Puisi: Cinta adalah Perlombaan Lari

Puisi pada umumnya kaya metafor. Banyak penyair yang sangat fasih bermain-main dengan hal ini. Menurut saya pribadi, ini merupakan kelebihan sekaligus kekurangan. Puisi hadir dalam kehidupan manusia untuk mengangkat derajat terutama dalam berbahasa. Namun yang saya amati bentuknya cenderung itu-itu saja dan cenderung membosankan.

Sebuah puisi yang kaya akan metafor, saya ulang, adalah kelebihan sekaligus kekurangan dalam saat yang bersamaan, mengapa? Karena itu menunjukkan ketidakmampuan penyair – kata yang saya pakai untuk menyatakan penulis puisi – untuk menyampaikan yang dia maksud secara lugas. Belum lagi metafor yang diambil, cenderung itu-itu saja, sehingga membuatnya menjadi sebuah tulisan yang membosankan, tanpa letupan dan mudah diterka.

Saya tidak pandai berteori dalam sastra, namun dalam posting saya coba tuliskan bentuk puisi, yang mungkin tidak baru sama sekali tapi coba menawarkan bentuk lain dariĀ  kebiasaan yang umum berkembang di antara penyair.

Cinta adalah Perlombaan Lari

Mengejarmu, seperti lari marathon – capek dan nggak selesai-selesai

Saat kita jadian, seperti lari di treadmil – capek dan nggak ada kemajuan

Cinta kita banyak sekali rintangannya – seperti lari gawang

Namun pergi menjauh darimu – seperti lari keluar lintasan

Sering kita becinta, seperti lari sprint – terengah-engah walau cuma sebentar

Namun sayang, aku berharap kau bukan seperti lari estafet – kau digilir tapi bukan aku yang terakhir

***

Advertisements