Surat Kaleng

“Dian, jadi kamu nerima aku nih?”

“Iya, Yan.”

“Makasih ya?”

Dian hanya terdiam, aku pegang tangannya dia tidak menolak. Coba kukecup tangannya, dia menarik dengan halus.

“Jangan dulu ya?”

Aku hanya mengangguk tanda setuju.

*

Saat itu aku masih duduk di bangku SMA. Aku begitu tertarik dengan salah satu murid dari kelas lain yang namanya Dian. Orangnya bukan yang paling cantik di sekolahku, tapi gayanya yang begitu kalem, keibuan, membuat aku ingin tahu lebih dalam tentang dia.

Aku termasuk yang pandai bergaul baik itu dengan temanku laki-laki maupun perempuan. Tapi entah kenapa dengan Dian, aku begitu hilang akal, sama sekali tidak berani untuk memulai pembicaraan atau sekedar berbasa-basi mengajak kenalan.

Kami belum pernah berkenalan secara formal, tapi karena kelas kami bersebelahan tentu aku tahu namanya, dan aku juga yakin bahwa dia pasti tahu namaku.

Sampai suatu hari aku memberanikan diri untuk menulis surat. Memang terlihat kurang jantan, tapi yang penting dia bisa tahu bahwa aku begitu ingin untuk dekat dengan dia dan menjalin hubungan yang lebih serius dengan dia.

Masalah kedua datang lagi, akut tidak berani memberikan surat itu kepada Dian, sehingga aku harus meminta bantuan sahabatku satu kelas Widhie.

“Waduh Yan, kamu kok cemen ya?” Demikian komentar Widhie saat pertama kali aku menjelaskan padanya soal bantuan yang aku minta darinya.

“Iya please Wid, kali ini aku bener-bener minta tolong.”

“Satu, kamu sudah tidak berani ngomong langsung sama dia. Kamu pakai surat untuk berkenalan, itu saja sudah satu masalah besar buat aku. Yang kedua, eh untuk nyampaikannya saja kamu nggak berani?”

Aku terdiam.

“Gimana mau diterima?” Kata Widhie lagi setengah mencibir.

Aku tidak sakit hati dengan kata-kata Widhie, kami sudah satu sekolah sejak SMP, dan sudah biasa saling ejek. Walau dengan kata-kata yang sedikit tidak enak didengar, aku sadar bahwa apa yang diucapkannya seratus persen benar.

“Aku tahu Wid, tapi bantu aku sekali ini saja.”

Okay kali ini aku bisa maklumi, mana sini suratnya?”

“Ini,” kataku sambil menyerahkan surat itu pada Widhie.

“Payah lo!” Masih saja dia mencoba untuk menghinaku. Aku tidak peduli dan sama sekali tidak tersinggung. Yang penting dia sudah bersedia membantuku.

Widhie segera masuk ke kelas Dian. Ini jam istirahat dan kami memang sudah lihat tadi, Dian sudah masuk ke dalam kelas.

Sekitar dua menit aku menunggu di depan pintu kelasku sampai akhirnya Widhie keluar dari kelas Dian.

“Gimana sudah kan?” Tanyaku tak sabar.

“Sudah, Dian nggak ada di kelas, jadi aku titip aja sama temannya.”

“Yah gimana sih kamu Wid?” Aku begitu emosi.

“Gimana apanya?”

“Kan aku minta tolong kamu, kenapa kamu malah minta tolong lagi sama orang lain?”

“Lho, kan kamu nggak kasih perintah yang spesifik harus Dian langsung yang nerima? Aku lihat Dian tidak ada di dalam kelas, ya jadi aku titip aja sama orang yang ada di dalam kelas? Masak aku celingukan di kelas orang lain? Yang bener aja Yan?”

Pembelaan Widhie masuk akal. Aku mengurungkan niatku untuk marah-marah padanya.

“Terus kamu titip siapa?”

“Hendra.”

“Aduh kamu ini Wid, nanti seluruh kelas Dian tahu aku sedang pendekatan sama dia, sialan kau Wid.”

“Yan, kamu itu udah aku bantuin bukannya malah terima kasih malahan begini. Aku nggak mau bantuin kamu lagi deh kalau gini caranya.”

“Jangan gitu dong. Ya udah sorry, sorry, aku minta maaf deh.”

“Tenang aja pasti surat itu sampai ke tangan Dian.”

*

Sudah tiga hari sejak surat itu kutitipkan pada Widhie untuk diserahkan kepada Dian, setiap berpapasan dengan Dian, aku dan dia selalu bertukar senyum. Hanya saja, tidak sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami berdua ketika kami berpapasan.

Aku jadi ragu apakah benar di Widhie menyampakan surat itu. Aku sangat percaya pada Widhie, dia sahabatku. Mungkin suratku itu disabotase di tengah jalan oleh Hendra. Mendamprat Hendra sungguh aku tidak berani, bukannya karena taku bekelahi, tapi aku akan hanya mempermalukan diriku sendiri.

Sampai suatu hari usai pelajaran olah raga, aku kembali ke kelas. Aku menemukan sepucuk surat dalam amplop tergerletak di mejaku. Surat itu berbunyi:

Dear Yan,

Saya tahu kamu suka sama Dian, tapi jangan  coba-coba dekati dia. Dia milikku.

Dia juga tidak suka kamu kirim-kirim surat. Ini suratnya aku kembalikan.

Dalam amplop itu, disertakannya surat yang kutulis untuk Dian dalam keadaan sudah kusut.

Aku kemudian coba menduga-duga, siapa yang menulis surat ini? Yang tahu urusan ini hanya Widhie dan Hendra. Widhie sudah pasti tidak mungkin menghkianati aku, dia orang yang sangat terbuka dalam bergaul dengan siapa pun. Kalau suka dia akan bilang suka, sebaliknya kalau tidak suka dia juga tidak pernah mencoba-coba menutupinya.

Hendra, aku tidak banyak mengenal pribadinya. Ada kemungkinan dia yang melakukan sabotase ini. Tapi buat apa? Apa dia juga naksir Si Dian?

Kelas masih kosong, sedang asyik aku menduga-duga, tiba-tiba ada suara yang mengagetkan aku.

“Hey, Yan! Jangan ngelamun gitu ah!” Widhie baru saja sampai di kelas.

Aku tidak banyak bicara kusodorkan dua lembar surat itu pada Widhie. Satu suratku pada Dian dan satu lagi surat kaleng yang tidak jelas siapa pengirimnya.

Widhie mengambilnya dan mulai membacanya dengan serius. Dia juga jadi tahu isi surat yang kutulis buat Dian. Ketika dia membaca bagian itu Widhie sedikit tersenyum sambil memandangku.

“Tuh kan malah ngeledek,” keluhku.

“Rumit juga nih. Aku sih bukannya takut sama Si Hendra, tapi kalau kamu labrak dia, masalahnya bisa panjang dan kamu jadi malu sendiri. Berkelahi urusan pacar? Nggak deh,” katanya.

“Jadi lebih baik kamu temuin aja Si Dian nanti pulang sekolah, supaya semuanya jadi jelas,” saran Widhie.

*

Pulang sekolah aku menunggu Dian di depan kelasku karena mau tidak mau dia harus melintasi kelasku untuk menuju gerbang keluar.

Aku sudah dapat melihat Dian datang ke arah kelasku. Dia sudah semakin dekat dengan aku. Tapi entah kenapa aku belum juga berani untuk menyapa dia duluan. Sampai akhirnya dia tersenyum, aku juga membalas seyumannya. Tapi kubiarkan dia berlalu melewatiku.

Sampai tiba-tiba ada yang mendorong aku begitu keras kearahnya. Aku benar-benar tidak dapat mengendalikan diri dan tubuhku menabraknya dari belakang. Aku dan Dian sama-sama tersungkur di lantai. Sedikit kutengok ke belakang ternyata itu kerjaan si Widhie, yang langsung senyum-senyum dan pura-pura tidak tahu. Belum sempat aku bereaksi dia sudah lari duluan.

“Aduh maaf ya, nggak apa-apa kan? Soalnya ada yang dorong aku dari belakang.”

“Eghh, nggak apa-apa sih.”

Aku ulurkan tanganku untuk membantu dia bangun. Dian segera merapikan pakaiannya.

Ini pertama kali aku akhirnya bicara dengannya. Tadinya aku mau marah saja pada si Widhie, tapi ternyata maksudnya baik. Mungkin kalau tidak didorong Widhie, sampai sekarang aku belum juga bicara dengan Dian.

“Sudah baca surat saya?”

“Sudah. Tapi kemarin aku simpan di meja, suratnya hilang, nggak tau siapa yang ambil.”

“Ohh.”

Aku pura-pura tidak tahu saja. Aku juga tidak menceritakan bahwa ada yang mengirimiku surat kaleng berisi ancaman untuk tidak mendekati dirinya. Aku juga tidak cerita bahwa surat itu sudah kembali ada di tanganku.

“Jadi gimana?”

“Hmmm…”

“Kamu sudah punya pacar ya?”

“Belum kok.”

“Atau belum mau pacaran?”

“Mau aja kalau ada yang cocok.”

“Atau aku bukan tipe kamu?”

“Belum tahu, orang kita kan belum kenalan.”

Okay kalau gitu kita sekarang kenalan, nama aku Yan.”

“Aku Dian.”

Kami berjabat tangan, canggung, tapi tanpa sengaja saling melempar senyum.

“Jadi setelah ini gimana?” Tanyaku.

“Gimana apanya?”

“Ya boleh nggak aku jadi pacar kamu?”

“Soal boleh ya pasti boleh, itu hak semua laki-laki, tapi masalahnya aku mau atu tidak?” Dian tersenyum sambil menggodaku.

“Aduh, jangan bikin bingung dong.”

“Kamu juga, baru nulis surat sekali aja sudah langsung nembak kayak gini.”

“Iya, maaf ya.”

“Jalanin aja dulu, tapi aku nggak tertutup kok orangnya.”

*

Mulai saat itu setiap pulang sekolah aku selalu bersama dengan Dian. Kadang dia dijemput orang tuanya, tapi saat giliran orang tuanya tidak menjemput, kami pulang bersama naik angkot. Kebetulan arah rumah kami sama.

Anehnya surat kaleng itu masih datang juga sesekali. Sekali surat itu datang ke kelas, sekembalinya aku ke kelas sehabis jam istirahat, kulihat ada amplop di atas mejaku. Isi surat itu adalah:

Oh masih berani ya? Saya sudah bilang jangan dekati.

Aku tetap tidak gubris surat itu. Bahkan aku makin lengket saja dengan Dian. Sampai suatu hari Surat itu datang ke rumahku.

Kamu nggak percaya sama saya? Saya tidak main-main. Bahkan saya tahu alamat rumat kamu.

Orang ini tidak pernah berpanjang-panjang dalam menulis surat, tapi surat-suratnya cukup membuatku kecut. Aku masih tetap merahasiakan hal ini kepada Dian dan orang-orang lain tentang keberadaan surat-surat ini. Aku hanya terbuka pada temanku Widhie dalam hal ini, tapi isi surat pun tidak pernah aku beritahu padanya.

Widhie menyarankan untuk aku terbuka pada Dian. Usulnya ini kutolak mentah-mentah karena sebagai laki-laki aku tidak ingin terlihat penakut di mata Dian.

*

Demikian sebulan pendekatanku dengan Dian, aku sering menunjukkan perhatianku pada dia. Misalnya sekedar membelikan roti atau makanan lain pada jam istirahat. Bila ada kesempatan kami pulang bersama naik angkot, sering kami bercanda tertawa-tawa di dalam angkot sampai sering penumpang yang lain merasa terganggu.

Sampai akhirnya aku berani menyatakan sekali lagi perasaanku padanya bahwa aku suka padanya. Dian tidak menolak, status kami sekarang pacaran, istilah anak mudanya: jadian.

Sampai suatu hari aku begitu kaget, sesampainya aku di rumah, ada sepucuk surat. Isinya:

Jadian ya? Selamat.

Singkat saja, tapi bagi aku itu mendatangkan teror yang membuat hidupku tidak tenang. Ingin aku menelusuri siapa orang ini, tapi usaha yang aku keluarkan akan terlalu memakan waktu dan tenaga, sedangkan sekarang aku sedang dalam persiapan untuk masuk ke perguruan tinggi.

Aku pun masih tetap tertutup pada Dian soal ini. Bahkan pada Widhie, hal ini pun sudah tidak lagi kuceritakan.

Aku tetap tidak setuju dengan pendapat Widhie, bisa-bisa Dian mengganggap aku cengeng dan penakut, simpati Dian padaku bisa hilang, dan akhirnya hubungan kami bisa kandas di tengah jalan.

Kecurigaanku tetap pada Hendra. Karena surat pertama yang kutitipkan pada Widhie, dia titipkan lagi pada Hendra. Mungkin sebelum sampai ke tangan Dian dia sudah terlebih dahulu membaca surat itu. Kemudian dia juga yang mengambilnya dan mengembalikannya padaku disertai dengan sebuah ancaman untuk tidak mendekati Dian.

Pernah aku sengaja memancing Hendra. Aku sengaja menjatuhkan amplop-amplop surat kaleng yang pernah aku terima tersebut di depan Hendra. Aku ingin tahu reaksinya. Dia hanya pura-pura tidak lihat saja.

Tapi aku perhatikan sejak aku dekat dengan Dian, Hendra sering sekali memandangi aku dari pintu kelasnya, saat aku juga sedang bersama teman-temanku di depan pintu kelasku. Biasanya kutatap balik dia, dan dia akan segera memalingkan pandangannya ke arah lain atau pergi masuk ke dalam kelas.

*

Hubunganku dengan Dian malah kian mesra. Sekarang Dian sengaja meminta orang tuanya untuk tidak menjemputnya sepulang sekolah. Alasannya dia mau belajar mandiri.

Karena tahun ini kami mempersiapkan diri unruk masuk ke perguruan tinggi, kami pun mendaftar ke bimbingan belajar yang sama, supaya bisa tetap belajar tapi juga makin lengket.

Surat-surat kaleng itu masih terus datang. Si pengirim tahu tentang acara-acara kami, mulai dari mendaftar ke bimbingan belajar yang sama, atau kalau kami pergi makan siang bersama, dan lain-lain. Terus terang aku sedikit terganggu awalnya, tapi lama-lama aku mulai terbiasa dan kuanggap angin lalu saja. Kalau memang itu orangnya Hendra, senekat apapun nanti dia aku tidak akan takut sama sekali padanya.

Sulit juga bagiku untuk mencurigai orang di sekolah atau di bimbingan belajar, karena rata-rata yang ikut di bimbingan belajar kami ya murid-murid dari sekolahku juga.

*

Waktu terus berlalu sampai akhirnya kami lulus dari bangku SMA dan mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN). Aku dan Dian sama-sama lulus dalam ujian kami, kami sama-sama masuk ke Perguruan Tinggi Negeri. Sayangnya aku di terima di Yogyakarta dan Dian tetap di Bandung.

Kami tidak mau permasalah jarak ini membuat hubungan kami makin renggang. Kala itu ponsel masih barang yang sangat mewah dan Internet adalah barang yang langka. Jadi terpaksa kami hanya melakukan hubungan lewat surat menyurat.

Sesekali kalau ada kiriman lebih dari orang tuaku di Bandung, aku pergi ke wartel untuk meneloponnya.

Sudah pasti kalau liburan semester aku pulang ke Bandung. Niatnya untuk mengunjungi orang tua dan keluarga, tapi yang terjadi malah kami lebih banyak bersama-sama, bertemu keluarga hanya saat sudah mendekati waktu tidur.

Itulah hebatnya, aku dan Dian sama-sama menjaga hubungan kami. Kami ingin hubungan ini lanjut ke jenjang pernikahan. Karena jarak yang jauh, kami justru terpacu untuk menyelesaikan kuliah kami secepat-cepatnya.

Surat-surat kaleng itu pun tidak pernah kuterima lagi. Nampaknya semua sudah berjalan menurut rencana kami, tanpa ada aral melintang.

*

Lima tahun kemudian.

Kami lulus hampir  bersamaan. Sebelum lulus aku bahkan sudah diterima di sebuah perusahaan konsultan keuangan di Jakarta. Tak perlu repot mencari pekerjaan sudah ada pekerjaan yang menungguku di Jakarta.

Dian juga sudah lulus, tapi dia masih melamar ke sana ke mari, sudah enam bulan belum juga ada lamarannya nyantol.

Enam bulan aku bekerja aku banyak menabung. Gajiku lumayan sehingga dengan gaya hidupku yang terbiasa susah, aku bisa cukup mengumpulkan modal yang lumayan. Aku memberanikan diri untuk melamar Dian. Aku datang bersama kedua orang tuaku untuk melamarnya. Kami sama-sama dari keluarga menengah, tidak kekurangan tapi juga tidak berlebih.

Suasana lamaran juga sebenarnya hanya basa-basi kenalan antar sesama calon besan, tidak ada keluarga lain yang datang, hanya keluarga inti.

Ayah dan ibu Dian juga tampaknya tidak keberatan dengan rencanaku. Terserah Dian saja kata mereka, jelas Dian pasti setuju karena memang sebelum datang ke rumahnya kami berdua sudah pernah mendiskusikan tentang hal ini.

*

Menjelang pernikahan.

Pernikahan dilaksanakan di Bandung karena orang tua kami sama-sama tinggal di kota ini. Rencananya acara tidak akan bermewah-mewah. Setelah akad nikah, resepsi akan dilakukan di rumah Dian. Undagan pun sangat dibatasi, hanya keluarga dekat dan beberapa teman saja yang diundang.

Karena dilaksanakan di Bandung, aku tentunya tinggal di rumah orang tuaku dua hari sebelum pernikahan. Masa kerjaku di perusahaan tempat aku bekerja belum genap satu tahun. Sebenarnya menurut aturan perusahaan, aku belum boleh mengambil cuti. Tapi karena atasanku cukup perhatian padaku dia memberikan dispensasi.

Aku titip pada atasanku untuk jangan dulu gembar-gembor sama teman-teman di kantor, karena acara yang kurancang hanya acara sederhana. Tidak enak rasanya kalau banyak orang tahu, tapi tidak aku undang ke acaranya nanti.

Satu yang membuat aku kaget, surat kaleng itu datang lagi ke rumah orang tuaku, sehari sebelum hari pernikahan. Aku kira aku sudah terbebas dari teror kampugan ini, tapi tertanya tidak. Isinya singkat saja:

Berani ya kamu? Kamu tidak gubris sama sekali surat-suratku sebelumnya. Kamu kira aku main-main?

Selamat menempuh hidup baru.

Kalimatnya penuh ancaman walau diakhiri dengan ucapan selamat.

Aku coba menduga-duga siapa yang mengirim surat kaleng ini? Apa orang yang sama dengan yang mengirim surat-surat kaleng itu dulu ketika aku SMA? Aku masih simpan semua surat itu, tak ada satu pun yang tahu isi surat itu, kecuali Widhie sahabatku. Itu pun hanya beberapa surat di awal-awal aku menerimanya. Waktu berikutnya aku tidak lagi menunjukkan surat-surat itu kepada Widhie.

Pernikahan ini pun tidak terlalu banyak orang yang tahu. Hanya keluarga dekat, beberapa teman SMA dan kuliah yang benar-benar dekat denganku atau Dian saja yang diundang. Aku coba menduga-duga, tapi rasanya tidak mungkin salah satu dari antara teman-teman itu yang tega melakukan ini pada diriku.

Apa daya, semua sudah dijalankan. Masak hanya gara-gara surat kaleng dari orang iseng saja aku mundur? Pernikahan tetap dilaksanakan, aku simpan saja surat itu pada sebuah amplop coklat, tempat aku menyimpan semua arsip surat kaleng iseng itu.

*

Dua minggu setelah pernikahan.

“Sayang aku pergi belanja dulu.”

Hari Sabtu, hari untuk bermalas-malasan. Aku masih tidur pagi itu.

“Hmm…”

“Mau dimasakin apa nanti?”

“Egghh, apa aja deh boleh.”

Okay, aku jalan dulu ya, nggak lama kok.”

“Iya, hati-hati ya sayang.”

Okay.”

Begitulah, aku sudah mengontrak rumah di Jakarta. Untuk ukuran pasangan baru, ini sudah lumayan. Dua kamar, dapur, kamar mandi dan ruang tamu walau kecil. Sudah lebih dari cukup bagi kami.

Gara-gara dibangunkan istriku, aku tidak bisa lagi kembali untuk tidur. Jadi segera aku ke kamar mandi untuk membasuh mukaku dan gosok gigi.

Aku kembali ke kamar dengan segelas air putih, berencana untuk bersantai-santai kembali di tempat tidur setelah seminggu yang lalu jadwalku begitu penuh untuk mengejar target dari kantor. Maklum ambil cuti satu minggu jadi kerjaan numpuk.

Sampai di kamar kulihat di meja rias ada sebuah buku, bentuknya mirip buku harian. Penasaran aku ambil buku itu dan memang ini buku harian. Buku ini milik Dian tentunya, ada namanya tertera di sampul buku.

Aku buka saja, walau sebenarnya tidak etis untuk membuka sebuah buku harian walau itu milik istri sendiri. Tapi rasa penasaranku jauh mengatasi etikaku.

Sambil takut-takut kalau tiba-tiba Dian kembali ke rumah, aku mulai membaca halaman demi halaman buku hariannya. Aku jadi tahu siapa mantan-mantan dia dulu, sambil senyum-senyum aku terus baca buku hariannya. Sampai masuk ke bagian-bagian dimana aku mulai mendekati dia. Hampir aku tertawa membaca bagian-bagian itu, ingatanku langsung terbawa ke masa-masa aku mendekati Dian, yang sekarang adalah istriku. Begitu detil Dian menuliskan itu semua.

Sampai pada suatu halaman, ada satu kalimat yang tidak asing bagiku. Kalimat singkat yang merupakan isi surat kaleng pertama yang aku terima dulu waktu SMA. Aku semakin penasaran, kulewati saja halaman demi halaman buku harian itu, aku mencari surat-surat kaleng berikutnya, semua ada di dalam buku harian ini. Semuanya sama dengan surat kaleng yang pernah aku terima, termasuk yang terakhir aku terima beberapa hari sebelum hari pernikahanku.

Aku langsung lemas, tidak tahu harus berbuat apa.

Tiba-tiba dari arah pintu ruang tamu.

“Sayang.”

Segera kututup buku harian itu kusimpan kembali di meja rias dan aku pura-pura sedang tidur.

***

Advertisements

Cita-Cita Badu

Suatu hari sepulang sekolah, Badu berjalan kaki sendirian melintasi sebuah peternakan sapi. Dia melihat ada seorang kakek yang kesulitan mengangkat beberapa wadah susu dari aluminium ke atas pedati.

Badu menghampiri kakek itu.

“Kek, bisa saya bantu angkat?”

Kakek itu menatap Badu, sedikit curiga.

“Nggak apa-apa kok Kek, saya ikhlas.”

Kakek hanya mengangguk.

Akhirnya Badu membantu kakek itu menaikkan semua wadah susu itu ke atas pedati, sampai akhirnya semua wadah susu sudah ada di atas pedati.

“Siapa namamu?”

“Badu Kek.”

“Apa Badukek?”

“Maksud saya Badu.”

“Ohhh, kamu tinggal dimana?”

“Di kampung sebelah,” kata Badu sambil menunjuk ke arah kampungnya.

“Ayo naik ke pedati saya, kebetulan saya juga akan menuju kampungmu.”

Akhirnya Badu naik ke pedati kakek itu tadi dan segera dua ekor sapi menarik pedati itu perlahan menuju kampung tempat Badu tinggal. Lumayan pikir Badu, hari ini tidak terlalu capek harus berjalan dari sekolah menuju rumah.

*

“Kek, sudah sampai itu rumah saya,” kata Badu sambil menunjuk ke arah rumahnya.

Kakek itu segera memberhentikan pedatinya.

“Terima kasih ya Kek,” kata Badu seraya turun dari pedati.

“Sebentar Nak, kamu boleh ambil satu wadah susu sapi itu buatmu.”

“Tidak usah Kek,” kata Badu.

“Sudah ambil saja, itu tanda terima kasih dari saya buat kamu.”

Badu akhirnya setuju dan segera mengambil satu wadah susu tersebut.

“Wadahnya bagaimana Kek?”

“Saya sudah tahu rumahmu. Kamu titipkan saja sama orang di rumahmu, besok atau lusa mungkin aku kembali ke kampungmu ini. Aku akan mampir untuk mengambilnya.”

“Baik Kek, terima kasih banyak ya.”

Kakek itu segera berlalu dengan pedatinya. Badu melambaikan tangan dan kemudian berjalan menuju rumah sambil membawa satu wadah susu.

*

Sampai di rumah, Badu langsung meyimpan wadah susu itu dan duduk di depan kursi tempat dia meletakkan wadah susu tadi.

Dia begitu haus, ingin sekali dia menikmati susu itu, tapi Badu berpikir adalah lebih baik menjualnya ke pasar atau kepada tetangganya, dia akan memperoleh uang.

Jadi diurungkannya untuk meminum susu itu. Dia mulai merencanakan apa yang dia akan lakukan dengan susu ini.

Dia akan menjualnya untuk mendapatkan uang yang cukup lalu akan pergi bersenang-senang ke kota, mungkin nonton  di bioskop.

Tapi kalau dipakai nonton, habis nonton, sudah habis uang itu pikirnya. Ditambah ongkos kendaraan ke kota yang cukup mahal. Tidak jadi pikirnya, lebih baik uangnya dipergunakan untuk hal yang lebih berguna.

Badu terpikir untuk membeli telur ayam saja. Ibu punya ayam betina, dia berencana untuk membeli telur ayam untuk dierami oleh ayam betina miliki ibu. Pasti ibu akan mendukung rencananya ini.

Setelah ayam-ayam itu nanti menetas dia berencana untuk merawatnya sampai besar dan bisa bertelur untuk dapat dierami lagi. Terus demikian sampai jumlahnya cukup banyak untuk dijual dan dibelikan sepasang kambing.

Dia akan rawat kambing itu sampai besar dan berkembang biak. Terus dia akan rawat kambing-kambing tersebut sampai jumlahnya cukup banyak untuk dijual dan dibelikan sepasang sapi.

Badu terus berkhayal. Kali ini dia berternak sapi, merawatnya sampai berkembang biak sampai beberapa mungkin bisa dijual. Tidak semua sapi akan dia jual beberapa saja untuk dibelikan kuda.

Memiliki kuda adalah cita-cita Badu sejak lama. Dia sering meminta kepada orang tuanya untuk dibelikan kuda. Badu sangat memimpikan berjalan-jalan keliling kampung atau bahkan pergi ke sekolah dengan menunggang kuda.

Sambil tersenyum-senyum Badu terus berkhayal. Kali ini dia sedang mengkhayalkan dirinya menunggang seekor kuda keliling kampung. Khayalannya kali ini begitu hebat sampai tak sadar dia menirukan gaya orang menunggang kuda dari atas kursinya.

Sampai tiba-tiba, “Klontang!!”

“Badu! Suara apa itu di depan!”

Seorang wanita bergegas dari dapur menuju ruang depan. Wanita itu adalah ibu Si Badu.

Badu hanya diam.

“Aduh kamu lagi apa sih Nak? Itu kok ada susu yang tumpah kemana-mana! Ayo kamu bersihkan!”

***

Ditulis kembali dengan beberapa perubahan dari cerita rakyat Sumatera Utara yang biasa diceritakan dari mulut ke mulut.

In memoriam bapak yang kukasihi, Alm. Peltu. A. Ginting.

Pasangan Serasi

Danny adalah seorang profesional muda, dia akuntan yang sukses. Sejak lulus, bahkan sebelum lulus, dia sudah dilamar oleh salah satu big five consultant untuk menjadi associate di perusahaan tersebut. Usianya saat ini 35 tahun, selangkah lagi dia akan menjadi partner di perusahaan itu. Usia yang sangat muda untuk posisi itu.

Tujuh tahun yang lalu Danny menikahi Marry. Ia tiga tahun lebih tua dari Marry, mereka pasangan yang serasi. Masing-masing gagah dan cantik, terpelajar dan punya karir yang cemerlang di perusahaan tempat mereka bekerja. Marry adalah seorang corporate secretary di sebuah perusahaan multi nasional. Marry berpenampilan menarik, pandai bergaul dan juga cerdas, suatu kombinasi yang sangat sempurna.

Sebagai keluarga moderen mereka tinggal di sebuah apartemen mewah. Semua dalam apartemen mereka serba otomatis, apapun dari mulai televisi, musik, lampu, tirai dapat dikendalikan melalui sebuah remote saja. Keduanya juga sangat melek teknologi, gadget mereka selalu yang terbaru tentunya. Pergaulan yang tidak pernah tertinggal dengan kalangan atas di kota mereka, membuat relasi mereka semakin luas dan semakin mendukung karir masing-masing.

Demikian pasangan ini adalah pasangan yang sangat serasi dimata kawan-kawan dan keluarga mereka. Hanya satu kekurangan mereka, belum dikaruniai keturunan.

Untuk usia pernikahan yang tergolong lama jelas ini merupakan masalah bagi mereka. Ego lelaki memang tetaplah sebuah ego, bahkan untuk pasangan berpikiran maju seperti mereka. Danny sering kali menolak apabila Marry mengajak mereka berobat atau sekedar berkonsultasi dengan dokter. Selalu saja ada alasan Danny untuk menolak. Itulah satu-satunya masalah mereka yang tidak sering menimbulkan riak dalam biduk rumah tangga mereka.

***

Danny mungkin malu apabila kemudian hasil konsultasi dengan dokter menyatakan dirinya yang mandul, suatu aib bagi laki-laki tentunya. Diam-diam dia pergi sendiri ke dokter untuk berkonsultasi dan menceritakan semua masalahnya. Sehingga seandainya dia yang mandul dia akan menutup informasi ini rapat-rapat dari semua rekan, keluarga bahkan dari Marry.

Dokter menyarankan Danny untuk mengikuti tes fertilitas. Akhirnya Danny mengikut tes ini sesuai dengan prosedur yang dianjurkan oleh Dokter. Pihak klinik kemudian menginformasikan Danny agar kembali tiga hari ke depan untuk mengambil hasilnya.

***

Tiga Hari Kemudian

Danny membaca agendanya hari ini. Sebagai seorang profesional yang sangat sibuk dia selalu mencatat semua rencananya dalam agenda pada gadget yang dia miliki. Dia membaca bahwa hari ini dia harus mengambil hasil tes fertilitas ke klinik dan mengkonsultasikannya dengan dokter.

Sorenya sesuai jadwal dia mengunjungi klinik tersebut. Sesampainya di klinik dia menghampiri petugas pendaftaran seraya bertanya, “Mbak, maaf saya mau bertemu dr. Ruslan.”

“Maaf, Bapak siapa dan apakah sudah ada janji dengan dr. Ruslan, biar kami lihat di daftar antrian hari ini,” jelas petugas itu.

“Nama saya Danny Wibawa. Ya saya sudah ada janji dengan dr. Ruslan, bahkan beliau yang memberitahu saya sebelumnya untuk datang hari ini.” Danny tentunya tidak bilang pada petugas tersebut bahwa dia mau mengambil hasil tes, ini hal yang sangat sensitif baginya. Dia ingin bahkan tidak ada yang tahu masalah ini.

“Oh, Bapak Pak Danny ya. Ini ada amplop titipan dari lab kami untuk Bapak. dr. Ruslan bilang ini diberikan dulu ke Bapak, besok baru datang lagi untuk konsultasi lanjutan karena beliau ada keperluan mendadak hari ini.”

Danny segera mengambil amplop itu. Ingin segera mengetahui hasilnya namun tidak di depan petugas itu tentunya. Dia bergegas menuju mobil. Sampai di mobil langsung dibukanya amplop dengan terburu-buru. Hasilnya, infertile. Dia sepertinya sudah bisa menebak hasil ini, tapi tetap saja tidak suka membacanya. Sama seperti sebuah pertandingan sepak bola, disaat tim yang kita dukung hampir pasti kalah, tetap kita tidak senang dengan fakta yang terjadi. Tapi itulah fakta, kadang, bahkan sering kali menyakitkan.

Danny menyalakan mesin mobilnya dan segera mobilnya ke arah apartemen.

***

Sampai di apartement ternyata Marry sudah duluan sampai.

“Hai Dan, tumben cepat sampai?” Kata Marry sambil menonton televisi.

“Ya, aku capek banget pengen istirahat lebih banyak,” Danny menghampiri Marry kemudian mengecup keningnya, “Aku mandi dulu ya Honey, biar segar dikit.”

Cukup lama Danny di dalam kamar mandi, dia menyempatkan diri untuk berendam. Pikirannya kemana-mana. Mulai dari kedua orangtuanya yang tidak henti-hentinya menanyakan tentang anak setiap kali ada pertemuan keluarga, sampai Marry, istrinya yang sangat dia sayangi, yang juga merindukan kehadiran seorang anak dalam keluarga mereka. Danny masih berharap isi amplop itu salah, bohong, tapi sebagai seorang yang berpendidikan dia kembali harus menerima hasil itu sebagai suatu hasil kerja sebuah tim yang profesional.

Selesai mandi, Danny segera menggunakan piyamanya dan merebahkan diri di samping Marry yang  juga sudah menunggunya sejak tadi.

“Lama banget?” Tanya Marry.

“Iya, berendam dulu tadi.” Danny tidak bisa menyembunyikan suasana hatinya, dia menjawab pertanyaan istrinya itu sambil menatap ke langit-langit kamar.

“Kenapa sih? Pusing kerjaan ya?” Suara Marry begitu mesra. Ia kemudian merapatkan tubuhnya pada suaminya itu dan memeluknya erat, kemudian lanjut bicara, “Aku ada berita baik buat kita. Habis ini kamu pasti tidak pusing lagi deh.”

Masih menatap langit-langit Danny bertanya, “Apa itu?”

Hening sejenak, Marry menjawab, “Aku hamil Dan.”

The Ding-Dong King

Di Sebuah Toko Mainan

“Bapak, aku ingin yang itu!” Seru anak itu, sambil menunjuk sebuah kardus mainan. Usianya sekitar tujuh tahun, kelas 1 SD. Ya, itu anakku si sulung, Vega. Jangan salah, dia laki-laki walau banyak orang menyebut itu nama untuk perempuan. Di eropa nama ini sering dipakai untuk nama laki-laki.

Nilainya baik tahun ini di sekolah, aku berjanji akan membelikannya console game terbaru, sesuai dengan pilihan dia apabila memang nilainya baik. Terlalu sering dia pergi ke rental, susah mengawasinya, membelikannya console sendiri mungkin sedikit membuatnya lebih betah di rumah. Hari ini kami pergi ke toko mainan

“Pilih dulu, jangan terburu-buru. Kita punya cukup banyak waktu, jangan nanti sudah sampai rumah kamu menyesal,” aku mengingatkannya. Dia segera berlari, aku biarkan saja dia berdiskusi dengan pramuniaga yang melayani di toko mainan itu. Biar dia belajar memilih dan memutuskan sesuatu.

Lama dia berdiskusi, mencoba beberapa jenis permainan. Aku masih sabar menunggu sambil duduk di bangku yang disediakan oleh pihak toko. Pikiranku melayang ke masa kecilku, karena aku juga juga tergila-gila video game, dulu ketika aku masih di bangku SMP.

***

1990

Console games dan PC games sudah dikenal saat itu, tapi tetap gamers sejati pada era itu memainkan ding-dong. Anak usia sekolah dari mulai SD, SMP sampai SMA memainkan ini, terutama anak laki-laki. Tempat-tempat yang menyediakan permainan ini selalu dipenuhi oleh anak-anak berseragam sekolah. Walau di setiap tempat tersebut ada peringatan, “Anak berseragam sekolah dilarang masuk”, tapi sepertinya itu hanya sebuah tulisan yang tidak pernah diindahkan, baik itu oleh pengunjung maupun pengelola. Memang pangsa pasar ding-dong adalah anak usia sekolah, dengan melarangnya, pengelola berarti sudah membunuh bisnisnya sendiri. Tidak jarang untuk mensiasati ini, anak-anak sekolah membawa pakaian ganti dari rumah dan menggantinya sesaat ketika hendak memasuki area permainan.

Ding-dong adalah permainan berbasis komputer, dengan fungsi khusus, istilah hebatnya special purpose computing. Apa fungsi khususnya? Hanya untuk permainan. Dari sekian banyak fungsi komputer, ding-dong difokuskan untuk permainan. Lain dengan console game, ding-dong biasanya dilengkapi dengan sebuah tongkat dan beberapa tombol dan dioperasikan dengan terlebih dahulu memasukkan koin.

Koin yang digunakan bisa koin khusus, tapi tahun itu kebanyakan ding-dong menggunakan pecahan seratus Rupiah untuk sekali bermain. Jangan kuatir tidak memiliki pecahan seratus Rupiah, setiap pemain dapat menukarkan uangnya di tempat penukaran koin di tempat bermain.

Jenis permainan beraneka ragam, mulai dari kapal atau pesawat tempur, petualangan, kartu, billiard, penyusunan balok sampai perkelahian.

Itulah permainan anak laki-laki jamanku dulu, ding-dong.

***

The Ding-Dong King

Bahkan anak orang kaya yang mempu membeli console atau mesin ding-dong sekalipun masih akan pergi ke tempat permainan ding-dong. Bagi banyak anak di jamanku, ini adalah tempat nongkrong kami, tempat bersosialisasi. Bahkan, tidak sedikit orang tua yang mencari anaknya ke tempat ini karena belum pulang-pulang sejak bubaran sekolah.

Aku memiliki dua orang teman saat itu. Hampir setiap pulang sekolah kami selalu singgah dulu bermain ding-dong, tidak langsung pulang. Kami satu sama lain saling memberi julukan dalam Bahasa Inggris. Sebuah euphoria karena baru saja belajar bahasa itu di bangku SMP. Kami menjuluki diri kami the three lions, tiga singa, entah apa maksudnya yang penting terlihat hebat.

Aku, namaku Sendi. Aku dijuluki the ding-dong king. Namaku dimirip-miripkan dengan promotor tinju terkenal dari AS saat itu, Don King. Aku mendapat julukan itu karena memang di antara kami bertiga aku yang paling pandai bermain ding-dong. Hampir untuk semua jenis permainan, aku yang paling hebat, bahkan di tempat kami biasa bermain akulah yang terhebat. Aku sendiri tidak punya banyak uang. Setiap ada permainan baru aku hanya melihat orang lain bermain beberapa kali, kemudian aku ikut bermain, setelah itu dapat dipastikan aku menjadi yang termahir dalam permainan tersebut.

Ding-dong mengenal istilah score dan record. Setiap permainan memiliki score. Lima atau sepuluh besar score terbaik, jumlahnya tergantung jenis mesin, akan dicatat dan ditampilkan oleh mesin dalam sebuah daftar peringkat. Pemain dengan posisi terbaik itu dapat membubuhkan nama saat permainan usai. Di tempatku bermain, tidak jarang semua mesin menampilkan namaku sebagai peringkat pertama. Bukan karena aku memiliki banyak uang untuk memainkan semua mesin, kadang-kadang ada juga yang sekedar memberi koin padaku hanya untuk melihat aku bermain.

Lucunya, sering terjadi orang memberikan dua koin kepadaku untuk bermain. Aku bermain dua kali tentunya, dan ketika membubuhkan nama di daftar peringkat, orang ini ingin salah satunya diisi dengan nama dia. Semacam investasi untuk mendapatkan ketenaran. Luar biasa memang kalau diingat-ingat.

***

The Professor

Namanya Iwan, kami menjuluki dia the professor bukan karena dia pintar di sekolah, melainkan karena dia sangat pintar dalam mengakali mesin. Selalu saja ada ide dan penemuannya, entah dia tahu dari mana. Yang jelas kala itu belum ada Internet apalagi Google untuk mencari hal-hal seperti yang dia lakukan. Sebenarnya aku pikir-pikir Iwan lebih tepat dijuluki the hacker, namun saat itu kami belum tahu istilah hacker.

Iwan bisa mengubah sebatang anak sapu lidi menjadi pengganti koin. Dengan mencolok-colokannya pada tempat memasukkan koin mesin ding-dong, Iwan bisa bermain berkali-kali tanpa harus mengeluarkan uang. Soal sapu lidi ini, bukan sekedar mencolokkannya saja, tapi ada teknik khusus dan di antara kami hanya Iwan yang bisa melakukannya. Dia juga pernah menggunakan listrik pada pemantik elektronik yang telah dibongkarnya. Arus listrik ini bisa mengganggu mesin, sehingga mesin dapat dimainkan walau tidak dimasukkan koin.

Aksi Iwan sempat tertangkap oleh petugas keamanan di tempat kami bermain. Mulai saat itu Iwan sangat dicurigai. Dia tidak boleh memasuki area permainan membawa tas, harus dititipkan. The most dangerous man on ding-dong amusement center.

***

Richie Rich

Orang yang menginvestasikan koinnya supaya bisa masuk dalam daftar peringkat, dialah teman kami, Ricky. Kami menjulukinya Richie Rich, karena dia dari keluarga berada. Bagi ukuran kami saat itu dia punya dana tidak terbatas untuk bermain ding-dong.

Ricky walaupun dari keluarga kaya, dia bergaul dengan kami. Setelah Iwan menjadi target sasaran petugas keamanan, Ricky menjadi penyandang dana kami. Kadang Ricky bermain, sudah hampir kalah, aku yang teruskan sampai keadaan membaik, baru setelah itu Ricky yang kembali mengambil alih.

***

Kejatuhan The Ding-Dong King

Belakangan ada suatu inovasi dalam mesin-mesin ding-dong baru. Kami menyebutnya sebagai continue game. Dalam mesin-mesin lama fitur ini tidak ada. Fitur ini memungkinkan seorang pemain meneruskan bermain dengan terus memasukkan koin, sehingga tidak perlu mahir bermain untuk mencatatkan nama di daftar peringkat.

Ada seorang anak kaya, Santos, dengan kelompoknya yang beranggotakan anak-anak orang kaya di kota, bahkan dananya jauh lebih banyak dari Ricky. Sejak fitur ini ada namaku tidak lagi ada di daftar peringkat. Semua digeser dengan nama-nama mereka, menghiasi setiap mesin.

Setiap kami datang ke tempat bermain, mereka menatap kami dengan sinis. Sukar memang menandingi mereka dengan ketidakterbatasan koin, ditambah aku akui tingkat permainan mereka walau masih di bawah diriku, tapi tetap jauh di atas Ricky.

“Mana nih the ding-dong king, namanya doang king, tapi sama sekali tidak ada di record,” Santos sering sekali berkata-kata demikian dengan suara yang sengaja dikeraskan supaya seisi ruangan tahu.

Sejak itu the three lions kehilangan semangat.

***

Kompetisi Ding-Dong

“Sendiiiii!!!!” Iwan berteriak mengejarku sepulang kami dari sekolah, sambil melambai-lambaikan secarik kertas.

Aku menghentikan langkahku, “Ada apa sih? Sepertinya kok penting banget?”

“Ini, baca ini!” Iwan menyodorkan kertas yang dia bawa tadi

 

Pertandingan Ding-Dong Nasional

Ikutilah 1, 2 Juni 1990, di  Bandung, dalam rangka mengisi liburan sekolah. 

Terbuka untuk semua umur, tidak dibatasi usia.

Pendaftaran Rp 20.000,00 untuk setiap peserta. 

Hadiah pertama Rp 2.000.000,00.

Hadiah kedua Rp 1.000.000,00.

Hadiah ketiga Rp 500.000,00.

Informasi lebih lanjut bisa didapat di tempat-tempat ding-dong kesayanganmu.

Daftarkan dirimu segera.

 


Ini kesempatan emas buatku. Tentu tidak ada istilah continue game dalam kompetisi seperti ini. Hadiahnya juga sangat besar untuk ukuran aku. 

“Wan, tapi dua puluh ribu? Aku tidak punya uang sebesar itu. Kalau minta sama ortuku pun sudah pasti tidak dikasih,” keluhku.

“Sendi, ayolah, Ricky pasti mau bantu.”

Ya benar kata Iwan, sebenarnya aku tidak ingin merepotkan Ricky. Iwan yang akhirnya bicara pada Ricky dan dia setuju untuk mendaftarkan aku pada kompetisi ini.

***

Hari Kompetisi

Akhirnya hari yang ditunggu tiba. Dilaksanakan di tempat yang jauh lebih besar dari tempat aku biasa bermain. Kompetisi menggunakan sistem gugur. Pada setiap babak kami boleh memilih jenis permainan yang akan dimainkan, bila pihak yang bertanding memilih jenis permainan yang berbeda, maka panitia akan mengundi jenis apa yang akan dipertandingkan.

Tanpa kesulitan aku melaju ke final, satu demi satu lawan kukalahkan. Salah satu tantangan terbesar hanya di babak semifinal, kabarnya lawanku adalah orang Singapore. Aku sendiri tidak begitu percaya, Iwan yang cari tahu, tapi ya sudah lah tidak ada pengaruhnya.

Sejak awal kompetisi, aku selalu melihat seorang yang sangat mahir, Rico. Peserta dari Jakarta, kecepatan tangannya luar biasa, aku sudah mengira dia akan menjadi penantangku nanti di final. Tidak salah memang perkiraaku, aku bertemu Rico di final. Rico mendapatkan julukan baru di kompetisi ini the fastest hand.

***

Babak Final

“Hadirin sekalian, tiba kita di babak final kompetisi ding-dong nasional. Dari kurang lebih seratus peserta yang mengikuti kompetisi ini sudah didapat dua peserta sebagai finalis. Tepuk tangan hadirin.” Pembawa acara membuka acara dengan gaya seorang ring announcer. Tentu saja disambut dengan tepuk tangan meriah dari semua hadirin yang datang.

“Di sebelah kiri saya, datang dari ibu kota Jakarta. The fastest hand, Rico!!!” Disambut tepuk tangan semua hadirin yang datang. Rico melambaikan tangan dan memberikan beberapa ciuman lewat tangannya, semua orang tertawa.

“Di sebelah kanan saya, kebanggaan Kota Bandung. The ding-dong king, siapa lagi kalau bukan Sendi!!!” Jelas sambutan hadirin lebih meriah, karena aku mewakili kota tuan rumah. Pendukungku jauh lebih banyak dari Rico.

Peraturan babak final sedikit berbeda, kami akan memainkan tiga permainan. Dua permainan kami pilih sesuai selera masing-masing. Setiap finalis memilih satu permainan. Permainan ketiga panitia menentukan jenis permainan yang akan dimainkan, kami harus memainkan Street Fighter, permainan perkelahian yang sedang hangat-hangatnya waktu itu.

Permainan pertama, Tetris. Aku memilih ini, ini salah satu keahlianku. Permainan menyusun balok, bila satu tinggat terisi penuh maka tingkat itu akan runtuh. Tidak kusangka Rico juga mahir memainkan Tetris. Keahlian kami sepadan, permainan berubah menjadi adu stamina dan kewaspadaan. Iwan dan Ricky sejak awal selalu ada di sisiku, Iwan sibuk menyediakan minuman buatku atau menyeka keringatku saat rehat. Lucu sekali anak itu. Setelah hampir dua jam kami bermain Rico sedikit lengah. Laju turunnya balok untuk setiap babak dalam permainan ini akan semakin kencang. Lengah sedikit, akan semakin sulit mengatur ulang tumpukan. Aku menang, Iwan dan Ricky bersorak. Santos juga menonton di situ, dia juga bersorak. Terus terang aku tidak suka keadaan itu.

Permainan kedua, Raiden. Jenis permainan pesawat tempur. Aku belum pernah main ini, karena di tempat kami biasa bermain belum ada mesin jenis permainan ini. Aku memberi perlawanan cukup sengit bagi Rico, karena hampir semua permainan jenis pesawat tempur hampir sama cara memainkannya. Aku terbiasa memainkan 1942 yang kurang lebih sama dengan Raiden. Tapi memang pengalaman adalah guru yang terbaik. Tiga puluh menit, banyak musuh yang aneh bermunculan. Rico sepertinya sudah terbiasa dengan permainan itu, dia sudah tahu teknik antisipasinya. Aku kalah.

Permainan ketiga, Street Fighter. Kami akan bermain the best of three, siapa yang berhasil menang dua kali dia akan keluar menjadi juara dalam permainan ketiga, sekaligus juga juara dalam kompetisi ini. Aku memilih tokoh Vega, seorang petarung Spanyol, sedang Rico memilih tokoh Chun-Lie, seorang petarung wanita dari China.

“Ayo Sendi, hajar Si Rico, kamu bisa!!!” Aku menoleh ke belakang, itu suara Santos.

Aku memanggil Iwan dan Ricky supaya datang mendekat, “Wan, kenapa Santos memihak aku ya? Aku curiga dan terus terang aku tidak suka dia memihak aku.”

“Kabarnya dia ikut taruhan, jumlahnya besar, jutaan Sen. Dia pegang kamu, karena memang secara hitungan kamu bisa mengatasi Rico,” demikian Iwan menjelaskan.

Aku gantian menatap Ricky. Dia orang paling bijak di antara kami, “Biarkan Sen, kamu fokus saja di pertandingan,” Ricky menenangkan.

Pertandingan dimulai. Tanpa berpikir panjang aku segera melancarkan serangan. Vega terkenal dengan teknik cakar dan bantingan di udara. Aku kerahkan semua kemampuan Vega. Sebuah kemenangan singkat aku dapatkan, hanya kurang dari satu menit, sebuah kemenangan perfect karena energi tokohku tidak berkurang sama sekali.

Penonton bersorak, “Hidupp, Sendiii!!!” Termasuk Santos. Aku menoleh ke arah Santos, dia tersenyum bersahabat, tapi aku tetap dingin. Dalam hatiku berkata, kau tidak berguna tanpa koin-koinmu itu.

Selanjutnya, tidak ada yang menyangka, bahkan Iwan dan Ricky pun tidak menyangka itu. Aku membiarkan Vega diserang habis-habisan oleh Chun-Lie. Aku ingin semua orang tahu bahwa aku sengaja mengalah, termasuk aku ingin Santos tahu itu. Sebuah pembalasan. Aku berpikir, satu juta jumlah yang cukup besar buatku. Seumur hidupku belum pernah aku punya uang sebesar itu, itu sudah cukup, tidak perlu menjadi juara pertama. Aku ingin Santos merasakan kekecewaan yang mendalam dengan kekalahanku ini. Aku ingin dia tahu aku sengaja melakukannya.

Terang Rico dengan mudah menyelesaikan pertandingan ini. Penonton sangat kecewa, mereka berteriak, “Booooo!!!!” Tapi tidak dengan Iwan dan Ricky, mereka tahu mengapa aku mengalah.

Rico adalah pribadi yang baik, usai pertandingan dia menyalami aku seraya berkata, “Kamu juara sejati, aku tahu kamu sengaja mengalah. Ada apa?”

Aku tidak menjawab pertanyaan dia, hanya berkata, “Selamat ya, jadi juara pertama.”

Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Santos setelah itu. Kabarnya orang tuanya tahu dia sering bermain judi dan dia dipindahkan ke sekolah asrama. Dia tidak pernah lagi muncul di tempat kami bermain ding-dong sejak hari itu. Itu terakhir kali aku melihat dia.

***

Sahabat Sejati

Demikian aku akhirnya hanya menjadi juara kedua dalam kompetisi itu. Hanya saja bagi Iwan dan Ricky akulah the ding-dong king sejati.

“Rick, bagaimana? Kita bagi dua ya hadiahnya?” Aku menawarkan pada Ricky.

“Tidak perlu Sen. Kita semua berteman dan saling bantu. Aku bangga punya teman seperti kamu,” Ricky menjawab.

Keesokan harinya aku traktir Iwan dan Ricky nonton dan makan.

Di hari-hari berikutnya kami sudah beranjak ke kelas tiga SMP. Orang tua kami masing-masing sudah mulai melarang kami pergi bermain ding-dong karena harus mempersiapkan diri masuk ke jenjang SMA. Makin jarang aku bertemu dengan Iwan dan Ricky karena memang kami ada di kelas yang berbeda. Apalagi setelah masuk SMA kami masuk ke sekolah yang berlainan dan tidak pernah lagi bertemu.

Tidak ada pertemanan setelahnya seperti yang aku miliki bersama mereka.

***

Kembali ke Toko Mainan

“Bapak, aku jadinya pilih yang ini, boleh kan?” Vega datang dengan kardus console yang sudah dia pilih.

Kami segera menyelesaikan pembayaran dan beranjak pergi dari toko mainan itu.

Ayahku

Waktu itu aku masih kecil, kelas 2 SD.

Bisa dibilang aku anak kesayangan ayah.

Sudah menjadi kebiasaan setiap Hari Minggu, pagi hari, aku dibonceng ayah keliling perumahan kami. Hari itu kami mampir sebentar makan bubur kacang hijau, dan lanjut beberapa keliling lagi.

Sampai di rumah, “Ayah lelah sekali, kamu main dengan kakakmu ya, Ayah tidur dulu,” kata ayah.

Akupun segera menghampiri kakak. Kami bermain berjam-jam di teras depan. Kakak mengajariku bermain halma.

Ayah belum juga bangun tidur siang. Ibu memanggil kakak dari dalam rumah, dengan suara agak tertahan.

“Dini, coba sini,” kata ibu, suaranya sedikit dipaksakan.

“Ya Bu,” kata kakak.

“Tolong kamu ke toko depan, coba beli kertas kuning, lalu panggil Pak Ustadz Hadi datang ke rumah ya,” ibu berkata seperti orang mau menangis, kulihat matanya berkaca-kaca.

Kakak segera pergi, aku tidak mengerti apa yang terjadi saat itu, tapi aku juga tidak berani banyak bertanya.

Yang jelas, itu hari terakhir aku dibonceng ayah keliling perumahan kami.