Siapa Presiden Favoritmu?

Presiden baru nih. Boleh dong kita kilas balik sedikit soal Presiden Indonesia di waktu lampau.

Siapa Presiden favoritmu? Kalau gua sih Gus Dur. Jenaka dan intelek dalam satu paket. Gua banget (muji diri sendiri).

Jenis humor Gus Dur adalah satire. Hanya saja jabatan Presiden terlalu sempit mewadahi keluasan pikir doi. Jadinya mentok. Dia bitter realist, seorang Presiden harus bicara manis dan normatif. Sungguh itu bukan kepakaran Gus Dur. Tak sampai dua tahun dia harus dilengserkan.

Seorang yang realistis terkadang terlihat pesimis memang. Bayangkan dalam sebuah pertemuan dengan petani ada yang bertanya, “Bagaimana nasib kami. Pemerintah, kami harus bersaing dengan produk impor…” Dengan enteng doi jawab, “Kalau ada pekerjaan lain, jangan jadi petani…” Terlihat seenaknya, tapi itu kenyataan. Sayangnya itu keluar dari mulut seorang Presiden, coba dari komedian seperti saya. Pasti lain hasilnya.

Bagaimanapun Gus Dur selalu kukenang. Selalu tersenyum sendiri bila mengingat Indonesia pernah punya Presiden seperti doi.

Gus Dur adalah Presiden favoritku. Tapi bukan yang paling kukagumi. Yang kukagumi tetap Soekarno. Bayangkan, dia berjanji akan menggoncang dunia bila diberi sepuluh pemuda. Sayangnya doi lebih suka berkumpul dengan sepuluh pemudi.

Advertisements

DARI PADA SAYA BERBUAT HILAF!

TanpabatasVol2

“DARI PADA SAYA BERBUAT HILAF!”

Bagi teman-teman yang sering atau pernah naik bus kota di Jakarta, kalimat di atas tidaklah asing. Biasanya ada seorang yang mengaku – atau mungkin juga benar – baru keluar dari penjara (Lembaga Pemasyarakatan).

Orang ini kemudian mengaku bahwa dirinya mau bertobat dan minta dukungan moral para penumpang bus. Intinya dia butuh modal untuk memulai hidup dengan baik dan tidak terjerumus ke dalam dunia kriminal lagi. Dia menekankan, “DARI PADA SAYA BERBUAT HILAF!” Kalimat ini adalah #kode minta sumbangan.

Kita mungkin terlanjur berpandangan negatif terhadap orang-orang seperti ini. Memeras, menakut-nakuti, memberikan terror pada penumpang bus. Mungkin saja benar. Tapi selalu ada sisi lain dari sebuah cerita, siapa tahu memang orang ini mau bertobat, dan memang benar-benar butuh modal untuk memulai usaha.

Seniman pun mungkin seperti ini. Awalnya semua seniman idealis, tapi karena kebutuhan sehari-hari tidak tercukupi, ya akhirnya harus menyerah pada tuntutan industri.

Datang ya 26 April ke #TanpabatasVol2 di GBB Taman Ismail Marzuki. Tiket mulai saya pasarkan 17
Maret 2014. Jangan sampai saya anda temukan di episode-episode YKS tahun depan…. DARI PADA SAYA BERBUAT HILAF!

:))))))))

Puisi: Cinta adalah Perlombaan Lari

Puisi pada umumnya kaya metafor. Banyak penyair yang sangat fasih bermain-main dengan hal ini. Menurut saya pribadi, ini merupakan kelebihan sekaligus kekurangan. Puisi hadir dalam kehidupan manusia untuk mengangkat derajat terutama dalam berbahasa. Namun yang saya amati bentuknya cenderung itu-itu saja dan cenderung membosankan.

Sebuah puisi yang kaya akan metafor, saya ulang, adalah kelebihan sekaligus kekurangan dalam saat yang bersamaan, mengapa? Karena itu menunjukkan ketidakmampuan penyair – kata yang saya pakai untuk menyatakan penulis puisi – untuk menyampaikan yang dia maksud secara lugas. Belum lagi metafor yang diambil, cenderung itu-itu saja, sehingga membuatnya menjadi sebuah tulisan yang membosankan, tanpa letupan dan mudah diterka.

Saya tidak pandai berteori dalam sastra, namun dalam posting saya coba tuliskan bentuk puisi, yang mungkin tidak baru sama sekali tapi coba menawarkan bentuk lain dariĀ  kebiasaan yang umum berkembang di antara penyair.

Cinta adalah Perlombaan Lari

Mengejarmu, seperti lari marathon – capek dan nggak selesai-selesai

Saat kita jadian, seperti lari di treadmil – capek dan nggak ada kemajuan

Cinta kita banyak sekali rintangannya – seperti lari gawang

Namun pergi menjauh darimu – seperti lari keluar lintasan

Sering kita becinta, seperti lari sprint – terengah-engah walau cuma sebentar

Namun sayang, aku berharap kau bukan seperti lari estafet – kau digilir tapi bukan aku yang terakhir

***