Dear @Pandji, Apakah Gua Wongsoyudan?

Sebenarnya gua ini nasionalis, dengan cara gua. Pandji, jelas, dengan cara dia. Cara-cara kami memiliki pendukung, dan yang jelas pendukung dia – di jagad hiburan dan publisitas – jauh di atas gua. Dua kali tour stand-up comedy dunia, tiga kali tour stand-up comedy nasional dan empat kali stand-up comedy special. Sulit untuk menyangkal bahwa  Pandji adalah stand-up comedian tersukses saat ini. Kesuksesan stand-up comedian bukan dinilai dari berapa film yang dia bintangi tentunya, karena itu berarti yang bersangkutan lebih tepat disebut aktor sukses. Untuk ini, jelas Reza Rahadian lebih pantas menyandangnya.

Di atas adalah pencapaian Pandji dari sisi even stand-up comedy yang dia selenggarakan. Dari sisi materi, materi-materi beliau juga tidak begitu aman, menyulut pro dan kontra, tidak TV friendly, tapi tetap dia punya tempat khusus di dunia hiburan. Menjadi wakil golongan tertentu yang sekarang menamakan diri sebagai Wongsoyudan. Golongan ini sudah ada sejak dulu, bahkan sebelum tokoh lain memiliki pengikut ideologi. Ya, memakai akhiran -an untuk sebuah golongan adalah pernyataan diri bahwa mereka adalah pengikut ideologis. Sama seperti -ist. Christian, Marxist, Leninist, Maoist, Seokarnoist, Gusdurian, Hegellian dan sekarang, Wongsoyudan. Walau belakangan berkembang golongan yang memakai akhiran -er, Ahoker. #tetep #KembaliKeLaptop

Gua rasa – bahkan gua pun tidak masuk – tidak ada stand-up comedian yang punya fanbase dengan nama seperti ini. Tidak ada kami yang memiliki pengikut ideologis. Ini sebuah sanjungan sekaligus keirian gua sama Pandji. (Buat nggak habis ini, katrok ini #kode)

Tapi Pandji, layak mendapatkan yang dia dapatkan, termasuk malam itu. 3500 orang memenuhi The Kasablanka Hall dengan harga tiket yang tidak murah.  Apa yang dia capai hari itu, adalah sebuah perjuangan, jatuh bangun. Sebelum gua ikut-ikutan masuk dunia TV (atau terseret lebih tepatnya), dia sudah dulu gua tonton di acara Kena Deh dan Hole in The Wall. Lalu tiba-tiba mem-brand diri sebagai tokoh nasionalis yang mewakili kaum muda. Sebuah brand baru yang nggak nyambung dengan acara-acara yang dia bawakan sebelumnya. Tentu menuai reaksi negatif, termasuk gua, walau gua tidak sampaikan ke publik karena saat itu gua juga hanya seoarang warga yang terlalu sering membaca berita di tengah waktu luang bekerja. Sepertinya Pandji saat itu oportunis, sebenarnya, brand seperti ini justru menjauhkan beberapa sponsor lho, jadi bisa dibilang justru take a risk.

Tapi anggapan gua soal oportunis itu sirna, setelah mengenal beliau. Gua ingat waktu pertama kali bertatap muka dengan Pandji, dia langsung menyapa gua, karena sebelumnya dia sudah nonton gua di youtube. “Materi lo keren…” Gua belum cukup dikenal seperti sekarang, jadi jaga attitude, padahal dalam hati gua mau bilang “Gak usah lo bilang juga gua udah tahu…” Tapi itulah gambaran seorang Pandji dengan semua determinasinya, dia juga menjaga cara-cara dia berkomunikasi. Walau kadang emang nyebelin dan gak perlu. Seperti pernah cukup lama ngetwit dengan ejaan lama: oe, jang, dll. #lebay

Menurut gua Juru Bicara bukan special terbaik Pandji dalam hal materi, favorit gua masih Merdeka dalam Bercanda. Tapi konsistensi Pandji terlihat dari empat special, dia ke luar dari zona nyaman, mengambil resiko, untuk karirnya di dunia hiburan, untuk brand yang memberikan sponsor. Benar saja, setelah menutup show, dia sedikit curhat bahwa ada sebuah brand yang menghentikan sponsor di tengah-tengah tur yang sedang berjalan. Pandji tidak “playing victim” untuk ini, dia tetap tuntaskan tur sampai akhir dan baru cerita. Gak sedih-sedihan kemudian kumpulin #coinforPandji. Itu membuat gua hampir nangis, ternyata Pandji lebih dari ekspetasi gua.

Hubungan gua dengan Pandji, memang agak aneh kalau dicermati, tapi gua cukup sering japri dia memberikan pendapat-pendapat sotoy gua. Mirip mungkin dengan Kartosuwiryo yang di tengah-tengah gerilyanya terus memantau Soekarno dan mengirimkan surat. Contohnya ketika Indonesia keluar dari PBB, Kartosurwiryo mengirimkan surat apresiasi tindakan Bung Karno saat itu. Ajakan Pandji untuk kolaborasi di Youtube gua juga lebih banyak menguntungkan gua dibanding penjualan tiket dia.

Materi Pandji tidak akan melenakan penonton 100%, walau kami komedian bertanggung jawab membuat penonton tertawa, tapi concern harus tetap sampai. Dalam hal ini gua begitu gembira, bahwa malam itu di Juru Bicara, Pandji banyak mengingatkan penonton bahwa Indonesia adalah “negara dunia ke-3”. Bukan dengan kata-kata itu persisnya, tapi dari pemilihan topik mulai soal ekonomi, karya, warisan budaya sampai ke konservasi hewan liar. Topik yang sulit membuat orang tertawa, tapi tak sulit ternyata malam itu bagi Pandji membuat kami yang menonton tertawa. Gua gak bisa ceritakan semua, karena akan terlalu panjang dan akan jadi spoiler dari digital download/DVD yang nanti akan dia pasarkan.

Gua adalah alumnus opener Pandji juga, gua cukup dapat publisitas sehabis jadi opener di #BhinekaTunggalTawa (ya karena memang pecah juga sih), special show pertama dia. Kalau bisa dibilang, gua adalah opener pertama dia dari semua special, karena malam itu memang gua jadi penampil pertama. Sama, di Juru Bicara, Jakarta pun, begitu fresh gua melihat penampilan Coki dan Indra Jegel. Gua yakin mereka dapat suntikan publisitas malam itu. Jadi satu lagi poin, kenapa dulu gua juga ngotot bikin special, karena opener-opener kami juga memiliki peluang karenanya. Jadi ya, masak mau disuapin terus.

Apakah gua Wongsoyudan? Gak perlu beli topi “MIKIR” untuk menyatakan hal itu. Lagi pula gua udah beli yang lebih mahal, sofa bekas dia.

Gua termasuk yang konsisten berkarya dan gua aminkan perkataan dia malam itu:

“Semoga semua orang yang berkarya bisa memiliki hubungan seperti hubungan gua dengan elo semua (red. Wongsoyudan).”

Dari Notaslimboy – Salut buat elo my comrade

Advertisements

Blogcast Episode 3: Bincang Santai Ilmuwan vs Pelawak tentang Lingkungan

LINGKUNGAN

Sepertinya agung sekali ya memikirkan nasib bangsa ini, ah sebenarnya tidak juga. Terutama soal lingkungan. Kita sedikit maju ketika melangkah dari mewariskan harta dan kemudian condong mewariskan ilmu. Tapi dipikir-pikir, tanpa lingkungan semua percuma. Sumber daya alam habis, lingkungan rusak, harta jelas tidak berarti dan ilmu pun akhirnya hanya dipakai untuk bertahan dari bencana, tidaklah nikmat, setiap hari memikirkan bagaimana untuk survive.

Kali ini saya berbincang dengan seorang ilmuwan, peneliti, aktivis yang juga peduli lingkungan. Beliau mengaku bahwa keberadaan seniman – pelawak – perlu untuk menjelaskan rangkaian pengetahuan yang terlalu mendetil dan njlimet. Di sisi lain saya pun tergugah mengetahui jauh lebih dalam soal lingkungan.

Beliau sedang berada di Tokyo, namun teknologi menyambungkan kami. Lewat Skype – bukan sponsor – kami berbincang tentang lingkungan dan sedikit ngalor-ngidul. Karena bukan saya kalau tanpa ngalor-ngidul. Yang jelas kami berdua menjalankan aktivitas pagi ke sore dengan menjalankan kewajiban kami masing-masing, sebagai profesional di bidang kami masing-masing, mencari nafkah, tapi malamnya sungguh sebuah keberuntungan kami bisa berdiskusi dan saling memperkaya gagasan.

Seperti kata seseorang – yang tak perlu saya kutip karena nanti saya dituduh yang bukan-bukan. Pagi berburu, siang memancing lalu malamnya jangan lupa, berfilsafat. Silakan di-googling kalau memang dapat.

Mari, kita hubungi Pak Marco Kusumawijaya di Tokyo, Jepang.

BlogCast Episode 2: Reklamasi Teluk Jakarta

Nelayan adalah profesi, sama seperti saya, seorang profesional IT, seorang pelawak juga. Laut dan pantai adalah tempat kerja mereka, seperti saya di depan komputer atau di panggung. Lalu mereka sedang mencari nafkah, tahu-tahu dibilang bahwa di teluk Jakarta tidak ada ikan, jadi tolong pergi, karena ada kepentingan yang lebih besar maka mereka harus pergi. Kepentingan pembangunan, rencana Indonesia bersaing secara global dan lain-lain. Mereka harus pergi, harus nurut, nanti dikasih tempat baru.

Seolah dengan kasih tempat baru semua beres, kalau tidak nurut berarti pembangkang. Kalau tidak nurut berarti tidak nurut sama pemerintah yang saat ini sedang bekerja untuk rakyat. Pemerintah yang mau “mengorbankan” sedikit orang kalau tujuannya untuk banyak orang. Tapi belum jelas, banyak orang ini siapa?

Kenapa pemerintah sepertinya tutup mata? Ada masalah lingkungan, ada masalah sentralistik pembangunan yang ternyata masih terus di Jakarta sehingga urbanisasi tidak henti-hentinya. Lalu sebagian kita membela, seolah aktivis-aktivis dan rakyat itu diperalat. Nelayan pendatang jadi alasan? Katanya yang protes itu hanya nelayan pendatang. Sudah tempat mereka bekerja diinvasi, lalu dituduh pula begitu. Kan masih wilayah NKRI, kok disebut pendatang. KTP kita masih laku dari Sabang sampai Merauke, kita boleh mencari nafkah di situ, boleh mengambil ikan di situ.

Di teluk Jakarta katanya sudah tidak ada ikan? Nelayan pun tertawa getir. Lalu yang mereka tangkap selama ini dan dijual di Muara Angke, di Muara Karang apa?

Mereka itu profesional, karena saya beberapa kali memancing di kolam pemancingan, tapi tidak pernah kail saya disambut oleh ikan, seumur hidup saya. Tapi, mereka, walau kondisi kapal-kapal sudah mulai melakukan pekerjaan reklamasi yang membuat ikan-ikan itu takut, masih saja dapat, walaupun jauh berkurang. Seperti pelawak saja, walau sedikit yang nonton, tetap saja bisa bikin ketawa. Itulah seorang profesional.

Kalau banyak penolakan, dari aktivis, dari warga, kenapa selalu tuduh ini-itu dulu. Ini kan masalah antara warga, bukan hanya nelayan, dengan pengembang. Kenapa pemerintah sepertinya pasang badan, jadi seolah warga lawan pemerintah. Kalau memang warga yang salah, ya biarkan mereka membela hak mereka dan pemerintah menjadi penengah, bukankah itu fungsi pemerintah? Bukankah secara politik suara kita sama. One man one vote dalam pemilu. Negara kita bukan perusahaan, dimana ada kepemilikan saham sehingga yang sahamnya lebih besar akan menentukan arah kebijakan perusahaan. Atau jangan-jangan negara kita perusahaan?

Media sedikit sekali mengangkat isu ini ke atas, terutama suara-suara yang menolak reklamasi. Suara yang menolak reklamasi perlu diberi panggung. Panggung media itu kan milik bersama, bahkan kalaupun para pendukung gerakan anti reklamasi ini salah, suaranya wajib didengar. Apalagi sekarang, belum tentu mana yang salah. Biarkan semua didengar oleh khalayak banyak dan biar khalayak yang menentukan.

Yang jelas, teluk Jakarta adalah daerah sipil, tapi ada militer di sana. Entah lagi apa. Yang jelas sebagai seorang yang beragama Kristen, saya juga teringat dengan murid-murid Yesus yang pertama, mereka adalah nelayan – atau jangan-jangan di versi yang mereka baca murid-murid Yesus adalah para pengembang.

Silakan bilang saya hanya bikin repot dan ribet. Ngurusin yang nggak jelas. Itu adalah hak, tapi melarang hak orang bukanlah hak.

Saya akan mewawancara seorang yang terlibat dalam aksi-aksi di lapangan dan juga mengerti tentang hal ini…

Tapi izinkan saya tutup dengan sebuah kalimat.

“Kenapa kita diam? karena, Semua baik-baik saja, sampai kita yang jadi korbannya..”

Notaslimboy

Management Program: Sistem yang Memperparah Pendidikan Kita

Hallo, bertegur sapa dulu sejenak dengan pengikut setia blog notaslimboy.com. Mohon maaf jarang sekali saya – Notaslimboy – update di sini. Untung ada beberapa kontributor yang setia mengisi kolom di blog ini. Saya sebenarnya tetap aktif berkontribusi dalam bentuk pemikiran – walaupun pemikiran gak penting – dalam bentuk video. Silakan click di sini untuk subscribe kanal youtube saya.

Okay to the point.

Apa itu Management Program yang saya maksud? Ini adalah program perekrutan level middle management untuk kemudian diproyeksikan menjadi pimpinan perusahaan di waktu ke depan. Sistem pendidikan kita sudah cukup parah, tidak usah dibahas di sini, dan sistem yang dibuat perusahaan-peruasahaan besar ini memperparah keadaannya. Melalui sistem ini perusahaan merekrut lulusan-lulusan terbaik dari banyak universitas terkemuka, lintas disiplin, yang penting memenuhi standard IPK tertentu. Artinya perusahaan tidak membutuhkan kualifikasi ilmu dari fresh graduated ini, yang penting IPK tinggi, berarti mereka cukup cerdas. Ilmu tidak penting, karena program ini akan memberikan ilmu “cepat” untuk menjadi ahli di bidang tertentu. Kebanyakan dipraktikan oleh dunia perbankan, tapi tidak sedikit industri lain juga melakukan ini. Tak heran lulusan teknik dari ITB, UI, UGM bekerja di bank atau menjadi kepala cabang distribusi merk otomotif tertentu.

Ilmu mereka yang dipelajari di masa kuliah, soal fisika quantum, soal keseimbangan kimia, soal integral lipat lima, soal pendekatan numerik dan aljabar, dihapus dengan kursus kilat 6 sampai 12 bulan di management program. Mereka tiba-tiba menjadi pakar “perbankan” atau bahkan pakar jual beli mobil yang sangat pakar melobby credit analyst bagaimana supaya penjualan mobil di cabang mereka meningkat. Miris? Nggak tahu juga sih.

Siapa yang salah? Sepintar-pintarnya mereka, mereka adalah fresh graduated yang butuh dapat kerja cepat dan ingin segera berpenghasilan, membahagiakan orang tua, cepat nikah. Maka tidak ada pilihan. Saat mereka di level middle management atau lebih tinggi lagi, mungkin mereka sadar, tapi mungkin – atau bahkan hampir pasti – mereka sudah terjebak dalam comfort zone, yang sebenarnya nggak comfort-comfort amat. Hanya comfort dari sisi ekonomi mungkin, tapi aspek kehidupan apakah cuman ini? Mungkin manusia sekarang hanya menganggap kesuksesan hanya dari sisi ekonomi. Disertasi, wacana, hipotesa, dianggap hanya isapan jempol, tanpa menghasilkan real money. Padahal sekarang terbukti, bahwa real money di satu sisi, ternyata berdampak pada kerusakan di sisi lain yang jauh lebih besar, bahkan ditinjau dari sisi ekonomi. Penjualan otomotif, menghasilkan kemacetan dan pemborosan energi, polusi, kredit macet, dll. Itu baru satu sisi.

Siapa insinyur yang idealis? Dialah “Si Doel”, yang tidak mau kerja di bank, maunya kerja sesuai dengan disiplin ilmu yang dipelajari. Apakah dia anak ITB, UI, UGM, ITS? Bukan, dia anak Universitas Pancasila. Dan apakah dia masih ada? Dia itu tokoh fiktif, bahkan pemerannya sendiri sekarang sudah terjun ke dunia politik. 🙂

Siapa yang salah? Tidak usah ditunjuk, tapi yang jelas sistem ini salah. Mari kita perbaiki. Dimulai dari Dikti dan Dikbud 🙂

Saya sendiri, lulusan ITB, memang jadi pelawak. Tapi itu hanya sebagian kontribusi saya. Secara sadar saya membangun bisnis kecil supaya ilmu saya di ITB tidak terbuang percuma. Tidak usah diceritakan di sini, nanti jadi riya. Tapi boleh deh capture sedikit

Screen Shot 2016-04-30 at 9.28.13 PM

Bila Pak Raden dan Si Unyil itu Sebuah Utopia, Apakah Drs. Suyadi adalah Thomas Moore?

Kepergian seorang seniman, apalagi seniman yang mempengaruhi masa kecil saya, selalu menyisakan kesedihan. Termasuk dalam hal ini Drs. Suyadi, atau kerap disapa dengan nama Pak Raden. Hanya selang beberapa jam dari kepergian beliau, saya tulis artikel ini – namun butuh beberapa hari untuk menyelesaikannya. Sebagai wujud perhatian saya pada banyak hal, bukan hanya beliau yang mengisi setiap hari Minggu siang masa kecil saya, tapi juga pada pengaruhnya pada dunia kesenian dan pertelevisian Indonesia.

Kepergian seorang seniman yang mengisi masa kecil saya selalu menyisakan kesedihan, artinya saya sudah tua. Saya sekarang pun seniman, mungkin mengisi masa kecil atau remaja seseorang. Bila saya pergi, anda akan rasakan perasaan saya hari ini.

Si Unyil, film besutan PPFN – rumah produksi milik negara di bawah Departemen Penerangan – sangat fenomenal. Diputar setiap Minggu pagi menjelang siang, membuat semua anak-anak zaman itu sejenak kembali ke rumah untuk menonton film serial boneka ini. Membuat saya tergesa-gesa untuk segera pulang kebaktian sekolah minggu di gereja, dan merengek-rengek bila Bapak atau Mamak ada keperluan dulu setelah jam kebaktian, sehingga kami tidak segera pulang. Televisi hanya satu, dan si Unyil hanya seminggu satu kali, dan itu hari Minggu. Shit! Saya sempat menyesal jadi orang Kristen saat anak-anak dulu. Saya ingat ketika saya SMA, film ini kemudian diputar ulang setiap Rabu Sore. Tapi saat itu sudah ada TV swasta, dan saya pun sudah tidak terlalu menantikan serial ini.

Desa Sukamaju, bisa dibilang lokasi sebuah Utopia. Drs. Suyadi bisa dibilang adalah Thomas Moore nya Indonesia. Si Unyil adalah karya fenomenal Utopia – pesanan atau bukan. Indonesia yang damai, tanpa konflik, hanya riak-riak kecil kriminal dan segelintir pengangguran yang tidak terlalu mengganggu – Pak Ogah dan Ableh – yang belasan tahun serial ini ada selalu minta Cepek, tidak pernah naik, tidak ada inflasi, tak ada keserakahan dalam diri seorang preman pengangguran.

Ada orang gila yang sering mondar-mandir di desa tersebut, sambil berteriak-teriak, “Di mana anakku, di mana anakku…” Orang gila ini tidak pernah mengganggu warga, hanya sibuk mencari anaknya, yang kita tidak pernah tau sebab kepergiannya. Dia menjadi gila bukan karena himpitan ekonomi, tapi benar-benar karena begitu besar kasihnya pada anaknya, sehingga tak sanggup dia kehilangan.

Pak Raden – yang diperankan oleh Drs. Suyadi sendiri – adalah tokoh bapak – lebih tepat dibilang kakek – yang berjiwa seni. Galak pada anak-anak, tapi juga penuh kasih. Sering berinteraksi dengan anak-anak di desa tersebut, maka sering juga terjadi gesekan. Tapi tidak pernah melakukan kekerasan fisik. Percaya primbon, dan memiliki istri yang sangat sabar. Istrinya tidak pernah mengutip primbon, tapi setiap Pak Raden mengutip primbon, Bu Raden juga tidak pernah mendebat. Mungkin ini pesanan, dari penguasa yang percaya primbon tapi tidak terlalu enak terang-terangan bilang itu pada golongan Islam mayoritas. Mungkin, atau saya yang terlalu berpikir jauh.

Pak Raden, Pak dan Raden, dua kata sandang dalam satu nama. Seperti menyebut Bang Raja atau Mas Gus mungkin. Belum saya temukan apa arti kejanggalan ini.

Saya adalah seorang Kristen yang tinggal di sebuah komplek yang dekat dengan perkampungan di Bandung. Hanya beberapa tetangga yang datang ke rumah untuk memberikan selamat Natal. Sebagian besar umat muslim di komplek menganut ajaran tidak memberikan selamat Natal pada umat Kristen. Saya sudah terbiasa dengan itu, tidak menjadi masalah. Tapi di film Unyil kejadiannya lain. Ada Keluarga Melani – Cina Kristen cukup kaya – yang tinggal di desa itu, dan selalu kebanjiran tamu saat hari Natal. Melani – anak perempuan yang cantik dari keluarga Cina Kaya – naksir Unyil anak kampung, pribumi, Muslim. Kejadian yang amat sangat langka. Tidak ada orang Indonesia yang protes, semuanya memberi restu pada pasangan antar ras dan antar agama ini. Sebuah prototipe hubungan cinta antar agama dan atar ras yang mendapat restu NKRI. Mantap kan?

Cuplis, seorang pribumi Muslim, juga naksir Melani, Melani lebih memilih Unyil. Tapi hebat sekali, Cuplis yang miskin, setidaknya punya nyali, pede abesss.. untuk sekadar naksir Melani. Sangat jarang ditemui pada diri remaja kita saat itu, bahkan sampai hari ini.

Kejahatan-kejahatan kecil terjadi, sepengingat saya hanya sebatas maling mangga. Penjahatnya pun itu-itu saja, tidak ada yang baru. Orang jahat tidak bertambah. Pak Lurah tidak dibikin repot olehnya. Sepertinya ini Lurah idaman, tidak pernah minta jatah untuk pembuatan KTP atau sejenisnya.

Salut pada film ini, entah dari mana idenya, sebuah khayalan tingkat tinggi yang sangat menghibur. Mengajak kita keluar dari realitas yang sangat pahit, terutama soal gesekan Suku Agama Ras dan Antargolongan.

Untuk Drs. Suyadi hari ini, saya persembahkan – Mendefinisikan Ulang arti Pribumi dan Non-Pribumi.

Terima kasih sudah follow twitter saya, saya tidak tahu itu, saya follow back hari ini, Pak!

Notaslimboy, seorang anak yang twitternya difollow oleh Drs. Suyadi

 

 

Mitos tentang Membaca: Kegiatan Kutu Buku yang Nggak Asik

Mitos, adalah sebuah kepercayaan tanpa bukti, tapi sama-sama dipercaya, karena semata nggak ada yang berani menggugat, ogah ribut, biar cepet beres dan alasan-alasan serupa. Mitos angka 13 misalnya, angka sial. Mitos ini membuat gedung-gedung melewati angka ini, dari 11, 12, ke 12A atau langsung ke 14. Nomor rumah di sebuah jalan di komplek pun seperti itu. Developer takut nanti tidak ada tenant yang tertarik menyewa di lantai 13 karena alasan mitos ini, jadi sebenarnya developer tidak akan masalah kalau memang dipastikan akan ada tenant yang menyewa atau membeli ruangan kantor di lantai 13 gedung yang mereka bangun.

Dari sisi tenant, mereka tidak mau menyewa di lantai 13, semata takut kantornya nanti sepi pengunjung. Tidak ada orang yang mau bermitra, datang ke kantor saja malas. Walau mereka punya solusi yang terbaik, tidak ada client yang mau melihat, habisnya kantor mereka di lantai 13. Jadi tenant tidak punya masalah pribadi dengan lantai 13 ini, ini semata jaga-jaga perasaan client atau calon client. Jadi kalau dipastikan ini tidak mempengaruhi client, mereka mau saja kok menyewa di lantai 13.

Dari sisi client, mereka sebenarnya tidak masalah untuk datang ke sebuah kantor konsultan, misalnya, yang terletak di lantai 13 sebuah gedung, kalau memang mereka bisa memberikan solusi yang baik. Tapi mereka mau pergi ke mana? Wong, nggak ada lantai 13 di seluruh gedung di Jakarta.

Itulah mitos, sesuatu yang tidak ada satupun pihak yang percaya, tapi keadaan membuatnya jadi sesuatu yang ditakuti. Tidak ada yang pernah jadi korban mitos, tapi semuanya keep it silent, nggak usah dibahas, nggak penting punya, ogah ribut, dan lain-lain.

Seperti mitos, membaca itu nggak asik, kutu buku itu nggak gaul. Kalau ada kutu buku yang nggak gaul, itu nggak ada hubungannya dengan kebiasaan dia membaca. Yang nggak gaul dengan alasan buku mungkin jumlanya lebih banyak. Saya tidak terbiasa membuat sesuatu tanpa membuktikannya. Jadi saya buktikan dalam bentuk video. Dari hasil membaca saya, ada hal-hal yang sepertinya dianggap berat, malah jadi asik. Cuman 7 menit, tapi berharga bagi saya untuk ditonton, kalau bagi anda, mudah-mudahan berharga juga, hahaha.

Subscribe channel saya, saya akan bagikan review buku-buku asik ke depannya. Kalau elo malas baca, setidaknya channel ini memberikan perangsang untuk itu, atau kalau masih malas, setidaknya beberapa menit tentang buku yang saya ulas bisa anda anggap sebagai proses membaca buku, hehe.

Regards,

Sammy – not a slim reader (now become not a slim reviewer)