Sebagai Ayah, Saya Beginner

Judul di atas, itu alasan saya tidak berani membawa anak saya ke atas panggung di sela-sela pertunjukan saya.

Terlebih dulu saya kutip perkataan seorang Dennis Rodman, ketika dia memberikan pidato/speech saat menerima Hall of Fame.

“If anyone asks if I have any regrets in your career being a basketball player, I say I have one regret: I wish I was a better father” ~ Dennis Rodman.

Rodman yang begitu urakan, di luar lapangan dan di dalam lapangan, dengan warna rambut yang berganti-ganti setiap dia turun ke lapangan, tindik di mana-mana, justru saat dia mencapai gelar tertinggi seorang pemain basket, Hall of Fame, malah banyak menangis. Dia bicara dengan suara yang tidak jelas. Ya, karena dia bicara sambil menangis.

Dia tidak menyesal dengan apa yang dia capai dalam dunia basket. Terang saja, dia dapat lima cincin juara. Dua bersama Detroit dan tiga bersama Chicago. Tapi ternyata itu tidak menutup kesedihan dia hari itu, Rodman terus saja menangis dan menangis. Saya mengamati dan memutar ulang terus rekaman pidato Rodman lewat Youtube. Sampai saya tahu, apa sebab kesedihannya. Kalimat ini ternyata, “I wish I was a better father.”

Waktu tak bisa diputar, Rodman, dan saya belajar dari anda.

Saya sudah sepuluh tahun menjadi Ayah, dan sampai hari ini saya masih beginner. Saya baru tiga tahun menjadi stand-up comedian, tapi saya bahkan sudah berani (nekat) bikin program Comic Wannabe di channel Youtube saya. Lebih susah menjadi ayah. Silakan kalau ada yang yang mau bikin program Father Wannabe, saya akan subscribe.

Saya orang yang terus berusaha, dalam bisnis, dalam menambah pengetahuan, dalam seni, dll. Mungkin suatu hari saya mendapat penghargaan, entah dari siapa, mudah-mudahan saja saya peraih Nobel pertama asal Indonesia. Saya ingin pidato saya berbunyi seperti ini:

“Thank you. This is great achievement in my life, thank you. But, this is not the greatest. My greatest achievement is: I’ve been a good father for my kids.”

— Not A Slim Father

Advertisements