Mana Yang Lebih Rendah?

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan Lokalisasi Prostitusi yang dimuat beberapa hari yang lalu di blog ini. Sebelumnya marilah kita beranggap bahwa yang menulis tulisan ini, pemilik blog ini dan yang membaca blog ini adalah makhluk-makhluk suci yang menolak keras terhadap prostitusi. Ini tentu saja karena kita mengacu pada perspektif agama. Agama manapun pasti akan melarang prostitusi dan melabeli prostitusi sebagai dosa. Kalau sudah bicara dosa, biasanya kita diam. Tak berkata apa-apa tapi tetap melakukannya.

Tapi bicara prostitusi katanya juga tidak bisa lepas dari perspektif ekonomi. Dimana para pelaku prostitusi biasanya terjerumus dalam dunia ini karena faktor ekonomi, atau ketidakmampuan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kalau begitu, dengan memandang bahwa Pemerintah memiliki peran yang kuat dalam mendukung perekonomian masyarakat, maka jika sampai ada rakyat yang tidak mampu secara ekonomi, maka Pemerintah yang salah. Dan karena rakyat yang tidak mampu secara ekonomi itu ada yang melarikan diri ke lubang hitam prostitusi, maka adanya prostitusi adalah salahnya pemerintah?

Atau mau kita bicarakan prostitusi dari perspektif sosial budaya? Dengan sosial budaya kita yang cenderung menampilkan hedonitas dan materialitas melalui berbagai liputan pemberitaan yang selalu menampilkan glamoritas dari selebriti, para pejabat publik yang tentu menggoda siapapun untuk mau hidup enak, hidup mewah tanpa bersusah payah. Akhirnya mereka yang mau hidup enak, hidup mewah seringkali terjerumus dalam prostitusi. Mungkin inilah yang melatarbelakangi bermunculannya ayam kampus atau asli artis yang berharga puluhan juta. Belum lagi bermunculannya pornografi yang semakin tak terbendung juga memunculkan permasalahan lagi. Pornografi memancing otak-otak yang kotor untuk melakukan yang tidak-tidak tapi enak.

Dan karena yang tidak-tidak tapi enak (kalau belum sah dan belum boleh melakukan itu) merupakan nafsu paling primordial dalam aspek biologis manusia, maka bisa jadi prostitusi semakin menjadi karena adanya pornografi. Atau mungkinkah ini karena adanya godaan setan?

Sejumlah perspektif ini lalu membuat kita menjadi bertanya, mungkinkah prostitusi ini bisa hilang. Kalau melihat dari perspektif agama, ya maka kita harus menjadi makhluk yang suci yang tidak boleh tergoda oleh godaan setan dan nafsu paling primordial sekalipun. Kalau melihat dari perspektif ekonomi, ya maka negara ini harus membuat semuanya menjadi orang kaya sehingga tidak berpikir untuk menceburkan diri ke lubang prostitusi. Kalau melihat dari perspektif sosial budaya, maka semua rakyat di negara kita harus hidup sederhana, tidak memamerkan harta pribadi apalagi harta hasil korupsi sehingga tidak ada orang yang tergoda untuk menjajakan tubuhnya. Langkah ini ditambah lagi dengan memastikan tidak ada konten pornografi dalam bentuk apapun.

Kalau dilihat dari perspektif biologis nafsu primordialisme paling mendasar dari manusia, maka untuk memastikan tidak timbulnya prostitusi adalah melakukan genocide besar-besaran di dunia. Pemusnahan masal manusia.

Mungkinkah? Ya jelas tidak mungkin. Masa anda sebagai makhluk suci (dengan asumsi awal tulisan ini bahwa yang menulis tulisan ini, pemilik blog ini dan yang membaca blog ini adalah makhluk-makhluk suci) mau dimusnahkan begitu saja oleh orang-orang pengguna jasa prostitusi?

Lalu kalau begitu buat apa kita meributkan prostitusi? Toh yang mereka jual adalah badan mereka sendiri. Bagaimana dengan para politisi yang korup, yang memprostitusikan kepercayaan masyarakat demi keuntungan mereka sendiri. Yang menjadi pertanyaan, mana yang lebih rendah?

Advertisements

Lokalisasi Prostitusi

Bicara mengenai prostitusi akan selalu seru-seru sedap. Isu yang sensitif karena mendobrak norma sosial dan agama sekaligus. Coba anda para pengguna jasa prostitusi jika ditanyakan mengenai prostitusi, apa iya anda akan mendukung? Pasti anda akan menentang habis-habisan, sekurang-kurangnya mencoba menanamkan pencitraan kepada orang disekeliling anda, bahwa anda anti prostitusi, atau minimal belum pernah menggunakan jasa prostitusi. Apa anda mau di bilang orang bejat?

Prostitusi seperti yang kita tahu sudah ada dari jaman dulu, dan menjadi ramai gara-gara terbunuhnya seorang wanita PSK oleh seorang guru bimbel cuma gara-gara bau. Mas, Bau Mas ! Terus dibunuh begitu saja. Menjadi semakin ramai ketika Pak Ahok mewacanakan lokalisasi PSK. Isu itu ditentang habis-habisan oleh mereka yang mengatasnamakan agama. Kata mereka, itu sama saja dengan membenarkan bahwa prostitusi itu ada. Melegalkan dan membolehkan prostitusi ada.

Jika bicara legalisasi prostitusi, cukup heran bahwa diskotik-diskotik ataupun klub-klub malam itu bisa berdiri megah, kokoh dan berwibawa di samping kantor aparat penegak hukum ya?

Memang, bila kita melihat dari perspektif agama, jelas prostitusi sangat dilarang dan praktek prostitusi tidak boleh ada di muka bumi ini. Tapi sudah kadung ada. Yang mendukungnya, mungkin bisa melihat dari perspektif sosial dan budaya yang memandang prostitusi, baik para pelakunya ataupun para pengguna jasa prostitusi adalah sumber penyakit. Dan seperti virus, sumber penyakit itu harus di karantina atau dalam hal ini dil okalisasi agar tidak menyebar kemana-mana. Para pengguna jasa prostitusi pun protes, semakin sulit mencari tempat prostitusi sekarang. Bukannya lebih mudah, tinggal datang saja ke lokalisasi. Perspektif sosial dan budaya juga mengedepankan wanita menjadi korban sehingga terpaksa berkecimpung di industri prostitusi.

Yang juga jadi permasalahan adalah lokalisasi ini mau ditaruh dimana? Di pulau seribu? Memangnya pulau seribu itu sampah? Mungkin begitu kata warga pulau seribu kalau mendengar lokalisasi prostitusi mau di taruh di pulau seribu. Rencana lokalisasi ini pun sebenarnya sudah ada sejak jaman dulu, maka ide Pak Ahok ini bukanlah barang baru sebenarnya. Pak Ahok adalah Gubernur kedua yang mencetuskan ide tersebut.

Ada juga yang menggali permasalahan ini lebih dalam lagi dengan menggunakan perspektif ekonomi. Kata mereka-mereka yang mempergunakan perspektif ekonomi mengatakan bahwa akar dari prostitusi adalah kesulitan ekonomi yang menimpa kebanyakan masyarakat sehingga terpaksa harus menjual diri dan menceburkan diri di prostitusi. Dari sisi lain dengan tetap mengedepankan perspektif ekonomi, ada yang mengatakan bahwa lokalisasi akan memberikan pendapatan kepada Pemerintah dan juga mungkin para pebisnis yang tertarik berpartisipasi dalam industri prostitusi ini nantinya jika sudah dilokalisasi. Misalnya developer yang membangun hotel, ataupun usaha-usaha lainnya. Entahlah. Saya percaya akan selalu ada motif ekonomi dalam setiap apapun keputusan manusia, termasuk pejabat. Kok saya jadi mencium skema busuk didorongnya lokalisasi ini ya?

Mas, Bau Mas!

Akhir Maret lalu, komedian Olga Syahputra meninggal dunia. Tak lama setelah kabar tersebut beredar, ucapan belasungkawa datang dari berbagai kalangan mengalir di linimasa Twitter. Dari fans Olga garis keras sampai haters macam Farhat Abbas. Mereka serempak mendoakan Olga agar diterima di sisi-Nya dan menenangkan agar keluarga yang ditinggalkan ikhlas. Tapi kalau dipikir-pikir, bagaimana mau ikhlas kalau setelah kepergian Olga, banyak stasiun tv yang terus-terusan menayangkan acara yang melibatkan Olga di dalamnya. Paling jelas dilakukan Trans TV yang “memanfaatkan” Olga untuk membangkitkan kembali YKS yang telah lama punah, dengan embel-embel “mengenang Olga”.

Para netizen banyak yang mendoakan karena melihat sosok Olga sebagai seorang pekerja keras, dermawan dan cinta keluarga walaupun kadang-kadang ucapannya membuat sakit hati lawan aktingnya.

Sabtu, 11 April 2015, linimasa juga mengiringi kepergian Deudeuh Alfisahrin alias Tata Chubby dengan ungkapan belasungkawa. Deudeuh yang bekerja sebagai penjaja birahi tewas dibunuh pelanggannya yang berinisial MRS. Namun, berbeda dengan Olga, reaksi netizen terbagi dua dalam menanggapi berita duka ini. Yang pro beralasan, sudahlah orang yang sudah meninggal tak usah diungkit-ungkit kesalahannya, masa lalunya. Tapi tak sedikit yang mencibir karena profesi yang dijalani Deudeuh dianggap tabu….tapi layak untuk diperbincangkan. Ada juga yang sedih karena kehilangan salah satu aset dunia prostitusi. Hayo siapa yang kehilangan. Hehehe.

Deudeuh tewas dengan kondisi leher dijerat kabel dan mulut tersumpal kaos kaki. Oh iya satu lagi, tanpa busana.  Pelaku, M. Rio Santoso, maaf maksud saya pria berinisial MRS tega menghabisi nyawa “pasangannya” karena tidak terima dengan kejujuran Deudeuh yang menyebut dirinya memiliki aroma tubuh berbeda dengan kebanyakan orang (baca=BAU).

Yang membuat saya kaget adalah saat membaca berita tentang latar belakang pelaku. Sempat berkuliah di IPB(walaupun tidak tamat), berprofesi sebagai guru privat dan di usia muda sudah memutuskan menikah dengan alasan takut zina. Tapi ternyata kecerdasan dan keimanan tak bisa berkutik kalau nafsu sudah berkehendak. Kalau kata peribahasa, diam-diam menghanyutkan. Versi Sundanya, cicing-cicing ngeleyed.

Buat saya pribadi, diluar profesinya sebagai penjaja birahi, saya iba saat melihat berita kematian Tata Chubby. Dari sisi kemanusiaan, iba karena dia tewas akibat disumpal kaos kaki pelaku yang dimana badannya aja bau, berarti kaki dan otomatis kaos kakinya ya bau juga. Lalu dari sisi kepuasan berhubungan itu sendiri, iba karena dia kehilangan nyawa sebelum orgasme datang. Yang terakhir, jika dilihat dari kacamata agama, iba karena alih-alih berucap laailahailallah, Deudeuh mungkin meregang nyawa dengan racauan uuh..aah..uuh..aah.

Pengumuman: Kesempatan Menjadi Kontributor di notaslimboy.com

Dear all bloggers,

Gua membuka kesempatan, atau lebih tepatnya tawaran, karena mungkin gua juga nggak terkenal-terkenal banget, untuk elo menjadi contributor content di blog notaslimboy.com ini.

Blog gua ini sempat terbengkalai, tapi setelah gua dan si samdputra manage dengan lebih intens, trafficnya naik terus. Blog ini juga lumayan jadi patokan untuk untuk current issue di Indonesia, yang sifatnya opini, bukan data dan informasi. Soal kenaikan BBM dan gonjang-ganjing KPK vs POLRI yang terakhir hitnya cukup tinggi. Content blog ini juga beberapa kali direpost oleh blogger lain. Gua sendiri mendapat tawaran menulis dari beberapa portal berita dan terakhir memiliki kolom sendiri di Detik Male Magazine setelah mereka melihat tulisan di blog ini. Mereka melirik gua bukan gua sebagai standup comedian di TV sebagai blogger.

Sudah jelas nanti contributor yang ikut ngisi di sini akan dimoderasi sama gua dan samdputra. Gua akan invite contributor yang terpilih untuk punya role sebagai contributor di wp-admin blog ini.

Artinya kalau elo pede bahwa tulisan elo bagus, hanya kurang ekspos aja selama ini, mudah-mudahan ini bisa jadi pintu supaya pendapat lo dapat exposure lebih dari bloggers yang aktif mencari di blog gua dan juga followers twitter gua.

Sebagai contributor, nama dan profil elo dicantumkan, sehingga terlihat kontribusi elo di blog ini.

Apa syaratnya:

1. Sudah punya blog, gua syaratkan yang pakai wordpress, jadi nggak susah lagi belajarnya. Kalau belum punya, elo buat aja, dan transfer content dari blog lo ke wordpress, gampang kok.
2. Content yang ditulis nanti tentunya yang sesuai dengan concern blog ini, kritik dan opini soal sosial dan politik, terutama di Indonesia. Tidak perlu yang current issue, bisa membahas isu lama, dengan opini yang original. Hal ini malah lebih disukai, karena ini bukan portal berita yang modal utamanya adalah adu cepat. Ini adalah blog opini dengan argumen yang kuat. Jadi konstributor harus siap kalau nanti opininya diserang.
3. Post yang ditayangkan di blog ini tidak direpost lagi di blog elo. Elo bisa juga pakai post lama elo, tapi keberadaan post tersebut di blog asal harus dihilangkan, dan copy paste ke blog ini.

Cara mendaftar dan proses:

1. Kirim email ke therealnotaslimboy@gmail.com
Subject: contributor blog
Body:
Nama lengkap, alamat blog, nama user wordpress

2. Kami akan meninjau blog elo dan melakukan konfirmasi bahwa itu memang blog punya elo. Setelah itu bila memang kami lihat isinya seseusai dengan concern blog ini, user wordpress lo akan kami invite menjadi contributor di blog kami dan elo akan langsung bisa nulis post untuk kami moderasi dan publish.
3. Tidak ada target jumlah tulisan per minggu harus berapa, sambil jalan saja. Tapi kalau mandeg terus, ya bisa juga nanti disuspend dulu. Elo bahkan bisa pakai post lama lo di blog lo sekarang, karena kami yakin tulisan yang bagus pasti tetap bisa dipublish kapanpun, tidak terlalu bergantung moment.
4. Tidak ada profit apapun yang kami tawarkan, tapi mudah-mudahan opini lo bisa dapat exposure lebih dari blog ini.

Dalam jangka menengah/panjang, bukan tidak mungkin elo akan punya subdomain sendiri bila kontribusi elo mantap banget. Dan dengan ini mungkin kesempatan untuk menjadi kolumnis di media mainstream lebih terbuka.

Regards,
Sammy Not A Slim Boy

Calon Legislatif

Di sebuah lobby hotel.

“Hey, David ya?”

“Iya, Aduh pangling, Henry ya?”

“Hahahaha, lama kita tidak jumpa ya? Sejak lulus kuliah dul, udah berapa tahun ya?”

“Sudah lama sekali yang jelas aku lulus duluan, kau kelamaan kuliah, kebanyakan demo kan?”

“Hahahaha, iya, bisa aja kau Vid.”

“Duduk dulu lah di sini, tidak buru-buru kan? Mari kupesankan minuman buat kau.”

Okay, masih ada waktu satu jam untuk ngobrol-ngobrol.”

David segera memberi kode kepada pelayan tanda akan memesan sesuatu.

Pelayan segera datang.

“Mbak, coba tanya Bapak ini mau pesan minum apa?” Kata David pada pelayan itu.

“Maaf Pak mau pesan apa?” Seraya menyodorkan buku menu.

Orang yang menyapa David tadi – bernama Henry – mulai membuka-buka buku menu yang disodorkan oleh pelayan tadi.

Okay saya pesan satu hot tea saja.”

“Mau yang apa pak hot tea nya?”

English breakfast saja.”

“Baik Pak,” kata pelayan itu, lalu pergi untuk menyiapkan pesanan Henry tadi.

“Gimana nih kabarnya Vid?” Kata Henry lagi.

“Baik saja Hen, kau bagaimana?”

“Kabarku baik. Aku menginap di hotel ini, kau juga?”

“Aku? Nggak. Aku sedang menunggu tamu dari luar negeri. Sebenarnya janjinya sekitar satu jam lagi. Berhubung tinggal di pinggiran Jakarta, terpaksa berangkat cepat-cepat supaya tidak kena macet di jalan.”

“Ohh..”

“Kau tinggal di kota apa?”

“Aku tinggal di Pekanbaru.”

“Lalu ada urusan apa di sini?”

“Sebenarnya aku sudah jadi anggota DPR-RI.”

“Oh, selamat Hen.”

David menjulurkan tangan menjabat tangan Henry. Mereka berjabat tangan. David mengayun jabatan tangan itu begitu kencang sampai tubuh Henry terguncang-guncang.

“Aduh, cukup deh,” Kata Henry.

“Iya, maaf, aku senang sekali kau bisa jadi anggota DPR, tingkat pusat lagi.”

“Haha, padahal nilaiku dulu waktu kuliah jauh sekali dengan kau ya Vid?”

“Kan ada tesisnya Hen?”

“Apa tuh?”

“Banyak A akan jadi peneliti kerja di lab.”

“Lalu?”

“Banyak B akan mudah cari pekerjaan, sehingga akan jadi karyawan atau dosen, paling banter jadi profesional.”

“Haha, bisa saja kau Vid, lalu yang banyak C?”

“Susah dapat kerjaan lalu buat usaha sendiri, akhirnya jadi pengusaha.”

“Kalau aku?”

“Kau kan dulu terlalu sering demo. Jelas lah banyak D, kau ulang lagi baru jadi C. Kalau banyak C jadi pengusaha, kalau sering dapat D malah jadi penguasa seperti kau ini.”

“Hahahaha,  bisa saja kau Vid.”

“Ini tesis main-main tapi valid, setidaknya untuk kondisi kita berdua.”

“Kau sendiri apa sekarang Vid?”

“Aku bekerja di perusahaan multi-nasional Hen. Ini tamu yang mau kujemput teknisi-teknisi dari India. Mereka menginap di sini. Kau sendiri ngapain nginap di sini? Bukannya dapat jatah rumah di Jakarta.”

“Ya, dapat, tapi tadi malam ada acara di hotel ini, sekalian menginap di sini saja, lagian sudah ngantuk banget. Dari sini ke gedung DPR/MPR tidak jauh. Kalau terlambat, sekarang gawat, bisa-bisa dibocorkan ke wartawan lagi.”

“Hahaha, bener juga.”

“Kau masuk partaiku lah, pemilu berikutnya bisa deh aku usahakan jadi caleg.”

“Yang bener aja Hen?”

“Bener, kau kan dulu pintar juga. Sering nulis juga di majalah kampus. Demo juga kau ikut, hanya kau tetap fokus di studimu tidak seperti aku yang benar-benar berantakan.”

“Boleh saja sih, aku mau-mau aja jadi caleg, hanya banyak ganjelan.”

“Apa salah satunya?”

“Aku nggak mau buat poster, terus lalu dipajang di pinggir jalan?”

“Kenapa?”

“Nggak pede.”

“Hahaha, bisa aja kau ini.”

“Apalagi kalau ada anak-anak kecil yang iseng, nanti posterku itu dicoret-coret, ditambah-tambahin kumis lagi. Malu ah.”

“Hahaha, serius kau. Masak itu jadi alasan?”

“Itu alasan yang serius menurutku Hen.”

“Aku menawarkan ini bukan basa-basi Vid.”

Pelayan datang dengan membawa satu poci teh dan satu cangkir kosong. Henry dan David menghentikan percakapan mereka sebentar, sementara pelayan meletakkan poci, cangkir dan sendok ke meja mereka.

“Silakan Pak, ini gulanya, bisa dicampur sendiri,” kata pelayan itu.

Henry menuang isi poci ke dalam cangkir, mengambil satu bungkus gula, membuka sachet-nya dan menumpahkan isinya ke dalam cangkir. Sambil mengaduk teh, Henry mengulang kalimat terakhirnya.

“Tawaranku itu bukan basa-basi Vid, benar kami dari partai butuh figur profesional seperti kau. Aku memantau juga perkembanganmu, jangan kaukira tidak. Beberapa kali kau menulis soal telekomunikasi dan IT di majalah ekonomi dan harian nasional, aku tahu itu.”

“Hahaha, itu iseng. Aku sering buat proposal, aku copy paste dari proposalku itu lalu kukirim ke redaksi mereka, eh ternyata malah dimuat.”

“Ah, kau suka merendah, tak mungkin mereka memuat begitu saja kalau tulisanmu itu asal-asalan. Bagaimana, tertarik?”

“Boleh saja, tapi banyak syaratnya, hehe.”

“Apa saja? Kita punya cukup waktu untuk membicarakannya.”

“Satu, aku tidak mau jadi caleg dari partai gurem, hanya menghabis-habiskan waktu dan tenaga saja. Pasti tidak terpilih.”

Okay, dalam hal ini partaiku bukan partai gurem kan?”

“Ya benar, masih ada syarat berikutnya.”

“Apa itu?”

“Aku tidak mau keluar uang sepeserpun, untuk biaya kampanye atau beli nomor urut.”

“Hmmm, kau mau enaknya saja kalau gitu.”

“Kok? Kau kan tanya syarat dari aku, ini aku sebutkan sejujur-jujurnya. Kalau tadi tidak kau tanya pun aku tidak akan sebutkan syarat-syarat ini.”

“Hahaha, baiklah, jangan tersinggung dong. Soal dana kampanye bisa kucarikan sposor nanti. Silakan lanjut.” Henry meminum sedikit tehnya.

“Syarat ketiga, aku maunya jadi anggota DPR-RI, tingkat I atau tingkat II, nggak main.”

“Aku memulai dari tingkat I, baru kali ini aku masuk ke pusat Vid.”

“Itu kan kau, kalau kau tanya apa syaratku mau kau rekrut, ya ini syaratku.”

“Hahaha, pede kali kau ini Vid, tak berubah.”

“Mau tahu syarat berikutnya?”

“Oke boleh.”

“Syarat keempat, aku tidak mau jadi caleg dari dapil daerah diluar DKI seperti kau. Malas aku kampanya ke daerah, lagi pula aku tidak tahu kondisi masyarakat di sana, mana mungkin aku bisa mewakili aspirasi mereka.”

“Hmmm, berat, banyak politisi senior yang mengincar dapil yang kau sebut itu Vid.”

“Ya aku tak peduli, toh aku kan berhak mengajukan syarat. Lagi pula resiko jadi anggota legislatif, mendapat cap buruk sebagai oportunis dari anggota masyarakat, sekalian saja aku minta yang muluk-muluk.”

“Syarat yang kau ajukan itu hampir mustahil Vid.”

“Memang kok, bukan hampir lagi, tapi memang mustahil.”

“Lalu kenapa kau ajukan syarat itu padaku?”

“Karena kau memintanya? Lupa ya? Ah kau ini, sudah sama dengan politisi yang lain Hen, hehehe, memang pantas kau jadi anggota legislatif, cepat lupa?”

“Hahaha, jangan begitu kawan.”

“Iya, kan kau yang minta aku masuk partaimu untuk nanti jadi caleg, lalu aku mangajukan syarat, kau ingin dengar katanya. Sudah kusampaikan, lalu kau yang malah keberatan, hehe.”

“Baiklah, sepertinya kau tidak cocok jadi anggota legislatif.”

“Terimakasih untuk pujiannya Hen.”

“Loh?”

“Iya, aku senang kau bilang aku tidak cocok jadi anggota legislatif, hehehe.”

“Sial kau Vid.”

Henry mengeluarkan kartu namanya.

“Ini kartu namaku.”

David menerimanya.

“Mana punya kau?”

“Tak perlu, nanti aku sms kau ke nomor yang di kartu nama ini ya?”

Okay, jangan lupa ya?”

Henry memberi kode tanda memanggil pelayan.

“Buat apa kau panggil pelayan Hen?”

“Mau bayar bill.

“Ah tak usah, segera kau ke kantormu, jangan terlambat, aku bisa marah, kau kan wakilku, jangan sering-sering terlambat ya, hahaha.”

“Hahaha, bisa saja kau Vid. Ya sudah, aku pergi dulu ya? Jangan kau lupa kontak aku.”

“Sip.”

 

***

 

Dengar Pendapat

“Silakan masuk.”

Aku segera berdiri dan mendekati penjaga yang memanggil aku.

“Rentangkan tangan.”

Aku mengikuti perintahnya. Petugas menemukan ponselku dan segera mengambilnya.

Okay anda sudah bersih, sekarang boleh masuk. Bapak Presiden sudah menunggu anda. Handphone anda bisa diambil nanti sesudah menghadap Bapak Presiden.”

Aku segera masuk ke ruangan yang ditunjukkan oleh petugas itu.

Entah mengapa aku mendapat panggilan dari presiden hari ini. Katanya sih dia mau mendengar pendapatku. Aku mewakili pengusaha kecil-menengah. Baru-baru ini profilku masuk dalam sebuah majalah ekonomi lokal. Mungkin presiden atau stafnya membaca pemberitaan itu dan tertarik untuk mengetahui tentang diriku lebih dalam lagi.

Sepertinya dalam pemberitaan majalah tersebut, tidak ada kata-kataku yang memojokkan pemerintah. Ya sudahlah, lebih baik aku datang saja memenuhi panggilan beliau.

“Eh, Imam sudah datang, silakan duduk.”

“Baik Pak.”

Pak Presiden menunjukkan sofa dimana aku harus duduk dan dia mulai melangkah dari meja kerjanya ke sofa itu.

“Maaf menunggu lama di luar ya tadi?” Katanya sambil menjabat tanganku erat.

“Oh, tidak apa-apa Pak.”

Entah kenapa, aku yang biasanya begitu disiplin terhadap waktu, terutama dalam hal menjalankan usahaku, sekali tidak mengeluh walau harus satu jam menunggu Pak Presiden di ruang tunggu tadi. Aku menjadi sedemikian permisif. Itu mungkin yang jadi faktor penyebab orang-orang yang dekat dengan kekuasaan sebegitu permisif-nya terhadap presiden. Aku mulai merasakannya, walau dalam hal sepele.

Kami sudah sama-sama duduk.

“Bagaimana kabar?”

“Baik Pak.”

“Usaha bagaimana?”

“Selalu ada tantangan tapi so far so good.”

“Saya suka anak muda seperti anda.”

“Wah, jangan berlebih-lebihan Pak.”

“Tidak kok. Berapa karyawan anda?”

“Sepuluh orang.”

“Coba ada empat juta orang seperti anda, tidak perlu ada TKI ke luar negeri, anda empat puluh juta lapangan usaha. Sekali lagi saya kagum.”

Aku tersenyum, empat juta usaha kecil? Bisa saja, tapi dengan kondisi birokrasi negeri ini, rasanya itu mimpi di siang bolong.

“Banyak kendala tidak saat menjalankan usaha?”

“Banyak suka dan dukanya Pak.”

“Coba berikan saya contoh, saya sengaja mengundang anda bertemu empat mata, saya mau menggali pendapat anda yang sejujur-jujurnya tanpa ada tekanan dari pihak mana pun.”

“Contohnya, maaf ya pak jangan tersinggung.”

“Kenapa memang?”

“Listrik sering padam.”

Hening sejenak, Bapak Presiden manggut-manggut, sementara aku harap-harap cemas menunggu jawabannya.

“Hmmm, masalahnya pelik, tapi sesegera mungkin akan kami tangani.”

“Terima kasih Pak. Sebagai solusi kami membeli genset untuk mengatasi ini, tapi Bapak kan tahu sendiri, harga solar dan bensin kan juga naik terus, jadi kami hanya pakai genset kalau memang benar-benar ingin mengejar target saja. Untuk produksi normal lebih baik kami tunggu sampai listrik menyala.”

Aku terdiam sejenak, kulihat dari tadi ada segelas air putih di hadapanku.

“Pak ini, boleh saya minum?”

“Oh iya, maaf, maaf, silakan diminum dulu Mam.”

Wah aku baru saja dipanggil Mam oleh Bapak Presiden. Suatu kebanggaan, presiden mencoba akrab denganku.

Aku meminum air dalam gelas itu, hilang dahagaku. Sejak tadi di ruang tunggu sebenarnya aku sudah sangat haus, apa daya aku tidak berani untuk meminta penjaga di depan untuk segelas air.

“Soal listrik ini, pernah mati sampai dua hari, terpaksa kami gunakan genset. Ongkos produki jadi tinggi, sebenarnya saat itu kami menanggung rugi, tapi tak apa Pak, yang penting pelanggan puas dan tidak kabur karena pesanannya molor.”

“Ya memang dalam menjalankan bisnis perlu sedikit inovasi.”

Aku sebenarnya ingin tertawa mendengar pernyataan beliau, dia menyebutkan kata inovasi. Membeli genset masuk dalam kategori inovasi menurut beliau. Beruntung aku bisa mengendalikan diri untuk tidak tertawa saat itu.

“Lalu ada lagi?”

“Masalah keaamanan Pak. Sering ada preman yang minta jatah, ada saja alasannya. Saya pernah mencoba untuk berani tidak memberi mereka jatah, besoknya sepeda anak saya hilang Pak. Saya bukan menuduh preman itu yang melakukan. Akhirnya saya tidak berani menentang preman-preman itu, tidak pernah ada kehilangan lagi setelah itu.”

“Kenapa tidak kamu laporkan pada Polisi saja? Negara kita kan negara hukum.”

Aku hampir tertawa untuk kedua kalinya. Kali ini aku masih bisa menahannya.

“Maaf Pak, premannya anak Polisi.”

Bapak Presiden hanya diam, manggut-manggut. Aku juga diam aku takut beliau bereaksi negatif terhadap kalimat terakhirku tadi.

“Baiklah, sudah saya catat, ini adalah agenda reformasi dalam tubuh instansi pemerintah dan alat negara. Terimakasih anda sudah mau jujur. Apa ada lagi yang menggangu?”

“Sebenarnya banyak Pak, tapi saya yakin Bapak tidak punya banyak waktu berbincang-bincang dengan saya.”

Entah mengapa, aku semakin percaya diri berbicara dengan orang di hadapanku ini. Aku bahkan hampir tidak sadar bahwa orang ini adalah presiden, lembaga eksekutif tertinggi di negeri ini.

“Coba apa sekiranya yang paling penting untuk disampaikan.”

“Pajak dan pungli Pak.”

“Imam, pajak kan sudah menjadi kewajiban semua warga negara. Kalau soal pungli dari preman itu maksud kamu? Itu kan sudah saya jawab, bahwa saya sedang melakukan reformasi birokrasi.”

“Oh kalau jatah preman sudah saya anggap gaji karyawan saja Pak.”

“Lalu siapa lagi yang melakukan pungli?”

“Maaf ya Pak, orang-orang Bapak, oknum dari instansi pemerintah. Mereka selalu mencari-cari kesalahan saya, soal peruntukan rumah tinggal yang dipakai untuk usaha misalnya. Padahal kan memang kami ini usaha kecil, untuk menghemat biaya kalau masih bisa dilakukan di rumah dan tidak mengganggu lingkungan, saya pikir mengapa tidak?”

“Lalu?”

“Intinya bukan masalah peruntukan bangunan Pak, buktinya kalau akhirnya kami berikan amplop mereka tidak mengungkit lagi masalah itu.”

“Lalu?”

“Biasanya kalau ada pergantian pejabat, akan datang lagi orang yang baru, dan solusinya tetap sama Pak, sodorin amplop.”

“Hmmm, cukup rumit.”

Aku tidak menunggu dipersilakan lagi, kuminum lagi air putih tadi beberapa teguk, dan kembali bicara.

“Belum lagi kalau dekat hari raya, preman dan oknum instansi pemerintah itu juga minta THR.”

“Hmmm, rumit.”

Kami berdua diam cukup lama. Aku lihat dia termenung dan berpikir keras.

Akhirnya Bapak Presiden membuka pemberbicaraan.

Okay Mam, informasi yang bagus dari kamu. Apa yang perlu saya bantu? Apa kamu perlu referensi saya untuk mengambil pinjaman di bank?”

“Oh, terima kasih Pak, tapi rasanya saya tidak perlu itu.”

Okay, bagaimana kalau saya tawarkan bantuan pemerintah bentuknya modal yang tidak perlu kamu kembalikan.”

“Wah, sekali lagi itu juga tidak perlu Pak.”

“Kamu butuh mesin apa untuk meningkatkan produksi usahamu, saya akan pesankan buat kamu, gratis, hibah dari pemerintah.”

“Tidak perlu pak, terima kasih banyak untuk niat Bapak yang mulia ini.”

“Jadi kamu perlu apa?”

“Maaf Pak, saya hanya butuh satu..”

Belum selesai aku bicara Pak Presiden memotong kalimatku karena tidak sabar.

“Apa itu kakatan Mam?”

“Jangan ganggu kami Pak”

***

Anak-Anak Berbakat

Saat itu aku sedang berkumpul bersama ibu-ibu yang lain di sebuah halaman sekolah taman kanak-kanak. Anak-anak kami baru saja selesai keluar dari kelas masing-masing. Kami ibu-ibu belum selesai dengan urusan kami, ngerumpi, jadi kami biarkan anak-anak bermain di lapangan sekolah.

“Stephen! Ayo sini kita harus pulang, kamu kan ada les nanti!” Teriak salah satu ibu.

Dia memanggil anaknya, Stephen. Anak ini luar biasa cerdas dalam hal bahasa. Usianya masih empat tahun, tapi sudah bisa bicara beberapa bahasa internasional. Bahasa Inggris sih bukan hal yang aneh, itu sudah menjadi semacam standar. Stephen malah bisa bahasa-bahasa lain seperti: Spanyol, Perancis, Mandarin dan Jepang. Pernah kemampuannya didemonstrasikan kepada kami, dan ini membuat ibu-ibu yang lain terkagum-kagum. Memang selain Bahasa Inggris, tidak satu pun di antara kami yang menguasai bahasa-bahasa yang Stephen kuasai. Tapi tetap ketika Stephen mendemonstrasikan kemampuannya kami mendengar dia begitu fasih dalam berbicara dalam bahasa-bahasa itu. Tak pelak decak kagum pun terlontar dari mulut kami masing-masing.

Stephen, are you finished yet? We have to go now. Remember your French class son?” Sang ibu kembali memanggil Stephen untuk kedua kalinya. Kali ini menggunakan Bahasa Inggris.

Stephen sagera datang.

“I’m sorry mom, we can go now,” Stephen menjawab. Pelafalan kalimatnya sungguh luar biasa, atau dalam istilah bahasa sering disebut native speaking. Lain dengan sang ibu yang walau berbahasa Inggris tetap terlihat dialek medok Jawanya.

“Jeng, saya pergi dulu ya, ada les Inggris nih, sore juga ada les Perancis lagi. Sampai ketemua besok.” Temanku berpamitan.

Ibu-ibu yang tersisa masih asyik mengobrol, sementara anak-anak kami masih asyik bermain di lapangan.

“Anaknya ikut kursus apa Jeng?” Tanya salah satu ibu.

“Ah belum serius Mbak. Untuk kegiatan di luar sekolah paling sekarang hanya berenang, itu juga bukan kursus, hanya have fun dengan keluarga saja di akhir pekan, atau sekedar jalan-jalan ke luar kota, ke tempat yang udaranya masih fresh,” Jawabku.

Ibu yang bertanya tadi adalah orang tua dari Aurel. Anak perempuan yang cerdas dalam soal matematika. Orangtuanya memasukkan Aurel ke sekolah mental aritmatika, sehingga Aurel bisa menghitung dengan sangat cepat. Pernah kami memberi beberapa soal perkalian yang cukup rumit, Aurel bisa menjawabnya dengan cepat tanpa bantuan kalkulator maupun kertas untuk menghitung. Aurel juga memiliki keahlian lain yang cukup mencengangkan, dia bisa menulis dengan baik menggunakan tangan kanan maupun tangan kirinya. Bahkan untuk hal ini kami pernah ditunjukkan keahliannya, dia bisa menulis beberapa kalimat dengan tangan kiri dan tangan kanan secara bersamaan. Kalimat yang ditulis dengan tangan kiri berbeda dengan kalimat yang ditulis dengan tangan kanan. Sungguh mencengangkan.

“Mari Jeng, saya duluan, Aurel masih harus pergi ke les,” katanya padaku berpamitan.

“Oh, hati-hati di jalan Mbak,” aku menjawab sambil mengangguk.

Satu per satu teman-temanku mulai pulang. Budi – anakku semata wayang – masih bermain dengan salah satu temannya, Jason. Jemputan untuk Jason belum datang, sehingga kuputuskan membiarkan Budi menemani Jason sampai jemputannya datang.

Jason ini juga anak yang berbakat. Dia menguasai lima alat musik, mulai dari piano, flute, biola, drum dan gitar. Setiap hari Jason harus berlatih kelima alat musik ini, entah datang ke tempat kursus atau sengaja didatangkan guru ke rumahnya. Sodorkan sebuah partitur dalam not balok pada Jason, dengan mudah dia dapat menguasainya.

Jemputan Jason sudah datang, Budi segera menghampiriku dan kami pun pulang.

*

Percakapan di tempat tidur.

“Kang, aku kok minder ya sama ibu-ibu yang lain kalau jemput Budi ke sekolah?” Aku mengadu pada suamiku.

“Kenapa sih?” Katanya sedikit kesal.

“Tuh Si Stephen, dia bisa bahasa macem-macem. Inggris-nya sih udah pasti bagus, jangan ditanya lagi. Selain itu dia juga bisa bahasa asing yang lain Kang, contohnya: Spanyol, Perancis, Jepang, Mandarin.”

“Lalu kenapa?”

“Kamu ini tidak peka ya Kang!”

“Loh kok nyalahin aku sih? Aku dulu bahkan dulu sebelum masuk SD, Bahasa Indonesia saja belum lancar, bisanya ya Bahasa Sunda. Sekarang bisa juga tuh Bahasa Inggris, belajar dari SMP. Emangnya anak kecil mau nulis proposal pakai Bahasa Inggris Neng? Apalagi bahasa Spanyol, hahahaha.”

“Kamu itu Kang nggak ngerasain sih mindernya aku. Belum lagi ada anak perempuan nih, namanya Aurel. Masih TK juga sama kayak Si Budi anak kita, tapi hitungan matematikanya luar biasa Kang, sama dengan kalkulator.”

“Ya tinggal beli kalkulator saja Neng, yang made in china kan murah?”

“Ah Si Akang, nih ada lagi nih, Si Jason. Aduh, main musiknya juga sangat hebat, bisa empat atau lima alat musik Kang.”

“Aduh hebat itu Si Jason, mau konser dimana dia ya?”

“Kang serius atuh!”

“Saya juga serius ini Neng, dua rius malahan,” suamiku menjawab. Dari tadi dia tidak pernah serius menanggapi keluhanku, aku sedikit kesal.

“Aduh Si Akang, sepertinya tidak perhatian sekali sih dengan nasib Budi?”

“Nasib Si Budi atau nasib kamu Neng?”

“Kok nasib aku Kang?”

“Iya, Si Budi sih tidak pernah mengeluh kok soal dia tertinggal dengan anak-anak yang lain. Lagipula kan dia masih TK, singkatan dari apa TK coba Neng?”

“Taman Kanak-Kanak.”

“Nah itu kamu tahu, kan ada lagunya.”

Tempat bermain, berteman banyak

Itulah taman kami taman kanak-kanak

“Idih si Akang, malahan nyanyi dia mah.”

“Iya itu kan lagunya kamu juga tahu. TK itu tempat bermain dan berteman, tapi malahan kamu pakai minder segala dengan teman-teman Si Budi yang bisa macam-macam begitu. Si Budi juga hebat kan, dia sudah bisa baca sekarang, saya dulu masuk SD saja belum bisa baca.”

“Iya sih.”

“Anak TK sekarang harus bisa baca, hebat euy, saya sebenarnya kurang setuju, tapi buktinya Si Budi bisa mengikuti. Berarti dia mampu bersaing.”

“Iya tapi apa kamu tidak ngiri Kang?”

“Ngiri apa?”

“Ngiri sama kemampuan teman-teman Si Budi yang jauh di atas Si Budi.”

“Apa Si Budi minder Neng?”

“Tidak sih.”

“Nah berarti kamu yang minder Neng, kamu saja sok yang ikut les, mau apa? Les Perancis, Spanyol, Kumon atau les musik seperti biola gitu Neng?”

“Ih Si Akang malah nyuruh saya yang les, kita kan sedang bicarain soal anak kita, Budi.”

“Habis kan yang minder kamu bukan Budi.”

“Tapi Kang, saya khawatir nanti Budi tertinggal.”

“Tidak akan Neng, hidup anak kita masih panjang. Si Budi itu masih empat tahun, kayak nggak ada waktu saja untuk belajar sih? Daya serap manusia sampai usia belasan bahkan di atas dua puluh tahun masih cukup tinggi, yang penting sekarang tanamkan kemauan saja. Nanti takutnya kalau dari sekarang kita cekokin, dia bisa bosan, jadinya nanti antiklimaks.”

“Alah si Akang bahasanya tinggi euy pakai antiklimaks segala.”

“Eh Neng, ini serius.”

“Iya saya juga serius, dua rius malahan,” kubalikkan perkataannya tadi. Suamiku tersenyum dan mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Ya sudah besok tanya anak kita, dia mau les apa? Kalau sesuai keinginan dia saya setuju untuk kita ikutkan dia les, tapi tetap saya tidak mau kalau nanti Si Budi dikasih target yang terlalu membuat dia stress.”

“Iya Kang, coba saya tanya dulu, saya ngiri tuh sama ana-anak berbakat itu.”

“Berbakat? Anak berbakat atau anak sirkus?”

Aku terdiam. Kata-kata terakhir suamiku begitu skeptis, tapi mengena. Memang sebenarnya apa gunanya mampu berbagai macam bahasa, menghitung cepat atau bisa berbagai macam alat musik dalam usia yang terlalu dini, kalau toh si anak terpaksa melakukannya. Toh kalau memang dia punya minat nanti dia pasti mendalaminya, asal diarahkan tentunya.

Benar juga kata suamiku tadi, walau dalam percakapan kami tadi suamiku banyak bercanda, tapi inti yang dia sampaikan akhirnya bisa aku terima.

“Bener juga ya Kang.”

“Aduh, kirain sudah tidur kamu Neng. Sudah dulu ah Neng, kita tidur saja ya?” Keluhnya setengah tertidur.

***