Ujian Bagi Negarawan

 

Kenegarawanan seseorang diuji saat menerima tekanan. Pernyataan bahwa FPI tdk layak hidup di Indonesia karena melanggar konstitusi, sepertinya agak aneh. Ini kok seperti gaya Orba ya. Kalau memang melanggar hukum ya tindak sesuai hukum yang berlaku dong, Koh.

Nggak pakai helm, ya ditilang. Anarkis dan merusak, tangkep. Buat apa FPI dibubarkan? Sekalian aja kirim ke Pulau Buru kayak tapol PKI. Bubarkan saja FPI spt dulu Harto bubarkan PKI dan anggotanya dihukum tanpa ada pengadilan.

Oke mungkin saya berlebihan. Koh Ahok gak segitunya lah ya Koh.

Kita ambil contoh deh. Banyak kekurangan Bung Karno, tapi dia negarawan yang menempatkan kepentingan Indonesia di atas segalanya. Ketika BK dipreteli Harto dan Nasution (AD), BK masih punya AU dan KKO yg loyal padanya. Bisa dia lawan tuh pasukan NATO (Nasution-Soeharto). Tapi dia tak lakukan, karena akan jadi perang saudara antar angkatan di tubuh TNI. Rakyat juga jadi korban.

BK juga memberikan amnesti pada anggota DI/TII. Beberapa memang ngeyel gak mau nyerah, jadi terpaksa ditumpas. Sisanya dpt Amnesti. Bahkan salah satu pemimpin DI/TII di Aceh, Daud Beureuh, hidup langgeng setelahnya.

Kenapa ini baru jadi Wagub aja udah -maaf- belagu.

Saya pun anti FPI. Gereja Ibu saya di Bandung pernah diteror kelompok mereka. Saya pernah punya persekutuan kampus yg numpang bikin acara doa di salah satu kontrakan teman, diusir krn itu kontrakan bukan Gereja. Mungkin mrk bukan FPI, tapi ada kesamaan paham. Kalau kita percaya itu adalah oknum, mari kita cari oknumnya dan hukum. Kok dibubarkan. Semua org toh berhak berorganisasi, termasuk orang bego #eh.

DOA SAYA YANG TAK RELIGIUS INI

Dijauhkan dari saya sikap menganggap saya lebih layak tinggal di negeri ini dibanding kelompok lain. Dan tetep.. semoga dagangan saya besok laku.

Kokoh, jangan galak-galak ya.

View on Path

Advertisements

Negara Konsumen…

Sekitar tujuh tahun yang lalu saya mampu membeli rumah di lingkungan saya yang sekarang. Masih asri, tidak macet, jarak mini market terdekat adalah sekitar 300 meter dari rumah. Apa yang terjadi sekarang? Setahun yang lalu, 50 meter dari rumah sudah ada mini market baru dan dua bulan yang lalu ada restoran fast food cukup terkenal yang juga waralaba asing, 200 meter dari rumah saya. Macet pun menyertai kehadiran bisnis-bisnis baru ini.

Orang Jakarta seharusnya sudah tidak lagi asing dengan restoran fast food seperti ini, tapi tetap saja saat launching restoran yang bersangkutan, antrian panjang macam antrian sembako murah. Bisa dibilang kampungan sih. Dan saya juga ikut mengantri.

Kenapa sesuatu yang dari asing terlihat lebih keren? Contohnya kontes Miss World yang baru-baru ini digelar di Bali. Saya tidak pro dan juga tidak kontra, netral saja, hanya mau mengomentari bahwa kontes ini nggak keren-keren amat. Walau saya sedikit salut sama para kontestan, yang sepanjang acara mampu tersenyum, bisa berjam-jam terus tersenyum. Kalau ada masalah dengan pacar pun, harus tersenyum. Kalau kebelet harus tersenyum.

Yang paling saya salut adalah ketika pengumuman pemenang. Kontes Miss World di Bali dimenangkan oleh Miss Philippines. Saat announcer mengumumkan, “And the winner is from Philippines…” Saya perhatikan kontestan dari negara lain tetap tersenyum, padahal kan mereka kalah, kan seharusnya sedih?

Kemudian ada yang memberikan ucapan selamat, mungkin mereka bilang, “I am happy for you…” walau mungkin juga dalam hatinya bilang, “Ahh, you are b*tch…” *bercanda

Saya pernah mencoba untuk menekuni olah raga golf. Sempat punya perangkat golf club walau saya jual, karena waktu itu lebih butuh untuk beli beras *maaf curcol. Saya kurang bisa menikmati olah raga ini. Bola dipukul, jauh, lalu kita jalan mendekat, dipukul lagi jauh, seperti kurang kerjaan. Lalu olah raga dalam golf adalah saat pemainnya berjalan, karena lapangan golf yang relatif luas dibanding lapangan-lapangan lain. Namun belakangan banyak orang memilih memakai mobil golf, jadi kapan olah raganya? Belum lagi perangkat golf club dibantu dibawa sama seorang caddy, jadi ini olah raga apa sih sebenarnya? Saya jadi ingat sama kakek saya di kampung yang dulu bertani. Kakek biasa pergi ke sawah bawa cangkul, dan dia bawa sendiri cangkulnya, nggak dibawain sama caddy. Bayangkan kalau kakek saya pergi ke sawah bawa caddy. Bayangkan kalau kakek saya yang petani ini punya caddy – katakanlah namanya Rani – dan dia pergi ke sawah bersama Rani. Sesampainya di sawah, kakek menghitung sudut kemiringan, angin, dan lain-lain, seperti pemain golf yang berusaha memukul bolanya. Lalu dia bilang sama si Rani ini,

“Tolong cangkul nomor 7.”

Saya tidak bisa menyalahkan kalau produk-produk dalam negeri lebih banyak dipilih oleh konsumen Indonesia, semangat nasionalisme bukan hanya milik konsumen, tapi juga produsen dan penentu kebijakan. Kalau ada jargon, “Cintailah produk-produk dalam negeri.” Maka harusnya boleh dituntut kembali, “Perbaiki dulu mutu produknya.”

“Tontonlah film-film nasional.” Maka harusnya boleh dituntut kembali, “Ya tapi filmnya jangan pocong semua dong. Dari Pocong Keramas sampai Pocong Perawan.” Walau Pocong Perawan ini punya keuntungan, dia boleh masuk sekolah seandainya nanti diberlakukan tes keperawanan.

“Berpartisipasilah dalam pemilu, jangan golput.” Maka harusnya boleh dituntut kembali, “Ya, tapi calegnya dan capresnya jangan kayak elo dong.” Jangan sebut nama, karena nggak enak, takut orangnya sensitif.

“Cintailah produk-produk dalam negeri.” Jargon ini terdengar sakral di tengah himpitan produk impor yang membanjiri Indonesia. Lain dengan era sebelumnya, katakanlah zaman Orde Baru (Orba), produk impor indentik dengan barang mahal, prilaku konsumtif. Sekarang tidak, kita sebagai konsumen memang tidak bisa lepas untuk tidak menggunakan produk impor. Kebutuhan pokok pun kita impor, bahkan garam pun kita impor. Jadi produk impor tidak lagi identik dengan kemewahan.

Apakah kita harus menonton sinetron Indonesia, misalnya, yang makin tidak masuk akal. Antrian untuk naik haji dikabarkan sudah begitu panjangnya, jadi kalau kita mendaftar hari ini, maka 15 tahun lagi baru bisa naik haji. Jelas ada sinetron yang tidak survey dulu dalam membuat jalan ceritanya, padahal sinetron tersebut mengambil dari realita hidup, bukan genre science fiction.

Saya hampir tidak pernah menonton sinetron, apakah saya tidak nasionalis, kalau memilih channel dokumenter dari asing? Tapi pernah tidak sengaja ‘tertonton’ sebuah sinetron di TV lokal. Baru beberapa detik, saya sudah menemui kejanggalan dalam sinetron ini. Dikisahkan ada seorang supir bajaj, tapi ganteng banget. Ini jelas tidak sesuai dengan kehidupan nyata, kalau memang ada orang seganteng itu jadi supir bajaj, saya pasti minder untuk naik bajaj dia. Yang ada saya bilang, “Bang, duduk di belakang ya, biar saya yang bawa bajaj-nya.”

Yang jelas, kalau ada orang seganteng ini dan memilih jadi supir bajaj, maka orang ini aneh. Apa dia tidak tahu, ada banyak profesi untuk orang gateng selain jadi supir bajaj. Kan bisa jadi pemain sinetron, kan lumayan, bisa dapat peran supir bajaj. *Walah sama saja dong…

Dulu dan Sekarang

Saya adalah salah satu dari kelompok orang-orang yang beruntung – atau mungkin tidak beruntung, tergantung persepsi – yang menjadi saksi hidup sejarah perkembangan teknologi. Teknologi yang belakangan ini bergerak terlalu cepat. Saya masih sempat punya TV hitam putih, sekarang sudah tidak ada. TV pun semakin tipis saja ukurannya, bahkan sudah banyak yang di-bundling jadi satu dengan handphone. TV makin tipis, saya makin gendut. TV layarnya makin datar, perut saya makin buncit.

Saya masih sempat mendengarkan musik lewat tape recorder. Teknologi ini cukup lama bertahan, dari kecil sampai saya kuliah dan lulus di akhir 90an. Iya saya memang angkatan tua. Teknologi makin cepat. Sejak ditemukan compact disk (CD), audio CD tidak lama bertahan, musik sudah berubah menjadi format digital MP3. Kaset, hampir tidak pernah saya lihat lagi di toko-toko musik, jarang sekali, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta.

Saya masih sempat mengerjakan tugas penulisan di sekolah menggunakan mesin tik, sekarang semua sudah dikerjakan pakai komputer. Membuat salinan tinggal copy file atau print beberapa kali. Dulu masih pakai kertas karbon, mungkin sebagian pembaca malah nggak pernah lihat seperti apa kertas karbon. Saya berada di era pergantian tersebut, dan makin kini sepertinya pergerakannya semakin cepat. Semua berjalan makin cepat, orang  dulu sehari nggak baca koran, biasa-biasa saja. Orang sekarang, jangan sehari nggak baca berita, satu jam nggak update twitter rasanya nggak eksis. Apa saja diupdate ke social media, sedang baca, sedang buang air, sedang berantem, sedang galau, “too much information, Dude!”

Jadi ingat kasus carut-marut pelaksanaan UN belakangan ini. Zaman saya pun ada ujian semacam ini, skalanya nasional juga, mungkin parameter pengukurannya berbeda. Dulu ada EBTANAS, soalnya pun dibuat oleh pemerintah dan didistribusikan oleh pemerintah. Distribusinya – seingat saya – tidak pernah telat. Sekarang informasi begitu cepat, sesuatu yang terjadi satu jam bahkan satu menit yang lalu, bisa kita lihat perkembangannya di TV atau di social media. Jadi kasus soal UN yang telat, bisa langsung  kita tahu perkembangannya. Seandainya dulu EBTANAS soalnya telat, lalu saya pulang ke rumah, ditanya Ibu,

“Bagaimana tadi EBTANAS?”

“Nggak jadi, Bu. Soalnya nggak ada.”

Pasti Ibu saya marah besar. Dikiranya saya berbohong atau mungkin dikira sudah tidak waras.

Gara-gara stand-up comedy saya cukup sering masuk TV belakangan ini. Tapi itu pun tidak membuat saya jadi sangat terkenal. Kalau jalan-jalan ke mall ada beberapa yang sudah kenal, tapi kenalnya bukan sebagai ‘Sammy’, sebagian besar yang menyapa memanggil saya, “Mas stand-up comedy ya…” Gua juga punya nama kali. Wajar sih, itu karena stasiun TV makin banyak, belum lagi TV berbayar, jadi pilihan hiburan makin banyak. Walau sering masuk TV, masih saja banyak orang yang tidak kenal saya. Masih sering didatangi orang dengan kamera, dikira mau diajak foto bareng, eh dia malah bilang, “Mas, bisa tolong fotoin saya dengan teman saya?” Nasib.

Dulu stasiun TV hanya ada satu, TVRI. Orang dari Sabang sampai Merauke, desa maupun kota, nonton acara yang sama. Kalau acaranya pas ‘Dari Desa ke Desa’ tentang budi daya palawija misalnya, apapun profesi kita, pelajar, mahasiswa, petani, akuntan, tentara, ya kita harus tonton acara yang sama. Kalau nggak mau nonton, ya tidur. Kalau belum ngantuk ya, nasib.

Sebaliknya, dulu ada acara belajar bahasa Inggris. Gurunya Anton Hilman. Saya dan teman-teman di sekolah sampai berpikir, ini Pak Anton Hilman adalah orang paling pintar bahasa Inggris di Indonesia. Anton Hilman saat itu mengajar bahasa Inggris di TV, dan dia jauh lebih terkenal dari saya seorang ­stand-up comedian yang sering masuk TV saat ini. Saat Anton Hilman mengajar bahasa Inggris di TV, giliran petani di Desa yang harus ikut lihat acara yang sama. Bisa dibayangkan ada pak tani yang baru pulang dari sawah, dia nonton TV dan pas acaranya adalah pelajaran bahasa Inggris Anton Hilman. Dia akan bingung dan bertanya pada istrinya.

“Acara, opo iki, Bune?”

Istrinya akan mejawab, “I don’t know, Bapakeee…” dengan logat Jawa yang kental.

Sekarang banyak artis yang masuk politik, dulu tidak terlalu banyak. Kata artis pun sudah mengalami peyorasi, penyempitan makna ke arah yang lebih buruk. Artis kan mengandung kata ‘art’ di dalamnya. Artinya mereka harusnya dikenal karena menghasilkan karya seni. Banyak ‘artis’ sekarang yang sekadar terkenal, tapi kita tidak tahu karyanya. Kita bingung kenapa dia bisa sebegitu terkenalnya dan disebut ‘artis’ padahal setiap nongol di infotainment hanya mamerin tas Hermes atau menjelaskan kasus kawin siri.

Ngapain ‘artis-artis’ itu mau masuk dunia politik. Orang sekarang kalau ada masalah selalu pemerintah yang disalahin. Macet, pemerintah yang salah, gubernur yang salah. Zaman saya dulu, mana berani kami salahkan pemerintah. Jakarta saat itu pun sudah macet, semacet-macetnya Jakarta yang disalahin ‘si Komo’, bukan pemerintah. Si Komo mungkin bisa protes, “Apa salahku…”

Awal 90an sudah ada TV swasta, tapi pemerintah saat itu mewajibkan TV-TV swasta me-relay siaran-siaran tertentu di TV mereka. Salah satunya acara ‘Liputan Khusus’. Kalau presiden sedang melakukan kunjungan penting ke suatu daerah, semua TV harus me-relay acara tersebut. Seolah-olah pemerintah saat itu takut kalah terkenal dengan Anton Hilman.

Masa lalu enak untuk dikenang, tapi sepertinya tidak perlu dialami lagi.

Pagi Tadi Kusapa Tuhan

Pagi tadi kusapa Tuhan

Bukan untuk meminta

Bukan untuk memohon

Bukan untuk memuja

Hanya sedikit kangen

Kangennya kok hanya sedikit?

Iya kalau terlalu kangen

Aku takut

Takut nanti aku lekas-lekas dipanggil

Aku belum siap

Maklum masih banyak dosa

Maklum jomblo

Masih sering ngocok sendiri

 

Selain kangen aku juga banyak pertanyaan

Banyak yang tidak penting

Tapi ada juga yang penting

Seperti kenapa aku masih jomblo

Itu penting sekali

Tapi kuurungkan untuk bertanya soal itu

Tuhan Maha Esa

Berarti Dia sendiri

Dia mungkin juga jomblo

Jomblo kan suka sensi

Tapi Tuhan maha tahu

Jangan-jangan dia sudah tahu

Dan keburu sensi

 

Pertanyaan pentingku buat Tuhan

Kenapa di negeriku ini banyak sekali korupsi

Aku jomblo jadi tambah susah bersaing

Uang aku tak punya

Pacarku direbut sama anak koruptor

Padahal dia belum sempat jadi pacarku

Pacarku yang lain direbut oleh koruptor (bukan anaknya)

Padahal padahal aku belum sempat kenalan

Ya, walau belum sempat kenalan, Tuhan maha tahu

Tuhan tahu keduanya pacarku

Tapi kenapa tidak Kau cegah?

Jangan sampai terjadi pada pacarku yang lain

Yang belum sempat aku cari

 

Bisakah Kau buat uang korupsi itu tidak laku?

Tidak bisa dipakai trakir

Tidak bisa dipakai bayar parkir

Tidak bisa dipakai beli mobil

Tidak bisa dipakai beli rumah, walau hanya nyicil

Jadi walau banyak uang mereka akan kesepian

Walau punya mobil mereka tidak bisa parkir

Pikir-pikir aku memang bikin bingung

Buat apa bayar parkir kalau tidak bisa beli mobil

Ya, pokoknya begitu

Tuhan maha tahu

Lalu kenapa aku harus minta kalau memang maha tahu

Aku memang sering bingung sendiri

 

Aku hanya ingin kangen-kangenan

Jadinya malah banyak minta

Maaf Tuhan

Tuhan………..

 

Tiba-tiba ada suara

“Apa itu uang? Aku tidak pernah menciptakan uang!”

Apakah Ekonomi Berbohong?

Ngomong sedikit serius ah, tentang ekonomi. Saya bukan pakar ekonomi, dan mari kita bicara ekonomi dari sudut pandang orang biasa yang bosan dengan teori-teori. Mari kita sekadar bicara dari sudut pandang orang yang punya logika saja. Ya logika tanpa referensi saat ini sering dikesampingkan. Posting ini adalah intisari dari beberapa buku dan film dokumenter yang pernah saya baca dan tonton.

Dari kebiasaan sehari-hari saja deh. Apa itu ‘paket ekonomi’? Paket yang murah, paket yang terjangkau. Apa itu ‘kelas ekonomi’? Kelas yang terjangkau. Lalu apa itu ‘pertumbuhan ekonomi’?

Tingkat konsumsi biasa dijadikan indikator pertumbuhan ekonomi. Makanya angka penjualan mobil/motor sering dijadikan indikator pertumbuhan ekonomi. Banyak mobil jadinya macet. Jadi macet adalah indikator pertumbuhan ekonomi.

Saya pernah ngetwit, “Macet indikator pertumbuhan ekonomi katamu? Coba mobil yang belum lunas nggak boleh keluar rumah, pasti nggak macet.” Twit saya ini merangsang pakar ekonomi timeline untuk mendebat saya. Saya nggak peduli juga sih, biarin aja biar dia bangga dengan referensinya, saya tetap pada logika saya.

Apakah ekonomi sudah berbohong? Ekonomis adalah sifat yang identik dengan irit dan terjangkau. Tapi pertumbuhan ekonomi malah dihitung dari tingkat konsumsi. Konsumtif artinya boros. Katanya irit tapi boros, nggak konsisten, berarti bohong dong?

Ekonomi juga menciptakan kesenjangan, menciptakan strata dalam masyarakat. Di tingkat global, ekonomi menciptakan status negara, dari negara miskin, berkembang sampai maju. Negara dunia ke-3 (third world country) sampai negara dunia ke-1 (first world country).

Perbedaan status ini memicu perbedaan nilai tukar mata uang di masing-masing negara, perbedaan standar hidup, perbedaan biaya hidup yang akhirnya memicu perbedaan standar gaji (labor cost) masing-masing negara. Nah mari kita ungkap lagi kebohongan ekonomi yang lain.

Perbedaan labor cost mengakibatkan sebuah produksi bila dinilai dari nilai uang – saja – akan lebih murah dikerjakan di negara lain lalu hasilnya dikapalkan ke negara pemakai.

Sebagai contoh, mainan anak di Amerika Serikat (AS) diproduksi di jauh-jauh di Cina, karena labor cost di Cina jauh lebih rendah dari labor cost di AS, bahkan setelah ditambah dengan biaya pengiriman (shipping cost). Apakah ekonomi berbohong? Nilai yang dipakai hanya nilai uang (Dollar) padahal sebenarnya terjadi pemborosan. Mengapa untuk sesuatu yang dipakai di AS harus jauh-jauh diproduksi di Cina,  boros energi, boros BBM, itulah sebabnya sekarang kita diambang krisis energi. Secara Dollar untung, tapi secara sumber daya yang terpakai rugi. Siapa yang bego? Pakar ekonomi atau kita?

Apakah ekonomi berbohong?

Masih banyak yang lain, tapi lagi males nerusinnya.

Sammy @notaslimboy, bukan pakar ekonomi.