Petruk Jadi Ratu

Saya berdarah Batak. Hanya karena saya lahir dan besar di pulau Jawa, ditambah lagi dulu tinggal di asrama militer di Bandung, bukan hanya banyak orang Sunda, tapi juga banyak keluarga rekan bapak saya sesama militer yang merantau dari Jawa Tengah. Kami tingggal di Bandung, dan orang-orang Jawa dulu umurnya panjang-panjang. Banyak dari teman-teman saya, yang eyang Kakung/Putrinya ikut diajak ke Bandung. Alasannya di kampung tidak ada lagi anak yang bisa menjaga si Mbah. Semua anaknya sudah merantau ke kota besar.

Hal ini membuat saya cukup kental dengan pengaruh budaya Jawa, terutama soal pewayangan. Walalu sebenarnya wayang itu sendiri ya dari India lah, tapi bukan itu maksud tulisan ini.

Setelah bisa membaca sendiri, karena terlanjur sering diceritain kisah-kisah wayang sama si Mbah teman saya, akhirnya saya banyak membaca buku-buku wayang. Dari Mahabarata, Ramayana sampai wayang purwa. Pokoknya mungin kalau bahasa Jawa lancar sih bisa masuk rekor MURI, sebagai dalang pertama berdarah Batak.

Ada satu lakon, Petruk Jadi Ratu. Petruk yang bagian dari punakawan, seharusnya mengabdi saja. Eh terpilih berkuasa. Akhirnya karena gamang, baru memiliki kekuasaan, si Petruk ini jadi malah lebih kacau dari pemimpin sebelumnya. Masih ada perdebatan soal interpretasi kisah ini, apa ini semacam siasat kasta/golongan yang lebih tinggi agar golongan di bawahnya tidak mungkin berkuasa. Harus tetap golongan bangsawan dan borjuis, tidak boleh dari proletar. Begitu kalau pakai istilah-istilah revolusi, haha.

Inti dari kisah ini bila ditarik ke kehidupan berbangsa dan bernegara sekarang, apakah mungkin Jokowi itu Petruk? Karena sudah hampir sebulan Kapolri tidak juga dilantik, lembaga-lembaga yang bisa dia kontrol dibiarkan berantem sendiri. Memang mereka semua sudah bapak-bapak, sudah pada gede, pipis dan mandi juga sudah sendiri semua. Tapi Presiden RI bukan hanya masalah pribadi saja, Presiden adalah “lembaga” tinggi negara. Diatur oleh konstitusi kita. Bahkan Presiden punya hak untuk menyatakan keadaan darurat sebuah negara.

Rakyat Indonesia ini terlalu baik kali ya? Kita sedang tidak punya Kapolri, tapi santai-santai saja. Presiden sedang mengurus proyek mobil nasional, proyek strategis kah? Mungkin iya, tapi tidak urgent. Atau urgent dari sisi inner circle, maaf kalau harus menyebut nama, Hendro Priyono?

Kedekatan penguasa-pengusaha-militer, adalah permainan Indonesia sejak lama. Ya, kita pasrah saja, untung kita baik dan tidak lantas bikin kacau.

Apakah Jokowi yang Petruk jadi Ratu? Seorang yang melesat karirnya terlalu pesat. Lalu cepat juga sirna. Seperti Shinta dan Jojo yang secara instan terkenal lewat Youtube, tapi sekarang entah sedang apa? Atau saya yang tidak update infotainment.

Kembali ke permasalahan. Atau mungkin juga PDIP sudah menjadi Petruk di sini? Sesudah reformasi begitu gegap gempitanya rakyat, 32% mendukung PDIP dan Megawati.  Namun Mega gagal jadi Presiden, karena dijegal poros tengah. Posos ini juga yang beralih keberpihakan pada Mega dan menjegal Gusdur. Mega menggantikan Gusdur. Tapi di pemilihan berikutanya, saat pemilihan Presiden dilakukan pertama kali langsung oleh rakyat, rakyat sudah tidak percaya lagi pada golongan sipil, dan memberikan kemenangan pada SBY. Walau militer, dianggap militer yang “lain”. Memang lain, tapi terlalu lain dari yang lain ternyata.

Mega begitu disakiti. PDIP mungkin merasa dirinya anak kandung Reformasi, setelah peristiwa 27 Juli 1996. Lalu sekarang, kadernya berkuasa, jadi apa mungkin dialah Petruknya? Sampai-sampai, Puan Maharani, yang seorang menteri, yang notabene anak buah Presiden, bisa mengeluarkan statement “Jokowi bagaimanapun adalah petugas partai..” Wow, nyalinya hebat juga, atau memang karena Petruk gak pikir panjang? Lama di bawah, sekali berkuasa, merusak tatanan di dalam kekuasaan sendiri?

Hanya waktu yang bisa menjawab, yang jelas salut pada rakyat Indonesia yang sabar. Rakyat yang kalau di-PHK, ngojek atau jual pulsa. Tidak seperti Swedia yang lama sejahtera, PHK besar-besaran di Ericsson dan SAB, dan banyak pengangguran baru. Mereka lalu rusuh, rusuh, rusuh. Mereka tidak terpikir apa untuk ngojek atau jual pulsa.

Mari rakyat Indonesia, kita jadi Petruk terus saja. Itu di istana, apa ada Petruk yang nyasar ke sana? Sini woyyyy…

Pertanyaan saya kemudian apakah fenomena Pertruk jadi Ratu ini ada juga di tubuh KPK? Selama ini begitu berkuasa. Jangan-jangan benar kekuasaan dan wewenang yang besar itu disalahgunakan oleh beberapa orang untuk kepentingan pribadi mereka. Ambisi pribadi mereka.

Pokoknya jadi orang jangan mau benar sendiri. Karena tidak mungkin seseorang itu benar hanya sendirian. Minimal jawaban dia harus sama dengan kunci jawaban.

Sammy – Notaslimboy – Batak yang suka wayang.

Advertisements

Apa Beda Budiman Sudjatmiko dan Adian Napitupulu

Menduga-duga judul artikel di atas apa masudnya?

Saya mengajak kita masuk dulu ke kisah Western Wyatt Earp dan Doc Holliday. Ini sebenarnya sebuah sejarah, tapi banyak versinya. Sudah difilmkan dan versi yang saya suka adalah Tombstone. Ini film sudah banyak di torrent, silakan didownload. Ceritanya mereka adalah dua jago tembak. Wyatt Earp memilih bertani dan berternak, Doc Holliday yang lebih hebat skillnya memilih jadi pemabuk dan tukang judi. Sambil mabuk pun dia lebih hebat dari Wyatt Earp, namun Earp lebih punya leadership. Wyatt Earp sudah pernah berhasil memberantas kejahatan sebelumnya, dan memutuskan pindah ke wilayah lain dan menjadi petani dan peternak.

Saya hanya menulis dengan metoda ingatan, jadi banyak lupa nama daerahnya. Pokoknya di daerah baru itu dia bertemu Doc Holliday sang jago tembak sekaligus penjudi dan pemabuk. Muncul gerombolan penjahat yang sangat ditakuti saat itu, dipimpin Curly Bill dan Johnny Ringo. Mereka bengis, kejam, dan sangat ditakuti. Penegak hukum pun tidak mampu melawan mereka, bahkan dalam sebuah versi penegak hukum malah melindungi kawanan penjahat ini.

Wyatt Earp – bersama beberapa Earp Brothers – meninggalkan usaha pertanian dan peternakan mereka dan memutuskan untuk mengambil lencana Marshall untuk melawan gerombolan ini. Doc Holliday entah kenapa tertarik bergabung dan mereka menjadi kekuatan luar biasa. Singkat cerita pokoknya gerombolan Curly Bill dan Johnny Ringo kalah diberantas oleh Earp Brothers dan Doc Holliday. Wyatt Earp kembali bertani dan Doc Holliday meninggal karena kebanyakan mabok tuh orang, nggak ngajak-ngajak lagi.

Ini kan sama dengan kejadian di Indonesia. Sudah berulang terjadi di beberapa angkatan. Penjahat yang dilindungi oleh penegak hukum dan penguasa. Mahasiswa, meninggalkan kuliah, bersama rakyat meninggalkan profesinya masing-masing, sejenak, turun ke jalan, dan akhirnya penguasa berhasil digulingkan. Hanya bedanya, beberapa tokoh pergerakan, katakanlah aktivis, akhirnya malah ikutan masuk menjadi bagian dari kekuasaan. Tidak kembali ke profesi awal, seperti Wyatt Earp dan Doc Holliday.

Soe Hok Gie adalah tokoh yang konsisten. Dia menentang Soekarno, lalu tidak masuk sistem, Soeharto pun dia tentang. Gie lebih cocok dibilang Doc Holliday-nya Indonesia, sama-sama meninggal muda.

Ini hanya sebuah opini, boleh setuju atau tidak, menurut saya, saya setuju dengan prinsip Soe Hok Gie, Wyatt Earp dan Doc Holliday. Kembali ke profesi awal, tidak masuk ke dalam sistem. Dengan pandangan ini, maka Adian Napitupulu adalah seorang aktivis, maka kalau dia seorang yang berprinsip seperti Soe Hok Gie, seharusnnya dia tidak masuk ke dalam sistem. Pilihan orang bebas, kecuali memang dia rasa Soe Hok Gie salah. Apa bedanya dengan Budiman Sudjatmiko, sejak dulu dia politisi. Dia tidak berjuang sebagai aktivis mahasiswa, namun mendirikan partai yang bernama PRD. Jadi wajar dia ada di dalam sistem. Salut juga sih sebenarnya, dulu partai hanya tiga, PPP, Golkar dan PDI, anggap lah itu major label. Lalu Budiman Sudjatmiko mendirikan PRD, indie label. Luar biasa, walaupun sekarang dia ada di major label.

Siapa Presiden Favoritmu?

Presiden baru nih. Boleh dong kita kilas balik sedikit soal Presiden Indonesia di waktu lampau.

Siapa Presiden favoritmu? Kalau gua sih Gus Dur. Jenaka dan intelek dalam satu paket. Gua banget (muji diri sendiri).

Jenis humor Gus Dur adalah satire. Hanya saja jabatan Presiden terlalu sempit mewadahi keluasan pikir doi. Jadinya mentok. Dia bitter realist, seorang Presiden harus bicara manis dan normatif. Sungguh itu bukan kepakaran Gus Dur. Tak sampai dua tahun dia harus dilengserkan.

Seorang yang realistis terkadang terlihat pesimis memang. Bayangkan dalam sebuah pertemuan dengan petani ada yang bertanya, “Bagaimana nasib kami. Pemerintah, kami harus bersaing dengan produk impor…” Dengan enteng doi jawab, “Kalau ada pekerjaan lain, jangan jadi petani…” Terlihat seenaknya, tapi itu kenyataan. Sayangnya itu keluar dari mulut seorang Presiden, coba dari komedian seperti saya. Pasti lain hasilnya.

Bagaimanapun Gus Dur selalu kukenang. Selalu tersenyum sendiri bila mengingat Indonesia pernah punya Presiden seperti doi.

Gus Dur adalah Presiden favoritku. Tapi bukan yang paling kukagumi. Yang kukagumi tetap Soekarno. Bayangkan, dia berjanji akan menggoncang dunia bila diberi sepuluh pemuda. Sayangnya doi lebih suka berkumpul dengan sepuluh pemudi.

Kenaikan Harga BBM: Sebuah Pilihan Sulit

Tulisan ini tidak akan banyak berfokus pada angka dan data soal APBN, subsidi yang salah sasaran dan angka-angka statistik lain yang membosankan dan bisa dengan mudah anda googling. Tulisan ini akan lebih fokus untuk memberi gambaran pada pembaca yang saya harap rakyat Indonesia yang sedang harap-harap cemas dengan kenaikan BBM. Bagaimana kita harus mengerti kondisi ini dan bagaimana kita bersikap.

Sebelumya mari kita terbang sejenak ke AS untuk mengutip pandangan seorang political activist/comedian Bill Maher, yang bila saya terjemahkan, “Hey, kenapa kau mengeluh harga bensin naik? Tahukah kalian, untuk mendapatkan minyak, negara kita harus berperang dan membunuh orang lain.” Sebuah sarkasme yang kemudian dilanjutkan dengan sarkasme lain pada pemerintahan saat itu, di bawah kepemimpinan W. Bush, “Dear President Bush, lain kali kalau anda bilang kita berperang untuk minyak, pastikan kita bawa pulang minyaknya.”

Dua kalimat terdengar mengolok-olok dan hanya bercanda. Tapi itulah yang terjadi, minyak memicu konflik di beberapa kawasan dunia dan khusus di AS kemudian rakyat sudah mulai bertanya-tanya apa tujuan mereka berperang, kalau memang minyak, kenapa harganya terus naik?

Minyak atau bahan bakar fossil memang masih komoditas utama penghasil energi saat ini. Dan dengan perkembangan industri, pertambahan jumlah kendaraan bermotor, dan peralatan lain yang membutuhkan energi, permintaannya kian naik. Selain itu dia bukan sumber daya yang dapat diperbaharui. Permintaan naik, persediaan berkurang, hukum ekonomi akan berlaku, harga naik. Sejalan waktu harga minyak dunia selalu naik, terkadang turun memang, tapi secara keseluruhan dalam rentang waktu saat sumber energi ini mulai eksploitasi, kecenderungannya naik.

Lho, kita kita kan negara produsen, kalau harga naik, bagus dong. Kita kan anggota OPEC. Nah ini seperti pendukung Liverpool yang bilang, kita kan juara. Jawabannya itu dulu, sekarang tidak lagi. Produksi minyak kita defisit terhadap kebutuhan dalam negeri. Produksinya terus menurun dan bila tidak ada sumber baru maka cadangan minyak kita akan habis dalam kurun waktu 12 tahun. Menjomblo 12 tahun itu lama, tapi percayalah menunggu 12 tahun untuk habisnya cadangan minyak kita, itu waktu yang singkat.

Sebuah fenomena menarik, ada beberapa perusahaan leasing yang memberikan tenor kredit mobil hingga 10 tahun, luar biasa. Melihat fakta bahwa cadangan minyak kita tinggal 12 tahun, maka pemilik mobil ini, punya kesempatan 2 tahun menikmati mobilnya setelah lunas. Setelah itu mungkin dia tidak mampu beli bensin, karena Indonesia akan menjadi negara pengimpor BBM murni. Jadi pikir-pikir deh yang mau kredit mobil. Haha.

Pemerintah selama ini memberikan subsidi sehingga rakyat Indonesia bisa menikmati harga yang lebih murah dari harga minyak dunia. Beban itu dirasa kian berat dan jumlah subsidi BBM di atas subsidi kesehatan dan pendidikan. Kondisi ini diperparah dengan kenyataan bahwa BBM bersubsidi ini malah 77% dinikmati 25% orang-orang berpenghasilan tertinggi.

Singkatnya, beban tinggi, dan salah sasaran.

Mengurangi subsidi BBM dan mengarahkannya ke sektor lain menjadi sebuah pilihan yang harus diambil dan diakui sulit. Buah simalakama. Sama-sama tidak enak.

Lalu ada suara lain. Bagaimana kita tahu subsidi BBM ini belum tepat sasaran. BBM adalah salah satu komponen pembentuk harga kebutuhan pokok. Biaya produksi dan distribusi dipengaruhi harga BBM. Kalau harga BBM naik, otomatis harga kebutuhan pokok naik. Masih untung kalau begitu, kadang-kadang baru ada isu BBM mau naik, harga kebutuhan pokok bisa naik duluan. Oleh karena itu, kalau memang harus naik, lebih baik jangan ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Nanti jadi seperti legenda bulutangkis kita, ragu-ragu Icuk.

Artinya ini pilihan sulit. Secara jangka panjang memang kita harus mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil, melakukan konversi energi ke gas di jangka menengah, mencari alternatif energi lain, membangun infrastruktur transportasi massal, dll. Banyak pakar yang kita miliki terkait ini. Tapi dalam jangka pendek ini apa? Ya, saya kira mengalihkan alokasi dana subsidi ke sektor yang tepat seperti kesehatan dan pendidikan adalah pilihan. Pilihan yang harus diambil, dan kalau memang sudah diwacanakan jangan berlarut-larut.

Ini bukan kebijakan populis bagi sebuah pemerintahan yang baru sekitar satu bulan bekerja. Saya menempatkan diri sebagai rakyat, juga tidak senang. Tapi saya, tanpa mencoba mewakili rakyat yang lain, mencoba mengerti kondisinya, dan memberi kesempatan pada pemerintahan yang baru ini kalau memang mau mengatur distribusi subsidi.

Maka koalisi di parlemen, pemerintah, ormas, dan semua elemen, kita punya musuh yang lebih nyata: krisis energi. Tanpa bertengkar satu sama lain pun kita sedang menghadapi kesulitan yang nyata. Ya kalau mau ‘disambi’ berantem, berarti memang kita kelebihan energi, haha.

Hal sederhana yang kemudian dikeluhkan rakyat adalah, rakyat memang terbiasa susah, tapi ya sangat tidak adil adalah kalau kemudian lapisan terbawah masyarakat yang kemudian paling menderita akibat kenaikan BBM bersubsidi. Sementara mafia migas merajalela, oknum alat negara terlibat pula. Tidak ada rasa kebersamaan, susah-senang sebagai bangsa dijalani bersama. Oke, kalau memang menaikkan harga BBM bersubsidi ini pilihan yang harus diambil, lakukan jangan ragu. Tapi jangan ragu juga untuk: berantas mafia migas!!!

Bahkan intinya, berantas semua mafia. Pertahankan satu mafia saja, mafia asal Jogja. Mafia Pathuk! #kepleset

Silogisme

Apa yg terlintas di benak elo kalau gua sebut kata ‘mayoritas’. 99% orang Indonesia akan menyebut Islam. Padahal gua tidak menyebut dalam konteks apapun secara khusus.

Sebenarnya mayoritas adalah istilah statistik untuk mengidentifikasi kumpulan dengan populasi 1/2 lebih dari sebuah himpunan yang lebih besar.

Entah kenapa di Indonesia, top of mind langsung mengarah ke populasi pemeluk agama. Kata mayoritas itu sangat luas cakupannya. Jika dibanding kaum gay dan lesbi maka straight itu mayoritas. Jika dibanding orang kaya, maka orang miskin dan hampir miskin itu mayoritas. Jika dibanding orang pintar, maka yang bodoh itu mayoritas.

Kata mayoritas ini kemudian sering disalahgunakan. Seolah kalau jumlahnya lebih banyak maka haruslah yg lebih diprioritaskan. Masih mending kalau hanya bicara prioritas, sering kali malah, kalau kelompoknya lebih banyak, berarti kelompoknya yang paling benar. Padahal di rumah sakit jiwa, pasien sakit jiwa itu mayoritas dibanding dokternya.

Bila jumlah anggota dlm koalisi KMP lebih banyak, apakah pasti benar. Yang jelas jumlah orang bodoh itu pasti lebih banyak. Dan bila kita menggunakan silogisme ini akan terjadi logical fallacy. Penggiringan opini dengan cara mengambil kesimpulan yang salah, walaupun bisa jadi memang anggota KMP itu bodoh. Tapi KIH lebih bodoh lagi kalah sama orang bodoh. Lalu pemilih Jokowi itu bodoh, karena lebih banyak dari pemilih Prabowo.

Itulah, karena kita mempersempit kata ‘mayoritas’, akhirnya timbul kebodohan baru.

Jadi menurut silogisme ini, maka seorang gay, kaya, memilih Prabowo, tapi malah masuk parlemen di koalisi KIH dan seorang pemeluk Ahmadiyah dengan profesi dokter jiwa.. adalah orang paling GENIUS. Selamat utk orang ini – kalau memang ada.

Yes… makin ngaco.

Demokrasi, Kolak Pisang dan Pisang Goreng

Kalau demokrasi kita ibaratkan pisang. Pilkada langsung itu kolak dan pilkada lewat DPRD itu pisang goreng. Maka Indonesia sedang makan kolak. Tiba-tiba Menteri Gamawan ajukan proposal, “Bosan ah makan kolak. Pisang goreng lebih mantap, biaya murah lagi…”

DPR mau mengesahkan, cara apa kita masak nih pisang. Terbagi dua kubu, satu lebih suka, “Kami tetap kolak.” Satu lagi bilang, “Pisang goreng harga mati!” Lalu ada Partai Demokrat. Dia belum menentukan sikap. Namun nampaknya condong ke kolak, hanya dengan 10 syarat tambahan. Eh, 10 syarat ini tidak bisa diakomodasi saat pleno, akhirnya Demokrat memilih walkout, dan rela makan pisang goreng dibanding kolak yg tdk disertai 10 syarat.

Besoknya Presiden SBY kecewa kok pisangnya jadi digoreng. Beliau notabene bosnya Gamawan dan bosnya Demokrat. Akhirnya diajukanlah Perppu yg mengusahakan pisang tetap dikolak dengan 10 syarat tambahan. Pembahasannya tentu nanti di DPR. Bisa dibuat sederhana malah inginnya ribet…

Sepertinya tukang pisang goreng dan tukang kolak pisang tidak pernah seribet ini.

Hidup kolak pisang….

Kenapa contohnya pisang, kolak dan pisang goreng? Sebenarnya mau babi, saksang dan panggang, tapi takut blognya tidak dapat stempel halal.

DARI PADA SAYA BERBUAT HILAF!

TanpabatasVol2

“DARI PADA SAYA BERBUAT HILAF!”

Bagi teman-teman yang sering atau pernah naik bus kota di Jakarta, kalimat di atas tidaklah asing. Biasanya ada seorang yang mengaku – atau mungkin juga benar – baru keluar dari penjara (Lembaga Pemasyarakatan).

Orang ini kemudian mengaku bahwa dirinya mau bertobat dan minta dukungan moral para penumpang bus. Intinya dia butuh modal untuk memulai hidup dengan baik dan tidak terjerumus ke dalam dunia kriminal lagi. Dia menekankan, “DARI PADA SAYA BERBUAT HILAF!” Kalimat ini adalah #kode minta sumbangan.

Kita mungkin terlanjur berpandangan negatif terhadap orang-orang seperti ini. Memeras, menakut-nakuti, memberikan terror pada penumpang bus. Mungkin saja benar. Tapi selalu ada sisi lain dari sebuah cerita, siapa tahu memang orang ini mau bertobat, dan memang benar-benar butuh modal untuk memulai usaha.

Seniman pun mungkin seperti ini. Awalnya semua seniman idealis, tapi karena kebutuhan sehari-hari tidak tercukupi, ya akhirnya harus menyerah pada tuntutan industri.

Datang ya 26 April ke #TanpabatasVol2 di GBB Taman Ismail Marzuki. Tiket mulai saya pasarkan 17
Maret 2014. Jangan sampai saya anda temukan di episode-episode YKS tahun depan…. DARI PADA SAYA BERBUAT HILAF!

:))))))))