyurat.

Sesekali kalau ada kiriman lebih dari orang tuaku di Bandung, aku pergi ke wartel untuk meneloponnya.

Sudah pasti kalau liburan semester aku pulang ke Bandung. Niatnya untuk mengunjungi orang tua dan keluarga, tapi yang terjadi malah kami lebih banyak bersama-sama, bertemu keluarga hanya saat sudah mendekati waktu tidur.

Itulah hebatnya, aku dan Dian sama-sama menjaga hubungan kami. Kami ingin hubungan ini lanjut ke jenjang pernikahan. Karena jarak yang jauh, kami justru terpacu untuk menyelesaikan kuliah kami secepat-cepatnya.

Surat-surat kaleng itu pun tidak pernah kuterima lagi. Nampaknya semua sudah berjalan menurut rencana kami, tanpa ada aral melintang.

*

Lima tahun kemudian.

Kami lulus hampir  bersamaan. Sebelum lulus aku bahkan sudah diterima di sebuah perusahaan konsultan keuangan di Jakarta. Tak perlu repot mencari pekerjaan sudah ada pekerjaan yang menungguku di Jakarta.

Dian juga sudah lulus, tapi dia masih melamar ke sana ke mari, sudah enam bulan belum juga ada lamarannya nyantol.

Enam bulan aku bekerja aku banyak menabung. Gajiku lumayan sehingga dengan gaya hidupku yang terbiasa susah, aku bisa cukup mengumpulkan modal yang lumayan. Aku memberanikan diri untuk melamar Dian. Aku datang bersama kedua orang tuaku untuk melamarnya. Kami sama-sama dari keluarga menengah, tidak kekurangan tapi juga tidak berlebih.

Suasana lamaran juga sebenarnya hanya basa-basi kenalan antar sesama calon besan, tidak ada keluarga lain yang datang, hanya keluarga inti.

Ayah dan ibu Dian juga tampaknya tidak keberatan dengan rencanaku. Terserah Dian saja kata mereka, jelas Dian pasti setuju karena memang sebelum datang ke rumahnya kami berdua sudah pernah mendiskusikan tentang hal ini.

*

Menjelang pernikahan.

Pernikahan dilaksanakan di Bandung karena orang tua kami sama-sama tinggal di kota ini. Rencananya acara tidak akan bermewah-mewah. Setelah akad nikah, resepsi akan dilakukan di rumah Dian. Undagan pun sangat dibatasi, hanya keluarga dekat dan beberapa teman saja yang diundang.

Karena dilaksanakan di Bandung, aku tentunya tinggal di rumah orang tuaku dua hari sebelum pernikahan. Masa kerjaku di perusahaan tempat aku bekerja belum genap satu tahun. Sebenarnya menurut aturan perusahaan, aku belum boleh mengambil cuti. Tapi karena atasanku cukup perhatian padaku dia memberikan dispensasi.

Aku titip pada atasanku untuk jangan dulu gembar-gembor sama teman-teman di kantor, karena acara yang kurancang hanya acara sederhana. Tidak enak rasanya kalau banyak orang tahu, tapi tidak aku undang ke acaranya nanti.

Satu yang membuat aku kaget, surat kaleng itu datang lagi ke rumah orang tuaku, sehari sebelum hari pernikahan. Aku kira aku sudah terbebas dari teror kampugan ini, tapi tertanya tidak. Isinya singkat saja:

Berani ya kamu? Kamu tidak gubris sama sekali surat-suratku sebelumnya. Kamu kira aku main-main?

Selamat menempuh hidup baru.

Kalimatnya penuh ancaman walau diakhiri dengan ucapan selamat.

Aku coba menduga-duga siapa yang mengirim surat kaleng ini? Apa orang yang sama dengan yang mengirim surat-surat kaleng itu dulu ketika aku SMA? Aku masih simpan semua surat itu, tak ada satu pun yang tahu isi surat itu, kecuali Widhie sahabatku. Itu pun hanya beberapa surat di awal-awal aku menerimanya. Waktu berikutnya aku tidak lagi menunjukkan surat-surat itu kepada Widhie.

Pernikahan ini pun tidak terlalu banyak orang yang tahu. Hanya keluarga dekat, beberapa teman SMA dan kuliah yang benar-benar dekat denganku atau Dian saja yang diundang. Aku coba menduga-duga, tapi rasanya tidak mungkin salah satu dari antara teman-teman itu yang tega melakukan ini pada diriku.

Apa daya, semua sudah dijalankan. Masak hanya gara-gara surat kaleng dari orang iseng saja aku mundur? Pernikahan tetap dilaksanakan, aku simpan saja surat itu pada sebuah amplop coklat, tempat aku menyimpan semua arsip surat kaleng iseng itu.

*

Dua minggu setelah pernikahan.

“Sayang aku pergi belanja dulu.”

Hari Sabtu, hari untuk bermalas-malasan. Aku masih tidur pagi itu.

“Hmm…”

“Mau dimasakin apa nanti?”

“Egghh, apa aja deh boleh.”

Okay, aku jalan dulu ya, nggak lama kok.”

“Iya, hati-hati ya sayang.”

Okay.”

Begitulah, aku sudah mengontrak rumah di Jakarta. Untuk ukuran pasangan baru, ini sudah lumayan. Dua kamar, dapur, kamar mandi dan ruang tamu walau kecil. Sudah lebih dari cukup bagi kami.

Gara-gara dibangunkan istriku, aku tidak bisa lagi kembali untuk tidur. Jadi segera aku ke kamar mandi untuk membasuh mukaku dan gosok gigi.

Aku kembali ke kamar dengan segelas air putih, berencana untuk bersantai-santai kembali di tempat tidur setelah seminggu yang lalu jadwalku begitu penuh untuk mengejar target dari kantor. Maklum ambil cuti satu minggu jadi kerjaan numpuk.

Sampai di kamar kulihat di meja rias ada sebuah buku, bentuknya mirip buku harian. Penasaran aku ambil buku itu dan memang ini buku harian. Buku ini milik Dian tentunya, ada namanya tertera di sampul buku.

Aku buka saja, walau sebenarnya tidak etis untuk membuka sebuah buku harian walau itu milik istri sendiri. Tapi rasa penasaranku jauh mengatasi etikaku.

Sambil takut-takut kalau tiba-tiba Dian kembali ke rumah, aku mulai membaca halaman demi halaman buku hariannya. Aku jadi tahu siapa mantan-mantan dia dulu, sambil senyum-senyum aku terus baca buku hariannya. Sampai masuk ke bagian-bagian dimana aku mulai mendekati dia. Hampir aku tertawa membaca bagian-bagian itu, ingatanku langsung terbawa ke masa-masa aku mendekati Dian, yang sekarang adalah istriku. Begitu detil Dian menuliskan itu semua.

Sampai pada suatu halaman, ada satu kalimat yang tidak asing bagiku. Kalimat singkat yang merupakan isi surat kaleng pertama yang aku terima dulu waktu SMA. Aku semakin penasaran, kulewati saja halaman demi halaman buku harian itu, aku mencari surat-surat kaleng berikutnya, semua ada di dalam buku harian ini. Semuanya sama dengan surat kaleng yang pernah aku terima, termasuk yang terakhir aku terima beberapa hari sebelum hari pernikahanku.

Aku langsung lemas, tidak tahu harus berbuat apa.

Tiba-tiba dari arah pintu ruang tamu.

“Sayang.”

Segera kututup buku harian itu kusimpan kembali di meja rias dan aku pura-pura sedang tidur.

***

Cita-Cita Badu

Suatu hari sepulang sekolah, Badu berjalan kaki sendirian melintasi sebuah peternakan sapi. Dia melihat ada seorang kakek yang kesulitan mengangkat beberapa wadah susu dari aluminium ke atas pedati.

Badu menghampiri kakek itu.

“Kek, bisa saya bantu angkat?”

Kakek itu menatap Badu, sedikit curiga.

“Nggak apa-apa kok Kek, saya ikhlas.”

Kakek hanya mengangguk.

Akhirnya Badu membantu kakek itu menaikkan semua wadah susu itu ke atas pedati, sampai akhirnya semua wadah susu sudah ada di atas pedati.

“Siapa namamu?”

“Badu Kek.”

“Apa Badukek?”

“Maksud saya Badu.”

“Ohhh, kamu tinggal dimana?”

“Di kampung sebelah,” kata Badu sambil menunjuk ke arah kampungnya.

“Ayo naik ke pedati saya, kebetulan saya juga akan menuju kampungmu.”

Akhirnya Badu naik ke pedati kakek itu tadi dan segera dua ekor sapi menarik pedati itu perlahan menuju kampung tempat Badu tinggal. Lumayan pikir Badu, hari ini tidak terlalu capek harus berjalan dari sekolah menuju rumah.

*

“Kek, sudah sampai itu rumah saya,” kata Badu sambil menunjuk ke arah rumahnya.

Kakek itu segera memberhentikan pedatinya.

“Terima kasih ya Kek,” kata Badu seraya turun dari pedati.

“Sebentar Nak, kamu boleh ambil satu wadah susu sapi itu buatmu.”

“Tidak usah Kek,” kata Badu.

“Sudah ambil saja, itu tanda terima kasih dari saya buat kamu.”

Badu akhirnya setuju dan segera mengambil satu wadah susu tersebut.

“Wadahnya bagaimana Kek?”

“Saya sudah tahu rumahmu. Kamu titipkan saja sama orang di rumahmu, besok atau lusa mungkin aku kembali ke kampungmu ini. Aku akan mampir untuk mengambilnya.”

“Baik Kek, terima kasih banyak ya.”

Kakek itu segera berlalu dengan pedatinya. Badu melambaikan tangan dan kemudian berjalan menuju rumah sambil membawa satu wadah susu.

*

Sampai di rumah, Badu langsung meyimpan wadah susu itu dan duduk di depan kursi tempat dia meletakkan wadah susu tadi.

Dia begitu haus, ingin sekali dia menikmati susu itu, tapi Badu berpikir adalah lebih baik menjualnya ke pasar atau kepada tetangganya, dia akan memperoleh uang.

Jadi diurungkannya untuk meminum susu itu. Dia mulai merencanakan apa yang dia akan lakukan dengan susu ini.

Dia akan menjualnya untuk mendapatkan uang yang cukup lalu akan pergi bersenang-senang ke kota, mungkin nonton  di bioskop.

Tapi kalau dipakai nonton, habis nonton, sudah habis uang itu pikirnya. Ditambah ongkos kendaraan ke kota yang cukup mahal. Tidak jadi pikirnya, lebih baik uangnya dipergunakan untuk hal yang lebih berguna.

Badu terpikir untuk membeli telur ayam saja. Ibu punya ayam betina, dia berencana untuk membeli telur ayam untuk dierami oleh ayam betina miliki ibu. Pasti ibu akan mendukung rencananya ini.

Setelah ayam-ayam itu nanti menetas dia berencana untuk merawatnya sampai besar dan bisa bertelur untuk dapat dierami lagi. Terus demikian sampai jumlahnya cukup banyak untuk dijual dan dibelikan sepasang kambing.

Dia akan rawat kambing itu sampai besar dan berkembang biak. Terus dia akan rawat kambing-kambing tersebut sampai jumlahnya cukup banyak untuk dijual dan dibelikan sepasang sapi.

Badu terus berkhayal. Kali ini dia berternak sapi, merawatnya sampai berkembang biak sampai beberapa mungkin bisa dijual. Tidak semua sapi akan dia jual beberapa saja untuk dibelikan kuda.

Memiliki kuda adalah cita-cita Badu sejak lama. Dia sering meminta kepada orang tuanya untuk dibelikan kuda. Badu sangat memimpikan berjalan-jalan keliling kampung atau bahkan pergi ke sekolah dengan menunggang kuda.

Sambil tersenyum-senyum Badu terus berkhayal. Kali ini dia sedang mengkhayalkan dirinya menunggang seekor kuda keliling kampung. Khayalannya kali ini begitu hebat sampai tak sadar dia menirukan gaya orang menunggang kuda dari atas kursinya.

Sampai tiba-tiba, “Klontang!!”

“Badu! Suara apa itu di depan!”

Seorang wanita bergegas dari dapur menuju ruang depan. Wanita itu adalah ibu Si Badu.

Badu hanya diam.

“Aduh kamu lagi apa sih Nak? Itu kok ada susu yang tumpah kemana-mana! Ayo kamu bersihkan!”

***

Ditulis kembali dengan beberapa perubahan dari cerita rakyat Sumatera Utara yang biasa diceritakan dari mulut ke mulut.

In memoriam bapak yang kukasihi, Alm. Peltu. A. Ginting.

Dengar Pendapat

“Silakan masuk.”

Aku segera berdiri dan mendekati penjaga yang memanggil aku.

“Rentangkan tangan.”

Aku mengikuti perintahnya. Petugas menemukan ponselku dan segera mengambilnya.

Okay anda sudah bersih, sekarang boleh masuk. Bapak Presiden sudah menunggu anda. Handphone anda bisa diambil nanti sesudah menghadap Bapak Presiden.”

Aku segera masuk ke ruangan yang ditunjukkan oleh petugas itu.

Entah mengapa aku mendapat panggilan dari presiden hari ini. Katanya sih dia mau mendengar pendapatku. Aku mewakili pengusaha kecil-menengah. Baru-baru ini profilku masuk dalam sebuah majalah ekonomi lokal. Mungkin presiden atau stafnya membaca pemberitaan itu dan tertarik untuk mengetahui tentang diriku lebih dalam lagi.

Sepertinya dalam pemberitaan majalah tersebut, tidak ada kata-kataku yang memojokkan pemerintah. Ya sudahlah, lebih baik aku datang saja memenuhi panggilan beliau.

“Eh, Imam sudah datang, silakan duduk.”

“Baik Pak.”

Pak Presiden menunjukkan sofa dimana aku harus duduk dan dia mulai melangkah dari meja kerjanya ke sofa itu.

“Maaf menunggu lama di luar ya tadi?” Katanya sambil menjabat tanganku erat.

“Oh, tidak apa-apa Pak.”

Entah kenapa, aku yang biasanya begitu disiplin terhadap waktu, terutama dalam hal menjalankan usahaku, sekali tidak mengeluh walau harus satu jam menunggu Pak Presiden di ruang tunggu tadi. Aku menjadi sedemikian permisif. Itu mungkin yang jadi faktor penyebab orang-orang yang dekat dengan kekuasaan sebegitu permisif-nya terhadap presiden. Aku mulai merasakannya, walau dalam hal sepele.

Kami sudah sama-sama duduk.

“Bagaimana kabar?”

“Baik Pak.”

“Usaha bagaimana?”

“Selalu ada tantangan tapi so far so good.”

“Saya suka anak muda seperti anda.”

“Wah, jangan berlebih-lebihan Pak.”

“Tidak kok. Berapa karyawan anda?”

“Sepuluh orang.”

“Coba ada empat juta orang seperti anda, tidak perlu ada TKI ke luar negeri, anda empat puluh juta lapangan usaha. Sekali lagi saya kagum.”

Aku tersenyum, empat juta usaha kecil? Bisa saja, tapi dengan kondisi birokrasi negeri ini, rasanya itu mimpi di siang bolong.

“Banyak kendala tidak saat menjalankan usaha?”

“Banyak suka dan dukanya Pak.”

“Coba berikan saya contoh, saya sengaja mengundang anda bertemu empat mata, saya mau menggali pendapat anda yang sejujur-jujurnya tanpa ada tekanan dari pihak mana pun.”

“Contohnya, maaf ya pak jangan tersinggung.”

“Kenapa memang?”

“Listrik sering padam.”

Hening sejenak, Bapak Presiden manggut-manggut, sementara aku harap-harap cemas menunggu jawabannya.

“Hmmm, masalahnya pelik, tapi sesegera mungkin akan kami tangani.”

“Terima kasih Pak. Sebagai solusi kami membeli genset untuk mengatasi ini, tapi Bapak kan tahu sendiri, harga solar dan bensin kan juga naik terus, jadi kami hanya pakai genset kalau memang benar-benar ingin mengejar target saja. Untuk produksi normal lebih baik kami tunggu sampai listrik menyala.”

Aku terdiam sejenak, kulihat dari tadi ada segelas air putih di hadapanku.

“Pak ini, boleh saya minum?”

“Oh iya, maaf, maaf, silakan diminum dulu Mam.”

Wah aku baru saja dipanggil Mam oleh Bapak Presiden. Suatu kebanggaan, presiden mencoba akrab denganku.

Aku meminum air dalam gelas itu, hilang dahagaku. Sejak tadi di ruang tunggu sebenarnya aku sudah sangat haus, apa daya aku tidak berani untuk meminta penjaga di depan untuk segelas air.

“Soal listrik ini, pernah mati sampai dua hari, terpaksa kami gunakan genset. Ongkos produki jadi tinggi, sebenarnya saat itu kami menanggung rugi, tapi tak apa Pak, yang penting pelanggan puas dan tidak kabur karena pesanannya molor.”

“Ya memang dalam menjalankan bisnis perlu sedikit inovasi.”

Aku sebenarnya ingin tertawa mendengar pernyataan beliau, dia menyebutkan kata inovasi. Membeli genset masuk dalam kategori inovasi menurut beliau. Beruntung aku bisa mengendalikan diri untuk tidak tertawa saat itu.

“Lalu ada lagi?”

“Masalah keaamanan Pak. Sering ada preman yang minta jatah, ada saja alasannya. Saya pernah mencoba untuk berani tidak memberi mereka jatah, besoknya sepeda anak saya hilang Pak. Saya bukan menuduh preman itu yang melakukan. Akhirnya saya tidak berani menentang preman-preman itu, tidak pernah ada kehilangan lagi setelah itu.”

“Kenapa tidak kamu laporkan pada Polisi saja? Negara kita kan negara hukum.”

Aku hampir tertawa untuk kedua kalinya. Kali ini aku masih bisa menahannya.

“Maaf Pak, premannya anak Polisi.”

Bapak Presiden hanya diam, manggut-manggut. Aku juga diam aku takut beliau bereaksi negatif terhadap kalimat terakhirku tadi.

“Baiklah, sudah saya catat, ini adalah agenda reformasi dalam tubuh instansi pemerintah dan alat negara. Terimakasih anda sudah mau jujur. Apa ada lagi yang menggangu?”

“Sebenarnya banyak Pak, tapi saya yakin Bapak tidak punya banyak waktu berbincang-bincang dengan saya.”

Entah mengapa, aku semakin percaya diri berbicara dengan orang di hadapanku ini. Aku bahkan hampir tidak sadar bahwa orang ini adalah presiden, lembaga eksekutif tertinggi di negeri ini.

“Coba apa sekiranya yang paling penting untuk disampaikan.”

“Pajak dan pungli Pak.”

“Imam, pajak kan sudah menjadi kewajiban semua warga negara. Kalau soal pungli dari preman itu maksud kamu? Itu kan sudah saya jawab, bahwa saya sedang melakukan reformasi birokrasi.”

“Oh kalau jatah preman sudah saya anggap gaji karyawan saja Pak.”

“Lalu siapa lagi yang melakukan pungli?”

“Maaf ya Pak, orang-orang Bapak, oknum dari instansi pemerintah. Mereka selalu mencari-cari kesalahan saya, soal peruntukan rumah tinggal yang dipakai untuk usaha misalnya. Padahal kan memang kami ini usaha kecil, untuk menghemat biaya kalau masih bisa dilakukan di rumah dan tidak mengganggu lingkungan, saya pikir mengapa tidak?”

“Lalu?”

“Intinya bukan masalah peruntukan bangunan Pak, buktinya kalau akhirnya kami berikan amplop mereka tidak mengungkit lagi masalah itu.”

“Lalu?”

“Biasanya kalau ada pergantian pejabat, akan datang lagi orang yang baru, dan solusinya tetap sama Pak, sodorin amplop.”

“Hmmm, cukup rumit.”

Aku tidak menunggu dipersilakan lagi, kuminum lagi air putih tadi beberapa teguk, dan kembali bicara.

“Belum lagi kalau dekat hari raya, preman dan oknum instansi pemerintah itu juga minta THR.”

“Hmmm, rumit.”

Kami berdua diam cukup lama. Aku lihat dia termenung dan berpikir keras.

Akhirnya Bapak Presiden membuka pemberbicaraan.

Okay Mam, informasi yang bagus dari kamu. Apa yang perlu saya bantu? Apa kamu perlu referensi saya untuk mengambil pinjaman di bank?”

“Oh, terima kasih Pak, tapi rasanya saya tidak perlu itu.”

Okay, bagaimana kalau saya tawarkan bantuan pemerintah bentuknya modal yang tidak perlu kamu kembalikan.”

“Wah, sekali lagi itu juga tidak perlu Pak.”

“Kamu butuh mesin apa untuk meningkatkan produksi usahamu, saya akan pesankan buat kamu, gratis, hibah dari pemerintah.”

“Tidak perlu pak, terima kasih banyak untuk niat Bapak yang mulia ini.”

“Jadi kamu perlu apa?”

“Maaf Pak, saya hanya butuh satu..”

Belum selesai aku bicara Pak Presiden memotong kalimatku karena tidak sabar.

“Apa itu kakatan Mam?”

“Jangan ganggu kami Pak”

***

Anak-Anak Berbakat

Saat itu aku sedang berkumpul bersama ibu-ibu yang lain di sebuah halaman sekolah taman kanak-kanak. Anak-anak kami baru saja selesai keluar dari kelas masing-masing. Kami ibu-ibu belum selesai dengan urusan kami, ngerumpi, jadi kami biarkan anak-anak bermain di lapangan sekolah.

“Stephen! Ayo sini kita harus pulang, kamu kan ada les nanti!” Teriak salah satu ibu.

Dia memanggil anaknya, Stephen. Anak ini luar biasa cerdas dalam hal bahasa. Usianya masih empat tahun, tapi sudah bisa bicara beberapa bahasa internasional. Bahasa Inggris sih bukan hal yang aneh, itu sudah menjadi semacam standar. Stephen malah bisa bahasa-bahasa lain seperti: Spanyol, Perancis, Mandarin dan Jepang. Pernah kemampuannya didemonstrasikan kepada kami, dan ini membuat ibu-ibu yang lain terkagum-kagum. Memang selain Bahasa Inggris, tidak satu pun di antara kami yang menguasai bahasa-bahasa yang Stephen kuasai. Tapi tetap ketika Stephen mendemonstrasikan kemampuannya kami mendengar dia begitu fasih dalam berbicara dalam bahasa-bahasa itu. Tak pelak decak kagum pun terlontar dari mulut kami masing-masing.

Stephen, are you finished yet? We have to go now. Remember your French class son?” Sang ibu kembali memanggil Stephen untuk kedua kalinya. Kali ini menggunakan Bahasa Inggris.

Stephen sagera datang.

“I’m sorry mom, we can go now,” Stephen menjawab. Pelafalan kalimatnya sungguh luar biasa, atau dalam istilah bahasa sering disebut native speaking. Lain dengan sang ibu yang walau berbahasa Inggris tetap terlihat dialek medok Jawanya.

“Jeng, saya pergi dulu ya, ada les Inggris nih, sore juga ada les Perancis lagi. Sampai ketemua besok.” Temanku berpamitan.

Ibu-ibu yang tersisa masih asyik mengobrol, sementara anak-anak kami masih asyik bermain di lapangan.

“Anaknya ikut kursus apa Jeng?” Tanya salah satu ibu.

“Ah belum serius Mbak. Untuk kegiatan di luar sekolah paling sekarang hanya berenang, itu juga bukan kursus, hanya have fun dengan keluarga saja di akhir pekan, atau sekedar jalan-jalan ke luar kota, ke tempat yang udaranya masih fresh,” Jawabku.

Ibu yang bertanya tadi adalah orang tua dari Aurel. Anak perempuan yang cerdas dalam soal matematika. Orangtuanya memasukkan Aurel ke sekolah mental aritmatika, sehingga Aurel bisa menghitung dengan sangat cepat. Pernah kami memberi beberapa soal perkalian yang cukup rumit, Aurel bisa menjawabnya dengan cepat tanpa bantuan kalkulator maupun kertas untuk menghitung. Aurel juga memiliki keahlian lain yang cukup mencengangkan, dia bisa menulis dengan baik menggunakan tangan kanan maupun tangan kirinya. Bahkan untuk hal ini kami pernah ditunjukkan keahliannya, dia bisa menulis beberapa kalimat dengan tangan kiri dan tangan kanan secara bersamaan. Kalimat yang ditulis dengan tangan kiri berbeda dengan kalimat yang ditulis dengan tangan kanan. Sungguh mencengangkan.

“Mari Jeng, saya duluan, Aurel masih harus pergi ke les,” katanya padaku berpamitan.

“Oh, hati-hati di jalan Mbak,” aku menjawab sambil mengangguk.

Satu per satu teman-temanku mulai pulang. Budi – anakku semata wayang – masih bermain dengan salah satu temannya, Jason. Jemputan untuk Jason belum datang, sehingga kuputuskan membiarkan Budi menemani Jason sampai jemputannya datang.

Jason ini juga anak yang berbakat. Dia menguasai lima alat musik, mulai dari piano, flute, biola, drum dan gitar. Setiap hari Jason harus berlatih kelima alat musik ini, entah datang ke tempat kursus atau sengaja didatangkan guru ke rumahnya. Sodorkan sebuah partitur dalam not balok pada Jason, dengan mudah dia dapat menguasainya.

Jemputan Jason sudah datang, Budi segera menghampiriku dan kami pun pulang.

*

Percakapan di tempat tidur.

“Kang, aku kok minder ya sama ibu-ibu yang lain kalau jemput Budi ke sekolah?” Aku mengadu pada suamiku.

“Kenapa sih?” Katanya sedikit kesal.

“Tuh Si Stephen, dia bisa bahasa macem-macem. Inggris-nya sih udah pasti bagus, jangan ditanya lagi. Selain itu dia juga bisa bahasa asing yang lain Kang, contohnya: Spanyol, Perancis, Jepang, Mandarin.”

“Lalu kenapa?”

“Kamu ini tidak peka ya Kang!”

“Loh kok nyalahin aku sih? Aku dulu bahkan dulu sebelum masuk SD, Bahasa Indonesia saja belum lancar, bisanya ya Bahasa Sunda. Sekarang bisa juga tuh Bahasa Inggris, belajar dari SMP. Emangnya anak kecil mau nulis proposal pakai Bahasa Inggris Neng? Apalagi bahasa Spanyol, hahahaha.”

“Kamu itu Kang nggak ngerasain sih mindernya aku. Belum lagi ada anak perempuan nih, namanya Aurel. Masih TK juga sama kayak Si Budi anak kita, tapi hitungan matematikanya luar biasa Kang, sama dengan kalkulator.”

“Ya tinggal beli kalkulator saja Neng, yang made in china kan murah?”

“Ah Si Akang, nih ada lagi nih, Si Jason. Aduh, main musiknya juga sangat hebat, bisa empat atau lima alat musik Kang.”

“Aduh hebat itu Si Jason, mau konser dimana dia ya?”

“Kang serius atuh!”

“Saya juga serius ini Neng, dua rius malahan,” suamiku menjawab. Dari tadi dia tidak pernah serius menanggapi keluhanku, aku sedikit kesal.

“Aduh Si Akang, sepertinya tidak perhatian sekali sih dengan nasib Budi?”

“Nasib Si Budi atau nasib kamu Neng?”

“Kok nasib aku Kang?”

“Iya, Si Budi sih tidak pernah mengeluh kok soal dia tertinggal dengan anak-anak yang lain. Lagipula kan dia masih TK, singkatan dari apa TK coba Neng?”

“Taman Kanak-Kanak.”

“Nah itu kamu tahu, kan ada lagunya.”

Tempat bermain, berteman banyak

Itulah taman kami taman kanak-kanak

“Idih si Akang, malahan nyanyi dia mah.”

“Iya itu kan lagunya kamu juga tahu. TK itu tempat bermain dan berteman, tapi malahan kamu pakai minder segala dengan teman-teman Si Budi yang bisa macam-macam begitu. Si Budi juga hebat kan, dia sudah bisa baca sekarang, saya dulu masuk SD saja belum bisa baca.”

“Iya sih.”

“Anak TK sekarang harus bisa baca, hebat euy, saya sebenarnya kurang setuju, tapi buktinya Si Budi bisa mengikuti. Berarti dia mampu bersaing.”

“Iya tapi apa kamu tidak ngiri Kang?”

“Ngiri apa?”

“Ngiri sama kemampuan teman-teman Si Budi yang jauh di atas Si Budi.”

“Apa Si Budi minder Neng?”

“Tidak sih.”

“Nah berarti kamu yang minder Neng, kamu saja sok yang ikut les, mau apa? Les Perancis, Spanyol, Kumon atau les musik seperti biola gitu Neng?”

“Ih Si Akang malah nyuruh saya yang les, kita kan sedang bicarain soal anak kita, Budi.”

“Habis kan yang minder kamu bukan Budi.”

“Tapi Kang, saya khawatir nanti Budi tertinggal.”

“Tidak akan Neng, hidup anak kita masih panjang. Si Budi itu masih empat tahun, kayak nggak ada waktu saja untuk belajar sih? Daya serap manusia sampai usia belasan bahkan di atas dua puluh tahun masih cukup tinggi, yang penting sekarang tanamkan kemauan saja. Nanti takutnya kalau dari sekarang kita cekokin, dia bisa bosan, jadinya nanti antiklimaks.”

“Alah si Akang bahasanya tinggi euy pakai antiklimaks segala.”

“Eh Neng, ini serius.”

“Iya saya juga serius, dua rius malahan,” kubalikkan perkataannya tadi. Suamiku tersenyum dan mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Ya sudah besok tanya anak kita, dia mau les apa? Kalau sesuai keinginan dia saya setuju untuk kita ikutkan dia les, tapi tetap saya tidak mau kalau nanti Si Budi dikasih target yang terlalu membuat dia stress.”

“Iya Kang, coba saya tanya dulu, saya ngiri tuh sama ana-anak berbakat itu.”

“Berbakat? Anak berbakat atau anak sirkus?”

Aku terdiam. Kata-kata terakhir suamiku begitu skeptis, tapi mengena. Memang sebenarnya apa gunanya mampu berbagai macam bahasa, menghitung cepat atau bisa berbagai macam alat musik dalam usia yang terlalu dini, kalau toh si anak terpaksa melakukannya. Toh kalau memang dia punya minat nanti dia pasti mendalaminya, asal diarahkan tentunya.

Benar juga kata suamiku tadi, walau dalam percakapan kami tadi suamiku banyak bercanda, tapi inti yang dia sampaikan akhirnya bisa aku terima.

“Bener juga ya Kang.”

“Aduh, kirain sudah tidur kamu Neng. Sudah dulu ah Neng, kita tidur saja ya?” Keluhnya setengah tertidur.

***

Pertemuan Keluarga

Keluarga kami cukup disegani karena profesi kami, yaitu: pencopet.

Ya benar, pencopet. Ayahku bisa dibilang god father untuk kelompok pencopet ini, dia paling dituakan di sini. Kami tidak sembarangan dalam merekrut orang. Bisa dibilang hanya orang yang mempunyai pertalian keluarga baik itu secara darah maupun perkawinan yang bisa masuk dalam kelompok kami.

Kami saling melindungi satu sama lain. Apabila ada anggota kami yang ditangkap, itu adalah kesusahan semua anggota kelompok. Semua harus berusaha untuk menebus mereka keluar dari bui. Oleh karena itu kami memiliki uang kas yang bisa dijadikan dana untuk hal ini.

Orang yang tertangkap pun tidak boleh seenaknya, bila berulang-ulang tertangkap dia bisa dicap tidak berbakat dan dikeluarkan dari perkumpulan. Atau bekerja di bagian administrasi, mengurus uang kas dan pengelolaan administrasi lainnya seperti KTP. Hampir semua dari kami memiliki lebih dari dua KTP.

Aku baru bergabung sekitar dua tahun terakhir di lapangan. Sebelumnya bahkan aku tinggal di desa, tiga tahun yang lalu aku datang ke ibu kota menyusul bapak. Setelah melalui satu tahun masa training aku akhirnya boleh terjun ke lapangan.

Awalnya aku bahkan hanya menjadi asisten. Misalnya bila kelompok kecil – biasanya terdiri atas tiga atau empat orang – sedang beraksi di angkutan umum. Fungsiku dulu hanya sebagai pengamat atau penjaga pintu. Orang yang beroperasi dekat dengan target biasanya orang yang sudah berpengalaman, dan segera mengestafetkan hasil copetannya bila memang aksinya dicurigai. Awalnya aku ada di titik terakhir, dekat dengan pintu, untuk menerima hasil copetan dari orang yang beroperasi langsung pada target.

Terus terang setelah aku bergabung ke ibu kota aku baru tahu bahwa bapak adalah pemimpin kelompok pencopet yang anggotanya adalah keluargaku juga. Mulai dari paman-pamanku, abang dan sepupu-sepupuku.

Sebelumnya aku hanya heran, setiap kali aku meminta dikirim barang keperluan atau keinginanku, bapak selalu mengirim barang-barang bekas. Memang kondisinya masih baik, tetap saja aku tahu itu barang bekas.

Aku pernah minta dompet, jam tangan, handphone, bapak selalu saja mengirimkannya, hanya semua adalah barang second. Sampai suatu hari aku ingat, aku meminta ikat pinggang. Lama bapak tidak mengirimkannya, seminggu kemudian dia mengirim uang lewat wesel dengan pesan:

Anakku sayang, kau beli saja ikat pinggang yang kau mau. Ini bapak kirim uangnya.

Saat itu aku heran, tidak biasanya bapak mengirimkan uang untuk aku dapat membeli kebutuhanku. Tapi sekarang aku sudah tahu apa alasannya, ternyata semua barang yang aku terima sebelumnya adalah barang-barang hasil mencopet, dan aku akui sekarang: memang sulit sekali untuk mencopet ikat pinggang, dan resikonya sangat tinggi dibanding dengan nilai yang didapat.

*

Ini hari yang besar, karena keluarga besar kami mengadakan pertemuan. Semua anggota keluarga terutama yang sudah berumur di atas tujuh belas tahun diwajibkan hadir, kecuali memang ada yang berhalangan.

Acara diadakan di rumah kami, karena memang bapak yang memprakarsai acara ini. Ini adalah pertama kali semua anggota berkumpul secara resmi. Setelah sekian lama kami beroperasi di ibu kota.

Hari ini aku dipercaya bertindak sebagai penerima tamu karena aku termasuk yang termuda. Tidak terlalu formal fungsi dari penerima tamu ini, hanya sekedar berbasa-basi ketika ada tamu yang datang.

Gandhi – kakakku usianya dua tahun lebih tua dariku – hanya duduk saja di sudut ruangan. Maklum minggu yang lalu dia baru tertangkap tangan saat melakukan aksi. Hampir saja dia habis dihajar massa. Badan dan mukannya lebam akibat hajaran massa. Untung polisi datang cepat, meyelamatkan Gandhi dari amuk massa. Bapak baru menebus dia tiga hari yang lalu. Hari ini badannya masih terasa sakit-sakit, dia kurang semangat mengikuti acara hari ini.

Bapak banyak tidak suka dengan gaya Gandhi berakasi. Belakangan dia sangat malas beraksi, mungkin karena dia merasa dirinya kurang berbakat. Gandhi banyak melakukan aksi kurang menantang. Pernah dia berjalan kaki dari Bekasi ke Tangerang, melintasi Jakarta. Setiap ada warung atau kios dia mampir hanya untuk pura-pura menanya alamat atau meminjam korek api untuk menyalakan korek. Tapi tangan lainnya beraksi entah meraih sebungkus permen, shampo atau kopi sachet, atau apapun yang bisa disabet.

Sambil berjalan, Gandhi terus mengumpulkan hasilnya ke dalam tasnya. Dia bisa jual itu di warung atau kios berikutnya yang dijumpainya, atau sekedar dikumpulkan untuk dijual ke penadah nantinya.

Bapak kurang suka cara ini karena resiko digebukin massa tetap ada, tapi hasilnya tidak seberapa. Walau memang disaat buntu pikiran, melalukan teknik Gandhi cukup menghibur dengan resiko yang relatif lebih kecil daripada beraksi di kendaraan umum, terminal atau tempat keramaian lain.

“Hai, Edhi,” sapa seorang laki-laki yang baru datang padaku.

“Hallo Paman,” sapaku.

Kami berpelukan, tak lama, karena aku segera juga harus bersalaman dengan istri dari laki-laki itu dan kedua anaknya yang keduanya masih duduk di bangku SD.

Paman Welly – adik bapak satu-satunya, terpaut lima tahun lebih muda dari bapak, anggota yang lain hanyalah sepupu bapak – baru saja datang. Bisa dibilang dia tangan kanan bapak. Lain dengan bapak, Paman Welly masih aktif di lapangan, dan setiap anggota baru dalam kelompok kami terlebih dahulu dilatih oleh paman.

Paman Welly lah yang menciptakan semacam standar baik itu personel dan strategi. Dari sisi personel, Paman Welly yang menentukan standar pelatihan dan kelaikan seseorang sudah bisa terjun ke lapangan atau tidak. Dari sisi strategi, Paman Welly yang menentukan standar kode tangan, lirikan, dan lain-lain. Karena sering kali dalam operasi di lapangan sama sekali kami tidak boleh berbicara sama sekali.

Paman Welly juga mengajarkan cara-cara melindungi kawan yang tertangkap, bagaiman kita berpura-pura ikut memukuli – pura-pura tentunya – lalu menyeret kawan kita jauh-jauh dari amuk massa untuk selanjutnya menghilang dari massa. Atau bagaimana kita bisa berpura-pura sebagai petugas polisi yang tidak menggunakan seragam, pura-pura mengamankan tersangka, padahal membawanya kabur.

Bapak – umurnya sudah lima puluh tahun – datang menhampiri kami, dia mengajak Paman Welly dan keluarga untuk masuk ke ruang tengah.

Bapak hanya bekerja di belakang  meja. Tapi tetap soal kemajuan kelompok ada di tangan Bapak. Bapak juga mengatur jatah pada polisi, menjaga hubungan dengan pihak yang berwajib untuk kelancaran hidup kelompok kami. Ini jelas perlu karena saat salah satu dari kami tertangkap tentu harus ada yang mengurusnya ke pihak yang berwajib agar bisa dilepaskan sesegera mungkin.

Bapak juga yang menentukan prinsip dari kelompok kami, bahwa kami adalah pencopet tidak lebih dari itu. Kami bukan kelompok perampok yang mencederai bahkan membunuh orang. Kami bukan penodong yang mengancam orang. Kami murni pencopet yang mencuri secara diam-diam, dan bila ada yang mengetahui aksi kami, kami lari atau bersandiwara untuk meloloskan diri.

Maka dari itu kami dilarang membawa senjata tajam dalam semua aksi kami di lapangan. Bilapun membawa kami hanya membawa replica-nya saja, hanya digunakan untuk menakut-nakuti, itu pun saat kami dalam keadaan terdesak.

Satu semboyan yang bapak terapkan adalah “Mau apa tinggal ambil”. Bapak sering menjelaskan bahwa mencopet bukan hanya uang, tapi bisa juga barang-barang lain. Kalau kita mau jam ya tinggal ambil, mau topi yang tinggal ambil, butuh handphone ya tinggal ambil. Bahkan aku sendiri mengalaminya, untuk barang-barang kebutuhan sehari-hari yang kecil seperti sabun, sikat gigi, dan lain-lain, kami tidak pernah membeli. Kami hanya akan membeli barang-barang yang sulit untuk dicuri, seperti sayuran, ikan, beras, dan lain-lain.

*

Satau per satu tamu berdatangan ke rumah kami. Sampai waktunya semua anggota kelompok sudah datang. Acara pun dimulai. Sebelumnya anggota keluarga yang belum cukup umur dan para wanita berkumpul di halaman belakang agar tidak mendengar percakapan kami yang memang kurang layak didengar oleh anak-anak.

Bapak memberi sambutan.

“Selamat sore teman-teman semua.”

Suara bapak disambut oleh tepukan hangat semua yang hadir. Jumlahnya ada lima puluh orang. Semua memiliki talian persaudaraan dengan kami.

“Ada beberapa hal yang akan kita bicarakan hari ini. Terlalu membosankan kalau saya terlalu panjang berbicara hari ini, jadi saya jamin ini tidak akan memakan waktu lama.”

“Pertama. Saya ingin katakan mengapa saya mengumpulkan semua kita di tempat ini berikut anggota keluarga masing-masing. Saya ingin kita semua mengenal satu sama lain termasuk anggota keluarga, istri dan anak kita. Saya tidak mau mendengar di lapangan, salah satu dari kita menjadikan anggota keluarga sendiri sebagai target operasi kita. Oleh karena itu kenali masing-masing anggota kita dan keluarganya. Paham?”

Semua yang datang hanya manggut-manggut.

“Kedua. Saya ingin katakan bahwa karena kelompok yang semakin besar maka kita akan memperluas jaringan kita ke kota lain, yaitu Bandung. Oleh karena itu Welly akan saya tugaskan untuk membuka jaringan di kota itu. Dia akan membawa sepuluh orang dari kalian untuk di bawa ke Bandung. Nanti Welly akan pilih sendiri anggota-anggotanya, jadi tidak perlu panjang lebar saya jelaskan di pertemuan ini. Nanti kalian bosan, lalu tertidur, dompet kalian bisa-bisa hilang saya buat.”

Kata-kata bapak terakhir memancing tawa semua yang hadir.

“Ketiga. Saya mengumumkan bahwa kelompok ini akan membuat usaha yang legal. Kita mempunyai uang kas yang cukup. Tadinya digunakan untuk kebutuhan darurat untuk menjamin anggota yang tertangkap. Tapi karena belakangan kalian sudah semakin lihai, jarang sekali diantara kita yang tertangkap. Oleh karena itu saya akan gunakan uang ini untuk mendirikan sebuah rumah makan. Keuntungan dari rumah makan ini akan kita bagi bersama dan laporannya dilakukan secara terbuka.”

Semua yang hadir menyambut dengan tepuk tangan gagasan bapak tersebut.

“Apa ada diantara kita semua yang terus menerus mau menjadi pencopet?”

Semua menggeleng.

“Nah oleh karena itu gagasan ini harus didukung supaya berhasil. Nantinya akan ada usaha-usaha lain  yang akan kita bentuk, untuk kemajuan bersama.”

“Baiklah, saya sudah bosan bicara di sini, apalagi yang mendengarkan saya bicara, pasti lebih bosan lagi. Silakan kalian bicara-bicara satu sama lain, bertukar pikiran mengenai teknik masing-masing dan pengalaman di lapangan dan silakan bergabung dengan keluarga di halaman belakang. Hidangan sudah disediakan.”

*

Semua kami membaur dalam suatu acara informal. Organ tunggal juga sudah disiapkan, ada yang menyanyi, anak-anak berlarian kesana kemari, ibu-ibu cekikikan sambil tidak henti-hentinya memakan cemilan.

Suasana kekeluargaan begitu terasa, sehingga tidak terasa hari sudah cukup larut. Sebelum bubar kembali bapak ingin semua berkumpul di ruangan.

“Apakah kalian menikmati acara ini?”

Semua menjawab, tidak beraturan, tapi intinya semua menyatakan bahwa mereka menikmati acara hari ini.

“Tapi ada satu aturan yang kalian langgar. Saya mau sesama kita tidak saling menjadikan target. Kalian meremehkan saya. Walau saya sudah lama tidak beroperasi di lapangan, tapi mata saya masih sangat jeli mengamati semua kalian tadi. Untuk kali ini saja saya maafkan.”

Semua hanya menggeleng.

“Coba cek kantong belakang masing-masing.”

Semua memeriksa kantong belakang masing-masing, termasuk aku. Dompetku masih ada di kantong belakang.

“Apa masih ada dompetnya di kantong masing-masing?”

Semua menggangguk.

“Coba ambil dompet kalian dan periksa.”

Aku ambil dompetku, aku periksa, ini bukan dompetku. Ternyata semua sudah tertukar. Memang sudah refleks, susah dihilangkan.

***