Bersatulah Para Rockstar

Indonesia
Bersatu katanya karena Nusantara
Dari Sabang sampai Merauke
Dulunya katanya kerajaan Majapahit
Indonesia harus bersatu
Karena Majapahit
Indonesia yang modern harus bersatu
Karena Gajah Mada
Sumpah Palapa
Sumpah apa? Banyak yang tidak tahu mungkin
Pokoknya kita harus bersatu, titik, harga mati
Sumpah Palapa
Sumpah tidak akan makan bambu muda bila Nusantara tidak bersatu
Sumpah tidak akan makan bambu muda?
Sumpah tidak akan makan rebung?
Apa sulitnya tidak makan rebung?
Sekarang rebung hanya ada di lumpia Semarang
Apa sulitnya bersumpah untuk tidak makan lumpia Semarang?
Lalu sekarang Indonesia yang modern
Tetap harus bersatu
Karena sumpah orang dulu untuk tidak makan lumpia Semarang?
Sampai katanya Sabah dan Sarawak dulu mau kita rebut
Kita berperang
Pemuda banyak mati di perbatasan
Hanya karena orang yang bersumpah tidak makan lumpia Semarang?
Lihat uangmu
Ada pahlawan dari Sumatra, Cut Nyak Dhien, Sisinga Mangaraja, Imam Bonjol, Badaruddin
Ada pahlawan dari Jawa dan Bali, banyak
Ada pahlawan dari Kalimantan, Antasari
Ada pahlawan dari Maluku, Patimura
Tidak ada pahlawan dari Papua,
Cuman pernah burung cendrawasih
Apa kita tahu pahlawan dari Papua?
Paling yang kita tahu, Boaz Salosa
Katanya Papua itu kaya
Katanya Papua itu harus masuk Indonesia
Katanya Papua itu bagian Nusantara
Yang harus bersatu karena orang yang bersumpah tidak makan lumpia Semarang?
Lalu kita semua, bukan hanya di Papua, harus melihat korupsi
Sumber daya kita dikuras, untuk sebagian orang
Kita hanya bisa menonton dan tidak boleh berpisah
Kita seperti istri korban KDRT tapi tidak boleh minta cerai
Mereka mengambil uang kita
Mereka mengambil perempuan-perempuan tercantik di negeri ini
Untuk mereka simpan
Mereka merusak pasaran
Hey, Fatonah, kenapa kau berikan mereka sepuluh juta, kau merusak pasaran
Hey, Mahasiswa, gebetanmu dihajar Fatonah, uangmu tidak lagi laku, pasaran dirusak si Fatonah
Hey, Mahasiswa, gebetanmu dimanjakan pejabat, dimanjakan pakai uangmu, sumber dayamu
Kenapa kau diam saja?
Harapan kita tinggal para Rockstar
Bersatulah para Rockstar
Ariel, kumpulkan kawananmu
Bersatulah para Rockstar
Tiduri sebanyak-banyaknya perempuan simpanan pejabat
Tunjukkan punyamu ternyata lebih besar dari punya mereka
Biar mereka tahu rasanya kehilangan
Biar mereka tahu rasanya dirampok
Biar mereka tahu rasanya dikhianati
Bersatulah para Rockstar
Buat mereka sakit hati
Upload videomu ke Internet
Setidaknya kami bisa sedikit terhibur
Dan menikmatinya dari layar ponsel kami

Mana video barumu Ariel?

Advertisements

Kenaikan Harga BBM: Sebuah Pilihan Sulit

Tulisan ini tidak akan banyak berfokus pada angka dan data soal APBN, subsidi yang salah sasaran dan angka-angka statistik lain yang membosankan dan bisa dengan mudah anda googling. Tulisan ini akan lebih fokus untuk memberi gambaran pada pembaca yang saya harap rakyat Indonesia yang sedang harap-harap cemas dengan kenaikan BBM. Bagaimana kita harus mengerti kondisi ini dan bagaimana kita bersikap.

Sebelumya mari kita terbang sejenak ke AS untuk mengutip pandangan seorang political activist/comedian Bill Maher, yang bila saya terjemahkan, “Hey, kenapa kau mengeluh harga bensin naik? Tahukah kalian, untuk mendapatkan minyak, negara kita harus berperang dan membunuh orang lain.” Sebuah sarkasme yang kemudian dilanjutkan dengan sarkasme lain pada pemerintahan saat itu, di bawah kepemimpinan W. Bush, “Dear President Bush, lain kali kalau anda bilang kita berperang untuk minyak, pastikan kita bawa pulang minyaknya.”

Dua kalimat terdengar mengolok-olok dan hanya bercanda. Tapi itulah yang terjadi, minyak memicu konflik di beberapa kawasan dunia dan khusus di AS kemudian rakyat sudah mulai bertanya-tanya apa tujuan mereka berperang, kalau memang minyak, kenapa harganya terus naik?

Minyak atau bahan bakar fossil memang masih komoditas utama penghasil energi saat ini. Dan dengan perkembangan industri, pertambahan jumlah kendaraan bermotor, dan peralatan lain yang membutuhkan energi, permintaannya kian naik. Selain itu dia bukan sumber daya yang dapat diperbaharui. Permintaan naik, persediaan berkurang, hukum ekonomi akan berlaku, harga naik. Sejalan waktu harga minyak dunia selalu naik, terkadang turun memang, tapi secara keseluruhan dalam rentang waktu saat sumber energi ini mulai eksploitasi, kecenderungannya naik.

Lho, kita kita kan negara produsen, kalau harga naik, bagus dong. Kita kan anggota OPEC. Nah ini seperti pendukung Liverpool yang bilang, kita kan juara. Jawabannya itu dulu, sekarang tidak lagi. Produksi minyak kita defisit terhadap kebutuhan dalam negeri. Produksinya terus menurun dan bila tidak ada sumber baru maka cadangan minyak kita akan habis dalam kurun waktu 12 tahun. Menjomblo 12 tahun itu lama, tapi percayalah menunggu 12 tahun untuk habisnya cadangan minyak kita, itu waktu yang singkat.

Sebuah fenomena menarik, ada beberapa perusahaan leasing yang memberikan tenor kredit mobil hingga 10 tahun, luar biasa. Melihat fakta bahwa cadangan minyak kita tinggal 12 tahun, maka pemilik mobil ini, punya kesempatan 2 tahun menikmati mobilnya setelah lunas. Setelah itu mungkin dia tidak mampu beli bensin, karena Indonesia akan menjadi negara pengimpor BBM murni. Jadi pikir-pikir deh yang mau kredit mobil. Haha.

Pemerintah selama ini memberikan subsidi sehingga rakyat Indonesia bisa menikmati harga yang lebih murah dari harga minyak dunia. Beban itu dirasa kian berat dan jumlah subsidi BBM di atas subsidi kesehatan dan pendidikan. Kondisi ini diperparah dengan kenyataan bahwa BBM bersubsidi ini malah 77% dinikmati 25% orang-orang berpenghasilan tertinggi.

Singkatnya, beban tinggi, dan salah sasaran.

Mengurangi subsidi BBM dan mengarahkannya ke sektor lain menjadi sebuah pilihan yang harus diambil dan diakui sulit. Buah simalakama. Sama-sama tidak enak.

Lalu ada suara lain. Bagaimana kita tahu subsidi BBM ini belum tepat sasaran. BBM adalah salah satu komponen pembentuk harga kebutuhan pokok. Biaya produksi dan distribusi dipengaruhi harga BBM. Kalau harga BBM naik, otomatis harga kebutuhan pokok naik. Masih untung kalau begitu, kadang-kadang baru ada isu BBM mau naik, harga kebutuhan pokok bisa naik duluan. Oleh karena itu, kalau memang harus naik, lebih baik jangan ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Nanti jadi seperti legenda bulutangkis kita, ragu-ragu Icuk.

Artinya ini pilihan sulit. Secara jangka panjang memang kita harus mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil, melakukan konversi energi ke gas di jangka menengah, mencari alternatif energi lain, membangun infrastruktur transportasi massal, dll. Banyak pakar yang kita miliki terkait ini. Tapi dalam jangka pendek ini apa? Ya, saya kira mengalihkan alokasi dana subsidi ke sektor yang tepat seperti kesehatan dan pendidikan adalah pilihan. Pilihan yang harus diambil, dan kalau memang sudah diwacanakan jangan berlarut-larut.

Ini bukan kebijakan populis bagi sebuah pemerintahan yang baru sekitar satu bulan bekerja. Saya menempatkan diri sebagai rakyat, juga tidak senang. Tapi saya, tanpa mencoba mewakili rakyat yang lain, mencoba mengerti kondisinya, dan memberi kesempatan pada pemerintahan yang baru ini kalau memang mau mengatur distribusi subsidi.

Maka koalisi di parlemen, pemerintah, ormas, dan semua elemen, kita punya musuh yang lebih nyata: krisis energi. Tanpa bertengkar satu sama lain pun kita sedang menghadapi kesulitan yang nyata. Ya kalau mau ‘disambi’ berantem, berarti memang kita kelebihan energi, haha.

Hal sederhana yang kemudian dikeluhkan rakyat adalah, rakyat memang terbiasa susah, tapi ya sangat tidak adil adalah kalau kemudian lapisan terbawah masyarakat yang kemudian paling menderita akibat kenaikan BBM bersubsidi. Sementara mafia migas merajalela, oknum alat negara terlibat pula. Tidak ada rasa kebersamaan, susah-senang sebagai bangsa dijalani bersama. Oke, kalau memang menaikkan harga BBM bersubsidi ini pilihan yang harus diambil, lakukan jangan ragu. Tapi jangan ragu juga untuk: berantas mafia migas!!!

Bahkan intinya, berantas semua mafia. Pertahankan satu mafia saja, mafia asal Jogja. Mafia Pathuk! #kepleset

Negara Konsumen…

Sekitar tujuh tahun yang lalu saya mampu membeli rumah di lingkungan saya yang sekarang. Masih asri, tidak macet, jarak mini market terdekat adalah sekitar 300 meter dari rumah. Apa yang terjadi sekarang? Setahun yang lalu, 50 meter dari rumah sudah ada mini market baru dan dua bulan yang lalu ada restoran fast food cukup terkenal yang juga waralaba asing, 200 meter dari rumah saya. Macet pun menyertai kehadiran bisnis-bisnis baru ini.

Orang Jakarta seharusnya sudah tidak lagi asing dengan restoran fast food seperti ini, tapi tetap saja saat launching restoran yang bersangkutan, antrian panjang macam antrian sembako murah. Bisa dibilang kampungan sih. Dan saya juga ikut mengantri.

Kenapa sesuatu yang dari asing terlihat lebih keren? Contohnya kontes Miss World yang baru-baru ini digelar di Bali. Saya tidak pro dan juga tidak kontra, netral saja, hanya mau mengomentari bahwa kontes ini nggak keren-keren amat. Walau saya sedikit salut sama para kontestan, yang sepanjang acara mampu tersenyum, bisa berjam-jam terus tersenyum. Kalau ada masalah dengan pacar pun, harus tersenyum. Kalau kebelet harus tersenyum.

Yang paling saya salut adalah ketika pengumuman pemenang. Kontes Miss World di Bali dimenangkan oleh Miss Philippines. Saat announcer mengumumkan, “And the winner is from Philippines…” Saya perhatikan kontestan dari negara lain tetap tersenyum, padahal kan mereka kalah, kan seharusnya sedih?

Kemudian ada yang memberikan ucapan selamat, mungkin mereka bilang, “I am happy for you…” walau mungkin juga dalam hatinya bilang, “Ahh, you are b*tch…” *bercanda

Saya pernah mencoba untuk menekuni olah raga golf. Sempat punya perangkat golf club walau saya jual, karena waktu itu lebih butuh untuk beli beras *maaf curcol. Saya kurang bisa menikmati olah raga ini. Bola dipukul, jauh, lalu kita jalan mendekat, dipukul lagi jauh, seperti kurang kerjaan. Lalu olah raga dalam golf adalah saat pemainnya berjalan, karena lapangan golf yang relatif luas dibanding lapangan-lapangan lain. Namun belakangan banyak orang memilih memakai mobil golf, jadi kapan olah raganya? Belum lagi perangkat golf club dibantu dibawa sama seorang caddy, jadi ini olah raga apa sih sebenarnya? Saya jadi ingat sama kakek saya di kampung yang dulu bertani. Kakek biasa pergi ke sawah bawa cangkul, dan dia bawa sendiri cangkulnya, nggak dibawain sama caddy. Bayangkan kalau kakek saya pergi ke sawah bawa caddy. Bayangkan kalau kakek saya yang petani ini punya caddy – katakanlah namanya Rani – dan dia pergi ke sawah bersama Rani. Sesampainya di sawah, kakek menghitung sudut kemiringan, angin, dan lain-lain, seperti pemain golf yang berusaha memukul bolanya. Lalu dia bilang sama si Rani ini,

“Tolong cangkul nomor 7.”

Saya tidak bisa menyalahkan kalau produk-produk dalam negeri lebih banyak dipilih oleh konsumen Indonesia, semangat nasionalisme bukan hanya milik konsumen, tapi juga produsen dan penentu kebijakan. Kalau ada jargon, “Cintailah produk-produk dalam negeri.” Maka harusnya boleh dituntut kembali, “Perbaiki dulu mutu produknya.”

“Tontonlah film-film nasional.” Maka harusnya boleh dituntut kembali, “Ya tapi filmnya jangan pocong semua dong. Dari Pocong Keramas sampai Pocong Perawan.” Walau Pocong Perawan ini punya keuntungan, dia boleh masuk sekolah seandainya nanti diberlakukan tes keperawanan.

“Berpartisipasilah dalam pemilu, jangan golput.” Maka harusnya boleh dituntut kembali, “Ya, tapi calegnya dan capresnya jangan kayak elo dong.” Jangan sebut nama, karena nggak enak, takut orangnya sensitif.

“Cintailah produk-produk dalam negeri.” Jargon ini terdengar sakral di tengah himpitan produk impor yang membanjiri Indonesia. Lain dengan era sebelumnya, katakanlah zaman Orde Baru (Orba), produk impor indentik dengan barang mahal, prilaku konsumtif. Sekarang tidak, kita sebagai konsumen memang tidak bisa lepas untuk tidak menggunakan produk impor. Kebutuhan pokok pun kita impor, bahkan garam pun kita impor. Jadi produk impor tidak lagi identik dengan kemewahan.

Apakah kita harus menonton sinetron Indonesia, misalnya, yang makin tidak masuk akal. Antrian untuk naik haji dikabarkan sudah begitu panjangnya, jadi kalau kita mendaftar hari ini, maka 15 tahun lagi baru bisa naik haji. Jelas ada sinetron yang tidak survey dulu dalam membuat jalan ceritanya, padahal sinetron tersebut mengambil dari realita hidup, bukan genre science fiction.

Saya hampir tidak pernah menonton sinetron, apakah saya tidak nasionalis, kalau memilih channel dokumenter dari asing? Tapi pernah tidak sengaja ‘tertonton’ sebuah sinetron di TV lokal. Baru beberapa detik, saya sudah menemui kejanggalan dalam sinetron ini. Dikisahkan ada seorang supir bajaj, tapi ganteng banget. Ini jelas tidak sesuai dengan kehidupan nyata, kalau memang ada orang seganteng itu jadi supir bajaj, saya pasti minder untuk naik bajaj dia. Yang ada saya bilang, “Bang, duduk di belakang ya, biar saya yang bawa bajaj-nya.”

Yang jelas, kalau ada orang seganteng ini dan memilih jadi supir bajaj, maka orang ini aneh. Apa dia tidak tahu, ada banyak profesi untuk orang gateng selain jadi supir bajaj. Kan bisa jadi pemain sinetron, kan lumayan, bisa dapat peran supir bajaj. *Walah sama saja dong…

Kebahagiaan

Mari kita mulai dengan sebuah kutipan, “Bahagia itu sederhana.” Lalu saya akan lanjutkan kutipan ini, “Kalau bahagia itu sederhana, maka kesederhanaan itu tidak sederhana.” Keren kan? Sekali-sekali kita bicara filosofis.

Semua orang bisa bahagia naik mobil mewah sekelas Ferrari, tapi yg bahagia dengan naik sepeda, hanya orang-orang tertentu. Semua orang bisa bahagia punya makanan berlimpah, tapi hanya penyanyi dangdut sekelas Hamdan Att – maafkan untuk referensi saya – yang bisa bahagia makan sepiring berdua. Semua bisa bahagia kalau dapat pacar Luna Maya, tapi saya yakin perjuanganmu luar biasa untuk tetap bahagia dengan pacar yang sekarang. Bercanda!

Di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia sekarang sudah (mulai) macet. Ini karena pertumbuhan kendaraan dan ruas jalan yang tidak berimbang. Orang sudah punya mobil, sehingga sekarang di Jakarta – khususnya – dicanangkan sebuah gerakan untuk memakai sepeda dalam kegiatan sehari-hari – BIKE TO WORK. Lalu apakah orang-orang ini bahagia dengan gerakan BIKE TO WORK ini? Bukan menghakimi, mereka bisa bahagia karena mereka sudah bisa beli mobil. Saya nggak terlalu yakin mereka ini bahagia kalau dia hanya mampu beli sepeda. Ikut gerakan BIKE TO WORK ya menjadi biasa-biasa saja, karena memang yang terbeli hanya sepeda.

Beberapa orang mungkin akan berpikir, terang saja orang-orang tertentu jadi pelopor gerakan ini. Kamu adalah orang dari kecil sudah kaya, sampai kuliah diantar jemput mobil papa, lalu kerja, lalu beli mobil, sampai umur 30 tahun pakai mobil, dan kamu sekarang ikut BIKE TO WORK, kamu ngajak saya? Ehh, sebentar, ini kredit Avanza saya baru di-approve. Bercanda ahh, tapi mungkin saja benar.

Kebahagiaan sering bias dengan kepuasan, dan kepuasan manusia itu tidak ada batasnya. Sehingga apabila patokan sebuah kebahagiaan itu adalah kepuasan, maka ada kemungkinan seseorang tidak akan pernah bahagia seumur hidupnya. Kasihan.

Ambil contoh soal pacaran saja. Kalau sudah puas dengan pegangan tangan maka tahap berikutnya akan ke cium pipi, lalu cium bibir, cium mulut, dan akhirnya sexual intercourse. Hal ini nggak mungkin bisa dibalik. Kalau hari pertama kenal udah sexual intercourse nggak mungkin besoknya cuman pegangan tangan.

“Sini aku pegang tangan kamu…”

“Apaan sih pegang-pegang….”

Jadi kalau pacaran sudah bahagia dengan pegangan tangan, stay in that area as long as possible.

Kebahagiaan adalah sesuatu yang tidak bisa diukur. Itu sebabnya seseorang dengan mudahnya meng-claim bahwa dirinya bahagia. Kecantikan masih bisa diukur, setidaknya ada kontes kecantikan. Kecerdasan masih bisa diukur, ada satuan IQ salah satunya. Kekayaan, mudah sekali, berapa total aset yang kamu miliki. Tapi kebahagiaan tidak bisa diukur, sehingga dengan mudah dapat di-claim.

“Dasar kamu, sudah jelek, bodoh, miskin lagi!!!”

“Yang penting aku bahagia.”

Perdebatan apapun akan langsung mencapai titik end of discussion.

Bahkan tanda-tanda bahagia pun sulit dibedakan. Manusia kan pandai bersandiwara. Manusia bisa tersenyum walau sedang sedih. Beda dengan anjing, yang mimik mukanya terbatas, manusia punya banyak pilihan mimik muka yang bisa dipilih sesuai kebutuhan. Apabila seseorang menangis, apakah sudah pasti tidak bahagia? Bahkan ketika seorang perempuan menangis ada tiga alasannya: pertama karena sedih, tapi yang kedua bisa juga karena bahagia, dan alasan terakhir adalah karena ingin menang saja saat berantem. Kalau perempuan sudah begini mendingan laki-laki pakai jurus, “Sudah, aku yang salah…” Walaupun tidak tahu letak salahnya di mana, yang penting nangisnya selesai tuh perempuan.

Faktor ekonomi sering sekali dikait-kaitkan dengan kebahagiaan. Wajar, karena bila diselidiki banyak hal di dunia ini latar belakangnya adalah faktor ekonomi. Kenapa perempuan cantik itu jual mahal, bukan karena cantik semata, tapi karena mereka sadar populasi mereka sedikit. Hukum supply and demand berlaku. Permintaan banyak, supply terbatas, harga naik. Kalau yang jelek yang sedikit, pasti yang jelek yang jual mahal.

“Sayang kamu kok jual mahal?”

“Aku kan jelek!”

Perempuan cantik dengan alasan kesopanan sering menolak laki-laki yang mengajaknya masuk ke hubungan pacaran. Jenis hubungan “adek-kakak” adalah paling sering digunakan untuk penolakan halus ini. Tapi lama-lama mungkin ada juga perempuan-perempuan cantik yang kreatif, mereka menawarkan jenis hubungan baru. Bukan “adek-kakak” apalagi pacaran, tapi jenis hubungan KDJA. “Kita jalanin dulu aja.” Ini jelas bikin laki-laki bingung dan jauh dari sekali dari kata bahagia tadi. Jenis hubungan “Kita jalanin dulu aja.” sangat menyiksa.

Kebahagiaan apakah berdasar kepuasan? Karena kepuasaan itu hubungannya dengan selera. Sedangkan kebanyakan pasangan itu lebih kepada faktor pilihan, bukan selera. Kalau ditanya selera, semua laki-laki tentunya berselera pada Luna Maya – yah nama dia lagi disebut. Coba tanya pasanganmu, “Sayang sebenarnya kalau boleh ganti, kamu mau nggak?” Maka jawabannya, kalau tidak dalam tekanan tentunya, “Kalau boleh jujur aku sayang sama kamu, tapi casingnya boleh diganti nggak?”

Semua berdasarkan pilihan bukan selera. Seandainya di dunia bersisa dua orang. Saya laki-laki dan ceweknya katakanlah Mpok Nori, saya tentu tidak punya pilihan. Saya akan bilang sama Mpok Nori

“Mpok Nori maukah kau jadi pacar aku?”

“Kite jalanin dulu ajeee yee…”

Apakah kamu sudah bahagia? Membaca artikel ini jangan tambah bingung. “Kita jalanin dulu aja…”

Tua Di Jalan

Ada istilah ‘tua di jalan’ untuk orang-orang pekerja sekarang, terutama yang tinggal di kota-kota besar seperti Jakarta. Sebagian besar orang-orang ini bekerja dan menghabiskan banyak waktu di jalanan karena macet. Sangkin lamanya waktu yang dihabiskan di jalan akhirnya muncul istilah ini. Ada untungnya sih, artinya mereka tidak butuh lagi panti jompo, karena sudah ‘tua di jalan’.

Di Jakarta khususnya, ada banyak kota satelit (suburban) seperti Bekasi, Depok, Tangerang dan Bogor. Banyak warga kota-kota satelit ini yang setiap hari menjadi komuter ke Jakarta, ada yang menggunakan kendaraan pribadi, ada pula yang menggunakan kendaraan umum. Orang-orang ini kalau pergi ke daerah lain di Indonesia tetap akan mengaku orang Jakarta, haha.

“Tinggal di mana, Mas?”

“Di, Jakarta…”

“Ohh, Jakarta-nya di mana?”

“Di, Bekasi…”

Tidak belajar geografi rupanya waktu SMP dulu.

Menggunakan kendaraan pribadi seperti mobil, misalnya, di Jakarta bisa memakan waktu tiga jam, pulang pergi enam jam. Bayangkan enam jam adalah seperempat waktu kita dalam sehari. Jadi kalau orang ini berkarir dari usia 25 sampai 55, 30 tahun makan 7,5 tahun waktunya dihabiskan di dalam mobil. Sudah sampai mana tuh harusnya? Bayangkan kalau orang ini naik sepeda dari Jakarta selama 7,5 tahun tanpa henti, sudah sampai mana dia? Ya palingan sampai Tanjung Priok, karena mentok di laut, sih.

Untuk mengatasi macet, di banyak kota besar sudah dibangun jalan tol. Khususnya di Jakarta, jalan tol yang seharusnya bebas hambatan juga ikut-ikutan macet. Sudah bayar macet pula, tambah stres dan makin cepat tua di jalan. Kadang-kadang jalan biasa malah lebih lancar dari jalan tol. Itulah, lalu-lintas memang tidak bisa diprediksi, makanya saya kira kita perlu satu profesi lain: peramal lalu-lintas, dan ini bisa jadi lebih sulit dari meramal jodoh.

Belum lama ini saya masuk ke salah satu ruas jalan tol di Jakarta. Di sana ada sebuah spanduk yang bertuliskan kira-kira seperti ini

“Sayembara berhadiah, solusi bagaimana mengatasi kemacetan di Jalan tol.”

Saya masuk jalan tol supaya terhindar dari macet, lalu masuk jalan tol baca spanduk ini, terus terang spanduk ini membuat saya semakin putus asa, karena pengelolanya sendiri membuat sayembara untuk mencari solusi kemacetan di jalan tol. Seumur-umur saya belum pernah masuk ke Rumah Makan Padang lalu pelayan atau bahkan kokinya menghampiri saya dan kemudian bertanya,

“Mas, Mas, tahu caranya masak rendang yang enak, nggak?”

Menjelang Pemilu 2014 nanti juga para pengguna jalan yang sudah cukup stres di jalanan akan dibuat tambah stres lagi. Apa yang bikin tambah stres? Spanduk, baligo, billboard partai dan caleg akan semakin banyak menghiasi jalanan. Menghiasi atau mengotori, ya pokoknya begitu deh. Lagi kesal kena macet, tambah kesal karena foto-foto itu tersenyum manis pada kita pengguna jalan. Rasanya ingin teriak,

“Ngapain lo, ketawain gue ya!?”

Eh dia malah jawab,

“Makanya, pilih gue dong.”

Salah satu yang menghibur dari foto-foto tersebut adalah ulah anak-anak yang terlalu kreatif melakukan aksi vandalisme terhadap foto-foto tersebut. Kadang-kadang ditambahin kumis, atau yang lagi senyum giginya diwarnai hitam jadi terlihat ompong, atau ditambahi tahi lalat, diberi kacamata, dll. Terima kasih pada tangan-tangan ‘kreatif’ yang sudah menghibur kami pengguna jalan.

Layaknya orang tua, orang yang tua di jalan juga jadi semakin peka terhadap kondisi jalanan, selain spanduk partai dan caleg, yang lain adalah spanduk-spanduk layanan masyarakat. Saya semakin peka mengamati spanduk-spanduk ini. Rata-rata yang diiklankan adalah pariwisata sebuah daerah atau sebuah gerakan tertentu dari sebuah kementerian. Namun spanduk-spanduk itu lebih menonjolkan tokoh dibanding apa yang diiklankan. Misalnya iklan pariwisata sebuah daerah, obyek wisatanya minim sekali ditunjukkan, tapi kepala daerahnya dibuat besar-besar. Saya jadi bingung, apa yang harus dilihat nanti di lokasi wisata? Mau lihat gubernurnya?

Pada dasarnya semua orang itu mungkin taat terhadap peraturan, termasuk peraturan lalu-lintas, tapi mungkin karena terlalu lelah di jalanan sepanjang hari – walau ini juga tidak bisa dijadikan pembenaran – mereka akhirnya melanggar peraturan lalu-lintas. Semata-mata hanya ingin cepat sampai di tujuan. Hal ini salah, tapi ya kita tetap harus pelajari sebabnya.

Saya bukannya tidak pernah melanggar peraturan lalu-lintas, dan sesekali berurusan dengan polisi juga. Polisi mungkin juga sama-sama lelah dengan kami pengguna jalan, sehinga emosinya juga kadang tidak terkontrol. Ya, polisi juga manusia. Kadang-kadang suka bertanya hal-hal yang memojokkan,

“Maaf Pak, Bapak tahu salah Bapak apa?”

Ini pertanyaan jebakan, seolah-olah jawaban saya berpengaruh pada tindakan Pak Polisi ini terhadap saya nanti. Dan kalau saya jawab,

“Tidak tahu, Pak, saya pergi dulu ya …”

Pasti Pak Polisi tadi – yang juga sudah kelelahan karena seharian bertugas di jalanan – bisa saja terpancing emosinya. Layaknya orang Indonesia, kalau sudah emosi maka kata-kata bisa saja tidak terkendali, dan kalimat seperti ini sering sekali terlontar,

“Kamu tidak tahu siapa saya!?”

Ini pertanyaan yang sering kita dengar, tapi jarang kita pikirkan maknanya. Jelas saya tidak tahu siapa orang ini, orang baru pertama kali bertemu di jalan, sama-sama sedang lelah. Saya membayangkan kalau saja saya bisa tertegun sebentar, menatap Pak Polisi itu dengan mata nanar, beberapa detik kemudian saya berteriak dengan mata berkaca-kaca,

“Ayahhhh……”

Dulu dan Sekarang

Saya adalah salah satu dari kelompok orang-orang yang beruntung – atau mungkin tidak beruntung, tergantung persepsi – yang menjadi saksi hidup sejarah perkembangan teknologi. Teknologi yang belakangan ini bergerak terlalu cepat. Saya masih sempat punya TV hitam putih, sekarang sudah tidak ada. TV pun semakin tipis saja ukurannya, bahkan sudah banyak yang di-bundling jadi satu dengan handphone. TV makin tipis, saya makin gendut. TV layarnya makin datar, perut saya makin buncit.

Saya masih sempat mendengarkan musik lewat tape recorder. Teknologi ini cukup lama bertahan, dari kecil sampai saya kuliah dan lulus di akhir 90an. Iya saya memang angkatan tua. Teknologi makin cepat. Sejak ditemukan compact disk (CD), audio CD tidak lama bertahan, musik sudah berubah menjadi format digital MP3. Kaset, hampir tidak pernah saya lihat lagi di toko-toko musik, jarang sekali, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta.

Saya masih sempat mengerjakan tugas penulisan di sekolah menggunakan mesin tik, sekarang semua sudah dikerjakan pakai komputer. Membuat salinan tinggal copy file atau print beberapa kali. Dulu masih pakai kertas karbon, mungkin sebagian pembaca malah nggak pernah lihat seperti apa kertas karbon. Saya berada di era pergantian tersebut, dan makin kini sepertinya pergerakannya semakin cepat. Semua berjalan makin cepat, orang  dulu sehari nggak baca koran, biasa-biasa saja. Orang sekarang, jangan sehari nggak baca berita, satu jam nggak update twitter rasanya nggak eksis. Apa saja diupdate ke social media, sedang baca, sedang buang air, sedang berantem, sedang galau, “too much information, Dude!”

Jadi ingat kasus carut-marut pelaksanaan UN belakangan ini. Zaman saya pun ada ujian semacam ini, skalanya nasional juga, mungkin parameter pengukurannya berbeda. Dulu ada EBTANAS, soalnya pun dibuat oleh pemerintah dan didistribusikan oleh pemerintah. Distribusinya – seingat saya – tidak pernah telat. Sekarang informasi begitu cepat, sesuatu yang terjadi satu jam bahkan satu menit yang lalu, bisa kita lihat perkembangannya di TV atau di social media. Jadi kasus soal UN yang telat, bisa langsung  kita tahu perkembangannya. Seandainya dulu EBTANAS soalnya telat, lalu saya pulang ke rumah, ditanya Ibu,

“Bagaimana tadi EBTANAS?”

“Nggak jadi, Bu. Soalnya nggak ada.”

Pasti Ibu saya marah besar. Dikiranya saya berbohong atau mungkin dikira sudah tidak waras.

Gara-gara stand-up comedy saya cukup sering masuk TV belakangan ini. Tapi itu pun tidak membuat saya jadi sangat terkenal. Kalau jalan-jalan ke mall ada beberapa yang sudah kenal, tapi kenalnya bukan sebagai ‘Sammy’, sebagian besar yang menyapa memanggil saya, “Mas stand-up comedy ya…” Gua juga punya nama kali. Wajar sih, itu karena stasiun TV makin banyak, belum lagi TV berbayar, jadi pilihan hiburan makin banyak. Walau sering masuk TV, masih saja banyak orang yang tidak kenal saya. Masih sering didatangi orang dengan kamera, dikira mau diajak foto bareng, eh dia malah bilang, “Mas, bisa tolong fotoin saya dengan teman saya?” Nasib.

Dulu stasiun TV hanya ada satu, TVRI. Orang dari Sabang sampai Merauke, desa maupun kota, nonton acara yang sama. Kalau acaranya pas ‘Dari Desa ke Desa’ tentang budi daya palawija misalnya, apapun profesi kita, pelajar, mahasiswa, petani, akuntan, tentara, ya kita harus tonton acara yang sama. Kalau nggak mau nonton, ya tidur. Kalau belum ngantuk ya, nasib.

Sebaliknya, dulu ada acara belajar bahasa Inggris. Gurunya Anton Hilman. Saya dan teman-teman di sekolah sampai berpikir, ini Pak Anton Hilman adalah orang paling pintar bahasa Inggris di Indonesia. Anton Hilman saat itu mengajar bahasa Inggris di TV, dan dia jauh lebih terkenal dari saya seorang ­stand-up comedian yang sering masuk TV saat ini. Saat Anton Hilman mengajar bahasa Inggris di TV, giliran petani di Desa yang harus ikut lihat acara yang sama. Bisa dibayangkan ada pak tani yang baru pulang dari sawah, dia nonton TV dan pas acaranya adalah pelajaran bahasa Inggris Anton Hilman. Dia akan bingung dan bertanya pada istrinya.

“Acara, opo iki, Bune?”

Istrinya akan mejawab, “I don’t know, Bapakeee…” dengan logat Jawa yang kental.

Sekarang banyak artis yang masuk politik, dulu tidak terlalu banyak. Kata artis pun sudah mengalami peyorasi, penyempitan makna ke arah yang lebih buruk. Artis kan mengandung kata ‘art’ di dalamnya. Artinya mereka harusnya dikenal karena menghasilkan karya seni. Banyak ‘artis’ sekarang yang sekadar terkenal, tapi kita tidak tahu karyanya. Kita bingung kenapa dia bisa sebegitu terkenalnya dan disebut ‘artis’ padahal setiap nongol di infotainment hanya mamerin tas Hermes atau menjelaskan kasus kawin siri.

Ngapain ‘artis-artis’ itu mau masuk dunia politik. Orang sekarang kalau ada masalah selalu pemerintah yang disalahin. Macet, pemerintah yang salah, gubernur yang salah. Zaman saya dulu, mana berani kami salahkan pemerintah. Jakarta saat itu pun sudah macet, semacet-macetnya Jakarta yang disalahin ‘si Komo’, bukan pemerintah. Si Komo mungkin bisa protes, “Apa salahku…”

Awal 90an sudah ada TV swasta, tapi pemerintah saat itu mewajibkan TV-TV swasta me-relay siaran-siaran tertentu di TV mereka. Salah satunya acara ‘Liputan Khusus’. Kalau presiden sedang melakukan kunjungan penting ke suatu daerah, semua TV harus me-relay acara tersebut. Seolah-olah pemerintah saat itu takut kalah terkenal dengan Anton Hilman.

Masa lalu enak untuk dikenang, tapi sepertinya tidak perlu dialami lagi.

Pendidikan atau Sirkus

Pendidikan erat kaitannya dengan ujian, dan konon hidup ini adalah ujian. Hidup adalah ujian, hanya saja peserta ujian – setidaknya saya – tidak mau lulus cepat-cepat.

Pendidikan sekarang dirasa mahal. Contoh dekat rumah saya ada TK yang kalau saya hitung-hitung satu semester itu biayanya mencapat sekitar Rp 25 juta. Buset!!! TK apa macam apa itu, apa yang dipelajari? Uang kuliah saya dulu – kuliah bukan TK ya – hanya Rp 300 ribu saja satu semester, sampai saya lulus, uang 25 juta pasti masih sisa.

Anak-anak sekarang belajar yg susah-susah dulu tapi yang dasar dilupakan. Ibarat rumah atapnya dibangun dulu, pondasi belum jadi. Rumah apa itu? Rumah kurcaci. Belajar bahasa asing, Inggris, Mandarin, Jepang, padahal cebok belum bisa. Minta tolong dicebokin apa pakai bahasa Inggris? “Mama… help me.. wipe my ass.”

Apakah sekolah untuk kebutuhan anak? Kebanyakan sih sekolah itu untuk prestise orang tua. Apakah balita – kecuali tinggal di Inggris – butuh bahasa Inggris? Bahasa Inggris dianggap sebagai patokan kepintaran seseorang, padahal di Inggris tukang bersihin WC pun saya yakin mahir bahasa Inggris.

Jadi jelas kemampuan itu untuk ditunjuk-tunjukkan ke teman-teman orang tuanya. “Ayoo.. Adi, tunjukin Tante Ani kamu bisa bahasa Inggris… ” Lalu Adi bilang, “Fuck you!!” Dan Tante Ani masih bilang, “Anak pintar, bisa bahasa Inggris.”

Yang terjadi sekarang tidak ada bedanya dengan sirkus, sirkus anak. Seperti nonton sirkus, asik memang, orang-orangnya bisa salto. Tapi apakah orang itu waktu jalan di kehidupan sehari-hari sambil salto? Kita datang ke rumah teman kita yang bapaknya pemain sirkus. Ada bayangan cepat mengkelebat, lalu kita tanya, “Bro apaan itu?” Teman kita dengan santai bilang, “Ohh itu… bokap gua.”

Saya bukan bilang bhs Inggris itu nggak penting, tapi apa gak bisa nanti, kalau sudah agak besar. Mungkin terdengar menyesatkan, tapi  prinsip saya “apa yang bisa dikerjakan nanti, buat apa dikerjain sekarang.” Tundalah pekerjaan yang masih bisa ditunda, enjoy your life. Kalau nggak bisa ditunda ya kerjakan, saya setuju. Malah ada pekerjaan yang sebaiknya ditunda dulu, contohnya nikah. Tundalah pernikahan, karena emang belum ada calonnya. Dasar jomblo.

Ada beberapa anggapan yg kurang tepat dalam hal pendidikan. Misalnya, ada pendapat bahwa nggak baik ngomongin orang yg sudah meninggal. Kalau begitu kita nggak bisa dong ngomongin sejarah. Karena pelaku sejarah sudah pada meninggal. Sukarno, Suharto, Gajah Mada, Hayam Wuruk, Ken Arok semua sudah meninggal. Apakah ketika guru di sekolah bertanya, “Coba Sammy jelaskan tentang Gajah Mada?” Saya bisa menjawab jawab, “Ahhh Ibu, jangan bicarain orang yg sudah meninggal dong, Bu.”

Pendidikan yg terbaik salah satunya adalah di Finlandia. Dan di sana nggak ada PR. Di kita jangankan PR, anak-anak malah masih ikut les macam-macam. Tapi apakah kita lebih maju dari Finlandia yg jadi salah satu leader di Industri telekomunikasi, di balapan mobil F1. Pembalap F1 yg jadi juara banyak dari Finland, misalnya saja: Mika Hakinen, Kimmi Raykonen. Karena mungkin mereka nyetirnya fokus nggak sambil mikirin PR. Kalau kita dulu juga pernah ikutan A1 tapi sering gagal finish, nabrak tembok. Mungkin dia nabrak karena nggak konsen, pusing mikirin PR. Putus asa jadi pembalap dan masuk partai untuk ikut-ikutan jadi caleg. Ayo siapa, ayoo, tebak!

Di Finlandia tidak ada orang tua yang basa-basi sama anaknya, “Kamu sudah ngerjain PR!” karena akan dijawab anaknya seperti ini, “Papa, kita hidup di Finlandia, kita negara maju … walau tanpa PR.” Mungkin saja terjadi.

Sistem pendidikan di Finlandia tidak berubah dalam 40 tahun terakhir. Di kita, setiap ganti menteri, ganti sistem. Kadang-kadang yang diganti pun tidak jelas. Contoh saja, dulu SD kelas 1-6, SMP kelas 1-3, SMA kelas 1-3, sekarang disatukan kelas 1-12, tapi prakteknya tidak berubah, hanya penamaan jenjang saja yang berubah. Apa alasannya karena menteri dulu tidak bisa berhitung sampai 12 lalu menteri yang sekarang bisa berhitung sampai 12. Sungguh mengherankan *geleng-geleng*.

Sangkin padatnya jadwal anak-anak, jangan-jangan orang tua mau ketemu anaknya sendiri nanti harus bikin janji. “Bapak mau bicara dengan kamu!” Anaknya lalu bilang, “Sudah buat janji?”

Saya sedikit menyesal menulis artikel ini, terutama tentang sistem pendidikan di Finlandia. Saya takut anggota DPR terilhami, untuk studi banding ke sana. “Boss, sistem pendidikan di Finlandia bagus, berangkat kita….” kata seorang anggota DPR.

— Sammy @notaslimboy, beruntung sempat lulus S1 dengan biaya murah.