G30S (dengan atau tanpa PKI) atau Gestok?

Tidak ada pendapat yang 100 persen benar, tapi juga tidak ada yang 100 persen salah. Tapi kalau kita menutup mata pada Genosida 1965, apakah mungkin permasalahan bangsa yang lain kita selesaikan?

Untuk para korban dan pelaku atau yang dituduh pelaku Genosida 1965

Advertisements

Bangsa pun Harus Bertobat

Sampai saat ini – apalagi dulu – sering kita melabeli kawan-kawan kita yang berperangai buruk dengan julukan PKI. Walaupun sebenarnya hanya sekadar candaan di tongkrongan, dan tidak ada hubungannya dengan apa yang pernah menimpa bangsa ini di seputaran tahun 1965. Misal saja, seorang dari anggota tongkrongan telat datang, sedangkan yang lain sudah kumpul semua. Lalu ketika seseorang ini muncul, bisa saja salah satu nyeletuk karena kesal, bernada setengah bercanda, “Ah, dasar Elo, tega banget kita nungguin sampai lama begini. PKI lo!”

Duarrr!

Ini ciri bangsa yang belum bertobat, bangsa yang masih menyimpan dendam puluhan tahun, dan yang paling parah, bangsa yang cepat menyimpulkan dari satu sumber, bahkan mungkin tidak dari sumber manapun, hanya sekadar ikut-ikutan.

Saya berani bertaruh, kalau kita tanya, “Eh, elo bisa nyimpulin dia PKI, udah baca berapa buku tentang PKI atau tentang Marxisme dan Leninisme?”

Kalau saya tanya seperti itu ke tongkrongan itu, pasti saya yang dicap gendeng. Tapi siapa yang gendeng kalau melihat ini? Masih belum jelas apa yang terjadi 1965, banyak teori konspirasi dan lain-lain. Tapi yang jelas sebelum 1965, PKI adalah partai resmi, artinya pengurus, anggota, simpatisan, adalah mereka yang tergabung dalam sebuah organisasi resmi, bahkan cukup disegani.

Ada jasa organisasi ini terhadap pergerakan melawan kolonialisme? Ada. Tapi tidak ada di buku-buku sejarah sekolah. Tidak usah juga dibahas di blog ini.

Soal 1965, John Roosa mengatakan bahwa pidato Nawaksara Bung Karno, yang merupakan pidato pertanggungjawaban Sang Proklamator, pidato penuh nada menyerah – tidak seperti Putra Sang Fajar biasaya – adalah gambaran umum soal peristiwa G30S (Bung Karno menyebutnya Gestok, karena memang terjadi di 1 Oktober dini hari). 1. Keblingernya pimpinan PKI, 2. Lihainya subversi Nekolim, 3. Oknum-oknum yang tidak benar.

Jelas Bung Karno menyebutkan tiga faktor ini, tapi bangsa ini tidak lagi mendengar kata-kata Sang Proklamator. Diabaikan – bahkan sampai hari ini. Yang dilihat hanya poin nomo 1 itu pun diambil sebagian  menjadi: 1. Keblingernya PKI. Kesalahan – walaupun belum jelas – pimpinan organisasi, yang ditimpakan kepada seluruh massa organisasi, tanpa ampun. Bahkan mereka yang sekadar pernah nonton wayang Lekra atau terima cangkul dari BTI. Mereka dibunuh, diasingkan ke P. Buru, KTP mereka ditandai, anak-anak mereka dipersulit dalam bekerja, dipukul rata. Ada Mahmilub, tapi tidak jelas dan cenderung dalam tekanan. Aidit ditembak sebelum diadili. Sebagian yang lain, TANPA PENGADILAN!

Lalu, kita – anak nongkrong – menambah penderitaan saudara-saudara kita. Kita memang belum bertobat, wajar sih kalau pemerintah, mereka sudah mengingkari. TAP MPRS XXV/1966, tentang larangan Marxisme dan Leninisme, jelas mengingkari UUD 1945 sendiri. Pasal 33, ayat 1 dan 2 berbunyi:

2. Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara.

3. Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Dua ayat di atas jelas diajarkan oleh Marx, soal kekuasaan negara terhadap alat-alat produksi, apalagi bumi, air dan kekayaan alam. Jadi jelas TAP MPRS ini mengingkari jati diri UUD yang tentu lebih tinggi hirarkinya.

Eh anak-anak nongkrong, malah semakin memperparah, memang belum bertobat, wajar mungkin kita makin terpuruk.

Jerman, begitu fasis di perang dunia I dan II. Negara ini sempat terbagi dua, tapi kini sudah bersatu, dan semakin jago saja main bolanya. Mereka pasti ingat Hitler, tapi mereka move on. Di film-film Hollywood Hitler dipojokkan, mungkin mereka sedikit terusik, tapi mereka sudah move on. Mobil-mobil mereka jauh lebih cepat dibanding buatan AS, bodo amat, pikir mereka. Mereka bertobat.

Jepang yang begitu fasis di perang dunia I dan II, kalah perang, mendapat hukuman untuk tidak mengembangkan teknologi militer. Mereka bertobat total, move on, melupakan kefasisan mereka. Mereka terima sebagai pihak yang kalah, lalu bertobat total. Kota mereka dibom oleh Amerika – kota berpenduduk sipil – sebagai balas terhadap serangan mereka ke Pearl Harbour – pangkalan militer AS, mereka tidak dendam berkepanjangan.

Mereka bertobat dan fokus membuat Toyota, Honda, Isuzu, Kawasaki, Yamaha. Mereka membuat Voltus, Doraemon, Sincan sampai Pat Labor. Yang paling penting mereka juga melahirkan Miyabi, mereka bertobat. Move on dari pendahulu mereka yang fasis.

Kalau mau tobat bareng, kita panggil AA Gym yang mimpin doa.

Notaslimboy, pengen bertobat bareng.

 

ketika saya berdiri di depan Tuhan saya adalah seorang Muslim, tapi ketika saya berdiri di depan banyak orang saya bukan seorang Muslim, karena Tuhan mengatakan bahwa banyak iblis di antara banyak manusia!” ~ Tan Malaka, di depan kongres Komunis International, Moskow, 1922

Gimana Sih Soal Pembubaran Ormas (Maksudnya FPI)

Apakah gua setuju FPI dibubarkan? Gini aja, kalau ada pelanggaran Ialu-Iintas dilakukan oleh anggota FPI tindak saja. Pelanggaran Iain ya juga tindak. Logika yg sama pernah digunakan pada PKI yg notabene parpol pertama yg menggunakan kata Indonesia. Yang juga melahirkan salah satu founding father Tan Malaka, pejuang buruh Semaoen, dan sederet nama yang ikut serta dalam perjuangan Indonesia melawan kolonialisme. Namun dituduhkan sepihak G30S adalah kesalahan PKI secara massal.

Aidit tidak pernah diadili, ditembak dalam perjalanan saat sudah ditangkap dan tidak melawan, dan misalnya pun dia yg bertanggungjawab maka mana mungkin kesalahan ditimpakan pada PKI secara organisasi. Sampai buruh tani di pedesaan dan seniman Lekra, apa mungkin secara massal berkonspirasi pada sebuah misi rahasia pembunuhan 7 Jendral di Jakarta. Tidak sampai situ. Bahkan ajaran Marxisme dan Leninisme pun dilarang. Apakah adil bila ada teroris yang mengatasnamakan Islam maka Islam sebagai agama juga dilarang. Itulah yg terjadi. Generalisasi dan Iabelisasi.

Di AS, dulu kulit hitam adalah budak. Tidak punya hak politik sama sekali. Siapa yg memperjuangkan hak-hak mereka? Abraham Lincoln dan Partai Republik – walau kemudian dituduhkan alasannya bukan murni kemanusiaan – tapi utk menambah kekuatan politik Partai Republik. Whatever lah. Intinya yg memperjuangkan hak politik kulit hitam di AS adalah Partai Republik, dan Partai Demokrat menolaknya. Republik yg menang pada akhirnya.

Apa yg terjadi seabad kemudian. Barrack Obama terpilih menjadi presiden AS, dia adalah presiden kulit hitam, African-American, pertama AS. Hey, dia dari partai Demokrat, yang di era Lincoln menolak hak-hak kulit hitam.

Roda berputar. FPI tidak perlu dibubarkan. Pelanggaran hukum yang dilakukan anggotanya saja yang ditindak. Toh dibubarkan pun, kalau pentolannya ada akan buat FPI Perjuangan. Berkaca pada Obama, siapa tahu di abad 22 nanti pejuang HAM dan pluralisme datang dari ormas ini. Gerakan pluralisme ini mungkin saja dipimpin seorang yang bernama Habib Rizieq IV atau Habib Selon Jr.

Keep your faith.