[Memory] #Tanpabatas, Jakarta 23 Juni 2012

#Tanpabatas, Jakarta 23 Juni 2012

Kenangan Manis, ini saat-saat kami awal @StandupIndo membangun Standup-Comedy bersama-sama hingga seperti sekarang.

Di dalam video ini ada
– Sammy Not A Slim Boy
– Ence Bagus
– Sindikat Senar Putus
– Rindra
– Acho
– Pandji
– Deddy Dhukun
– Krisna Harefa
– Gina
– Ari Tjiang
– Robert
– Ryan
– Mongol
– Wisnu
– Adjis Doaibu
– Pepe Isham
– Dodo Harahap
– Arief Didu
– Ndigun
– Cibeng
– Randy
– Kuman
– Alphi
– The Bucha
– dll..
Dan banyak lagi anak-anak komunitas @StandupIndo

Terimakasih untuk supportnya tanggal 23 Juni 2012

Maju Terus Standup Comedy Indonesia

Sedikit menitik air mata saya melihat video ini….

Love you all..

Advertisements

Petruk Jadi Ratu

Saya berdarah Batak. Hanya karena saya lahir dan besar di pulau Jawa, ditambah lagi dulu tinggal di asrama militer di Bandung, bukan hanya banyak orang Sunda, tapi juga banyak keluarga rekan bapak saya sesama militer yang merantau dari Jawa Tengah. Kami tingggal di Bandung, dan orang-orang Jawa dulu umurnya panjang-panjang. Banyak dari teman-teman saya, yang eyang Kakung/Putrinya ikut diajak ke Bandung. Alasannya di kampung tidak ada lagi anak yang bisa menjaga si Mbah. Semua anaknya sudah merantau ke kota besar.

Hal ini membuat saya cukup kental dengan pengaruh budaya Jawa, terutama soal pewayangan. Walalu sebenarnya wayang itu sendiri ya dari India lah, tapi bukan itu maksud tulisan ini.

Setelah bisa membaca sendiri, karena terlanjur sering diceritain kisah-kisah wayang sama si Mbah teman saya, akhirnya saya banyak membaca buku-buku wayang. Dari Mahabarata, Ramayana sampai wayang purwa. Pokoknya mungin kalau bahasa Jawa lancar sih bisa masuk rekor MURI, sebagai dalang pertama berdarah Batak.

Ada satu lakon, Petruk Jadi Ratu. Petruk yang bagian dari punakawan, seharusnya mengabdi saja. Eh terpilih berkuasa. Akhirnya karena gamang, baru memiliki kekuasaan, si Petruk ini jadi malah lebih kacau dari pemimpin sebelumnya. Masih ada perdebatan soal interpretasi kisah ini, apa ini semacam siasat kasta/golongan yang lebih tinggi agar golongan di bawahnya tidak mungkin berkuasa. Harus tetap golongan bangsawan dan borjuis, tidak boleh dari proletar. Begitu kalau pakai istilah-istilah revolusi, haha.

Inti dari kisah ini bila ditarik ke kehidupan berbangsa dan bernegara sekarang, apakah mungkin Jokowi itu Petruk? Karena sudah hampir sebulan Kapolri tidak juga dilantik, lembaga-lembaga yang bisa dia kontrol dibiarkan berantem sendiri. Memang mereka semua sudah bapak-bapak, sudah pada gede, pipis dan mandi juga sudah sendiri semua. Tapi Presiden RI bukan hanya masalah pribadi saja, Presiden adalah “lembaga” tinggi negara. Diatur oleh konstitusi kita. Bahkan Presiden punya hak untuk menyatakan keadaan darurat sebuah negara.

Rakyat Indonesia ini terlalu baik kali ya? Kita sedang tidak punya Kapolri, tapi santai-santai saja. Presiden sedang mengurus proyek mobil nasional, proyek strategis kah? Mungkin iya, tapi tidak urgent. Atau urgent dari sisi inner circle, maaf kalau harus menyebut nama, Hendro Priyono?

Kedekatan penguasa-pengusaha-militer, adalah permainan Indonesia sejak lama. Ya, kita pasrah saja, untung kita baik dan tidak lantas bikin kacau.

Apakah Jokowi yang Petruk jadi Ratu? Seorang yang melesat karirnya terlalu pesat. Lalu cepat juga sirna. Seperti Shinta dan Jojo yang secara instan terkenal lewat Youtube, tapi sekarang entah sedang apa? Atau saya yang tidak update infotainment.

Kembali ke permasalahan. Atau mungkin juga PDIP sudah menjadi Petruk di sini? Sesudah reformasi begitu gegap gempitanya rakyat, 32% mendukung PDIP dan Megawati.  Namun Mega gagal jadi Presiden, karena dijegal poros tengah. Posos ini juga yang beralih keberpihakan pada Mega dan menjegal Gusdur. Mega menggantikan Gusdur. Tapi di pemilihan berikutanya, saat pemilihan Presiden dilakukan pertama kali langsung oleh rakyat, rakyat sudah tidak percaya lagi pada golongan sipil, dan memberikan kemenangan pada SBY. Walau militer, dianggap militer yang “lain”. Memang lain, tapi terlalu lain dari yang lain ternyata.

Mega begitu disakiti. PDIP mungkin merasa dirinya anak kandung Reformasi, setelah peristiwa 27 Juli 1996. Lalu sekarang, kadernya berkuasa, jadi apa mungkin dialah Petruknya? Sampai-sampai, Puan Maharani, yang seorang menteri, yang notabene anak buah Presiden, bisa mengeluarkan statement “Jokowi bagaimanapun adalah petugas partai..” Wow, nyalinya hebat juga, atau memang karena Petruk gak pikir panjang? Lama di bawah, sekali berkuasa, merusak tatanan di dalam kekuasaan sendiri?

Hanya waktu yang bisa menjawab, yang jelas salut pada rakyat Indonesia yang sabar. Rakyat yang kalau di-PHK, ngojek atau jual pulsa. Tidak seperti Swedia yang lama sejahtera, PHK besar-besaran di Ericsson dan SAB, dan banyak pengangguran baru. Mereka lalu rusuh, rusuh, rusuh. Mereka tidak terpikir apa untuk ngojek atau jual pulsa.

Mari rakyat Indonesia, kita jadi Petruk terus saja. Itu di istana, apa ada Petruk yang nyasar ke sana? Sini woyyyy…

Pertanyaan saya kemudian apakah fenomena Pertruk jadi Ratu ini ada juga di tubuh KPK? Selama ini begitu berkuasa. Jangan-jangan benar kekuasaan dan wewenang yang besar itu disalahgunakan oleh beberapa orang untuk kepentingan pribadi mereka. Ambisi pribadi mereka.

Pokoknya jadi orang jangan mau benar sendiri. Karena tidak mungkin seseorang itu benar hanya sendirian. Minimal jawaban dia harus sama dengan kunci jawaban.

Sammy – Notaslimboy – Batak yang suka wayang.

Kebahagiaan

Mari kita mulai dengan sebuah kutipan, “Bahagia itu sederhana.” Lalu saya akan lanjutkan kutipan ini, “Kalau bahagia itu sederhana, maka kesederhanaan itu tidak sederhana.” Keren kan? Sekali-sekali kita bicara filosofis.

Semua orang bisa bahagia naik mobil mewah sekelas Ferrari, tapi yg bahagia dengan naik sepeda, hanya orang-orang tertentu. Semua orang bisa bahagia punya makanan berlimpah, tapi hanya penyanyi dangdut sekelas Hamdan Att – maafkan untuk referensi saya – yang bisa bahagia makan sepiring berdua. Semua bisa bahagia kalau dapat pacar Luna Maya, tapi saya yakin perjuanganmu luar biasa untuk tetap bahagia dengan pacar yang sekarang. Bercanda!

Di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia sekarang sudah (mulai) macet. Ini karena pertumbuhan kendaraan dan ruas jalan yang tidak berimbang. Orang sudah punya mobil, sehingga sekarang di Jakarta – khususnya – dicanangkan sebuah gerakan untuk memakai sepeda dalam kegiatan sehari-hari – BIKE TO WORK. Lalu apakah orang-orang ini bahagia dengan gerakan BIKE TO WORK ini? Bukan menghakimi, mereka bisa bahagia karena mereka sudah bisa beli mobil. Saya nggak terlalu yakin mereka ini bahagia kalau dia hanya mampu beli sepeda. Ikut gerakan BIKE TO WORK ya menjadi biasa-biasa saja, karena memang yang terbeli hanya sepeda.

Beberapa orang mungkin akan berpikir, terang saja orang-orang tertentu jadi pelopor gerakan ini. Kamu adalah orang dari kecil sudah kaya, sampai kuliah diantar jemput mobil papa, lalu kerja, lalu beli mobil, sampai umur 30 tahun pakai mobil, dan kamu sekarang ikut BIKE TO WORK, kamu ngajak saya? Ehh, sebentar, ini kredit Avanza saya baru di-approve. Bercanda ahh, tapi mungkin saja benar.

Kebahagiaan sering bias dengan kepuasan, dan kepuasan manusia itu tidak ada batasnya. Sehingga apabila patokan sebuah kebahagiaan itu adalah kepuasan, maka ada kemungkinan seseorang tidak akan pernah bahagia seumur hidupnya. Kasihan.

Ambil contoh soal pacaran saja. Kalau sudah puas dengan pegangan tangan maka tahap berikutnya akan ke cium pipi, lalu cium bibir, cium mulut, dan akhirnya sexual intercourse. Hal ini nggak mungkin bisa dibalik. Kalau hari pertama kenal udah sexual intercourse nggak mungkin besoknya cuman pegangan tangan.

“Sini aku pegang tangan kamu…”

“Apaan sih pegang-pegang….”

Jadi kalau pacaran sudah bahagia dengan pegangan tangan, stay in that area as long as possible.

Kebahagiaan adalah sesuatu yang tidak bisa diukur. Itu sebabnya seseorang dengan mudahnya meng-claim bahwa dirinya bahagia. Kecantikan masih bisa diukur, setidaknya ada kontes kecantikan. Kecerdasan masih bisa diukur, ada satuan IQ salah satunya. Kekayaan, mudah sekali, berapa total aset yang kamu miliki. Tapi kebahagiaan tidak bisa diukur, sehingga dengan mudah dapat di-claim.

“Dasar kamu, sudah jelek, bodoh, miskin lagi!!!”

“Yang penting aku bahagia.”

Perdebatan apapun akan langsung mencapai titik end of discussion.

Bahkan tanda-tanda bahagia pun sulit dibedakan. Manusia kan pandai bersandiwara. Manusia bisa tersenyum walau sedang sedih. Beda dengan anjing, yang mimik mukanya terbatas, manusia punya banyak pilihan mimik muka yang bisa dipilih sesuai kebutuhan. Apabila seseorang menangis, apakah sudah pasti tidak bahagia? Bahkan ketika seorang perempuan menangis ada tiga alasannya: pertama karena sedih, tapi yang kedua bisa juga karena bahagia, dan alasan terakhir adalah karena ingin menang saja saat berantem. Kalau perempuan sudah begini mendingan laki-laki pakai jurus, “Sudah, aku yang salah…” Walaupun tidak tahu letak salahnya di mana, yang penting nangisnya selesai tuh perempuan.

Faktor ekonomi sering sekali dikait-kaitkan dengan kebahagiaan. Wajar, karena bila diselidiki banyak hal di dunia ini latar belakangnya adalah faktor ekonomi. Kenapa perempuan cantik itu jual mahal, bukan karena cantik semata, tapi karena mereka sadar populasi mereka sedikit. Hukum supply and demand berlaku. Permintaan banyak, supply terbatas, harga naik. Kalau yang jelek yang sedikit, pasti yang jelek yang jual mahal.

“Sayang kamu kok jual mahal?”

“Aku kan jelek!”

Perempuan cantik dengan alasan kesopanan sering menolak laki-laki yang mengajaknya masuk ke hubungan pacaran. Jenis hubungan “adek-kakak” adalah paling sering digunakan untuk penolakan halus ini. Tapi lama-lama mungkin ada juga perempuan-perempuan cantik yang kreatif, mereka menawarkan jenis hubungan baru. Bukan “adek-kakak” apalagi pacaran, tapi jenis hubungan KDJA. “Kita jalanin dulu aja.” Ini jelas bikin laki-laki bingung dan jauh dari sekali dari kata bahagia tadi. Jenis hubungan “Kita jalanin dulu aja.” sangat menyiksa.

Kebahagiaan apakah berdasar kepuasan? Karena kepuasaan itu hubungannya dengan selera. Sedangkan kebanyakan pasangan itu lebih kepada faktor pilihan, bukan selera. Kalau ditanya selera, semua laki-laki tentunya berselera pada Luna Maya – yah nama dia lagi disebut. Coba tanya pasanganmu, “Sayang sebenarnya kalau boleh ganti, kamu mau nggak?” Maka jawabannya, kalau tidak dalam tekanan tentunya, “Kalau boleh jujur aku sayang sama kamu, tapi casingnya boleh diganti nggak?”

Semua berdasarkan pilihan bukan selera. Seandainya di dunia bersisa dua orang. Saya laki-laki dan ceweknya katakanlah Mpok Nori, saya tentu tidak punya pilihan. Saya akan bilang sama Mpok Nori

“Mpok Nori maukah kau jadi pacar aku?”

“Kite jalanin dulu ajeee yee…”

Apakah kamu sudah bahagia? Membaca artikel ini jangan tambah bingung. “Kita jalanin dulu aja…”

Cita-Cita Badu

Suatu hari sepulang sekolah, Badu berjalan kaki sendirian melintasi sebuah peternakan sapi. Dia melihat ada seorang kakek yang kesulitan mengangkat beberapa wadah susu dari aluminium ke atas pedati.

Badu menghampiri kakek itu.

“Kek, bisa saya bantu angkat?”

Kakek itu menatap Badu, sedikit curiga.

“Nggak apa-apa kok Kek, saya ikhlas.”

Kakek hanya mengangguk.

Akhirnya Badu membantu kakek itu menaikkan semua wadah susu itu ke atas pedati, sampai akhirnya semua wadah susu sudah ada di atas pedati.

“Siapa namamu?”

“Badu Kek.”

“Apa Badukek?”

“Maksud saya Badu.”

“Ohhh, kamu tinggal dimana?”

“Di kampung sebelah,” kata Badu sambil menunjuk ke arah kampungnya.

“Ayo naik ke pedati saya, kebetulan saya juga akan menuju kampungmu.”

Akhirnya Badu naik ke pedati kakek itu tadi dan segera dua ekor sapi menarik pedati itu perlahan menuju kampung tempat Badu tinggal. Lumayan pikir Badu, hari ini tidak terlalu capek harus berjalan dari sekolah menuju rumah.

*

“Kek, sudah sampai itu rumah saya,” kata Badu sambil menunjuk ke arah rumahnya.

Kakek itu segera memberhentikan pedatinya.

“Terima kasih ya Kek,” kata Badu seraya turun dari pedati.

“Sebentar Nak, kamu boleh ambil satu wadah susu sapi itu buatmu.”

“Tidak usah Kek,” kata Badu.

“Sudah ambil saja, itu tanda terima kasih dari saya buat kamu.”

Badu akhirnya setuju dan segera mengambil satu wadah susu tersebut.

“Wadahnya bagaimana Kek?”

“Saya sudah tahu rumahmu. Kamu titipkan saja sama orang di rumahmu, besok atau lusa mungkin aku kembali ke kampungmu ini. Aku akan mampir untuk mengambilnya.”

“Baik Kek, terima kasih banyak ya.”

Kakek itu segera berlalu dengan pedatinya. Badu melambaikan tangan dan kemudian berjalan menuju rumah sambil membawa satu wadah susu.

*

Sampai di rumah, Badu langsung meyimpan wadah susu itu dan duduk di depan kursi tempat dia meletakkan wadah susu tadi.

Dia begitu haus, ingin sekali dia menikmati susu itu, tapi Badu berpikir adalah lebih baik menjualnya ke pasar atau kepada tetangganya, dia akan memperoleh uang.

Jadi diurungkannya untuk meminum susu itu. Dia mulai merencanakan apa yang dia akan lakukan dengan susu ini.

Dia akan menjualnya untuk mendapatkan uang yang cukup lalu akan pergi bersenang-senang ke kota, mungkin nonton  di bioskop.

Tapi kalau dipakai nonton, habis nonton, sudah habis uang itu pikirnya. Ditambah ongkos kendaraan ke kota yang cukup mahal. Tidak jadi pikirnya, lebih baik uangnya dipergunakan untuk hal yang lebih berguna.

Badu terpikir untuk membeli telur ayam saja. Ibu punya ayam betina, dia berencana untuk membeli telur ayam untuk dierami oleh ayam betina miliki ibu. Pasti ibu akan mendukung rencananya ini.

Setelah ayam-ayam itu nanti menetas dia berencana untuk merawatnya sampai besar dan bisa bertelur untuk dapat dierami lagi. Terus demikian sampai jumlahnya cukup banyak untuk dijual dan dibelikan sepasang kambing.

Dia akan rawat kambing itu sampai besar dan berkembang biak. Terus dia akan rawat kambing-kambing tersebut sampai jumlahnya cukup banyak untuk dijual dan dibelikan sepasang sapi.

Badu terus berkhayal. Kali ini dia berternak sapi, merawatnya sampai berkembang biak sampai beberapa mungkin bisa dijual. Tidak semua sapi akan dia jual beberapa saja untuk dibelikan kuda.

Memiliki kuda adalah cita-cita Badu sejak lama. Dia sering meminta kepada orang tuanya untuk dibelikan kuda. Badu sangat memimpikan berjalan-jalan keliling kampung atau bahkan pergi ke sekolah dengan menunggang kuda.

Sambil tersenyum-senyum Badu terus berkhayal. Kali ini dia sedang mengkhayalkan dirinya menunggang seekor kuda keliling kampung. Khayalannya kali ini begitu hebat sampai tak sadar dia menirukan gaya orang menunggang kuda dari atas kursinya.

Sampai tiba-tiba, “Klontang!!”

“Badu! Suara apa itu di depan!”

Seorang wanita bergegas dari dapur menuju ruang depan. Wanita itu adalah ibu Si Badu.

Badu hanya diam.

“Aduh kamu lagi apa sih Nak? Itu kok ada susu yang tumpah kemana-mana! Ayo kamu bersihkan!”

***

Ditulis kembali dengan beberapa perubahan dari cerita rakyat Sumatera Utara yang biasa diceritakan dari mulut ke mulut.

In memoriam bapak yang kukasihi, Alm. Peltu. A. Ginting.

Percakapan Super Absurd

“Gua heran sama lo?”

“Kenapa emang?”

“Lo kok sabar amat sih sama pacar lo itu. Gua akuin sih emang cantik, tapi juga nggak cantik-cantik amat kok. Tapi gayanya itu kurang ajar banget menurut gua. Keterlauan.”

“Lo sirik ya?”

“Bukan sirik, gua sih nggak suka teman baik gua, bisa dibilang sahabat gua deh diperlakukan seperti itu.”

“Oh jadi menurut lo gua sahabat lo? Hehehe, makasih.”

“Ah lo kalau diskusi yang fokus dong, kita bukan ngomongin soal status persahabatan kita.”

“Oke lanjut.”

“Lo dulu pernah datang sama gua, nangis-nangis bro?”

“Kapan ya, gua lupa?”

“Alah masak lupa sih, dulu itu waktu lo baru jadian sama dia. Eh ternyata ketahuan dianya masih jalan sama mantannya.”

“Hehe, sorry, jangan dibahas deh malu gua.”

“Abis itu malah lo tambah mesra tuh sama dia, malah lo beliin BlackBerry paling baru.”

“Hehe, iya bener, gua tambah sayang, malu ah.”

“Habis yang lo nangis-nangis itu, ternyata dia masih jalan tuh sama mantannya, gua beberapa kali mergokin dia.”

“Loh, kok lo nggak cerita?”

“Ah percuma paling lo juga nanti maafin dia.”

“Tapi nggak bisa gitu dong bro, lo harus cerita.”

“Iya, ini kan sekarang cerita, apa tindakan lo?”

“Apa ya?”

“Tuh kan bingung lagi, percuma kan gua udah cerita juga, nggak ada efeknya buat lo.”

“Kok jadi lo yang sewot?”

“Sewot lah!”

“Sewot kenapa?”

“Loh kok malah jadi lo yang balik tanya-tanya sama gua?”

“Emang nggak boleh?”

“Ya boleh, tapi ini kan awalnya lagi bicarain masalah lo sama pacar lo itu.”

“Oke, lanjut Gan.”

“Inget nggak waktu itu dia ke Bandung, ngakunya sama sohib-sohibnya, eh taunya malah sama cowok lain.”

“Iya gua inget.”

“Bukan mantannya lagi, cowok baru.”

“Iya gua inget, so what is the point.”

You still did not get my point bro? Why are you still with her until now?”

“Biasa aja kaleee, nggak usah pakai bahasa orang bule gitu.”

“Lo duluan yang mulai.”

“Oh iya, gua duluan yang mulai ya, hehe, sorry. Ya udah gua ulang deh. Jadi intinya apa?”

“Ya udah gua ulang juga. Kamu tidak menangkap inti yang aku maksud. Mengapa kamu masih bersamanya sampai saat ini?”

“Biasa aja kaleee, nggak usah pakai bahasa sinetron gitu.”

“Lo duluan yang mulai.”

“Oh iya, gua duluan yang mulai ya, hehe, sorry. Ya udah gua ulang deh. Jadi maksud lo apa?”

“Ya udah gua ulang juga. Lo nggak nangkep ya dari tadi maksud gua. Kenapa lo masih sama dia aja terus sampai sekarang?”

“Nah gitu kan enak, nggak usah pakai bahasa bule atau sinetron.”

Come on man, be serious for a while.”

“Tuh pakai bahasa bule lagi.”

“Ya udah, serius dikit lah.”

“Hehe, sorry, biar nggak stress bro.”

“Ya jadi apa alesannya?”

“Gua juga nggak tahu bro.”

“Lo udah disakitin berkali-kali, kenapa lo maafin terus dia?”

“Gua juga heran bro.”

“Lo juga nggak jelek-jelek amat kok bro, kaya lagi, kenapa mau berulang-ulang disakitin gitu?”

“Gua juga suka aneh sendiri bro.”

“Kayaknya lo ada sembunyiin sesuatu, atau jangan-jangan lo kepelet bro, ke orang pinter gih.”

“Ah, gua nggak percaya gitu-gituan.”

“Jadi apa dong.”

“Gua masih belum tahu sampai sekarang, tapi kayaknya ada satu yang nahan gua sama dia.”

“Apa? Soal making love?

Yes, nah itu lo tahu bro. Lebih tepatnya having sex.

“Emang cewek dia doang bro?”

“Cewek ya banyak, Ibu lo juga cewek. Lo mau gua jadi bapak tiri lo?”

“Ngawur lo bro, fokus ah.”

“Oke, hehe, sorry. Ada satu bro, entah kenapa having sex sama dia tambah lama tambah enak bro.”

“Kenapa?”

“Mungkin karena keseringan berantem kali ya? Setiap abis berantem kayaknya makin enak deh service-nya.”

“Sakit lo bro!”

“Memang sakit, kita kan lagi ngantri di rumah sakit. Lo kagak inget ya?”