Arti Perbedaan

Suatu hari aku sedang makan siang di sebuah mal di bilangan Senayan, Jakarta.

Aku sedang menunggu temanku yang belum juga datang, sampai mataku terpaku pada seorang tokoh yang tidak asing dimataku, dia sering tampil di televisi belakangan ini. Tampaknya dia baru saja menyelesaikan makan siangnya.

Kuberanikan diri untuk menghampirinya.

“Mas boleh gabung?” Aku bertanya.

“Boleh, silakan,” dia menjawab. Awalnya seperti agak ragu, tapi dia mencoba untuk ramah padaku.

Aku segera duduk dan lanjut bicara, “Saya tahu Mas, sering bicara soal pluralisme di televisi dan koran kan?”

“Anda wartawan?” Katanya.

“Bukan hanya orang biasa.”

“Ohh.”

“Saya hanya terkesan dengan Mas saja.”

“Ohh, terima kasih.”

“Mas sedang tidak sibuk kan? Saya hanya ingin ngobrol-ngobrol saja.”

“Boleh, tapi anda bukan wartawan kan?”

“Bukan Mas. Kenapa sih Mas getol membela pluralisme?”

“Keanekaragaman kan memang sudah ada dalam semboyan negara kita, bhineka tunggal ika, berbeda-beda tapi satu jua. Saya kira sejak SD kita belajar itu.”

“Iya benar juga sih, tapi sepertinya kalau soal pluralisme kok ya Mas sudah menjadi icon-nya. Bahkan sudah dibilang the new Gus Dur.”

“Hahahaha,” orang itu tertawa, mengambil seteguk minum dan melanjutkan bicara, “Itu kan hanya istilah yang dibuat oleh media saja. Media kan senang membesar-besarkan.”

“Media senang membesar-besarkan, karena banyak orang suka dibesar-besarkan. Di sisi lain banyak juga orang yang senang melihat, mendengar atau membaca hal-hal yang dibesar-besarkan.”

“Bicara anda seperti wartawan, yakin anda bukan wartawan?” Sepertinya orang ini tidak percaya padaku.

“Benar Mas, saya hanya orang yang kebetulan saja mampir di tempat ini untuk makan siang, dan kebetulan sok akrab untuk menyapa mas.”

Dia Isabella lambang cinta yang lara

Terpisah karena adat yang berbeza

“Hallo, ya.”

Diam sejenak.

“Oh okay dua jam lagi saya sampai di kantor, kita ngobrol-ngobrol nanti, lewat telepon kurang afdol.”

Diam sejenak.

Okay see you.”

“Maaf tadi angkat telepon dulu, sampai dimana kita tadi?” Katanya padaku.

“Oh, soal saya yang sok akrab mas. By the way, ring tone-nya oke juga tuh Mas.”

“Oh, hahahaha. Kamu memperhatikan juga. Itu kan lagu tentang pluralisme, cinta yang terpisah karena perbedaan adat, how silly.”

“Benar juga tuh Mas, tragis ya untuk hal yang sepele saja harus mengorbankan cinta.”

“Betul, padahal banyak di dunia ini yang bisa tarik menarik kalau ada perbedaan.”

“Pendapat yang menarik Mas, contohnya apa?”

“Misalnya kutub magnet, U dan S, kutub yang sama akan saling bertolakan, tapi kutub yang berbeda akan saling tarik-menarik dengan sangat kuatnya.”

“Hahaha, good point¸ apalagi tuh Mas contoh lainnya?”

“Kok anda tanya-tanya udah mirip wartawan?”

“Maaf Mas, kalau Mas sedang sibuk atau ada keperluan sih nggak apa-apa silakan dilanjut saja acaranya.”

“Tidak kok, maaf ya, saya lanjut. Contoh lain adalah masalah cinta. Normalnya manusia tertarik kepada lawan jenis, jenis yang berbeda. Memang sekarang sudah banyak juga cinta sesama jenis, tapi tetap ini dianggap tidak normal, walau itu hak masing-masing pribadi.”

“Saya semakin tertarik dengan pola pikir Mas.”

“Anda tahu pelangi?”

“Tahu.”

“Kapan dia muncul?”

“Saat setelah hujan.”

“Tapi tidak sehabis semua hujan dia muncul. Pelangi muncul bila sehabis hujan, masih ada rintiknya sedikit dan saat bersamaan sinar matahari menerpa titik hujan itu. Sinar matahari akan terbias oleh titik hujan dan terbentuk spektrum warna yang indah. Tau sejarahnya berdasarkan agama?”

“Apa tuh Mas?”

“Tau kisah Nabi Nuh?”

“Ya kurang lebih tahu Mas.”

“Usai air bah diturunkan, muncul pelangi. Itu suatu perlambang dari berhentinya sebuah bencana besar, sekaligus janji bahwa bencana seperti itu tidak akan turun lagi selama kita melihat pelangi. Pelangi adalah sebuah janji dan harapan.”

“Oh, begitu agung ya Mas.”

“Ya, dan spektrum warna yang indah itu selalu hidup berdampingan. Seharusnya kita juga begitu, warna kita bisa beda dari segi apapun. Agama, ras, bahasa, ideologi politik, apapun itu. Hidup berdampingan pasti jauh lebih indah.”

Aku manggut-manggut, “Filosofi yang keren Mas.”

Dia Isabella lambang cinta yang lara

Terpisah ka..

“Ya, hallo.”

Diam sejenak.

Okay saya jalan segera ke tempatmu.”

“Maaf Mas, saya harus pergi duluan, sudah ditunggu nih.” Katanya padaku.

“Okay Mas.”

“Ini kartu nama saya, SMS atau BBM ya habis ini atau follow di Twitter saya, hahaha.”

“Oh, hahaha, baik Mas, hati-hati di jalan.”

“Tapi anda benar kan bukan wartawan?”

“Bukan Mas, yakin deh. Memangnya kalau saya wartawan kenapa Mas?”

“Kalau situ wartawan saya ya minta fee untuk wawancara ini, hahaha. Okay see you.”

Orang itu segera berlalu.

*

Aku sedang memegang kartu nama yang baru saja aku terima tadi sampai ada suara yang mengagetkanku.

“Hey!!”

“Aduh, kaget aku, ternyata kamu, lama banget sih?”

“Iya sorry agak macet tadi. Bosen ya nunggu?”

“Nggak juga kok, untung tadi ada orang yang aku ajak bicara di sini. Dia kasih kartu nama lagi, nih kartu namanya,” kataku sambil menyodorkan kartu nama itu pada temanku.

Dia mengambilnya, lalu berkomentar, “Oh, ini kan tokoh pluralisme, the new Gus Dur. Ngobrolin apa saja sama dia?”

“Banyak, dari mulai pluralisme, magnet, ring tone, homoseksual, pelangi, kisah Nabi Nuh,” tiba-tiba aku diam, tidak menyelesaikan kalimatku.

“Lalu apa lagi, kok tiba-tiba diam?” Temanku itu mulai penasaran.

“Aku baru ingat, kamu kan wartawan?”

“Iya aku memang wartawan, memangnya kenapa?”

“Mulai sekarang aku harus minta fee untuk setiap wawancara dengan kamu.”

***

Advertisements

Jane Doe

Seorang gadis ditemukan tewas di kamar kos di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan. Gadis itu tewas dengan leher lebam dan empat tusukan di sekitar dada.

Demikian pemberitaan pada halaman kiriminal sebuah koran ibu kota hari ini. Korban tidak memiliki identitas, penyidikan dan pemyelidikan sedang dikembangkan dan polisi sudah mendapat dua orang yang kemungkinan akan diberikan status tersangka pada kasus ini.

*

Interograsi orang pertama.

“Langsung saja pada inti permasalahan, jangan bertele-tele. Malam itu ada yang melihat kamu datang ke kos-kosan korban. Lalu kamu masuk ke kamar korban,” kata petugas pertama.

“Bagaimana kamu bisa melakukannya? Semua keterangan akan direkam. Perkenalkan dirimu, hubungan dengan korban, sejak kapan kalian berkenalan dan ceritakan kejadian di rumah kos korban malam itu,” ujar petugas kedua.

“Nama saya Jemmy, umur saya 25 tahun.”

“Gladys, demikian saya mengenal gadis itu. Dia adalah pacar saya, demikian kalau boleh dibilang begitu, setidaknya dalam tiga tahun belakangan saya sudah sering tidur dengannya.”

“Kami berkenalan di Starbuck dekat Sarinah Thamrin, tiga tahun yang lalu. Saya baru saja selesai dari lembur hari itu, karena mengejar target untuk menyelesaikan proposal yang harus dipresentasikan keesokan harinya.”

“Sudah lewat tengah malam, dia baru saja datang, sedangkan saya sudah lebih dulu ada di coffee shop itu, tengah menikmati secangkir black coffee.”

“Sesaat ingin membayar dia sepertinya sibuk mencari-cari dompet dalam tasnya. Saya hampiri dia, dia tampaknya memang kehilangan dompetnya, tidak bisa membayar minuman yang sudah dia pesan. Saya tawarkan untuk membayari dia kopi malam itu dan dia setuju. Itu lah awal saya dan dia berkenalan”

Petugas pertama tidak sabar, “Okay saya tidak tertarik dengan cerita asmara kalian. Saya simpulkan kalian akhirnya pacaran. Lalu loncat ke malam saat kejadian. Jam berapa kamu tiba di lokasi?”

“Sekitar jam sepuluh malam, mungkin kurang lima menit pak. Karena saya biasa mempercepat jam saya.”

“Dengan apa kamu bisa masuk?” Tanya petugas kedua.

“Sudah setahun saya pegang kunci duplikat kamar kosnya.”

“Lanjut.,” kata petugas pertama.

“Saat saya masuk ke kamar kosnya, dia sedang tidur, saya langsung cekik lehernya, dan tutup mukanya dengan bantal. Dia tidak meronta sama sekali, apa mungkin tenaga saya yang luar biasa hebat? Saya memang rajin fitness sih.”

“Saat saya keluar saya melihat ada orang baru akan naik ke lantai dua, tempat kamar Gladys berada. Saya pura-pura menyanyi seperti orang mabuk saja.”

“Begitu sampai bawah saya langsung menuju mobil saya dan segera pergi.”

“Jadi anda mengaku bahwa anda yang membunuh Gladys?” Kata petugas pertama.

“Iya Pak.”

“Apa motifnya?” Tanya yang lain.

“Ternyata dia punya pacar yang lain. Sedangkan selama ini saya sudah menanggung hidup dia dan keluarga dia.”

*

Interograsi orang kedua.

“Ada orang yang melihat kamu datang ke kamar kos malam itu, coba kamu ceritakan!” Petugas pertama memberi perintah.

Berlum sempat dijawab, suara lain langsung saja nimbrung, “Bagaimana kamu bisa melakukannya? Semua keterangan akan direkam. Perkenalkan dirimu, hubungan dengan korban, sejak kapan kalian berkenalan dan ceritakan kejadian di rumah kos korban malam itu,” ujar petugas kedua.”

“Nama saya Mike, umur saya 30 tahun.”

“Saya tidak mengenal korban, saya hanya tahu alamatnya dari bos saya Pak Sasongko.”

“Saya biasa mengantarkan Pak Sasongko ke kos Mbak itu.”

“Korban maksudnya?” Sambut petugas pertama.

“Iya, Mbak korban.”

“Dari Pak Sasongko saya tahu namanya Gita.”

“Sudah sekitar dua tahun terakhir, rutin seminggu sekali atau dua minggu sekali saya mengantarkan Si Bos ke kos-kosan itu. Saya biasa menunggu Si Bos di bawah sejam atau dua jam.”

“Sampai suatu hari saya melihat ada seorang laki-laki naik ke lantai dua. Dia mengintip ke kamar Si Mbak, langsung main gedor pintu kamar aja tuh orang. Si Mbak keluar dari kamar dan cekcok mulut dengan laki-laki itu.”

“Si Bos kamu gimana?” Kata petugas kedua.

“Si Bos sih nggak ikut campur.”

“Nggak lama laki-laki itu pergi. Sekitar lima menit setelah itu Si Bos juga turun dan kami pulang.”

“Saya disuruh habisin nyawa Si Mbak besoknya.”

“Jam berapa kamu datang?” Kata petugas pertama.

“Sekitar jam sepuluh lewat dikit. Saya dikasih kunci cadangan sama Si Bos. Pas saya naik saya lihat laki-laki yang kemarinnya cekcok sama Si Mbak baru turun dalam keadaan mabuk. Saya nunduk saja supaya tidak saling tukar pandang saat papasan sama dia.”

“Masuk ke kamar Si Mbak, saya langsung keluarkan pisau dan hujamkan beberapa kali pisau saya tepat ke dada Si Mbak.. Dia nggak sempat melawan karena kondisinya sedang tidur pulas.”

“Jadi anda mengaku bahwa anda yang membunuh Gita?”

“Iya Pak.”

“Apa motifnya?” Tanya yang lain.

“Saya hanya disuruh Pak Sasongko, bos saya sejak lama. Si Bos sakit hati mungkin. Saya orang setianya beliau. Tugas apapun pasti saya lakukan untuk beliau.”

*

Usai interogasi.

“Gimana nih?” Kata petugas pertama.

“Gimana apanya?” Pertugas kedua bertanya balik.

“Kita sudah wawancara dua orang, dua-duanya mengaku yang membunuh korban.”

“Ah nggak usah bingung, tinggal lempar koin saja, kita mau menjarain yang mana?”

“Semudah itu?”

“Ya semudah itu?”

“Tapi saya baru terima hasil otopsi, katanya itu cewek dalam keadaan overdosis putau saat dia dibunuh. Jadi ada kemungkinan tidak satu pun mereka yang membunuh cewek itu.”

“Kamu mau kasus ini lari ke bagian narkoba? Saya sih tidak rela, ini kasus penting bisa menarik perhatian pers. Lumayan kan nampang di TV atau koran sekali-sekali.”

Okay kalau itu alasanyanya, jadi masalahnya tinggal satu  mau pilih Jemmy atau Mike?”

“Saya sih cenderung ke Si Mike.”

“Kenapa?”

“Saya rasa Si Sasongko itu orang penting, dia lebih menarik untuk dikonsumsi pers. Kalau si Jemmy orang biasa, hanya anak muda yang putus cinta, kurang menarik menurut saya.”

“Tapi saya tidak kenal nama politikus atau pejabat sekarang dengan nama Sasongko tuh.”

“Goblok!”

“Loh?”

“Kita harus interogasi terus Si Mike, saya yakin Sasongko itu bukan nama asli. Kalau Sasongko itu ketua KPK misalnya, pasti kita jadi terkenal di pers. Atau kalau kita bisa telusuri siapa Sasongko ini dan bisa deal dengan dia lebih dulu, saya yakin kita bisa kerjain tuh Si Sasongko.”

“Peras dia maksudnya? Mirip kasus Antasari dong.”

“Tepat.”

“Kamu nggak takut masalahnya jadi panjang?”

“Semakin panjang semakin bagus, kita punya gaji tambahan rutin dari Si Sasongko.”

“Kamu terlalu berani kawan.”

“Hahaha, kartu Si Sasongko itu ada sama kita. Pejabat paling takut skandalnya terbongkar, percaya deh sama saya.”

Okay deh.”

“Jadi kamu ikut atau tidak?”

“Iya saya ikut aja deh, kamu lebih paham.”

“Nah, gitu dong.”

Serba-Serbi Pembunuhan

“Kenapa kalian akrab?”

“Memangnya kenapa? Nggak boleh ya orang akrab?”

“Boleh saja, tapi ya kok tumben-tumbenan.”

“Ya sekali-sekali kan tidak apa-apa, masak mau berantem terus, ya capek juga lah lama-lama.”

“Biasanya kan kalian berebut pacar, nggak pernah akur.”

“Oh soal itu. Kami sadar bahwa dia penyebab kami selalu bertengkar. Jadi ya kami bunuh saja.”

*

“Aku dapat kabar luar biasa tentang pacarmu.”

“Apa itu?”

“Dia selingkuh.”

“Hah, terus?”

“Kau sahabatku.”

“Ya lalu?”

“Aku seorang pembunuh bayaran.”

“Oke, lalu?”

“Kalau pacarmu selingkuh sama orang, kau boleh minta bantuan apa saja padaku.”

Okay, bunuh pacarku dan bunuh juga selingkuhannya.”

“Baiklah kalau begitu, aku akan bunuh pacarmu, habis itu aku akan bunuh diri.”

*

Negara dinyatakan dalam keadaan darurat. Tadi malam terjadi pembunuhan terhadap presiden. Pelakunya sudah diketahui tapi sama sekali tidak dapat dijerat oleh hukum.

“Kamu baca berita di koran hari ini tidak?”

“Tentang apa? Berita di koran kan banyak.”

“Itu tentang pembunuhan presiden kita. Kok pelakunya tidak bisa dijerat hukum ya? Pembunuh presiden saja susah dijerat hukum, bagaimana dengan nasib kita-kita?”

“Oh itu, permasalahannya sederhana. Dia bunuh diri. Makanya kalalu baca berita jangan sepotong-sepotong.”

*

Suatu hari di sebuah sel penjara tahanan politik.

“Apa kejahatanmu?”

“Aku sebenarnya tidak jahat, aku hanya tukang kritik presiden.  Aku paling bisa cari-cari kesalahan pemerintah terutama presiden. Itu sebabnya mereka cari-cari kesalahanku.”

“Oh, jadi kamu tidak tahu kesalahanmu apa?”

“Sama sekali tidak tahu, mereka hanya cari-cari kesalahanku saja.”

“Memang, pemerintah kita mengada-ada sih.”

“Kamu sendiri apa kesalahanmu?”

“Bayangkan aku hanya membunuh seekor cicak.”

“Hah, kok bisa?”

“Ya aku pukul cicak yang ada di jidat presiden pakai balok kayu waktu itu.”

*

“Pak membunuh itu dosa ya?”

“Iya Nak.”

“Berzinah juga ya?”

“Iya dua-duanya dosa.”

“Apa semua orang tahu itu dosa Pak?”

“Iya sepertinya.”

“Lalu kenapa masih banyak yang melakukannya, kalau tahu itu dosa?”

“Bapak tidak terlalu mengerti Nak, mungkin ada beberapa orang yang ketagihan hal seperti itu.”

“Memang membunuh dan berzinah bisa bikin ketagihan ya Pak?”

“Sepertinya iya, banyak persamaannya kok.”

“Kalau pembunuh bayaran itu apa Pak?”

“Itu mirip kayak WTS atau PSK, mereka dibayar untuk berzinah.”

“Kalau genocide itu pembunuhan masal ya Pak?”

“Iya, banyak orang yang suka melakukan pesta seks juga kan?”

“Terus, kenapa orang bunuh diri pak?”

“Ya sama saja dengan kenapa banyak orang onani.”

“Pembunuhan atas nama agama dibenarkan tidak Pak?”

“Itu sama saja dengan kamu mau seks tapi nggak mau dibilang dosa.”

“Ya tinggal kawin saja kan Pak?”

“Oh kalau soal kawin itu beda lagi.”

“Apa tuh Pak?”

“Itu orang yang membunuh karena tugas. Misalnya algojo untuk hukuman mati.”

“Kalau di film-film, orang jahat mau bunuh kok pakai ditunda-tunda dulu. Banyakan ngomong, jalan mondar-mandir, bukan langsung ditembak saja ya Pak?”

“Oh, suatu saat kamu tahu yang namanya foreplay.”

“Lalu…”

“Sudah, sudah, jangan banyak tanya terus. Tidur sana! Bapak juga mau tidur dulu.”

“Mau ngapain Pak?”

“Mau menjalankan tugas.”

“Tugas apa Pak?”

“Tugas untuk bunuh Ibu kamu!”

*

Percakapan Super Absurd

“Gua heran sama lo?”

“Kenapa emang?”

“Lo kok sabar amat sih sama pacar lo itu. Gua akuin sih emang cantik, tapi juga nggak cantik-cantik amat kok. Tapi gayanya itu kurang ajar banget menurut gua. Keterlauan.”

“Lo sirik ya?”

“Bukan sirik, gua sih nggak suka teman baik gua, bisa dibilang sahabat gua deh diperlakukan seperti itu.”

“Oh jadi menurut lo gua sahabat lo? Hehehe, makasih.”

“Ah lo kalau diskusi yang fokus dong, kita bukan ngomongin soal status persahabatan kita.”

“Oke lanjut.”

“Lo dulu pernah datang sama gua, nangis-nangis bro?”

“Kapan ya, gua lupa?”

“Alah masak lupa sih, dulu itu waktu lo baru jadian sama dia. Eh ternyata ketahuan dianya masih jalan sama mantannya.”

“Hehe, sorry, jangan dibahas deh malu gua.”

“Abis itu malah lo tambah mesra tuh sama dia, malah lo beliin BlackBerry paling baru.”

“Hehe, iya bener, gua tambah sayang, malu ah.”

“Habis yang lo nangis-nangis itu, ternyata dia masih jalan tuh sama mantannya, gua beberapa kali mergokin dia.”

“Loh, kok lo nggak cerita?”

“Ah percuma paling lo juga nanti maafin dia.”

“Tapi nggak bisa gitu dong bro, lo harus cerita.”

“Iya, ini kan sekarang cerita, apa tindakan lo?”

“Apa ya?”

“Tuh kan bingung lagi, percuma kan gua udah cerita juga, nggak ada efeknya buat lo.”

“Kok jadi lo yang sewot?”

“Sewot lah!”

“Sewot kenapa?”

“Loh kok malah jadi lo yang balik tanya-tanya sama gua?”

“Emang nggak boleh?”

“Ya boleh, tapi ini kan awalnya lagi bicarain masalah lo sama pacar lo itu.”

“Oke, lanjut Gan.”

“Inget nggak waktu itu dia ke Bandung, ngakunya sama sohib-sohibnya, eh taunya malah sama cowok lain.”

“Iya gua inget.”

“Bukan mantannya lagi, cowok baru.”

“Iya gua inget, so what is the point.”

You still did not get my point bro? Why are you still with her until now?”

“Biasa aja kaleee, nggak usah pakai bahasa orang bule gitu.”

“Lo duluan yang mulai.”

“Oh iya, gua duluan yang mulai ya, hehe, sorry. Ya udah gua ulang deh. Jadi intinya apa?”

“Ya udah gua ulang juga. Kamu tidak menangkap inti yang aku maksud. Mengapa kamu masih bersamanya sampai saat ini?”

“Biasa aja kaleee, nggak usah pakai bahasa sinetron gitu.”

“Lo duluan yang mulai.”

“Oh iya, gua duluan yang mulai ya, hehe, sorry. Ya udah gua ulang deh. Jadi maksud lo apa?”

“Ya udah gua ulang juga. Lo nggak nangkep ya dari tadi maksud gua. Kenapa lo masih sama dia aja terus sampai sekarang?”

“Nah gitu kan enak, nggak usah pakai bahasa bule atau sinetron.”

Come on man, be serious for a while.”

“Tuh pakai bahasa bule lagi.”

“Ya udah, serius dikit lah.”

“Hehe, sorry, biar nggak stress bro.”

“Ya jadi apa alesannya?”

“Gua juga nggak tahu bro.”

“Lo udah disakitin berkali-kali, kenapa lo maafin terus dia?”

“Gua juga heran bro.”

“Lo juga nggak jelek-jelek amat kok bro, kaya lagi, kenapa mau berulang-ulang disakitin gitu?”

“Gua juga suka aneh sendiri bro.”

“Kayaknya lo ada sembunyiin sesuatu, atau jangan-jangan lo kepelet bro, ke orang pinter gih.”

“Ah, gua nggak percaya gitu-gituan.”

“Jadi apa dong.”

“Gua masih belum tahu sampai sekarang, tapi kayaknya ada satu yang nahan gua sama dia.”

“Apa? Soal making love?

Yes, nah itu lo tahu bro. Lebih tepatnya having sex.

“Emang cewek dia doang bro?”

“Cewek ya banyak, Ibu lo juga cewek. Lo mau gua jadi bapak tiri lo?”

“Ngawur lo bro, fokus ah.”

“Oke, hehe, sorry. Ada satu bro, entah kenapa having sex sama dia tambah lama tambah enak bro.”

“Kenapa?”

“Mungkin karena keseringan berantem kali ya? Setiap abis berantem kayaknya makin enak deh service-nya.”

“Sakit lo bro!”

“Memang sakit, kita kan lagi ngantri di rumah sakit. Lo kagak inget ya?”

Tugas Rahasia

Robert begitu bingung, minggu depan dua anaknya harus segera melunasi tunggakan uang sekolah selama tiga bulan. Mereka juga masih punya anak kecil berusia dua tahun, ditambah kondisi istrinya, Sundari, yang sedang hamil tua. Menurut perkiraan anaknya akan lahir satu bulan lagi, jelas ini akan memerlukan biaya yang tidak sedikit, apalagi kalau harus melalui operasi sesar.

Robert bekerja di sebuah kantor swasta sebagai petugas keamanan. Penghasilan satpam jelas tidak sebanding dengan apa yang dia butuhkan dalam waktu dekat ini. Desakan kebutuhan yang luar biasa ini membawa dirinya ke dalam keadaan sangat membingungkan dan cenderung mengarah ke frustasi.

*

Suatu hari Robert sedang makan siang di kantin belakang kantornya. Sampai matanya tertuju pada lelaki yang asing, setahu dia orang ini baru sekali dia lihat. Semua yang makan siang di kantin ini biasanya adalah orang-orang yang Robert kenal. Kalau bukan orang-orang satu kantornya, ya bisa juga orang-orang lain yang berkantor di gedung yang sama. Tapi orang ini benar-benar baru sekali dia lihat makan di kantin ini.

Dari segi pakaian pun, menurut Robert, orang ini terlalu necis untuk berada di kantin ini. Kantin ini kelasnya untuk orang-orang seperti dirinya, pikir Robert.

Robert terus memperhatikan lelaki itu, dia makan tepat di sebelah meja Robert. Tiba-tiba lelaki itu menoleh kearahnya, Robert segera membuang muka, takut beradu pandang dan membuat lelaki itu tersinggung. Entah kebetulan atau memang tersinggung dengan tatapan Robert lelaki itu segera pergi dari kantin tempat mereka makan.

Robert meneruskan makan, sampai dia sadar bahwa ada amplop tertinggal di meja tempat lelaki itu makan tadi. Segera diambilnya, lalu ia berkata pada penjaga kantin.

“Pak, sebentar ya, ini amplop orang yang tadi makan di meja ini, tertinggal,” katanya sambil menunjukkan amplop itu pada si penjaga kantin.

“Oh, iya, kejar Bert, mungkin belum jauh,” jawab bapak penjaga kantin.

Karena Robert sudah sering makan di situ, Pak Parno, penjaga kanti itu, memperbolehkan Robert keluar menyusul lelaki tadi walau dia belum membayar.

Robert segera berhambur keluar kantin untuk menyusul lelaki tadi, tapi cepat sekali lelaki tadi menghilang. Dia coba mencari ke arah jalan raya, ditengoknya ke arah kiri maupun kanan, sosok lelaki tadi sudah tidak nampak lagi dari pandangannya.

Dia berpikir, apa dititipkan saja pada pemilik kantin? Robert kembali ke kantin untuk meneruskan makan siangnya.

“Gimana Bert? Sudah balik ke orangnya?” Pak Parno bertanya.

“Sudah Pak, untung saja orangnya belum jauh tadi,” Robert menjawab. Dia mengatakan bukan yang sesungguhnya. Dia ingin tahu dulu apa isi amplop yang sekarang sudah dikantonginya itu. Tak sabar Robert menyelesaikan makan siangnya.

Setelah itu segera dia pergi ke kamar kecil. Di kamar kecil tak sabar diambilnya amplop dari kantong lalu dibukanya. Ada sebuah kertas bernomor, sebuah anak kunci dan secarik kertas bertuliskan:

Ada tugas besar untukmu, bayarannya akan sangat besar. Sebelum pukul 19.00, ambil tas yang dititipkan di petugas penitipan tas di Swalayan Gelael, Tebet. Di dalam tas itu akan ada petunjuk tugas ini lebih lanjut.

Robert segera melipat lagi kertas tersebut dan dengan rapi dan dimasukkannya kembali ke dalam amplop. Dia kembali ke kantornya karena waktu istirahat memang sudah habis.

*

Usai jam kantor entah kenapa Robert tidak langsung pulang. Dia memberanikan diri untuk mengikuti petunjuk yang ada pada kertas yang didapatnya tadi siang. Dia tidak peduli bahwa sebenarnya tugas itu bukan untukknya. Pikirannya begitu buntu untuk mencari biaya untuk banyak kebutuhannya yang begitu mendesak.

Sesampainya di swalayan yang ditulis dalam kertas itu, Robert segera mencari tempat penitipan tas. Robert menghela napas panjang beberapa kali untuk memberanikan diri. Dia sebenarnya begitu ragu dan hampir memutuskan untuk mengurungkan niatnya. Segera ditepisnya keraguannya itu dengan seribu tekad untuk menghidupi keluarganya.

Robert segera menghampiri tempat penitipan tas tadi, lalu memberikan nomornya pada petugas yang sedang menjaga. Petugas juga tidak banyak bertanya, hanya mencari tas yang Robert cari, mencocokan nomor yang dia terima dengan nomor kotak dimana tas itu disimpan. Tanpa kesulitan petugas sudah menemukan tas tersebut, sebuah ransel warna hitam. Mirip dengan ransel yang biasa dipakai anak-anak sekolah.

Petugas memberikan tas tersebut kepada Robert dan Robert segera mengambilnya. Tanpa banyak bicara Robert meninggalkan tempat penitipan tas dan pergi ke area parkir swalayan itu. Segera dicarinya tempat yang cukup sepi. Dibukanya gembok tas tersebut dengan kunci yang dia terima tadi siang, ternyata kuncinya cocok. Segera setelah tas itu dibuka ada sebuah amplop di sana. Dibukanya dan didalamnya ada selembar kertas betuliskan:

Kalau kamu memang serius dengan tugas ini, segera menuju ke parkiran P2-A12. Di sana akan ada mobil dengan plat nomor B 1431 KFD. Kunci mobil ada saya sertakan dalam amplop ini.

Buka mobil itu, di dalamnya ada sebuah tas berisi pistol yang sudah terisi penuh dengan peluru. Siap untuk ditembakkan, tinggal tekan pelatuknya.

Biaya awal sebesar lima juta Rupiah saya siapkan dalam mobil itu sisanya empat puluh lima juta Rupiah lagi akan diberikan usai pelaksanaan tugas.

Bila kamu berhasil melakukan tugas ini, segera kembali ke parkiran ini, simpan tas ini dan kami sudah siapkan sisa pembayarannya untukmu.

Dalam tas akan ada sebuah ponsel, ambil tas itu. Perintah soal target dan alamat target akan kami beritahu melalui ponsel. Segera setelah ponsel itu ada padamu, hanya ada satu kontak pada phonebook-nya, kirim pesan singkat pada nomor itu, singkat saja: “sudah”.

Robert segera terduduk. Berat sekali hidup ini pikirnya, tapi belum pernah terbersit dalam pikirannya harus membunuh orang untuk mencari uang. Jumlah yang ditawarkan tidak kecil, total lima puluh juta Rupiah. Itu jumlah yang sangat besar menurut dia.

Sekitar lima menit Robert menimbang-nimbang apa yang harus dilakukannya. Mundur atau lanjut. Terbayang wajah dua anaknya yang sedang sekolah dan anaknya yang masih bayi. Wajah Sundari, yang kini sedang hamil tua, pun terlintas dalam benaknya.

Dia berpikir, lima puluh juta Rupiah, bunuh saja orang ini. Pasti target ini juga bukan orang baik-baik, jadi tidak begitu salah menghabisi nyawa orang ini. Robert memutuskan untuk pergi ke area parkir. Dia akan melakukan tugas ini, sekali dalam seumur hidup dia membunuh orang. Setelah itu punya modal lima puluh juta untuk melanjutkan hidup dengan modal yang menurutnya cukup besar ini.

Cukup lama dia mencari-cari mobil tesebut, setelah menemukannya dia membuka pintunya dengan kunci yang diberikan. Tepat di balik kemudi mobil sudah ada tas yang disiapkan. Robert coba-coba  menyalakan mesin mobil, tapi ternyata tidak bisa dinyalakan. Dia tidak berani mencoba lebih jauh bila tidak sesuai dengan instruksi.

Masih dalam mobil itu, dibukanya tas terakhir. Benar di dalamnya tersimpan sebuah pistol dan telepon genggam. Ada sebuah amplop, Robert membukanya. Di dalamnya ada segepok uang pecahan seratus ribu Rupiah. Robert tidak menghitungnya tapi ini mungkin uang lima juta yang dijanjikan.

Dia segera mengambil ponsel yang baru saja diterimanya dan mengetik “sudah” lalu mengirimnya pada satu-satunya kontak pada phonebook ponsel itu.

Sekitar dua menit Robert menunggu, ponsel tadi bergetar, sebuah pesan singkat: “Apartemen Mediterania, Tower 1, lantai 2, Kamar 209. Ada seorang laki-laki, dia tinggal sendiri. Pukul 23 biasanya dia sudah tidur. Ada kunci magnetik untuk masuk ke apartemen itu, gunakan. Gunakan Taksi untuk mencapai lokasi. Bawa kunci mobil ini tapi jangan gunakan mobilnya. Uang lima juta boleh kamu ambil”

Robert segera bergegas, pistol sudah dikantongi dalam jaket. Dia merogoh amplop tadi, memang benar di dalamnya ada kunci magnetik.

*

“Dik Sundari, aku pulang agak malam ya. Aku ada obyekan malam ini, hati-hati di rumah.” Demikian Robert menelepon dulu istrinya, Sundari, memberitahu keberadaannya saat ini.

Robert segera mengambil taksi dan meminta supir untuk mengantarkannya ke Apartemen Mediterania.

Sekitar dua jam, dia menunggu di depan apartemen, sampai kira-kira lima menit sebelum pukul 23, dia masuk ke Tower 1 Apartemen itu.

Dia sudah mencapai lobby dan mengarah ke lift. Ada petugas keamanan yang sedang mengantuk di situ. Beruntung Robert, dia tidak mempedulikan kedatangan Robert. Agar tidak mencurigakan, Robert sama sekali tidak mempercepat langkahnya, perlahan berjalan menuju lift.

Ditekannya tombol naik, apartemen sudah cukup sepi sehingga lift tidak sibuk, pintunya segera terbuka. Robert masuk dan menekan lantai dua, tujuannya. Lampu indikator lift sudah menunjukkan angka dua dan pintu lift segera terbuka. Robert segera keluar dari lift, dibacanya petunjuk di tembok depan lift bahwa kamar 209 ada di sebelah kanan lift. Dia segera berjalan menuju kamar itu.

Sampai di depan kamar 209, dimasukkannya kunci magnetik dan dibukanya pintu perlahan. Sepi dalam kamar. Ini jenis kamar studio, dimana ketika pintu dibuka langsung dapat dijumpai tempat tidur. Tidak ada ruang tamu pada jenis kamar studio.

Robert melihat ada sesosok laki-laki sedang tertidur di atas tempat tidur, tanpa pikir panjang, sambil berjalan mendekati tempat tidur diraihnya pistol. Robert mengarahkan pistol itu pada sosok yang tertidur pulas itu.

Tiba-tiba keraguan datang dalam dirinya. Ini bukan hal yang benar yang harus dia lakukan. Aku harus urungkan ini, harus, demikian suara hatinya. Robert mulai berbalik, bermaksud untuk meninggalkan kamar itu. Ia berniat mengembalikan lima juta yang sudah dibawanya, kembali ke mobil yang terparkir di swalayan tadi.

“Hey siapa kamu!” Robert mendengar suara lakit-laki membentak di belakangnya. “Berani-beraninya kamu masuk ke kamarku!”

Robert begitu kaget, membalikkan badan. Laki-laki itu langsung merangsek ke arahnya, secara refleks Robert menembakan empat kali pistolnya ke arah laki-laki itu.

Laki-laki itu hanya mengerang sebentar pada tembakan yang pertama, tapi tembakan kedua, ketiga dan selanjutnya dia sudah tidak bernyawa lagi. Tubuhnya roboh ke lantai kamar. Darah mengalir membasahi lantai kamar apertemen itu.

Robert segera meninggalkan kamar itu. Ini pertama kali dia menghabisi nyawa seseorang, sebenarnya gugup sekali perasaannya saat itu. Tapi entah mungkin sudah bakat alami dia mencoba menenangkan diri dan terlihat seperti seorang pembunuh profesional.

Menuju lift, kembali ke lobby, melewati petugas keamanan dia berhasil mencapai jalan raya. Sebenarnya aksinya cukup sembrono, maklum seorang amatir. Hanya Robert memang beruntung, walau keluar masuk melewati pintu depan yang dijaga petugas keamanan dia dapat menyelesaikan tugasnya.

*

Robert sudah kembali ke Swalayan Gelael. Sesuai perintah sebelumnya dia harus kembali ke mobil yang terparkir di area parkir swalayan ini. Segera ia menuju tempat mobil diparkirkan.

Ia masuk lagi ke dalam mobil itu, benar sudah ada amplop baru di belakang kemudi. Segera dibukanya amplop itu. Ada beberapa gepok uang, ini pasti uang yang dijanjikan sebelumnya. Ada secarik kertas lagi:

Selamat, kamu telah berhasil melaksanakan tugas. Sesuai janji kami sebelumnya, sudah ada uang empat puluh lima juta Rupiah dalam amplop ini. Uang ini milikmu. Kamu boleh pulang sekarang. Tinggalkan pistol, kunci mobil, kunci magnetik di dalam mobil ini.

Besok akan ada tugas lagi, jangan coba-coba untuk menolaknya.

Robert sangat terkejut membaca surat ini. Tadinya dia hanya akan sekali mencoba tugas ini, setelah itu mengambil uangnya dan memulai hidup baru dengan modal yang lebih dari cukup. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa dirinya malah akan terjebak menjadi seorang pembunuh bayaran. Tidak bisa hanya hari itu saja dia menjadi pembunuh.

New World Record

Di suatu pagi sekelompok orang berkumpul di pelataran parkir sebuah mal. Mulanya mereka hanya sepuluh orang saja dengan satu pemimpin dengan pengeras suara seadanya. Lalu sang pemimpin mulai berorasi.

“Kawan-kawan sekalian! Merdeka!” Katanya lantang.

“Merdeka!!!” Dijawab oleh anggota kelompok yang lain.

Sang pemimpin melanjutkan, “Bangsa kita sedang sakit, sakit sekali dan sudah sangat parah. Seandainya bangsa ini kita umpamakan sebagai manusia, maka sudah terjadi komplikasi yang luar biasa dalam tubuh orang itu.”

Orang-orang yang mengunjungi mal melihat dan mendengar orasi ini dan mulai tertarik dengan apa yang disampaikan. Satu per satu orang bergabung dalam kerumunan itu dan mulai menyimak orasi orang itu.

“Mulai dari badannya yang sakit.” Dia menghela napas, “Kemacetan lalu lintas, jalan-jalan yang rusak bahkan amblas. Itu ciri dari negara yang sakit secara fisik.”

“Apa lagi yang sakit?” Dia mengajukan pertanyaan retoris, “Ya benar, pikirannya. Pemerintah dan aparat laksana pikiran yang mengendalikan tubuh. Semuanya tidak becus, sakit.”

“Belum lagi virus dan bakteri, yaitu kelompok atau orang yang menggerogoti bangsa ini. Baik itu dari dalam pemerintahan atau para teroris yang entah membela kepentingan siapa. Yang jelas bangsa kita memang sedang sakit, kita semua tinggal di negara yang sedang sakit. Tapi apa kita semua mau sakit?” Suaranya lantang, menantang kerumunan orang yang kian banyak berkumpul di pelataran parkir itu.

Semua mulanya hening, tapi pemimpin ini rupanya seorang orator yang ulung, dia menantang sekali lagi, “Apa kita semua mau sakit saudara-saudara? Saya tidak dengar suara kalian!”

“Tidak mau!” Kata sekelompok orang ragu-ragu.

“Saya tidak dengar suara kalian!”

“Tidak mau!” Kali lebih banyak orang yang berteriak.

“Ah masih belum kompak!”

“TIDAK MAU!!!”

“Lebih keras lagi!”

“TIDAK MAU!!!” Orang semakin banyak berkumpul dan suara di pelataran parkir itu mulai bergemuruh.

“Sekali lagi lebih kompak, lebih keras!”

“TIDAKKKK MAUUUU!!!!” Suara terakhir diikuti dengan tepuk tangan orang yang kira-kira jumlahnya sudah ratusan orang.

“Baiklah saya suka seperti itu, semangat. Kita tidak menuntut apa-apa dari pemerintah. Kita tidak menuntut apa-apa dari penguasa. Tapi dari pada kita sakit, ijinkan hari ini saya mengajak saudara-saudara sekalian untuk tertawa, karena tertawa itu sehat. Kita tertawakan apa saja, orang di sebelah kita, bahkan saudara-saudara sekalian boleh menertawakan saya. Kalau punya masalah coba bayangkan dan tertawakan. Kalau benci pada pemerintah atau aparat coba bayangkan muka mereka dan tertawakan, mungkin hanya itu fungsi mereka, ditertawakan.”

Semua mendadak hening dan saling pandang.

“Baiklah saya akan mulai tertawa, hahahahaha!” Pemimpin itu mulai tertawa.

Di antara kerumunan orang yang berkumpul di situ ada yang lalu mulai tertawa, mereka adalah orang-orang pertama yang memulai aksi ini. Mereka tertawa sejadi-jadinya seperti orang tidak waras, mereka saling menertawakan satu sama lain.

Ternyata orang-orang lain yang ikut berkumpul mulai terpengaruh, lucu memang melihat orang tertawa tanpa sebab. Karena itu akhirnya satu persatu mereka mulai tertawa. Setiap orang yang mulai tertawa, orang yang di sebelahnya tak kuasa menahan tawa melihat tingkah orang yang mulai tertawa. Akhirnya semua orang yang berkumpul di tempat itu, yang jumlahnya sekitar ratusan, semuanya tertawa sejadi-jadinya, membuat suara yang cukup untuk memancing perhatian.

Terang saja orang-orang yang melihat mereka, yang tadinya hanya berjalan di trotoar jalan, bertanya-tanya satu sama lain, apa yang terjadi, mengapa mereka tertawa. Anehnya orang-orang ini pun ikut tertawa menertawakan orang-orang yang berkumpul di pelataran parkir itu.

Demikian tertawa menjadi sebuah penyakit menular hari itu, orang yang tidak tahu ujung dan pangkal masalah ketika melewati pelataran parkir itu semuanya ikut tertawa. Akhirnya ini menjadi gerakan yang cukup masal. Pedagang, supir, tukang ojek, karyawan kantor, semua yang melewati kawasan itu tertular virus tawa ini. Bahkan ada beberapa petugas polisi yang sedang bertugas di perempatan di dekat area itu juga tak sanggup menahan tawa mereka.

Jumlah orang yang berkumpul pun kian banyak, semuanya tertawa sejadi-jadinya. Pria, wanita, tua, muda dari berbagai kalangan semua ikut tertawa. Bahkan orang-orang yang sedang makan di sebuah restoran cepat saji di dekat area itu, atau orang-orang yang sedang menikmati kopi di coffee shop di lingkungan mal itu pun ikut tertawa.

Sampai suatu saat ada iring-iringan presiden melintasi jalan di depan pelataran parkir itu. Entah kenapa semua orang tertawa sejadi-jadinya, terpingkal-pingkal bahkan ada yang sampai berguling-guling. Mereka menunjuk ke arah iring-iringan itu sambil tertawa terpingkal-pingkal, tidak ada yang dikatakan, hanya tertawa sejadi-jadinya. Sebagian besar tertawa begitu keras, sampai-sampai muka mereka merah sekali saat rombongan itu melintas.

***

Sore Harinya, Konferensi Pers Istana

“Saudara-saudara, rekan-rekan pers sekalian,” demikian membukaan yang disampaikan oleh juru bicara istana.

“Seperti kita ketahui bahwa tadi pagi ada sebuah insiden saat iring-iringan presiden melintasi sebuah mal. Sekelompok orang rupanya telah melakukan koordinasi yang matang untuk merancang sebuah kegiatan yang hendak mempermalukan presiden. Sekelompok orang telah memprovokasi masa secara sistematis untuk menertawakan presiden dan iring-iringannya saat melewati mal tersebut.”

“Bukan hanya mempermalukan, gerakan atau aksi ini jelas juga telah membahayakan keselamatan presiden karena bahkan polisi yang berjaga-jaga di sekitar lokasi, yang tadinya harus membuka dan mengamankan jalur yang akan dilintasi presiden, juga ikut tertawa mengikuti kelompok itu.” Lanjut juru bicara ini.

“Untuk itu pihak kepolisian akan menyampaikan lebih detil, saya persilakan,” lanjut juru bicara itu dan turun dari mimbar.

“Kami telah menangkap satu orang tersangka yang memimpin gerakan ini, berikut sembilan pengikutnya. Ini adalah jaringan terorganisir yang meresahkan dan kami dari kepolisian telah mengamankan keadaan, terutama presiden yang saat ini terancam. Semua pihak diharap tenang dan tidak terpancing keadaan ini.” Demikian disampaikan kepala kepolisian.

Entah apa yang terjadi, usai konferensi pers tersebut ada suara gemuruh di seluruh pelosok negeri. Kencang sekali, asalnya dari setiap rumah penduduk di seantero negeri.

***

Esoknya

New World Record: Di sebuah negara, lebih dari seratus juta orang tertawa bersamaan di depan layar televisi.

Kuliah Umum: Chaos Theory

Hari ini di kampusku ada kuliah umum dengan topik “Chaos Theory”, sebuah studi yang mempelajari tentang tingkah laku sebuah sistem yang dinamis.

Aku sudah di dalam ruang kuliah. Ini kuliah umum, jadi tidak semua mahasiswa diwajibkan hadir, hanya saja topiknya sangat menarik untuk diikuti. Aku cukup heran karena sedikit sekali yang tertarik untuk menghadiri kuliah ini.

Menunggu sekitar lima menit, datang seseorang yang usianya kira-kira 50 tahun, berkacamata tebal hampir sama dengan pantat botol kalau kuperhatikan. Orang ini membawa tas jinjing yang segera dia letakkan di meja yang teletak di depan ruang kuliah.

“Maaf, ini kuliah apa?” Tanya orang itu dari depan kepada kami peserta kuliah.

“Kuliah umum chaos theory Pak?” Kata salah satu di antara kami.

Orang itu manggut-manggut, “Ohhhh, berarti saya harus mengajar di sini.”

Kemudian dia memperkenalkan diri, “Baiklah para peserta kuliah, Nama saya Prof. Sudiaman Sasmita, saya yang akan memberikan materi dalam kuliah chaos theory hari ini.”

Aku cukup aneh, karena seharusnya yang memberikan kuliah hari ini bukan profesor ini tapi Prof. Gindara Sumitra. Tapi sungguh tidak sopan kalau menanyakan hal ini pada sang profesor di depan karena seolah-olah kita tidak mempercayai kredibilitas beliau.

Prof. Sudiaman memulai kuliahnya mulai dari definisi chaos theory. Mahasiswa yang hadir mulai terlarut dengan penjelasan-penjelasan beliau. Sayang sedikit dari kami yang hadir dalam kuliah umum ini, aku mulai menikmati penjelasan beliau yang luar biasa tentang materi ini.

Lalu beliau menjelaskan tentang keterkaitan chaos theory dengan butterfly effect yang menggambarkan tentang pengaruh sebuah kondisi awal atau initial condition. Perubahan sedikit saja pada kondisi awal dalam sebuah sitem yang dinamis bisa menyebabkan perbedaan atau variasi yang sangat besar pada jangka panjang.

Kami semakin terbuai dengan penjelasan-penjelasan dari profesor ini. Tidak salah bila beliau menjadi menyampai materi hari ini, luar biasa contoh-contoh beliau berikan begitu mengena dan mudah dimengerti. Secara runut beliau menjelaskan tentang pengaruh penghasilan tukang becak di Yogyakarta terhadap nilai saham di BEI. Sepertinya tidak terpikir oleh kami sebelumnya, tapi setelah secara runut dijelaskan, ternyata masuk akal juga.

Satu jam kira-kira kami mendengarkan dengan seksama pemaparan beliau, namun tiba-tiba ada tiga orang petugas berseragam yang masuk ke ruangan kuliah kami. Petugas ini segera menangkap Prof. Sudiaman dan menyeretnya ke luar ruangan kuliah dan membawanya jauh dari gedung kuliah kami.

Kami semua masih terpaku pada kursi masing-masing. Sejak tadi telepon genggamku memang menyala, namun kuabaikan karena aku sedang fokus menyimak materi kuliah. Kuraih telepon genggamku dan membaca ada sebuah pesan singkat.

From: Andi

Robby, kuliah “Chaos Theory” diundur besok, kemarin sore aku baca pengumumannya. Maaf baru sempat beritahu.

Aku kaget membaca pesan singkat ini, jadi tadi itu siapa?

Seorang dari tiga petugas berseragam tadi kembali ke ruang kuliah, memberi sedikit penjelasan kepada kami.

“Maaf adik-adik mahasiswa, tadi pasien kami kabur dari RSJ, Jl. Riau. Maaf sekali ya.”