Blogcast Episode 3: Bincang Santai Ilmuwan vs Pelawak tentang Lingkungan

LINGKUNGAN

Sepertinya agung sekali ya memikirkan nasib bangsa ini, ah sebenarnya tidak juga. Terutama soal lingkungan. Kita sedikit maju ketika melangkah dari mewariskan harta dan kemudian condong mewariskan ilmu. Tapi dipikir-pikir, tanpa lingkungan semua percuma. Sumber daya alam habis, lingkungan rusak, harta jelas tidak berarti dan ilmu pun akhirnya hanya dipakai untuk bertahan dari bencana, tidaklah nikmat, setiap hari memikirkan bagaimana untuk survive.

Kali ini saya berbincang dengan seorang ilmuwan, peneliti, aktivis yang juga peduli lingkungan. Beliau mengaku bahwa keberadaan seniman – pelawak – perlu untuk menjelaskan rangkaian pengetahuan yang terlalu mendetil dan njlimet. Di sisi lain saya pun tergugah mengetahui jauh lebih dalam soal lingkungan.

Beliau sedang berada di Tokyo, namun teknologi menyambungkan kami. Lewat Skype – bukan sponsor – kami berbincang tentang lingkungan dan sedikit ngalor-ngidul. Karena bukan saya kalau tanpa ngalor-ngidul. Yang jelas kami berdua menjalankan aktivitas pagi ke sore dengan menjalankan kewajiban kami masing-masing, sebagai profesional di bidang kami masing-masing, mencari nafkah, tapi malamnya sungguh sebuah keberuntungan kami bisa berdiskusi dan saling memperkaya gagasan.

Seperti kata seseorang – yang tak perlu saya kutip karena nanti saya dituduh yang bukan-bukan. Pagi berburu, siang memancing lalu malamnya jangan lupa, berfilsafat. Silakan di-googling kalau memang dapat.

Mari, kita hubungi Pak Marco Kusumawijaya di Tokyo, Jepang.

Management Program: Sistem yang Memperparah Pendidikan Kita

Hallo, bertegur sapa dulu sejenak dengan pengikut setia blog notaslimboy.com. Mohon maaf jarang sekali saya – Notaslimboy – update di sini. Untung ada beberapa kontributor yang setia mengisi kolom di blog ini. Saya sebenarnya tetap aktif berkontribusi dalam bentuk pemikiran – walaupun pemikiran gak penting – dalam bentuk video. Silakan click di sini untuk subscribe kanal youtube saya.

Okay to the point.

Apa itu Management Program yang saya maksud? Ini adalah program perekrutan level middle management untuk kemudian diproyeksikan menjadi pimpinan perusahaan di waktu ke depan. Sistem pendidikan kita sudah cukup parah, tidak usah dibahas di sini, dan sistem yang dibuat perusahaan-peruasahaan besar ini memperparah keadaannya. Melalui sistem ini perusahaan merekrut lulusan-lulusan terbaik dari banyak universitas terkemuka, lintas disiplin, yang penting memenuhi standard IPK tertentu. Artinya perusahaan tidak membutuhkan kualifikasi ilmu dari fresh graduated ini, yang penting IPK tinggi, berarti mereka cukup cerdas. Ilmu tidak penting, karena program ini akan memberikan ilmu “cepat” untuk menjadi ahli di bidang tertentu. Kebanyakan dipraktikan oleh dunia perbankan, tapi tidak sedikit industri lain juga melakukan ini. Tak heran lulusan teknik dari ITB, UI, UGM bekerja di bank atau menjadi kepala cabang distribusi merk otomotif tertentu.

Ilmu mereka yang dipelajari di masa kuliah, soal fisika quantum, soal keseimbangan kimia, soal integral lipat lima, soal pendekatan numerik dan aljabar, dihapus dengan kursus kilat 6 sampai 12 bulan di management program. Mereka tiba-tiba menjadi pakar “perbankan” atau bahkan pakar jual beli mobil yang sangat pakar melobby credit analyst bagaimana supaya penjualan mobil di cabang mereka meningkat. Miris? Nggak tahu juga sih.

Siapa yang salah? Sepintar-pintarnya mereka, mereka adalah fresh graduated yang butuh dapat kerja cepat dan ingin segera berpenghasilan, membahagiakan orang tua, cepat nikah. Maka tidak ada pilihan. Saat mereka di level middle management atau lebih tinggi lagi, mungkin mereka sadar, tapi mungkin – atau bahkan hampir pasti – mereka sudah terjebak dalam comfort zone, yang sebenarnya nggak comfort-comfort amat. Hanya comfort dari sisi ekonomi mungkin, tapi aspek kehidupan apakah cuman ini? Mungkin manusia sekarang hanya menganggap kesuksesan hanya dari sisi ekonomi. Disertasi, wacana, hipotesa, dianggap hanya isapan jempol, tanpa menghasilkan real money. Padahal sekarang terbukti, bahwa real money di satu sisi, ternyata berdampak pada kerusakan di sisi lain yang jauh lebih besar, bahkan ditinjau dari sisi ekonomi. Penjualan otomotif, menghasilkan kemacetan dan pemborosan energi, polusi, kredit macet, dll. Itu baru satu sisi.

Siapa insinyur yang idealis? Dialah “Si Doel”, yang tidak mau kerja di bank, maunya kerja sesuai dengan disiplin ilmu yang dipelajari. Apakah dia anak ITB, UI, UGM, ITS? Bukan, dia anak Universitas Pancasila. Dan apakah dia masih ada? Dia itu tokoh fiktif, bahkan pemerannya sendiri sekarang sudah terjun ke dunia politik. 🙂

Siapa yang salah? Tidak usah ditunjuk, tapi yang jelas sistem ini salah. Mari kita perbaiki. Dimulai dari Dikti dan Dikbud 🙂

Saya sendiri, lulusan ITB, memang jadi pelawak. Tapi itu hanya sebagian kontribusi saya. Secara sadar saya membangun bisnis kecil supaya ilmu saya di ITB tidak terbuang percuma. Tidak usah diceritakan di sini, nanti jadi riya. Tapi boleh deh capture sedikit

Screen Shot 2016-04-30 at 9.28.13 PM

Bisa Tumbuh Lagi?

Pernyataan bahwa yang namanya pembakaran hutan bukan merupakan pencemaran atau merusakkan hutan karena pohon yang dibakar bisa tumbuh lagi adalah sebuah pernyataan yang luar biasa jenius, cerdas dan intelek (awal kalimat ini memang sengaja disampaikan dengan gaya bahasa yang satir dengan menggunakan majas ironi dimana makna yang dimaksud bertolak belakang dengan apa yang ditulis.

Atau mungkin memang rakyat Indonesia yang terlalu sibuk membahas martabaknya Gibran, sehingga tidak mengetahui bahwa mungkin saja dalam undang-undang sudah diupdate bahwa yang namanya pembakaran hutan bukan sebuah pelanggaran hukum? Tolong saya.diberitahu jika perubahan itu memang ada. Tapi ah tidak mungkin rasanya.

Atau mungkin kita yang waras perlu mengalah dan bersepakat bahwa pembakaran hutan bukan sebuah pelanggaran.

Hukum itu katanya memang buta. Matanya ditutup selembar kain sembari memikul kedua timbangan sama tingginya. Sekali lagi tolong saya dikoreksi kalau saya salah. Yang dimaksud dengan hukum itu buta adalah hukum tidak memihak kepada siapapun karena semua dianggap setara dalam hukum. Bukan buta karena tidak bisa melihat aturan mana yang jelas-jelas dilanggar. Bukan buta karena silau (ah, jadi berburuk sangka).

Keputusan tersebut bisa menimbulkan preseden atau menjadi yurisprudensi bahwa hal tersebut bila dilakukan oleh pihak lain, maka tidak akan dihukum.

Tapi kalaupun itu tidak melanggar hukum, tidakkah hakim itu melihat bahwa pembakaran hutan menimbulkan dampak yang bisa merugikan negara. Coba dihitung berapa banyak anak sekolah dan mahasiswa yang terpaksa harus diliburkan? Masa depan generasi penerus bangsa itu yang sedang anda pertaruhkan dengan keputusan anda yang absurd.  Coba dihitung pasar, minimarket, mall dan pusat perbelanjaan yang ditutup? Berapa banyak pedagang tidak bisa berdagang? Berapa perputaran keuangan yang seharusnya bisa menggerakkan perekonomian diwilayah yang terkena asap yang seharusnya bisa berputar? Berapa banyak orang-orang yang dibawa kerumah sakit gara-gara asap? Berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan pemerintah untuk bisa menghilangkan asap?

Jangan bilang itu semua tidak bisa dihitung. Itu semua adalah kerugian negara. Kerugian masyarakat. Kerugian masa depan yang mungkin saja akan terjadi.

Pohon bisa tumbuh lagi? Anak SD juga tahu karena diajari oleh guru biologinya.

Bangunlah Jiwanya (Baru) Bangunlah Badannya

Sepenggal kalimat yang begitu syahdu dan begitu dalam maknanya terdapat dalam untaian lagu Indonesia Raya yang diciptakan oleh WR Supratman menjadi sebuah petunjuk bagi kita semua. Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. Jika kita melihat konteks jiwa menjadi lebih dahulu daripada badannya. Ini menandakan sebelum kita membangun “badan” atau “raga” yang perlu dibangun terlebih dahulu adalah membangun “jiwa”.

Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah apakah “jiwa” yang dimaksud oleh WR Supratman sebagai pencipta lagu. Kemudian, yang juga patut dipertanyakan, adalah konteks kekinian dari lagu tersebut. Lagu tersebut diciptakan pada tahun 1928 dan ditahbiskan menjadi lagu nasional pada tahun 1945. Jika kita melihat konteks lagu tersebut diciptakan, kita akan melihat relevansinya bahwa pada saat itu, adalah masa-masa untuk mengisi kemerdekaan dengan pembangunan. Kini disaat pembangunan sudah kita lihat hasilnya, menjadi relevankah untuk membangun “jiwa” dari bangsa Indonesia?

Ucapan Soekarno sebagai Presiden pertama negeri ini “Aku tinggalkan Kekayaan alam Indonesia, biar semua negara besar dunia iri dengan Indonesia, dan aku tinggalkan hingga bangsa Indonesia sendiri yang mengolahnya” menjadi menemukan relevansinya disini. Aku tinggalkan hingga bangsa Indonesia sendiri yang mengolahnya. Hal ini menekankan kepada pentingnya kemampuan sumber daya manusia Indonesia sebelum mengolahnya. Orang lebih penting. Jiwa di dahulukan dari badannya.

Tapi ketika kita dihajar oleh realita yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, kita menjadi tertegun kemudian hendaknya berpikir, apakah ada yang salah dengan “jiwa” Indonesia. Korupsi terjadi dimana-mana, kesewenang-wenangan begitu gamblang di depan mata. Salah satu contoh terkini adalah insiden konvoi moge di Yogyakarta yang mendapatkan pengecualian untuk bebas menerobos lampu merah dalam rangka dan atas nama merayakan HUT RI ke 70.

Jika konteks “jiwa” yang dimaksud oleh WR. Supratman sebagai orang-orang Indonesia, barangkali kita akan tergeleng-geleng kepala terhadap 12 karakteristik manusia Indonesia yang diusung oleh Mochtar Lubis pada tahun 1978 atau 1979. Orang Indonesia –oleh Mochtar Lubis- dianggap munafik, tidak mau bertanggung jawab, berjiwa feodal, percaya takhayul, memiliki watak yang lemah, pemboros, tidak suka bekerja keras, cemburu dan dengki, dan berbagai sifat lainnya. Kita menjadi bertanya, apakah memang “jiwa” Indonesia memang sudah sedemikian rupa adanya dan karenanya WR Supratman melalui lagu Indonesia Raya memberikan sebuah “peringatan” untuk masa depan Indonesia, agar siapapun yang memimpin Indonesia terlebih dahulu membenahi “jiwa” Indonesia?

Terhina !

Jika ada seseorang secara tiba-tiba mengatakan bahwa anda goblok dan tolol tidak ketulungan, apakah anda akan marah? Bisa jadi anda akan marah lalu kemudian menempeleng orang tersebut sebagai respon balasan atas hinaan yang ditujukan kepada anda. Bisa jadi anda cuma akan diam lalu menangis. Apapun yang anda lakukan, atau katakan sebagai balasan dari hinaan yang ditujukan kepada anda, adalah sebuah respon yang sepenuhnya menjadi hak anda. Namun kemudian ketika anda dikatakan tidak dewasa karena respon yang anda berikan, itu menjadi hak orang lain, bukan hak anda.

Atau jika anda mau sedikit lebay, barangkali anda bisa mengajukan perkara pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan kepada orang yang mengatakan bahwa anda adalah orang yang goblok dan ketololan anda sudah tidak bisa disembuhkan lagi. Atau jika anda mau bersikap bijak dan dewasa, anda mungkin bisa melakukan introspeksi diri dan mencerna makna dari hinaan orang. Apakah tersirat atau tersurat. Apakah ucapan itu sebagai sebuah sindiran, atau sebagai sebuah hinaan. Barangkali yang dimaksudkan anda adalah orang goblok adalah bahwa anda hanyalah tidak pintar. Tidak pintar sama goblok itu mau diartikan berbeda, ya terserah anda.

Kemudian, anda pun bisa menyelami diri anda, dan mempertanyakan kepada diri anda sendiri, apakah benar bahwa anda memang goblok dan tolol tidak ketulungan. Jika anda bebal, dan punya penyangkalan diri yang cukup kuat, anda mungkin akan mengatakan bahwa anda tidak goblok, meskipun dijejali data dan fakta yang menyimpulkan hal yang berbeda. Jika anda adalah orang yang minder, mungkin anda akan menyatakan bahwa anda adalah orang yang goblok meskipun titel akademis anda berjejer. Namun untuk itu pastikan dulu titel yang melekat pada nama anda adalah titel-titel yang umum seperti SE, SH, MM, MBA (Magister Business Adminstration, bukan Married By Accident) dan bukannya titel ALM.

Anda boleh marah, boleh merasa tersinggung jika dihina, namun tentu perlu ada perbedaan yang jelas antara menghina dengan mengkritik. Menghina lebih kepada unsur menyerang emosi, sedangkan mengkritik lebih memiliki tujuan yang membangun. Untuk diskusi, untuk saling melontarkan pendapat. Dalam prakteknya kadang menghina dan mengkritik beda-beda tipis. Contoh, label orang goblok memang sangat menyakitkan, namun jika anda punya perspektif yang positif, label orang goblok bisa menjadi sebuah kritik atas ketidakmampuan otak anda dalam menyerap, menganalisa, memaknai hal-hal yang biasanya lazim mampu dilakukan oleh orang lain. Label orang goblok sebagai kritik yang dapat mendorong anda untuk melakukan upaya-upaya yang dapat meningkatkan kemampuan anda.

Memang butuh kemampuan mental yang mumpuni untuk dapat membedakan hinaan dan kritik secara jelas dan tegas.

Jumlah Kecelakaan : Ketika Nyawa Manusia Menjadi Angka

Mudik Pakai Pesawat

Mudik Pakai Pesawat

Saya selalu miris ketika membaca pernyataan pada setiap tahunnya jumlah kecelakaan dan korban meninggal terus menurun. Dalam mudik tahun 2015, jumlah kecelakaan dengan korban yang meninggal pada periode H-7 hingga H+7 menurun menjadi 657 orang jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 714 orang*.

Pencapaian tersebut tentu harus diapresiasi dengan sebaik-baiknya, terutama kepada aparat kepolisian yang telah bekerja dengan sebaik mungkin. Bahkan banyak diantara para petugas kepolisian yang mengorbankan hari raya idul fitri bertemu dengan keluarga untuk bertugas. Penurunan angka kecelakaan ini bisa jadi menandakan kesadaran yang semakin meningkat dari para pemudik sebagai pengguna jalan raya.

Memang, jika kita membicarakan soal nyawa manusia, elemen peran Tuhan sangatlah signifikan dalam hal ini, dan menjadi sebuah hal yang menentukan. Ibaratnya, sebagus apapun manusia merencanakan, Tuhanlah yang menentukan. Ini bukanlah sebuah hal yang perlu dikritisi.

Dari sisi perencanaan aktivitas mudik, tentu begitu banyak yang terlibat, bukan cuma kepolisian dan masyarakat saja yang berpartisipasi dalam aktivitas mudik ini. Pemerintah lokal, perusahaan penyedia jasa transportasi, bahkan korporasi-korporasi yang relatif tidak terkait juga memanfaatkan momen mudik sebagai sarana promosi atau sebagai momentum corporate social responsibility.

Ada banyak tahapan dan aktivitas yang dilakukan terkait mudik. Sosialisasi dan komunikasi yang dilakukan sebagai bentuk persiapan untuk mudik yang lancar. Iklan layanan masyarakat untuk memberikan himbauan mengenai apa yang harus dipersiapkan oleh para pemudik dari berbagai segmen kalangan rutin lalu lalang saban menjelang hari raya. Para pemudik khususnya yang menggunakan kendaraan pribadi dianjurkan untuk melakukan pengecekan dan servis sebelum mudik. Bagi pemudik yang menggunakan transportasi umum, dianjurkan untuk melakukan pemesanan lebih awal untuk memastikan mendapat tiket.

Perusahaan-perusahaan penyedia jasa transportasi baik udara, laut dan darat melakukan persiapan-persiapan untuk memastikan layanan yang sebaik-baiknya kepada para pemudik. Menambah kapasitas dengan melakukan penambahan jumlah armada, loket, jumlah tenaga yang memberikan pelayanan kepada para pemudik. Perusahaan yang tidak terkait pun tidak mau ketinggalan dalam momen mudik ini. Ada yang mendirikan posko layanan gratis lengkap dengan promosi produk dan layanan yang disediakan. Ada yang membuat acara mudik bareng. Momen mudik, karenanya selain dianggap sebagai momen perpindahan jutaan orang dari satu tempat ke tempat lain secara massal, juga menjadi momen perputaran uang ke berbagai daerah lainnya.

Momen mudik, dari berbagai perspektif tersebut, menawarkan banyak keuntungan dan juga memiliki banyak risiko. Seiring dengan begitu banyaknya jumlah orang yang terlibat, jumlah perputaran uang yang beredar, dalam satu kurun waktu, dalam satu tempat pada berbagai lokasi yang terjadi secara bersamaan, adalah sebuah potensi risiko yang sangat besar. Risiko keselamatan manusia pada khususnya.

Memang jika dilihat dari perspektif statistikal semata, kita bisa melihat adanya perbaikan jika dibandingkan dengan tahun lalu. Namun saya masih melihatnya sebagai suatu hal yang miris. 657 orang yang meninggal dalam kurun waktu 14 hari menandakan ada 46-47 orang meninggal dalam 1 hari di seluruh Indonesia selama mudik tersebut. Kecelakan lalu lintas adalah hal yang mengerikan. Bahkan kecelakaan lalu lintas menjadi pembunuh terbesar ketiga di Indonesia setelah penyakit jantung koroner dan TBC.*

Namun jika kita melihat dari perspektif manusia, kita tentu menyayangkan ada 47 orang meninggal setiap harinya karena kecelakaan manusia. Demi Tuhan, mereka yang meninggal bukan hanya sekedar angka. Mereka adalah makhluk bernyawa, yang bisa jadi adalah orang tua anda, anak anda, suami anda, istri anda, orang-orang yang anda sayangi dan dekat di hati anda.

Jelas, masih ada yang salah dalam penanganan mudik ini. Target zero accident memang sepertinya masih dianggap mustahil, tapi apakah rasio 47 orang meninggal adalah tingkat yang masih bisa ditolerir? Menurut saya tidak. Motif ekonomi bisa menjadi alasan yang menyebabkan terjadinya miss management. Karena momen mudik, terjadi peningkatan permintaan jumlah tiket, jadi mengabaikan faktor keselamatan misalnya. Semoga ini menjadi kecurigaan saya semata. Semoga tahun depan, mudik tidak sampai menimbulkan korban jiwa.

Mur dan Baut

Sejenis adalah satu jenis. Mur dan baut adalah berbeda jenis. Karenanya mur dan baut bersifat saling melengkapi. Mur adalah pelat logam yang biasanya berbentuk segi enam atau segi empat yang mempunyai lubang berulir sekrup untuk menguatkan baut. Sedangkan baut adalah besi batangan yang berulir (untuk menyambung atau mengikat dua benda), biasanya dipasangkan dengan mur. Definisi dari baut dan mur tersebut sungguh menunjukkan keterkaitan yang sangat erat antara mur dan baut. Baut di colokkan kedalam mur.

Bagaimana bila mur di colokkan dengan sesama mur. Ya tidak akan bisa terkait, cuma bisa saling bergesek-gesakan saja. Begitu pula dengan baut bila dikaitkan dengan sesama baut. Ya tidak akan bisa terkait, cuma terlihat seperti adu tusuk-tusukan. Yang memang pas adalah mur dengan baut, bukan mur dengan mur dan bukan baut dengan baut. Sejenis membuat sebuah barang tidak bisa berfungsi dengan layak. Mur tak bisa di colok tanpa baut. Baut tak bisa mencolok tanpa mur.

Lalu kemudian bagaimana bila beredar baut kw, yang terbuat dari plastik, bukannya dari besi batangan. Ya tetap saja tidak akan membuat mur dicolok sebaik oleh baut ori. Hanya unsur rasanya saja yang terpenuhi, namun unsur fungsinya menjadi terabaikan begitu saja. Dipilin-pilin di pulir lalu di pelintir, tetap saja tidak akan membuat baut kw itu sebaik baut ori. Akhirnya penggunaan baut kw dilarang, dan mur tidak boleh di gesek-gesekkan oleh sesama mur. Mur harus di pasangkan dengan baut.

Sepanjang sejarah, kendati sudah dilarang oleh pencipta mur dan baut, mur yang senang di gesek-gesekkan dengan sesama mur, dan para baut yang senang saling beradu di hancurkan oleh penciptanya dalam berbagai kesempatan. Tapi hal ini tetap saja membuat sesama mur sejenis dan sesama baut sejenis tidak kapok-kapok, bahkan kemudian mendeklarasikan sejenis. Rasa lebih penting daripada fungsi. Padahal sang pencipta sudah jelas-jelas menciptakan mur dan baut untuk saling terkait.

Disebuah negara, sejenis mur dan sejenis baut di perbolehkan untuk saling terkait dan saling menggesek-gesekkan. Mungkin sang pencipta sudah kadung muak dengan apa yang terjadi di negara itu sehingga masa bodoh dengan apa yang akan terjadi dengan mur dan bautnya. Sementara itu di sebuah negeri yang katanya menekankan pada indahnya peraturan yang hakiki, bahwa mur hanya boleh terkait oleh baut, ada seorang artis yang luar biasa jeniusnya menyampaikan dukungannya terhadap sejenis mur dan sejenis baut dan mengatakan bahwa mur dengan mur dan baut dengan baut adalah sebuah hal yang harus dibanggakan.

Mungkin artis itu belum pernah merasakan baut yang ori. Mungkin ia senang dengan mur dan karenanya baru pernah mencoba baut yang kw yang mungkin terbuat dari plastik. Barangkali ada yang mau sukarela memberikan artis itu baut ori?