Kembali ke 98

Aktivis 98 pada berhambur masuk partai dan masuk parlemen. Yang dulu lantang di jalan dan sering diliput media, sekarang bagian dari partai penguasa dan ya gitu deh. Ya, itu hak mereka sih. Saya juga ingin masuk partai, sayang Partai Wutang dan Kaipang tidak masuk di sini.

Ah saya malu pakai label aktivis 98. Semua hanya kebetulan kok. Saya masuk ITB tahun 94. Mei 1998 kebetulan pas lagi tingkat akhir, pegang jabatan jadi wakil ketua himpunan. Kebetulan gak ada kuliah, kebetulan malas ngerjain tugas akhir, terus lihat teman-teman ramai ke jalan demo Soeharto, seru, asik, ikutan ahhh. Kebetulan dari dulu sudah suka ngelucu, akhirnya jadi orator bagian lucu. Ya kebetulan aja.

Suatu hari saya gak pulang ke rumah sebulan lebih. Saat saya orasi dgn mantapnya di depan Gedung Sate Bandung, ada adik satu gereja yang jadi peserta demo. 1998 kan demonya massal, mahasiswa, pelajar, profesional, pedagang, tukang becak ada.

Nah, di gereja si adik ini bertemu bapak saya, dan dia dengan bangganya cerita orasi saya yg keren beberapa hari yg lalu. Bapak panik lah, waktu itu udah mulai orang pada diculik-culik. Saya nggak pulang udah sebulan lebih. Bapak cari saya ke sektetariat himpunan. Saya lupa saya lagi ngapain, yang jelas saya nggak ada di sekretariat.

Pulang ke sekretariat, malu. Saya diketawain sama adik-adik angkatan.. “Hahahaha, orator kita anak papa.. disuruh pulang lo, bang…tadi papa lo ke sini nyariin” Anjrit, malu banget.

Ya namanya juga aktivis kebetulan, kebetulan dulu gak diculik. Kebetulan hari ini belum/gak jadi jablay ideologi. Hehehe.

1 Maret 2015, bersejarah buat saya. Untuk Indonesia sih nggak tau, ini sejarah pribadi aja lah. Saya seperti muda lagi. Seperti balik ke 98. Saya bikin sebuah gerakan. @legalmelawan, sebuah bentuk aktivisme narsis hehehe. Harus sesuai dengan zaman dong. Pakai youtube dan selfie orasi. Tactical media activism, keren istilahnya hahaha. Gak perlu banyak massa terkumpul. Cukup tersebar dan pakai hestek lalu upload. Dokumentasinya nanti dikumpulkan dan dilengkapi sebagai hasil kegiatan. Lalu dibuat film dokumenter.

Berasa balik lagi ke 1998. Mulai membuat manifesto, membuat kata-kata propaganda, bikin brosur propaganda. Menyentuh hal-hal itu membuat saya muda lagi. Memang masih muda sih, usia saya 39 tahun ini, belum 40 tahun. Menyentuh lagi idealisme, sesuatu yg mewah. Anak2 saya ajak, mereka bagi2in brosur. Tapi ah bikin recok, akhirnya mereka saya suruh tunggu di KFC. Kesian mrk juga lah. Saya juga takut dikira memanfaatkan anak. Istri saya antar anak2 ke KFC.

Sebelum dia balik, saya lagi sendiri, hujan, rambut basah kelimis berantakan kena hujan, asli dark sekali suasana seperti itu bagi seorang entertainer seperti saya, duh. Ada orang tiba2 menyapa saya. “Bang Sammy, gua farhan (@farhankiboo).. gua tau lo di sini.. gua follower lo…” Ahay, saya dibantuin dia deh akhirnya bagi2 brosur sama mewawancara orang. Ahhh… lega rasanya ada yg anggap gerakan saya ini sesuai dengan ide dia. Gerakannya apa, baca aja di artikel tentang manifesto. Gak perlu di artikel ini . Di sini bagian emosionalnya saja.

Menyentuh idealisme, membuat saya muda. “Touching you I feel it all again… ” gitu kata Whitney Houston.

Idealisme adalah kemewahan terakhir.. gitu kata Tan Malaka dan Soe Hok Gie.

Lapor Pak Tan dan Koh Gie. Hari ini saya hidup mewah.

 

Catatan:

Orasi saya yang “keren” kata adik di gereja itu, salah satunya adalah masukan rekan/sodara saya Winner Johnson Bakara (Twitter @WJB__ ). Saya berorasi tepat setelah dia. Ada satu materi orasi dia yang terlupa, lalu dia teriakkan dari bawah podium, “Sam, jangan lupa, soal….” Saya langsung tahu apa yang dia maksud, karena sudah kami diskusikan sebelumnya. Intinya dia kasih materi orasi dia ke saya, karena dia lupa, dan ingin itu tetap sampai ke peserta demo. Saya yang dapat applause dari peserta demo. Tapi saat itu memang tidak perlu siapa yang berkata apa, dan apa yang dikatakan siapa, yang penting kebenaran harus disampaikan, oleh siapapun yang sedang ada di atas podium.

 

Advertisements

Apa Beda Budiman Sudjatmiko dan Adian Napitupulu

Menduga-duga judul artikel di atas apa masudnya?

Saya mengajak kita masuk dulu ke kisah Western Wyatt Earp dan Doc Holliday. Ini sebenarnya sebuah sejarah, tapi banyak versinya. Sudah difilmkan dan versi yang saya suka adalah Tombstone. Ini film sudah banyak di torrent, silakan didownload. Ceritanya mereka adalah dua jago tembak. Wyatt Earp memilih bertani dan berternak, Doc Holliday yang lebih hebat skillnya memilih jadi pemabuk dan tukang judi. Sambil mabuk pun dia lebih hebat dari Wyatt Earp, namun Earp lebih punya leadership. Wyatt Earp sudah pernah berhasil memberantas kejahatan sebelumnya, dan memutuskan pindah ke wilayah lain dan menjadi petani dan peternak.

Saya hanya menulis dengan metoda ingatan, jadi banyak lupa nama daerahnya. Pokoknya di daerah baru itu dia bertemu Doc Holliday sang jago tembak sekaligus penjudi dan pemabuk. Muncul gerombolan penjahat yang sangat ditakuti saat itu, dipimpin Curly Bill dan Johnny Ringo. Mereka bengis, kejam, dan sangat ditakuti. Penegak hukum pun tidak mampu melawan mereka, bahkan dalam sebuah versi penegak hukum malah melindungi kawanan penjahat ini.

Wyatt Earp – bersama beberapa Earp Brothers – meninggalkan usaha pertanian dan peternakan mereka dan memutuskan untuk mengambil lencana Marshall untuk melawan gerombolan ini. Doc Holliday entah kenapa tertarik bergabung dan mereka menjadi kekuatan luar biasa. Singkat cerita pokoknya gerombolan Curly Bill dan Johnny Ringo kalah diberantas oleh Earp Brothers dan Doc Holliday. Wyatt Earp kembali bertani dan Doc Holliday meninggal karena kebanyakan mabok tuh orang, nggak ngajak-ngajak lagi.

Ini kan sama dengan kejadian di Indonesia. Sudah berulang terjadi di beberapa angkatan. Penjahat yang dilindungi oleh penegak hukum dan penguasa. Mahasiswa, meninggalkan kuliah, bersama rakyat meninggalkan profesinya masing-masing, sejenak, turun ke jalan, dan akhirnya penguasa berhasil digulingkan. Hanya bedanya, beberapa tokoh pergerakan, katakanlah aktivis, akhirnya malah ikutan masuk menjadi bagian dari kekuasaan. Tidak kembali ke profesi awal, seperti Wyatt Earp dan Doc Holliday.

Soe Hok Gie adalah tokoh yang konsisten. Dia menentang Soekarno, lalu tidak masuk sistem, Soeharto pun dia tentang. Gie lebih cocok dibilang Doc Holliday-nya Indonesia, sama-sama meninggal muda.

Ini hanya sebuah opini, boleh setuju atau tidak, menurut saya, saya setuju dengan prinsip Soe Hok Gie, Wyatt Earp dan Doc Holliday. Kembali ke profesi awal, tidak masuk ke dalam sistem. Dengan pandangan ini, maka Adian Napitupulu adalah seorang aktivis, maka kalau dia seorang yang berprinsip seperti Soe Hok Gie, seharusnnya dia tidak masuk ke dalam sistem. Pilihan orang bebas, kecuali memang dia rasa Soe Hok Gie salah. Apa bedanya dengan Budiman Sudjatmiko, sejak dulu dia politisi. Dia tidak berjuang sebagai aktivis mahasiswa, namun mendirikan partai yang bernama PRD. Jadi wajar dia ada di dalam sistem. Salut juga sih sebenarnya, dulu partai hanya tiga, PPP, Golkar dan PDI, anggap lah itu major label. Lalu Budiman Sudjatmiko mendirikan PRD, indie label. Luar biasa, walaupun sekarang dia ada di major label.

Aktivis Masuk TV

Saudara-saudara hari ini adalah hari kegerakan bangsa kita. Hanya beberapa orang kita berkumpul di sini, besok masing-masing membawa satu orang teman. Terus untuk keesokan harinya setiap yang hadir di lapangan ini membawa satu orang teman lagi. Seratus, menjadi dua ratus, menjadi empat ratus, delapan ratus, seribu enam ratus, tiga ribu dua ratus, enam ribu empat ratus, terus dan terus sampai ini menjadi gerakan seluruh bangsa ini.

Itulah orasi terkenal dari Rama, seorang aktivis yang sangat berdedikasi pada perubahan bangsanya. Dalam setiap demo, teman-temannya selalu menempatkan orasinya di posisi paling akhir, sebagai penutup untuk mengobarkan semangat massa yang datang ke lokasi.

Rama sudah lulus beberapa tahun yang lalu dari kampusnya, tapi dia masih sering datang ke kampus sehingga bahkan mahasiswa baru pun masih kenal dengan dia. Walau usianya sudah kepala tiga dia belum juga menikah, menunggu bangsa ini benar dulu katanya. Sungguh berdedikasi, luar biasa.

Rama mempunyai banyak teman yang sudah bekerja, dia cari makan lewat teman-temannya dengan menjadi penerjemah paruh waktu atau editor. Tulisan yang dia terjemahkan atau sunting tidak ada hubungannya dengan dunia aktivis, sekedar untuk menyambung hidup.

Tentu saja Rama tidak hanya pandai bicara, pemikirannya soal perubahan bangsa juga luar biasa. Sering dia menuangkannya dalam bentuk tulisan dan dibagi-bagikan dalam bentuk pamflet untuk semua orang yang hadir di lokasi demo, atau sekedar diunggah ke Internet dalam bentuk blog. Banyak politisi mengincar dia untuk menjadi juru kampanye atau tim sukses mereka, tapi jelas tawaran ini ditolak mentah-mentah oleh Rama.

Rama tidak pernah berpikir untuk memiliki pengikut fanatik, tapi tanpa direncanakannya dalam setiap demo sudah ada pengikut setia. Entah mereka ini datang dari mana, dibayar oleh siapa, yang jelas orang-orang ini sudah menjadi pengikut setia Rama.

***

Berita tentang Rama dengan massanya yang fanatik sampai ke meja redaksi sebuah televisi swasta yang fokus pada pemberitaan politik.

“Dina, coba tim kamu cari tahu tentang seorang aktivis bernama Rama,” kata Robby Neyo seorang pemimpin di televisi swasta pada presenter andalannya itu.

“Apa yang membuat Bapak tertarik dengan sosok Rama?” Dina sang anchor bertanya balik.

“Sepertinya dia punya pengikut fanatik dan tidak punya tendensi politik apapun dalam setiap demonya kecuali perubahan bangsa. Kehidupannya juga sederhana dan ini jelas menarik untuk dikonsumsi oleh publik,” Robby berkata.

“Okay pak mulai besok tim saya bekerja,” Dina menjawab.

“Hari ini juga, saya mau dia tampil di episode berikutnya dalam acara Mata Dina!” Robby menegaskan.

“Eh, baik Pak,” Dina segera bergegas keluar dari ruang pimpinannya itu dengan muka yang agak tidak senang.

***

Akhirnya tim Mata Dina berhasil menemukan kontak untuk menghubungi Rama. Rama cukup tertutup terhadap wartawan, tim Mata Dina tahu itu, sehingga mereka mencoba mengontak Rama melalui teman dekatnya Adi. Adi adalah teman kuliah Rama. Ketika kuliah dulu mereka adalah sebuah tim, Adi banyak bergerak di perlengkapan dan persiapan demo, sedang Rama lebih ke koordinator lapangan.

Adi memilih menjadi seorang profesional, dia bekerja pada sebuah perusahaan multinasional bergerak di bidang telekomunikasi. Namanya cukup dikenal di bisnis telekomunikasi karena memang otaknya yang encer. Tak heran tim Mata Dina tidak kesulitan mendapatkan kontak Adi. Melalui email dan dilanjut dengan percakapan telepon, akhirnya Adi setuju untuk membantu tim Mata Dina untuk menghubungi Rama.

Adi akhirnya menghubungi Rama melalui ponsel.

“Hallo Di, apakabar, ada apa? Tumben nelepon. Ada proyek terjemahan atau editing? Kebetulan aku lagi butuh uang nih,” Rama langsung saja nyerocos di telepon.

“Ram, tunggu dulu dong sabar. Kabarku baik kamu juga baik kan?” Kata Adi berbasa-basi.

“Baik Di, tidak pernah sebaik hari ini,” Rama juga basa-basi.

“Ram, aku mau jelaskan dulu, jangan dipotong ya.” Adi akhirnya menjelaskan tentang bagaimana dia dikontak oleh tim Mata Dina, dan apa tujuannya menelepon Rama hari ini.

“No, no, no. Di, seperti kata Gil Scott-Heron The Revolution Will Not Be Televised!” Rama mengutip sebuah kata-kata dalam bahasa asing setelah mendengarkan penjelasan Adi. Mereka berdebat cukup lama di ponsel. Adi coba meyakinkan sahabatnya itu bahwa ini adalah batu loncatan bagi dia untuk masuk ke jenjang berikutnya di dunia politik.

“Baiklah Di, aku akan mencoba, tapi jangan harap banyak dari tayangan ini,” Rama tetap skeptis, tapi intinya dia akhirnya mau mencoba untuk tampil dalam tayangan ini.

***

Waktu penayangan acara yang ditunggu ini akhirnya tiba. Sebuah acara yang akan ditayangkan secara live, bertajuk “Komunikasi Publik” dengan nara sumber Rama, Menkominfo Steve Fatur dan pakar multi media Rio Mentari.

Rama sangat gugup hari itu, apalagi nara sumber yang lain adalah orang-orang terkenal yang sudah biasa tampil diwawancara di televisi. Orang-orang ini juga sering menjadi obyek kritikan Rama dalam tulisan-tulisan dan aksinya.

Lampu studio, penonton yang beberapa juga ada orang terkenal menambah hebat kegugupan ini. Apalagi Dina, presenter cantik yang terkenal itu. Baru kali ini Rama melihat dia, dan memang luar biasa cantik. Kecantikannya sepuluh kali bertambah ketika melihat Dina secara langsung.

Dina sepertinya sadar bahwa Rama melongo melihat dia. Ketika Rama tahu bahwa Dina sudah mulai sadar dia segera memalingkan pandangannya ke arah lain. Dia bertukar pandangan dengan Steve Fatur yang tersenyum sinis padanya. Senyum Steve membuat Rama semakin gugup saja.

Acara dimulai, Dina membuka acara, “Selamat malam pemirsa, bertemu kembali di acara Mata Dina. Hari ini topik kita adalah tentang Komunikasi Publik. Bagaimana komunikasi publik dibangun untuk kepentingan organisasi. Bersama saya Menkominfo Steve Fatur. Selamat malam Pak.”

“Selamat malam,” jawab Steve.

Dina melanjutkan, “Kami juga kedatangan seorang pakar multi media Bapak Rio Mentari, selamat malam Pak.” Rio hanya mengangguk.

Dina melanjutkan, “Dan tidak ketinggalan wakil dari aktivis Saudara Rama. Selamat malam Rama.”

Rama tidak percaya, namanya disebut oleh Dina, presenter cantik nomor satu di negeri saat ini. Dia tidak bisa berkata apa-apa hanya mengangguk kaku, seolah masih dalam mimpi bisa berbicara dengan seorang presenter terkenal, bahkan wangi perfume Dina tercium sampai ke tempatnya. Luar biasa, wangi, mulut Dina bergerak bak sebuah slow motion di mata Rama. Dia tidak sempat berbicara sangkin terpesonanya.

Sebagai seorang presenter berpelangaman tentu Dina tidak terpengaruh sikap Rama. Dia meneruskan bicara, mulai dari Steve Fatur. Rama hanya terpaku saja saat pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan oleh Dina dilancarkan dan  Steve mulai menjawab. Saat giliran Rio Mentari hal yang sama juga terjadi.

Tiba giliran Rama, “Mas Rama, anda kan seorang aktivis? Pengikut anda dikenal loyal sekali. Saya mau tahu kiat-kiat anda bisa seperti sekarang, sekalian pendapat anda tentang pemerintahan sekarang.”

Semua hadirin di studio hening. Steve dan Rio pun memandang Rama. Tidak ketinggalan Dina juga menatapnya, menunggu jawaban sang aktivis. Matanya yang mempesona membuat Rama tambah gugup. Sepuluh detik masih tanpa kata-kata, ukuran yang sangat lama untuk suatu wawancara live.

***

Di Warung Kopi

Mahasiswa teman-teman Rama dan pengikut loyalnya berkumpul di depan layar televisi. Ketika muka Rama di close-up oleh kamera, mereka bersorak luar biasa girang.

“Wahhhh, itu Bang Rama kita, ayo Banggggg, kami mendukungmu!!!” Teriak salah satu.

“Bang Rama, I love you, maju terus Banggg untuk perjuangan kita!!!” Teriak yang lainnya.

Semua kembali hening menunggu Rama mulai menjawab pertanyaan Dina.

***

Kembali ke Studio

Akhirnya Rama mencoba bicara, suaranya begitu gugup. Orasi yang biasa menggelegar dan tajam, juga tulisannya yang pedas sama sekali susah untuk dia ucapkan sekarang, yang keluar hanya, “Ab..ab.. abal.”

Dina berkerut kening, tidak mengerti yang dikatakan oleh Rama, “Bisa diulang Mas? Saya kurang paham, atau to the point saja. Apa pendapat Mas soal cara berkomunikasi presiden saat ini?”

Rama sama sekali tidak bisa berkata-kata, yang keluar hanya, “Ab..ab..abil.”

Pengarah acara memberikan isyarat kepada Dina untuk masuk ke pariwara walau belum waktunya. Dina segera berkata, “Baik pemirsa kita akan kembali setelah pesan-pesan berikut.” Tayangan berubah menampilkan pariwara.

***

Esoknya

Terjadi demo besar-besaran, tidak ada yang mengaku memimpin demo ini. Spanduk besar dibentangkan “PEMERINTAH ABAL-ABAL, PRESIDEN ABABIL”

In memoriam, Soe Hok Gie 17 Desember 1942 – 16 Desember 1969