Dunia yang Terlanjur Begini Bag. VI (Menyerah, Mengubah atau Mengakali)

Maaf, baru sempat lagi update blog karena kesibukan saya terutama dalam mempersiapkan youtube content. Ya, subscribe dong. Seniman seperti saya cukup anda dukung dengan subscribe, follow. Tinggal click logo youtube yang muncul di website ini. Kalau mau beli karya saya juga ada, ke bagian menu store dari web ini.

Sekian promonya.

Dari bagian I sampai V saya bicara soal pesimisme saya terhadap dunia yang terlanjur salah setting. Tapi dalam keterlanjuran yang sebenarnya masih bisa diobati, asal semua sadar, kita masih bisa bersikap. Andai memang tidak bisa lagi diubah, seperti dunia – tepatnya Indonesia – yang utopis yang direncanakan rekan saya Pandji Pragiwaksono dalam bukunya “Berani Mengubah”, kita bisa bisa mengambil beberapa alternatif langkah. Satu menyerah, dua mengubah seperti yang dicanangkan Pandji, atau Mengakali.

Yang terakhir ini menarik untuk kita telisik lebih dalam. Pasca runtuhnya Sovyet dan bersatunya Jerman, praktis Amerika menjadi adikuasa tanpa ada rival. China tidak membiarkan posisi rival Amerika ini kosong terlalu lama. The new superpower is China.

Francis Fukuyama menulis pasca runtuhnya Sovyet, “The End of History”, berakhirnya sejarah. Tidak ada lagi rivalitas. Kapitalisme menang, karena komunisme sudah runtuh dengan bubarnya Sovyet dan runtuhnya tembok Berlin. Buku ini walau ditulis oleh seorang akedemisi ternyata terbukti salah di kemudian hari. Kekuatan lain China, bangkit.

Saya teringat ketika saya masih kecil, tahun 80an, saya sebagai anak SD selalu memperhatikan semua barang yang saya pakai atau pegang. “Made in” mana barang itu, dan saya temukan, peniti, jarum, mesin jahit, kancing, dan barang-barang perintilan lainnya adalah “Made in China”. Saya berpikir, ternyata Jepang dan AS itu lebih hebat dari China. Ternyata setelah saya tahu sekarang, saat itu China menerapkan politik tirai bambu. Menutup diri terhadap persaingan global, memproduksi low-tech (zero-tech) consumer goods. Seperti orang dagang saya, ada yang jualan komputer, ada juga yang jualan beras, belum tentu pedagang komputer lebih kaya dari pada pedagang beras, tergantung volumenya bukan?

China adalah negara yang sadar diri terhadap kemampuannya. Saat itu Indonesia sibuk dengan industri strategis yang dicanangkan anak emas Soeharto Habibi, INDUSTRI PESAWAT TERBANG. Nggak jalan bro, terang saja, harus bersain sama Boeing dan Airbus. Duh, akhirnya nggak ada yang mau beli, beberapa, itu juga mungkin karena nggak enak hati sama Soeharto hahaha. Sering terjadi kan kita beli ke teman, gara-gara nggak enak, bukan karena kita butuh. Thailand mau beli, tapi barter sama ketan. Hahaha, riset yang  menghabiskan dana negara, ditukar ketan. Kalau kita bikin lahan pertanian ketan, mungkin bisa dapat jumlah lebih banyak.

Tapi China ternyata punya rencana besar. Dia benar-benar ngumpulin modal dan keahlian. Ibarat orang berdagang, dia mulai dari toko kelontong, setelah punya modal dan sekolahin anak keluar negeri, dia masuk ke low-tech dan akhirnya seperti hari ini. Tidak ada lagi istilah HP China, karena HP semua sudah dibuat di China dan brand China pun seperti Xiaomi, Hwa Wei, ZTE, sudah masuk ke high-end smartphone.

China adalah negara yang mengakali. Orang bilang kapitalisme adalah musuh komunisme. Wow, sekarang sudah menjadi bias. Kapitalisme butuh biaya produksi yang murah, dia butuh upah buruh yang murah, dan cuman Komunisme yang bisa menyediakannya. Capitalism has no religion, they need a cheap stuffs on their mall, so they collaborate with communism. Itulah, China, dari pedagang peniti sampai ke pembuat handphone canggih yang dipakai hampir di semua negara di dunia.

Dan China – bukan hanya China – berhasil karena menyontek. Develop from scratch is really painful. Tanpa harus menghadiri seminar Mario Teguh, China sudah menerapkan Amati Tiru Modifikasi (ATM). Android adalah teknologi opensource, dan semua HP Android yang dibuat di China, teknologinya dikembangkan oleh Google. Artinya China hanya melakukan ATM, atau kasarnya Mencontek. Artinya kita tertinggal dari negara pencontek, kita membeli dari negara pencontek, kita “NYONTEK aja MALES”. Kurang parah apa kita.

Kita tidak akan bisa memenangkan “the unfair race” seperti ilustrasi dari artikel ini dengan pola pikir kita yang sekarang. Sistem pendidikan hari ini masih mengandalkan tingkat menghapal siswa sebagai sesuatu yang harus diutamakan. Padahal dunia sudah jauh berubah. Salah satu perusahaan terbesar di dunia Google – yang juga masuk fortune 500 – adalah perusahaan yang menerapkan open source. Artinya buat Internet Giant seperti Google menerapkan sesuatu yang terbuka, tak perlu disimpan-simpan, tak perlu dihapal, eh kita masih mendidik dengan cara ini. Sampai kapan kita begini. Dunia sudah terlanjur begini, menyerah, mengubah? Saya pilih mengakali.

notaslimboy – mungkin lebih pantas jadi Menteri Pendidikan dari si turun tangan 🙂

Dunia yang Terlanjur Begini, Bag. V (Apakah Manusia Semakin Pintar?)

Phones are getting smart, but people are getting stupid.

Dunia di genggaman kita, dengan smartphone, tapi jangan-jangan otak manusia tidak mampu mengolah informasi yang datang bertubi-tubi menjadi sebuah pengetahuan. We are full of information, but lack of knowledge.

Abad dan adab tidak ada hubungan rupanya. Sekarang Abad 21, ada kelompok barbar macam ISIS, Boko Haram, kelompok garis keras di Rohingya. Sebaliknya di abad pertengahan sudah ada ilmuwan hebat macam Newton, bahkan di awal-awal sejarah manusia sudah ada Socrates, Aristoteles, Plato, Pythagoras (my favorite), dll. Peradaban manusia tidak ada hubungan dengan abad berapa suatu hal terjadi.

Teringat beberapa bulan lalu, saya kalau boleh dikatakan sengaja memancing amarah sebuah akun yang cukup dikenal di jagad twitter, dengan follower militant. Beliau adalah @kurawa. Singkat cerita kami terlibat dalam saling caci, dan di akhir-akhir sudah meleset dari esensi perdebatan awal. Sudah mulai menyerang kelamin saya yang kecil – padahal belum saya pernah umbar di khalayak umum apalagi di twitter. Tak apa, itu resiko perdebatan di Internet. Saya menolak menggunakan istilah dunia ‘maya’. Kata maya berarti tidak nyata, tidak terjadi. Bagi saya Internet adalah sesuatu yang nyata. Internet, facebook, twitter, blog, dll, adalah dunia nyata dalam media online. Kalau di dalamnya ada banyak akun palsu, anonim, dsb. bukankah dalam kehidupan sehari-hari di luar Internet hal demikian juga ada, terjadi, dan sudah sejak lama?

Saya mengkritisi kebijakan Ahok soal reklamasi teluk Jakarta. Kemudian saya bandingkan dengan reklamasi di Bali yang ramai-ramai ditolak, menjadi sebuah gerakan yang luar biasa heboh dan ngehits di dunia maya – eh maaf, Internet. Reklamasi teluk Jakarta seolah sepi peminat, hanya WALHI Jakarta yang saya pantau cukup vokal menyuarakan ini. Tapi gaungnya sungguh jauh dengan penolakan reklamasi di Bali. Apa yang beda? Saya kemukakan pendapat saya sambil sedikit memancing amarah kubu pro Ahok. “Mungkin karena reklamasi Bali dan Jakarta beda, beda yang nerima proyeknya.”

Kontan pendapat saya ini semakin diserang, dianggap menuduh Ahok korupsi. Padahal itu majas biasa saja, majas Inuendo. Majas menjuruskan opini, membentuk opini, bukan menyimpulkan. Dalam permainan media ini sangat sahih untuk dilakukan. Orang seperti saya tidak punya backing kuat, jadi harus pandai-pandai bermain majas, cuman itu senjata saya. Reaksinya sampai ke pihak-pihak yang dekat dengan Ahok, seperti penasehat, sekretaris pribadi, think tank atau apapun itu.

Tak apa, blog ini sudah saya rencanakan, tapi baru sekarang saya pikir cocok untuk dipost.

Cara pikir saya sederhana. Saya tinggal di Jakarta – Jabodetabek tepatnya – sejak 1997. Saya tidak tahu Ahok apa selama itu tinggal di kawasan ini. Yang jelas yang menjadi saksi beberapa fly over dan under pass dibangun dengan alasan mengatasi kemacetan. Mulai dari Fly  over Kuningan, Pancoran, Senen, Cempaka Putih, dst. Saya ada di Jakarta sebelum semua fly over atau under pass ini jadi. Berbulan-bulan pengguna jalan harus menikmati macet – kalau memang macet itu bisa dinikmati – saat fly over atau under pass ini dibangun. Setelah infrastruktur itu jadi, kemudian apa yang kita lihat? Macetnya tetap, tidak solve.

Karena apa? Karena Jakarta seperti lampu neon. Manusia dan kendaraan seperti laron. Laron berkumpul kalau neonnya terang. Menambah ruas jalan artinya, menambah terang neon. Laron akan makin banyak datang. Kenapa neon tidak dipecah? Saya sudah ke Aceh sampai ke Maluku, banyak sekali lahan kosong. Itu kan NKRI? Kita mengagung-agungkan NKRI, tapi sama sekali hanya jargon. Kesatuan, harus bersatu, tapi yang dibangun hanya di titik tertentu. Neon hanya ada di seputaran Jakarta, Jawa, Bali.

Diluar masalah banjir Jakarta dan semua tetek bengeknya, tidak perlu saya baca jurnal-jurnal planologi soal reklamasi teluk Jakarta. Itu adalah bentuk memperbesar neon, artinya selamat datang laron-laron baru. Sederhana saja kalau kita mau berpikir sederhana. Apakah dunia ini diset untuk semakin membuat manusia bodoh? Kita membaca banyak jurnal yang bertebaran di Internet, tapi lupa esensi yang lebih mendasar.

Ini adalah artikel opini, tidak seratus persen benar, tapi tidak juga seratus persen salah, dan yang jelas argumentatif lah.

Satu lagi, kita mundur ke Ilmuwan jaman dulu saja. Lavoiser, yang mengemukakan hukum kekekalan massa. Artinya apa? Reklamasi teluk Jakarta, penambahan areal di teluk Jakarta, semuanya menggunakan material pasir. Jadi harus ada pasir dari tempat lain di Indonesia (atau luar negeri, tapi saya rasa tidak), harus diambil dan dipindahkan ke Jakarta. Karena apa? Karena menurut Lavoiser, massa itu kekal. Manusia tidak bisa membuat pasir, yang ada hanya memindahkan pasir dari tempat lain ke teluk Jakarta. Artinya, sebuah kesia-siaan. Kenapa tidak manusia – eh salah laron – disuruh migrasi ke tempat di mana pasir-pasir itu diambil, artinya tempat itu dibangun, supaya  neonnya makin terang dan laronnya pindah ke sana.

Ini sebuah opini, boleh dijadikan masukan, sangat boleh diabaikan.

Menentang keputusan Pak Ahok bukan berarti kita pro FPI dan mendukung pemakzulan, lagipula sudah mau pilkada juga kok Jakarta. Saya tidak membenci Ahok, tapi sebagai Gubernur, menurut saya banyak keputusan dia yang salah dan karena Indonesia butuh figur seperti dia, jadinya semua seperti benar. Kalau Pak Ahok datang ke rumah saya, tentu akan saya jamu dengan makanan khas Indonesia. 14045.

– Notaslimboy, pengusaha IT dan pedagang pulsa, bukan pengusaha lampu neon.

Dunia yang Terlanjur Begini, Bag. IV (Apakah Masih Ada Ilmuwan?)

Apakah masih ada ilmuwan? Jawabnya mungkin masih ada. Tapi apakah ilmu dihargai? Seperti sudah dibahas dalam bagian-bagian sebelumnya, manusia sekarang lebih menghargai kontribusi ekonomi. Ya, memang ekonomi adalah salah satu bidang ilmu, namun yang dimaksud adalah kontribusi ekonomi dalam hal ini bukan dalam hal penelaahan, namun ekonomi dalam artian keuntungan. Azas yang digunakan adalah azas manfaat.

Hasil penelitian yang tidak – atau belum – mendatangkan keuntungan secara ekonomi, akan dicap sebagai wacana kosong, tidak ada manfaat. Manfaat yang dinilai hanya manfaat ekonomi. Padahal sebuah subyek bisa saja mendatangkan manfaat lain selain manfaat ekonomi bukan? Bahkan sudah jelas bahwa ekonomi ini bohong-bohongan, hanya angka-angka semu yang dikelola dan dikuasai sekelompok orang. Pertumbuhan ekonomi jelas semu, karena diikuti oleh laju inflasi, kenaikan harga barang. Kalau kita pikir-pikir buat apa pendapatan naik, kalau harga-harga naik.

Katakanlah pertumbuhan ekonomi 6%, lalu laju inflasi 5%. Yang bahaya adalah statistik ini tidak mencerminkan apa-apa, karena pertumbuhan ekonomi 6%, angka ini bicara rata-rata, padahal penyebarannya tidak merata. Bisa saja sekelompok orang meraup keuntungan begitu rupa sehingga peningkatan pendapatannya mencapai 11%, lalu kelompok lain 1%. Andai jumlah mereka sama maka (11% + 1%) / 2 = 6%. Bicara rata-rata, pertumbuhan ekonomi 6%. Inflasi 5%, mengakibatkan kenaikan harga. Lalu apa yang terjadi, pertumbuhan tidak merata, tapi beban inflasi dirasakan merata. Kenapa? Karena harga-harga tentu naik secara merata. Tidak ada aturan harga hanya naik untuk yang pendapatannya naik lebih dari 6%. Jadi jelas ini akal-akalan bukan?

Apakah masih ada ilmuwan? Saya jawab ulang, masih. Tapi coba sebutkan pemenang terakhir nobel bidang fisika – tanpa googling – sedikit yang sadar. Dengan mudah kita bisa sebutkan tiga orang terkaya di dunia – tanpa googling. Ini menggambarkan concern kita bukan? Berarti memang tidak lagi ada ketertarikan manusia pada ilmu pengetahuan.

Dalam pertemuan keluarga besar, ada orang kaya, dan katakanlah ada ilmuwan. Tentu yang dianggap lebih adalah anggota keluarga yang kaya. Menyedihkan? Tidak juga, tapi inilah penyebab korupsi makin subur mungkin, karena kekayaan lebih dihargai dibanding ilmu. Apalagi peribahasa pakailah ilmu padi, makin berilmu, makin merunduk. Orang berilmu disuruh diam melulu, sialan kan?

Tidak ada ilmuwan baru  yang masuk buku pelajaran sekolah, seingat saya. Bahkan kalau sastrawan dikategorikan ilmuwan, khusus di Indonesia, sastrawan terakhir yang masuk ke buku sekolah adalah Rendra. Coba kalau ada yang baru, kasih tau saya ya, biar artikel ini saya edit.

Tidak lagi kita membaca orang sekarang yang seperti Archimedes dengan ceritanya masuk ke dalam bak mandi lalu bersorak ‘eureka’ dan terciptalah hukum Archimedes. Tidak lagi kita membaca orang sekarang yang seperti Newton yang duduk di bawah pohon dan menemukan apel yang terjatuh dan Newton menuliskan tentang gravitasi setelah itu.

Tentu banyak manusia cerdas saat ini, ya banyak sekali. Hacker yang bisa deface website sebuah instansi, mengaku cerdas dengan modal SQL inject, itupun copas dari  banyak postingan yang dijumpai di forum-forum. Ada orang-orang cerdas lain? Ada yang istimewa, tapi sungguh menyedihkan, bahwa sedikit sekali yang mau jadi penemu. Kenapa sih? Bahkan di AS, mereka memilih bekerja di bidang ekonomi, banyak juga yang menjadi pialang saham. Di Indonesia banyak lulusan ITB, IPB, UI yang masuk dalam management program dari sebuah bank lalu terjun sebagai bankir. Sama sekali tidak nyambung dengan apa yang dia pelajari. Ilmu S1 mereka dibuang, diganti dengan kursus perbankan beberapa bulan saja. Ya, karena hanya pencapaian ekonomi yang dihargai oleh masyarakat sekarang.

Ah sudahlah, nanti jadi terlalu melodramatis. Yang jelas, mungkin cuman si Doel, sarjana mesin yang tidak mau bekerja untuk bank.

Yang jelas saya merasa beruntung bisa punya ingatan yang kuat bahkan terhadap pelajaran-pelajaran SD dan SMP. Saya bersyukur saya bisa tahu rumus Pythagoras sejak SMP dan masih mengingatnya sampai hari ini. Dia menemukan rumus menghitung sisi miring (hypotenuse) sebuah segitiga siku-siku, hanya dengan mengukur dua sisi lainnya. Kita melihat rumus itu begitu sederhana sekarang. Tapi coba kita pikirkan, begitu penuh intuisinya Pythagoras, dia mencari tahu bagaimana menghitung panjang sisi miring tanpa mengukurnya. Ini luar biasa lho kalau dipikir-pikir.

Mungkin dia bicara dengan sesama ilmuwan saat itu, “Bro, bro! Nih, ya. Gua bisa hitung nih sisi miring, tanpa gua ukur. Rumah si Susi ke rumah elo lalu ke rumah gua kan jalurnya bentuk segitiga, Bro! Elo cukup ukur jarak rumah si Susi ke rumah elo. Lalu ukur jarak rumah elo ke rumah gua. Nanti gua bisa hitung, tanpa ngukur, jarak rumah gua ke rumah si Susi.”

“Ah, yang bener, Bro..”

Dunia yang Terlanjur Begini, Bag. III (Orang yang Katanya Pintar Boleh Malas)

Adik-adik, maaf Kak Notaslimboy agak-agak sibuk belakangan ini. Saya baru sempat kirim bagian ke-3 dari serial Dunia yang Terlanjur Begini. Seharusnya jadwal saya adalah setiap hari Senin untuk mengisi kolom dalam blog ini. Saya sedang sibuk menyiapkan revolusi, ya karena katanya kita harusnya melakukan revolusi mental, tapi berhubung revolusinya tidak kunjung tiba, akhirnya saya melakukan revolusi mental terhadap diri saya. Saya mencoba mangatur pola makan, revolusi pola makan.

Di bagian ke-3 ini saya akan menulis tentang James Watt dan Rockefeller. Dua tokoh ini bertanggung jawab penuh terhadap pola hidup manusia modern. Manusia modern yang sebenarnya jauh lebih tidak praktis dari manusia yang dikategorikan modern. Manusia modern yang tidak bisa jauh-jauh dari colokan listrik. Manusia modern yang akan pusing kalau HP atau charger ketinggalan di rumah. Manusia modern yang selalu siap sedia power bank. Angkatan bapak saya, mau pergi tamasya, tinggal berangkat bawa pakaian secukupnya, paling bawa bekal makanan. Sekarang, makanan bisa beli memang di tempat tujuan, harga lebih mahal tentunya. Tapi gadget dan peralatan pendukungnya tidak boleh tertinggal. Manusia modern yang tidak cap-cus, ribet, banyak jinjingan dan gak bisa jauh-jauh dari colokan. Kasihan ya kita (playing victim).

Lalu apa salah si James Watt dan Rockefeller. Nah, adik-adik, James Watt adalah penemu mesin uap. Beliau – kalau bisa dibilang berjasa – adalah orang yang berjasa menemukan alat yang bisa menkonversi gerak putar menjadi gerakan mekanik lain. Putaran diubah menjadi hentakan misalnya, atau putaran lain seperti roda sehingga mesin James Watt bisa jadi mesin serba guna untuk berbagai industri dan moda transportasi. Mesin yang sederhana, tapi inilah mesin primitif dari mesin-mesin lain. Dengan mesin ini manusia terbantu untuk berpindah tempat lebih cepat, bekerja lebih cepat. Mesin ini mendatangkan sebuah revolusi, perubahan cepat, mesin ini adalah tonggak revolusi industri. Manusia bisa menciptakan mesin-mesin lain yang jauh lebih canggih dari mesin ini, tapi mesin ini adalah primitifnya. Dengan mesin ini, misalnya manusia menciptakan mesin/alat lain. Lalu mesin/alat lain itu dipakai lagi untuk menciptakan mesin lain yang jauh lebih high level. Begitulah teknologi, manusia sekarang bersentuhan dengan high level machine yang primitifnya adalah mesin uap Bapak James Watt.

Dulu manusia menilai batu/permata dari keindahan. Sampai saat ini masih dilakukan oleh para penggemar perhiasan. Saat batu bara dipasarkan, batu apa ini? Bentuknya hitam sama sekali tidak menarik. Sang sales berkata, “I sell the future, this is energy.” Artinya dunia yang haus akan energy hari ini, ternyata cetak birunya sudah ada sejak dulu.

Rockefeller menambah parah ketergantungan peradaban terhadap energy dengan eksploitasi minyak besar-besaran. Jadilah dunia yang seperti sekarang. Dulu Belanda – melaui VOC – datang ke wilayah yang sekarang Indonesia bukan untuk mencari minyak, tapi rempah-rempah. Kalau dipikir-pikir, rempah-rempah ya sekarang bumbu dapur. Minyak bumi belum diekploitasi seperti sekarang, rempah-rempah masih menjadi primadona. Saat itu kabarnya hasil penjualan sekarung cengkeh bisa dibelikan sebuah rumah di London. Wow, andai, a, a, a, aku petani cengkeh – zaman Hindia Belanda.

Rempah-rempah tumbuh di daerah tropis seperti Indonesia, dan sangat berguna sebagai pengawet. Penemuan listrik dan eksploitasi energi, perkembangan mesin, sampai di titik manusia menemukan referigerator atau kita kenal sebagai kulkas atau di Malaysia disebut peti sejuk, saya suka bahasa Malaysia untuk hal ini. Setelah ditemukan peti sejuk maka fungsi rempah-rempah sebagai pengawet makanan tergantikan oleh peti sejuk ini. Eksploitasi pindah ke energi, karena peti sejuk dan mesin-mesin lain haus akan energi bukan rempah-rempah. Jadi istilah raja minyak itu ya baru-baru saja lah di abad 20-an tepatnya tahun 1960-70an.

Jadilah dunia yang seperti sekarang. Supir taksi kerja 20 jam sehari, 4 hari seminggu, 80 jam seminggu. Pegawai kantoran dan PNS, 8 jam dan 5 hari, 40 jam seminggu. Dengan alasan pegawai-pegawai itu lebih pintar, maka walaupun malas, mereka dibayar lebih mahal dari supir taksi. Karena apa? Toh semua sudah dibantu mesin. Buruh menuntut UMR, dan kita semua ikut-ikutan ribut. Padahal buruh bekerja sangat efektif, masuk, langsung kerja, nggak ada ngobrol. PNS, masuk, ngopi dulu, baca koran, dan tetek bengek lainnya, harusnya malah dibayar di bawah buruh. Yang PNS jangan tersinggung ya, kalau tersinggung juga emang gua pikirin, bodo amat.

Dunia semakin tidak efektif ya, semua gara-gara Rockefeller. Siapa sih dia? Mungkin dia itu reinkarnasi Farhat Abbas.

Not a slim boy – Ayahnya pernah bertani cengkeh dan gagal.

Dunia yang Terlanjur Begini, Bag. II (Si Miskin Mensubsidi Si Kaya)

Adik-adik, bertemu lagi dengan Kak Notaslimboy di sini.

Kita lanjutkan cerita minggu kemarin tentang dunia ini ya. Di akhir artikel saya menyebut tiga tokoh yang menjadi sebab utama dunia seperti yang sekarang kita alami. Tokoh-tokoh penemu atau pemikir yang membuat semuanya serba global. Memang banyak tokoh setelah mereka yang membawa perubahan, tapi ketiga tokoh ini adalah ibarat sebuah primitive dari mesin besar “globalisasi” yang terjadi sekarang. Ibarat operasi, mereka adalah operasi penjumlahan. Operasi penjumlahan adalah dasar dari matematika. Pengurangan adalah penjumlahan juga kan, kita belajar di SD, penjumlahan terhadap bilangan negatif. Perkalian adalah penjumlahan yang berulang. Penjumlahan adalan mesin dasar dari mesin besar yang bernama matematika. Tiga tokoh ini bisa dibilang begitu.

Pertama adalah Adam Smith. Orang menyebutnya Bapak Ekonomi dunia. Ya betul, sistem ekonomi sekarang ya seperti itu. Akal-akalan seperti dalam tulisan di bagian I. Semua dinilai dengan valuta. Bahkan kata ekonomi sendiri menjadi rancu. Paket ekonomis, artinya paket hemat, paket murah. Tapi pertumbuhan ekonomi salah satu indikatornya adalah meningkatnya konsumsi. Menurut saya, seharusnya Karl Marx adalah antithesis dari Adam Smith, sayang di Indonesia, Karl Marx lebih identik dengan anti-agama, lebih identik dengan antithesis Habib Rizieq.

Desain ekonomi yang berlaku sekarang, diakui bahkan oleh para ahli, memang akan selalu dalam sebuah kurun waktu mengalami krisis. Sudah terbukti, Indonesia beberapa kali mengalami krisis ini, bahkan Amerika dan Eropa Barat sekalipun. Jadi pertumbuhan ekonomi memang ada, tapi lalu inflasi juga ada. Jadi sama juga bohong kan, pendapatan meningkat, tapi biaya hidup naik. Terus buat apa ada angka-angka ini? Kenapa harus ada? Kenapa tidak tetap saja? Hayo kenapa… Yang jelas, sebagai akibatnya, pertumbuhan -semu- ini membuat yang miskin tambah miskin dan yang kaya semakin kaya. Karena pertumbuhan ekonomi -yang hanya angka itu- tidak merata, berkumpul di level atas saja. Sedangkan biaya hidup meningkat, bebannya dirasakan bersama. Hayo.

Lebih parah lagi adalah, biaya hidup orang miskin malah lebih tinggi dari orang kaya. Biaya hidup ya, bukan biaya senang-senang. Kenapa? Selain meningkatnya biaya hidup, ternyata ekonomi sekarang malah didesain bahwa orang miskin mensubsidi orang kaya. Dengan mudah bisa kita temukan beberapa contoh di masyarakat, tidak perlu pakar ekonomi kok untuk ini. Cukup seorang pelawak seperti saya.

Contoh pertama. Sebut saja kenaikan BBM baru-baru ini. Apakah semua yang baca artikel ini tahu, supir taksi dengan metode setoran, juga menanggung biaya BBM mereka sendiri. Jadi kalau mereka “narik” dalam satu hari, harus dapat jumlah setoran dan uang bensin, kalau enggak ya nombok. Katakanlah setoran 250rb, lalu bensin rata-rata sebelum kenaikan BBM, misalnya 200rb sehari. Artinya kalau nilai argo mereka 450rb, maka mereka belum dapat apa-apa tuh. Nah, yang makin payah ketika kenaikan BBM kemarin, tarif taksi tidak langsung naik, tapi setoran tidak juga turun dan BBM tetap supir yang tanggung. Jadi, penarikan subsidi, beban supir taksi naik, karena dia harus beli bensin lebih mahal, yang biasa 200rb, katakanlah jadi 225rb. Sedangkan penumpang tetap dibebankan argo yang sama – saat itu tidak langsung naik. Artinya apa? Supir mensubsidi penumpang. Yang kecil, mensubsidi yang lebih besar. Yang kurang mampu, mensubsidi yang lebih mampu. 1-0 (babak pertama).

Contoh kedua. Orang-orang yang kurang mampu, biasanya memiliki pendapatan harian, atau mingguan, atau kalau bulanan ya tetap saja kecil. Karena jumlah pendapatan mereka kecil, atau datangnya sedikit-sedikit, harian, maka mereka tidak bisa beli dalam kuantitas yang besar atau borongan. Pulsa beli yang 5rb, shampo beli ketengan, rokok beli ketengan. Kita tahu beli borongan atau dalam kuantitas yang besar harga lebih murah dari pada “ngeteng”. Contoh saja pulsa 5rb, harga di pengecer bisa 7rb, tapi pulsa 100rb malah di bawah harga, bisa 98rb atau lebih murah lagi. Kalau terus-menerus beli pulsa 5rb, maka uang 98rb akan hanya dapat pulsa sebesar (98rb/7rb) x 5rb = 14 x 5rb = 70rb. Artinya dengan jumlah uang yang sama, orang yang kurang mampu hanya mendapat manfaat 70rb sedangkan yang mampu mendapat manfaat 100rb. Jadi artinya? Yang kurang mampu, mensubsidi yang lebih mampu. 2-0 (final result).

Yah, mau gimana, pertumbuhan ekonomi diagung-agungkan sih. Sosialisme apalagi komunisme dianggap jahat, ya memang kita kan sekutu Amerika. Komunisme selalu diidentikkan dengan Genosida dan radikalisme. Padahal itu kan ciri fasis, lalu fasis diterjemahkan menjadi komunis. Padahal negara seperti Cuba tidak ada – kalau boleh dibilang tradisi – genosida. Stalin itu ya fasis, kebetulan saja memimpin Soviet. Soviet runtuh, adalah runtuhnya fasis, jadi tulisan Fukuyama tentang The of history, pasca runtuhnya Soviet ya salah. Buktinya gerakan-gerakan anti perdagangan bebas juga kian marak, bahkan di negara-negara Eropa Barat. Hehe, mulai berasa juga tuh dampak globalisasi bahkan di negara seperti Swedia.

Sudah dulu ya adik-adik. Nanti dua orang lagi yang kita minta pertanggungjawaban, James Watt dan Rockefeller. Kita saksikan di edisi berikutnya minggu depan adik-adik.

Salam dari Kak Notaslimboy, pengamat ekonomi langsung dari sumber primer.

Dunia yang Terlanjur Begini

Dimulai dengan sebuah anggapan bahwa globalisasi adalah sesuatu yang tidak bisa kita tolak, maka semua harus berpikir global, go international, seperti Agnez Monica. Nggak gaul kalau nggak pegang gadget yang bisa akses informasi sampai luar negeri. Apa yang terjadi di London saat ini, bisa kita ketahui beberapa detik setelahnya. Dulu saya ingat, bahkan tetangga saya bisa taruhan bola untuk sebuah siaran tunda. Sekarang, kita update status “gollll…” telat lima menit saja di twitter atau facebook, akan dibilang basi.

Semua serba cepat. Yang tidak cepat akan dianggap golongan tertinggal, kita merasa iba terhadap mereka, sehingga Internet harus masuk ke pedalaman. Harus, harus, harga mutlak.

Saya kemudian membayangkan sosialisasi Internet ke pedalaman.

“Bapak-bapak, Ibu-ibu sekalian, ini adalah modem. Modem ini bisa menhubungkan kita dengan dunia luar. Apa yang terjadi di London, akan kita bisa ketahui saat ini juga. Ada pertanyaan?”

“Saya, Pak.”

“Silakan..”

“Apa itu London.”

Nah, jangankan mereka merasa penting London itu apa, jangan-jangan London pun mereka tidak tahu atau mungkin tidak perduli. Lalu kita yang lebih tahu berarti lebih beruntung. Tidak juga, tidak ada yang tahu siapa lebih bahagia, tidak ada ukuran dan satuan untuk kebahagiaan. Apakah mega, giga atau tera, tidak ada yang pernah mengukur. Apakah informasi yang ber-tera-tera bytes kita terima dari Internet, TV, radio, dll, itu membuat kita bahagia. Sudahlah jadi terlalu filosofis.

Nah itu juga yang saya mau ungkit. “Sudahlah jadi terlalu filosofis.” Ini adalah ungkapan ketakutan terhadap anggapan masyarakat. Sekarang orang hanya dianggap, dihitung kontribusinya bila berkontribusi dalam ekonomi atau ada hubungannya dengan itu. Sumbangan pemikiran tidak lagi dihargai, jangan-jangan lebih dihargai sumbangan doa saat ini. Padahal ilmuwan-ilmuwan awal adalah para filsuf, yang mempertanyakan dunia, yang berandai-andai, walau mereka juga rata-rata polimatik (silakan search sendiri di wikipedia).

Semua dihitung dengan valuta, mata uang, sampai-sampai kita lupa bahwa mata uang itu karangan manusia, tidak nyata. Sampai-sampai semua barang dibuat di Cina gara-gara biaya produksi lebih murah bahkan setelah ditambah ongkos kirim. Jadilah semua buatan Cina. “God created Adam and Eve, but the other things are made in China.” Gitu kata sebuah broadcast BBM.

Sampai-sampai kita lupa, bahwa “murah” hanya karena valuta, dalam hal ini USD atau EUR. Lebih murah semua dibuat di Cina. Padahal kalau dihitung balik, semua bahan baku diangkut ke Cina, lalu setelah jadi, dipack, dan didistribusikan lagi ke negara-negara lain. Lebih murah secara valuta, tapi dari penggunaan energi? Minyak? Lebih boros dong. Inilah yang menjadi sebab dunia berjalan dalam pemborosan luar biasa. Gara-gara kita terlanjur percaya terhadap valuta. Gara-gara semua ingin go international seperti Agnez.

Dulu (masih di abad 20, tidak terlalu dulu-dulu banget), orang Bekasi ya makan beras dari sawah di Bekasi. Sekarang Bekasi yang disebut jauh itu pun sudah berdiri Suma Recon, wow, kemana tuh sawah. Akhirnya apa? Saat ini “konon” 1 kalori makanan diproduksi dengan 7 kalori energi. Gara-gara apa? Gara-gara kita mengejar valuta dan go international seperti Agnez.

Ah, saya nanti dibully fans Agnez. Harusnya kita lebih betah di rumah lah, bensin tambah mahal. Zaman dulu manusia juga melakukan eksplorasi, tapi itu jadi profesi khusus. Hanya orang-orang seperti Colombus, Vasco da Gama, Marco Polo, dkk, yang melakukan itu. Merekalah the explorer. Sekarang? Yah, jadi pembantu aja pada ke Arab dan Malaysia.

Kenapa harus seperti ini? Sudah terlanjur. Siapa yang bertanggung jawab, ya kita semua. Tapi ibarat orang hamil, tentu ada yang menjadi penyebab, siapa yang menghamili. Saya menunjuk tiga orang, yang bisa dibilang berjasa atau tidak, tapi tiga orang ini adalah penyebab awal keterlanjuran yang berlanjut ini. Satu adalah Adam Smith, kemudian James Watt dan yang terakhir Rockefeller.

Kenapa mereka? Saksikan minggu depan okay. Bersambung nih ceritanya coy.

 

Sammy Not A Slim Boy – pengamat perkembangan dunia segala zaman.