Dunia yang Terlanjur Begini Bag. VI (Menyerah, Mengubah atau Mengakali)

Maaf, baru sempat lagi update blog karena kesibukan saya terutama dalam mempersiapkan youtube content. Ya, subscribe dong. Seniman seperti saya cukup anda dukung dengan subscribe, follow. Tinggal click logo youtube yang muncul di website ini. Kalau mau beli karya saya juga ada, ke bagian menu store dari web ini.

Sekian promonya.

Dari bagian I sampai V saya bicara soal pesimisme saya terhadap dunia yang terlanjur salah setting. Tapi dalam keterlanjuran yang sebenarnya masih bisa diobati, asal semua sadar, kita masih bisa bersikap. Andai memang tidak bisa lagi diubah, seperti dunia – tepatnya Indonesia – yang utopis yang direncanakan rekan saya Pandji Pragiwaksono dalam bukunya “Berani Mengubah”, kita bisa bisa mengambil beberapa alternatif langkah. Satu menyerah, dua mengubah seperti yang dicanangkan Pandji, atau Mengakali.

Yang terakhir ini menarik untuk kita telisik lebih dalam. Pasca runtuhnya Sovyet dan bersatunya Jerman, praktis Amerika menjadi adikuasa tanpa ada rival. China tidak membiarkan posisi rival Amerika ini kosong terlalu lama. The new superpower is China.

Francis Fukuyama menulis pasca runtuhnya Sovyet, “The End of History”, berakhirnya sejarah. Tidak ada lagi rivalitas. Kapitalisme menang, karena komunisme sudah runtuh dengan bubarnya Sovyet dan runtuhnya tembok Berlin. Buku ini walau ditulis oleh seorang akedemisi ternyata terbukti salah di kemudian hari. Kekuatan lain China, bangkit.

Saya teringat ketika saya masih kecil, tahun 80an, saya sebagai anak SD selalu memperhatikan semua barang yang saya pakai atau pegang. “Made in” mana barang itu, dan saya temukan, peniti, jarum, mesin jahit, kancing, dan barang-barang perintilan lainnya adalah “Made in China”. Saya berpikir, ternyata Jepang dan AS itu lebih hebat dari China. Ternyata setelah saya tahu sekarang, saat itu China menerapkan politik tirai bambu. Menutup diri terhadap persaingan global, memproduksi low-tech (zero-tech) consumer goods. Seperti orang dagang saya, ada yang jualan komputer, ada juga yang jualan beras, belum tentu pedagang komputer lebih kaya dari pada pedagang beras, tergantung volumenya bukan?

China adalah negara yang sadar diri terhadap kemampuannya. Saat itu Indonesia sibuk dengan industri strategis yang dicanangkan anak emas Soeharto Habibi, INDUSTRI PESAWAT TERBANG. Nggak jalan bro, terang saja, harus bersain sama Boeing dan Airbus. Duh, akhirnya nggak ada yang mau beli, beberapa, itu juga mungkin karena nggak enak hati sama Soeharto hahaha. Sering terjadi kan kita beli ke teman, gara-gara nggak enak, bukan karena kita butuh. Thailand mau beli, tapi barter sama ketan. Hahaha, riset yang  menghabiskan dana negara, ditukar ketan. Kalau kita bikin lahan pertanian ketan, mungkin bisa dapat jumlah lebih banyak.

Tapi China ternyata punya rencana besar. Dia benar-benar ngumpulin modal dan keahlian. Ibarat orang berdagang, dia mulai dari toko kelontong, setelah punya modal dan sekolahin anak keluar negeri, dia masuk ke low-tech dan akhirnya seperti hari ini. Tidak ada lagi istilah HP China, karena HP semua sudah dibuat di China dan brand China pun seperti Xiaomi, Hwa Wei, ZTE, sudah masuk ke high-end smartphone.

China adalah negara yang mengakali. Orang bilang kapitalisme adalah musuh komunisme. Wow, sekarang sudah menjadi bias. Kapitalisme butuh biaya produksi yang murah, dia butuh upah buruh yang murah, dan cuman Komunisme yang bisa menyediakannya. Capitalism has no religion, they need a cheap stuffs on their mall, so they collaborate with communism. Itulah, China, dari pedagang peniti sampai ke pembuat handphone canggih yang dipakai hampir di semua negara di dunia.

Dan China – bukan hanya China – berhasil karena menyontek. Develop from scratch is really painful. Tanpa harus menghadiri seminar Mario Teguh, China sudah menerapkan Amati Tiru Modifikasi (ATM). Android adalah teknologi opensource, dan semua HP Android yang dibuat di China, teknologinya dikembangkan oleh Google. Artinya China hanya melakukan ATM, atau kasarnya Mencontek. Artinya kita tertinggal dari negara pencontek, kita membeli dari negara pencontek, kita “NYONTEK aja MALES”. Kurang parah apa kita.

Kita tidak akan bisa memenangkan “the unfair race” seperti ilustrasi dari artikel ini dengan pola pikir kita yang sekarang. Sistem pendidikan hari ini masih mengandalkan tingkat menghapal siswa sebagai sesuatu yang harus diutamakan. Padahal dunia sudah jauh berubah. Salah satu perusahaan terbesar di dunia Google – yang juga masuk fortune 500 – adalah perusahaan yang menerapkan open source. Artinya buat Internet Giant seperti Google menerapkan sesuatu yang terbuka, tak perlu disimpan-simpan, tak perlu dihapal, eh kita masih mendidik dengan cara ini. Sampai kapan kita begini. Dunia sudah terlanjur begini, menyerah, mengubah? Saya pilih mengakali.

notaslimboy – mungkin lebih pantas jadi Menteri Pendidikan dari si turun tangan 🙂

Advertisements

Gimana Sih Soal Pembubaran Ormas (Maksudnya FPI)

Apakah gua setuju FPI dibubarkan? Gini aja, kalau ada pelanggaran Ialu-Iintas dilakukan oleh anggota FPI tindak saja. Pelanggaran Iain ya juga tindak. Logika yg sama pernah digunakan pada PKI yg notabene parpol pertama yg menggunakan kata Indonesia. Yang juga melahirkan salah satu founding father Tan Malaka, pejuang buruh Semaoen, dan sederet nama yang ikut serta dalam perjuangan Indonesia melawan kolonialisme. Namun dituduhkan sepihak G30S adalah kesalahan PKI secara massal.

Aidit tidak pernah diadili, ditembak dalam perjalanan saat sudah ditangkap dan tidak melawan, dan misalnya pun dia yg bertanggungjawab maka mana mungkin kesalahan ditimpakan pada PKI secara organisasi. Sampai buruh tani di pedesaan dan seniman Lekra, apa mungkin secara massal berkonspirasi pada sebuah misi rahasia pembunuhan 7 Jendral di Jakarta. Tidak sampai situ. Bahkan ajaran Marxisme dan Leninisme pun dilarang. Apakah adil bila ada teroris yang mengatasnamakan Islam maka Islam sebagai agama juga dilarang. Itulah yg terjadi. Generalisasi dan Iabelisasi.

Di AS, dulu kulit hitam adalah budak. Tidak punya hak politik sama sekali. Siapa yg memperjuangkan hak-hak mereka? Abraham Lincoln dan Partai Republik – walau kemudian dituduhkan alasannya bukan murni kemanusiaan – tapi utk menambah kekuatan politik Partai Republik. Whatever lah. Intinya yg memperjuangkan hak politik kulit hitam di AS adalah Partai Republik, dan Partai Demokrat menolaknya. Republik yg menang pada akhirnya.

Apa yg terjadi seabad kemudian. Barrack Obama terpilih menjadi presiden AS, dia adalah presiden kulit hitam, African-American, pertama AS. Hey, dia dari partai Demokrat, yang di era Lincoln menolak hak-hak kulit hitam.

Roda berputar. FPI tidak perlu dibubarkan. Pelanggaran hukum yang dilakukan anggotanya saja yang ditindak. Toh dibubarkan pun, kalau pentolannya ada akan buat FPI Perjuangan. Berkaca pada Obama, siapa tahu di abad 22 nanti pejuang HAM dan pluralisme datang dari ormas ini. Gerakan pluralisme ini mungkin saja dipimpin seorang yang bernama Habib Rizieq IV atau Habib Selon Jr.

Keep your faith.

Apakah Ekonomi Berbohong?

Ngomong sedikit serius ah, tentang ekonomi. Saya bukan pakar ekonomi, dan mari kita bicara ekonomi dari sudut pandang orang biasa yang bosan dengan teori-teori. Mari kita sekadar bicara dari sudut pandang orang yang punya logika saja. Ya logika tanpa referensi saat ini sering dikesampingkan. Posting ini adalah intisari dari beberapa buku dan film dokumenter yang pernah saya baca dan tonton.

Dari kebiasaan sehari-hari saja deh. Apa itu ‘paket ekonomi’? Paket yang murah, paket yang terjangkau. Apa itu ‘kelas ekonomi’? Kelas yang terjangkau. Lalu apa itu ‘pertumbuhan ekonomi’?

Tingkat konsumsi biasa dijadikan indikator pertumbuhan ekonomi. Makanya angka penjualan mobil/motor sering dijadikan indikator pertumbuhan ekonomi. Banyak mobil jadinya macet. Jadi macet adalah indikator pertumbuhan ekonomi.

Saya pernah ngetwit, “Macet indikator pertumbuhan ekonomi katamu? Coba mobil yang belum lunas nggak boleh keluar rumah, pasti nggak macet.” Twit saya ini merangsang pakar ekonomi timeline untuk mendebat saya. Saya nggak peduli juga sih, biarin aja biar dia bangga dengan referensinya, saya tetap pada logika saya.

Apakah ekonomi sudah berbohong? Ekonomis adalah sifat yang identik dengan irit dan terjangkau. Tapi pertumbuhan ekonomi malah dihitung dari tingkat konsumsi. Konsumtif artinya boros. Katanya irit tapi boros, nggak konsisten, berarti bohong dong?

Ekonomi juga menciptakan kesenjangan, menciptakan strata dalam masyarakat. Di tingkat global, ekonomi menciptakan status negara, dari negara miskin, berkembang sampai maju. Negara dunia ke-3 (third world country) sampai negara dunia ke-1 (first world country).

Perbedaan status ini memicu perbedaan nilai tukar mata uang di masing-masing negara, perbedaan standar hidup, perbedaan biaya hidup yang akhirnya memicu perbedaan standar gaji (labor cost) masing-masing negara. Nah mari kita ungkap lagi kebohongan ekonomi yang lain.

Perbedaan labor cost mengakibatkan sebuah produksi bila dinilai dari nilai uang – saja – akan lebih murah dikerjakan di negara lain lalu hasilnya dikapalkan ke negara pemakai.

Sebagai contoh, mainan anak di Amerika Serikat (AS) diproduksi di jauh-jauh di Cina, karena labor cost di Cina jauh lebih rendah dari labor cost di AS, bahkan setelah ditambah dengan biaya pengiriman (shipping cost). Apakah ekonomi berbohong? Nilai yang dipakai hanya nilai uang (Dollar) padahal sebenarnya terjadi pemborosan. Mengapa untuk sesuatu yang dipakai di AS harus jauh-jauh diproduksi di Cina,  boros energi, boros BBM, itulah sebabnya sekarang kita diambang krisis energi. Secara Dollar untung, tapi secara sumber daya yang terpakai rugi. Siapa yang bego? Pakar ekonomi atau kita?

Apakah ekonomi berbohong?

Masih banyak yang lain, tapi lagi males nerusinnya.

Sammy @notaslimboy, bukan pakar ekonomi.