Pulang Kampung

Siang tadi ujian terakhir dalam rangkaian UAS semester ini. Lega rasanya setelah dua minggu terus dihadapkan dengan ujian dan persiapannya yang tentu tidak bisa diwakilkan. Aku tidak kembali ke rumah kosku. Dari kampus langsung berangkat ke terminal bus antar kota karena sudah tidak sabar kembali ke kampungku. Maklum laki-laki, barang bawaanku tidak banyak, hanya beberapa pasang pakaian saja. Lagi pula aku berpikir di kampung nanti bisa pinjam baju adikku, yang walau masih SMU badannya sudah sama denganku.

Aku kuliah di Bandung dan kampungku adalah sebuah dusun kecil di Garut, Jawa Barat. Dari Bandung ke Kota Garut menggunakan bus kira-kira membutuhkan waktu satu jam. Dari Kota Garut aku masih harus naik bus tanggung satu kali lagi. Orang di daerahku menyebut bus ini dengan nama elep. Sebenarnya ini dari kata Elf, yang merupakan salah satu merek pelumas yang cukup terkenal. Sejak dulu banyak sticker produk Elf yang ditempel di mobil-mobil minibus ini. Namun karena Orang Sunda cukup susah menyebutkan huruf ‘f’ maka kami menyebutnya dengan kata elep, bukan Elf.

Hari ini nampaknya banyak yang pulang ke Garut dari Bandung, sehingga aku sulit mendapatkan bus dengan tempat duduk. Rasa rindu akan kampung halaman membuatku punya tenaga ekstra untuk berdiri di dalam bus. Hanya satu jam pikirku.

Sangkin lelahnya – karena selama UAS memang kurang tidur, setengah perjalanan aku tertidur – sambil berdiri – pulas. Sempat-sempatnya aku bermimpi Ibuku di kampung sedang tawar-menawar dodol – penganan khas Garut – dengan seorang pedagang dodol. Aku terbangun tiba-tiba karena ibuku marah-marah di dalam mimpiku. Rupanya di dalam bus sedang ada seorang ibu yang sedang tawar-menawar alot dengan seorang pedagang dodol. Ibu tersebut marah-marah karena dodolnya ditawarkan terlalu mahal.

Lumayan juga tidur tadi, sedikit menyegarkan tubuhku, dan tidak terasa bus sudah hampir sampai di terminal Garut.

Sampai di terminal Garut segera aku turun dan bergegas mencari elep jurusan Kadu Pandak, kampungku. Sama sulitnya dengan mencari bus di Bandung tadi.

Akhirnya dapat juga walau berdesak-desakan. Aku duduk di depan. Normalnya mobil jenis ini hanya diisi dua orang plus satu supir di bangku depan, tapi sudah menjadi kebiasaan, dengan motif mencari keuntungan berlipat, bisa diisi sampai tiga orang, belum termasuk supir. Belum lagi kalau ada penumpang anak kecil bisa nyempil di samping kanan supir. Jadi supir tidak lagi duduk paling kanan, dia duduk agak ke tengah. Butuh keterampilan khusus mengendarai elep dengan kondisi supir terhimpit penumpang di kiri dan kanannya. Saya kira Michael Schumacher pun belum tentu bisa mengendarainya.

Sering kali kernet tidak duduk di dalam kabin, melainkan di ruang paling belakang yang biasa digunakan sebagai bagasi. Setelah mengutip ongkos setiap penumpang, kernet akan pergi ke bagian bagasi dan mengambil posisi rebahan karena langit-langitnya yang rendah dan tumpukan barang yang disimpan di bagasi. Namun dengan posisi seperti itu kernet tetap saja cerewet, bercanda tentang banyak hal, seolah-olah ingin menghibur kami penumpang yang sedang berdesak-desakan dalam elep.

Penumpang elep biasanya saling kenal, mungkin karena secara rutin melakukan perjalanan bersama. Hari itu sepertinya hanya aku yang tidak mereka kenal di mobil itu.

Cep, dari mana?” sapa seorang ibu memulai pembicaraan padaku.

“Dari Bandung, Bu?” kataku menjawab, mencoba untuk ramah.

“Ohh, sakola di Bandung?”

Sumuhun, Bu, saya sekolah di sana.”

“Ah, kadang Cimahi ge ngaku-na di Bandung sih.” kernet menimpali dari belakang.

Penumpang yang lain tertawa. Aku sedikit kikuk, wajahku sedikit memerah tapi tidak mencoba membela diri.

Cep, jangan dibawa ke hati ya, ini namanya hanya bercanda supaya tidak bosan di jalan.” kata kernet lagi, membesarkan hatiku.

Benar kata kernet tadi, tidak terasa sudah hampir sampai di jalan masuk ke kampungku. Kampungku memang terletak sebelum terminal, jadi jangan sampai ketiduran di elep, karena bisa bablas sampai ke terminal nanti. Tapi dengan kondisi berdesakan di elep, memang tidak mungkin juga bagiku untuk tidur.

“Kiri!!” Aku berseru untuk menghentikan laju mobil.

Elep berhenti dan dengan susah payah aku bisa turun darinya. Jalan keluar dari elep tertutup oleh barang bawaan penumpang lain yang sebagian besar adalah pedagang.

Aku sekarang sudah berdiri di depan jalan masuk ke kampungku. Hari sudah agak gelap, sekitar pukul 18.15 hari itu. Segera kulangkahkan kakiku menuju rumah. Jaraknya sekitar tiga puluh menit berjalan kaki, melewati areal persawahan.

Jalanan cukup sepi, tidak ada warga berkeliaran di jalanan. Warga kampung masih mengikuti dengan patuh tradisi yang diajarkan orang-orang tua dulu. Pamali katanya kalau keluar rumah saat maghrib.

Sekitar lima belas menit berjalan, ada seorang kakek bersepeda menysulku. Kakek itu menoleh ke arahku dan segera menyapaku.

Cep Agung?” katanya sambil menghentikan sepeda.

“Iya,  Aki Barja?” kataku, sambil setengah mengingat-ingat.

“Iya, baru dari Bandung, Cep?

“Iya, Ki.”

Sinih atuh, Aki bonceng saja.” Kakek itu menawarkan jasa untuk memboncengku.

“Aduh, nanti merepotkan Aki. Lagi pula tidak pantas sepuh membonceng yang muda.”

“Tidak apa-apa, Aki masih kuat atuh, Cep.”

Aku agak ragu awalnya, tapi tidak enak menolak tawarannya. Langsung saja aku naik di jok belakang sepedanya.

Sepanjang perjalanan kami tidak banyak bicara. Jadi hanya menunggu dia bertanya baru aku jawab. Aku tidak pernah memulai pembicaraan. Kupikir, beruntung juga ada Kakek Barja, perjalananku jadi bertambah singkat dan memang aku sudah sangat letih.

“Nah, Cep, ini sudah sampai.” katanya sambil menghentikan sepeda.

Aku segera turun sambil berkata, “Aduh, nuhun pisan, Ki. Mampir dulu atuh.”

“Ah, lain kali saja, Cep Agung juga sudah capek kan? Salam saja buat Emak ya.” Dia langsung mendayung lagi sepedanya.

Aku melangkah ke arah rumah mengetuk pintu beberapa kali, sambil mengucapkan salam, “Asalamualaikum.”

Terdengar ibuku menjawab salam dari dalam rumah, “Waalaikumsalam.”

Pintu segera terbuka. Ibu masih menggunakan mukena, sepertinya dia baru selesai menunaikan shalat. Aku hampir kaget melihat sosok putih yang membukakan pintu.

“Eh, Agung udah dateng.” Dua ciuman bertubi-tubi mendarat di pipiku. Aku memang sangat akrab dengan ibu.

Aku segera masuk, membuka sepatu dan menanggalkan ranselku. Belum sempat duduk aku sudah dinasehati oleh ibu.

“Eh, mau apa kamu? Udah mandi, ambil wudhu, mumpung masih sempat maghriban.”

Kuturuti saja kata ibu, walau badanku masih pegal-pegal setelah hampir setengah hari menjalani pejalanan cukup melelahkan.

Selesai shalat aku segera bergabung dengan ibu dan adikku di meja makan.

“Bawa oleh-oleh apa, Kang?” kata adikku.

“Kiriman masih cukup saja sudah untung, bawa oleh-oleh lagi.” kataku sambil melirik ibu.

“Udah, jangan nyindir. Makan dulu.” kata ibu sambil mengunyah.

“Capek ya, Kang? Jalan dari depan? Nggak naik ojek?” kata adikku lagi.

“Iya capek, untung di tengah jalan tadi ada yang nawarin bonceng, jadi setengah perjalanan naik sepeda.”

“Ohh, siapa, Kang?” tanya adikku.

“Itu, Ki Barja.”

“Astagfirllahhhh….” kata ibuku setengah berteriak.

Aku kaget dan memandang ibuku, adikku juga terdiam.

“Kamu ambil wudhu lagi sana! Ki Barja itu sudah meninggal sekitar dua minggu yang lalu.” kata ibuku.

***

Advertisements

Atheis?

 

Seorang atheis mati. Tuhan memberikannya kesempatan untuk hidup kembali, itu karena semasa hidupnya – walau dia seorang atheis – dia banyak melakukan kebaikan pada sesama.

“Kamu Kuhidupkan kembali,” kata Tuhan padanya.

“Baiklah, terimakasih,” jawabnya dingin.

Dia pun kembali ke dunia dan hidup normal, tetap menjadi orang baik, tapi juga tetap menjadi atheis. Sampai pada waktunya dia kembali dipanggil Yang kuasa.

“Kamu sudah aku beri kesempatan hidup kembali, tapi kamu tetap tidak percaya padaKu?” Tuhan nampak kesal padanya.

“Aku ini atheis, aku hanya percaya pada apa yang aku lihat dan aku rasa. Apa jaminannya pertemuan sebelumnya bukan halusinasiku saja?” Si atheis menantang Tuhan.

Tuhan mematahkan tangan kiri si atheis dan menghidupkannya kembali. Jadilah dia hidup dengan sebelah tangan saja, kini dia punya bukti bahwa pertemuan ghaib yang dilaluinya itu bukan halusinasinya. Dia menjalani hidupnya  dengan sebelah tangannya dan tetap melakukan kebaikan. Tapi tetap dia memilih untuk menjadi seorang atheis, sampai dia kembali mati.

“Hai orang bebal, kenapa kau tidak bertobat!” Kali ini Tuhan benar-benar kesal.

Si Atheis hanya terdiam.

“Hmmm…” Tuhan bergumam.

Si Atheis tetap terdiam.

“Hmmm…” Tuhan sekali lagi hanya bergumam.

Hening beberapa saat.

“Jadi apa agamamu?” tanya Tuhan.

“Cinta,” katanya pendek.

“Aku mencintai cinta,” tutup Tuhan.

Calon Legislatif

Di sebuah lobby hotel.

“Hey, David ya?”

“Iya, Aduh pangling, Henry ya?”

“Hahahaha, lama kita tidak jumpa ya? Sejak lulus kuliah dul, udah berapa tahun ya?”

“Sudah lama sekali yang jelas aku lulus duluan, kau kelamaan kuliah, kebanyakan demo kan?”

“Hahahaha, iya, bisa aja kau Vid.”

“Duduk dulu lah di sini, tidak buru-buru kan? Mari kupesankan minuman buat kau.”

Okay, masih ada waktu satu jam untuk ngobrol-ngobrol.”

David segera memberi kode kepada pelayan tanda akan memesan sesuatu.

Pelayan segera datang.

“Mbak, coba tanya Bapak ini mau pesan minum apa?” Kata David pada pelayan itu.

“Maaf Pak mau pesan apa?” Seraya menyodorkan buku menu.

Orang yang menyapa David tadi – bernama Henry – mulai membuka-buka buku menu yang disodorkan oleh pelayan tadi.

Okay saya pesan satu hot tea saja.”

“Mau yang apa pak hot tea nya?”

English breakfast saja.”

“Baik Pak,” kata pelayan itu, lalu pergi untuk menyiapkan pesanan Henry tadi.

“Gimana nih kabarnya Vid?” Kata Henry lagi.

“Baik saja Hen, kau bagaimana?”

“Kabarku baik. Aku menginap di hotel ini, kau juga?”

“Aku? Nggak. Aku sedang menunggu tamu dari luar negeri. Sebenarnya janjinya sekitar satu jam lagi. Berhubung tinggal di pinggiran Jakarta, terpaksa berangkat cepat-cepat supaya tidak kena macet di jalan.”

“Ohh..”

“Kau tinggal di kota apa?”

“Aku tinggal di Pekanbaru.”

“Lalu ada urusan apa di sini?”

“Sebenarnya aku sudah jadi anggota DPR-RI.”

“Oh, selamat Hen.”

David menjulurkan tangan menjabat tangan Henry. Mereka berjabat tangan. David mengayun jabatan tangan itu begitu kencang sampai tubuh Henry terguncang-guncang.

“Aduh, cukup deh,” Kata Henry.

“Iya, maaf, aku senang sekali kau bisa jadi anggota DPR, tingkat pusat lagi.”

“Haha, padahal nilaiku dulu waktu kuliah jauh sekali dengan kau ya Vid?”

“Kan ada tesisnya Hen?”

“Apa tuh?”

“Banyak A akan jadi peneliti kerja di lab.”

“Lalu?”

“Banyak B akan mudah cari pekerjaan, sehingga akan jadi karyawan atau dosen, paling banter jadi profesional.”

“Haha, bisa saja kau Vid, lalu yang banyak C?”

“Susah dapat kerjaan lalu buat usaha sendiri, akhirnya jadi pengusaha.”

“Kalau aku?”

“Kau kan dulu terlalu sering demo. Jelas lah banyak D, kau ulang lagi baru jadi C. Kalau banyak C jadi pengusaha, kalau sering dapat D malah jadi penguasa seperti kau ini.”

“Hahahaha,  bisa saja kau Vid.”

“Ini tesis main-main tapi valid, setidaknya untuk kondisi kita berdua.”

“Kau sendiri apa sekarang Vid?”

“Aku bekerja di perusahaan multi-nasional Hen. Ini tamu yang mau kujemput teknisi-teknisi dari India. Mereka menginap di sini. Kau sendiri ngapain nginap di sini? Bukannya dapat jatah rumah di Jakarta.”

“Ya, dapat, tapi tadi malam ada acara di hotel ini, sekalian menginap di sini saja, lagian sudah ngantuk banget. Dari sini ke gedung DPR/MPR tidak jauh. Kalau terlambat, sekarang gawat, bisa-bisa dibocorkan ke wartawan lagi.”

“Hahaha, bener juga.”

“Kau masuk partaiku lah, pemilu berikutnya bisa deh aku usahakan jadi caleg.”

“Yang bener aja Hen?”

“Bener, kau kan dulu pintar juga. Sering nulis juga di majalah kampus. Demo juga kau ikut, hanya kau tetap fokus di studimu tidak seperti aku yang benar-benar berantakan.”

“Boleh saja sih, aku mau-mau aja jadi caleg, hanya banyak ganjelan.”

“Apa salah satunya?”

“Aku nggak mau buat poster, terus lalu dipajang di pinggir jalan?”

“Kenapa?”

“Nggak pede.”

“Hahaha, bisa aja kau ini.”

“Apalagi kalau ada anak-anak kecil yang iseng, nanti posterku itu dicoret-coret, ditambah-tambahin kumis lagi. Malu ah.”

“Hahaha, serius kau. Masak itu jadi alasan?”

“Itu alasan yang serius menurutku Hen.”

“Aku menawarkan ini bukan basa-basi Vid.”

Pelayan datang dengan membawa satu poci teh dan satu cangkir kosong. Henry dan David menghentikan percakapan mereka sebentar, sementara pelayan meletakkan poci, cangkir dan sendok ke meja mereka.

“Silakan Pak, ini gulanya, bisa dicampur sendiri,” kata pelayan itu.

Henry menuang isi poci ke dalam cangkir, mengambil satu bungkus gula, membuka sachet-nya dan menumpahkan isinya ke dalam cangkir. Sambil mengaduk teh, Henry mengulang kalimat terakhirnya.

“Tawaranku itu bukan basa-basi Vid, benar kami dari partai butuh figur profesional seperti kau. Aku memantau juga perkembanganmu, jangan kaukira tidak. Beberapa kali kau menulis soal telekomunikasi dan IT di majalah ekonomi dan harian nasional, aku tahu itu.”

“Hahaha, itu iseng. Aku sering buat proposal, aku copy paste dari proposalku itu lalu kukirim ke redaksi mereka, eh ternyata malah dimuat.”

“Ah, kau suka merendah, tak mungkin mereka memuat begitu saja kalau tulisanmu itu asal-asalan. Bagaimana, tertarik?”

“Boleh saja, tapi banyak syaratnya, hehe.”

“Apa saja? Kita punya cukup waktu untuk membicarakannya.”

“Satu, aku tidak mau jadi caleg dari partai gurem, hanya menghabis-habiskan waktu dan tenaga saja. Pasti tidak terpilih.”

Okay, dalam hal ini partaiku bukan partai gurem kan?”

“Ya benar, masih ada syarat berikutnya.”

“Apa itu?”

“Aku tidak mau keluar uang sepeserpun, untuk biaya kampanye atau beli nomor urut.”

“Hmmm, kau mau enaknya saja kalau gitu.”

“Kok? Kau kan tanya syarat dari aku, ini aku sebutkan sejujur-jujurnya. Kalau tadi tidak kau tanya pun aku tidak akan sebutkan syarat-syarat ini.”

“Hahaha, baiklah, jangan tersinggung dong. Soal dana kampanye bisa kucarikan sposor nanti. Silakan lanjut.” Henry meminum sedikit tehnya.

“Syarat ketiga, aku maunya jadi anggota DPR-RI, tingkat I atau tingkat II, nggak main.”

“Aku memulai dari tingkat I, baru kali ini aku masuk ke pusat Vid.”

“Itu kan kau, kalau kau tanya apa syaratku mau kau rekrut, ya ini syaratku.”

“Hahaha, pede kali kau ini Vid, tak berubah.”

“Mau tahu syarat berikutnya?”

“Oke boleh.”

“Syarat keempat, aku tidak mau jadi caleg dari dapil daerah diluar DKI seperti kau. Malas aku kampanya ke daerah, lagi pula aku tidak tahu kondisi masyarakat di sana, mana mungkin aku bisa mewakili aspirasi mereka.”

“Hmmm, berat, banyak politisi senior yang mengincar dapil yang kau sebut itu Vid.”

“Ya aku tak peduli, toh aku kan berhak mengajukan syarat. Lagi pula resiko jadi anggota legislatif, mendapat cap buruk sebagai oportunis dari anggota masyarakat, sekalian saja aku minta yang muluk-muluk.”

“Syarat yang kau ajukan itu hampir mustahil Vid.”

“Memang kok, bukan hampir lagi, tapi memang mustahil.”

“Lalu kenapa kau ajukan syarat itu padaku?”

“Karena kau memintanya? Lupa ya? Ah kau ini, sudah sama dengan politisi yang lain Hen, hehehe, memang pantas kau jadi anggota legislatif, cepat lupa?”

“Hahaha, jangan begitu kawan.”

“Iya, kan kau yang minta aku masuk partaimu untuk nanti jadi caleg, lalu aku mangajukan syarat, kau ingin dengar katanya. Sudah kusampaikan, lalu kau yang malah keberatan, hehe.”

“Baiklah, sepertinya kau tidak cocok jadi anggota legislatif.”

“Terimakasih untuk pujiannya Hen.”

“Loh?”

“Iya, aku senang kau bilang aku tidak cocok jadi anggota legislatif, hehehe.”

“Sial kau Vid.”

Henry mengeluarkan kartu namanya.

“Ini kartu namaku.”

David menerimanya.

“Mana punya kau?”

“Tak perlu, nanti aku sms kau ke nomor yang di kartu nama ini ya?”

Okay, jangan lupa ya?”

Henry memberi kode tanda memanggil pelayan.

“Buat apa kau panggil pelayan Hen?”

“Mau bayar bill.

“Ah tak usah, segera kau ke kantormu, jangan terlambat, aku bisa marah, kau kan wakilku, jangan sering-sering terlambat ya, hahaha.”

“Hahaha, bisa saja kau Vid. Ya sudah, aku pergi dulu ya? Jangan kau lupa kontak aku.”

“Sip.”

 

***

 

Surat Kaleng

“Dian, jadi kamu nerima aku nih?”

“Iya, Yan.”

“Makasih ya?”

Dian hanya terdiam, aku pegang tangannya dia tidak menolak. Coba kukecup tangannya, dia menarik dengan halus.

“Jangan dulu ya?”

Aku hanya mengangguk tanda setuju.

*

Saat itu aku masih duduk di bangku SMA. Aku begitu tertarik dengan salah satu murid dari kelas lain yang namanya Dian. Orangnya bukan yang paling cantik di sekolahku, tapi gayanya yang begitu kalem, keibuan, membuat aku ingin tahu lebih dalam tentang dia.

Aku termasuk yang pandai bergaul baik itu dengan temanku laki-laki maupun perempuan. Tapi entah kenapa dengan Dian, aku begitu hilang akal, sama sekali tidak berani untuk memulai pembicaraan atau sekedar berbasa-basi mengajak kenalan.

Kami belum pernah berkenalan secara formal, tapi karena kelas kami bersebelahan tentu aku tahu namanya, dan aku juga yakin bahwa dia pasti tahu namaku.

Sampai suatu hari aku memberanikan diri untuk menulis surat. Memang terlihat kurang jantan, tapi yang penting dia bisa tahu bahwa aku begitu ingin untuk dekat dengan dia dan menjalin hubungan yang lebih serius dengan dia.

Masalah kedua datang lagi, akut tidak berani memberikan surat itu kepada Dian, sehingga aku harus meminta bantuan sahabatku satu kelas Widhie.

“Waduh Yan, kamu kok cemen ya?” Demikian komentar Widhie saat pertama kali aku menjelaskan padanya soal bantuan yang aku minta darinya.

“Iya please Wid, kali ini aku bener-bener minta tolong.”

“Satu, kamu sudah tidak berani ngomong langsung sama dia. Kamu pakai surat untuk berkenalan, itu saja sudah satu masalah besar buat aku. Yang kedua, eh untuk nyampaikannya saja kamu nggak berani?”

Aku terdiam.

“Gimana mau diterima?” Kata Widhie lagi setengah mencibir.

Aku tidak sakit hati dengan kata-kata Widhie, kami sudah satu sekolah sejak SMP, dan sudah biasa saling ejek. Walau dengan kata-kata yang sedikit tidak enak didengar, aku sadar bahwa apa yang diucapkannya seratus persen benar.

“Aku tahu Wid, tapi bantu aku sekali ini saja.”

Okay kali ini aku bisa maklumi, mana sini suratnya?”

“Ini,” kataku sambil menyerahkan surat itu pada Widhie.

“Payah lo!” Masih saja dia mencoba untuk menghinaku. Aku tidak peduli dan sama sekali tidak tersinggung. Yang penting dia sudah bersedia membantuku.

Widhie segera masuk ke kelas Dian. Ini jam istirahat dan kami memang sudah lihat tadi, Dian sudah masuk ke dalam kelas.

Sekitar dua menit aku menunggu di depan pintu kelasku sampai akhirnya Widhie keluar dari kelas Dian.

“Gimana sudah kan?” Tanyaku tak sabar.

“Sudah, Dian nggak ada di kelas, jadi aku titip aja sama temannya.”

“Yah gimana sih kamu Wid?” Aku begitu emosi.

“Gimana apanya?”

“Kan aku minta tolong kamu, kenapa kamu malah minta tolong lagi sama orang lain?”

“Lho, kan kamu nggak kasih perintah yang spesifik harus Dian langsung yang nerima? Aku lihat Dian tidak ada di dalam kelas, ya jadi aku titip aja sama orang yang ada di dalam kelas? Masak aku celingukan di kelas orang lain? Yang bener aja Yan?”

Pembelaan Widhie masuk akal. Aku mengurungkan niatku untuk marah-marah padanya.

“Terus kamu titip siapa?”

“Hendra.”

“Aduh kamu ini Wid, nanti seluruh kelas Dian tahu aku sedang pendekatan sama dia, sialan kau Wid.”

“Yan, kamu itu udah aku bantuin bukannya malah terima kasih malahan begini. Aku nggak mau bantuin kamu lagi deh kalau gini caranya.”

“Jangan gitu dong. Ya udah sorry, sorry, aku minta maaf deh.”

“Tenang aja pasti surat itu sampai ke tangan Dian.”

*

Sudah tiga hari sejak surat itu kutitipkan pada Widhie untuk diserahkan kepada Dian, setiap berpapasan dengan Dian, aku dan dia selalu bertukar senyum. Hanya saja, tidak sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami berdua ketika kami berpapasan.

Aku jadi ragu apakah benar di Widhie menyampakan surat itu. Aku sangat percaya pada Widhie, dia sahabatku. Mungkin suratku itu disabotase di tengah jalan oleh Hendra. Mendamprat Hendra sungguh aku tidak berani, bukannya karena taku bekelahi, tapi aku akan hanya mempermalukan diriku sendiri.

Sampai suatu hari usai pelajaran olah raga, aku kembali ke kelas. Aku menemukan sepucuk surat dalam amplop tergerletak di mejaku. Surat itu berbunyi:

Dear Yan,

Saya tahu kamu suka sama Dian, tapi jangan  coba-coba dekati dia. Dia milikku.

Dia juga tidak suka kamu kirim-kirim surat. Ini suratnya aku kembalikan.

Dalam amplop itu, disertakannya surat yang kutulis untuk Dian dalam keadaan sudah kusut.

Aku kemudian coba menduga-duga, siapa yang menulis surat ini? Yang tahu urusan ini hanya Widhie dan Hendra. Widhie sudah pasti tidak mungkin menghkianati aku, dia orang yang sangat terbuka dalam bergaul dengan siapa pun. Kalau suka dia akan bilang suka, sebaliknya kalau tidak suka dia juga tidak pernah mencoba-coba menutupinya.

Hendra, aku tidak banyak mengenal pribadinya. Ada kemungkinan dia yang melakukan sabotase ini. Tapi buat apa? Apa dia juga naksir Si Dian?

Kelas masih kosong, sedang asyik aku menduga-duga, tiba-tiba ada suara yang mengagetkan aku.

“Hey, Yan! Jangan ngelamun gitu ah!” Widhie baru saja sampai di kelas.

Aku tidak banyak bicara kusodorkan dua lembar surat itu pada Widhie. Satu suratku pada Dian dan satu lagi surat kaleng yang tidak jelas siapa pengirimnya.

Widhie mengambilnya dan mulai membacanya dengan serius. Dia juga jadi tahu isi surat yang kutulis buat Dian. Ketika dia membaca bagian itu Widhie sedikit tersenyum sambil memandangku.

“Tuh kan malah ngeledek,” keluhku.

“Rumit juga nih. Aku sih bukannya takut sama Si Hendra, tapi kalau kamu labrak dia, masalahnya bisa panjang dan kamu jadi malu sendiri. Berkelahi urusan pacar? Nggak deh,” katanya.

“Jadi lebih baik kamu temuin aja Si Dian nanti pulang sekolah, supaya semuanya jadi jelas,” saran Widhie.

*

Pulang sekolah aku menunggu Dian di depan kelasku karena mau tidak mau dia harus melintasi kelasku untuk menuju gerbang keluar.

Aku sudah dapat melihat Dian datang ke arah kelasku. Dia sudah semakin dekat dengan aku. Tapi entah kenapa aku belum juga berani untuk menyapa dia duluan. Sampai akhirnya dia tersenyum, aku juga membalas seyumannya. Tapi kubiarkan dia berlalu melewatiku.

Sampai tiba-tiba ada yang mendorong aku begitu keras kearahnya. Aku benar-benar tidak dapat mengendalikan diri dan tubuhku menabraknya dari belakang. Aku dan Dian sama-sama tersungkur di lantai. Sedikit kutengok ke belakang ternyata itu kerjaan si Widhie, yang langsung senyum-senyum dan pura-pura tidak tahu. Belum sempat aku bereaksi dia sudah lari duluan.

“Aduh maaf ya, nggak apa-apa kan? Soalnya ada yang dorong aku dari belakang.”

“Eghh, nggak apa-apa sih.”

Aku ulurkan tanganku untuk membantu dia bangun. Dian segera merapikan pakaiannya.

Ini pertama kali aku akhirnya bicara dengannya. Tadinya aku mau marah saja pada si Widhie, tapi ternyata maksudnya baik. Mungkin kalau tidak didorong Widhie, sampai sekarang aku belum juga bicara dengan Dian.

“Sudah baca surat saya?”

“Sudah. Tapi kemarin aku simpan di meja, suratnya hilang, nggak tau siapa yang ambil.”

“Ohh.”

Aku pura-pura tidak tahu saja. Aku juga tidak menceritakan bahwa ada yang mengirimiku surat kaleng berisi ancaman untuk tidak mendekati dirinya. Aku juga tidak cerita bahwa surat itu sudah kembali ada di tanganku.

“Jadi gimana?”

“Hmmm…”

“Kamu sudah punya pacar ya?”

“Belum kok.”

“Atau belum mau pacaran?”

“Mau aja kalau ada yang cocok.”

“Atau aku bukan tipe kamu?”

“Belum tahu, orang kita kan belum kenalan.”

Okay kalau gitu kita sekarang kenalan, nama aku Yan.”

“Aku Dian.”

Kami berjabat tangan, canggung, tapi tanpa sengaja saling melempar senyum.

“Jadi setelah ini gimana?” Tanyaku.

“Gimana apanya?”

“Ya boleh nggak aku jadi pacar kamu?”

“Soal boleh ya pasti boleh, itu hak semua laki-laki, tapi masalahnya aku mau atu tidak?” Dian tersenyum sambil menggodaku.

“Aduh, jangan bikin bingung dong.”

“Kamu juga, baru nulis surat sekali aja sudah langsung nembak kayak gini.”

“Iya, maaf ya.”

“Jalanin aja dulu, tapi aku nggak tertutup kok orangnya.”

*

Mulai saat itu setiap pulang sekolah aku selalu bersama dengan Dian. Kadang dia dijemput orang tuanya, tapi saat giliran orang tuanya tidak menjemput, kami pulang bersama naik angkot. Kebetulan arah rumah kami sama.

Anehnya surat kaleng itu masih datang juga sesekali. Sekali surat itu datang ke kelas, sekembalinya aku ke kelas sehabis jam istirahat, kulihat ada amplop di atas mejaku. Isi surat itu adalah:

Oh masih berani ya? Saya sudah bilang jangan dekati.

Aku tetap tidak gubris surat itu. Bahkan aku makin lengket saja dengan Dian. Sampai suatu hari Surat itu datang ke rumahku.

Kamu nggak percaya sama saya? Saya tidak main-main. Bahkan saya tahu alamat rumat kamu.

Orang ini tidak pernah berpanjang-panjang dalam menulis surat, tapi surat-suratnya cukup membuatku kecut. Aku masih tetap merahasiakan hal ini kepada Dian dan orang-orang lain tentang keberadaan surat-surat ini. Aku hanya terbuka pada temanku Widhie dalam hal ini, tapi isi surat pun tidak pernah aku beritahu padanya.

Widhie menyarankan untuk aku terbuka pada Dian. Usulnya ini kutolak mentah-mentah karena sebagai laki-laki aku tidak ingin terlihat penakut di mata Dian.

*

Demikian sebulan pendekatanku dengan Dian, aku sering menunjukkan perhatianku pada dia. Misalnya sekedar membelikan roti atau makanan lain pada jam istirahat. Bila ada kesempatan kami pulang bersama naik angkot, sering kami bercanda tertawa-tawa di dalam angkot sampai sering penumpang yang lain merasa terganggu.

Sampai akhirnya aku berani menyatakan sekali lagi perasaanku padanya bahwa aku suka padanya. Dian tidak menolak, status kami sekarang pacaran, istilah anak mudanya: jadian.

Sampai suatu hari aku begitu kaget, sesampainya aku di rumah, ada sepucuk surat. Isinya:

Jadian ya? Selamat.

Singkat saja, tapi bagi aku itu mendatangkan teror yang membuat hidupku tidak tenang. Ingin aku menelusuri siapa orang ini, tapi usaha yang aku keluarkan akan terlalu memakan waktu dan tenaga, sedangkan sekarang aku sedang dalam persiapan untuk masuk ke perguruan tinggi.

Aku pun masih tetap tertutup pada Dian soal ini. Bahkan pada Widhie, hal ini pun sudah tidak lagi kuceritakan.

Aku tetap tidak setuju dengan pendapat Widhie, bisa-bisa Dian mengganggap aku cengeng dan penakut, simpati Dian padaku bisa hilang, dan akhirnya hubungan kami bisa kandas di tengah jalan.

Kecurigaanku tetap pada Hendra. Karena surat pertama yang kutitipkan pada Widhie, dia titipkan lagi pada Hendra. Mungkin sebelum sampai ke tangan Dian dia sudah terlebih dahulu membaca surat itu. Kemudian dia juga yang mengambilnya dan mengembalikannya padaku disertai dengan sebuah ancaman untuk tidak mendekati Dian.

Pernah aku sengaja memancing Hendra. Aku sengaja menjatuhkan amplop-amplop surat kaleng yang pernah aku terima tersebut di depan Hendra. Aku ingin tahu reaksinya. Dia hanya pura-pura tidak lihat saja.

Tapi aku perhatikan sejak aku dekat dengan Dian, Hendra sering sekali memandangi aku dari pintu kelasnya, saat aku juga sedang bersama teman-temanku di depan pintu kelasku. Biasanya kutatap balik dia, dan dia akan segera memalingkan pandangannya ke arah lain atau pergi masuk ke dalam kelas.

*

Hubunganku dengan Dian malah kian mesra. Sekarang Dian sengaja meminta orang tuanya untuk tidak menjemputnya sepulang sekolah. Alasannya dia mau belajar mandiri.

Karena tahun ini kami mempersiapkan diri unruk masuk ke perguruan tinggi, kami pun mendaftar ke bimbingan belajar yang sama, supaya bisa tetap belajar tapi juga makin lengket.

Surat-surat kaleng itu masih terus datang. Si pengirim tahu tentang acara-acara kami, mulai dari mendaftar ke bimbingan belajar yang sama, atau kalau kami pergi makan siang bersama, dan lain-lain. Terus terang aku sedikit terganggu awalnya, tapi lama-lama aku mulai terbiasa dan kuanggap angin lalu saja. Kalau memang itu orangnya Hendra, senekat apapun nanti dia aku tidak akan takut sama sekali padanya.

Sulit juga bagiku untuk mencurigai orang di sekolah atau di bimbingan belajar, karena rata-rata yang ikut di bimbingan belajar kami ya murid-murid dari sekolahku juga.

*

Waktu terus berlalu sampai akhirnya kami lulus dari bangku SMA dan mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN). Aku dan Dian sama-sama lulus dalam ujian kami, kami sama-sama masuk ke Perguruan Tinggi Negeri. Sayangnya aku di terima di Yogyakarta dan Dian tetap di Bandung.

Kami tidak mau permasalah jarak ini membuat hubungan kami makin renggang. Kala itu ponsel masih barang yang sangat mewah dan Internet adalah barang yang langka. Jadi terpaksa kami hanya melakukan hubungan lewat surat menyurat.

Sesekali kalau ada kiriman lebih dari orang tuaku di Bandung, aku pergi ke wartel untuk meneloponnya.

Sudah pasti kalau liburan semester aku pulang ke Bandung. Niatnya untuk mengunjungi orang tua dan keluarga, tapi yang terjadi malah kami lebih banyak bersama-sama, bertemu keluarga hanya saat sudah mendekati waktu tidur.

Itulah hebatnya, aku dan Dian sama-sama menjaga hubungan kami. Kami ingin hubungan ini lanjut ke jenjang pernikahan. Karena jarak yang jauh, kami justru terpacu untuk menyelesaikan kuliah kami secepat-cepatnya.

Surat-surat kaleng itu pun tidak pernah kuterima lagi. Nampaknya semua sudah berjalan menurut rencana kami, tanpa ada aral melintang.

*

Lima tahun kemudian.

Kami lulus hampir  bersamaan. Sebelum lulus aku bahkan sudah diterima di sebuah perusahaan konsultan keuangan di Jakarta. Tak perlu repot mencari pekerjaan sudah ada pekerjaan yang menungguku di Jakarta.

Dian juga sudah lulus, tapi dia masih melamar ke sana ke mari, sudah enam bulan belum juga ada lamarannya nyantol.

Enam bulan aku bekerja aku banyak menabung. Gajiku lumayan sehingga dengan gaya hidupku yang terbiasa susah, aku bisa cukup mengumpulkan modal yang lumayan. Aku memberanikan diri untuk melamar Dian. Aku datang bersama kedua orang tuaku untuk melamarnya. Kami sama-sama dari keluarga menengah, tidak kekurangan tapi juga tidak berlebih.

Suasana lamaran juga sebenarnya hanya basa-basi kenalan antar sesama calon besan, tidak ada keluarga lain yang datang, hanya keluarga inti.

Ayah dan ibu Dian juga tampaknya tidak keberatan dengan rencanaku. Terserah Dian saja kata mereka, jelas Dian pasti setuju karena memang sebelum datang ke rumahnya kami berdua sudah pernah mendiskusikan tentang hal ini.

*

Menjelang pernikahan.

Pernikahan dilaksanakan di Bandung karena orang tua kami sama-sama tinggal di kota ini. Rencananya acara tidak akan bermewah-mewah. Setelah akad nikah, resepsi akan dilakukan di rumah Dian. Undagan pun sangat dibatasi, hanya keluarga dekat dan beberapa teman saja yang diundang.

Karena dilaksanakan di Bandung, aku tentunya tinggal di rumah orang tuaku dua hari sebelum pernikahan. Masa kerjaku di perusahaan tempat aku bekerja belum genap satu tahun. Sebenarnya menurut aturan perusahaan, aku belum boleh mengambil cuti. Tapi karena atasanku cukup perhatian padaku dia memberikan dispensasi.

Aku titip pada atasanku untuk jangan dulu gembar-gembor sama teman-teman di kantor, karena acara yang kurancang hanya acara sederhana. Tidak enak rasanya kalau banyak orang tahu, tapi tidak aku undang ke acaranya nanti.

Satu yang membuat aku kaget, surat kaleng itu datang lagi ke rumah orang tuaku, sehari sebelum hari pernikahan. Aku kira aku sudah terbebas dari teror kampugan ini, tapi tertanya tidak. Isinya singkat saja:

Berani ya kamu? Kamu tidak gubris sama sekali surat-suratku sebelumnya. Kamu kira aku main-main?

Selamat menempuh hidup baru.

Kalimatnya penuh ancaman walau diakhiri dengan ucapan selamat.

Aku coba menduga-duga siapa yang mengirim surat kaleng ini? Apa orang yang sama dengan yang mengirim surat-surat kaleng itu dulu ketika aku SMA? Aku masih simpan semua surat itu, tak ada satu pun yang tahu isi surat itu, kecuali Widhie sahabatku. Itu pun hanya beberapa surat di awal-awal aku menerimanya. Waktu berikutnya aku tidak lagi menunjukkan surat-surat itu kepada Widhie.

Pernikahan ini pun tidak terlalu banyak orang yang tahu. Hanya keluarga dekat, beberapa teman SMA dan kuliah yang benar-benar dekat denganku atau Dian saja yang diundang. Aku coba menduga-duga, tapi rasanya tidak mungkin salah satu dari antara teman-teman itu yang tega melakukan ini pada diriku.

Apa daya, semua sudah dijalankan. Masak hanya gara-gara surat kaleng dari orang iseng saja aku mundur? Pernikahan tetap dilaksanakan, aku simpan saja surat itu pada sebuah amplop coklat, tempat aku menyimpan semua arsip surat kaleng iseng itu.

*

Dua minggu setelah pernikahan.

“Sayang aku pergi belanja dulu.”

Hari Sabtu, hari untuk bermalas-malasan. Aku masih tidur pagi itu.

“Hmm…”

“Mau dimasakin apa nanti?”

“Egghh, apa aja deh boleh.”

Okay, aku jalan dulu ya, nggak lama kok.”

“Iya, hati-hati ya sayang.”

Okay.”

Begitulah, aku sudah mengontrak rumah di Jakarta. Untuk ukuran pasangan baru, ini sudah lumayan. Dua kamar, dapur, kamar mandi dan ruang tamu walau kecil. Sudah lebih dari cukup bagi kami.

Gara-gara dibangunkan istriku, aku tidak bisa lagi kembali untuk tidur. Jadi segera aku ke kamar mandi untuk membasuh mukaku dan gosok gigi.

Aku kembali ke kamar dengan segelas air putih, berencana untuk bersantai-santai kembali di tempat tidur setelah seminggu yang lalu jadwalku begitu penuh untuk mengejar target dari kantor. Maklum ambil cuti satu minggu jadi kerjaan numpuk.

Sampai di kamar kulihat di meja rias ada sebuah buku, bentuknya mirip buku harian. Penasaran aku ambil buku itu dan memang ini buku harian. Buku ini milik Dian tentunya, ada namanya tertera di sampul buku.

Aku buka saja, walau sebenarnya tidak etis untuk membuka sebuah buku harian walau itu milik istri sendiri. Tapi rasa penasaranku jauh mengatasi etikaku.

Sambil takut-takut kalau tiba-tiba Dian kembali ke rumah, aku mulai membaca halaman demi halaman buku hariannya. Aku jadi tahu siapa mantan-mantan dia dulu, sambil senyum-senyum aku terus baca buku hariannya. Sampai masuk ke bagian-bagian dimana aku mulai mendekati dia. Hampir aku tertawa membaca bagian-bagian itu, ingatanku langsung terbawa ke masa-masa aku mendekati Dian, yang sekarang adalah istriku. Begitu detil Dian menuliskan itu semua.

Sampai pada suatu halaman, ada satu kalimat yang tidak asing bagiku. Kalimat singkat yang merupakan isi surat kaleng pertama yang aku terima dulu waktu SMA. Aku semakin penasaran, kulewati saja halaman demi halaman buku harian itu, aku mencari surat-surat kaleng berikutnya, semua ada di dalam buku harian ini. Semuanya sama dengan surat kaleng yang pernah aku terima, termasuk yang terakhir aku terima beberapa hari sebelum hari pernikahanku.

Aku langsung lemas, tidak tahu harus berbuat apa.

Tiba-tiba dari arah pintu ruang tamu.

“Sayang.”

Segera kututup buku harian itu kusimpan kembali di meja rias dan aku pura-pura sedang tidur.

***

Cita-Cita Badu

Suatu hari sepulang sekolah, Badu berjalan kaki sendirian melintasi sebuah peternakan sapi. Dia melihat ada seorang kakek yang kesulitan mengangkat beberapa wadah susu dari aluminium ke atas pedati.

Badu menghampiri kakek itu.

“Kek, bisa saya bantu angkat?”

Kakek itu menatap Badu, sedikit curiga.

“Nggak apa-apa kok Kek, saya ikhlas.”

Kakek hanya mengangguk.

Akhirnya Badu membantu kakek itu menaikkan semua wadah susu itu ke atas pedati, sampai akhirnya semua wadah susu sudah ada di atas pedati.

“Siapa namamu?”

“Badu Kek.”

“Apa Badukek?”

“Maksud saya Badu.”

“Ohhh, kamu tinggal dimana?”

“Di kampung sebelah,” kata Badu sambil menunjuk ke arah kampungnya.

“Ayo naik ke pedati saya, kebetulan saya juga akan menuju kampungmu.”

Akhirnya Badu naik ke pedati kakek itu tadi dan segera dua ekor sapi menarik pedati itu perlahan menuju kampung tempat Badu tinggal. Lumayan pikir Badu, hari ini tidak terlalu capek harus berjalan dari sekolah menuju rumah.

*

“Kek, sudah sampai itu rumah saya,” kata Badu sambil menunjuk ke arah rumahnya.

Kakek itu segera memberhentikan pedatinya.

“Terima kasih ya Kek,” kata Badu seraya turun dari pedati.

“Sebentar Nak, kamu boleh ambil satu wadah susu sapi itu buatmu.”

“Tidak usah Kek,” kata Badu.

“Sudah ambil saja, itu tanda terima kasih dari saya buat kamu.”

Badu akhirnya setuju dan segera mengambil satu wadah susu tersebut.

“Wadahnya bagaimana Kek?”

“Saya sudah tahu rumahmu. Kamu titipkan saja sama orang di rumahmu, besok atau lusa mungkin aku kembali ke kampungmu ini. Aku akan mampir untuk mengambilnya.”

“Baik Kek, terima kasih banyak ya.”

Kakek itu segera berlalu dengan pedatinya. Badu melambaikan tangan dan kemudian berjalan menuju rumah sambil membawa satu wadah susu.

*

Sampai di rumah, Badu langsung meyimpan wadah susu itu dan duduk di depan kursi tempat dia meletakkan wadah susu tadi.

Dia begitu haus, ingin sekali dia menikmati susu itu, tapi Badu berpikir adalah lebih baik menjualnya ke pasar atau kepada tetangganya, dia akan memperoleh uang.

Jadi diurungkannya untuk meminum susu itu. Dia mulai merencanakan apa yang dia akan lakukan dengan susu ini.

Dia akan menjualnya untuk mendapatkan uang yang cukup lalu akan pergi bersenang-senang ke kota, mungkin nonton  di bioskop.

Tapi kalau dipakai nonton, habis nonton, sudah habis uang itu pikirnya. Ditambah ongkos kendaraan ke kota yang cukup mahal. Tidak jadi pikirnya, lebih baik uangnya dipergunakan untuk hal yang lebih berguna.

Badu terpikir untuk membeli telur ayam saja. Ibu punya ayam betina, dia berencana untuk membeli telur ayam untuk dierami oleh ayam betina miliki ibu. Pasti ibu akan mendukung rencananya ini.

Setelah ayam-ayam itu nanti menetas dia berencana untuk merawatnya sampai besar dan bisa bertelur untuk dapat dierami lagi. Terus demikian sampai jumlahnya cukup banyak untuk dijual dan dibelikan sepasang kambing.

Dia akan rawat kambing itu sampai besar dan berkembang biak. Terus dia akan rawat kambing-kambing tersebut sampai jumlahnya cukup banyak untuk dijual dan dibelikan sepasang sapi.

Badu terus berkhayal. Kali ini dia berternak sapi, merawatnya sampai berkembang biak sampai beberapa mungkin bisa dijual. Tidak semua sapi akan dia jual beberapa saja untuk dibelikan kuda.

Memiliki kuda adalah cita-cita Badu sejak lama. Dia sering meminta kepada orang tuanya untuk dibelikan kuda. Badu sangat memimpikan berjalan-jalan keliling kampung atau bahkan pergi ke sekolah dengan menunggang kuda.

Sambil tersenyum-senyum Badu terus berkhayal. Kali ini dia sedang mengkhayalkan dirinya menunggang seekor kuda keliling kampung. Khayalannya kali ini begitu hebat sampai tak sadar dia menirukan gaya orang menunggang kuda dari atas kursinya.

Sampai tiba-tiba, “Klontang!!”

“Badu! Suara apa itu di depan!”

Seorang wanita bergegas dari dapur menuju ruang depan. Wanita itu adalah ibu Si Badu.

Badu hanya diam.

“Aduh kamu lagi apa sih Nak? Itu kok ada susu yang tumpah kemana-mana! Ayo kamu bersihkan!”

***

Ditulis kembali dengan beberapa perubahan dari cerita rakyat Sumatera Utara yang biasa diceritakan dari mulut ke mulut.

In memoriam bapak yang kukasihi, Alm. Peltu. A. Ginting.

Dengar Pendapat

“Silakan masuk.”

Aku segera berdiri dan mendekati penjaga yang memanggil aku.

“Rentangkan tangan.”

Aku mengikuti perintahnya. Petugas menemukan ponselku dan segera mengambilnya.

Okay anda sudah bersih, sekarang boleh masuk. Bapak Presiden sudah menunggu anda. Handphone anda bisa diambil nanti sesudah menghadap Bapak Presiden.”

Aku segera masuk ke ruangan yang ditunjukkan oleh petugas itu.

Entah mengapa aku mendapat panggilan dari presiden hari ini. Katanya sih dia mau mendengar pendapatku. Aku mewakili pengusaha kecil-menengah. Baru-baru ini profilku masuk dalam sebuah majalah ekonomi lokal. Mungkin presiden atau stafnya membaca pemberitaan itu dan tertarik untuk mengetahui tentang diriku lebih dalam lagi.

Sepertinya dalam pemberitaan majalah tersebut, tidak ada kata-kataku yang memojokkan pemerintah. Ya sudahlah, lebih baik aku datang saja memenuhi panggilan beliau.

“Eh, Imam sudah datang, silakan duduk.”

“Baik Pak.”

Pak Presiden menunjukkan sofa dimana aku harus duduk dan dia mulai melangkah dari meja kerjanya ke sofa itu.

“Maaf menunggu lama di luar ya tadi?” Katanya sambil menjabat tanganku erat.

“Oh, tidak apa-apa Pak.”

Entah kenapa, aku yang biasanya begitu disiplin terhadap waktu, terutama dalam hal menjalankan usahaku, sekali tidak mengeluh walau harus satu jam menunggu Pak Presiden di ruang tunggu tadi. Aku menjadi sedemikian permisif. Itu mungkin yang jadi faktor penyebab orang-orang yang dekat dengan kekuasaan sebegitu permisif-nya terhadap presiden. Aku mulai merasakannya, walau dalam hal sepele.

Kami sudah sama-sama duduk.

“Bagaimana kabar?”

“Baik Pak.”

“Usaha bagaimana?”

“Selalu ada tantangan tapi so far so good.”

“Saya suka anak muda seperti anda.”

“Wah, jangan berlebih-lebihan Pak.”

“Tidak kok. Berapa karyawan anda?”

“Sepuluh orang.”

“Coba ada empat juta orang seperti anda, tidak perlu ada TKI ke luar negeri, anda empat puluh juta lapangan usaha. Sekali lagi saya kagum.”

Aku tersenyum, empat juta usaha kecil? Bisa saja, tapi dengan kondisi birokrasi negeri ini, rasanya itu mimpi di siang bolong.

“Banyak kendala tidak saat menjalankan usaha?”

“Banyak suka dan dukanya Pak.”

“Coba berikan saya contoh, saya sengaja mengundang anda bertemu empat mata, saya mau menggali pendapat anda yang sejujur-jujurnya tanpa ada tekanan dari pihak mana pun.”

“Contohnya, maaf ya pak jangan tersinggung.”

“Kenapa memang?”

“Listrik sering padam.”

Hening sejenak, Bapak Presiden manggut-manggut, sementara aku harap-harap cemas menunggu jawabannya.

“Hmmm, masalahnya pelik, tapi sesegera mungkin akan kami tangani.”

“Terima kasih Pak. Sebagai solusi kami membeli genset untuk mengatasi ini, tapi Bapak kan tahu sendiri, harga solar dan bensin kan juga naik terus, jadi kami hanya pakai genset kalau memang benar-benar ingin mengejar target saja. Untuk produksi normal lebih baik kami tunggu sampai listrik menyala.”

Aku terdiam sejenak, kulihat dari tadi ada segelas air putih di hadapanku.

“Pak ini, boleh saya minum?”

“Oh iya, maaf, maaf, silakan diminum dulu Mam.”

Wah aku baru saja dipanggil Mam oleh Bapak Presiden. Suatu kebanggaan, presiden mencoba akrab denganku.

Aku meminum air dalam gelas itu, hilang dahagaku. Sejak tadi di ruang tunggu sebenarnya aku sudah sangat haus, apa daya aku tidak berani untuk meminta penjaga di depan untuk segelas air.

“Soal listrik ini, pernah mati sampai dua hari, terpaksa kami gunakan genset. Ongkos produki jadi tinggi, sebenarnya saat itu kami menanggung rugi, tapi tak apa Pak, yang penting pelanggan puas dan tidak kabur karena pesanannya molor.”

“Ya memang dalam menjalankan bisnis perlu sedikit inovasi.”

Aku sebenarnya ingin tertawa mendengar pernyataan beliau, dia menyebutkan kata inovasi. Membeli genset masuk dalam kategori inovasi menurut beliau. Beruntung aku bisa mengendalikan diri untuk tidak tertawa saat itu.

“Lalu ada lagi?”

“Masalah keaamanan Pak. Sering ada preman yang minta jatah, ada saja alasannya. Saya pernah mencoba untuk berani tidak memberi mereka jatah, besoknya sepeda anak saya hilang Pak. Saya bukan menuduh preman itu yang melakukan. Akhirnya saya tidak berani menentang preman-preman itu, tidak pernah ada kehilangan lagi setelah itu.”

“Kenapa tidak kamu laporkan pada Polisi saja? Negara kita kan negara hukum.”

Aku hampir tertawa untuk kedua kalinya. Kali ini aku masih bisa menahannya.

“Maaf Pak, premannya anak Polisi.”

Bapak Presiden hanya diam, manggut-manggut. Aku juga diam aku takut beliau bereaksi negatif terhadap kalimat terakhirku tadi.

“Baiklah, sudah saya catat, ini adalah agenda reformasi dalam tubuh instansi pemerintah dan alat negara. Terimakasih anda sudah mau jujur. Apa ada lagi yang menggangu?”

“Sebenarnya banyak Pak, tapi saya yakin Bapak tidak punya banyak waktu berbincang-bincang dengan saya.”

Entah mengapa, aku semakin percaya diri berbicara dengan orang di hadapanku ini. Aku bahkan hampir tidak sadar bahwa orang ini adalah presiden, lembaga eksekutif tertinggi di negeri ini.

“Coba apa sekiranya yang paling penting untuk disampaikan.”

“Pajak dan pungli Pak.”

“Imam, pajak kan sudah menjadi kewajiban semua warga negara. Kalau soal pungli dari preman itu maksud kamu? Itu kan sudah saya jawab, bahwa saya sedang melakukan reformasi birokrasi.”

“Oh kalau jatah preman sudah saya anggap gaji karyawan saja Pak.”

“Lalu siapa lagi yang melakukan pungli?”

“Maaf ya Pak, orang-orang Bapak, oknum dari instansi pemerintah. Mereka selalu mencari-cari kesalahan saya, soal peruntukan rumah tinggal yang dipakai untuk usaha misalnya. Padahal kan memang kami ini usaha kecil, untuk menghemat biaya kalau masih bisa dilakukan di rumah dan tidak mengganggu lingkungan, saya pikir mengapa tidak?”

“Lalu?”

“Intinya bukan masalah peruntukan bangunan Pak, buktinya kalau akhirnya kami berikan amplop mereka tidak mengungkit lagi masalah itu.”

“Lalu?”

“Biasanya kalau ada pergantian pejabat, akan datang lagi orang yang baru, dan solusinya tetap sama Pak, sodorin amplop.”

“Hmmm, cukup rumit.”

Aku tidak menunggu dipersilakan lagi, kuminum lagi air putih tadi beberapa teguk, dan kembali bicara.

“Belum lagi kalau dekat hari raya, preman dan oknum instansi pemerintah itu juga minta THR.”

“Hmmm, rumit.”

Kami berdua diam cukup lama. Aku lihat dia termenung dan berpikir keras.

Akhirnya Bapak Presiden membuka pemberbicaraan.

Okay Mam, informasi yang bagus dari kamu. Apa yang perlu saya bantu? Apa kamu perlu referensi saya untuk mengambil pinjaman di bank?”

“Oh, terima kasih Pak, tapi rasanya saya tidak perlu itu.”

Okay, bagaimana kalau saya tawarkan bantuan pemerintah bentuknya modal yang tidak perlu kamu kembalikan.”

“Wah, sekali lagi itu juga tidak perlu Pak.”

“Kamu butuh mesin apa untuk meningkatkan produksi usahamu, saya akan pesankan buat kamu, gratis, hibah dari pemerintah.”

“Tidak perlu pak, terima kasih banyak untuk niat Bapak yang mulia ini.”

“Jadi kamu perlu apa?”

“Maaf Pak, saya hanya butuh satu..”

Belum selesai aku bicara Pak Presiden memotong kalimatku karena tidak sabar.

“Apa itu kakatan Mam?”

“Jangan ganggu kami Pak”

***

Anak-Anak Berbakat

Saat itu aku sedang berkumpul bersama ibu-ibu yang lain di sebuah halaman sekolah taman kanak-kanak. Anak-anak kami baru saja selesai keluar dari kelas masing-masing. Kami ibu-ibu belum selesai dengan urusan kami, ngerumpi, jadi kami biarkan anak-anak bermain di lapangan sekolah.

“Stephen! Ayo sini kita harus pulang, kamu kan ada les nanti!” Teriak salah satu ibu.

Dia memanggil anaknya, Stephen. Anak ini luar biasa cerdas dalam hal bahasa. Usianya masih empat tahun, tapi sudah bisa bicara beberapa bahasa internasional. Bahasa Inggris sih bukan hal yang aneh, itu sudah menjadi semacam standar. Stephen malah bisa bahasa-bahasa lain seperti: Spanyol, Perancis, Mandarin dan Jepang. Pernah kemampuannya didemonstrasikan kepada kami, dan ini membuat ibu-ibu yang lain terkagum-kagum. Memang selain Bahasa Inggris, tidak satu pun di antara kami yang menguasai bahasa-bahasa yang Stephen kuasai. Tapi tetap ketika Stephen mendemonstrasikan kemampuannya kami mendengar dia begitu fasih dalam berbicara dalam bahasa-bahasa itu. Tak pelak decak kagum pun terlontar dari mulut kami masing-masing.

Stephen, are you finished yet? We have to go now. Remember your French class son?” Sang ibu kembali memanggil Stephen untuk kedua kalinya. Kali ini menggunakan Bahasa Inggris.

Stephen sagera datang.

“I’m sorry mom, we can go now,” Stephen menjawab. Pelafalan kalimatnya sungguh luar biasa, atau dalam istilah bahasa sering disebut native speaking. Lain dengan sang ibu yang walau berbahasa Inggris tetap terlihat dialek medok Jawanya.

“Jeng, saya pergi dulu ya, ada les Inggris nih, sore juga ada les Perancis lagi. Sampai ketemua besok.” Temanku berpamitan.

Ibu-ibu yang tersisa masih asyik mengobrol, sementara anak-anak kami masih asyik bermain di lapangan.

“Anaknya ikut kursus apa Jeng?” Tanya salah satu ibu.

“Ah belum serius Mbak. Untuk kegiatan di luar sekolah paling sekarang hanya berenang, itu juga bukan kursus, hanya have fun dengan keluarga saja di akhir pekan, atau sekedar jalan-jalan ke luar kota, ke tempat yang udaranya masih fresh,” Jawabku.

Ibu yang bertanya tadi adalah orang tua dari Aurel. Anak perempuan yang cerdas dalam soal matematika. Orangtuanya memasukkan Aurel ke sekolah mental aritmatika, sehingga Aurel bisa menghitung dengan sangat cepat. Pernah kami memberi beberapa soal perkalian yang cukup rumit, Aurel bisa menjawabnya dengan cepat tanpa bantuan kalkulator maupun kertas untuk menghitung. Aurel juga memiliki keahlian lain yang cukup mencengangkan, dia bisa menulis dengan baik menggunakan tangan kanan maupun tangan kirinya. Bahkan untuk hal ini kami pernah ditunjukkan keahliannya, dia bisa menulis beberapa kalimat dengan tangan kiri dan tangan kanan secara bersamaan. Kalimat yang ditulis dengan tangan kiri berbeda dengan kalimat yang ditulis dengan tangan kanan. Sungguh mencengangkan.

“Mari Jeng, saya duluan, Aurel masih harus pergi ke les,” katanya padaku berpamitan.

“Oh, hati-hati di jalan Mbak,” aku menjawab sambil mengangguk.

Satu per satu teman-temanku mulai pulang. Budi – anakku semata wayang – masih bermain dengan salah satu temannya, Jason. Jemputan untuk Jason belum datang, sehingga kuputuskan membiarkan Budi menemani Jason sampai jemputannya datang.

Jason ini juga anak yang berbakat. Dia menguasai lima alat musik, mulai dari piano, flute, biola, drum dan gitar. Setiap hari Jason harus berlatih kelima alat musik ini, entah datang ke tempat kursus atau sengaja didatangkan guru ke rumahnya. Sodorkan sebuah partitur dalam not balok pada Jason, dengan mudah dia dapat menguasainya.

Jemputan Jason sudah datang, Budi segera menghampiriku dan kami pun pulang.

*

Percakapan di tempat tidur.

“Kang, aku kok minder ya sama ibu-ibu yang lain kalau jemput Budi ke sekolah?” Aku mengadu pada suamiku.

“Kenapa sih?” Katanya sedikit kesal.

“Tuh Si Stephen, dia bisa bahasa macem-macem. Inggris-nya sih udah pasti bagus, jangan ditanya lagi. Selain itu dia juga bisa bahasa asing yang lain Kang, contohnya: Spanyol, Perancis, Jepang, Mandarin.”

“Lalu kenapa?”

“Kamu ini tidak peka ya Kang!”

“Loh kok nyalahin aku sih? Aku dulu bahkan dulu sebelum masuk SD, Bahasa Indonesia saja belum lancar, bisanya ya Bahasa Sunda. Sekarang bisa juga tuh Bahasa Inggris, belajar dari SMP. Emangnya anak kecil mau nulis proposal pakai Bahasa Inggris Neng? Apalagi bahasa Spanyol, hahahaha.”

“Kamu itu Kang nggak ngerasain sih mindernya aku. Belum lagi ada anak perempuan nih, namanya Aurel. Masih TK juga sama kayak Si Budi anak kita, tapi hitungan matematikanya luar biasa Kang, sama dengan kalkulator.”

“Ya tinggal beli kalkulator saja Neng, yang made in china kan murah?”

“Ah Si Akang, nih ada lagi nih, Si Jason. Aduh, main musiknya juga sangat hebat, bisa empat atau lima alat musik Kang.”

“Aduh hebat itu Si Jason, mau konser dimana dia ya?”

“Kang serius atuh!”

“Saya juga serius ini Neng, dua rius malahan,” suamiku menjawab. Dari tadi dia tidak pernah serius menanggapi keluhanku, aku sedikit kesal.

“Aduh Si Akang, sepertinya tidak perhatian sekali sih dengan nasib Budi?”

“Nasib Si Budi atau nasib kamu Neng?”

“Kok nasib aku Kang?”

“Iya, Si Budi sih tidak pernah mengeluh kok soal dia tertinggal dengan anak-anak yang lain. Lagipula kan dia masih TK, singkatan dari apa TK coba Neng?”

“Taman Kanak-Kanak.”

“Nah itu kamu tahu, kan ada lagunya.”

Tempat bermain, berteman banyak

Itulah taman kami taman kanak-kanak

“Idih si Akang, malahan nyanyi dia mah.”

“Iya itu kan lagunya kamu juga tahu. TK itu tempat bermain dan berteman, tapi malahan kamu pakai minder segala dengan teman-teman Si Budi yang bisa macam-macam begitu. Si Budi juga hebat kan, dia sudah bisa baca sekarang, saya dulu masuk SD saja belum bisa baca.”

“Iya sih.”

“Anak TK sekarang harus bisa baca, hebat euy, saya sebenarnya kurang setuju, tapi buktinya Si Budi bisa mengikuti. Berarti dia mampu bersaing.”

“Iya tapi apa kamu tidak ngiri Kang?”

“Ngiri apa?”

“Ngiri sama kemampuan teman-teman Si Budi yang jauh di atas Si Budi.”

“Apa Si Budi minder Neng?”

“Tidak sih.”

“Nah berarti kamu yang minder Neng, kamu saja sok yang ikut les, mau apa? Les Perancis, Spanyol, Kumon atau les musik seperti biola gitu Neng?”

“Ih Si Akang malah nyuruh saya yang les, kita kan sedang bicarain soal anak kita, Budi.”

“Habis kan yang minder kamu bukan Budi.”

“Tapi Kang, saya khawatir nanti Budi tertinggal.”

“Tidak akan Neng, hidup anak kita masih panjang. Si Budi itu masih empat tahun, kayak nggak ada waktu saja untuk belajar sih? Daya serap manusia sampai usia belasan bahkan di atas dua puluh tahun masih cukup tinggi, yang penting sekarang tanamkan kemauan saja. Nanti takutnya kalau dari sekarang kita cekokin, dia bisa bosan, jadinya nanti antiklimaks.”

“Alah si Akang bahasanya tinggi euy pakai antiklimaks segala.”

“Eh Neng, ini serius.”

“Iya saya juga serius, dua rius malahan,” kubalikkan perkataannya tadi. Suamiku tersenyum dan mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Ya sudah besok tanya anak kita, dia mau les apa? Kalau sesuai keinginan dia saya setuju untuk kita ikutkan dia les, tapi tetap saya tidak mau kalau nanti Si Budi dikasih target yang terlalu membuat dia stress.”

“Iya Kang, coba saya tanya dulu, saya ngiri tuh sama ana-anak berbakat itu.”

“Berbakat? Anak berbakat atau anak sirkus?”

Aku terdiam. Kata-kata terakhir suamiku begitu skeptis, tapi mengena. Memang sebenarnya apa gunanya mampu berbagai macam bahasa, menghitung cepat atau bisa berbagai macam alat musik dalam usia yang terlalu dini, kalau toh si anak terpaksa melakukannya. Toh kalau memang dia punya minat nanti dia pasti mendalaminya, asal diarahkan tentunya.

Benar juga kata suamiku tadi, walau dalam percakapan kami tadi suamiku banyak bercanda, tapi inti yang dia sampaikan akhirnya bisa aku terima.

“Bener juga ya Kang.”

“Aduh, kirain sudah tidur kamu Neng. Sudah dulu ah Neng, kita tidur saja ya?” Keluhnya setengah tertidur.

***