Bersatulah Para Rockstar

Indonesia
Bersatu katanya karena Nusantara
Dari Sabang sampai Merauke
Dulunya katanya kerajaan Majapahit
Indonesia harus bersatu
Karena Majapahit
Indonesia yang modern harus bersatu
Karena Gajah Mada
Sumpah Palapa
Sumpah apa? Banyak yang tidak tahu mungkin
Pokoknya kita harus bersatu, titik, harga mati
Sumpah Palapa
Sumpah tidak akan makan bambu muda bila Nusantara tidak bersatu
Sumpah tidak akan makan bambu muda?
Sumpah tidak akan makan rebung?
Apa sulitnya tidak makan rebung?
Sekarang rebung hanya ada di lumpia Semarang
Apa sulitnya bersumpah untuk tidak makan lumpia Semarang?
Lalu sekarang Indonesia yang modern
Tetap harus bersatu
Karena sumpah orang dulu untuk tidak makan lumpia Semarang?
Sampai katanya Sabah dan Sarawak dulu mau kita rebut
Kita berperang
Pemuda banyak mati di perbatasan
Hanya karena orang yang bersumpah tidak makan lumpia Semarang?
Lihat uangmu
Ada pahlawan dari Sumatra, Cut Nyak Dhien, Sisinga Mangaraja, Imam Bonjol, Badaruddin
Ada pahlawan dari Jawa dan Bali, banyak
Ada pahlawan dari Kalimantan, Antasari
Ada pahlawan dari Maluku, Patimura
Tidak ada pahlawan dari Papua,
Cuman pernah burung cendrawasih
Apa kita tahu pahlawan dari Papua?
Paling yang kita tahu, Boaz Salosa
Katanya Papua itu kaya
Katanya Papua itu harus masuk Indonesia
Katanya Papua itu bagian Nusantara
Yang harus bersatu karena orang yang bersumpah tidak makan lumpia Semarang?
Lalu kita semua, bukan hanya di Papua, harus melihat korupsi
Sumber daya kita dikuras, untuk sebagian orang
Kita hanya bisa menonton dan tidak boleh berpisah
Kita seperti istri korban KDRT tapi tidak boleh minta cerai
Mereka mengambil uang kita
Mereka mengambil perempuan-perempuan tercantik di negeri ini
Untuk mereka simpan
Mereka merusak pasaran
Hey, Fatonah, kenapa kau berikan mereka sepuluh juta, kau merusak pasaran
Hey, Mahasiswa, gebetanmu dihajar Fatonah, uangmu tidak lagi laku, pasaran dirusak si Fatonah
Hey, Mahasiswa, gebetanmu dimanjakan pejabat, dimanjakan pakai uangmu, sumber dayamu
Kenapa kau diam saja?
Harapan kita tinggal para Rockstar
Bersatulah para Rockstar
Ariel, kumpulkan kawananmu
Bersatulah para Rockstar
Tiduri sebanyak-banyaknya perempuan simpanan pejabat
Tunjukkan punyamu ternyata lebih besar dari punya mereka
Biar mereka tahu rasanya kehilangan
Biar mereka tahu rasanya dirampok
Biar mereka tahu rasanya dikhianati
Bersatulah para Rockstar
Buat mereka sakit hati
Upload videomu ke Internet
Setidaknya kami bisa sedikit terhibur
Dan menikmatinya dari layar ponsel kami

Mana video barumu Ariel?

Pagi Tadi Kusapa Tuhan

Pagi tadi kusapa Tuhan

Bukan untuk meminta

Bukan untuk memohon

Bukan untuk memuja

Hanya sedikit kangen

Kangennya kok hanya sedikit?

Iya kalau terlalu kangen

Aku takut

Takut nanti aku lekas-lekas dipanggil

Aku belum siap

Maklum masih banyak dosa

Maklum jomblo

Masih sering ngocok sendiri

 

Selain kangen aku juga banyak pertanyaan

Banyak yang tidak penting

Tapi ada juga yang penting

Seperti kenapa aku masih jomblo

Itu penting sekali

Tapi kuurungkan untuk bertanya soal itu

Tuhan Maha Esa

Berarti Dia sendiri

Dia mungkin juga jomblo

Jomblo kan suka sensi

Tapi Tuhan maha tahu

Jangan-jangan dia sudah tahu

Dan keburu sensi

 

Pertanyaan pentingku buat Tuhan

Kenapa di negeriku ini banyak sekali korupsi

Aku jomblo jadi tambah susah bersaing

Uang aku tak punya

Pacarku direbut sama anak koruptor

Padahal dia belum sempat jadi pacarku

Pacarku yang lain direbut oleh koruptor (bukan anaknya)

Padahal padahal aku belum sempat kenalan

Ya, walau belum sempat kenalan, Tuhan maha tahu

Tuhan tahu keduanya pacarku

Tapi kenapa tidak Kau cegah?

Jangan sampai terjadi pada pacarku yang lain

Yang belum sempat aku cari

 

Bisakah Kau buat uang korupsi itu tidak laku?

Tidak bisa dipakai trakir

Tidak bisa dipakai bayar parkir

Tidak bisa dipakai beli mobil

Tidak bisa dipakai beli rumah, walau hanya nyicil

Jadi walau banyak uang mereka akan kesepian

Walau punya mobil mereka tidak bisa parkir

Pikir-pikir aku memang bikin bingung

Buat apa bayar parkir kalau tidak bisa beli mobil

Ya, pokoknya begitu

Tuhan maha tahu

Lalu kenapa aku harus minta kalau memang maha tahu

Aku memang sering bingung sendiri

 

Aku hanya ingin kangen-kangenan

Jadinya malah banyak minta

Maaf Tuhan

Tuhan………..

 

Tiba-tiba ada suara

“Apa itu uang? Aku tidak pernah menciptakan uang!”

Puisi: Cinta adalah Perlombaan Lari

Puisi pada umumnya kaya metafor. Banyak penyair yang sangat fasih bermain-main dengan hal ini. Menurut saya pribadi, ini merupakan kelebihan sekaligus kekurangan. Puisi hadir dalam kehidupan manusia untuk mengangkat derajat terutama dalam berbahasa. Namun yang saya amati bentuknya cenderung itu-itu saja dan cenderung membosankan.

Sebuah puisi yang kaya akan metafor, saya ulang, adalah kelebihan sekaligus kekurangan dalam saat yang bersamaan, mengapa? Karena itu menunjukkan ketidakmampuan penyair – kata yang saya pakai untuk menyatakan penulis puisi – untuk menyampaikan yang dia maksud secara lugas. Belum lagi metafor yang diambil, cenderung itu-itu saja, sehingga membuatnya menjadi sebuah tulisan yang membosankan, tanpa letupan dan mudah diterka.

Saya tidak pandai berteori dalam sastra, namun dalam posting saya coba tuliskan bentuk puisi, yang mungkin tidak baru sama sekali tapi coba menawarkan bentuk lain dari  kebiasaan yang umum berkembang di antara penyair.

Cinta adalah Perlombaan Lari

Mengejarmu, seperti lari marathon – capek dan nggak selesai-selesai

Saat kita jadian, seperti lari di treadmil – capek dan nggak ada kemajuan

Cinta kita banyak sekali rintangannya – seperti lari gawang

Namun pergi menjauh darimu – seperti lari keluar lintasan

Sering kita becinta, seperti lari sprint – terengah-engah walau cuma sebentar

Namun sayang, aku berharap kau bukan seperti lari estafet – kau digilir tapi bukan aku yang terakhir

***

Nyanyian Angsa ~ W.S. Rendra

Ini bentuk puisi yang bercerita dan saya sangat suka, mirip sebuah prosa. Berikut petikannya:

~~~

Nyanyian Angsa ~ W.S. Rendra

Majikan rumah pelacuran berkata kepadanya:

“Sudah dua minggu kamu berbaring.
Sakitmu makin menjadi.
Kamu tak lagi hasilkan uang.
Malahan kapadaku kamu berhutang.
Ini beaya melulu.
Aku tak kuat lagi.
Hari ini kamu harus pergi.”

(Malaikat penjaga Firdaus.
Wajahnya tegas dan dengki
dengan pedang yang menyala
menuding kepadaku.
Maka darahku terus beku.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur yang sengsara.
Kurang cantik dan agak tua).

Jam dua-belas siang hari.
Matahari terik di tengah langit.
Tak ada angin. Tak mega.
Maria Zaitun ke luar rumah pelacuran.
Tanpa koper.
Tak ada lagi miliknya.
Teman-temannya membuang muka.
Sempoyongan ia berjalan.
Badannya demam.
Sipilis membakar tubuhnya.
Penuh borok di klangkang
di leher, di ketiak, dan di susunya.
Matanya merah. Bibirnya kering. Gusinya berdarah.
Sakit jantungnya kambuh pula.
Ia pergi kepada dokter.
Banyak pasien lebih dulu menunggu.
Ia duduk di antara mereka.
Tiba-tiba orang-orang menyingkir dan menutup hidung mereka.
Ia meledak marah
tapi buru-buru jururawat menariknya.
Ia diberi giliran lebih dulu
dan tak ada orang memprotesnya.
“Maria Zaitun,
utangmu sudah banyak padaku,” kata dokter.
“Ya,” jawabnya.
“Sekarang uangmu brapa?”
“Tak ada.”
Dokter geleng kepala dan menyuruhnya telanjang.
Ia kesakitan waktu membuka baju
sebab bajunya lekat di borok ketiaknya.
“Cukup,” kata dokter.
Dan ia tak jadi mriksa.
Lalu ia berbisik kepada jururawat:
“Kasih ia injeksi vitamin C.”
Dengan kaget jururawat berbisik kembali:
“Vitamin C?
Dokter, paling tidak ia perlu Salvarzan.”
“Untuk apa?
Ia tak bisa bayar.
Dan lagi sudah jelas ia hampir mati.
Kenapa mesti dikasih obat mahal
yang diimport dari luar negri?”

(Malaikat penjaga Firdaus.
Wajahnya iri dan dengki
dengan pedang yang menyala
menuding kepadaku.
Aku gemetar ketakutan.
Hilang rasa. Hilang pikirku.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur yang takut dan celaka.)

Jam satu siang.
Matahari masih dipuncak.
Maria Zaitun berjalan tanpa sepatu.
Dan aspal jalan yang jelek mutunya
lumer di bawah kakinya.
Ia berjalan menuju gereja.
Pintu gereja telah dikunci.
Karna kuatir akan pencuri.
Ia menuju pastoran dan menekan bel pintu.
Koster ke luar dan berkata:
“Kamu mau apa?
Pastor sedang makan siang.
Dan ini bukan jam bicara.”
“Maaf. Saya sakit. Ini perlu.”
Koster meneliti tubuhnya yang kotor dan berbau.
Lalu berkata:
“Asal tinggal di luar, kamu boleh tunggu.
Aku lihat apa pastor mau terima kamu.”
Lalu koster pergi menutup pintu.
Ia menunggu sambil blingsatan dan kepanasan.
Ada satu jam baru pastor datang kepadanya.
Setelah mengorek sisa makanan dari giginya
ia nyalakan crutu, lalu bertanya:
“Kamu perlu apa?”
Bau anggur dari mulutnya.
Selopnya dari kulit buaya.
Maria Zaitun menjawabnya:
“Mau mengaku dosa.”
“Tapi ini bukan jam bicara.
Ini waktu saya untuk berdo’a.”
“Saya mau mati.”
“Kamu sakit?”
“Ya. Saya kena rajasinga.”
Mendengar ini pastor mundur dua tindak.
Mukanya mungkret.
Akhirnya agak keder ia kembali bersuara:
“Apa kamu – mm – kupu-kupu malam?”
“Saya pelacur. Ya.”
“Santo Petrus! Tapi kamu Katolik!”
“Ya.”
“Santo Petrus!”
Tiga detik tanpa suara.
Matahari terus menyala.
Lalu pastor kembali bersuara:
“Kamu telah tergoda dosa.”
“Tidak tergoda. Tapi melulu berdosa.”
“Kamu telah terbujuk setan.”
“Tidak. Saya terdesak kemiskinan.
Dan gagal mencari kerja.”
“Santo Petrus!”
“Santo Petrus! Pater, dengarkan saya.
Saya tak butuh tahu asal usul dosa saya.
Yang nyata hidup saya sudah gagal.
Jiwa saya kalut.
Dan saya mau mati.
Sekarang saya takut sekali.
Saya perlu Tuhan atau apa saja
untuk menemani saya.”
Dan muka pastor menjadi merah padam.
Ia menuding Maria Zaitun.
“Kamu galak seperti macan betina.
Barangkali kamu akan gila.
Tapi tak akan mati.
Kamu tak perlu pastor.
Kamu perlu dokter jiwa.”

(Malaekat penjaga firdaus
wajahnya sombong dan dengki
dengan pedang yang menyala
menuding kepadaku.
Aku lesu tak berdaya.
Tak bisa nangis. Tak bisa bersuara.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur yang lapar dan dahaga.)

Jam tiga siang.
Matahari terus menyala.
Dan angin tetap tak ada.
Maria Zaitun bersijingkat
di atas jalan yang terbakar.
Tiba-tiba ketika nyebrang jalan
ia kepleset kotoran anjing.
Ia tak jatuh
tapi darah keluar dari borok di klangkangnya
dan meleleh ke kakinya.
Seperti sapi tengah melahirkan
ia berjalan sambil mengangkang.
Di dekat pasar ia berhenti.
Pandangnya berkunang-kunang.
Napasnya pendek-pendek. Ia merasa lapar.
Orang-orang pergi menghindar.
Lalu ia berjalan ke belakang satu retoran.
Dari tong sampah ia kumpulkan sisa makanan.
Kemudian ia bungkus hati-hati
dengan daun pisang.
Lalu berjalan menuju ke luar kota.

(Malaekat penjaga firdaus
wajahnya dingin dan dengki
dengan pedang yang menyala
menuding kepadaku.
Yang Mulya, dengarkanlah aku.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur lemah, gemetar ketakutan.)

Jam empat siang.
Seperti siput ia berjalan.
Bungkusan sisa makanan masih di tangan
belum lagi dimakan.
Keringatnya bercucuran.
Rambutnya jadi tipis.
Mukanya kurus dan hijau
seperti jeruk yang kering.
Lalu jam lima.
Ia sampai di luar kota.
Jalan tak lagi beraspal
tapi debu melulu.
Ia memandang matahari
dan pelan berkata: “Bedebah.”
Sesudah berjalan satu kilo lagi
ia tinggalkan jalan raya
dan berbelok masuk sawah
berjalan di pematang.

(Malaekat penjaga firdaus
wajahnya tampan dan dengki
dengan pedang yang menyala
mengusirku pergi.
Dan dengan rasa jijik
ia tusukkan pedangnya perkasa
di antara kelangkangku.
Dengarkan, Yang Mulya.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur yang kalah.
Pelacur terhina).

Jam enam sore.
Maria Zaitun sampai ke kali.
Angin bertiup.
Matahari turun.
Haripun senja.
Dengan lega ia rebah di pinggir kali.
Ia basuh kaki, tangan, dan mukanya.
Lalu ia makan pelan-pelan.
Baru sedikit ia berhenti.
Badannya masih lemas
tapi nafsu makannya tak ada lagi.
Lalu ia minum air kali.

(Malaekat penjaga firdaus
tak kau rasakah bahwa senja telah tiba
angin turun dari gunung
dan hari merebahkan badannya?
Malaekat penjaga firdaus
dengan tegas mengusirku.
Bagai patung ia berdiri.
Dan pedangnya menyala.)

Jam tujuh. Dan malam tiba.
Serangga bersuiran.
Air kali terantuk batu-batu.
Pohon-pohon dan semak-semak di dua tepi kali nampak tenang
dan mengkilat di bawah sinar bulan.
Maria Zaitun tak takut lagi.
Ia teringat masa kanak-kanak dan remajanya.
Mandi di kali dengan ibunya.
Memanjat pohonan.
Dan memancing ikan dengan pacarnya.
Ia tak lagi merasa sepi.
Dan takutnya pergi.
Ia merasa bertemu sobat lama.
Tapi lalu ia pingin lebih jauh cerita tentang hidupnya.
Lantaran itu ia sadar lagi kegagalan hidupnya.
Ia jadi berduka.
Dan mengadu pada sobatnya
sembari menangis tersedu-sedu.
Ini tak baik buat penyakit jantungnya.

(Malaekat penjaga firdaus
wajahnya dingin dan dengki.
Ia tak mau mendengar jawabku.
Ia tak mau melihat mataku.
Sia-sia mencoba bicara padanya.
Dengan angkuh ia berdiri.
Dan pedangnya menyala.)

Waktu. Bulan. Pohonan. Kali.
Borok. Sipilis. Perempuan.
Bagai kaca
kali memantul cahaya gemilang.
Rumput ilalang berkilatan.
Bulan.

Seorang lelaki datang di seberang kali.
Ia berseru: “Maria Zaitun, engkaukah itu?”
“Ya,” jawab Maria Zaitun keheranan.
Lelaki itu menyeberang kali.
Ia tegap dan elok wajahnya.
Rambutnya ikal dan matanya lebar.
Maria Zaitun berdebar hatinya.
Ia seperti pernah kenal lelaki itu.
Entah di mana.
Yang terang tidak di ranjang.
Itu sayang. Sebab ia suka lelaki seperti dia.
“Jadi kita ketemu di sini,” kata lelaki itu.
Maria Zaitun tak tahu apa jawabnya.
Sedang sementara ia keheranan
lelaki itu membungkuk mencium mulutnya.
Ia merasa seperti minum air kelapa.
Belum pernah ia merasa ciuman seperti itu.
Lalu lelaki itu membuka kutangnya.
Ia tak berdaya dan memang suka.
Ia menyerah.
Dengan mata terpejam
ia merasa berlayar
ke samudra yang belum pernah dikenalnya.
Dan setelah selesai
ia berkata kasmaran:
“Semula kusangka hanya impian
bahwa hal ini bisa kualami.
Semula tak berani kuharapkan
bahwa lelaki tampan seperti kau
bakal lewat dalam hidupku.”
Dengan penuh penghargaan lelaki itu memandang kepadanya.
Lalu tersenyum dengan hormat dan sabar.
“Siapakah namamu?” Maria Zaitun bertanya.
“Mempelai,” jawabnya.
“Lihatlah. Engkau melucu.”
Dan sambil berkata begitu
Maria Zaitun menciumi seluruh tubuh lelaki itu.
Tiba-tiba ia terhenti.
Ia jumpai bekas-bekas luka di tubuh pahlawannya.
Di lambung kiri.
Di dua tapak tangan.
Di dua tapak kaki.
Maria Zaitun pelan berkata:
“Aku tahu siapa kamu.”
Lalu menebak lelaki itu dengan pandang matanya.
Lelaki itu menganggukkan kepala: “Betul. Ya.”

(Malaekat penjaga firdaus
wajahnya jahat dan dengki
dengan pedang yang menyala
tak bisa apa-apa.
Dengan kaku ia beku.
Tak berani lagi menuding padaku.
Aku tak takut lagi.
Sepi dan duka telah sirna.
Sambil menari kumasuki taman firdaus
dan kumakan apel sepuasku.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur dan pengantin adalah saya.)

~~~

Kumpulan Puisi Singkat

  • tanpa alas kaki, hujan menawan, terik menarik, apapun jadi, selalu berbagi, tak hitung untung rugi, ingin bertemu lagi.
  • Melawan arus jaman, tak akan kau tahan, walau dengan senapan, tak bisa kau hindarkan, suatu hari kau hanya kenangan.
  • Tirani, di atas perih dia menari, jerit itu tawa, hina adalah puja, duka seharum puspa, tutup mata telinga, bicara saja.
  • Semangatku telah berlalu, sesuatu buatku malu, kubutuh diriku yang dulu, kujemput diriku ke masa lalu, pacu, kini telah baru.
  • Kenyamanan ini telah hadirkan sejuta teror janji, tergantung sudah dan tak lagi berbagi, serakah yang pasti, menang sendiri
  • Kata, lari kencang tanpa henti, makna menyiksa perih, tak mau pergi, menhantui. Wahai penyair, jadikan aku tanpa makna.
  • Melantunkan irama sepi, tak perlu notasi, juga narasi, cukup ratapan dalam hati, melumatkan diri, perlahan pasti
  • Separuh sudah cukup, sedikit sudah lebih, sendawa harum, menghidupi, melingkupi, mengiring langkah penuh tanya tanpa ragu
  • kulawan arus, kuredam gundah, kububarkan sepi, tapi waktu tak sanggup kukalahkan
  • Jangan! Jangan tutup dulu peti itu! Aku masih ingin nikmati cantik pucatnya dan harum jasadnya