Dunia yang Terlanjur Begini

Dimulai dengan sebuah anggapan bahwa globalisasi adalah sesuatu yang tidak bisa kita tolak, maka semua harus berpikir global, go international, seperti Agnez Monica. Nggak gaul kalau nggak pegang gadget yang bisa akses informasi sampai luar negeri. Apa yang terjadi di London saat ini, bisa kita ketahui beberapa detik setelahnya. Dulu saya ingat, bahkan tetangga saya bisa taruhan bola untuk sebuah siaran tunda. Sekarang, kita update status “gollll…” telat lima menit saja di twitter atau facebook, akan dibilang basi.

Semua serba cepat. Yang tidak cepat akan dianggap golongan tertinggal, kita merasa iba terhadap mereka, sehingga Internet harus masuk ke pedalaman. Harus, harus, harga mutlak.

Saya kemudian membayangkan sosialisasi Internet ke pedalaman.

“Bapak-bapak, Ibu-ibu sekalian, ini adalah modem. Modem ini bisa menhubungkan kita dengan dunia luar. Apa yang terjadi di London, akan kita bisa ketahui saat ini juga. Ada pertanyaan?”

“Saya, Pak.”

“Silakan..”

“Apa itu London.”

Nah, jangankan mereka merasa penting London itu apa, jangan-jangan London pun mereka tidak tahu atau mungkin tidak perduli. Lalu kita yang lebih tahu berarti lebih beruntung. Tidak juga, tidak ada yang tahu siapa lebih bahagia, tidak ada ukuran dan satuan untuk kebahagiaan. Apakah mega, giga atau tera, tidak ada yang pernah mengukur. Apakah informasi yang ber-tera-tera bytes kita terima dari Internet, TV, radio, dll, itu membuat kita bahagia. Sudahlah jadi terlalu filosofis.

Nah itu juga yang saya mau ungkit. “Sudahlah jadi terlalu filosofis.” Ini adalah ungkapan ketakutan terhadap anggapan masyarakat. Sekarang orang hanya dianggap, dihitung kontribusinya bila berkontribusi dalam ekonomi atau ada hubungannya dengan itu. Sumbangan pemikiran tidak lagi dihargai, jangan-jangan lebih dihargai sumbangan doa saat ini. Padahal ilmuwan-ilmuwan awal adalah para filsuf, yang mempertanyakan dunia, yang berandai-andai, walau mereka juga rata-rata polimatik (silakan search sendiri di wikipedia).

Semua dihitung dengan valuta, mata uang, sampai-sampai kita lupa bahwa mata uang itu karangan manusia, tidak nyata. Sampai-sampai semua barang dibuat di Cina gara-gara biaya produksi lebih murah bahkan setelah ditambah ongkos kirim. Jadilah semua buatan Cina. “God created Adam and Eve, but the other things are made in China.” Gitu kata sebuah broadcast BBM.

Sampai-sampai kita lupa, bahwa “murah” hanya karena valuta, dalam hal ini USD atau EUR. Lebih murah semua dibuat di Cina. Padahal kalau dihitung balik, semua bahan baku diangkut ke Cina, lalu setelah jadi, dipack, dan didistribusikan lagi ke negara-negara lain. Lebih murah secara valuta, tapi dari penggunaan energi? Minyak? Lebih boros dong. Inilah yang menjadi sebab dunia berjalan dalam pemborosan luar biasa. Gara-gara kita terlanjur percaya terhadap valuta. Gara-gara semua ingin go international seperti Agnez.

Dulu (masih di abad 20, tidak terlalu dulu-dulu banget), orang Bekasi ya makan beras dari sawah di Bekasi. Sekarang Bekasi yang disebut jauh itu pun sudah berdiri Suma Recon, wow, kemana tuh sawah. Akhirnya apa? Saat ini “konon” 1 kalori makanan diproduksi dengan 7 kalori energi. Gara-gara apa? Gara-gara kita mengejar valuta dan go international seperti Agnez.

Ah, saya nanti dibully fans Agnez. Harusnya kita lebih betah di rumah lah, bensin tambah mahal. Zaman dulu manusia juga melakukan eksplorasi, tapi itu jadi profesi khusus. Hanya orang-orang seperti Colombus, Vasco da Gama, Marco Polo, dkk, yang melakukan itu. Merekalah the explorer. Sekarang? Yah, jadi pembantu aja pada ke Arab dan Malaysia.

Kenapa harus seperti ini? Sudah terlanjur. Siapa yang bertanggung jawab, ya kita semua. Tapi ibarat orang hamil, tentu ada yang menjadi penyebab, siapa yang menghamili. Saya menunjuk tiga orang, yang bisa dibilang berjasa atau tidak, tapi tiga orang ini adalah penyebab awal keterlanjuran yang berlanjut ini. Satu adalah Adam Smith, kemudian James Watt dan yang terakhir Rockefeller.

Kenapa mereka? Saksikan minggu depan okay. Bersambung nih ceritanya coy.

 

Sammy Not A Slim Boy – pengamat perkembangan dunia segala zaman.

Advertisements

Negara Konsumen…

Sekitar tujuh tahun yang lalu saya mampu membeli rumah di lingkungan saya yang sekarang. Masih asri, tidak macet, jarak mini market terdekat adalah sekitar 300 meter dari rumah. Apa yang terjadi sekarang? Setahun yang lalu, 50 meter dari rumah sudah ada mini market baru dan dua bulan yang lalu ada restoran fast food cukup terkenal yang juga waralaba asing, 200 meter dari rumah saya. Macet pun menyertai kehadiran bisnis-bisnis baru ini.

Orang Jakarta seharusnya sudah tidak lagi asing dengan restoran fast food seperti ini, tapi tetap saja saat launching restoran yang bersangkutan, antrian panjang macam antrian sembako murah. Bisa dibilang kampungan sih. Dan saya juga ikut mengantri.

Kenapa sesuatu yang dari asing terlihat lebih keren? Contohnya kontes Miss World yang baru-baru ini digelar di Bali. Saya tidak pro dan juga tidak kontra, netral saja, hanya mau mengomentari bahwa kontes ini nggak keren-keren amat. Walau saya sedikit salut sama para kontestan, yang sepanjang acara mampu tersenyum, bisa berjam-jam terus tersenyum. Kalau ada masalah dengan pacar pun, harus tersenyum. Kalau kebelet harus tersenyum.

Yang paling saya salut adalah ketika pengumuman pemenang. Kontes Miss World di Bali dimenangkan oleh Miss Philippines. Saat announcer mengumumkan, “And the winner is from Philippines…” Saya perhatikan kontestan dari negara lain tetap tersenyum, padahal kan mereka kalah, kan seharusnya sedih?

Kemudian ada yang memberikan ucapan selamat, mungkin mereka bilang, “I am happy for you…” walau mungkin juga dalam hatinya bilang, “Ahh, you are b*tch…” *bercanda

Saya pernah mencoba untuk menekuni olah raga golf. Sempat punya perangkat golf club walau saya jual, karena waktu itu lebih butuh untuk beli beras *maaf curcol. Saya kurang bisa menikmati olah raga ini. Bola dipukul, jauh, lalu kita jalan mendekat, dipukul lagi jauh, seperti kurang kerjaan. Lalu olah raga dalam golf adalah saat pemainnya berjalan, karena lapangan golf yang relatif luas dibanding lapangan-lapangan lain. Namun belakangan banyak orang memilih memakai mobil golf, jadi kapan olah raganya? Belum lagi perangkat golf club dibantu dibawa sama seorang caddy, jadi ini olah raga apa sih sebenarnya? Saya jadi ingat sama kakek saya di kampung yang dulu bertani. Kakek biasa pergi ke sawah bawa cangkul, dan dia bawa sendiri cangkulnya, nggak dibawain sama caddy. Bayangkan kalau kakek saya pergi ke sawah bawa caddy. Bayangkan kalau kakek saya yang petani ini punya caddy – katakanlah namanya Rani – dan dia pergi ke sawah bersama Rani. Sesampainya di sawah, kakek menghitung sudut kemiringan, angin, dan lain-lain, seperti pemain golf yang berusaha memukul bolanya. Lalu dia bilang sama si Rani ini,

“Tolong cangkul nomor 7.”

Saya tidak bisa menyalahkan kalau produk-produk dalam negeri lebih banyak dipilih oleh konsumen Indonesia, semangat nasionalisme bukan hanya milik konsumen, tapi juga produsen dan penentu kebijakan. Kalau ada jargon, “Cintailah produk-produk dalam negeri.” Maka harusnya boleh dituntut kembali, “Perbaiki dulu mutu produknya.”

“Tontonlah film-film nasional.” Maka harusnya boleh dituntut kembali, “Ya tapi filmnya jangan pocong semua dong. Dari Pocong Keramas sampai Pocong Perawan.” Walau Pocong Perawan ini punya keuntungan, dia boleh masuk sekolah seandainya nanti diberlakukan tes keperawanan.

“Berpartisipasilah dalam pemilu, jangan golput.” Maka harusnya boleh dituntut kembali, “Ya, tapi calegnya dan capresnya jangan kayak elo dong.” Jangan sebut nama, karena nggak enak, takut orangnya sensitif.

“Cintailah produk-produk dalam negeri.” Jargon ini terdengar sakral di tengah himpitan produk impor yang membanjiri Indonesia. Lain dengan era sebelumnya, katakanlah zaman Orde Baru (Orba), produk impor indentik dengan barang mahal, prilaku konsumtif. Sekarang tidak, kita sebagai konsumen memang tidak bisa lepas untuk tidak menggunakan produk impor. Kebutuhan pokok pun kita impor, bahkan garam pun kita impor. Jadi produk impor tidak lagi identik dengan kemewahan.

Apakah kita harus menonton sinetron Indonesia, misalnya, yang makin tidak masuk akal. Antrian untuk naik haji dikabarkan sudah begitu panjangnya, jadi kalau kita mendaftar hari ini, maka 15 tahun lagi baru bisa naik haji. Jelas ada sinetron yang tidak survey dulu dalam membuat jalan ceritanya, padahal sinetron tersebut mengambil dari realita hidup, bukan genre science fiction.

Saya hampir tidak pernah menonton sinetron, apakah saya tidak nasionalis, kalau memilih channel dokumenter dari asing? Tapi pernah tidak sengaja ‘tertonton’ sebuah sinetron di TV lokal. Baru beberapa detik, saya sudah menemui kejanggalan dalam sinetron ini. Dikisahkan ada seorang supir bajaj, tapi ganteng banget. Ini jelas tidak sesuai dengan kehidupan nyata, kalau memang ada orang seganteng itu jadi supir bajaj, saya pasti minder untuk naik bajaj dia. Yang ada saya bilang, “Bang, duduk di belakang ya, biar saya yang bawa bajaj-nya.”

Yang jelas, kalau ada orang seganteng ini dan memilih jadi supir bajaj, maka orang ini aneh. Apa dia tidak tahu, ada banyak profesi untuk orang gateng selain jadi supir bajaj. Kan bisa jadi pemain sinetron, kan lumayan, bisa dapat peran supir bajaj. *Walah sama saja dong…

Kebahagiaan

Mari kita mulai dengan sebuah kutipan, “Bahagia itu sederhana.” Lalu saya akan lanjutkan kutipan ini, “Kalau bahagia itu sederhana, maka kesederhanaan itu tidak sederhana.” Keren kan? Sekali-sekali kita bicara filosofis.

Semua orang bisa bahagia naik mobil mewah sekelas Ferrari, tapi yg bahagia dengan naik sepeda, hanya orang-orang tertentu. Semua orang bisa bahagia punya makanan berlimpah, tapi hanya penyanyi dangdut sekelas Hamdan Att – maafkan untuk referensi saya – yang bisa bahagia makan sepiring berdua. Semua bisa bahagia kalau dapat pacar Luna Maya, tapi saya yakin perjuanganmu luar biasa untuk tetap bahagia dengan pacar yang sekarang. Bercanda!

Di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia sekarang sudah (mulai) macet. Ini karena pertumbuhan kendaraan dan ruas jalan yang tidak berimbang. Orang sudah punya mobil, sehingga sekarang di Jakarta – khususnya – dicanangkan sebuah gerakan untuk memakai sepeda dalam kegiatan sehari-hari – BIKE TO WORK. Lalu apakah orang-orang ini bahagia dengan gerakan BIKE TO WORK ini? Bukan menghakimi, mereka bisa bahagia karena mereka sudah bisa beli mobil. Saya nggak terlalu yakin mereka ini bahagia kalau dia hanya mampu beli sepeda. Ikut gerakan BIKE TO WORK ya menjadi biasa-biasa saja, karena memang yang terbeli hanya sepeda.

Beberapa orang mungkin akan berpikir, terang saja orang-orang tertentu jadi pelopor gerakan ini. Kamu adalah orang dari kecil sudah kaya, sampai kuliah diantar jemput mobil papa, lalu kerja, lalu beli mobil, sampai umur 30 tahun pakai mobil, dan kamu sekarang ikut BIKE TO WORK, kamu ngajak saya? Ehh, sebentar, ini kredit Avanza saya baru di-approve. Bercanda ahh, tapi mungkin saja benar.

Kebahagiaan sering bias dengan kepuasan, dan kepuasan manusia itu tidak ada batasnya. Sehingga apabila patokan sebuah kebahagiaan itu adalah kepuasan, maka ada kemungkinan seseorang tidak akan pernah bahagia seumur hidupnya. Kasihan.

Ambil contoh soal pacaran saja. Kalau sudah puas dengan pegangan tangan maka tahap berikutnya akan ke cium pipi, lalu cium bibir, cium mulut, dan akhirnya sexual intercourse. Hal ini nggak mungkin bisa dibalik. Kalau hari pertama kenal udah sexual intercourse nggak mungkin besoknya cuman pegangan tangan.

“Sini aku pegang tangan kamu…”

“Apaan sih pegang-pegang….”

Jadi kalau pacaran sudah bahagia dengan pegangan tangan, stay in that area as long as possible.

Kebahagiaan adalah sesuatu yang tidak bisa diukur. Itu sebabnya seseorang dengan mudahnya meng-claim bahwa dirinya bahagia. Kecantikan masih bisa diukur, setidaknya ada kontes kecantikan. Kecerdasan masih bisa diukur, ada satuan IQ salah satunya. Kekayaan, mudah sekali, berapa total aset yang kamu miliki. Tapi kebahagiaan tidak bisa diukur, sehingga dengan mudah dapat di-claim.

“Dasar kamu, sudah jelek, bodoh, miskin lagi!!!”

“Yang penting aku bahagia.”

Perdebatan apapun akan langsung mencapai titik end of discussion.

Bahkan tanda-tanda bahagia pun sulit dibedakan. Manusia kan pandai bersandiwara. Manusia bisa tersenyum walau sedang sedih. Beda dengan anjing, yang mimik mukanya terbatas, manusia punya banyak pilihan mimik muka yang bisa dipilih sesuai kebutuhan. Apabila seseorang menangis, apakah sudah pasti tidak bahagia? Bahkan ketika seorang perempuan menangis ada tiga alasannya: pertama karena sedih, tapi yang kedua bisa juga karena bahagia, dan alasan terakhir adalah karena ingin menang saja saat berantem. Kalau perempuan sudah begini mendingan laki-laki pakai jurus, “Sudah, aku yang salah…” Walaupun tidak tahu letak salahnya di mana, yang penting nangisnya selesai tuh perempuan.

Faktor ekonomi sering sekali dikait-kaitkan dengan kebahagiaan. Wajar, karena bila diselidiki banyak hal di dunia ini latar belakangnya adalah faktor ekonomi. Kenapa perempuan cantik itu jual mahal, bukan karena cantik semata, tapi karena mereka sadar populasi mereka sedikit. Hukum supply and demand berlaku. Permintaan banyak, supply terbatas, harga naik. Kalau yang jelek yang sedikit, pasti yang jelek yang jual mahal.

“Sayang kamu kok jual mahal?”

“Aku kan jelek!”

Perempuan cantik dengan alasan kesopanan sering menolak laki-laki yang mengajaknya masuk ke hubungan pacaran. Jenis hubungan “adek-kakak” adalah paling sering digunakan untuk penolakan halus ini. Tapi lama-lama mungkin ada juga perempuan-perempuan cantik yang kreatif, mereka menawarkan jenis hubungan baru. Bukan “adek-kakak” apalagi pacaran, tapi jenis hubungan KDJA. “Kita jalanin dulu aja.” Ini jelas bikin laki-laki bingung dan jauh dari sekali dari kata bahagia tadi. Jenis hubungan “Kita jalanin dulu aja.” sangat menyiksa.

Kebahagiaan apakah berdasar kepuasan? Karena kepuasaan itu hubungannya dengan selera. Sedangkan kebanyakan pasangan itu lebih kepada faktor pilihan, bukan selera. Kalau ditanya selera, semua laki-laki tentunya berselera pada Luna Maya – yah nama dia lagi disebut. Coba tanya pasanganmu, “Sayang sebenarnya kalau boleh ganti, kamu mau nggak?” Maka jawabannya, kalau tidak dalam tekanan tentunya, “Kalau boleh jujur aku sayang sama kamu, tapi casingnya boleh diganti nggak?”

Semua berdasarkan pilihan bukan selera. Seandainya di dunia bersisa dua orang. Saya laki-laki dan ceweknya katakanlah Mpok Nori, saya tentu tidak punya pilihan. Saya akan bilang sama Mpok Nori

“Mpok Nori maukah kau jadi pacar aku?”

“Kite jalanin dulu ajeee yee…”

Apakah kamu sudah bahagia? Membaca artikel ini jangan tambah bingung. “Kita jalanin dulu aja…”

Apakah Ekonomi Berbohong?

Ngomong sedikit serius ah, tentang ekonomi. Saya bukan pakar ekonomi, dan mari kita bicara ekonomi dari sudut pandang orang biasa yang bosan dengan teori-teori. Mari kita sekadar bicara dari sudut pandang orang yang punya logika saja. Ya logika tanpa referensi saat ini sering dikesampingkan. Posting ini adalah intisari dari beberapa buku dan film dokumenter yang pernah saya baca dan tonton.

Dari kebiasaan sehari-hari saja deh. Apa itu ‘paket ekonomi’? Paket yang murah, paket yang terjangkau. Apa itu ‘kelas ekonomi’? Kelas yang terjangkau. Lalu apa itu ‘pertumbuhan ekonomi’?

Tingkat konsumsi biasa dijadikan indikator pertumbuhan ekonomi. Makanya angka penjualan mobil/motor sering dijadikan indikator pertumbuhan ekonomi. Banyak mobil jadinya macet. Jadi macet adalah indikator pertumbuhan ekonomi.

Saya pernah ngetwit, “Macet indikator pertumbuhan ekonomi katamu? Coba mobil yang belum lunas nggak boleh keluar rumah, pasti nggak macet.” Twit saya ini merangsang pakar ekonomi timeline untuk mendebat saya. Saya nggak peduli juga sih, biarin aja biar dia bangga dengan referensinya, saya tetap pada logika saya.

Apakah ekonomi sudah berbohong? Ekonomis adalah sifat yang identik dengan irit dan terjangkau. Tapi pertumbuhan ekonomi malah dihitung dari tingkat konsumsi. Konsumtif artinya boros. Katanya irit tapi boros, nggak konsisten, berarti bohong dong?

Ekonomi juga menciptakan kesenjangan, menciptakan strata dalam masyarakat. Di tingkat global, ekonomi menciptakan status negara, dari negara miskin, berkembang sampai maju. Negara dunia ke-3 (third world country) sampai negara dunia ke-1 (first world country).

Perbedaan status ini memicu perbedaan nilai tukar mata uang di masing-masing negara, perbedaan standar hidup, perbedaan biaya hidup yang akhirnya memicu perbedaan standar gaji (labor cost) masing-masing negara. Nah mari kita ungkap lagi kebohongan ekonomi yang lain.

Perbedaan labor cost mengakibatkan sebuah produksi bila dinilai dari nilai uang – saja – akan lebih murah dikerjakan di negara lain lalu hasilnya dikapalkan ke negara pemakai.

Sebagai contoh, mainan anak di Amerika Serikat (AS) diproduksi di jauh-jauh di Cina, karena labor cost di Cina jauh lebih rendah dari labor cost di AS, bahkan setelah ditambah dengan biaya pengiriman (shipping cost). Apakah ekonomi berbohong? Nilai yang dipakai hanya nilai uang (Dollar) padahal sebenarnya terjadi pemborosan. Mengapa untuk sesuatu yang dipakai di AS harus jauh-jauh diproduksi di Cina,  boros energi, boros BBM, itulah sebabnya sekarang kita diambang krisis energi. Secara Dollar untung, tapi secara sumber daya yang terpakai rugi. Siapa yang bego? Pakar ekonomi atau kita?

Apakah ekonomi berbohong?

Masih banyak yang lain, tapi lagi males nerusinnya.

Sammy @notaslimboy, bukan pakar ekonomi.