Jakarta Tidak Nyaman?

Jakarta tidak nyaman? Belum tentu, buat kamu yang punya hobi melanggar tata tertib lalu lintas pasti merasa senang tinggal di kota ini. Kamu dan tungganganmu bebas berdiri di atas zebra cross. Lampu masih merah, boleh jalan terus. Gak pake helm atau bawa helm tapi cuma digantungin di kuping? gak jadi masalah. Ada polisi? cuma diliatin kok.

Jakarta tidak nyaman? Gak juga, berbahagialah kamu yang tukang parkir. Tarif parkir pinggir jalan untuk sepeda motor di Jakarta saat ini sekitar Rp.2000 – Rp.5000, mobil Rp. 3000 – Rp. 10.000. Menurut Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, jumlah kendaraan bermotor di Jakarta dan sekitarnya bertambah sebanyak 5.500 hingga 6.000 unit per hari (sumber ini). Menurut wawancara singkat saya kepada mas-mas parkir di pinggiran jalan Pemuda, setiap harinya ada sekitar 100 motor dan 50 mobil yang parkir di area kekuasaannya. Silakan ambil kalkulatormu, hitung sendiri penghasilan beliau per bulannya, lalu buat surat resign dari kantormu sekarang juga.

Jakarta tidak nyaman? Kata siapa? tukang copet sama preman bahagia aja tuh. Gimana enggak, di metro mini masih banyak yang minta recehan sambil ngancem baru keluar dari penjara. Abang – abang dengan kecepatan tangan melebihi kemampuan normal juga masih seliweran di keramaian. Pengawasan polisi dirasa masih kurang jadi mereka dapat leluasa mengeksekusi korbannya. Pendapatan besar, setoran lancar, tawa pun lebar.

Jakarta tidak nyaman? Jangan bohong ah, masih banyak kok anak kecil yang tertawa lepas di perkampungan. Bersama teman – teman mereka membuat sebuah ban karet, melemparkan lalu menaikinya, menyusuri beberapa gang yang sudah terendam air setinggi pinggang orang dewasa. Hiburan di kala penat.

Jakarta tidak nyaman? Tukang gemblong dan lemper tampak saling melemparkan senyum. “Laris nih mang”, teriak tukang lemper kepada tukang gemblong. “Iyaa kang, alhamdullilah”, tukang gemblong menyahut. Bahagia rasanya melihat mereka mensyukuri rezeki yang telah didapat. Para pengendara mobil juga terlihat lahap menikmati dagangan mereka sambil beberapa kali mengumpat terhadap kemacetan yang masih sering terjadi di beberapa ruas jalan yang sama. Simbiosis mutualisme.

“Cuma kamu yang bikin aku nyaman mas” – Ratri , 18 tahun , pengrajin garpu pop mie

Advertisements

Pak Presiden Mari Membaca: Ini Ibu Budi

Kalimat di atas adalah kalimat standar buku pelajaran membaca di angkatan saya bersekolah. Ini Ibu Budi. Wati kakak Budi. Iwan adik Budi. Contoh-contoh yang standar, dan anehnya (nyaris) dianggap sebuah fakta. True story, dalam sebuah “cerdas cermat” dadakan tingkat komplek memperingati hari kemerdekaan RI, ada soal ini. Contoh yang dianggap fakta. “Siapa kakak Budi?”

Tapi artikel ini tidak berfokus soal hal aneh di atas. Kita ke hal aneh lain yang baru-baru saja terjadi terkait dengan budaya membaca di negeri ini. Masih heboh soal tunjangan mobil pejabat yang nilainya 210jt. Nilai yang fantastis untuk kondisi ekonomi masyarakat saat ini. Dirasa melukai rasa keadilan masyarakat. Presiden Jokowi kemudian berkelit bahwa tidak mungkin dia membaca semua berkas yang dia harus tandatangani. Apakah ini sebuah alasan? Tentu dia bisa mempekerjakan staff yang meneliti semua yang hendak ditandatangani. Kecuali memang apa yang ditandatangan ini sesuai keinginan sang Presiden. Namun sang Presiden berkelit dia tidak sempat membaca tumpukan berkas itu. Tersirat bahwa sebenarnya dia tidak setuju dengan berkas yang dia telah tandatangani.

Presiden tentu bukan perseorangan, dia merupakan sebuah lembaga tinggi yang dibantu oleh menteri dan staf khusus, tumpukan berkas yang tinggi bukan menjadi alasan untuk berkelit. Keputusan ini kemudian kabarnya akan direvisi, artinya sebuah pengakuan bahwa telah terjadi kesalahan.
Mengapa ini bisa terjadi? Saya jadi teringat tulisan sahabat saya J.J. Rizal seorang sejarawan, soal Jokowi dan Perspustakaan. Singkat cerita dalam artikel itu diceritakan pada 14 Maret 2013, Jokowi yang kala itu Gubernur DKI Jakarta sedang melakukan pidato, dan mendapati Walikota Jakarta Selatan Anas Effendi sedang mendengkur. Jokowi tersinggung, mungkin tidak terima pidatonya dianggap membosankan. Selang sehari Jokowi menilai buruk kinerja Anas Effendi, dan memindahkannya menjadi Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) Jakarta. Setahun kemudian, pada 11 Maret 2014, Jokowi menaikkan kembali Anas sebagai Walikota Jakarta Barat. Kenaikan kembali itu karena menurut Ahok, “Anas sudah bertobat dan berjanji memperbaiki kesalahannya.” Sementara itu, Jokowi melihat Anas telah insyaf atas yang disebutnya sebagai cara kerja dengan “ritme baru dan totalitas baru”.
Kesimpulan J.J. Rizal sangat menarik. Jokowi dan Ahok menempatkan perpustakaan sebagai tempat buangan. Jelas ini tidak sesuai dengan semangat revolusi mental yang diusung dalam pemerintahan Jokowi.
Apa yang terjadi hari ini, tentang insiden tunjangan 210jt, adalah cerminan apa yang sudah terjadi sebelumnya. Perpustakaan adalah lambang budaya membaca, dan Jokowi menjadikannya tempat buangan. Artinya, membaca itu tidak penting, bagi bapak Presiden kita.
Terima kasih J.J. Rizal sang pencatat sejarah.

Ujian Bagi Negarawan

 

Kenegarawanan seseorang diuji saat menerima tekanan. Pernyataan bahwa FPI tdk layak hidup di Indonesia karena melanggar konstitusi, sepertinya agak aneh. Ini kok seperti gaya Orba ya. Kalau memang melanggar hukum ya tindak sesuai hukum yang berlaku dong, Koh.

Nggak pakai helm, ya ditilang. Anarkis dan merusak, tangkep. Buat apa FPI dibubarkan? Sekalian aja kirim ke Pulau Buru kayak tapol PKI. Bubarkan saja FPI spt dulu Harto bubarkan PKI dan anggotanya dihukum tanpa ada pengadilan.

Oke mungkin saya berlebihan. Koh Ahok gak segitunya lah ya Koh.

Kita ambil contoh deh. Banyak kekurangan Bung Karno, tapi dia negarawan yang menempatkan kepentingan Indonesia di atas segalanya. Ketika BK dipreteli Harto dan Nasution (AD), BK masih punya AU dan KKO yg loyal padanya. Bisa dia lawan tuh pasukan NATO (Nasution-Soeharto). Tapi dia tak lakukan, karena akan jadi perang saudara antar angkatan di tubuh TNI. Rakyat juga jadi korban.

BK juga memberikan amnesti pada anggota DI/TII. Beberapa memang ngeyel gak mau nyerah, jadi terpaksa ditumpas. Sisanya dpt Amnesti. Bahkan salah satu pemimpin DI/TII di Aceh, Daud Beureuh, hidup langgeng setelahnya.

Kenapa ini baru jadi Wagub aja udah -maaf- belagu.

Saya pun anti FPI. Gereja Ibu saya di Bandung pernah diteror kelompok mereka. Saya pernah punya persekutuan kampus yg numpang bikin acara doa di salah satu kontrakan teman, diusir krn itu kontrakan bukan Gereja. Mungkin mrk bukan FPI, tapi ada kesamaan paham. Kalau kita percaya itu adalah oknum, mari kita cari oknumnya dan hukum. Kok dibubarkan. Semua org toh berhak berorganisasi, termasuk orang bego #eh.

DOA SAYA YANG TAK RELIGIUS INI

Dijauhkan dari saya sikap menganggap saya lebih layak tinggal di negeri ini dibanding kelompok lain. Dan tetep.. semoga dagangan saya besok laku.

Kokoh, jangan galak-galak ya.

View on Path

DARI PADA SAYA BERBUAT HILAF!

TanpabatasVol2

“DARI PADA SAYA BERBUAT HILAF!”

Bagi teman-teman yang sering atau pernah naik bus kota di Jakarta, kalimat di atas tidaklah asing. Biasanya ada seorang yang mengaku – atau mungkin juga benar – baru keluar dari penjara (Lembaga Pemasyarakatan).

Orang ini kemudian mengaku bahwa dirinya mau bertobat dan minta dukungan moral para penumpang bus. Intinya dia butuh modal untuk memulai hidup dengan baik dan tidak terjerumus ke dalam dunia kriminal lagi. Dia menekankan, “DARI PADA SAYA BERBUAT HILAF!” Kalimat ini adalah #kode minta sumbangan.

Kita mungkin terlanjur berpandangan negatif terhadap orang-orang seperti ini. Memeras, menakut-nakuti, memberikan terror pada penumpang bus. Mungkin saja benar. Tapi selalu ada sisi lain dari sebuah cerita, siapa tahu memang orang ini mau bertobat, dan memang benar-benar butuh modal untuk memulai usaha.

Seniman pun mungkin seperti ini. Awalnya semua seniman idealis, tapi karena kebutuhan sehari-hari tidak tercukupi, ya akhirnya harus menyerah pada tuntutan industri.

Datang ya 26 April ke #TanpabatasVol2 di GBB Taman Ismail Marzuki. Tiket mulai saya pasarkan 17
Maret 2014. Jangan sampai saya anda temukan di episode-episode YKS tahun depan…. DARI PADA SAYA BERBUAT HILAF!

:))))))))

Tua Di Jalan

Ada istilah ‘tua di jalan’ untuk orang-orang pekerja sekarang, terutama yang tinggal di kota-kota besar seperti Jakarta. Sebagian besar orang-orang ini bekerja dan menghabiskan banyak waktu di jalanan karena macet. Sangkin lamanya waktu yang dihabiskan di jalan akhirnya muncul istilah ini. Ada untungnya sih, artinya mereka tidak butuh lagi panti jompo, karena sudah ‘tua di jalan’.

Di Jakarta khususnya, ada banyak kota satelit (suburban) seperti Bekasi, Depok, Tangerang dan Bogor. Banyak warga kota-kota satelit ini yang setiap hari menjadi komuter ke Jakarta, ada yang menggunakan kendaraan pribadi, ada pula yang menggunakan kendaraan umum. Orang-orang ini kalau pergi ke daerah lain di Indonesia tetap akan mengaku orang Jakarta, haha.

“Tinggal di mana, Mas?”

“Di, Jakarta…”

“Ohh, Jakarta-nya di mana?”

“Di, Bekasi…”

Tidak belajar geografi rupanya waktu SMP dulu.

Menggunakan kendaraan pribadi seperti mobil, misalnya, di Jakarta bisa memakan waktu tiga jam, pulang pergi enam jam. Bayangkan enam jam adalah seperempat waktu kita dalam sehari. Jadi kalau orang ini berkarir dari usia 25 sampai 55, 30 tahun makan 7,5 tahun waktunya dihabiskan di dalam mobil. Sudah sampai mana tuh harusnya? Bayangkan kalau orang ini naik sepeda dari Jakarta selama 7,5 tahun tanpa henti, sudah sampai mana dia? Ya palingan sampai Tanjung Priok, karena mentok di laut, sih.

Untuk mengatasi macet, di banyak kota besar sudah dibangun jalan tol. Khususnya di Jakarta, jalan tol yang seharusnya bebas hambatan juga ikut-ikutan macet. Sudah bayar macet pula, tambah stres dan makin cepat tua di jalan. Kadang-kadang jalan biasa malah lebih lancar dari jalan tol. Itulah, lalu-lintas memang tidak bisa diprediksi, makanya saya kira kita perlu satu profesi lain: peramal lalu-lintas, dan ini bisa jadi lebih sulit dari meramal jodoh.

Belum lama ini saya masuk ke salah satu ruas jalan tol di Jakarta. Di sana ada sebuah spanduk yang bertuliskan kira-kira seperti ini

“Sayembara berhadiah, solusi bagaimana mengatasi kemacetan di Jalan tol.”

Saya masuk jalan tol supaya terhindar dari macet, lalu masuk jalan tol baca spanduk ini, terus terang spanduk ini membuat saya semakin putus asa, karena pengelolanya sendiri membuat sayembara untuk mencari solusi kemacetan di jalan tol. Seumur-umur saya belum pernah masuk ke Rumah Makan Padang lalu pelayan atau bahkan kokinya menghampiri saya dan kemudian bertanya,

“Mas, Mas, tahu caranya masak rendang yang enak, nggak?”

Menjelang Pemilu 2014 nanti juga para pengguna jalan yang sudah cukup stres di jalanan akan dibuat tambah stres lagi. Apa yang bikin tambah stres? Spanduk, baligo, billboard partai dan caleg akan semakin banyak menghiasi jalanan. Menghiasi atau mengotori, ya pokoknya begitu deh. Lagi kesal kena macet, tambah kesal karena foto-foto itu tersenyum manis pada kita pengguna jalan. Rasanya ingin teriak,

“Ngapain lo, ketawain gue ya!?”

Eh dia malah jawab,

“Makanya, pilih gue dong.”

Salah satu yang menghibur dari foto-foto tersebut adalah ulah anak-anak yang terlalu kreatif melakukan aksi vandalisme terhadap foto-foto tersebut. Kadang-kadang ditambahin kumis, atau yang lagi senyum giginya diwarnai hitam jadi terlihat ompong, atau ditambahi tahi lalat, diberi kacamata, dll. Terima kasih pada tangan-tangan ‘kreatif’ yang sudah menghibur kami pengguna jalan.

Layaknya orang tua, orang yang tua di jalan juga jadi semakin peka terhadap kondisi jalanan, selain spanduk partai dan caleg, yang lain adalah spanduk-spanduk layanan masyarakat. Saya semakin peka mengamati spanduk-spanduk ini. Rata-rata yang diiklankan adalah pariwisata sebuah daerah atau sebuah gerakan tertentu dari sebuah kementerian. Namun spanduk-spanduk itu lebih menonjolkan tokoh dibanding apa yang diiklankan. Misalnya iklan pariwisata sebuah daerah, obyek wisatanya minim sekali ditunjukkan, tapi kepala daerahnya dibuat besar-besar. Saya jadi bingung, apa yang harus dilihat nanti di lokasi wisata? Mau lihat gubernurnya?

Pada dasarnya semua orang itu mungkin taat terhadap peraturan, termasuk peraturan lalu-lintas, tapi mungkin karena terlalu lelah di jalanan sepanjang hari – walau ini juga tidak bisa dijadikan pembenaran – mereka akhirnya melanggar peraturan lalu-lintas. Semata-mata hanya ingin cepat sampai di tujuan. Hal ini salah, tapi ya kita tetap harus pelajari sebabnya.

Saya bukannya tidak pernah melanggar peraturan lalu-lintas, dan sesekali berurusan dengan polisi juga. Polisi mungkin juga sama-sama lelah dengan kami pengguna jalan, sehinga emosinya juga kadang tidak terkontrol. Ya, polisi juga manusia. Kadang-kadang suka bertanya hal-hal yang memojokkan,

“Maaf Pak, Bapak tahu salah Bapak apa?”

Ini pertanyaan jebakan, seolah-olah jawaban saya berpengaruh pada tindakan Pak Polisi ini terhadap saya nanti. Dan kalau saya jawab,

“Tidak tahu, Pak, saya pergi dulu ya …”

Pasti Pak Polisi tadi – yang juga sudah kelelahan karena seharian bertugas di jalanan – bisa saja terpancing emosinya. Layaknya orang Indonesia, kalau sudah emosi maka kata-kata bisa saja tidak terkendali, dan kalimat seperti ini sering sekali terlontar,

“Kamu tidak tahu siapa saya!?”

Ini pertanyaan yang sering kita dengar, tapi jarang kita pikirkan maknanya. Jelas saya tidak tahu siapa orang ini, orang baru pertama kali bertemu di jalan, sama-sama sedang lelah. Saya membayangkan kalau saja saya bisa tertegun sebentar, menatap Pak Polisi itu dengan mata nanar, beberapa detik kemudian saya berteriak dengan mata berkaca-kaca,

“Ayahhhh……”