Kenaikan Harga BBM: Sebuah Pilihan Sulit

Tulisan ini tidak akan banyak berfokus pada angka dan data soal APBN, subsidi yang salah sasaran dan angka-angka statistik lain yang membosankan dan bisa dengan mudah anda googling. Tulisan ini akan lebih fokus untuk memberi gambaran pada pembaca yang saya harap rakyat Indonesia yang sedang harap-harap cemas dengan kenaikan BBM. Bagaimana kita harus mengerti kondisi ini dan bagaimana kita bersikap.

Sebelumya mari kita terbang sejenak ke AS untuk mengutip pandangan seorang political activist/comedian Bill Maher, yang bila saya terjemahkan, “Hey, kenapa kau mengeluh harga bensin naik? Tahukah kalian, untuk mendapatkan minyak, negara kita harus berperang dan membunuh orang lain.” Sebuah sarkasme yang kemudian dilanjutkan dengan sarkasme lain pada pemerintahan saat itu, di bawah kepemimpinan W. Bush, “Dear President Bush, lain kali kalau anda bilang kita berperang untuk minyak, pastikan kita bawa pulang minyaknya.”

Dua kalimat terdengar mengolok-olok dan hanya bercanda. Tapi itulah yang terjadi, minyak memicu konflik di beberapa kawasan dunia dan khusus di AS kemudian rakyat sudah mulai bertanya-tanya apa tujuan mereka berperang, kalau memang minyak, kenapa harganya terus naik?

Minyak atau bahan bakar fossil memang masih komoditas utama penghasil energi saat ini. Dan dengan perkembangan industri, pertambahan jumlah kendaraan bermotor, dan peralatan lain yang membutuhkan energi, permintaannya kian naik. Selain itu dia bukan sumber daya yang dapat diperbaharui. Permintaan naik, persediaan berkurang, hukum ekonomi akan berlaku, harga naik. Sejalan waktu harga minyak dunia selalu naik, terkadang turun memang, tapi secara keseluruhan dalam rentang waktu saat sumber energi ini mulai eksploitasi, kecenderungannya naik.

Lho, kita kita kan negara produsen, kalau harga naik, bagus dong. Kita kan anggota OPEC. Nah ini seperti pendukung Liverpool yang bilang, kita kan juara. Jawabannya itu dulu, sekarang tidak lagi. Produksi minyak kita defisit terhadap kebutuhan dalam negeri. Produksinya terus menurun dan bila tidak ada sumber baru maka cadangan minyak kita akan habis dalam kurun waktu 12 tahun. Menjomblo 12 tahun itu lama, tapi percayalah menunggu 12 tahun untuk habisnya cadangan minyak kita, itu waktu yang singkat.

Sebuah fenomena menarik, ada beberapa perusahaan leasing yang memberikan tenor kredit mobil hingga 10 tahun, luar biasa. Melihat fakta bahwa cadangan minyak kita tinggal 12 tahun, maka pemilik mobil ini, punya kesempatan 2 tahun menikmati mobilnya setelah lunas. Setelah itu mungkin dia tidak mampu beli bensin, karena Indonesia akan menjadi negara pengimpor BBM murni. Jadi pikir-pikir deh yang mau kredit mobil. Haha.

Pemerintah selama ini memberikan subsidi sehingga rakyat Indonesia bisa menikmati harga yang lebih murah dari harga minyak dunia. Beban itu dirasa kian berat dan jumlah subsidi BBM di atas subsidi kesehatan dan pendidikan. Kondisi ini diperparah dengan kenyataan bahwa BBM bersubsidi ini malah 77% dinikmati 25% orang-orang berpenghasilan tertinggi.

Singkatnya, beban tinggi, dan salah sasaran.

Mengurangi subsidi BBM dan mengarahkannya ke sektor lain menjadi sebuah pilihan yang harus diambil dan diakui sulit. Buah simalakama. Sama-sama tidak enak.

Lalu ada suara lain. Bagaimana kita tahu subsidi BBM ini belum tepat sasaran. BBM adalah salah satu komponen pembentuk harga kebutuhan pokok. Biaya produksi dan distribusi dipengaruhi harga BBM. Kalau harga BBM naik, otomatis harga kebutuhan pokok naik. Masih untung kalau begitu, kadang-kadang baru ada isu BBM mau naik, harga kebutuhan pokok bisa naik duluan. Oleh karena itu, kalau memang harus naik, lebih baik jangan ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Nanti jadi seperti legenda bulutangkis kita, ragu-ragu Icuk.

Artinya ini pilihan sulit. Secara jangka panjang memang kita harus mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil, melakukan konversi energi ke gas di jangka menengah, mencari alternatif energi lain, membangun infrastruktur transportasi massal, dll. Banyak pakar yang kita miliki terkait ini. Tapi dalam jangka pendek ini apa? Ya, saya kira mengalihkan alokasi dana subsidi ke sektor yang tepat seperti kesehatan dan pendidikan adalah pilihan. Pilihan yang harus diambil, dan kalau memang sudah diwacanakan jangan berlarut-larut.

Ini bukan kebijakan populis bagi sebuah pemerintahan yang baru sekitar satu bulan bekerja. Saya menempatkan diri sebagai rakyat, juga tidak senang. Tapi saya, tanpa mencoba mewakili rakyat yang lain, mencoba mengerti kondisinya, dan memberi kesempatan pada pemerintahan yang baru ini kalau memang mau mengatur distribusi subsidi.

Maka koalisi di parlemen, pemerintah, ormas, dan semua elemen, kita punya musuh yang lebih nyata: krisis energi. Tanpa bertengkar satu sama lain pun kita sedang menghadapi kesulitan yang nyata. Ya kalau mau ‘disambi’ berantem, berarti memang kita kelebihan energi, haha.

Hal sederhana yang kemudian dikeluhkan rakyat adalah, rakyat memang terbiasa susah, tapi ya sangat tidak adil adalah kalau kemudian lapisan terbawah masyarakat yang kemudian paling menderita akibat kenaikan BBM bersubsidi. Sementara mafia migas merajalela, oknum alat negara terlibat pula. Tidak ada rasa kebersamaan, susah-senang sebagai bangsa dijalani bersama. Oke, kalau memang menaikkan harga BBM bersubsidi ini pilihan yang harus diambil, lakukan jangan ragu. Tapi jangan ragu juga untuk: berantas mafia migas!!!

Bahkan intinya, berantas semua mafia. Pertahankan satu mafia saja, mafia asal Jogja. Mafia Pathuk! #kepleset

Advertisements

Negara Konsumen…

Sekitar tujuh tahun yang lalu saya mampu membeli rumah di lingkungan saya yang sekarang. Masih asri, tidak macet, jarak mini market terdekat adalah sekitar 300 meter dari rumah. Apa yang terjadi sekarang? Setahun yang lalu, 50 meter dari rumah sudah ada mini market baru dan dua bulan yang lalu ada restoran fast food cukup terkenal yang juga waralaba asing, 200 meter dari rumah saya. Macet pun menyertai kehadiran bisnis-bisnis baru ini.

Orang Jakarta seharusnya sudah tidak lagi asing dengan restoran fast food seperti ini, tapi tetap saja saat launching restoran yang bersangkutan, antrian panjang macam antrian sembako murah. Bisa dibilang kampungan sih. Dan saya juga ikut mengantri.

Kenapa sesuatu yang dari asing terlihat lebih keren? Contohnya kontes Miss World yang baru-baru ini digelar di Bali. Saya tidak pro dan juga tidak kontra, netral saja, hanya mau mengomentari bahwa kontes ini nggak keren-keren amat. Walau saya sedikit salut sama para kontestan, yang sepanjang acara mampu tersenyum, bisa berjam-jam terus tersenyum. Kalau ada masalah dengan pacar pun, harus tersenyum. Kalau kebelet harus tersenyum.

Yang paling saya salut adalah ketika pengumuman pemenang. Kontes Miss World di Bali dimenangkan oleh Miss Philippines. Saat announcer mengumumkan, “And the winner is from Philippines…” Saya perhatikan kontestan dari negara lain tetap tersenyum, padahal kan mereka kalah, kan seharusnya sedih?

Kemudian ada yang memberikan ucapan selamat, mungkin mereka bilang, “I am happy for you…” walau mungkin juga dalam hatinya bilang, “Ahh, you are b*tch…” *bercanda

Saya pernah mencoba untuk menekuni olah raga golf. Sempat punya perangkat golf club walau saya jual, karena waktu itu lebih butuh untuk beli beras *maaf curcol. Saya kurang bisa menikmati olah raga ini. Bola dipukul, jauh, lalu kita jalan mendekat, dipukul lagi jauh, seperti kurang kerjaan. Lalu olah raga dalam golf adalah saat pemainnya berjalan, karena lapangan golf yang relatif luas dibanding lapangan-lapangan lain. Namun belakangan banyak orang memilih memakai mobil golf, jadi kapan olah raganya? Belum lagi perangkat golf club dibantu dibawa sama seorang caddy, jadi ini olah raga apa sih sebenarnya? Saya jadi ingat sama kakek saya di kampung yang dulu bertani. Kakek biasa pergi ke sawah bawa cangkul, dan dia bawa sendiri cangkulnya, nggak dibawain sama caddy. Bayangkan kalau kakek saya pergi ke sawah bawa caddy. Bayangkan kalau kakek saya yang petani ini punya caddy – katakanlah namanya Rani – dan dia pergi ke sawah bersama Rani. Sesampainya di sawah, kakek menghitung sudut kemiringan, angin, dan lain-lain, seperti pemain golf yang berusaha memukul bolanya. Lalu dia bilang sama si Rani ini,

“Tolong cangkul nomor 7.”

Saya tidak bisa menyalahkan kalau produk-produk dalam negeri lebih banyak dipilih oleh konsumen Indonesia, semangat nasionalisme bukan hanya milik konsumen, tapi juga produsen dan penentu kebijakan. Kalau ada jargon, “Cintailah produk-produk dalam negeri.” Maka harusnya boleh dituntut kembali, “Perbaiki dulu mutu produknya.”

“Tontonlah film-film nasional.” Maka harusnya boleh dituntut kembali, “Ya tapi filmnya jangan pocong semua dong. Dari Pocong Keramas sampai Pocong Perawan.” Walau Pocong Perawan ini punya keuntungan, dia boleh masuk sekolah seandainya nanti diberlakukan tes keperawanan.

“Berpartisipasilah dalam pemilu, jangan golput.” Maka harusnya boleh dituntut kembali, “Ya, tapi calegnya dan capresnya jangan kayak elo dong.” Jangan sebut nama, karena nggak enak, takut orangnya sensitif.

“Cintailah produk-produk dalam negeri.” Jargon ini terdengar sakral di tengah himpitan produk impor yang membanjiri Indonesia. Lain dengan era sebelumnya, katakanlah zaman Orde Baru (Orba), produk impor indentik dengan barang mahal, prilaku konsumtif. Sekarang tidak, kita sebagai konsumen memang tidak bisa lepas untuk tidak menggunakan produk impor. Kebutuhan pokok pun kita impor, bahkan garam pun kita impor. Jadi produk impor tidak lagi identik dengan kemewahan.

Apakah kita harus menonton sinetron Indonesia, misalnya, yang makin tidak masuk akal. Antrian untuk naik haji dikabarkan sudah begitu panjangnya, jadi kalau kita mendaftar hari ini, maka 15 tahun lagi baru bisa naik haji. Jelas ada sinetron yang tidak survey dulu dalam membuat jalan ceritanya, padahal sinetron tersebut mengambil dari realita hidup, bukan genre science fiction.

Saya hampir tidak pernah menonton sinetron, apakah saya tidak nasionalis, kalau memilih channel dokumenter dari asing? Tapi pernah tidak sengaja ‘tertonton’ sebuah sinetron di TV lokal. Baru beberapa detik, saya sudah menemui kejanggalan dalam sinetron ini. Dikisahkan ada seorang supir bajaj, tapi ganteng banget. Ini jelas tidak sesuai dengan kehidupan nyata, kalau memang ada orang seganteng itu jadi supir bajaj, saya pasti minder untuk naik bajaj dia. Yang ada saya bilang, “Bang, duduk di belakang ya, biar saya yang bawa bajaj-nya.”

Yang jelas, kalau ada orang seganteng ini dan memilih jadi supir bajaj, maka orang ini aneh. Apa dia tidak tahu, ada banyak profesi untuk orang gateng selain jadi supir bajaj. Kan bisa jadi pemain sinetron, kan lumayan, bisa dapat peran supir bajaj. *Walah sama saja dong…

Kebahagiaan

Mari kita mulai dengan sebuah kutipan, “Bahagia itu sederhana.” Lalu saya akan lanjutkan kutipan ini, “Kalau bahagia itu sederhana, maka kesederhanaan itu tidak sederhana.” Keren kan? Sekali-sekali kita bicara filosofis.

Semua orang bisa bahagia naik mobil mewah sekelas Ferrari, tapi yg bahagia dengan naik sepeda, hanya orang-orang tertentu. Semua orang bisa bahagia punya makanan berlimpah, tapi hanya penyanyi dangdut sekelas Hamdan Att – maafkan untuk referensi saya – yang bisa bahagia makan sepiring berdua. Semua bisa bahagia kalau dapat pacar Luna Maya, tapi saya yakin perjuanganmu luar biasa untuk tetap bahagia dengan pacar yang sekarang. Bercanda!

Di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia sekarang sudah (mulai) macet. Ini karena pertumbuhan kendaraan dan ruas jalan yang tidak berimbang. Orang sudah punya mobil, sehingga sekarang di Jakarta – khususnya – dicanangkan sebuah gerakan untuk memakai sepeda dalam kegiatan sehari-hari – BIKE TO WORK. Lalu apakah orang-orang ini bahagia dengan gerakan BIKE TO WORK ini? Bukan menghakimi, mereka bisa bahagia karena mereka sudah bisa beli mobil. Saya nggak terlalu yakin mereka ini bahagia kalau dia hanya mampu beli sepeda. Ikut gerakan BIKE TO WORK ya menjadi biasa-biasa saja, karena memang yang terbeli hanya sepeda.

Beberapa orang mungkin akan berpikir, terang saja orang-orang tertentu jadi pelopor gerakan ini. Kamu adalah orang dari kecil sudah kaya, sampai kuliah diantar jemput mobil papa, lalu kerja, lalu beli mobil, sampai umur 30 tahun pakai mobil, dan kamu sekarang ikut BIKE TO WORK, kamu ngajak saya? Ehh, sebentar, ini kredit Avanza saya baru di-approve. Bercanda ahh, tapi mungkin saja benar.

Kebahagiaan sering bias dengan kepuasan, dan kepuasan manusia itu tidak ada batasnya. Sehingga apabila patokan sebuah kebahagiaan itu adalah kepuasan, maka ada kemungkinan seseorang tidak akan pernah bahagia seumur hidupnya. Kasihan.

Ambil contoh soal pacaran saja. Kalau sudah puas dengan pegangan tangan maka tahap berikutnya akan ke cium pipi, lalu cium bibir, cium mulut, dan akhirnya sexual intercourse. Hal ini nggak mungkin bisa dibalik. Kalau hari pertama kenal udah sexual intercourse nggak mungkin besoknya cuman pegangan tangan.

“Sini aku pegang tangan kamu…”

“Apaan sih pegang-pegang….”

Jadi kalau pacaran sudah bahagia dengan pegangan tangan, stay in that area as long as possible.

Kebahagiaan adalah sesuatu yang tidak bisa diukur. Itu sebabnya seseorang dengan mudahnya meng-claim bahwa dirinya bahagia. Kecantikan masih bisa diukur, setidaknya ada kontes kecantikan. Kecerdasan masih bisa diukur, ada satuan IQ salah satunya. Kekayaan, mudah sekali, berapa total aset yang kamu miliki. Tapi kebahagiaan tidak bisa diukur, sehingga dengan mudah dapat di-claim.

“Dasar kamu, sudah jelek, bodoh, miskin lagi!!!”

“Yang penting aku bahagia.”

Perdebatan apapun akan langsung mencapai titik end of discussion.

Bahkan tanda-tanda bahagia pun sulit dibedakan. Manusia kan pandai bersandiwara. Manusia bisa tersenyum walau sedang sedih. Beda dengan anjing, yang mimik mukanya terbatas, manusia punya banyak pilihan mimik muka yang bisa dipilih sesuai kebutuhan. Apabila seseorang menangis, apakah sudah pasti tidak bahagia? Bahkan ketika seorang perempuan menangis ada tiga alasannya: pertama karena sedih, tapi yang kedua bisa juga karena bahagia, dan alasan terakhir adalah karena ingin menang saja saat berantem. Kalau perempuan sudah begini mendingan laki-laki pakai jurus, “Sudah, aku yang salah…” Walaupun tidak tahu letak salahnya di mana, yang penting nangisnya selesai tuh perempuan.

Faktor ekonomi sering sekali dikait-kaitkan dengan kebahagiaan. Wajar, karena bila diselidiki banyak hal di dunia ini latar belakangnya adalah faktor ekonomi. Kenapa perempuan cantik itu jual mahal, bukan karena cantik semata, tapi karena mereka sadar populasi mereka sedikit. Hukum supply and demand berlaku. Permintaan banyak, supply terbatas, harga naik. Kalau yang jelek yang sedikit, pasti yang jelek yang jual mahal.

“Sayang kamu kok jual mahal?”

“Aku kan jelek!”

Perempuan cantik dengan alasan kesopanan sering menolak laki-laki yang mengajaknya masuk ke hubungan pacaran. Jenis hubungan “adek-kakak” adalah paling sering digunakan untuk penolakan halus ini. Tapi lama-lama mungkin ada juga perempuan-perempuan cantik yang kreatif, mereka menawarkan jenis hubungan baru. Bukan “adek-kakak” apalagi pacaran, tapi jenis hubungan KDJA. “Kita jalanin dulu aja.” Ini jelas bikin laki-laki bingung dan jauh dari sekali dari kata bahagia tadi. Jenis hubungan “Kita jalanin dulu aja.” sangat menyiksa.

Kebahagiaan apakah berdasar kepuasan? Karena kepuasaan itu hubungannya dengan selera. Sedangkan kebanyakan pasangan itu lebih kepada faktor pilihan, bukan selera. Kalau ditanya selera, semua laki-laki tentunya berselera pada Luna Maya – yah nama dia lagi disebut. Coba tanya pasanganmu, “Sayang sebenarnya kalau boleh ganti, kamu mau nggak?” Maka jawabannya, kalau tidak dalam tekanan tentunya, “Kalau boleh jujur aku sayang sama kamu, tapi casingnya boleh diganti nggak?”

Semua berdasarkan pilihan bukan selera. Seandainya di dunia bersisa dua orang. Saya laki-laki dan ceweknya katakanlah Mpok Nori, saya tentu tidak punya pilihan. Saya akan bilang sama Mpok Nori

“Mpok Nori maukah kau jadi pacar aku?”

“Kite jalanin dulu ajeee yee…”

Apakah kamu sudah bahagia? Membaca artikel ini jangan tambah bingung. “Kita jalanin dulu aja…”

Tua Di Jalan

Ada istilah ‘tua di jalan’ untuk orang-orang pekerja sekarang, terutama yang tinggal di kota-kota besar seperti Jakarta. Sebagian besar orang-orang ini bekerja dan menghabiskan banyak waktu di jalanan karena macet. Sangkin lamanya waktu yang dihabiskan di jalan akhirnya muncul istilah ini. Ada untungnya sih, artinya mereka tidak butuh lagi panti jompo, karena sudah ‘tua di jalan’.

Di Jakarta khususnya, ada banyak kota satelit (suburban) seperti Bekasi, Depok, Tangerang dan Bogor. Banyak warga kota-kota satelit ini yang setiap hari menjadi komuter ke Jakarta, ada yang menggunakan kendaraan pribadi, ada pula yang menggunakan kendaraan umum. Orang-orang ini kalau pergi ke daerah lain di Indonesia tetap akan mengaku orang Jakarta, haha.

“Tinggal di mana, Mas?”

“Di, Jakarta…”

“Ohh, Jakarta-nya di mana?”

“Di, Bekasi…”

Tidak belajar geografi rupanya waktu SMP dulu.

Menggunakan kendaraan pribadi seperti mobil, misalnya, di Jakarta bisa memakan waktu tiga jam, pulang pergi enam jam. Bayangkan enam jam adalah seperempat waktu kita dalam sehari. Jadi kalau orang ini berkarir dari usia 25 sampai 55, 30 tahun makan 7,5 tahun waktunya dihabiskan di dalam mobil. Sudah sampai mana tuh harusnya? Bayangkan kalau orang ini naik sepeda dari Jakarta selama 7,5 tahun tanpa henti, sudah sampai mana dia? Ya palingan sampai Tanjung Priok, karena mentok di laut, sih.

Untuk mengatasi macet, di banyak kota besar sudah dibangun jalan tol. Khususnya di Jakarta, jalan tol yang seharusnya bebas hambatan juga ikut-ikutan macet. Sudah bayar macet pula, tambah stres dan makin cepat tua di jalan. Kadang-kadang jalan biasa malah lebih lancar dari jalan tol. Itulah, lalu-lintas memang tidak bisa diprediksi, makanya saya kira kita perlu satu profesi lain: peramal lalu-lintas, dan ini bisa jadi lebih sulit dari meramal jodoh.

Belum lama ini saya masuk ke salah satu ruas jalan tol di Jakarta. Di sana ada sebuah spanduk yang bertuliskan kira-kira seperti ini

“Sayembara berhadiah, solusi bagaimana mengatasi kemacetan di Jalan tol.”

Saya masuk jalan tol supaya terhindar dari macet, lalu masuk jalan tol baca spanduk ini, terus terang spanduk ini membuat saya semakin putus asa, karena pengelolanya sendiri membuat sayembara untuk mencari solusi kemacetan di jalan tol. Seumur-umur saya belum pernah masuk ke Rumah Makan Padang lalu pelayan atau bahkan kokinya menghampiri saya dan kemudian bertanya,

“Mas, Mas, tahu caranya masak rendang yang enak, nggak?”

Menjelang Pemilu 2014 nanti juga para pengguna jalan yang sudah cukup stres di jalanan akan dibuat tambah stres lagi. Apa yang bikin tambah stres? Spanduk, baligo, billboard partai dan caleg akan semakin banyak menghiasi jalanan. Menghiasi atau mengotori, ya pokoknya begitu deh. Lagi kesal kena macet, tambah kesal karena foto-foto itu tersenyum manis pada kita pengguna jalan. Rasanya ingin teriak,

“Ngapain lo, ketawain gue ya!?”

Eh dia malah jawab,

“Makanya, pilih gue dong.”

Salah satu yang menghibur dari foto-foto tersebut adalah ulah anak-anak yang terlalu kreatif melakukan aksi vandalisme terhadap foto-foto tersebut. Kadang-kadang ditambahin kumis, atau yang lagi senyum giginya diwarnai hitam jadi terlihat ompong, atau ditambahi tahi lalat, diberi kacamata, dll. Terima kasih pada tangan-tangan ‘kreatif’ yang sudah menghibur kami pengguna jalan.

Layaknya orang tua, orang yang tua di jalan juga jadi semakin peka terhadap kondisi jalanan, selain spanduk partai dan caleg, yang lain adalah spanduk-spanduk layanan masyarakat. Saya semakin peka mengamati spanduk-spanduk ini. Rata-rata yang diiklankan adalah pariwisata sebuah daerah atau sebuah gerakan tertentu dari sebuah kementerian. Namun spanduk-spanduk itu lebih menonjolkan tokoh dibanding apa yang diiklankan. Misalnya iklan pariwisata sebuah daerah, obyek wisatanya minim sekali ditunjukkan, tapi kepala daerahnya dibuat besar-besar. Saya jadi bingung, apa yang harus dilihat nanti di lokasi wisata? Mau lihat gubernurnya?

Pada dasarnya semua orang itu mungkin taat terhadap peraturan, termasuk peraturan lalu-lintas, tapi mungkin karena terlalu lelah di jalanan sepanjang hari – walau ini juga tidak bisa dijadikan pembenaran – mereka akhirnya melanggar peraturan lalu-lintas. Semata-mata hanya ingin cepat sampai di tujuan. Hal ini salah, tapi ya kita tetap harus pelajari sebabnya.

Saya bukannya tidak pernah melanggar peraturan lalu-lintas, dan sesekali berurusan dengan polisi juga. Polisi mungkin juga sama-sama lelah dengan kami pengguna jalan, sehinga emosinya juga kadang tidak terkontrol. Ya, polisi juga manusia. Kadang-kadang suka bertanya hal-hal yang memojokkan,

“Maaf Pak, Bapak tahu salah Bapak apa?”

Ini pertanyaan jebakan, seolah-olah jawaban saya berpengaruh pada tindakan Pak Polisi ini terhadap saya nanti. Dan kalau saya jawab,

“Tidak tahu, Pak, saya pergi dulu ya …”

Pasti Pak Polisi tadi – yang juga sudah kelelahan karena seharian bertugas di jalanan – bisa saja terpancing emosinya. Layaknya orang Indonesia, kalau sudah emosi maka kata-kata bisa saja tidak terkendali, dan kalimat seperti ini sering sekali terlontar,

“Kamu tidak tahu siapa saya!?”

Ini pertanyaan yang sering kita dengar, tapi jarang kita pikirkan maknanya. Jelas saya tidak tahu siapa orang ini, orang baru pertama kali bertemu di jalan, sama-sama sedang lelah. Saya membayangkan kalau saja saya bisa tertegun sebentar, menatap Pak Polisi itu dengan mata nanar, beberapa detik kemudian saya berteriak dengan mata berkaca-kaca,

“Ayahhhh……”

Pagi Tadi Kusapa Tuhan

Pagi tadi kusapa Tuhan

Bukan untuk meminta

Bukan untuk memohon

Bukan untuk memuja

Hanya sedikit kangen

Kangennya kok hanya sedikit?

Iya kalau terlalu kangen

Aku takut

Takut nanti aku lekas-lekas dipanggil

Aku belum siap

Maklum masih banyak dosa

Maklum jomblo

Masih sering ngocok sendiri

 

Selain kangen aku juga banyak pertanyaan

Banyak yang tidak penting

Tapi ada juga yang penting

Seperti kenapa aku masih jomblo

Itu penting sekali

Tapi kuurungkan untuk bertanya soal itu

Tuhan Maha Esa

Berarti Dia sendiri

Dia mungkin juga jomblo

Jomblo kan suka sensi

Tapi Tuhan maha tahu

Jangan-jangan dia sudah tahu

Dan keburu sensi

 

Pertanyaan pentingku buat Tuhan

Kenapa di negeriku ini banyak sekali korupsi

Aku jomblo jadi tambah susah bersaing

Uang aku tak punya

Pacarku direbut sama anak koruptor

Padahal dia belum sempat jadi pacarku

Pacarku yang lain direbut oleh koruptor (bukan anaknya)

Padahal padahal aku belum sempat kenalan

Ya, walau belum sempat kenalan, Tuhan maha tahu

Tuhan tahu keduanya pacarku

Tapi kenapa tidak Kau cegah?

Jangan sampai terjadi pada pacarku yang lain

Yang belum sempat aku cari

 

Bisakah Kau buat uang korupsi itu tidak laku?

Tidak bisa dipakai trakir

Tidak bisa dipakai bayar parkir

Tidak bisa dipakai beli mobil

Tidak bisa dipakai beli rumah, walau hanya nyicil

Jadi walau banyak uang mereka akan kesepian

Walau punya mobil mereka tidak bisa parkir

Pikir-pikir aku memang bikin bingung

Buat apa bayar parkir kalau tidak bisa beli mobil

Ya, pokoknya begitu

Tuhan maha tahu

Lalu kenapa aku harus minta kalau memang maha tahu

Aku memang sering bingung sendiri

 

Aku hanya ingin kangen-kangenan

Jadinya malah banyak minta

Maaf Tuhan

Tuhan………..

 

Tiba-tiba ada suara

“Apa itu uang? Aku tidak pernah menciptakan uang!”

Apakah Ekonomi Berbohong?

Ngomong sedikit serius ah, tentang ekonomi. Saya bukan pakar ekonomi, dan mari kita bicara ekonomi dari sudut pandang orang biasa yang bosan dengan teori-teori. Mari kita sekadar bicara dari sudut pandang orang yang punya logika saja. Ya logika tanpa referensi saat ini sering dikesampingkan. Posting ini adalah intisari dari beberapa buku dan film dokumenter yang pernah saya baca dan tonton.

Dari kebiasaan sehari-hari saja deh. Apa itu ‘paket ekonomi’? Paket yang murah, paket yang terjangkau. Apa itu ‘kelas ekonomi’? Kelas yang terjangkau. Lalu apa itu ‘pertumbuhan ekonomi’?

Tingkat konsumsi biasa dijadikan indikator pertumbuhan ekonomi. Makanya angka penjualan mobil/motor sering dijadikan indikator pertumbuhan ekonomi. Banyak mobil jadinya macet. Jadi macet adalah indikator pertumbuhan ekonomi.

Saya pernah ngetwit, “Macet indikator pertumbuhan ekonomi katamu? Coba mobil yang belum lunas nggak boleh keluar rumah, pasti nggak macet.” Twit saya ini merangsang pakar ekonomi timeline untuk mendebat saya. Saya nggak peduli juga sih, biarin aja biar dia bangga dengan referensinya, saya tetap pada logika saya.

Apakah ekonomi sudah berbohong? Ekonomis adalah sifat yang identik dengan irit dan terjangkau. Tapi pertumbuhan ekonomi malah dihitung dari tingkat konsumsi. Konsumtif artinya boros. Katanya irit tapi boros, nggak konsisten, berarti bohong dong?

Ekonomi juga menciptakan kesenjangan, menciptakan strata dalam masyarakat. Di tingkat global, ekonomi menciptakan status negara, dari negara miskin, berkembang sampai maju. Negara dunia ke-3 (third world country) sampai negara dunia ke-1 (first world country).

Perbedaan status ini memicu perbedaan nilai tukar mata uang di masing-masing negara, perbedaan standar hidup, perbedaan biaya hidup yang akhirnya memicu perbedaan standar gaji (labor cost) masing-masing negara. Nah mari kita ungkap lagi kebohongan ekonomi yang lain.

Perbedaan labor cost mengakibatkan sebuah produksi bila dinilai dari nilai uang – saja – akan lebih murah dikerjakan di negara lain lalu hasilnya dikapalkan ke negara pemakai.

Sebagai contoh, mainan anak di Amerika Serikat (AS) diproduksi di jauh-jauh di Cina, karena labor cost di Cina jauh lebih rendah dari labor cost di AS, bahkan setelah ditambah dengan biaya pengiriman (shipping cost). Apakah ekonomi berbohong? Nilai yang dipakai hanya nilai uang (Dollar) padahal sebenarnya terjadi pemborosan. Mengapa untuk sesuatu yang dipakai di AS harus jauh-jauh diproduksi di Cina,  boros energi, boros BBM, itulah sebabnya sekarang kita diambang krisis energi. Secara Dollar untung, tapi secara sumber daya yang terpakai rugi. Siapa yang bego? Pakar ekonomi atau kita?

Apakah ekonomi berbohong?

Masih banyak yang lain, tapi lagi males nerusinnya.

Sammy @notaslimboy, bukan pakar ekonomi.

Double Standard Moralis Bahasa

Moral dalam berbahasa sering dikaitkan dengan moral sesungguhnya. Itu kenapa banyak pejabat korup memakai kesantunan sebagai bungkus dari kebusukan mereka. Sudah lama kita tertipu dengan kesantunan seperti ini. Kita seolah rela mereka maling, selama tutur kata mereka santun. Ada sebuah istilah yang cocok untuk golongan yang lebih mementingkan kesantunan berbahasa dibanding moral yang sesungguhnya: moralis bahasa.

“Permisi, saya boleh ambil dompetnya, Pak?”

“Oh, silakan…”

Nah seperti itu kira-kira ilustrasinya.

Posting ini mungkin akan sedikit menuai pro-kontra. Pertama saya mau jelaskan, saya adalah orang sangat setuju bahwa kita tidak boleh merendahkan orang yang tidak berdaya, seperti orang cacat, no excuse. Tapi ada yang menurut pengamatan saya masih berada di grey area, yaitu mengambil kecacatan sebagai analogi sebuah pernyataan.

Kata yang paling sensitif sekarang ini adalah kata ‘autis’.

Perhatikan kalimat ini:

“Eh, dasar kamu autis!”

Dengan kalimat ini:

“Eh, simpan dulu itu BB, kayak orang autis saja!”

Kalimat pertama itu jelas ditujukan untuk merendahkan orang autis, orang autis sebagai orang kedua yang diajak bicara. Kalimat kedua memakai salah satu ciri penderita autis untuk menggambarkan sikap orang yang tidak bisa diam dan terus saja main BB. Masyarakat ‘intelektual’ (dalam tanda petik) sering sekali menghakiminya sebagai penghinaan terhadap penderita autis, padahal menurut saya tidak. Saya tidak pernah memakai jenis kalimat seperti ini dalam statemen saya. Terus terang saya malas ribut, makanya saya hindari pernyataan-pernyataan yang memakai analogi seperti di atas. Tapi mari kita lihat contoh yang lain.

“Eh! Hati-hati kalau jalan, pakai mata, kayak orang nggak bisa lihat saja?”

Kalimat di atas jelas tidak akan di-judge telah menghakimi orang buta. Padahal tuna netra juga adalah jenis keterbatasan fisik bukan? Kalimat di atas dengan mudah diinterpretasikan ditujukan kepada orang kedua yang diajak bicara, bukan dimaksudkan menghina orang ketiga yaitu penderita tuna netra.

Atau yang lebih umum:

“Lalu-lintas Jakarta lumpuh.”

Kalimat di atas juga tidak akan diinterpretasikan merendahkan orang-orang yang lumpuh.

Atau yang seperti ini:

“Torres nggak cetak gol lagi nih, dasar striker mandul.”

Kemandulan adalah hal sensitif untuk dibahas bagi beberapa pasangan yang sudah lama menikah dan tidak diberi keturunan. Tapi sepertinya kalimat di atas sama sekali tidak akan memicu kontroversi.

Ya tak apa menjadi moralis bahasa, asal konsisten saja. Menjadi konsisten memang agak susah, bahkan orang goblok pun kadang-kadang bisa pintar.

Double-standard!

Sammy @notaslimboy, pengamat nggak penting.