Petruk Jadi Ratu

Saya berdarah Batak. Hanya karena saya lahir dan besar di pulau Jawa, ditambah lagi dulu tinggal di asrama militer di Bandung, bukan hanya banyak orang Sunda, tapi juga banyak keluarga rekan bapak saya sesama militer yang merantau dari Jawa Tengah. Kami tingggal di Bandung, dan orang-orang Jawa dulu umurnya panjang-panjang. Banyak dari teman-teman saya, yang eyang Kakung/Putrinya ikut diajak ke Bandung. Alasannya di kampung tidak ada lagi anak yang bisa menjaga si Mbah. Semua anaknya sudah merantau ke kota besar.

Hal ini membuat saya cukup kental dengan pengaruh budaya Jawa, terutama soal pewayangan. Walalu sebenarnya wayang itu sendiri ya dari India lah, tapi bukan itu maksud tulisan ini.

Setelah bisa membaca sendiri, karena terlanjur sering diceritain kisah-kisah wayang sama si Mbah teman saya, akhirnya saya banyak membaca buku-buku wayang. Dari Mahabarata, Ramayana sampai wayang purwa. Pokoknya mungin kalau bahasa Jawa lancar sih bisa masuk rekor MURI, sebagai dalang pertama berdarah Batak.

Ada satu lakon, Petruk Jadi Ratu. Petruk yang bagian dari punakawan, seharusnya mengabdi saja. Eh terpilih berkuasa. Akhirnya karena gamang, baru memiliki kekuasaan, si Petruk ini jadi malah lebih kacau dari pemimpin sebelumnya. Masih ada perdebatan soal interpretasi kisah ini, apa ini semacam siasat kasta/golongan yang lebih tinggi agar golongan di bawahnya tidak mungkin berkuasa. Harus tetap golongan bangsawan dan borjuis, tidak boleh dari proletar. Begitu kalau pakai istilah-istilah revolusi, haha.

Inti dari kisah ini bila ditarik ke kehidupan berbangsa dan bernegara sekarang, apakah mungkin Jokowi itu Petruk? Karena sudah hampir sebulan Kapolri tidak juga dilantik, lembaga-lembaga yang bisa dia kontrol dibiarkan berantem sendiri. Memang mereka semua sudah bapak-bapak, sudah pada gede, pipis dan mandi juga sudah sendiri semua. Tapi Presiden RI bukan hanya masalah pribadi saja, Presiden adalah “lembaga” tinggi negara. Diatur oleh konstitusi kita. Bahkan Presiden punya hak untuk menyatakan keadaan darurat sebuah negara.

Rakyat Indonesia ini terlalu baik kali ya? Kita sedang tidak punya Kapolri, tapi santai-santai saja. Presiden sedang mengurus proyek mobil nasional, proyek strategis kah? Mungkin iya, tapi tidak urgent. Atau urgent dari sisi inner circle, maaf kalau harus menyebut nama, Hendro Priyono?

Kedekatan penguasa-pengusaha-militer, adalah permainan Indonesia sejak lama. Ya, kita pasrah saja, untung kita baik dan tidak lantas bikin kacau.

Apakah Jokowi yang Petruk jadi Ratu? Seorang yang melesat karirnya terlalu pesat. Lalu cepat juga sirna. Seperti Shinta dan Jojo yang secara instan terkenal lewat Youtube, tapi sekarang entah sedang apa? Atau saya yang tidak update infotainment.

Kembali ke permasalahan. Atau mungkin juga PDIP sudah menjadi Petruk di sini? Sesudah reformasi begitu gegap gempitanya rakyat, 32% mendukung PDIP dan Megawati.  Namun Mega gagal jadi Presiden, karena dijegal poros tengah. Posos ini juga yang beralih keberpihakan pada Mega dan menjegal Gusdur. Mega menggantikan Gusdur. Tapi di pemilihan berikutanya, saat pemilihan Presiden dilakukan pertama kali langsung oleh rakyat, rakyat sudah tidak percaya lagi pada golongan sipil, dan memberikan kemenangan pada SBY. Walau militer, dianggap militer yang “lain”. Memang lain, tapi terlalu lain dari yang lain ternyata.

Mega begitu disakiti. PDIP mungkin merasa dirinya anak kandung Reformasi, setelah peristiwa 27 Juli 1996. Lalu sekarang, kadernya berkuasa, jadi apa mungkin dialah Petruknya? Sampai-sampai, Puan Maharani, yang seorang menteri, yang notabene anak buah Presiden, bisa mengeluarkan statement “Jokowi bagaimanapun adalah petugas partai..” Wow, nyalinya hebat juga, atau memang karena Petruk gak pikir panjang? Lama di bawah, sekali berkuasa, merusak tatanan di dalam kekuasaan sendiri?

Hanya waktu yang bisa menjawab, yang jelas salut pada rakyat Indonesia yang sabar. Rakyat yang kalau di-PHK, ngojek atau jual pulsa. Tidak seperti Swedia yang lama sejahtera, PHK besar-besaran di Ericsson dan SAB, dan banyak pengangguran baru. Mereka lalu rusuh, rusuh, rusuh. Mereka tidak terpikir apa untuk ngojek atau jual pulsa.

Mari rakyat Indonesia, kita jadi Petruk terus saja. Itu di istana, apa ada Petruk yang nyasar ke sana? Sini woyyyy…

Pertanyaan saya kemudian apakah fenomena Pertruk jadi Ratu ini ada juga di tubuh KPK? Selama ini begitu berkuasa. Jangan-jangan benar kekuasaan dan wewenang yang besar itu disalahgunakan oleh beberapa orang untuk kepentingan pribadi mereka. Ambisi pribadi mereka.

Pokoknya jadi orang jangan mau benar sendiri. Karena tidak mungkin seseorang itu benar hanya sendirian. Minimal jawaban dia harus sama dengan kunci jawaban.

Sammy – Notaslimboy – Batak yang suka wayang.

Advertisements

Silogisme

Apa yg terlintas di benak elo kalau gua sebut kata ‘mayoritas’. 99% orang Indonesia akan menyebut Islam. Padahal gua tidak menyebut dalam konteks apapun secara khusus.

Sebenarnya mayoritas adalah istilah statistik untuk mengidentifikasi kumpulan dengan populasi 1/2 lebih dari sebuah himpunan yang lebih besar.

Entah kenapa di Indonesia, top of mind langsung mengarah ke populasi pemeluk agama. Kata mayoritas itu sangat luas cakupannya. Jika dibanding kaum gay dan lesbi maka straight itu mayoritas. Jika dibanding orang kaya, maka orang miskin dan hampir miskin itu mayoritas. Jika dibanding orang pintar, maka yang bodoh itu mayoritas.

Kata mayoritas ini kemudian sering disalahgunakan. Seolah kalau jumlahnya lebih banyak maka haruslah yg lebih diprioritaskan. Masih mending kalau hanya bicara prioritas, sering kali malah, kalau kelompoknya lebih banyak, berarti kelompoknya yang paling benar. Padahal di rumah sakit jiwa, pasien sakit jiwa itu mayoritas dibanding dokternya.

Bila jumlah anggota dlm koalisi KMP lebih banyak, apakah pasti benar. Yang jelas jumlah orang bodoh itu pasti lebih banyak. Dan bila kita menggunakan silogisme ini akan terjadi logical fallacy. Penggiringan opini dengan cara mengambil kesimpulan yang salah, walaupun bisa jadi memang anggota KMP itu bodoh. Tapi KIH lebih bodoh lagi kalah sama orang bodoh. Lalu pemilih Jokowi itu bodoh, karena lebih banyak dari pemilih Prabowo.

Itulah, karena kita mempersempit kata ‘mayoritas’, akhirnya timbul kebodohan baru.

Jadi menurut silogisme ini, maka seorang gay, kaya, memilih Prabowo, tapi malah masuk parlemen di koalisi KIH dan seorang pemeluk Ahmadiyah dengan profesi dokter jiwa.. adalah orang paling GENIUS. Selamat utk orang ini – kalau memang ada.

Yes… makin ngaco.

Demokrasi, Kolak Pisang dan Pisang Goreng

Kalau demokrasi kita ibaratkan pisang. Pilkada langsung itu kolak dan pilkada lewat DPRD itu pisang goreng. Maka Indonesia sedang makan kolak. Tiba-tiba Menteri Gamawan ajukan proposal, “Bosan ah makan kolak. Pisang goreng lebih mantap, biaya murah lagi…”

DPR mau mengesahkan, cara apa kita masak nih pisang. Terbagi dua kubu, satu lebih suka, “Kami tetap kolak.” Satu lagi bilang, “Pisang goreng harga mati!” Lalu ada Partai Demokrat. Dia belum menentukan sikap. Namun nampaknya condong ke kolak, hanya dengan 10 syarat tambahan. Eh, 10 syarat ini tidak bisa diakomodasi saat pleno, akhirnya Demokrat memilih walkout, dan rela makan pisang goreng dibanding kolak yg tdk disertai 10 syarat.

Besoknya Presiden SBY kecewa kok pisangnya jadi digoreng. Beliau notabene bosnya Gamawan dan bosnya Demokrat. Akhirnya diajukanlah Perppu yg mengusahakan pisang tetap dikolak dengan 10 syarat tambahan. Pembahasannya tentu nanti di DPR. Bisa dibuat sederhana malah inginnya ribet…

Sepertinya tukang pisang goreng dan tukang kolak pisang tidak pernah seribet ini.

Hidup kolak pisang….

Kenapa contohnya pisang, kolak dan pisang goreng? Sebenarnya mau babi, saksang dan panggang, tapi takut blognya tidak dapat stempel halal.

Negara Konsumen…

Sekitar tujuh tahun yang lalu saya mampu membeli rumah di lingkungan saya yang sekarang. Masih asri, tidak macet, jarak mini market terdekat adalah sekitar 300 meter dari rumah. Apa yang terjadi sekarang? Setahun yang lalu, 50 meter dari rumah sudah ada mini market baru dan dua bulan yang lalu ada restoran fast food cukup terkenal yang juga waralaba asing, 200 meter dari rumah saya. Macet pun menyertai kehadiran bisnis-bisnis baru ini.

Orang Jakarta seharusnya sudah tidak lagi asing dengan restoran fast food seperti ini, tapi tetap saja saat launching restoran yang bersangkutan, antrian panjang macam antrian sembako murah. Bisa dibilang kampungan sih. Dan saya juga ikut mengantri.

Kenapa sesuatu yang dari asing terlihat lebih keren? Contohnya kontes Miss World yang baru-baru ini digelar di Bali. Saya tidak pro dan juga tidak kontra, netral saja, hanya mau mengomentari bahwa kontes ini nggak keren-keren amat. Walau saya sedikit salut sama para kontestan, yang sepanjang acara mampu tersenyum, bisa berjam-jam terus tersenyum. Kalau ada masalah dengan pacar pun, harus tersenyum. Kalau kebelet harus tersenyum.

Yang paling saya salut adalah ketika pengumuman pemenang. Kontes Miss World di Bali dimenangkan oleh Miss Philippines. Saat announcer mengumumkan, “And the winner is from Philippines…” Saya perhatikan kontestan dari negara lain tetap tersenyum, padahal kan mereka kalah, kan seharusnya sedih?

Kemudian ada yang memberikan ucapan selamat, mungkin mereka bilang, “I am happy for you…” walau mungkin juga dalam hatinya bilang, “Ahh, you are b*tch…” *bercanda

Saya pernah mencoba untuk menekuni olah raga golf. Sempat punya perangkat golf club walau saya jual, karena waktu itu lebih butuh untuk beli beras *maaf curcol. Saya kurang bisa menikmati olah raga ini. Bola dipukul, jauh, lalu kita jalan mendekat, dipukul lagi jauh, seperti kurang kerjaan. Lalu olah raga dalam golf adalah saat pemainnya berjalan, karena lapangan golf yang relatif luas dibanding lapangan-lapangan lain. Namun belakangan banyak orang memilih memakai mobil golf, jadi kapan olah raganya? Belum lagi perangkat golf club dibantu dibawa sama seorang caddy, jadi ini olah raga apa sih sebenarnya? Saya jadi ingat sama kakek saya di kampung yang dulu bertani. Kakek biasa pergi ke sawah bawa cangkul, dan dia bawa sendiri cangkulnya, nggak dibawain sama caddy. Bayangkan kalau kakek saya pergi ke sawah bawa caddy. Bayangkan kalau kakek saya yang petani ini punya caddy – katakanlah namanya Rani – dan dia pergi ke sawah bersama Rani. Sesampainya di sawah, kakek menghitung sudut kemiringan, angin, dan lain-lain, seperti pemain golf yang berusaha memukul bolanya. Lalu dia bilang sama si Rani ini,

“Tolong cangkul nomor 7.”

Saya tidak bisa menyalahkan kalau produk-produk dalam negeri lebih banyak dipilih oleh konsumen Indonesia, semangat nasionalisme bukan hanya milik konsumen, tapi juga produsen dan penentu kebijakan. Kalau ada jargon, “Cintailah produk-produk dalam negeri.” Maka harusnya boleh dituntut kembali, “Perbaiki dulu mutu produknya.”

“Tontonlah film-film nasional.” Maka harusnya boleh dituntut kembali, “Ya tapi filmnya jangan pocong semua dong. Dari Pocong Keramas sampai Pocong Perawan.” Walau Pocong Perawan ini punya keuntungan, dia boleh masuk sekolah seandainya nanti diberlakukan tes keperawanan.

“Berpartisipasilah dalam pemilu, jangan golput.” Maka harusnya boleh dituntut kembali, “Ya, tapi calegnya dan capresnya jangan kayak elo dong.” Jangan sebut nama, karena nggak enak, takut orangnya sensitif.

“Cintailah produk-produk dalam negeri.” Jargon ini terdengar sakral di tengah himpitan produk impor yang membanjiri Indonesia. Lain dengan era sebelumnya, katakanlah zaman Orde Baru (Orba), produk impor indentik dengan barang mahal, prilaku konsumtif. Sekarang tidak, kita sebagai konsumen memang tidak bisa lepas untuk tidak menggunakan produk impor. Kebutuhan pokok pun kita impor, bahkan garam pun kita impor. Jadi produk impor tidak lagi identik dengan kemewahan.

Apakah kita harus menonton sinetron Indonesia, misalnya, yang makin tidak masuk akal. Antrian untuk naik haji dikabarkan sudah begitu panjangnya, jadi kalau kita mendaftar hari ini, maka 15 tahun lagi baru bisa naik haji. Jelas ada sinetron yang tidak survey dulu dalam membuat jalan ceritanya, padahal sinetron tersebut mengambil dari realita hidup, bukan genre science fiction.

Saya hampir tidak pernah menonton sinetron, apakah saya tidak nasionalis, kalau memilih channel dokumenter dari asing? Tapi pernah tidak sengaja ‘tertonton’ sebuah sinetron di TV lokal. Baru beberapa detik, saya sudah menemui kejanggalan dalam sinetron ini. Dikisahkan ada seorang supir bajaj, tapi ganteng banget. Ini jelas tidak sesuai dengan kehidupan nyata, kalau memang ada orang seganteng itu jadi supir bajaj, saya pasti minder untuk naik bajaj dia. Yang ada saya bilang, “Bang, duduk di belakang ya, biar saya yang bawa bajaj-nya.”

Yang jelas, kalau ada orang seganteng ini dan memilih jadi supir bajaj, maka orang ini aneh. Apa dia tidak tahu, ada banyak profesi untuk orang gateng selain jadi supir bajaj. Kan bisa jadi pemain sinetron, kan lumayan, bisa dapat peran supir bajaj. *Walah sama saja dong…

Tua Di Jalan

Ada istilah ‘tua di jalan’ untuk orang-orang pekerja sekarang, terutama yang tinggal di kota-kota besar seperti Jakarta. Sebagian besar orang-orang ini bekerja dan menghabiskan banyak waktu di jalanan karena macet. Sangkin lamanya waktu yang dihabiskan di jalan akhirnya muncul istilah ini. Ada untungnya sih, artinya mereka tidak butuh lagi panti jompo, karena sudah ‘tua di jalan’.

Di Jakarta khususnya, ada banyak kota satelit (suburban) seperti Bekasi, Depok, Tangerang dan Bogor. Banyak warga kota-kota satelit ini yang setiap hari menjadi komuter ke Jakarta, ada yang menggunakan kendaraan pribadi, ada pula yang menggunakan kendaraan umum. Orang-orang ini kalau pergi ke daerah lain di Indonesia tetap akan mengaku orang Jakarta, haha.

“Tinggal di mana, Mas?”

“Di, Jakarta…”

“Ohh, Jakarta-nya di mana?”

“Di, Bekasi…”

Tidak belajar geografi rupanya waktu SMP dulu.

Menggunakan kendaraan pribadi seperti mobil, misalnya, di Jakarta bisa memakan waktu tiga jam, pulang pergi enam jam. Bayangkan enam jam adalah seperempat waktu kita dalam sehari. Jadi kalau orang ini berkarir dari usia 25 sampai 55, 30 tahun makan 7,5 tahun waktunya dihabiskan di dalam mobil. Sudah sampai mana tuh harusnya? Bayangkan kalau orang ini naik sepeda dari Jakarta selama 7,5 tahun tanpa henti, sudah sampai mana dia? Ya palingan sampai Tanjung Priok, karena mentok di laut, sih.

Untuk mengatasi macet, di banyak kota besar sudah dibangun jalan tol. Khususnya di Jakarta, jalan tol yang seharusnya bebas hambatan juga ikut-ikutan macet. Sudah bayar macet pula, tambah stres dan makin cepat tua di jalan. Kadang-kadang jalan biasa malah lebih lancar dari jalan tol. Itulah, lalu-lintas memang tidak bisa diprediksi, makanya saya kira kita perlu satu profesi lain: peramal lalu-lintas, dan ini bisa jadi lebih sulit dari meramal jodoh.

Belum lama ini saya masuk ke salah satu ruas jalan tol di Jakarta. Di sana ada sebuah spanduk yang bertuliskan kira-kira seperti ini

“Sayembara berhadiah, solusi bagaimana mengatasi kemacetan di Jalan tol.”

Saya masuk jalan tol supaya terhindar dari macet, lalu masuk jalan tol baca spanduk ini, terus terang spanduk ini membuat saya semakin putus asa, karena pengelolanya sendiri membuat sayembara untuk mencari solusi kemacetan di jalan tol. Seumur-umur saya belum pernah masuk ke Rumah Makan Padang lalu pelayan atau bahkan kokinya menghampiri saya dan kemudian bertanya,

“Mas, Mas, tahu caranya masak rendang yang enak, nggak?”

Menjelang Pemilu 2014 nanti juga para pengguna jalan yang sudah cukup stres di jalanan akan dibuat tambah stres lagi. Apa yang bikin tambah stres? Spanduk, baligo, billboard partai dan caleg akan semakin banyak menghiasi jalanan. Menghiasi atau mengotori, ya pokoknya begitu deh. Lagi kesal kena macet, tambah kesal karena foto-foto itu tersenyum manis pada kita pengguna jalan. Rasanya ingin teriak,

“Ngapain lo, ketawain gue ya!?”

Eh dia malah jawab,

“Makanya, pilih gue dong.”

Salah satu yang menghibur dari foto-foto tersebut adalah ulah anak-anak yang terlalu kreatif melakukan aksi vandalisme terhadap foto-foto tersebut. Kadang-kadang ditambahin kumis, atau yang lagi senyum giginya diwarnai hitam jadi terlihat ompong, atau ditambahi tahi lalat, diberi kacamata, dll. Terima kasih pada tangan-tangan ‘kreatif’ yang sudah menghibur kami pengguna jalan.

Layaknya orang tua, orang yang tua di jalan juga jadi semakin peka terhadap kondisi jalanan, selain spanduk partai dan caleg, yang lain adalah spanduk-spanduk layanan masyarakat. Saya semakin peka mengamati spanduk-spanduk ini. Rata-rata yang diiklankan adalah pariwisata sebuah daerah atau sebuah gerakan tertentu dari sebuah kementerian. Namun spanduk-spanduk itu lebih menonjolkan tokoh dibanding apa yang diiklankan. Misalnya iklan pariwisata sebuah daerah, obyek wisatanya minim sekali ditunjukkan, tapi kepala daerahnya dibuat besar-besar. Saya jadi bingung, apa yang harus dilihat nanti di lokasi wisata? Mau lihat gubernurnya?

Pada dasarnya semua orang itu mungkin taat terhadap peraturan, termasuk peraturan lalu-lintas, tapi mungkin karena terlalu lelah di jalanan sepanjang hari – walau ini juga tidak bisa dijadikan pembenaran – mereka akhirnya melanggar peraturan lalu-lintas. Semata-mata hanya ingin cepat sampai di tujuan. Hal ini salah, tapi ya kita tetap harus pelajari sebabnya.

Saya bukannya tidak pernah melanggar peraturan lalu-lintas, dan sesekali berurusan dengan polisi juga. Polisi mungkin juga sama-sama lelah dengan kami pengguna jalan, sehinga emosinya juga kadang tidak terkontrol. Ya, polisi juga manusia. Kadang-kadang suka bertanya hal-hal yang memojokkan,

“Maaf Pak, Bapak tahu salah Bapak apa?”

Ini pertanyaan jebakan, seolah-olah jawaban saya berpengaruh pada tindakan Pak Polisi ini terhadap saya nanti. Dan kalau saya jawab,

“Tidak tahu, Pak, saya pergi dulu ya …”

Pasti Pak Polisi tadi – yang juga sudah kelelahan karena seharian bertugas di jalanan – bisa saja terpancing emosinya. Layaknya orang Indonesia, kalau sudah emosi maka kata-kata bisa saja tidak terkendali, dan kalimat seperti ini sering sekali terlontar,

“Kamu tidak tahu siapa saya!?”

Ini pertanyaan yang sering kita dengar, tapi jarang kita pikirkan maknanya. Jelas saya tidak tahu siapa orang ini, orang baru pertama kali bertemu di jalan, sama-sama sedang lelah. Saya membayangkan kalau saja saya bisa tertegun sebentar, menatap Pak Polisi itu dengan mata nanar, beberapa detik kemudian saya berteriak dengan mata berkaca-kaca,

“Ayahhhh……”

Dulu dan Sekarang

Saya adalah salah satu dari kelompok orang-orang yang beruntung – atau mungkin tidak beruntung, tergantung persepsi – yang menjadi saksi hidup sejarah perkembangan teknologi. Teknologi yang belakangan ini bergerak terlalu cepat. Saya masih sempat punya TV hitam putih, sekarang sudah tidak ada. TV pun semakin tipis saja ukurannya, bahkan sudah banyak yang di-bundling jadi satu dengan handphone. TV makin tipis, saya makin gendut. TV layarnya makin datar, perut saya makin buncit.

Saya masih sempat mendengarkan musik lewat tape recorder. Teknologi ini cukup lama bertahan, dari kecil sampai saya kuliah dan lulus di akhir 90an. Iya saya memang angkatan tua. Teknologi makin cepat. Sejak ditemukan compact disk (CD), audio CD tidak lama bertahan, musik sudah berubah menjadi format digital MP3. Kaset, hampir tidak pernah saya lihat lagi di toko-toko musik, jarang sekali, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta.

Saya masih sempat mengerjakan tugas penulisan di sekolah menggunakan mesin tik, sekarang semua sudah dikerjakan pakai komputer. Membuat salinan tinggal copy file atau print beberapa kali. Dulu masih pakai kertas karbon, mungkin sebagian pembaca malah nggak pernah lihat seperti apa kertas karbon. Saya berada di era pergantian tersebut, dan makin kini sepertinya pergerakannya semakin cepat. Semua berjalan makin cepat, orang  dulu sehari nggak baca koran, biasa-biasa saja. Orang sekarang, jangan sehari nggak baca berita, satu jam nggak update twitter rasanya nggak eksis. Apa saja diupdate ke social media, sedang baca, sedang buang air, sedang berantem, sedang galau, “too much information, Dude!”

Jadi ingat kasus carut-marut pelaksanaan UN belakangan ini. Zaman saya pun ada ujian semacam ini, skalanya nasional juga, mungkin parameter pengukurannya berbeda. Dulu ada EBTANAS, soalnya pun dibuat oleh pemerintah dan didistribusikan oleh pemerintah. Distribusinya – seingat saya – tidak pernah telat. Sekarang informasi begitu cepat, sesuatu yang terjadi satu jam bahkan satu menit yang lalu, bisa kita lihat perkembangannya di TV atau di social media. Jadi kasus soal UN yang telat, bisa langsung  kita tahu perkembangannya. Seandainya dulu EBTANAS soalnya telat, lalu saya pulang ke rumah, ditanya Ibu,

“Bagaimana tadi EBTANAS?”

“Nggak jadi, Bu. Soalnya nggak ada.”

Pasti Ibu saya marah besar. Dikiranya saya berbohong atau mungkin dikira sudah tidak waras.

Gara-gara stand-up comedy saya cukup sering masuk TV belakangan ini. Tapi itu pun tidak membuat saya jadi sangat terkenal. Kalau jalan-jalan ke mall ada beberapa yang sudah kenal, tapi kenalnya bukan sebagai ‘Sammy’, sebagian besar yang menyapa memanggil saya, “Mas stand-up comedy ya…” Gua juga punya nama kali. Wajar sih, itu karena stasiun TV makin banyak, belum lagi TV berbayar, jadi pilihan hiburan makin banyak. Walau sering masuk TV, masih saja banyak orang yang tidak kenal saya. Masih sering didatangi orang dengan kamera, dikira mau diajak foto bareng, eh dia malah bilang, “Mas, bisa tolong fotoin saya dengan teman saya?” Nasib.

Dulu stasiun TV hanya ada satu, TVRI. Orang dari Sabang sampai Merauke, desa maupun kota, nonton acara yang sama. Kalau acaranya pas ‘Dari Desa ke Desa’ tentang budi daya palawija misalnya, apapun profesi kita, pelajar, mahasiswa, petani, akuntan, tentara, ya kita harus tonton acara yang sama. Kalau nggak mau nonton, ya tidur. Kalau belum ngantuk ya, nasib.

Sebaliknya, dulu ada acara belajar bahasa Inggris. Gurunya Anton Hilman. Saya dan teman-teman di sekolah sampai berpikir, ini Pak Anton Hilman adalah orang paling pintar bahasa Inggris di Indonesia. Anton Hilman saat itu mengajar bahasa Inggris di TV, dan dia jauh lebih terkenal dari saya seorang ­stand-up comedian yang sering masuk TV saat ini. Saat Anton Hilman mengajar bahasa Inggris di TV, giliran petani di Desa yang harus ikut lihat acara yang sama. Bisa dibayangkan ada pak tani yang baru pulang dari sawah, dia nonton TV dan pas acaranya adalah pelajaran bahasa Inggris Anton Hilman. Dia akan bingung dan bertanya pada istrinya.

“Acara, opo iki, Bune?”

Istrinya akan mejawab, “I don’t know, Bapakeee…” dengan logat Jawa yang kental.

Sekarang banyak artis yang masuk politik, dulu tidak terlalu banyak. Kata artis pun sudah mengalami peyorasi, penyempitan makna ke arah yang lebih buruk. Artis kan mengandung kata ‘art’ di dalamnya. Artinya mereka harusnya dikenal karena menghasilkan karya seni. Banyak ‘artis’ sekarang yang sekadar terkenal, tapi kita tidak tahu karyanya. Kita bingung kenapa dia bisa sebegitu terkenalnya dan disebut ‘artis’ padahal setiap nongol di infotainment hanya mamerin tas Hermes atau menjelaskan kasus kawin siri.

Ngapain ‘artis-artis’ itu mau masuk dunia politik. Orang sekarang kalau ada masalah selalu pemerintah yang disalahin. Macet, pemerintah yang salah, gubernur yang salah. Zaman saya dulu, mana berani kami salahkan pemerintah. Jakarta saat itu pun sudah macet, semacet-macetnya Jakarta yang disalahin ‘si Komo’, bukan pemerintah. Si Komo mungkin bisa protes, “Apa salahku…”

Awal 90an sudah ada TV swasta, tapi pemerintah saat itu mewajibkan TV-TV swasta me-relay siaran-siaran tertentu di TV mereka. Salah satunya acara ‘Liputan Khusus’. Kalau presiden sedang melakukan kunjungan penting ke suatu daerah, semua TV harus me-relay acara tersebut. Seolah-olah pemerintah saat itu takut kalah terkenal dengan Anton Hilman.

Masa lalu enak untuk dikenang, tapi sepertinya tidak perlu dialami lagi.

Pendidikan atau Sirkus

Pendidikan erat kaitannya dengan ujian, dan konon hidup ini adalah ujian. Hidup adalah ujian, hanya saja peserta ujian – setidaknya saya – tidak mau lulus cepat-cepat.

Pendidikan sekarang dirasa mahal. Contoh dekat rumah saya ada TK yang kalau saya hitung-hitung satu semester itu biayanya mencapat sekitar Rp 25 juta. Buset!!! TK apa macam apa itu, apa yang dipelajari? Uang kuliah saya dulu – kuliah bukan TK ya – hanya Rp 300 ribu saja satu semester, sampai saya lulus, uang 25 juta pasti masih sisa.

Anak-anak sekarang belajar yg susah-susah dulu tapi yang dasar dilupakan. Ibarat rumah atapnya dibangun dulu, pondasi belum jadi. Rumah apa itu? Rumah kurcaci. Belajar bahasa asing, Inggris, Mandarin, Jepang, padahal cebok belum bisa. Minta tolong dicebokin apa pakai bahasa Inggris? “Mama… help me.. wipe my ass.”

Apakah sekolah untuk kebutuhan anak? Kebanyakan sih sekolah itu untuk prestise orang tua. Apakah balita – kecuali tinggal di Inggris – butuh bahasa Inggris? Bahasa Inggris dianggap sebagai patokan kepintaran seseorang, padahal di Inggris tukang bersihin WC pun saya yakin mahir bahasa Inggris.

Jadi jelas kemampuan itu untuk ditunjuk-tunjukkan ke teman-teman orang tuanya. “Ayoo.. Adi, tunjukin Tante Ani kamu bisa bahasa Inggris… ” Lalu Adi bilang, “Fuck you!!” Dan Tante Ani masih bilang, “Anak pintar, bisa bahasa Inggris.”

Yang terjadi sekarang tidak ada bedanya dengan sirkus, sirkus anak. Seperti nonton sirkus, asik memang, orang-orangnya bisa salto. Tapi apakah orang itu waktu jalan di kehidupan sehari-hari sambil salto? Kita datang ke rumah teman kita yang bapaknya pemain sirkus. Ada bayangan cepat mengkelebat, lalu kita tanya, “Bro apaan itu?” Teman kita dengan santai bilang, “Ohh itu… bokap gua.”

Saya bukan bilang bhs Inggris itu nggak penting, tapi apa gak bisa nanti, kalau sudah agak besar. Mungkin terdengar menyesatkan, tapi  prinsip saya “apa yang bisa dikerjakan nanti, buat apa dikerjain sekarang.” Tundalah pekerjaan yang masih bisa ditunda, enjoy your life. Kalau nggak bisa ditunda ya kerjakan, saya setuju. Malah ada pekerjaan yang sebaiknya ditunda dulu, contohnya nikah. Tundalah pernikahan, karena emang belum ada calonnya. Dasar jomblo.

Ada beberapa anggapan yg kurang tepat dalam hal pendidikan. Misalnya, ada pendapat bahwa nggak baik ngomongin orang yg sudah meninggal. Kalau begitu kita nggak bisa dong ngomongin sejarah. Karena pelaku sejarah sudah pada meninggal. Sukarno, Suharto, Gajah Mada, Hayam Wuruk, Ken Arok semua sudah meninggal. Apakah ketika guru di sekolah bertanya, “Coba Sammy jelaskan tentang Gajah Mada?” Saya bisa menjawab jawab, “Ahhh Ibu, jangan bicarain orang yg sudah meninggal dong, Bu.”

Pendidikan yg terbaik salah satunya adalah di Finlandia. Dan di sana nggak ada PR. Di kita jangankan PR, anak-anak malah masih ikut les macam-macam. Tapi apakah kita lebih maju dari Finlandia yg jadi salah satu leader di Industri telekomunikasi, di balapan mobil F1. Pembalap F1 yg jadi juara banyak dari Finland, misalnya saja: Mika Hakinen, Kimmi Raykonen. Karena mungkin mereka nyetirnya fokus nggak sambil mikirin PR. Kalau kita dulu juga pernah ikutan A1 tapi sering gagal finish, nabrak tembok. Mungkin dia nabrak karena nggak konsen, pusing mikirin PR. Putus asa jadi pembalap dan masuk partai untuk ikut-ikutan jadi caleg. Ayo siapa, ayoo, tebak!

Di Finlandia tidak ada orang tua yang basa-basi sama anaknya, “Kamu sudah ngerjain PR!” karena akan dijawab anaknya seperti ini, “Papa, kita hidup di Finlandia, kita negara maju … walau tanpa PR.” Mungkin saja terjadi.

Sistem pendidikan di Finlandia tidak berubah dalam 40 tahun terakhir. Di kita, setiap ganti menteri, ganti sistem. Kadang-kadang yang diganti pun tidak jelas. Contoh saja, dulu SD kelas 1-6, SMP kelas 1-3, SMA kelas 1-3, sekarang disatukan kelas 1-12, tapi prakteknya tidak berubah, hanya penamaan jenjang saja yang berubah. Apa alasannya karena menteri dulu tidak bisa berhitung sampai 12 lalu menteri yang sekarang bisa berhitung sampai 12. Sungguh mengherankan *geleng-geleng*.

Sangkin padatnya jadwal anak-anak, jangan-jangan orang tua mau ketemu anaknya sendiri nanti harus bikin janji. “Bapak mau bicara dengan kamu!” Anaknya lalu bilang, “Sudah buat janji?”

Saya sedikit menyesal menulis artikel ini, terutama tentang sistem pendidikan di Finlandia. Saya takut anggota DPR terilhami, untuk studi banding ke sana. “Boss, sistem pendidikan di Finlandia bagus, berangkat kita….” kata seorang anggota DPR.

— Sammy @notaslimboy, beruntung sempat lulus S1 dengan biaya murah.