Surat Kaleng

“Dian, jadi kamu nerima aku nih?”

“Iya, Yan.”

“Makasih ya?”

Dian hanya terdiam, aku pegang tangannya dia tidak menolak. Coba kukecup tangannya, dia menarik dengan halus.

“Jangan dulu ya?”

Aku hanya mengangguk tanda setuju.

*

Saat itu aku masih duduk di bangku SMA. Aku begitu tertarik dengan salah satu murid dari kelas lain yang namanya Dian. Orangnya bukan yang paling cantik di sekolahku, tapi gayanya yang begitu kalem, keibuan, membuat aku ingin tahu lebih dalam tentang dia.

Aku termasuk yang pandai bergaul baik itu dengan temanku laki-laki maupun perempuan. Tapi entah kenapa dengan Dian, aku begitu hilang akal, sama sekali tidak berani untuk memulai pembicaraan atau sekedar berbasa-basi mengajak kenalan.

Kami belum pernah berkenalan secara formal, tapi karena kelas kami bersebelahan tentu aku tahu namanya, dan aku juga yakin bahwa dia pasti tahu namaku.

Sampai suatu hari aku memberanikan diri untuk menulis surat. Memang terlihat kurang jantan, tapi yang penting dia bisa tahu bahwa aku begitu ingin untuk dekat dengan dia dan menjalin hubungan yang lebih serius dengan dia.

Masalah kedua datang lagi, akut tidak berani memberikan surat itu kepada Dian, sehingga aku harus meminta bantuan sahabatku satu kelas Widhie.

“Waduh Yan, kamu kok cemen ya?” Demikian komentar Widhie saat pertama kali aku menjelaskan padanya soal bantuan yang aku minta darinya.

“Iya please Wid, kali ini aku bener-bener minta tolong.”

“Satu, kamu sudah tidak berani ngomong langsung sama dia. Kamu pakai surat untuk berkenalan, itu saja sudah satu masalah besar buat aku. Yang kedua, eh untuk nyampaikannya saja kamu nggak berani?”

Aku terdiam.

“Gimana mau diterima?” Kata Widhie lagi setengah mencibir.

Aku tidak sakit hati dengan kata-kata Widhie, kami sudah satu sekolah sejak SMP, dan sudah biasa saling ejek. Walau dengan kata-kata yang sedikit tidak enak didengar, aku sadar bahwa apa yang diucapkannya seratus persen benar.

“Aku tahu Wid, tapi bantu aku sekali ini saja.”

Okay kali ini aku bisa maklumi, mana sini suratnya?”

“Ini,” kataku sambil menyerahkan surat itu pada Widhie.

“Payah lo!” Masih saja dia mencoba untuk menghinaku. Aku tidak peduli dan sama sekali tidak tersinggung. Yang penting dia sudah bersedia membantuku.

Widhie segera masuk ke kelas Dian. Ini jam istirahat dan kami memang sudah lihat tadi, Dian sudah masuk ke dalam kelas.

Sekitar dua menit aku menunggu di depan pintu kelasku sampai akhirnya Widhie keluar dari kelas Dian.

“Gimana sudah kan?” Tanyaku tak sabar.

“Sudah, Dian nggak ada di kelas, jadi aku titip aja sama temannya.”

“Yah gimana sih kamu Wid?” Aku begitu emosi.

“Gimana apanya?”

“Kan aku minta tolong kamu, kenapa kamu malah minta tolong lagi sama orang lain?”

“Lho, kan kamu nggak kasih perintah yang spesifik harus Dian langsung yang nerima? Aku lihat Dian tidak ada di dalam kelas, ya jadi aku titip aja sama orang yang ada di dalam kelas? Masak aku celingukan di kelas orang lain? Yang bener aja Yan?”

Pembelaan Widhie masuk akal. Aku mengurungkan niatku untuk marah-marah padanya.

“Terus kamu titip siapa?”

“Hendra.”

“Aduh kamu ini Wid, nanti seluruh kelas Dian tahu aku sedang pendekatan sama dia, sialan kau Wid.”

“Yan, kamu itu udah aku bantuin bukannya malah terima kasih malahan begini. Aku nggak mau bantuin kamu lagi deh kalau gini caranya.”

“Jangan gitu dong. Ya udah sorry, sorry, aku minta maaf deh.”

“Tenang aja pasti surat itu sampai ke tangan Dian.”

*

Sudah tiga hari sejak surat itu kutitipkan pada Widhie untuk diserahkan kepada Dian, setiap berpapasan dengan Dian, aku dan dia selalu bertukar senyum. Hanya saja, tidak sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami berdua ketika kami berpapasan.

Aku jadi ragu apakah benar di Widhie menyampakan surat itu. Aku sangat percaya pada Widhie, dia sahabatku. Mungkin suratku itu disabotase di tengah jalan oleh Hendra. Mendamprat Hendra sungguh aku tidak berani, bukannya karena taku bekelahi, tapi aku akan hanya mempermalukan diriku sendiri.

Sampai suatu hari usai pelajaran olah raga, aku kembali ke kelas. Aku menemukan sepucuk surat dalam amplop tergerletak di mejaku. Surat itu berbunyi:

Dear Yan,

Saya tahu kamu suka sama Dian, tapi jangan  coba-coba dekati dia. Dia milikku.

Dia juga tidak suka kamu kirim-kirim surat. Ini suratnya aku kembalikan.

Dalam amplop itu, disertakannya surat yang kutulis untuk Dian dalam keadaan sudah kusut.

Aku kemudian coba menduga-duga, siapa yang menulis surat ini? Yang tahu urusan ini hanya Widhie dan Hendra. Widhie sudah pasti tidak mungkin menghkianati aku, dia orang yang sangat terbuka dalam bergaul dengan siapa pun. Kalau suka dia akan bilang suka, sebaliknya kalau tidak suka dia juga tidak pernah mencoba-coba menutupinya.

Hendra, aku tidak banyak mengenal pribadinya. Ada kemungkinan dia yang melakukan sabotase ini. Tapi buat apa? Apa dia juga naksir Si Dian?

Kelas masih kosong, sedang asyik aku menduga-duga, tiba-tiba ada suara yang mengagetkan aku.

“Hey, Yan! Jangan ngelamun gitu ah!” Widhie baru saja sampai di kelas.

Aku tidak banyak bicara kusodorkan dua lembar surat itu pada Widhie. Satu suratku pada Dian dan satu lagi surat kaleng yang tidak jelas siapa pengirimnya.

Widhie mengambilnya dan mulai membacanya dengan serius. Dia juga jadi tahu isi surat yang kutulis buat Dian. Ketika dia membaca bagian itu Widhie sedikit tersenyum sambil memandangku.

“Tuh kan malah ngeledek,” keluhku.

“Rumit juga nih. Aku sih bukannya takut sama Si Hendra, tapi kalau kamu labrak dia, masalahnya bisa panjang dan kamu jadi malu sendiri. Berkelahi urusan pacar? Nggak deh,” katanya.

“Jadi lebih baik kamu temuin aja Si Dian nanti pulang sekolah, supaya semuanya jadi jelas,” saran Widhie.

*

Pulang sekolah aku menunggu Dian di depan kelasku karena mau tidak mau dia harus melintasi kelasku untuk menuju gerbang keluar.

Aku sudah dapat melihat Dian datang ke arah kelasku. Dia sudah semakin dekat dengan aku. Tapi entah kenapa aku belum juga berani untuk menyapa dia duluan. Sampai akhirnya dia tersenyum, aku juga membalas seyumannya. Tapi kubiarkan dia berlalu melewatiku.

Sampai tiba-tiba ada yang mendorong aku begitu keras kearahnya. Aku benar-benar tidak dapat mengendalikan diri dan tubuhku menabraknya dari belakang. Aku dan Dian sama-sama tersungkur di lantai. Sedikit kutengok ke belakang ternyata itu kerjaan si Widhie, yang langsung senyum-senyum dan pura-pura tidak tahu. Belum sempat aku bereaksi dia sudah lari duluan.

“Aduh maaf ya, nggak apa-apa kan? Soalnya ada yang dorong aku dari belakang.”

“Eghh, nggak apa-apa sih.”

Aku ulurkan tanganku untuk membantu dia bangun. Dian segera merapikan pakaiannya.

Ini pertama kali aku akhirnya bicara dengannya. Tadinya aku mau marah saja pada si Widhie, tapi ternyata maksudnya baik. Mungkin kalau tidak didorong Widhie, sampai sekarang aku belum juga bicara dengan Dian.

“Sudah baca surat saya?”

“Sudah. Tapi kemarin aku simpan di meja, suratnya hilang, nggak tau siapa yang ambil.”

“Ohh.”

Aku pura-pura tidak tahu saja. Aku juga tidak menceritakan bahwa ada yang mengirimiku surat kaleng berisi ancaman untuk tidak mendekati dirinya. Aku juga tidak cerita bahwa surat itu sudah kembali ada di tanganku.

“Jadi gimana?”

“Hmmm…”

“Kamu sudah punya pacar ya?”

“Belum kok.”

“Atau belum mau pacaran?”

“Mau aja kalau ada yang cocok.”

“Atau aku bukan tipe kamu?”

“Belum tahu, orang kita kan belum kenalan.”

Okay kalau gitu kita sekarang kenalan, nama aku Yan.”

“Aku Dian.”

Kami berjabat tangan, canggung, tapi tanpa sengaja saling melempar senyum.

“Jadi setelah ini gimana?” Tanyaku.

“Gimana apanya?”

“Ya boleh nggak aku jadi pacar kamu?”

“Soal boleh ya pasti boleh, itu hak semua laki-laki, tapi masalahnya aku mau atu tidak?” Dian tersenyum sambil menggodaku.

“Aduh, jangan bikin bingung dong.”

“Kamu juga, baru nulis surat sekali aja sudah langsung nembak kayak gini.”

“Iya, maaf ya.”

“Jalanin aja dulu, tapi aku nggak tertutup kok orangnya.”

*

Mulai saat itu setiap pulang sekolah aku selalu bersama dengan Dian. Kadang dia dijemput orang tuanya, tapi saat giliran orang tuanya tidak menjemput, kami pulang bersama naik angkot. Kebetulan arah rumah kami sama.

Anehnya surat kaleng itu masih datang juga sesekali. Sekali surat itu datang ke kelas, sekembalinya aku ke kelas sehabis jam istirahat, kulihat ada amplop di atas mejaku. Isi surat itu adalah:

Oh masih berani ya? Saya sudah bilang jangan dekati.

Aku tetap tidak gubris surat itu. Bahkan aku makin lengket saja dengan Dian. Sampai suatu hari Surat itu datang ke rumahku.

Kamu nggak percaya sama saya? Saya tidak main-main. Bahkan saya tahu alamat rumat kamu.

Orang ini tidak pernah berpanjang-panjang dalam menulis surat, tapi surat-suratnya cukup membuatku kecut. Aku masih tetap merahasiakan hal ini kepada Dian dan orang-orang lain tentang keberadaan surat-surat ini. Aku hanya terbuka pada temanku Widhie dalam hal ini, tapi isi surat pun tidak pernah aku beritahu padanya.

Widhie menyarankan untuk aku terbuka pada Dian. Usulnya ini kutolak mentah-mentah karena sebagai laki-laki aku tidak ingin terlihat penakut di mata Dian.

*

Demikian sebulan pendekatanku dengan Dian, aku sering menunjukkan perhatianku pada dia. Misalnya sekedar membelikan roti atau makanan lain pada jam istirahat. Bila ada kesempatan kami pulang bersama naik angkot, sering kami bercanda tertawa-tawa di dalam angkot sampai sering penumpang yang lain merasa terganggu.

Sampai akhirnya aku berani menyatakan sekali lagi perasaanku padanya bahwa aku suka padanya. Dian tidak menolak, status kami sekarang pacaran, istilah anak mudanya: jadian.

Sampai suatu hari aku begitu kaget, sesampainya aku di rumah, ada sepucuk surat. Isinya:

Jadian ya? Selamat.

Singkat saja, tapi bagi aku itu mendatangkan teror yang membuat hidupku tidak tenang. Ingin aku menelusuri siapa orang ini, tapi usaha yang aku keluarkan akan terlalu memakan waktu dan tenaga, sedangkan sekarang aku sedang dalam persiapan untuk masuk ke perguruan tinggi.

Aku pun masih tetap tertutup pada Dian soal ini. Bahkan pada Widhie, hal ini pun sudah tidak lagi kuceritakan.

Aku tetap tidak setuju dengan pendapat Widhie, bisa-bisa Dian mengganggap aku cengeng dan penakut, simpati Dian padaku bisa hilang, dan akhirnya hubungan kami bisa kandas di tengah jalan.

Kecurigaanku tetap pada Hendra. Karena surat pertama yang kutitipkan pada Widhie, dia titipkan lagi pada Hendra. Mungkin sebelum sampai ke tangan Dian dia sudah terlebih dahulu membaca surat itu. Kemudian dia juga yang mengambilnya dan mengembalikannya padaku disertai dengan sebuah ancaman untuk tidak mendekati Dian.

Pernah aku sengaja memancing Hendra. Aku sengaja menjatuhkan amplop-amplop surat kaleng yang pernah aku terima tersebut di depan Hendra. Aku ingin tahu reaksinya. Dia hanya pura-pura tidak lihat saja.

Tapi aku perhatikan sejak aku dekat dengan Dian, Hendra sering sekali memandangi aku dari pintu kelasnya, saat aku juga sedang bersama teman-temanku di depan pintu kelasku. Biasanya kutatap balik dia, dan dia akan segera memalingkan pandangannya ke arah lain atau pergi masuk ke dalam kelas.

*

Hubunganku dengan Dian malah kian mesra. Sekarang Dian sengaja meminta orang tuanya untuk tidak menjemputnya sepulang sekolah. Alasannya dia mau belajar mandiri.

Karena tahun ini kami mempersiapkan diri unruk masuk ke perguruan tinggi, kami pun mendaftar ke bimbingan belajar yang sama, supaya bisa tetap belajar tapi juga makin lengket.

Surat-surat kaleng itu masih terus datang. Si pengirim tahu tentang acara-acara kami, mulai dari mendaftar ke bimbingan belajar yang sama, atau kalau kami pergi makan siang bersama, dan lain-lain. Terus terang aku sedikit terganggu awalnya, tapi lama-lama aku mulai terbiasa dan kuanggap angin lalu saja. Kalau memang itu orangnya Hendra, senekat apapun nanti dia aku tidak akan takut sama sekali padanya.

Sulit juga bagiku untuk mencurigai orang di sekolah atau di bimbingan belajar, karena rata-rata yang ikut di bimbingan belajar kami ya murid-murid dari sekolahku juga.

*

Waktu terus berlalu sampai akhirnya kami lulus dari bangku SMA dan mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN). Aku dan Dian sama-sama lulus dalam ujian kami, kami sama-sama masuk ke Perguruan Tinggi Negeri. Sayangnya aku di terima di Yogyakarta dan Dian tetap di Bandung.

Kami tidak mau permasalah jarak ini membuat hubungan kami makin renggang. Kala itu ponsel masih barang yang sangat mewah dan Internet adalah barang yang langka. Jadi terpaksa kami hanya melakukan hubungan lewat surat menyurat.

Sesekali kalau ada kiriman lebih dari orang tuaku di Bandung, aku pergi ke wartel untuk meneloponnya.

Sudah pasti kalau liburan semester aku pulang ke Bandung. Niatnya untuk mengunjungi orang tua dan keluarga, tapi yang terjadi malah kami lebih banyak bersama-sama, bertemu keluarga hanya saat sudah mendekati waktu tidur.

Itulah hebatnya, aku dan Dian sama-sama menjaga hubungan kami. Kami ingin hubungan ini lanjut ke jenjang pernikahan. Karena jarak yang jauh, kami justru terpacu untuk menyelesaikan kuliah kami secepat-cepatnya.

Surat-surat kaleng itu pun tidak pernah kuterima lagi. Nampaknya semua sudah berjalan menurut rencana kami, tanpa ada aral melintang.

*

Lima tahun kemudian.

Kami lulus hampir  bersamaan. Sebelum lulus aku bahkan sudah diterima di sebuah perusahaan konsultan keuangan di Jakarta. Tak perlu repot mencari pekerjaan sudah ada pekerjaan yang menungguku di Jakarta.

Dian juga sudah lulus, tapi dia masih melamar ke sana ke mari, sudah enam bulan belum juga ada lamarannya nyantol.

Enam bulan aku bekerja aku banyak menabung. Gajiku lumayan sehingga dengan gaya hidupku yang terbiasa susah, aku bisa cukup mengumpulkan modal yang lumayan. Aku memberanikan diri untuk melamar Dian. Aku datang bersama kedua orang tuaku untuk melamarnya. Kami sama-sama dari keluarga menengah, tidak kekurangan tapi juga tidak berlebih.

Suasana lamaran juga sebenarnya hanya basa-basi kenalan antar sesama calon besan, tidak ada keluarga lain yang datang, hanya keluarga inti.

Ayah dan ibu Dian juga tampaknya tidak keberatan dengan rencanaku. Terserah Dian saja kata mereka, jelas Dian pasti setuju karena memang sebelum datang ke rumahnya kami berdua sudah pernah mendiskusikan tentang hal ini.

*

Menjelang pernikahan.

Pernikahan dilaksanakan di Bandung karena orang tua kami sama-sama tinggal di kota ini. Rencananya acara tidak akan bermewah-mewah. Setelah akad nikah, resepsi akan dilakukan di rumah Dian. Undagan pun sangat dibatasi, hanya keluarga dekat dan beberapa teman saja yang diundang.

Karena dilaksanakan di Bandung, aku tentunya tinggal di rumah orang tuaku dua hari sebelum pernikahan. Masa kerjaku di perusahaan tempat aku bekerja belum genap satu tahun. Sebenarnya menurut aturan perusahaan, aku belum boleh mengambil cuti. Tapi karena atasanku cukup perhatian padaku dia memberikan dispensasi.

Aku titip pada atasanku untuk jangan dulu gembar-gembor sama teman-teman di kantor, karena acara yang kurancang hanya acara sederhana. Tidak enak rasanya kalau banyak orang tahu, tapi tidak aku undang ke acaranya nanti.

Satu yang membuat aku kaget, surat kaleng itu datang lagi ke rumah orang tuaku, sehari sebelum hari pernikahan. Aku kira aku sudah terbebas dari teror kampugan ini, tapi tertanya tidak. Isinya singkat saja:

Berani ya kamu? Kamu tidak gubris sama sekali surat-suratku sebelumnya. Kamu kira aku main-main?

Selamat menempuh hidup baru.

Kalimatnya penuh ancaman walau diakhiri dengan ucapan selamat.

Aku coba menduga-duga siapa yang mengirim surat kaleng ini? Apa orang yang sama dengan yang mengirim surat-surat kaleng itu dulu ketika aku SMA? Aku masih simpan semua surat itu, tak ada satu pun yang tahu isi surat itu, kecuali Widhie sahabatku. Itu pun hanya beberapa surat di awal-awal aku menerimanya. Waktu berikutnya aku tidak lagi menunjukkan surat-surat itu kepada Widhie.

Pernikahan ini pun tidak terlalu banyak orang yang tahu. Hanya keluarga dekat, beberapa teman SMA dan kuliah yang benar-benar dekat denganku atau Dian saja yang diundang. Aku coba menduga-duga, tapi rasanya tidak mungkin salah satu dari antara teman-teman itu yang tega melakukan ini pada diriku.

Apa daya, semua sudah dijalankan. Masak hanya gara-gara surat kaleng dari orang iseng saja aku mundur? Pernikahan tetap dilaksanakan, aku simpan saja surat itu pada sebuah amplop coklat, tempat aku menyimpan semua arsip surat kaleng iseng itu.

*

Dua minggu setelah pernikahan.

“Sayang aku pergi belanja dulu.”

Hari Sabtu, hari untuk bermalas-malasan. Aku masih tidur pagi itu.

“Hmm…”

“Mau dimasakin apa nanti?”

“Egghh, apa aja deh boleh.”

Okay, aku jalan dulu ya, nggak lama kok.”

“Iya, hati-hati ya sayang.”

Okay.”

Begitulah, aku sudah mengontrak rumah di Jakarta. Untuk ukuran pasangan baru, ini sudah lumayan. Dua kamar, dapur, kamar mandi dan ruang tamu walau kecil. Sudah lebih dari cukup bagi kami.

Gara-gara dibangunkan istriku, aku tidak bisa lagi kembali untuk tidur. Jadi segera aku ke kamar mandi untuk membasuh mukaku dan gosok gigi.

Aku kembali ke kamar dengan segelas air putih, berencana untuk bersantai-santai kembali di tempat tidur setelah seminggu yang lalu jadwalku begitu penuh untuk mengejar target dari kantor. Maklum ambil cuti satu minggu jadi kerjaan numpuk.

Sampai di kamar kulihat di meja rias ada sebuah buku, bentuknya mirip buku harian. Penasaran aku ambil buku itu dan memang ini buku harian. Buku ini milik Dian tentunya, ada namanya tertera di sampul buku.

Aku buka saja, walau sebenarnya tidak etis untuk membuka sebuah buku harian walau itu milik istri sendiri. Tapi rasa penasaranku jauh mengatasi etikaku.

Sambil takut-takut kalau tiba-tiba Dian kembali ke rumah, aku mulai membaca halaman demi halaman buku hariannya. Aku jadi tahu siapa mantan-mantan dia dulu, sambil senyum-senyum aku terus baca buku hariannya. Sampai masuk ke bagian-bagian dimana aku mulai mendekati dia. Hampir aku tertawa membaca bagian-bagian itu, ingatanku langsung terbawa ke masa-masa aku mendekati Dian, yang sekarang adalah istriku. Begitu detil Dian menuliskan itu semua.

Sampai pada suatu halaman, ada satu kalimat yang tidak asing bagiku. Kalimat singkat yang merupakan isi surat kaleng pertama yang aku terima dulu waktu SMA. Aku semakin penasaran, kulewati saja halaman demi halaman buku harian itu, aku mencari surat-surat kaleng berikutnya, semua ada di dalam buku harian ini. Semuanya sama dengan surat kaleng yang pernah aku terima, termasuk yang terakhir aku terima beberapa hari sebelum hari pernikahanku.

Aku langsung lemas, tidak tahu harus berbuat apa.

Tiba-tiba dari arah pintu ruang tamu.

“Sayang.”

Segera kututup buku harian itu kusimpan kembali di meja rias dan aku pura-pura sedang tidur.

***

Advertisements

Tugas Rahasia

Robert begitu bingung, minggu depan dua anaknya harus segera melunasi tunggakan uang sekolah selama tiga bulan. Mereka juga masih punya anak kecil berusia dua tahun, ditambah kondisi istrinya, Sundari, yang sedang hamil tua. Menurut perkiraan anaknya akan lahir satu bulan lagi, jelas ini akan memerlukan biaya yang tidak sedikit, apalagi kalau harus melalui operasi sesar.

Robert bekerja di sebuah kantor swasta sebagai petugas keamanan. Penghasilan satpam jelas tidak sebanding dengan apa yang dia butuhkan dalam waktu dekat ini. Desakan kebutuhan yang luar biasa ini membawa dirinya ke dalam keadaan sangat membingungkan dan cenderung mengarah ke frustasi.

*

Suatu hari Robert sedang makan siang di kantin belakang kantornya. Sampai matanya tertuju pada lelaki yang asing, setahu dia orang ini baru sekali dia lihat. Semua yang makan siang di kantin ini biasanya adalah orang-orang yang Robert kenal. Kalau bukan orang-orang satu kantornya, ya bisa juga orang-orang lain yang berkantor di gedung yang sama. Tapi orang ini benar-benar baru sekali dia lihat makan di kantin ini.

Dari segi pakaian pun, menurut Robert, orang ini terlalu necis untuk berada di kantin ini. Kantin ini kelasnya untuk orang-orang seperti dirinya, pikir Robert.

Robert terus memperhatikan lelaki itu, dia makan tepat di sebelah meja Robert. Tiba-tiba lelaki itu menoleh kearahnya, Robert segera membuang muka, takut beradu pandang dan membuat lelaki itu tersinggung. Entah kebetulan atau memang tersinggung dengan tatapan Robert lelaki itu segera pergi dari kantin tempat mereka makan.

Robert meneruskan makan, sampai dia sadar bahwa ada amplop tertinggal di meja tempat lelaki itu makan tadi. Segera diambilnya, lalu ia berkata pada penjaga kantin.

“Pak, sebentar ya, ini amplop orang yang tadi makan di meja ini, tertinggal,” katanya sambil menunjukkan amplop itu pada si penjaga kantin.

“Oh, iya, kejar Bert, mungkin belum jauh,” jawab bapak penjaga kantin.

Karena Robert sudah sering makan di situ, Pak Parno, penjaga kanti itu, memperbolehkan Robert keluar menyusul lelaki tadi walau dia belum membayar.

Robert segera berhambur keluar kantin untuk menyusul lelaki tadi, tapi cepat sekali lelaki tadi menghilang. Dia coba mencari ke arah jalan raya, ditengoknya ke arah kiri maupun kanan, sosok lelaki tadi sudah tidak nampak lagi dari pandangannya.

Dia berpikir, apa dititipkan saja pada pemilik kantin? Robert kembali ke kantin untuk meneruskan makan siangnya.

“Gimana Bert? Sudah balik ke orangnya?” Pak Parno bertanya.

“Sudah Pak, untung saja orangnya belum jauh tadi,” Robert menjawab. Dia mengatakan bukan yang sesungguhnya. Dia ingin tahu dulu apa isi amplop yang sekarang sudah dikantonginya itu. Tak sabar Robert menyelesaikan makan siangnya.

Setelah itu segera dia pergi ke kamar kecil. Di kamar kecil tak sabar diambilnya amplop dari kantong lalu dibukanya. Ada sebuah kertas bernomor, sebuah anak kunci dan secarik kertas bertuliskan:

Ada tugas besar untukmu, bayarannya akan sangat besar. Sebelum pukul 19.00, ambil tas yang dititipkan di petugas penitipan tas di Swalayan Gelael, Tebet. Di dalam tas itu akan ada petunjuk tugas ini lebih lanjut.

Robert segera melipat lagi kertas tersebut dan dengan rapi dan dimasukkannya kembali ke dalam amplop. Dia kembali ke kantornya karena waktu istirahat memang sudah habis.

*

Usai jam kantor entah kenapa Robert tidak langsung pulang. Dia memberanikan diri untuk mengikuti petunjuk yang ada pada kertas yang didapatnya tadi siang. Dia tidak peduli bahwa sebenarnya tugas itu bukan untukknya. Pikirannya begitu buntu untuk mencari biaya untuk banyak kebutuhannya yang begitu mendesak.

Sesampainya di swalayan yang ditulis dalam kertas itu, Robert segera mencari tempat penitipan tas. Robert menghela napas panjang beberapa kali untuk memberanikan diri. Dia sebenarnya begitu ragu dan hampir memutuskan untuk mengurungkan niatnya. Segera ditepisnya keraguannya itu dengan seribu tekad untuk menghidupi keluarganya.

Robert segera menghampiri tempat penitipan tas tadi, lalu memberikan nomornya pada petugas yang sedang menjaga. Petugas juga tidak banyak bertanya, hanya mencari tas yang Robert cari, mencocokan nomor yang dia terima dengan nomor kotak dimana tas itu disimpan. Tanpa kesulitan petugas sudah menemukan tas tersebut, sebuah ransel warna hitam. Mirip dengan ransel yang biasa dipakai anak-anak sekolah.

Petugas memberikan tas tersebut kepada Robert dan Robert segera mengambilnya. Tanpa banyak bicara Robert meninggalkan tempat penitipan tas dan pergi ke area parkir swalayan itu. Segera dicarinya tempat yang cukup sepi. Dibukanya gembok tas tersebut dengan kunci yang dia terima tadi siang, ternyata kuncinya cocok. Segera setelah tas itu dibuka ada sebuah amplop di sana. Dibukanya dan didalamnya ada selembar kertas betuliskan:

Kalau kamu memang serius dengan tugas ini, segera menuju ke parkiran P2-A12. Di sana akan ada mobil dengan plat nomor B 1431 KFD. Kunci mobil ada saya sertakan dalam amplop ini.

Buka mobil itu, di dalamnya ada sebuah tas berisi pistol yang sudah terisi penuh dengan peluru. Siap untuk ditembakkan, tinggal tekan pelatuknya.

Biaya awal sebesar lima juta Rupiah saya siapkan dalam mobil itu sisanya empat puluh lima juta Rupiah lagi akan diberikan usai pelaksanaan tugas.

Bila kamu berhasil melakukan tugas ini, segera kembali ke parkiran ini, simpan tas ini dan kami sudah siapkan sisa pembayarannya untukmu.

Dalam tas akan ada sebuah ponsel, ambil tas itu. Perintah soal target dan alamat target akan kami beritahu melalui ponsel. Segera setelah ponsel itu ada padamu, hanya ada satu kontak pada phonebook-nya, kirim pesan singkat pada nomor itu, singkat saja: “sudah”.

Robert segera terduduk. Berat sekali hidup ini pikirnya, tapi belum pernah terbersit dalam pikirannya harus membunuh orang untuk mencari uang. Jumlah yang ditawarkan tidak kecil, total lima puluh juta Rupiah. Itu jumlah yang sangat besar menurut dia.

Sekitar lima menit Robert menimbang-nimbang apa yang harus dilakukannya. Mundur atau lanjut. Terbayang wajah dua anaknya yang sedang sekolah dan anaknya yang masih bayi. Wajah Sundari, yang kini sedang hamil tua, pun terlintas dalam benaknya.

Dia berpikir, lima puluh juta Rupiah, bunuh saja orang ini. Pasti target ini juga bukan orang baik-baik, jadi tidak begitu salah menghabisi nyawa orang ini. Robert memutuskan untuk pergi ke area parkir. Dia akan melakukan tugas ini, sekali dalam seumur hidup dia membunuh orang. Setelah itu punya modal lima puluh juta untuk melanjutkan hidup dengan modal yang menurutnya cukup besar ini.

Cukup lama dia mencari-cari mobil tesebut, setelah menemukannya dia membuka pintunya dengan kunci yang diberikan. Tepat di balik kemudi mobil sudah ada tas yang disiapkan. Robert coba-coba  menyalakan mesin mobil, tapi ternyata tidak bisa dinyalakan. Dia tidak berani mencoba lebih jauh bila tidak sesuai dengan instruksi.

Masih dalam mobil itu, dibukanya tas terakhir. Benar di dalamnya tersimpan sebuah pistol dan telepon genggam. Ada sebuah amplop, Robert membukanya. Di dalamnya ada segepok uang pecahan seratus ribu Rupiah. Robert tidak menghitungnya tapi ini mungkin uang lima juta yang dijanjikan.

Dia segera mengambil ponsel yang baru saja diterimanya dan mengetik “sudah” lalu mengirimnya pada satu-satunya kontak pada phonebook ponsel itu.

Sekitar dua menit Robert menunggu, ponsel tadi bergetar, sebuah pesan singkat: “Apartemen Mediterania, Tower 1, lantai 2, Kamar 209. Ada seorang laki-laki, dia tinggal sendiri. Pukul 23 biasanya dia sudah tidur. Ada kunci magnetik untuk masuk ke apartemen itu, gunakan. Gunakan Taksi untuk mencapai lokasi. Bawa kunci mobil ini tapi jangan gunakan mobilnya. Uang lima juta boleh kamu ambil”

Robert segera bergegas, pistol sudah dikantongi dalam jaket. Dia merogoh amplop tadi, memang benar di dalamnya ada kunci magnetik.

*

“Dik Sundari, aku pulang agak malam ya. Aku ada obyekan malam ini, hati-hati di rumah.” Demikian Robert menelepon dulu istrinya, Sundari, memberitahu keberadaannya saat ini.

Robert segera mengambil taksi dan meminta supir untuk mengantarkannya ke Apartemen Mediterania.

Sekitar dua jam, dia menunggu di depan apartemen, sampai kira-kira lima menit sebelum pukul 23, dia masuk ke Tower 1 Apartemen itu.

Dia sudah mencapai lobby dan mengarah ke lift. Ada petugas keamanan yang sedang mengantuk di situ. Beruntung Robert, dia tidak mempedulikan kedatangan Robert. Agar tidak mencurigakan, Robert sama sekali tidak mempercepat langkahnya, perlahan berjalan menuju lift.

Ditekannya tombol naik, apartemen sudah cukup sepi sehingga lift tidak sibuk, pintunya segera terbuka. Robert masuk dan menekan lantai dua, tujuannya. Lampu indikator lift sudah menunjukkan angka dua dan pintu lift segera terbuka. Robert segera keluar dari lift, dibacanya petunjuk di tembok depan lift bahwa kamar 209 ada di sebelah kanan lift. Dia segera berjalan menuju kamar itu.

Sampai di depan kamar 209, dimasukkannya kunci magnetik dan dibukanya pintu perlahan. Sepi dalam kamar. Ini jenis kamar studio, dimana ketika pintu dibuka langsung dapat dijumpai tempat tidur. Tidak ada ruang tamu pada jenis kamar studio.

Robert melihat ada sesosok laki-laki sedang tertidur di atas tempat tidur, tanpa pikir panjang, sambil berjalan mendekati tempat tidur diraihnya pistol. Robert mengarahkan pistol itu pada sosok yang tertidur pulas itu.

Tiba-tiba keraguan datang dalam dirinya. Ini bukan hal yang benar yang harus dia lakukan. Aku harus urungkan ini, harus, demikian suara hatinya. Robert mulai berbalik, bermaksud untuk meninggalkan kamar itu. Ia berniat mengembalikan lima juta yang sudah dibawanya, kembali ke mobil yang terparkir di swalayan tadi.

“Hey siapa kamu!” Robert mendengar suara lakit-laki membentak di belakangnya. “Berani-beraninya kamu masuk ke kamarku!”

Robert begitu kaget, membalikkan badan. Laki-laki itu langsung merangsek ke arahnya, secara refleks Robert menembakan empat kali pistolnya ke arah laki-laki itu.

Laki-laki itu hanya mengerang sebentar pada tembakan yang pertama, tapi tembakan kedua, ketiga dan selanjutnya dia sudah tidak bernyawa lagi. Tubuhnya roboh ke lantai kamar. Darah mengalir membasahi lantai kamar apertemen itu.

Robert segera meninggalkan kamar itu. Ini pertama kali dia menghabisi nyawa seseorang, sebenarnya gugup sekali perasaannya saat itu. Tapi entah mungkin sudah bakat alami dia mencoba menenangkan diri dan terlihat seperti seorang pembunuh profesional.

Menuju lift, kembali ke lobby, melewati petugas keamanan dia berhasil mencapai jalan raya. Sebenarnya aksinya cukup sembrono, maklum seorang amatir. Hanya Robert memang beruntung, walau keluar masuk melewati pintu depan yang dijaga petugas keamanan dia dapat menyelesaikan tugasnya.

*

Robert sudah kembali ke Swalayan Gelael. Sesuai perintah sebelumnya dia harus kembali ke mobil yang terparkir di area parkir swalayan ini. Segera ia menuju tempat mobil diparkirkan.

Ia masuk lagi ke dalam mobil itu, benar sudah ada amplop baru di belakang kemudi. Segera dibukanya amplop itu. Ada beberapa gepok uang, ini pasti uang yang dijanjikan sebelumnya. Ada secarik kertas lagi:

Selamat, kamu telah berhasil melaksanakan tugas. Sesuai janji kami sebelumnya, sudah ada uang empat puluh lima juta Rupiah dalam amplop ini. Uang ini milikmu. Kamu boleh pulang sekarang. Tinggalkan pistol, kunci mobil, kunci magnetik di dalam mobil ini.

Besok akan ada tugas lagi, jangan coba-coba untuk menolaknya.

Robert sangat terkejut membaca surat ini. Tadinya dia hanya akan sekali mencoba tugas ini, setelah itu mengambil uangnya dan memulai hidup baru dengan modal yang lebih dari cukup. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa dirinya malah akan terjebak menjadi seorang pembunuh bayaran. Tidak bisa hanya hari itu saja dia menjadi pembunuh.

Penghuni Kamar Sebelah

Hari ini aku begitu lelah, dua minggu penuh aku bekerja di lapangan. Aku bekerja sebagai salah satu supervisor di perusahaan pengeboran minyak dengan lokasi pengeboran di lepas pantai Kalimantan. Jadwalku dalam satu bulan normalnya adalah dua-dua, artinya dua minggu aku ada di lepas pantai, aktif mengawasi timku melakukan pengeboran minyak, lalu dua minggu lainnya aku kembali ke Jakarta dan dalam dua minggu itu benar-benar aku sama sekali tidak punya kewajiban kerja. Waktu ini biasanya kugunakan untuk berlibur, mengunjungi keluarga, melakukan hobiku atau sekedar bermalas-malasan di apartemen, maklum masih bujangan.

Aku baru sampai tadi malam di Jakarta dengan penerbangan terakhir, tidak kupedulikan pakaianku dan barang yang kubawa, kubiarkan berserakan dan aku segera tertidur pulas. Rasanya belum puas aku tidur untuk menghilangkan lelahku, barusan ada suara bising dari kamar di sebelahku, seperti ada orang memukul-mukul palu untuk memasang paku di tembok. Aku terbangun dan melihat jam, masih jam dua lebih sedikit, orang ini sudah bertukang, sial pikirku. Siapa penghuni sebelah ini, setahuku kamar di sebelahku kosong selama ini, berarti kamar sebelah sudah laku pikirku. Maklum aku jarang ada di apertemenku, jadi tidak terlalu update dengan perkembangan lingkungan.

Agak lama kegaduhan di kamar sebelah berlangsung, sampai akhirnya kuputuskan untuk keluar dari kamarku dan menegur tetangga baruku itu. Aku sudah siap keluar dari kamar, tapi ketika aku hampir membuka pintu suara gaduh itu hilang. Kutunggu beberapa lama, sekitar lima menit, ya suara gaduh itu sudah benar-benar hilang. Akhirnya kuputuskan saja untuk kembali tidur.

Pukul tiga kembali aku terbangun, kali ini karena ada suara gaduh lain. Rupaya karena jarang kutempati, tikus sudah mulai bersarang di apartemenku. Mereka berlarian dan menabrak gelas yang kusimpan di dapur tadi, hingga gelas itu jatuh dan suaranya membangunkanku.

Ada-ada saja pikirku, kubersihkan dulu pecahan gelas itu. Aku kemudian teringat bahwa dulu aku pernah membeli perangkap tikus, kupasang saja siapa tahu malam ini sahabat kecil itu masih berani-berani nakal di apartemenku. Segera setelah kupasang perangkap itu, aku kembali tidur.

***

Esoknya aku terbangun lagi, pukul enam, sial aku lupa mematikan alarm pada ponselku, masih sesuai dengan setting bila aku sedang ada di lapangan. Sulit bagiku untuk tidur lagi bila sudah terbangun jam begini, padahal rencananya aku hari ini hanya akan bermalas-malasan di kamar. Ya sudah, kuputuskan saja untuk pergi ke kantin di lantai dasar, untuk sekedar baca koran sambil menikmati secangkir kopi.

Aku hanya menggunakan celana pendek dan polo shirt saat keluar dari apatermenku, segera aku menuju ke lift. Saat melintasi kamar tetangga baruku, tiba-tiba pintu kamar itu terbuka, jantungku hampir copot. Tak lama kekagetanku berubah menjadi kekaguman, karena keluar sosok wanita berseragam yang sangat cantik. Entah ini halusinasiku atau kenyataan, yang jelas aku benar-benar terpesona dan memperlambat langkahku, sambil menoleh ke sosok wanita itu.

Dia mulai sadar aku memperhatikannya dan memperlambat gerakannya mengunci pintu, aku terus melangkah menuju lift, padahal ingin sekali aku berhenti dan memandangi tetangga baruku itu. Maklum dua minggu di lapangan, jarang lihat yang bening-bening seperti ini. Tapi tetap aku menjaga sikapku, apalagi aku dari kalangan berpendidikan, lagi pula aku harus menjaga peluang siapa tahu aku dan dia bisa punya hubungan ke depannya.

Sampai di depan lift aku menekan tombol turun. Aku tinggal di lantai 12A, ada dua lift, yang pertama menunjukkan ada di lantai 16 dan lift kedua menunjukkan lantai 3. Aduh sial pikirku, aku ingin satu lift dengan tetangga baruku ini. Lift pertama terbuka, sepertinya dia sengaja memperlambat langkahnya, dia sepertinya menghindari berada satu lift denganku. Ada beberapa orang dalam lift, sebenarnya masih ada tempat yang cukup untukku bisa masuk, tapi aku sengaja tidak masuk ke lift itu, orang-orang dalam lift terlihat agak kesal.

Tetanggaku yang cantik itu gagal dengan siasatnya, dia sudah ada di sebelahku menunggu lift kedua. Aku sedikit tersenyum dan melirik padanya. Dia menggunakan tanda pengenal, sepertinya dia bekerja di bank. Lift terbuka, aku kembali tersenyum karena lift kosong dan kami berdua masuk ke lift, tanpa sepatah kata aku mempersilakan dia masuk terlebih dahulu. Kami berdua sudah ada dalam lift dan pintu lift tertutup.

Beruntung pintu lift terbuat dari logam mengkilat, sehingga permukaannya nyaris seperti cermin. Aku bisa dengan bebas melihat tetanggaku itu dari pantulan pintu lift. Memang benar-benar cantik, ingin aku kenal dia lebih jauh, tapi aku tidak punya keberanian untuk memulai perkenalan. Tanda pengenal yang dia gunakan juga dapat aku baca, Shanty Rumingkang, itu namanya. Aku harus sedikit bekerut kening untuk dapat tulisan itu karena tentu cermin memantulkan tulisan dengan aksara yang terbalik. Dia tampaknya sadar bahwa aku mencoba membaca namanya, dia tersenyum melihat tingkahku. Aku sedikit malu karena aksiku tertangkap basah, aku membalas senyumnya, kami bertukar senyum lewat bayangan kami dari pintu lift.

Tidak terasa sudah sampai di lantai dasar, kami segera keluar dari lift. Kembali kami bertukar senyum saat keluar dari lift. Aku berjalan menuju ke kantin dan dia menuju ke lobby. Dari kantin aku bisa mengamati dia sedang menunggu taksi di depan lobby apartemen, cukup lama dia menunggu taksi tapi selalu saja diserobot oleh orang lain yang juga akan menggunakan jaksa taksi. Aku sedang membaca daftar menu untuk membaca apa saja yang aku bisa pesan di kantin ini, ketika aku memalingkan pandanganku kembali ke lobby, Shanty sudah tidak ada di tempat dia menunggu taksi tadi.

***

Hari-hari berikutnya aku selalu mengatur waktuku pergi ke kantin setiap pagi, agar kembali bisa satu lift dengan Shanty. Aku selalu berhasil untuk bisa dalam satu lift yang sama dengan Shanty. Entah aku yang hebat dalam menyesuaikan jadwal atau mungkin Shanty juga punya keinginan yang sama denganku.

Ini sudah hari ketiga aku dan dia dalam satu lift. Tidak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut kami, hanya saling melempar senyum baik itu saat bertemu, saat di dalam lift maupun saat berpisah di depan lift. Entah kenapa aku sangat menikmati ritual baruku ini. Itulah, dari tiga hari ini belum ada satu patah katapun keluar dari mulut kami.

Sampai pada hari keempat kami belum juga bertukar kata, hanya bertukar senyum saat masuk ke lift, di dalam lift dan keluar lift. Pagi di itu di kantin kuambil selembar tisu dan dengan meminjam ballpoint dari pemilik kantin aku menulis sebuah pesan.

Dear Shanty Rumingkang,

Namaku, Gerard, lengkapnya Gerard Patikawa. Aku mengundangmu untuk datang ke kamarku besok malam. Aku siapkan makan malam untuk kita berdua.

Mohon maaf sebelumnya. Bila kamu anggap aku terlalu lancang abaikan saja.

Salam, Gerard.

Seusai aku sarapan di kantin pagi itu, aku segera ke lantai 12A menuju kamarku. Tepat melintasi pintu kamar milik Shanty aku menghentikan langkahku, berjongkok dan kemudian menyelipkan tisu tadi ke celah bawah pintu kamarnya.

Ketika aku berdiri dan berbalik, alangkah kagetnya aku karena tiba-tiba ada sosok laki-laki berdiri hanya berjarak satu meter di hadapanku.

Kuatur napasku dan bertanya pada laki-laki itu, “Maaf Mas, ini kamar Mas?”

“Bukan, ini kamar Mas?” Dia balik bertanya padaku.

“Bukan juga,” aku menghela napas lagi, “Saya hanya menitip pesan pada penghuni kamar ini, apa dia rekan Mas?”

“Oh bukan kok, maaf saya sudah mengagetkan anda,” katanya sopan, “Saya hanya curiga saja siang-siang ada yang jongkok di depan kamar. Mari, saya pamit dulu.” Dia segera berlalu tanpa aku sempat membalas ucapannya.

***

Ini hari kelima aku dan Shanty dengan ritual kami. Menunggu lift, masuk lift dan bertukar senyum. Sampai ketika kami keluar lift aku beranikan bertanya padanya.

“Shanty,” benar-benar aku sok akrab sekali, kami tidak pernah berkenalan secara formal, hanya lewat tanda pengenalnya dan selembar tisu yang kuselipkan melalui celah bawah pintu kamarnya, “Bagaimana pesannya sudah dibaca?”

Sambil berlalu dia menoleh padaku, mengangkat jempol tangan kanannya padaku dan tersenyum. Kuanggap itu sebagai jawaban setuju untuk undangan makan malam yang kuberikan kemarin dari secarik tisu.

Saat sedang menikmati sarapanku laki-laki yang pernah bertemu aku di depan kamar Shanty, tiba-tiba ada lagi di situ. Dia menghampiriku, tanpa permisi duduk di depan aku.

“Mas nama saya David. Saya tahu Mas janjian sama Shanty. Hanya satu kata dari saya, jauhi dia. Jangan tanya kenapa, cukup jauhi dia.” Kata-katanya begitu sopan, tanpa intimidasi, malah sedikit memohon. Aku tidak sempat bertanya balik dia sudah pergi dari mejaku dan segera keluar dari kantin tempat aku sarapan.

Tak kepedulikan kata-kata laki-laki yang bernana David itu, paling-paling juga mantan pacar yang masih ada perasaan, pikirku. Lagi pula badannya kecil, aku bisa mengatasinya. Aku sendiri masih belum tahu kelanjutan hubunganku dengan Shanty ke depannya, orang itu terlalu mengada-ada pikirku.

Selesai sarapanku pagi itu, aku pun bergegas untuk mempersiapkan acara nanti malam.

***

Meja sudah kutata, pesananku dua porsi spaghetti dan pizza ukuran medium juga sudah datang. Sengaja kupesan tadi siang dan kuminta agar diantarkan sekitar pukul tujuh malam sehingga masih bisa dinikmati dalam keadaan hangat. Tak lupa tadi siang aku mampir juga untuk membeli sebotol red wine. Lagu-lagu instrumental romantis juga mengalun dari CD playerku.

Aku sudah siap menunggu kedatangan Shanty. Sampai akhirnya kudengar ada suara ketukan pada pintu kamarku, ah ini pasti Shanty pikirku. Tak sabar segera kubuka pintu, benar yang datang Shanty. Cantik sekali dia hari ini.

“Silakan masuk Nona Shanty,” kupersilakan dia masuk, aku mencoba sedikit melempar humor untuk mencairkan suasana.

Dia belum juga mengucapkan sepatah kata hingga kini, misterius sekali wanita ini kupikir, tapi membuatku kian penasaran. Segera kami berjalan ke arah meja yang sudah kupersiapkan. Lampu apartemenku sengaja kubuat agak redup untuk menambah romantis suasana.

Kupersilakan dia duduk kutuang wine di gelasku dan gelasnya, aku duduk dan kami bersulang.

“Untuk perkenalan Shanty dan Gerard,” kataku sambil mengangkat gelas. Shanty juga melakukan hal yang sama. Kami mulai meneguk wine itu dari gelas kami masing-masing.

Shanty meletakkan gelasnya di meja, kemudian dia memijat-mijat pelipisnya, seperti orang yang sedang pening.

“Kenapa? Pusing?”

Shanty hanya mengangguk.

“Mau kuambilkan obat? Aku ada persediaan,” kataku menawarkan.

Shanty lagi-lagi hanya mengangguk.

Aku segera menuju ke kamar kecil tempat aku menyimpan persediaan obat-obatanku. Ketika aku mencari obat-obatan itu kudengar irama instrumental yang tadi kupasang berganti ke irama rock n roll yang cukup menghentak. Aku juga memang memasang CD dengan irama rock n roll dalam multiple playerku.

“Shann, kamu yang ganti musiknya?”

Shanty tidak menjawab. Obat yang kucari sudah kutemukan, aku segera bergegas ke ruang tengah. Tapi Shanty tidak lagi ada di meja makan. Dari CD playerku masih terdengar irama rock n roll tadi.

“Shann, dimana kamu? Shann dimana ka..” aku tidak sempat menyelesaikan kalimatku, tiba-tiba seperti ada yang membentur kepalaku dari belakang dan aku tak sadarkan diri.

***

Aku terbangun, pandanganku berkunang-kunang kulihat Shanty di hadapanku, tersenyum sinis dan menamparku, keras sekali, sampai aku tersadar.

“Bangun, pengecut!” Suara Shanty melengking, diiringi dengan irama heavy metal dari CD playerku. Setelah kupikir-pikir ini kata pertama yang kudengar dari mulutnya, sejak pertemuan kami. Aku tidak menyangka bahwa kata pertama yang akan kudengar dari bibir manisnya itu adalah kata-kata setajam ini.

“Dasar laki-laki buaya, tidak ada bedanya dengan semua laki-laki lain. Pikirannya pasti mau tidur denganku, dasar pikiran kotor!” Dia berkata sambil mondar mandir di depanku yang terikat erat pada meja, mulutku juga disumpal dan dililit dengan lakban. Kulihat di tangan kirinya menggenggam botol wine, dan tangan kanannya menghunus sebilah pisau. Mengerikan sekali, sosok manis dalam seragam itu telah berubah menjadi sosok menakutkan. Mondar-mandir dihadapanku yang terikat tak berdaya dan  masih setengah sadar, menghunus senjata tajam sambil terus mendikteku dengan tuduhan-tuduhan yang tidak bisa kubalas karena mulutku juga tersumpal.

“Apa mau kamu, Gerard Patikawa? Tidur denganku? Boleh saja kalau kau nanti sudah jadi mayat yaaa!” Shanty berkata sambil menghunus pisau yang diarahkan kemukaku, jelas aku ketakutan.

“Hahahaha!” Shanty tertawa, “Lucu sekali muka kamu kalau ketakutan Gerard sayanggg, harusnya kamu bisa lihat di cermin.”

Shanty terus mondar-mandir depanku, aku tidak terlalu dengarkan lagi apa yang dia racaukan karena aku begitu ketakutkan saat itu. Sampai suatu saat.

“Aduhhhhh!!!!” Dia berteriak.

Aku sedikit kaget mengapa dia berteriak. Shanty tersungkur dan memegangi kakinya. Aku baru ingat bahwa aku pernah memasang perangkap tikus di dekat dapur, rupanya dia menginjak perangkap itu. Tanpa pikir panjang, aku segera bangun, dalam keadaan terikat ke kursi aku merangsek ke arah Shanty. Kubenturkan badanku sekeras-kerasnya padanya, berulang-ulang kuhantamkan kursi yang terikat padaku tepat kemukanya. Aku tidak peduli lagi bahwa itu akan melukai wajah cantiknya. Terus kuhantamkan kaki kursi itu ke arah wajah Shanty, telak mengena berulang-ulang, darah segar keluar dari wajahnya.

Aku masih belum yakin, beberapa kali kududuki saja tubuhnya, mukanya, entah bagian badannya yang mana lagi yang menjadi sasaranku, aku membabi buta setengah sadar. Yang penting kaki kursi ini kuarahkan saja ke sekujur tubuhnya, sampai aku sadar Shanty sudah tidak lagi bergerak, tubuhnya kaku.

Segera aku lari ke kamar kecil, kubenturkan badan dan kepalaku pada cermin yang ada di sana hingga cermin itu pecah dan pecahannya berserakan di lantai. Kepalaku mengucurkan darah karena benturan tadi. Dengan susah payah kuraih pecahan cermin yang cukup besar dan mulai menyayat tali yang mengikat tanganku. Cukup lama utas demi utas tali mulai putus dan ikatanku mulai mengendur.

Sampai akhirnya aku bisa membebaskan diri. Aku masih tetap berada di kamar kecil, sambil memegang pecahan kaca tadi untuk jadi senjataku. Tanganku satu lagi coba meraih ponsel di kantongku, tapi tidak ada. Pasti Shanty sudah mengambilnya ketika aku tidak sadarkan diri tadi.

Kuberanikan diriku untuk keluar dari kamar kecil menuju ruang tengah. Tetap siaga, siapa tahu dia menyerang lagi seperti tadi ketika aku mencarikan obat buatnya. Sampai di ruang tengah, kulihat Shanty sudah tidak ada lagi di situ.

Kuterangkan lampu agar aku bisa lebih mudah mengawasi ruangan. Terlihat ada tetesan darah menuju pintu keluar apertemenku. Kusimpulkan Shanty sudah keluar dari apartemenku. Aku tidak mau mengambil resiko dengan kesimpulanku, aku segera berlari ke dapur dan mengambil pisau.

Pisau sudah dalam genggamanku, perlahan-lahan aku menuju ke pintu keluar apartemenku. Bagaimanapun kalau terjadi pergulatan, sebaiknya itu terjadi di luar ruangan sehingga bisa tertangkap kamera CCTV pikirku.

Aku berhasil mencapai pintu apartemenku dan segera aku keluar dari apartemenku.  Ingin aku langsung berteriak, tapi takut Shanty malah tahu posisiku dan menyerang aku. Aku melambai-lambaikan tanganku pada kamera CCTV berharap petugas jaga bisa melihatku dan segera memberi pertolongan

***

Di Ruang Pemantau CCTV

Petugas sedang asyik chat lewat gadget murahan yang baru dia beli tadi siang. Dia tidak melihat ada orang yang melambai-lambaikan tangan meminta pertolongan pada kamera di lantai 12A.

***

Kembali ke Lantai 12A

Tampaknya usahaku sia-sia, tapi kondisi pandang di depan apartemenku, ke kiri dan ke kanan juga cukup untuk aku bisa bertahan kalau tiba-tiba Shanty  menyerangku dari sisi manapun. Aku tetap siaga, aku akan berteriak dan bila tiba-tiba Shanty mengetahui posisiku aku juga sudah siap bertahan.

“Tolonggggggg, tolongggggggg!!!!!” Aku berteriak sekeras-kerasnya.

Ada satu kamar yang terbuka, keluar sosok laki-laki dari kamar tersebut, “Ada apa Mas?” Dia tentunya heran melihat aku yang memegang pisau dan berlumuran darah.

“Segera hubungi polisi!” Aku berteriak.

Pria itu mengambil ponselnya, sambil terus waspada, mungkin dia sedikit mencurigai aku.

***

Demikian akhirnya polisi berhasil dihubungi dan segera datang ke tempat kejadian perkara, yaitu apartemenku.

Aku ditanyai beberapa kali oleh pihak kepolisian, kuceritakan saja semua apa yang sudah terjadi. Salah satu dari antara mereka juga sudah melihat rekaman CCTV dan tampak di sana Shanty sudah meninggalkan gedung apartemen ini. Sayang petugas tidak siaga saat itu, kalau tidak mungkin Shanty bisa diringkus.

“Mas, anda cukup beruntung,” kata seorang petugas, “Wanita ini adalah pembunuh berantai yang sedang kami cari-cari. Korbannya adalah laki-laki mapan dengan usia seperti Mas. Bila berhasil membunuh korbannya, wanita ini akan menjarah harta korban dan pindah ke tempat lain atau bahkan kota lain. Dalam diarynya dia menjelaskan bahwa dia adalah korban perkosaan saat usinya masih enam belas tahun. Sejak itu dia menjadi seorang psikopat seperti sekarang.”

“Dari apartemennya kami menemukan kliping korban-korbannya sebelum Mas. Dia mengoleksi semua pemberitaan tentang korbannya. Nih kalau mau lihat, sebentar saja ya,” kata petugas itu seraya menyodorkan kliping yang dia maksud tadi.

Aku meraihnya, melihat satu demi satu pemberitaan tentang korban-korban Shanty sebelumnya. Sampai aku dikagetkan dengan sebuah pemberitaan tentang korban bernama David Kartasasmita, seorang pengusaha muda, wajahnya sama dengan orang yang pernah menegur aku di depan kamar Shanty saat menyelipkan tisu dari celah bawah pintu dan kemudian memperingatkan aku keesokan harinya di kantin lantai dasar apartemen ini.

Alibi Sempurna

Sekitar lima belas menit berlalu, Toni menunggu di coffee shop bernama Aphrodite. Seharusnya orang itu sudah datang sesuai dengan jadwal yang sudah disepakati sebelumnya, orang itu bernama Jack.

Jack adalah seorang pembunuh profesional, seminggu yang lalu ada secarik kertas terlipat di dalam mobil Toni, akibat ia kurang rapat menutup kaca jendela mobil. Toni membuka kertas itu, nekad pikirnya saat itu, pembunuh bayaran sekarang melakukan direct marketing. Dunia memang sudah gila.

Tapi entah kenapa Toni tidak mau melaporkan kejadian ini pada polisi, kertas itu pun disimpannya saja dalam mobilnya. Kemarin pikirannya cukup tergoda untuk mencoba jasa ini. Siapa targetnya? istrinya sendiri, Erdina.

Setahun pernikahan Toni, ia sudah mengalami kesemuan hubungan dengan Erdina, mereka belum dikaruniai keturunan. Erdina dan keluarganya sudah menjadi benalu bagi Toni. Adik, kakak, orang tua sampai keluarga yang cukup jauh bergantian datang ke rumah untuk meminta bantuan finansial. Belum lagi Erdina dengan gaya hidupnya yang boros, cenderung sakit menurut Toni. Erdina bisa saja belanja, menghambur-hamburkan uang yang cukup besar, kemudian membagi-bagikannya pada kerabatnya. Atau bahkan sekedar untuk membeli saja dan ada yang hingga kini masih terbungkus rapi di dalam kemasan, belum sama sekali dibuka. Intinya Toni sudah sangat muak dengan statusnya sebagai suami Erdina.

Sampai suatu saat, Toni mendapat laporan dari salah satu temannya, Bimo, yang melihat Erdina dari kejauhan bergandengan tangan dengan seorang laki-laki yang jauh lebih muda memasuki lift di sebuah hotel. Toni berulang-ulang memastikan pada Bimo apakah itu benar istrinya. Bimo benar-benar yakin itu Erdina, dia terus menunggu di tempat yang sama, menunggu Erdina selesai dengan urusannya. Benar saja tak lama Erdina melintas, segera Bimo mengabadikan dengan ponselnya.

Foto-foto itu kemudian diperlihatkan pada Toni. Jarak pengambilan cukup jauh, tapi Toni sudah bisa memastikan bahwa itu benar Erdina. Geram sekali Toni saat itu, tapi dia tetap menahan diri di depan Bimo. Dimintanya Bimo untuk menghapus file di ponselnya itu dan memastikan berulang-ulang kepada Bimo agar tidak menceritakan informasi ini pada siapa-siapa. Bimo menyanggupinya.

Demikian akhirnya Toni tergoda untuk memakai jasa Jack untuk menghabisi nyawa Erdina, istrinya sendiri. Dalam secarik kertas yang diselipkan tersebut ada sebuah informasi pin*. Toni berpikir panjang untuk menambahkan pin tersebut pada kontaknya, tapi akhirnya dia menambahkannya juga. Dia percaya dengan tingkat privasi ponsel jaman sekarang, sewaktu-waktu dia tinggal menghapus pin tersebut bila memang hendak berhenti berhubungan. Tentu Toni menghapus dulu gambar dalam profil ponselnya, tidak lupa dia mengganti namanya. Singkat cerita dia akhirnya mengatur janji untuk bertemu dengan Jack di Aphrodite hari ini.

Lima belas menit berlalu ada sebuah pesan pada ponselnya, “Lambaikan tangan Bapak, biar saya bisa lihat Bapak.”

Toni segera melambaikan tangannya. Seorang pria langsung menghampiri mejanya, tanpa permisi dia duduk di kursi di hadapannya, “Pak Toni, apakabar? Saya Jack.” Pria itu tersenyum sambil meyodorkan tanggannya menawarkan diri untuk berjabat tangan.

Dengan agak ragu Toni menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan.

Jack melanjutkan bicara, dengan volume suara yang lebih pelan, “Pak jangan terlalu gugup nanti orang-orang curiga. Santai saja, pura-pura saja kita sudah saling kenal.”

“Baik, maaf saya gugup, maklum pengalaman pertama,” Toni tersenyum dan coba sedikit bercanda.

Begitulah akhirnya mereka mulai berdiskusi mengenai rencana mereka. Sebagai seorang profesional, Jack sudah menyiapkan daftar pertanyaan, rencana dan kemungkinan di lapangan. Toni tinggal di sebuah perumahan dengan sistem cluster. Hanya ada satu pintu masuk ke lingkungan mereka dan pada malam hari akan dijaga oleh dua orang petugas keamanan, satu berjaga di pos dan satu lagi berkeliling mengitari komplek. Petugas yang berkeliling selalu bergantian dengan petugas yang menjaga di pos, terus sampai jam enam pagi baru keduanya akan kembali ke pos untuk berganti jadwal dengan regu lain.

Toni menceritakan semua dengan detil, mulai dari alamat rumah dan denah rumah mereka. Hal lain yang penting, saat ini mereka tidak punya pembantu dan juga karena rumah mereka dalam sebuah cluster, semua rumah tidak berpagar.

“Bapak bawa kunci rumah bapak?” Jack bertanya.

Tanpa banyak bicara Toni memberikan dua anak kunci, satu untuk pintu depan satu lagi untuk pintu kamar. Jack Segera meraihnya mengambil sebuah cetakan dari saku jaketnya. Menekan kedua anak kunci itu pada cetakannya, sehingga terbentuk tekstur pada cetakan. Kunci siap untuk diduplikat, anak kunci asli segera dikembalikannya pada Toni.

“Baik pak, biaya sudah tahu kan? Setengah dibayar sekarang, sisanya setelah misi sukses.”

Toni segera menyodorkan amplop berisi uang.

“Selanjutnya saya sarankan bapak menciptakan alibi pada hari H nanti. Saya sarankan Bapak melakukan perjalanan dinas ke luar kota. Siapkan brankas berisi uang di lokasi tertentu di rumah, tidak perlu besar, untuk mengecoh agar motifnya benar-benar pencurian dengan kekerasan. Satu lagi apa di komplek bapak ada CCTV?”

Toni hanya menggeleng.

___________________

*) pin adalah informasi delapan digit dalam bilangan heksadesimal yang menyatakan keunikan sebuah ponsel merk tertentu. Ponsel jenis ini dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan tingkat sekuriti dan privasi di atas layanan telekomunikasi standar dengan saling mendaftarkan pin satu sama lain.

***

Hari pelaksanaan misi sudah tiba, sesuai rencana Toni akan pergi melakukan perjalanan dinas ke luar kota. Dia memilih Yogyakarta untuk alibinya. Kebetulan Toni memiliki klien di kota itu. Tidak ada kepentingan yang urgen menemui klien tersebut, namun pertemuan dapat saja dibuat dengan seribu satu alasan. Demikian Toni akhirnya sudah ada di Yogyakarta pada siang hari sebelum besok dini hari misi akan dilaksanakan oleh Jack.

***

02.00 Hari Pelaksanaan

Jack sudah mencapai pos penjagaan cluster perumahan milik Toni, dengan tenang dia menyapa penjaga, “Selamat malam, eh sudah pagi ya Pak. Saya mau ke tempat Pak Toni nih.”

“Hmmm, pagi-pagi benar. Apa sudah ada janji?”

“Sudah Pak, saya memang keluarga Pak Toni,” kata Jack tenang tidak mencurigakan.

“Sebentar saya telepon dulu ke rumah Pak Toni.”

Ini di luar perkiraan Jack. Tapi dia seorang profesional, dia sudah siap dengan Rencana B. Dicabutnya belati, sebelum petugas itu sempat menekan nomor rumah Toni dari telepon di pos, Jack sudah bisa melumpuhkannya, menghilangkan nyawanya.

Jack, melihat jam, sudah sepuluh menit waktu terbuang pikirnya. Ada tiga pilihan, pertama dia mencari petugas yang berkeliling, kedua menunggunya di pos, atau ketiga langsung ke lokasi target dan melakukan aksi. Nampaknya masih ada cukup waktu, jadi dia memilih opsi kedua, menunggu petugas satunya lagi datang.

Firasat Jack baik, tak lama petugas itu datang dengan menggunakan sepeda. Dia belum sadar kalau temannya tidak sedang berjaga, mungkin dia hanya berpikir bahwa temannya itu sedang tidur. Petugas itu sedang memarkirkan sepedanya, tapi malang, Jack membekapnya dari belakang, mematahkan lehernya dan menyayat lehernya dengan belati. Segera diseretnya mayat petugas kedua itu ke dalam pos.

Jack segera menuju lokasi target, rumah Toni. Sampai di depan rumah Toni dia mengintip sebentar lewat jendela, dan melihat jam, sudah dua puluh menit waktu yang dia habiskan sejak tadi sampai di depan perumahan Toni. Segera dia masuk ke rumah dengan kunci cadangan. Daya ingatnya sangat tajam, denah yang pernah diceritakan Toni sebelumnya sudah ada dalam kepalanya. Tidak lama dia mencapai kamar tidur yang pintunya terbuka, secepat kilat sambil meraih pistol dari sakunya ketika sudah di dalam kamar, Jack menembakannya pistol yang dilengkapi peredam itu ke sosok yang sedang tidur di tempat tidur dalam kamar itu.

Darah segar segera membasahi selimut putih. Jack mengarahkan tangannya ke leher korban, hanya untuk mengetahui target sudah benar-benar mati. Ya target telah berhasil dibunuh. Jack segera mencari brankas yang sudah disiapkan Toni untuk mempertajam motif, dibukanya dengan paksa diambil isinya lalu pergi meninggalkan rumah Toni. Tidak lupa dia rusak sedikit pintu masuk rumah hanya untuk memberikan jejak bahwa pintu dibuka secara paksa, bukan menggunakan kunci duplikat.

Jack segera meninggalkan lokasi, melewati pos penjagaan dan menghilang di tengah kegelapan.

***

Esok paginya ponsel Toni berbunyi, sebuah nomor yang tidak dia simpan, nomor dari area Jakarta. Segera dia angkat, “Ya, selamat pagi.”

“Selamat pagi, apa benar ini Pak Toni Adhyaksa?”

“Benar Pak, saya Toni. Bapak siapa dan dari mana?” Jawab Toni dengan suara seperti orang yang sangat khawatir.

“Saya dari kepolisian, ada kejahatan di rumah Bapak tadi malam. Istri bapak salah satu korban.”

Demikian Toni mendengar kabar kematian istrinya. Dia sendiri bingung harus senang atau sedih, yang jelas ini sesuai yang dia rencanakan. Dia segera menuju bandara untuk kembali ke Jakarta secepatnya.

***

Toni sudah sampai di depan komplek rumahnya. Dalam perjalanan tadi dia sempat menerima pesan dari Jack mengenai keberhasilan misi, dan Jack menagih sisa pembayaran. Toni meminta waktu satu hari untuk menyelesaikan pembayaran itu karena dia harus kembali ke rumah dulu agar polisi tidak curiga. Jack setuju dengan alasan Toni, dia memberi Toni waktu.

Sampailah Toni di depan rumahnya, masih ada police line di depan rumahnya. Salah satu petugas polisi menghampirinya, “Pak Toni?” Sapanya. Toni hanya mengangguk, pertugas itu meneruskan bicara, “Mari ikut masuk dengan saya pak. Istri Bapak ada di dalam, dia salah satu korban, penyusup tadi malam berhasil dia lumpuhkan.”

Toni mencoba menyembunyikan kekagetannya mendengar penjelasan dari petugas polisi tadi. Berarti istrinya salah satu korban, tapi bukan korban tewas. Siapa yang dilumpuhkan karena Jack baru saja mengirim pesan singkat padanya di tengah perjalanannya tadi.

Toni menjumpai istrinya, “Erdin, kamu tidak apa-apa?” Ia terpaksa bersandiwara dan berpura-pura sedih, dengan harapan istrinya tidak curiga. Dia tidak banyak bicara hanya memeluk Toni dan menangis sejadi-jadinya dipelukan suaminya. Toni tidak berkata apa-apa, hanya mengelus kepalanya yang jatuh di pelukannya. Perasaan paling aneh selama hidupnya.

Dari polisi kemudian Toni tahu, istrinya telah membuat laporan tadi pagi. Ketika dia mendegar suara pintu secara paksa dibuka dari luar yang menimbulkan sedikit kegaduhan, Erdina segera mengambil pistol yang biasa  disimpan Toni di dalam laci meja kerjanya di dalam kamar. Dia menunggu penyusup itu di kamar. Ketika penyusup itu masuk ke kamarnya, si penyusup langsung membongkar brankas. Menoleh ke belakang dia sadar bahwa sang empunya rumah telah terbangun dan menunggu disisi tempat tidur. Penyusup itu langsung menyerang dan pergulatan terjadi di atas tempat tidur. Erdina berhasil melepaskan beberapa tembakan ke arah penyusup itu. Polisi sudah menyelidiki bahwa jenis peluru dalam tubuh mayat, sama dengan peluru yang ada pada pistol milik Toni.

***

“Jack saya mau bertemu, tidak sesuai rencana, istriku masih hidup.” Itu isi pesan singkat Toni pada Jack.

Jawaban Jack, “Wah, itu di luar tanggung jawab saya, karena saya sudah ikuti petunjuk Bapak. Saya pastikan ada mayat di rumah Bapak, saya sudah mengecek nadinya sebelum saya tinggalkan tempat itu. Saya tetap meminta uang sisa pembayaran saya. Saya punya data Bapak, rumah Bapak, dan semua pertemuan kita diabadikan kamera dari kejauhan.”

Toni kaget sekali membaca balasan Jack. Lemah memang posisinya, sekarang dia merasa Jack sudah mulai memerasnya. Dia menulis balasan, “Baik kita bertemu lagi, di tempat yang sunyi. Parkir terminal 3 bandara. Lewat tengah malam, 01.00.”

Malamnya Toni berangkat menuju parkir terminal 3 bandara. Dia sampai lebih cepat lima menit. Uang sisa pembayaran dia sudah siapkan, jaga-jaga perkembangan tidak sesuai rencananya. Pikirannya tetap tidak tenang, posisinya sangat lemah. Membayar sisa hak Jack bukan solusi buat Toni, tidak ada jaminan pemerasan ini akan berakhir malam ini walau Jack sudah menerima uang ini.

Tak lama ada mobil lain yang parkir tepat di hadapan mobil Toni. Pemiliknya segera keluar dari mobil, Toni tahu itu sosok Jack. Sosok itu berjalan mendekat ke mobil. Toni segera keluar juga dari mobil, mengarah ke sosok itu. Berhadapan dengan jarak sekitar dua meter mereka berdua berhenti.

Toni bicara duluan, “Jack, misimu telah gagal, istriku masih di rumah, sehat wal afiat.”

“Seperti pesan singkat saya Pak. Saya tidak peduli itu, saya tetap meminta hak saya. Pekerjaan yang sudah saya lakukan begitu beresiko. Kesalahan ada pada pihak Bapak, yang kurang detil memberikan informasi kepada Saya.” Suara Jack tetap tenang, dia memang seorang profesional sejati, sama sekali emosinya tidak bermain.

“Apa jaminannya, setelah aku berikan uang ini, kamu tidak lagi memerasku?” Toni bertanya, hampir dia menangis, tapi ditahannya.

“Hahaha,” Jack tertawa berat, tapi tetap tenang, “Itu urusan nanti, yang jelas kita selesaikan dulu urusan kita sekarang.”

Benar firasat Toni sebelumnya, memberikan uang ini pada Jack bukanlah akhir dari semua kerumitan ini. Kerumitan yang telah ia ciptakan sendiri. Tanpa pikir panjang Toni segera meraih pistol dari saku jasnya. Jack tidak menyangka itu, dia mencoba meraih pistolnya, tapi terlambat. Dorr!!! Dorr!!! Dorr!!! tiga kali pistol Toni meletus dan menembus tubuh Jack. Dia segera berpaling dan berjalan tergesa munuju mobil.

Baru sekitar dua langkah Toni berjalan, tiba-tiba, Dorr!! Dorr!! dua letusan lagi terdengar. Toni rubuh seketika itu juga. Jack ternyata masih memiliki sisa napas untuk membidik dan menembak Toni dari jarak yang cukup dekat.

***

Bali, di sebuah hotel bintang lima di kawasan Nusa Dua.

“Bim, I love you.”

“Love you too, Erdin.”

Sepasang kekasih itu Bimo dan Erdina.

Bimo dan Erdina sudah lama menjalin kasih, bahkan beberapa tahun sebelum Erdina menikahi Toni. Erdina sengaja dijadikan umpan untuk Toni. Mereka sudah membidik Toni sejak lama, karena dinilai memiliki kepribadian yang labil tapi sukses dalam usahanya.

Foto-foto yang ditunjukkan oleh Bimo untuk memanas-manasi Toni hanyalah sebuah rekayasa. Orang yang bersama Erdina adalah seorang pemuda tampan, masih sangat belia, bernama Adi. Ternyata memang Toni panas benar melihat foto-foto itu.

Siapa Jack, dia adalah anggota tim mereka, eksekutor lapangan. Bimo adalah otak semua ini. Terbunuhnya Jack oleh Toni adalah sebuah kecelakaan, itu di luar rencana mereka. Bimo tidak mengira Toni akan bertindak seberani itu.

Rencana awal tidak seperti ini. Sebenarnya Bimo ingin memeras Toni lewat Jack perlahan-lahan. Bimo sendiri tidak mau membunuh Toni mengingat dia adalah pengusaha sukses, kasus pembunuhan terhadapnya akan memancing penyelidikan intens oleh pihak kepolisian. Tapi apa daya Toni bertindak di luar yang dia perkirakan.

Ketika Bimo berpikir ulang, ini sebenarnya adalah sebuah blessing in disguise. Kematian Jack malah mendatangkan keuntungan berlipat ganda bagi Bimo. Pertama, dia tidak perlu membagi hasil kerja dengan Jack yang punya peran sangat penting. Kedua, pembunuhan Toni sudah jelas adalah hasil baku tembak dengan pembunuh bayarannya, jadi polisi pasti langsung menyimpulkan ke arah sana, mereka terlalu malas untuk mencari motif lain. Ketiga, rencana awal dengan memeras Toni perlahan-lahan tentu akan menyita waktu yang lebih panjang dibanding dengan yang terjadi sekarang.

Sekarang Erdina adalah seorang janda kaya. Dia sudah menjual semua aset Toni, karena hak waris semua jatuh ke tangan Erdina. Beberapa mobil, tanah, rumah, apartemen sudah dia jual. Saham Toni di perusahaannya juga dijualnya pada partner usaha Toni. Tidak ada yang curiga karena semua beranggapan Erdina begitu terpukul dan hendak pindah dari Jakarta.

Yang terjadi malam itu adalah. Mereka hendak menghilangkan Adi, kekasih boneka Erdina. Erdina sengaja pergi ke kamar kecil ketika Jack ada di lokasi. Jack menghabisi Adi saat itu juga. Sesaat Jack pergi, Erdina memberi laporan palsu pada polisi tentang kejadian ini.

Bimo begitu detil merancang ini semua. Lewat Erdina dia mempelajari semua perangai Toni, termasuk jenis senjata api yang dimiliki Toni. Itu mengapa Jack bisa memakai jenis senjata yang sama dengan yang Toni miliki.

Bimo juga yang telah menyelipkan secarik kertas ke dalam mobil Toni saat di parkir di pelataran parkir kantornya.

“Bim, semua sukses sesuai rencana kita. Kamu memang luar biasa Bim.” Erdina masih memeluk Bimo.

Bimo melepaskan pelukannya, mendorong Erdina ke tempat tidur.

“Ahhh, sabar dong sayang,” Erdina tertawa. Senyumnya mengembang penuh arti, sangat menggoda. Namun itu semua tidak lama, Bimo menodongkan pistol ke arah Erdina. Senyum Erdina sirna seketika, berganti dengan ketakutan dan heran yang bercampur baur jadi satu.

“Ada apa Bim? Apa salahku?”

“Hah!! Setelah satu tahun kau tidur dengan Toni? Lalu sandiwara dengan Adi. Aku bilang sandiwara, tapi kau begitu menikmatinya, aku tahu apa yang kau lakukan dengan Adi.”

“Tapi Bim, itu semua kan hanya sebuah akting?” Jawab Erdina ketakutan.

“Aku hanya butuh kau sampai semua harta Toni sudah diuangkan, karena kau ahli warisnya. Pelacur!!!” Tanpa banyak bicara lagi Bimo menarik pelatuk pada pistolnya beberapa kali. Tubuh Erdina rubuh di tempat tidur bersimbah darah. Bimo segera meninggalkan kamar itu.

Pemaaf

Aku tidak tahu ternyata dia masih punya kekasih ketika dia menerima cintaku. Enam bulan pertama sering dia curi-curi menerima telepon atau membalas pesan singkat dari ponselnya. Sampai akhirnya aku tahu dia masih berhubungan dengan mantannya itu. Dia sudah minta maaf dan aku memaafkannya. Kami sepakat dia harus ganti nomor.

Setahun hubungan kami, aku tidak bisa temani dia belanja ke Bandung. Dia berangkat bersama teman-temannya. Setidaknya itu yang dia akui padaku, rupanya tidak. Aku sedang sarapan di sebuah hotel bersama kolegaku, saat kulihat dia juga sedang sarapan di situ. Ingin rasanya melabrak dia, tapi kubiarkan saja karena tak enak dengan kolegaku.

Tiba-tiba ponselku bergetar, sebuah pesan singkat, “Maafkan aku, ibuku di rumah sakit, aku tidak mau merepotkan kamu, aku butuh uang.”

Malamnya kami bertemu, dia menangis luar biasa dan bersujud di kakiku, aku memaafkannya,dan kami bercinta begitu hebatnya.

Selama ini ada banyak pesan singkat masuk, dia selalu bilang itu nomor salah sambung. Atau siang hari aku telepon dia, dia tidak mau mengangkat, tapi membalas dengan pesan singkat, “Maaf aku sedang nyetir.” Lebih mudah mengangkat telepon dibanding menulis pesan singkat saat menyetir, pikirku. Akhirnya aku tahu dia masih juga bersama kekasihnya yang dulu.

Aku mencurahakan isi hatiku pada seorang temanku yang juga temannya, dia bilang bahwa cintanya memang untuk sang kekasih lama, tapi karena aku baik dia juga tidak bisa meninggalkan aku. Terutama masalah uang, dia butuh sekali uangku. Kata-kata itu menggelegar di otakku di tengah teriknya hatiku.

Sejak itu, kesalahan demi kesalahan terus dilakukannya, tapi aku tetap saja memaafkan. Menangis, minta maaf, kemudian bercinta dengan hebat, sudah menjadi ritual kami.

Setelah apa yang telah kau lakukan, jangan kau pergi sayang, suatu saat pasti kubalas.